Tugas Minggu ke-4

March 20th, 2018

Nama  : Addriyani K. Ginting

Nim     : 165040200111150

Kelas   : C

 

  1. Meneruskan pengayaan bahan kajian seperti yang dituliskan pada minggu kedua

 

  • Istilah-istilah

 

satuan peta : satuan lahan yang sistem fisiologi/bentuk-bentuk lahannya sama, yang dibedakan satu sama lain di lapangan oleh batas-batas alami, dan dapat digunakan sebagai satuan evaluasi lahan.

satuan taksonomi tanah : sekelompok tanah dari suatu sistem klasifikasi tanah, masing-masing diwakili oleh profile tanah yang disebut central concept dan kisaran variasinya di sekitar konsep sentral tersebut.

inklusi           : deliniasi satuan peta tanah hampir selalu mengandung satuan tanah lain yang tidak disebutkan dalam nama satuan peta tersebut.

inklusi bukan penghambat : inklusi tanah tidak serupa dengan faktor penghambat <d/p tanah utama.

inklusi penghambat : inklusi tanah tidak serupa yang mempunyai faktor penghambat > dari tanah utama atau mempengaruhi tingkat pengolahannya.

Penamaan satuan peta tanah : Ktegori penamaan satuan tanah tergantung dari skala peta. Penamaan skala detail menggunakan kategori rendah ( famili atau seri ) , sedangkan skala kacil menggunakan kategori tinggi (sub group, great group, sub ordo, atau ordo).

Fase tanah : merupakan pengelompokan tanah secara fungsional yang bermanfaat untuk memprediksi potensi tanah didaerah yang disurvei.

  1. Bagaimana melakukan survey tanah?

Dalam pelaksanaan survey tanah terdapat tiga garis besar kegiatan survey yang harus diperhatikan agar kegiatan survey dapat berjalan dengan lancar dan sistematis, yaitu :

  1. Tahapan persiapa
  2. Tahapan survey lapangan yang dapat dibagikan menjadi dua sebagai berikut :
  • Pra survey
  • Survey utama
  1. Pelaksanaan survey pada berbagai skala

Berikut merupakan uraian dari masing-masing tahap tersebut :

A. Tahap persiapan

Berikut merupakan bberapa jenis kegiatan yang akan dilakukan pad tahapan ini:

  1. Menentukan tujuan survey tanah

Terdapat dua jenis tujuan dalam melakukan survey tanah yakni:

  • Survey bertujuan umum

Survey jenis ini ditujukan untuk dapat memberi keterangan dan data sebagai dasar penafsiran dan berbagai penggunaan yang berbeda.

  • Survey bertujuan khusus

Survey jenis ini ditujukan untuk mengetahui kegunaan lahan seperti irigasi, penanaman tanaman tertentu dan untuk pembuatan peta kesesuaian lahan.

  1. Mengestimasi biaya survey tanah
  2. Merumuskan kerangka acuan (TOR = Terms of Reference)

Dalam kerangka acuan ini diuraikan secara jelas mengenai tujuan survey, alat yang digunakan, metode survey, macam peta dan laporan yang dihasilkan serta lain-lainya.

  1. Membuat surat perjanjian kerja sama
  2. Mengurus perijinan
  3. Mengumpulkan data-data datar
  4. Melakukan pengadaan foto udara dan citra satelit
  5. Menyiapkan peta dasar
  6. Melakukan interpretasi foto udara dan citra satelit
  7. Menyiapkan peta lapangan
  8. Menyususn jadwal pelaksanaan
  9. Pra survey Menyiapkan alat dan bahan survey

B. Tahap survey lapangan

  1. Pra survey

Kegiatan pra survey dilakukan oleh kordinator atau ketua tim surveu yang akan menanggung jawabi terkait pelaksanaan dan hasil dari survey tanah. Berikut merupakan beberapa kegiatan yang harus dilakukan pada saat kegiatan pra survey:

  • Mengurus perijinan survey mulai dari tingkat desa, kecamatan, kabupaten hingga ke tingkat provinsi
  • Melakukan overview atau peninjauan ke seluruh daerah survey terkait pengecekan hasil interpretasi foto udara atau batas-batas yang ada pada peta dasar dan peta rencana perintisan.
  • Menyiapkan perkemahan atau base camp serta tenaga kerja dalam pelaksanaan survey utama serta keperluan-keperluan lainya
  • Memantapkan perencanaan survey utama terkait akomodasi, perpindahan camp dan total biaya yang diperlukan.
  1. Survey utama

Berikut merupakan beberapa kegiatan yang akan dilakukan pada saat survey utama :

  • Mengadakan pengamatan lapang

Terdapat tiga jenis pengamatan lapangan yaitu pengamatan identifikasi, pengamatan detai, dan deskripsi profil. Pengamatan identifikasi dilakukan dengan cara melakukan pengeboran dan pengamatan pada tebing jalan atau tebing parit yang bertujuan mengenal satuan taksonomi. Pengamatan detail, dilakukan pada minipit yaitu lubang pengamatan tanah yang dibuat menggunakan sekop ukuran 40×40 cm dan kedalaman 50 cm.  Lubang tersebut kemudian diamati dan ditentukan karakteristik tanahnya.

  • Melakukan pengamatan pada daerah kunci
  • Pengambilan contoh tanah
  • Pembuatan peta tanah sementara

C. Pelaksanaan survei pada berbagai skala survey

  1. Survey tanah tingkat tinjau

Survey tanah tingkat tinjau dengan skla 1:25.000 umumnya merupakan suatu kegiatan untuk keperluan perencanaan tingkat regional atau perencanaan

  1. Survey tanah tingkat semi detail

Peta tanah semi etail skala 1:50.000 sampai 1:25000 umumnya dilaksanakan untuk kegiatan kegiatan pada tingkat kabupaten dan proyek-proyek pengembangan.

  1. Survey tanah tingkat detail

Survey ionin dilakukan untuk keperluan operasional lapangan misalnya pembagian suatu perkebunan dalam blok-blok, keperluan budidaya pertanian dan perencanaan detail dari suatu wilayh desa hingga tingkat kecamatan. Skala yang dihasilkan antara lain 1:10.000 hingga 1:25.000.

Di dalam suvei tanah dikenal 3 macam metode survei, yaitu metode grid,sistem fisiografi dengan bantuan interpretasi foto udara, dan grid bebas yangmerupakan penerapan gabungan dari kedua pendekatan tersebut. Berikut merupakan metode survey tabah menurut Rayes (2007) :

a. Survey Grid

Metode survei grid disebut juga metode grid kaku. Pengambilan contohtanah dalam survei ini dilakukan secara sistematik. Jarak pengamatan dibuatsecara teratur pada jarak tertentu untuk menghasilkan jalur segi empat di seluruhdaerah survei. Pengamatan tanah dilakukan dengan pola teratur (interval titikpengamatan berjarak sama pada arah vertikal dan horizontal). Jarak pengamatan tergantung dari skala peta. Metode survei grid sangat cocok untuk survei intensif dengan skala besar, dimana penggunaan interpretasi foto udara sangat terbatas dan intesitas pengamatan yang rapat memerlukan ketepatan penempatan titik pengamatan di lapangan dan pada peta.

Metode ini cocok dilakukan di daerah dengan pola tanah yang kompleks, posisi pemetaanya sukar dilakukan dengan pasti dan daerah yang hasil foto udaranya tidak maksimal. Berikut merupakan hal yang dapat menurunkan performa foto udara:

  1. Skalanya terlalu kecil
  2. Mutunya sangat rendah
  3. Daerah survey tertutup awan
  4. Kenampakan permukaan tidak jelas
  5. Daerah tertutup vegetasi rapat dan lebat
  6. Daerah berawa, padang rumput dan tanpa gejala permukaan.

Adapun keuntungan dari metode survey grid ini menurut Rayes (2007) adalah:

  1. Tidak memerlukan penyurvei yang berpengalama, karena lokasi titik-titik sudah di plot pada peta rencana pengamatan.
  2. Sanagat baik diterapkan di daerah yang luas yang memerlukan penyurvei dalam jumlah yang besar.
  3. Cukup teliti dalam menentukan batas satuan peta tanah pada daerah survei yang relatif datar.
  4. Dapat mengurangi atau memperkecil sejumlah sifat tanh pada suatu variate yang menggambarkan proporsi yang besar dari data yang tersedia.

Sedangkan kerugian dari metode ini adalah :

  1. Memerlukan waktu yang lama terutama pada medan yang berat.
  2. Pemanfaatan seluruh titik-titik pengamatan sehingga tidak efektif.
  3. Sebagian lokasi tidak mewakili satuan peta yang dikehendaki, misalnya pemukiman, daerah peralihan lahan dan lain-lain.

b. Survei Fisiografi

Metode survei fisiografi diawali dengan melakukan interpretasi foto udara(IFU) untuk mendelineasi landform yang terdapat di daerah yang disurvei, diikuti dengan pengecekan lapangan dengan komposisi satuan peta, biasanya hanya didaerah pewakil. Survei ini umumnya diterapkan pada skala 1: 50.000-1:200.000.Pada skala kecil, hanya satuan lansekap dan landform yang luas saja yang dapat digambarkan. Metode ini hanya dapat diterapkan jika tersedia foto udara yang berkualitas tinggi.

Jumlah pengamatan setiap satuan peta ditentukan oleh:

  1. Ketelitian hasil interpretasi foto udara dan keahlian penyurvei dalam memahami hubungan antara fisiografi dengan keadaan tanah.
  2. Kerumitan satuan peta: semakin rumit suatu peta maka semakin banyak pengamatan yang akan dilakukan.
  3. Luas satuan peta: semakin luas satuan peta maka semakin banyak juga pengamatan yang harus dilakukan.

c. Metode Grid Bebas

Metode grid bebas merupakan perpaduan metode grid kaku dan metode fisiografi. Metode ini diterapkan pada survei detail hingga semi detail, foto udaraberkemampuan terbatas dan di tempat-tempat yang orientasi di lapangan cukupsulit dilakukan. Pada metode ini, pengamatan dilakukan seperti pada grid kaku,tetapi jarak pengamatan tidak perlu sama dalam dua arah, tergantung fisiografidaerah survei. Metode ini sangat baik dilakukan oleh penyurvei yang belum profesional dalam interpretasi foto udara.

Menurut Rossister (2000), metode ini merupakan kelanjutan dari survei fisografi dan biasanya dilakukan pada skala 1: 12.500 sampai dengan skala 1: 25.000. Pelaksanaanya diawali dengan interpretasi foto udara secara detail. Pengamatan dilapangan sangat diperlukan pada daerah dengan korelasi tanah- geomorfologi yang kurang jelas. Dalam metode ini penyurvei bebas memilih lokasi titik pengamatan.

 

2.1 Mengapa perlu ditentukan luasan SPT terkecil 0.4 cm2?

Penentuan luasan SPT terkecil 0.4cm² dilakukan untuk memudahkan menghitung dan memperkirakan perbesaran dalam keadaan yang sebenarnya dalam pembuatan peta. Hal ini sesuai dengan pendapat Forbes (1986) satuan peta tanah dikatakan kompleks jika komponen utama dalam satuan peta kompleks tidak dapat membentuk satuan peta tersendiri jika dipetakan pada skala 1:24.000. Pada skala tersebut luasan 0,4 pada peta adalah 2,3 ha di lapangan dapat membentuk satuan peta tersendiri. Dengan kata lain pada spt 0,4 jika komponen petanya di delineasi maka akan terbentuk satuan yang kompleks.

2.2 Apakah dibenarkan kita membesarkan peta analog (misalnya peta tanah cetak) dgn scanner/foto copy  skala 1 : 250.000 menjadi 1 : 50.000? JELASKAN

Dibenarkan jika kita membesarkan peta analog dengan scanner/foto copy skala 1 : 250.000 menjadi 1 : 50.000, karena akan semakin kecil kenampakkan wilayah yang digambarkan dan semakin sedikit pula jumlah dan macam pengamatan yang dilakukan persatuan luasan tertentu. Sebaliknya apabila kita mengecilkan skala peta, semakin luas areal kenampakkan permukaan bumi yang tergambar dalam peta dan semakin banyak pula jumlah dan macam pengamatan yang dilakukan persatuan luasan tertentu.

2.3. Skala peta

  1. Berapa luas di lapangan untuk suatu SPT berukuran 0.8 cm2 pd peta berbagai skala seperti pada butir-butir di bawah?
  • Eksplorasi (1: 1000.000)
  • Tinjau (1:250.000)
  • Semi detil (1:50.000)
  • Detil (1:25.000)
  • Sangat Detil (1:5 000)

Jawaban :

  1. Diketahui : 1: 10.000, luas peta : 0,8 cm2

Luas asli =  0,8 x (10.000)² = 8 x 10⁸

= 8 x 10⁷

= 0,8 ha

  • Eksplorasi

Diketahui :          1:1.000.000

Luas sebenarnya = 0,8 cm² x (1.000.000)²

= 0,8 x 10ˡ² cm²

= 8000 ha

 

  • Tinjau

Diketahui :       1: 250.000

Luas sebenarnya : 0,8 cm² x (250.000)²

= 0,8 x 625 x 10⁸

= 500 ha

 

  • Semi detil

Diketahui :       1 : 50.000

Luas sebenarnya : 0,8 cm² x (50.000)²

= 0,8 x 25 x 10⁸

= 20 ha

 

  • Detil

Diketahui :       1 : 25.000

Luas sebenarnya : 0,8 cm² x (25.000)²

= 0,8 x 625 x 10⁶

= 5 ha

 

  • Sangat detil

Diketahui :       1 : 5.000

Luas sebenarnya : 0,8 cm² x (5.000)²

= 0,8 x 25 x 10⁶

= 20 x 106

= 0,2 ha

 

 

  1. Berapa intensitas pengamatan untuk peta berbagai skala seperti pada butir-butir di bawah?

 

Jawab

  1. Eksplorasi (1: 1000.000)

Peta tanah eksplorasi menyajikan keterangan tentang keadaan tanah dari suatu daerah. Survei yang dilakukan untuk membuat peta ini dengan cara menggunakan helikopter atau dilakukan sepanjang jalan, serta dengan bantuan interpretasi foto udara atau citra satelit. Intensitas pengamatan sangat rendah dengan skala bervariasi dari 1:500.000 hingga 1:1.000.000.

2. Tinjau (1:250.000)

Peta tanah tinjau biasanya dibuat dengan skala 1:250.000. Satuan peta didasarkan atas satuan tanah-bentuk lahan atau sistem lahan yang didelineasi melalui interpretasi foto udara dan atau citra satelit. Pengamatan di lapangan kurang lebih 1 untuk 12,5 km

3. Semi detil (1:50.000)

Peta ini dibuat dengan skala 1:50.000, dengan intensitas pengamatan sekitar 1 untuk setiap 50 hektar, tergantung dari kerumitan bentang lahan. Biasanya dilakukan dengan sistem grid yang dibantu oleh hasil interpretasi foto udara dan citra satelit

4. Detil (1:25.000)

Peta detil dibuat dengan skala 1:25.000 dan 1:10.000, digunakan untuk menyiapkan pelaksanaan suatu proyek termasuk proyek konservasi tanah sehingga informasi sifat dan ciri tanah diuraikan sedetil mungkin. Jumlah pengamatan untuk tanah adalah sekitar 1 untuk setiap 2 ha sampai 12,5 ha.

6. Sangat Detil (1:5 000)

Peta tanah sangat detil mempunyai skala > 1:10.000. Pengamatannya dua atau lebih untuk setiap hektarnya. Peta ini ditujukan untuk penelitian khusus, misalnya untuk petak percobaan pertanian guna mempelajari variabilitas respons tanaman terhadap pemupukan atau perlakuan tertentu dan lain-lain.

Tugas Pertemuan Minggu ke-3

March 20th, 2018

A. Pengayaan Minggu ke Tiga
• Peta
Peta adalah suatu penyajian atau gambaran, unsur-unsur atau kenampakan-kenampakan nyata yang dipilih di permukaan bumi atau benda-benda angkasa, atau kenampakan-kenampakan abstrak yang ada di permukaan bumi atau benda-benda angkasa, dan pada umumnya digambarkan pada suatu bidang datar dan diperkecil dengan skala (Gunawan dkk., 2007).
Sedangkan menurut PP Nomor 10 Tahun 2000, peta Secara umum Peta didefinisikan sebagai gambaran dari unsur-unsur alam maupun buatan manusia yang berada diatas maupun dibawah permukaan bumi yang digambarkan pada suatu bidang datar dengan skala tertentu.
• Unsur-unsur peta
Unsur-unsur peta sering juga disebut juga sebagai komponen kelengkapan peta. Pada peta terdapat beberapa komponen-komponen kelengkapan, menurut Sinaga (1995) berikut merupakan komponen kelengkapan peta yang secara umum banyak ditemukan pada peta misalnya adalah:
1. Judul
Judul peta atau sering juga disebut sebagai thema peta adalah bagian yang mencerminkan isi sekaligus tipe peta. Penulisan judul biasanya berada di bagian atau tengah, atas kanan, atau bawah. Walaupun demikian, sedapat mungkin diletakkan dikanan atas.
2. Legenda
Legenda adalah keterangan dari simbol-simbol yang tertera pada peta dan merupakan kunci untuk memahami peta.
3. Orientasi/tanda arah
Pada umumnya, arah utara ditunjukkan oleh tanda panah ke arah atas peta. Letaknya di tempat yang sesuai jika ada garis lintang dan bujur, koordinat dapat sebagai petunjuk arah.
4. Skala
Skala adalah perbandingan jarak pada peta dengan jarak sesungguhnya di lapangan. Skala ditulis di bawah judul peta, di luar garis tepi, atau di bawah legenda. Skala dibagi menjadi 3, yaitu:
a. Skala angka.
Misalnya 1:2.500.000, artinya setiap 1 satuan jarak dalam peta sama dengan 2.500.000 satuan jarak dalam di lapangan.
b. Skala garis.
Skala ini dibuat dalam bentuk garis horizontal yang memiliki
panjang tertentu dan tiap ruas berukuran 1 cm atau lebih untuk mewakili jarak
tertentu yang diinginkan oleh pembuat peta.
c. Skala verbal
Skala verbal yakni skala yang ditulis dengan kata-kata.
5. Simbol Peta
Simbol peta adalah tanda atau gambar yang mewakili kenampakan yang ada permukaan bumi yang terdapat pada peta kenampakannya, jenis-jenis simbol peta antara lain adalah berupa titik, segitiga, garis, batang, bola, aliran dan lain-lain.
6. Warna Peta
Warna peta digunakan untuk membedakan kenampakan atau objek di permukaan bumi, memberi kualitas atau kuantitas simbol di peta, dan untuk keperluan estetika peta.
7. Tipe Huruf (Lettering)
Lettering berfungsi untuk mempertebal arti dari simbol-simbol yang ada. Macam penggunaan letering:
a. Obyek Hipsografi ditulis dengan huruf tegak, contoh: Surakarta
b. Obyek Hidrografi ditulis dengan huruf miring, contoh: Laut Jawa
8. Garis Astronomis
Garis astronomis terdiri atas garis lintang dan garis bujur yang digunakan untuk menunjukkan letak suatu tempat atau wilayah yang dibentuk secara berlawanan arah satu sama lain sehingga membentuk vektor yang menunjukan letak astronomis.
9. Sumber dan tahun pembuatan peta
• Langkah-langkah pembuatan peta
1. Pengpulan data
2. Pembuatan delineasi : penghimpunan data kepada titik-titik yang sama.
3. Pembuatan poligon
4. Peninjauan karakter dominan dan sebaran
• Hal-hal yang akan dipetakan pada peta tanah adalah sifat-sifat tanah yang mencakup sifat fisik, kimia dan biologi.
• Inklusi
Inklusi adalah wilayah yang tidak dapat digambarkan pada peta akibat adanya keterbatasan dalam hal skala (Sinaga, 1995).

B. Koleksi peta daerah sendiri (Medan, Sumatera Utara)

1. Judul : Peta Geologi Teknik Daerah Medan dan Sekitarnya
2. Tahun Penerbitan: 1995
3. Pembuat Peta: GTL/THAMRIN, MH; WAFID AN, Muhammad; HERMAWAN
4. Skala: 1:100.0000
5. Lokasi peta : Medan

1. Judul : Peta Kota Medan
2. Tahun penerbitan: 2005
3. Pembuat peta : Angkasa
4. Skala : 1:250.000
5. Sistem proyeksi : Silinder

1. Judul : Penutupan Lahan Provinsi Sumatera Utara
2. Tahun penerbitan: 2006
3. Pembuat peta : Hasil Interpretasi Landsat, Plamologi
4. Skala : 1:6.000.000

1. Judul : Peta Indeks Risiko Bencana Gerakan Tanah/Landslide Disaster Risk Index Map
2. Tahun penerbitan: 2010
3. Pembuat peta : Badan Nasional Penanggulangan Bencana
4. Skala : 1:250.000

Daftar pustaka
Sinaga, Maruli. 1995. Pengetahuan tentang Peta. Yogyakarta: Fakultas Geografi UGM.
Gunawan, Totok, Sukwardjono, Sukoco, Mas, Sudarsono, Agus dan Soewadi. Fakta dan Konsep Geografi. Inter Plus: Bandung.

Hello world!

March 13th, 2018

Selamat datang di Student Blogs. Ini adalah posting pertamaku!