Blog Archives

Keadilan Sosial Bagi Seluruh Rakyat Indonesia


Sila terakhir yang ada dalam Pancasila membahas tentang keadilan sosial bagi seluruh rakyat Indonesia. Hal ini menunjukkan adanya kesadaran akan hak dan kewajiban yang sama untuk menciptakan keadilan sosial dalam masyarakat Indonesia. Keadila sosial memiliki unsur pemerataan, persamaan dan kebebasan yang bersifat komunal. Nilai dari adanya sila ini juga mengandung makna dasar sekaligus tujuan tercapainya masyarakat Indonesia yang adil dan makmur secara lahririah maupun batiniah.

Mengutip tulisan Syahrial (2016) pada laman weblog-nya, “Dalam rangka ini dikembangkan perbuatan luhur yang mencerminkan sikap dan suasana kekeluargaan dan kegotongroyongan. Untuk itu dikembangkan sikap adik terhadap sesama, menjaga keseimbangan antara hak dan kewajiban serta menghormati hak-hak orang lain. Nilai keadilan sosial mengamatkan bahwa semua warga negara mempunyai hak yang sama dan bahwa semua orang sama di hadapan hukum.” Ia juga menuliskan bahwa dengan adanya sikap yang demikian maka tidak ada usaha-usaha yang bersifat pemerasan terhadap orang lain serta perbuatan-perbuatan lain yang bertentangan dengan atau merugikan kepentingan umum.

Lalu apakah keadilan yang dijelaskan diatas sudah sepenuhnya teraplikasikan dengan baik di Indonesia? Apakah kita sudah secara merata mendapatkan keadilan sosial yang diharapkan oleh Pancasila? Berdasarkan temuan beberapa pemberitaan beberapa hari terakhir, masihkah kita mengatakan bahwa keadilan sudah merata? Sebut saja salah satu pembahasan tentang penerapan sistem zonasi yang diharuskan oleh pemerintah untuk dilakukan oleh pemerintah daerah dalam hal Penerimaan Peserta Didik Baru (PPDB).

Inti pembahasan ini adalah tentang siswa-siswi baru yang mengharuskan setiap siswa untuk mendaftarkan diri pada satu sekolah saja. Jika ia sudah mendaftar di sekolah A, maka ia tidak boleh mendaftarkan diri di sekolah B, C, D, bahkan Z sekalipun. Peraturan tersebut diartikan sebagai sistem penerimaan berdasarkan pada radius atau jarak terdekat calon siswa dan sekolah yang dituju. Baiklah, tujuan ini mungkin baik untuk beberapa pemikiran. Hasil positif dari adanya peraturan ini adalah agar input siswa maupun dana sumbangan yang mungkin diberikan oleh orangtua siswa yang berduit dapat terdistribusi rata. Namun adakah yang salah dari dikeluarkannya peraturan ini?

Pertama, apakah sekolah yang dimaksud juga sudah terbagi secara rata? Kita dapat melihat bahkan meskipun itu hanya sekilas. Sekolah-sekolah terbaik bahkan lebih banyak berdiri di kota-kota besar. Lalu bagaimana dengan sekolah di luar wilayah kota besar tersebut? Yapss..seperti yang kita lihat, bangunannya saja bahkan masih ada yang tidak layak. Belum lagi dengan perilaku “gengsi” yang dimiliki oleh orangtua dewasa ini. Mereka hanya mementingkan tempat sekolah yang favorit meskipun harus membayar lebih.

Dan yang kedua adalah guru-guru yang ada di setiap sekolah, apakah sudah memiliki kualitas yang sama dengan sekolah-sekolah favorit lainnya? Fakta yang pernah penulis temukan adalah masih banyaknya guru-guru di pelosok desa yang bahkan baru lulusan SMA namun sudah menjadi guru di suatu sekolah desa tersebut. Alasan dirinya memutuskan untuk menjadi guru karena tidak ada banyak guru yang mengajar di sekolah tersebut. Selain itu, adanya kendala dalam hal biaya untuk melanjutkan sekolah ke jenjang yang lebih tinggi.

Lalu dimanakah keadilan sosial yang dimaksudkan pada hal ini? Memaksa masyarakat untuk pindah ke kota besar agar anak-anaknya mendapatkan pendidikan yang baik atau mencoba menghilangkan perilaku “gengsi” yang dimiliki oleh setiap individu untuk bersikap atau berperilaku adil terhadap orang lain?

Category: Catatan Kuliah

Kerakyatan Yang Dipimpin Oleh?


Silahkan lanjutkan dengan kalimat apa saja yang ada dalam pikiran Anda saat ini.

Pancasila sila keempat berbunyi “Kerakyatan Yang Dipimpin Oleh Hikmat Kebijaksanaan Dalam Pemusyawaratan/Perwakilan”. Sila dengan susunan kalimat terpanjang dari sila-sila lainnya. Kenapa pada sila keempat ini sangat panjang? Apa yang diharapkan oleh para pejuang pembuat Pancasila akan adanya isi sila keempat tersebut? Bagaimana bisa mereka berpikir untuk memutuskan bahwa dalam sila keempat berisikan tentang itu? Dan bagaimana penjabaran isi sila tersebut dalam kehidupan berbangsa dan bernegara saat ini?

Jika kita kembali ke masa pembelajaran Sekolah Dasar atau Sekolah Menengah Pertama tentang Pendidikan Pancasila dan Kewarganegaraan, kita pasti menjumpai BAB atau pertemuan yang membahas tentang makna dari Pancasila. Yang saya ingat dari adanya makna sila keempat yang saya dapatkan semasa duduk di bangku sekolah adalah pada sila ini, kita memaknai adanya kepentingan terhadap negara dan masyarakat serta penggunaan cara musyawarah untuk mencapai suatu mufakat dalam segala hal keputusan yang berhubungan dengan orang banyak.

Semasa itu, untuk anak seusia saya tak banyak bertanya dan hanya menerima pengetahuan tersebut tanpa banyak bicara, “Iya, baiklah intinya seperti itu.” Tetapi semakin meningkatnya pendidikan yang diterima serta kehidupan lingkungan yang semakin luas, seketika ada beberapa pertanyaan yang muncul seperti, Kerakyatan yang dipimpin oleh hikmat. Kerakyatan yang mana? Siapa yang memimpin? Dipimpin dengan cara hikmat yang bagaimana? Apakah pemimpin yang hikmat dalam memimpin suatu rakyat itu ada? Jika memang ada pemimpin yang seperti apa beliau? Pertanyaan lainnya yang muncul adalah, Kebijaksanaan. Kebijaksanaan yang seperti apa yang diinginkan oleh rakyat terhadap seorang pemimpin? Bagaimana cara menilai atau mengukur kebijaksanaan tersebut agar seorang pemimpin layak dikatakan bijaksana untuk memimpin rakyat? Dan pertanyaan terakhir yang amat sangat sering dipertanyakan oleh orang lain, bukan hanya saya, namun tidak secara mendalam menghayati pertanyaan tersebut adalah, Permusyawaratan. Musyawarah merupakan satu-satunya cara yang dilakukan oleh warga Indonesia dalam memutuskan segala hal yang memiliki sangkut paut dengan kehidupan orang banyak dan demi kepentingan bersama.

Pada prakteknya kita sangat sulit melihat kegiatan musyawarah tersebut di era globalisasi teknologi saat ini. Kita lihat bagaimana sejatinya musyawarah diterapkan. Kita akan menjawab, “Dalam hal keputusan pemimpim kita lakukan dengan cara musyawarah.” Benarkah? Dimana letak musyawarah itu diterapkan? Pada saat pemilihan Presiden? Gubernur? Atau yang paling sederhana di sekitar kita adalah pemilihan ketuan RT/RW? Apakah pemilihan mereka semua dilakukan dengan cara musyawarah? Maka jawabannya, tidak.

Saya melihat, disekitar lingkungan tempat tinggal saya, tidak pernah menggunakan cara musyawarah dalam pemilihan ketua RT/RW. Tetapi mereka menggunakan cara siapa yang paling “kuat dan berpengaruh” dalam satu lingkungan tersebut dan menggunakan cara voting untuk menentukan siapa yang berhak duduk di tempat paling tinggi untuk mewakili rakyat sekitar. Mengertikah Anda makna dari “kuat” dan “berpengaruh”? Orang-orang elit, orang-orang yang memiliki kekuasaan secara material, orang-orang yang bahkan ia tidak memiliki kesadaran akan makna berbangsa dan bernegara yang sebenarnya, orang-orang yang hanya ingin dipuji dan haus akan jabatan namun dengan topeng yang sangat baik menampilkan diri mereka yang bijaksana dan ingin mendapatkan kepercayaan dari orang sekitar.

Mungkin kita masih bisa melihat bagaimana praktek Pancasila sila keempat ini di beberapa ruang lingkup yang sangat kecil yang bahkan tak akan terlihat sama sekali oleh masyarakat sekitar. Salah satu contoh penerapan musyawarah yang pernah saya alami secara pribadi adalah ketika pemilihan ketua kelas semasa berada di Sekolah Menegah Atas. Pemilihan dilakukan secara musyawarah dengan melihat bagaimana setiap siswa dalam satu kelas tersebut. Satu per satu berhak dan harus menyampaikan pendapat atau pemikiran mereka tentang siapa yang menurutnya pantas untuk dijadikan pemimpin kelas. Tak terlihat penting memang karena ini hanyalah ruang lingkup kecil, bahkan amat sangat kecil. Mungkin Anda juga akan mengatakan, “Hal bodoh yang terlalu dianggap serius. Itu hanyalah pemilihan ketua kelas. Tentukan saja siapa yang menurut mu yang terlihat lebih kekar atau besar sehingga ia dapat menjadi ketua.”

Ya seperti itulah memang pemikiran kita saat ini akan pemimpin yang dipilih melalui permusyawaratan adalah hal basi namun selalu mengatakan “kita memilihnya dengan cara musyawarah”, namun tidak secara prakteknya. Masih adakah Pancasila dalam diri kita? Jika ya, sudahkah kita menerapkannya? Atau terkadang kita menganggapnya hal yang, “Ahhh…sudahlah itu terlalu tua dan berlebihan untuk dilakukan. Kita lakukan dengan cara yang mudah saja.”

Category: Catatan Kuliah

“Persatuan Indonesia” dalam Sila Ketiga Pancasila


Apa yang pertama kali Anda pikirkan ketika mendengar kata “Persatuan”? Menyatukan budaya? Menyatukan banyak hal? Menyatukan perbedaan latar belakang? Menyatukan suatu pemikiran, pendapat, ide, atau gagasan? Menyatukan lapisan yang terpecah belah? Atau menyatukan yang jauh menuju yang dekat?

Kebanyakan dari kita akan berpikir bahwa makna dari sila ketiga Pancasila tersebut adalah menyatukan perbedaan yang begitu banyak ada di Indonesia menjadi satu. Sesuai dengan bagaimana penggambaran “Bhineka Tunggal Ika” yang digenggam di kaki Burung Garuda lambang dasar negara Indonesia. Tapi bagaimana dengan penjabaran sesungguhnya sila ketiga tersebut? Apakah Anda sudah menerapkannya dalam berkehidupan berbangsa dan bernegara di tanah tercinta kita, Indonesia? Jawabannya iya, namun tidak secara sesungguhnya.

Jika kita melihat fenomena pada beberapa tahun silam, tentang adanya GAM (Gerakan Aceh Merdeka), mengapa bagian barat Indonesia yang memiliki sebutan Serambi Mekkah tersebut membuat gerakan tersebut? Padahal jika kita menilik ke belakang pada masa kemerdekaan Indonesia, lima hari setelah RI diproklamasikan, Aceh menyatakan dukungan sepenuhnya terhadap kekuasaan pemerintahan yang berpusat di Jakarta.

Dibawah Residen Aceh, yang juga tokoh terkemuka, Teuku Nyak Arief, Aceh menyatakan janji kesetiaan mendukung kemerdekaan RI dan Aceh sebagai bagian tak terpisahkan. Pada 23 Agustus 1945, sedikitnya 56 tokoh Aceh berkumpul dan mengucapkan sumpah. Pada sumpah tersebut mereka menyatakan, “Demi Allah, saya akan setia untuk membela kemerdekaan Republik Indonesia sampai titik darah saya yang terkahir.”
Menggaris bawahi kalimat “tak terpisahkan” serta adanya sumpah yang dilakukan, kita adalah satu, Indonesia. Dari sabang sampai merauke, kita mempersatukan kekuatan dan tekad hingga bangsa kita dapat menjadi bangsa yang kuat dan tak akan terpisahkan meskipun secara fisik kita terpisah oleh puluhan pulau yang ada. Tak ada yang salah dalam kejadian tersebut. Lantas apakah yang membuat Aceh membentuk gerakan untuk memisahkan dan memerdekakan diri dari Indonesia?

Selain fenomena GAM, kejadian lainnya yang sangat ironis terjadi di Indonesia dalam kurun waktu 1995-1999 telah terjadi kerusuhan yang melibatkan amuk massa seperti perusakan yang dilakukan oleh petani di Jenggawah, perusakan Pengadilan Negeri di Kediri, perusakan Toserba oleh umat Islam di Purwakarta dan Pekalongan, pembunuhan atas seseorang oleh sekelompok anak muda umat Katolik terhadap seseorang yang dianggap melecehkan agama di Nusa Tenggara, dan masih banyak lagi kejadian-kejadian yang sebenarnya kejadian tersebut tidak mencerminkan sila ketiga Pancasila yaitu Persatuan Indonesia.

Fenomena lainnya yang saat ini juga lebih banyak terjadi adalah adanya “Bullying” atau Penindasan. Peristiwa ini yang paling mudah untuk menggambarkan bagaimana hilangnya penjabaran sila ketiga dari lima sila yang ada pada Pancasila. Tidak ada lagi kata “Persatuan” dalam diri orang-orang yang melakukan penindasan tersebut. Karena mereka menganggap yang kuat lah yang mampu melakukan apapun yang diinginkan tanpa melihat orang lain.

Sila ketiga adalah “Persatuan Indonesia”. Kita menyatukan banyak hal menjadi satu, Indonesia. Kita hidup dengan budaya yang sangat amat banyak namun tetap satu, Indonesia. *bagian ini cukup menarik untuk dibahas pada bagian lain sebenarnya  Yaaa…kita tau bahwa kita berasal dari berbagai budaya yang berbeda dan terkadang saat kita mendapatkan pertanyaan, “aslinya mana?” pasti sebagian dari kita akan bilang tempat asal kita namun dengan nada sedikit malu. Dan contoh budaya yang sangat dijadikan acuan dalam keseharian kita adalah budaya metropolitan. Iya atau tidak, sadar atau tidak, lihatlah bagaimana anak-anak remaja saat ini lebih suka mengendarai motor besar meskipun ia melewati jalanan sawah. Ok, mungkin ia menganggap bahwa dengan mengendarai motor besar tersebut maka, ia akan dianggap sama dengan orang-orang lainnya, pemersatuan budaya. *iyain aja biar cepat, bahas satu ini aja lama.

Kita memiliki ratusan bahasa daerah namun kita berbahasa satu, bahasa Indonesia * jika kita memperhatikan fenomena saat ini, banyak orang akan dengan bangga bersikap atau berkomunikasi dengan bahasa “Jakartaan” yang dianggap lebih keren dari budaya aslinya. Sadar atau tidak, banyak sekali orang disekitar kita akan lebih nyaman berbicara bahasa “gua, lu” dibandingkan dengan bahasa “aku, kamu” atau sebutan diri dalam bahasa daerah masing-masing  Yapss…mungkin ini yang namanya “Persatuan Indonesia”. Karena Ibu Kota Negara Indonesia adalah Jakarta, maka kita akan menganggap bahwa bahasa satunya Indonesia itu ya bahasa Jakarta.

Kalimat lain yang sering saya pribadi dengar adalah, “Kita berasal dari banyak aliran darah, namun satu darah kita, darah Indonesia” *jika memang kita berdarah satu, maka tak ada lagi rumah sakit atau orang-orang meninggal karena kekurangan transfusi darah -_- semuanya bisa nyumbang darahnya -_- *

Lalu di manakah kita dapat melihat makna sesungguhnya sila ketiga ini?

Category: Catatan Kuliah

Pancasila Sila Kedua


Pancasila! Satu! Ketuhanan Yang Maha Esa!
Dua! Kemanusiaan yang adil dan beradab!
Tiga!……stop!
Hmm…kalau di postingan sebelumnya penulis menulis tentang sila satu yang kebanyakan lebih kepada pendapat orang, sekarang penulis akan kembali menulis tentang sila kedua dari Pancasila *meskipun nantinya akan tetap ada banyak kutipan dari orang lain 😀
Berbicara tentang Kemanusiaan yang adil dan beradab…kemanusiaan yang seperti apa yang ingin digambarkan oleh Pancasila sebenarnya? Lalu sikap adil dan beradab yang seperti apa yang dimaksud? Jadi, mengutip dari Zurrnelly (2010) dalam bukunya yang berjudul “Filsafat Pancasila”, pada sila kedua dari lima sila yang ada dalam Pancasila, terkandung nilai-nilai humanistis antara lain :
1. Pengakuan terhadap adanya martabat manusia dengan segala hak asasinya yang harus dihormati oleh siapapun.
2. Perlakuan yang adil terhadap sesama manusia.
3. Pengertian manusia beradab yang memiliki daya cipta, rasa, karsa dan iman, sehingga nyatalah bedanya dengan makhluk lain.

Inti sila kemanusiaan yang adil dan beradab adalah landasan manusia.
Maka konsekuensinya dalam setiap aspek penyelengaraan Negara antara lain hakikat Negara, bentuk Negara, tujuan Negara , kekuasaan Negara, moral Negara dan para penyelenggara Negara dan lain-lainnya harus sesuai dengan sifat-sifat dan hakikat manusia. Hal ini dapat dipahami karena Negara adalah lembaga masyarakat yang terdiri atas manusia-manusia, dibentuk oleh manusia untuk memanusia dan mempunyai suatu tujuan bersama untuk manusia pula. Maka segala aspek penyelenggaraan Negara harus sesuai dengan hakikat dan sifat-sifat manusia Indonesia yang monopluralis , terutama dalam pengertian yang lebih sentral pendukung pokok Negara berdasarkan sifat kodrat manusia monodualis yaitu manusia sebagai individu dan makhluk sosial.

Selain itu juga..pada sila kedua ini berhubungan terhadap perilaku kita sebagai manusia yang pada hakikatnya semua sama di Dunia ini. Berikut contoh sikap yang mencerminkan sila kedua :
● Mengakui persamaan derajat, hak, dan kewajiban asasi setiap manusia tanpa membedakan.
● Mengakui dan memperlakukan manusia sesuai dengan harkat dan martabatnya sebagai makhluk Tuhan Yang Maha Esa.
● Mengembangkan sikap saling mencintai sesama manusia.
● Tidak semena-mena terhadap orang lain.
● Gemar melakukan kegiatan kemanusiaan, seperti acara acara bakti sosial, memberikan bantuan kepada panti panti asuhan sebagai bentuk kemanusiaan peduli akan sesama.
● Senang membantu teman yang sedang mengalami kesusahan.
● Memberikan bantuan kepada korban bencana alam.
● Mengembangkan sikap tenggang rasa.
Menjunjung tinggi Hak Asasi Manusia.
● Mengembangkan sikap hormat menghormati dan bekerjasama dengan bangsa lain.
● Mengembangkan sikap saling tenggang rasa dan tepa selira.
● Menyadari bahwa kita mempunyai hak dan kewajiban yang sama.

Category: Catatan Kuliah

Pancasila Sila Pertama Itu???


Pancasila! Satu! Ketuhanan Yang Maha Esa!
Dua!…..Eeeiiitttt…..sebelum ke sila selanjutnya, dari sila pertama, sudah pahamkah kita akan fungsi dan tujuan dari sila pertama tersebut?

Mengutip tulisan dari Sutia Budi dalam situs www.rmol.co (17 Juni 2017) tentang prinsip Ketuhanan, pada pidato 1 Juni 1945, Bung Karno menegaskan : “Marilah kita di dalam Indonesia yang kita susun ini, sesuai dengan itu, menyatakan bahwa prinsip ke-5 daripada negara kita, ialah Ketuhanan yang hormat menghormati satu sama lain. Hatiku akan berpesta raya, jikalau saudara-saudara menyetujui bahwa Negara Indonesia Merdeka berasaskan Ketuhanan Yang Maha Esa!”.

Dari tulisan di atas, penulis mengartikan Negara Indonesia yang berprinsip Ketuhanan dalam pandangan Bung Karno, juga diartikan sebagai negara yang setiap warga negaranya dapat menyembah Tuhan-nya dengan cara leluasa. Sementara bertuhan secara kebudayaan, dimaknai dengan tiada “egoisme-agama”. Bung Karno juga mengajak untuk mengamalkan dan menjalankan ajaran agama masing-masing dengan cara yang berkeadaban, yaitu hormat-menghormati satu sama lain.

Berasal dari negara yang memiliki banyak perbedaan budaya, membuat Ir. Soekarno dan tokoh lainnya pada masa itu membuat rumusan Pancasila untuk dasar suatu negara, serta sebagai pedoman dalam bersikap dan berperilaku yang baik. Dengan tujuan agar Pancasila tersebut dapat menjadi landasan yang tepat, baik untuk rakyat, bangsa dan negara Indonesia. Toleransi merupakan kunci utama dalam menerapkan Pancasila di kehidupan sehari-hari. Namun di zaman milenial di mana setiap orang akan bergerak dengan cepat sesuai dengan perkembangan teknologi seperti ini, toleransi akan perbedaan agama khususnya masihkan dapat kita rasakan keberadaannya?

Nurcholish Madjid berpendapat bahwa Ketuhanan Yang Maha Esa yang dipahami sudut Islam sebagai Tauhid, adalah sebagai dasar moral sedangkan tujuannya adalah Keadilan Sosial. Membaca pendapat Cak Nur, maka dapat dimaknai bahwa jika yang terjadi “Ketidakadilan Sosial” maka sesungguhnya “belum bertuhan” secara benar. Karena Tuhan itu Maha Adil.

Category: Catatan Kuliah

Pancasila Ohh Pancasila


Pancasila?!? Kapan pertama kali Anda mendengar kata Pancasila? Semasa kecil (sebelum sekolah)? Waktu TK? atau Sekolah Dasar? Kebanyakan dari kita akan menjawab, ketika berada di Sekolah Dasar. Saya pribadi sudah sering mendengar kata Pancasila bahkan sebelum masuk Taman Kanak-kanak, dan sudah hafal Pancasila ketika berada di Taman Kanak-kanak. Tapi….apakah hanya dengan menghafal Pancasila itu sudah membanggakan? Pernahkan kita bertanya-tanya apa itu Pancasila? Mengapa kita harus menghafalkan Pancasila? Dan apa tujuan dibuatnya Pancasila itu sendiri? Tak banyak dari kita berpikir ke arah sana. Bahkan ketika kita hanya hafal kelima sila yang ada, itu sudah cukup.

Pertanyaan pertama, apa itu Pancasila? Ketika pertanyaan tersebut ditujukan secara random, maka akan ada beberapa jawaban yang sering kita dapatkan yaitu, Pancasila itu dasar negara; Pancasila itu ideologi negara: Pancasila itu identitas negara; Pancasila itu budaya negara Indonesia; Pancasila itu kita yang lahir di Indonesia; Pancasila itu dasar sikap kita untuk berperilaku di negara yang menerapkannya; dan lain sebagainya. Semua jawaban tersebut tidak ada yang salah. Apapun pengertian Pancasila pada setiap individu, tidak menentukan apakah ia salah atau benar dalam mengartikannya. Namun, pemaknaan dan penerapan Pancasila itulah yang menentukan apakah seseorang tersebut memahami Pancasila atau tidak.

Mengutip tulisan dari seorang dosen di IKIP Sanata Dharma yang mengajar tentang ilmu Sejarah Tatanegara Indonesia dan Pancasila, P.J. Suwarno menuliskan, “…..Pancasila pada masa sekarang pikirannya langsung tertuju pada Pancasila yang dirumuskan dalam alinea ke-4 Pembukaan Undang-undang Dasar 1945…..”. Sedangkan pada situs www.wikipedia.org/wiki/Pancasila , “Pancasila adalah ideologi dasar bagi negara Indonesia. Nama ini terdiri dari dua kata Sanskerta yaitu panca yang berarti lima, dan sila yang berarti prinsip atau
asas.”

Pancasila merupakan rumusan dan pedoman kehidupan berbangsa dan bernegara bagi seluruh rakyat Indonesia. Sederhananya, Pancasila adalah landasan dari segala keputusan bangsa dan menjadi ideologi tetap bangsa serta mencerminkan kepribadian bangsa. Pancasila merupakan ideologi bagi negara Indonesia. Dalam hal ini, Pancasila dipergunakan sebagai dasar mengatur pemerintahan negara. Pancasila merupakan kesepakatan bersama bangsa Indonesia yang mementingkan semua komponen dari sabang sampai merauke.

Pengertian Pancasila menurut para ahli antara lain:
1. Muhammad Yamin, Pancasila berasal dari kata Panca yang berarti lima dan Sila yang berarti sendi, atas, dasar atau peraturan tingkah laku yang penting dan baik. Dengan demikian Pancasila merupakan lima dasar yang berisi pedoman atau aturan tentang tingkah laku yang penting dan baik.
2. Notonegoro, Pancasila adalah dasar falsafah negara Indonesia, sehingga dapat diambil kesimpulan bahwa Pancasila merupakan dasar falsafah dan ideologi negara yang diharapkan menjadi pandangan hidup bangsa Indonesia sebagai dasar pemersatu, lambang persatuan dan kesatuan serta sebagai pertahanan bangsa dan negara Indonesia
3. Ir. Soekarno, Pancasila adalah isi jiwa bangsa Indonesia yang turun-temurun sekian abad lamanya terpendam bisu oleh kebudayaan barat. Dengan demikian, Pancasila tidak saja falsafah negara, tetapi lebih luas lagi, yakni falsafah bangsa Indonesia.

Yahh….intinya Pancasila itu adalah dasar buat kita berperilaku dalam menghadapi segala situasi dan keadaan yang ada disekitar kita, terutama jika kita tinggal Indonesia. Namun, tidak berarti ketika kita berada di luar Indonesia, kita tidak menerapkan Pancasila. Justru dengan berperilaku dan bersikap baik menerapkan Pancasila dimanapun kita berada, maka orang lain pun akan memandang baik orang-orang yang berasal dari Indonesia. Karena Pancasila adalah ideologi atau dasar kehidupan rakyat Indonesia.

Pertanyaan kedua, mengapa kita harus mengahafalkan Pancasila? Hmm….pertanyaan ini sebenarnya cukup rancu buat saya. Lebih tepatnya mungkin memahami bukan menghafal. Tapi ya…namanya juga mantan siswa yang suka dengar kata-kata guru, “Hafalkan bagian ini, hafalkan bagian itu!”, jadi selalu kebawa kata “hafalkan”, padahal sebenarnya disuruh pahami, cuma karena salah penyampaian aja, sampai sekarang masih suka bilang, “….hafalkan…”.

Tapi sebelum memahami, kita juga bakalan disuruh menghafalkan lebih dulu sih *yahh…balik lagi deh 😀 * Jadi intinya, memang kita bakalan disuruh menghafalkan, setelah itu baru kita memahami apa yang kita hafalkan tersebut. Pancasila itu ibarat lagu *menurut saya pribadi sih*. Ketika kita suka dengan sebuah lagu, kita akan mencari liriknya, menghafalkan liriknya, memahami makna dari lirik, dan menyanyikannya di saat menurut kita lagu tersebut cocok untuk dibawakan. Semakin dalam kita memaknai lagu tersebut, maka semakin dapat kita mengetahui tujuan atau pesan dari seorang penyanyi atau penulis lagu yang ingin mereka sampaikan. Dengan begitu kita dapat merasakan perasaan yang sama dengan sang penulis lagu ataupun yang membawakannya.

Nahh….Pancasila itu seperti itu. Jadi ketika kita menghafalkannya, lambat laun kita akan mencari tahu kenapa kita harus menghafalkan Pancasila. Seperti yang sudah dijelaskan di awal dan menurut pengertian Muhammad Yamin, Pancasila merupakan dasar atau pedoman tentang tingkah laku yang penting dan baik. Dengan kita mengahafalkan dan memahami Pancasila, maka kita dapat mencoba untuk berpikir kembali atau berpikir sebelum bertindak, apakah hal yang kita lakukan nantinya baik atau tidak? Merugikan orang lain atau tidak? Sesuai atau tidak dengan sila-sila yang ada dalam Pancasila?.

Apalagi di zaman teknologi yang serba canggih saat ini dan kita yang berada pada generasi milenial tentunya harus memperhatikan dengan baik, apakah kita masih menerapkan Pancasila dalam kehidupan sehari-hari atau kita hidup sebagaimana mestinya kita hidup di zaman yang serba cepat.

Mengutip salah satu pemberitaan tentang Pancasila di www.republika.co.id, yang ditulis oleh Amri Amrullah, “Ketua MPR Zulkifli Hasan, menilai generasi muda milenial Indonesia bisa memberikan kontribusi besar bagi kemajuan bangsa. Zulkifli percaya, hadirnya generasi milenial biasa membawa kemajuan asalkan memahami serta melaksanakan nilai-nila Pnacasila. Ia menyampakan bahwa Pancasila harus didekatan pada generasi milenial dengan pendekatan yang interaktif dan menarik. Dengan nilai-nilai yang sama dan cara yang lebih adaptif.”

Pertanyaan terakhir, apa tujuan dari dibuatnya Pancasila? Kita tau bahwa Pancasila dibuat dengan sangat tidak mudah. Banyak perbedaan pendapat, ide, dan gagasan yang diberikan dari orang satu ke orang lainnya. Pancasila juga memiliki lima sila yang berbeda menurut para ahlinya. Mengutip tulisan dari buku “Pendidikan Pancasila dan Kewarganegaraan (PPKN di Perguruan Tinggi) yang ditulis oleh Sarinah, Muhtar Dahri dan Harmaini (2016) :

“Proses perumusan Pancasila diawali ketika dalam sidang BPUPKI pertama dr. Radjiman Widyodiningrat, mengajukan suatu masalah, khususnya akan dibahas pada sidang tersebut. Masalah tersebut adalah tentang suatu calon rumusan dasar negara Indonesia yang akan dibentuk. Kemudian tampillah dalam sidang tersebut tiga orang pembicara yaitu Mohammad Yamin, Seoepomi dan Soekarno. Pada tanggal 1 Juni 1946 di dalam sidang tersebut, Ir. Soekarno berpidato secara lisan (tanpa teks) mengenai calon rumusan dasar negara Indonesia. Kemudian untuk memberikan nama “Pancasila” yang artinya lima dasar. Pada tanggal 17 Agustus 1945 Indonesia memproklamasikan kemerdekaannya, kemudia keesokan harinya tanggal 18 Agustus 1945 disahkannya UUD 1945 termasuk Pembukaan UUD 1945 di mana didalamnya termuat isi rumusan lima prinsip sebagai satu dasar negara yang diberi nama Pancasila.”

Tujuan dibuatnya Pancasila sebagaimana dengan fungsi Pancasila dan sila-sila yang ada di dalamnya itu sendiri. Fungsi Pancasila yang kita ketahui antara lain : sebagai jiwa bangsa Indonesia; sebagai kepribadian bangsa Indonesia; sebagai sumber dari segala sumber hukum; sebagai pandangan hidup bangsa Indonesia; sebagai cita-cita dan tujuan bangsa Indonesia; menjadi falsafah hidup bangsa; sebagai dasar Negara Republik Indonesia; dan sebagai perjanjian luhur bangsa Indonesia.
Sesuai dengan setiap sila yang ada di dalamnya, maka tujuan Pancasila adalah :
1. Menghendaki bangsa yang religius yang taat kepada Tuhan Yang Maha Esa
2. Menjadi bangsa yang adil secara sosial ekonomi
3. Menjadi bangsa yang menghargai HAM (Hak Asasi Manusia)
4. Mengehendaki bangsa yang demokratis; dan
5. Menghendaki menjadi bangsa yang nasionalis yang mencintai tanah air Indonesia.

Jadi, sudah pahamkah kita apa itu Pancasila? Apakah dengan sadarnya kita akan Pancasila, kita akan menjadi pribadi yang berperilaku penting dan baik di mata orang lain dan terhadap orang lain? Ya. Karena Pancasila dalah pedoman perilaku kita dalam setiap tidakan. Berpikirlah cerdas dan berperilakulah dengan bijak. Semoga dengan kita menyadari dan memahami dengan baik Pancasila, maka semakin cinta kita kepada negara Indonesia.

Category: Catatan Kuliah

REVIEW 2: THE ETHICS OF SOCIAL RESEARCH

1

Apa kabar para pembaca setia yang suka membaca postingan saya *berharap* Semoga kalian selalu sehat dan semangat dalam menjalani hari-hari yang indah dan menyenangkan ini! 😉 Dan semoga juga kalian tidak bosan dan lelah akan postingan saya 😀 *hope* Sudahkah kalian menambah jam membaca kalian? Karena postingan kali ini, juga akan sangat bermanfaat bagi kita semua 🙂 .

OK, kalau di minggu kemarin kita membahas tentang “Qualitative Research : Defining & Designing” dari Guest, G., E. Namey, E., & L. Mitchell, M. Dan kita telah belajar definisi dari penelitian kualitatif serta cara mendesign penelitian tersebut sesuai dengan akademisi yang ada. Maka kali ini , saya akan memposting hasil review dari potongan e-book yang berjudul “The Ethics of Social Research” Chapter 4.

“The Ethics of Social Research”, pertama kali buka e-book ini, seketika langsung bilang, “Wah….belajar etika lagi, nih! 😮 ”. Rada kesel awalnya ketika baca judulnya. Tapi apalah daya, saya hanya seorang siswa dengan tingkatan Maha, yang pastinya tidak jauh berbeda dengan siswa-siswi lainnya. Yang setiap minggu, bahkan setiap hari akan diberikan tugas untuk dikerjakan, dan kembali menjelaskannya di pertemuan selanjutnya.

Kebiasaan saya juga ketika membuka e-book atau jurnal atau sejenisnya, bukan hanya sekedar membaca judulnya saja. Hal selanjutnya yang selalu saya lakukan adalah melihat berapa banyak halaman yang harus saya baca. 🙂 Dan…sangat mengejutkan sekali, jika bahan review kali ini, hanya berjumlah 31 halaman /yeay…/ 😀 Dan kita semua juga pasti tau, kalau urusan e-book, jurnal, dan atau sejenisnya akan terdapat daftar isi atau reference yang pastinya berhalam-halaman. setidaknya itu mengurangi halaman baca ^.^

Kembali ke masalah judul. Dari segi judul bab “The Ethics of Social Research”, kita semua juga pasti tahu bahwa setiap individu juga harus memiliki etika dalam melakukan segala hal. Contohnya saja, ketika kita berkomunikasi atau berbicara dengan orang lain. Berbicara dengan orang yang lebih tua dari kita, dengan yang lebih muda, bahkan dengan orang yang tidak dan atau baru kita kenal, juga butuh etika, lho! Apalagi ketika kita melakukan sebuah penelitian? Pastinya juga butuh etika yang harus dipahami.

Lalu apa yang dimaksud dengan etika itu sendiri? Menurut Wikipedia – ini adalah kamus termudahnya individu yang sulit buka buku (termasuk saya) – Etika berasal dari bahasa Yunani kuno: “ethikos”, berarti “timbul dari kebiasaan”, yang artinya adalah sebuah sesuatu di mana dan bagaimana cabang utama filsafat yang mempelajari nilai atau kualitas yang menjadi studi mengenai standar dan penilaian moral. Tapi sebenarnya, jika kita ingin mendapatkan kata kunci seperti ini dengan sumber yang lebih dipercaya dan mudah untuk mendapatkannya, kita bisa search di situs Stanford Encyclopedia of Philosophy.

Saya memutuskan untuk search dengan keyword “ethics”, banyak sekali document yang di dalam nya juga membahas tentang etika. Dan saya memilih untuk menggunakan salah satunya yaitu, http://plato.stanford.edu/entries/ethics-environmental/ biar terkesan lebih akademis dengan sumber yang dapat dipertanggung jawabkan *menurut Dosen*. Dengan judul Environmental Ethics yang ditulis oleh Andrew Brennan dan Yeuk-Sze Lo. Disini dijelaskan bahwa, “Environmental ethics is the discipline in philosophy that studies the moral relationship of human beings to, and also the value and moral status of, the environment and its non-human contents.”

Dari dua sumber yang saya gunakan, walaupun dengan kata yang berbeda (ethic dan environmental ethic) keduanya sama-sama menjadikan “moral” sebagai inti pemahaman. Jadi, mudahnya itu seperti ini, etika itu adalah moral. Dan moral dapat dinilai secara baik atau buruk oleh orang lain, bukan diri kita sendiri yang menilainya. Jadi, etika apa yang ingin disampaikan oleh penulis kali ini terhadap suatu penelitian?

Pada awal bab, kita akan melihat sub judul “Why Is Ethical Practice Important?” Bagi Anda, hal apa sih, yang penting dalam kehidupan? Dan kenapa etika itu sangat penting untuk dipelajari? Kenapa harus ada etika? Kenapa kita harus terlahir memiliki etika? Apakah etika itu seperti permen kapas? Ya..itu adalah pertanyaan yang pernah ada dipikiran saya ketika semester 1 mendapatkan mata kuliah Filsafat dan Etika Komunikasi, namun pertanyaan tersebut saya simpan sendiri. (karena saya cukup pendiam di dalam kelas)

Kembali ke pembahasan pada awal sub judul. Disini kita akan mendapatkan penjelasan tentang etika. Di buku ini ditulis, “Ethical discussions usually remain detached or marginalized from discussions of research projects. In fact, some researchers consider this aspect of research as an afterthought. Yet, the moral integrity of the researcher is a critically important aspect of ensuring that the research process and a researcher’s findings are trustworthy and valid.”

Kata yang di bold, sama halnya seperti yang dikatakan sebelumnya diatas. Lagi-lagi kita menemukan kata “moral” dalam penjelasan tersebut. Yang jika diterjemahkan menurut penerjemah dan perbaikan susunan kata dari saya, yaitu, “Diskusi etika biasanya tetap terpisah atau terpinggirkan dari diskusi proyek penelitian. Bahkan, beberapa peneliti mempertimbangkan aspek penelitian sebagai renungan. Namun, integritas moral peneliti merupakan aspek penting untuk memastikan bahwa proses penelitian dan temuan seorang peneliti dapat dipercaya dan valid.” Kata dan kalimatnya dapat dipahami dengan mudah, kan? *semoga iya*.

Lalu di alinea berikutnya, akan ada penjelasan, “The term ethics derives from the Greek word ethos, meaning “character.” To engage with the ethical dimension of your research requires asking yourself several important questions:…” Beberapa pertanyaan tersebut adalah sebagai berikut :

– What moral principles guide your research?
– How do ethical issues influence your selection of a research problem?
– How do ethical issues affect how you conduct your research—the design of your study, your sampling procedure, and so on?
– What responsibility do you have toward your research subjects? For example, do you have their informed consent to participate in your project?
– What ethical issues/dilemmas might come into play in deciding what research findings you publish?
– Will your research directly benefit those who participated in the study?

Yang jika diterjemahkan dan menggunakan garis besarnya saja adalah, “Apa yang dapat membantu?”; “Bagaimana masalah mempengaruhi?”; “Tanggung jawab apa yang Anda miliki?”; “Apakah masalah etika dapat memutuskan Anda untuk mempublikasikan penelitian?”; dan “Akankah penelitian Anda langsung bermanfaat?”. *pertanyaannya hebat sekali -_- *

“A consideration of ethics needs to be a critical part of the substructure of the research process from the inception of your problemto the interpretation and publishing of the research findings.”

Jadi intinya, segala hal itu penting, guys, dalam melakukan suatu tindakan apapun dan sekecil apapun harus diperhatikan. *take a note*

Di sub judul selanjutnya, pada buku ini akan dijelaskan sejarah singkat aspek etika penelitian akan lebih baik membantu kita memahami mengapa etika itu harus dipelajari dalam suatu penelitian. Karena penjelasannya yang cukup panjang, saya akan mencoba me-rewrite kembali secara garis besar saja.

“Sejarah perkembangan bidang etika dalam penelitian, sayangnya, sebagian besar telah dibangun di atas pelanggaran mengerikan dan bencana nilai-nilai etika manusiawi. Sebuah perjalanan melalui sejarah ini dapat memberikan wawasan berharga negara lembaga etika penelitian kontemporer dan kode yang saat memandu ilmu sosial dan penelitian biomedis.”

Contoh kasus yang digunakan dalam buku ini adalah, The Tuskegee syphilis study was conducted by the U.S. Public Health Service (USPHS) yang dimulai pada tahun 1932. Inti permasalah ini adalah, “Pada waktu dalam perjalanan proyek ini adalah subjek diminta untuk memberikan persetujuan mereka untuk berpartisipasi dalam penelitian ini. Mereka tidak secara khusus diberitahu tentang keterangan dari apa penelitian akan diperlukan. Bahkan, mereka yang berpartisipasi tidak menjadi relawan untuk proyek tersebut. Sebaliknya, mereka tertipu dengan berpikir,

“mereka mendapatkan pengobatan gratis dari dokter pemerintah untuk penyakit serius. Tidak pernah menjelaskan bahwa survei ini dirancang untuk mendeteksi sifilis. . . . Subyek tidak pernah diberitahu mereka memiliki sifilis, perjalanan penyakit, atau pengobatan, yang terdiri dari keran tulang belakang. (Heintzelman, 2001, hal. 51)”

Ini lho yang jadi kesalahan besar dalam melaksanakan suatu penelitian. Seharusnya para relawan yang menjadi informan harus tahu apa tujuan kita melaksanakan hal atau kegiatan tersebut. Jika mereka bisa sepakat, maka mereka bisa menjadi informan dalam suatu penelitian. Karena informasi yang mereka (relawan) berikan, akan kita pertanggung jawabkan kebenarannya, sebagai peneliti yang melakukan suatu penelitian, dihadapan para dosen yang nantinya di semester ‘tua’ kita akan menjalani sidang. *sidang -_- *

Selesai tentang sejarah singkat, di sub-bab selanjutnya kita akan melihat pembahasan dengan judul besar:

“Further Developments in the History of Research Ethics” pada sub-bab ini, kita akan mendapat penjelasan tentang sejauh mana isu-isu etis dalam ilmu alam terbawa ke dalam ilmu perilaku dan sosial? “How Are Research Subjects Protected Today?” pada sub-bab ini, kita belajar tentang pentingnya suatu subjek dalam penelitian. terutama jika subjek yang kita gunakan adalah manusia. Maka, kita harus memberitahu sifat penelitian yang kita gunakan, serta persetujuan dari informan dalam menggunakan orang tersebut sebagai informan penelitian.

Sub-bab lainnya seperti, “Beyond Informed Consent: What Are the Ethical Dilemmas in Social Research?”; “The Ethical Predicament of Deception in Research”; “Divided Loyalties: An Ethical Researcher Dilemma”; “How Can I Observe Ethical Values in My Research Practice?”; “Key Ethical Issues Generated by Student Research and Strategies for Overcoming Them”; “How Do New Technologies in Social Research Impact the Practice of Ethical Research?”; dan “Overcoming Ethical Dilemmas of Social Software Technologies”, nantinya akan saling berkesinambungan dalam menjelaskan permasalahannya masing-masing.

So….karena ini sudah melebihi batas minimum yang diberikan, dan yang sebenarnya saya juga harus menyelesaikan tugas mata kuliah lain, dan yang sebenarnya juga saya sudah cukup lelah dengan tidak mendukungnya suhu alam yang sekarang, dan entah apakah Pentatonix lelah atau tidak dalam menemani saya menyelesaikan tugas review ini dengan lagu cover Cheerleader nya OMI (karena saya mencoba menyemangati diri sendiri) 😉 Pada akhirnya saya akan me-rewrite kesimpulan dalam buku “The Ethics of Social Research” Chapter 4 ini.

“Mengintegrasikan etika dalam proses penelitian keseluruhan, dari memilih masalah penelitian untuk melaksanakan tujuan penelitian dan interpretasi dan pelaporan hasil penelitian, sangat penting untuk memastikan bahwa proses penelitian dipandu oleh prinsip-prinsip etika di luar persetujuan. Bab ini menantang kita sebagai peneliti untuk menjadi sadar akan berbagai dilema etika yang kita hadapi dalam melaksanakan tugas sehari-hari dari setiap proyek penelitian yang diberikan…”

Kelebihan dari buku ini, pertama….adalah susunan bahasanya yang mudah untuk dimengerti. Ya….meskipun bahasa Inggris tetap menjadi kelemahan tersendiri. Tapi, penulis pada buku ini, mencoba menggunakan susunan bahasa yang dapat dimengerti dengan mudah. Setidaknya kita harus menambah kosakata, meskipun tidak fasih dalam berbahasanya 😉 Kedua, kelebihan dari buku ini juga, adalah adanya tabel-tabel penjelasan yang memudahkan kita dalam membuat surat permohonan penelitian, misalnya. Ada banyak contoh letter dalam buku ini, yang memang sesuai dengan judulnya, lebih ke etika berbahasa dalam suatu permohonan izin penelitian. Ketiga, halaman buku ini tidak terlalu banyak, namun juga tidak terlalu sedikit untuk kita-kita yang kurang suka membaca. 😀

Sekian review yang sebenarnya lebih banyak rewrite daripada review dari saya. Semoga review kali ini juga, tidak membuat kalian lelah untuk membacanya 🙂 Dan buku ini, sangat recommended sekali untuk kita semua yang sedang dalam proses menghadapi semester ‘tua’ untuk mengetahui tentang “Etika dalam Penelitian”. So…jangan lupa juga untuk membaca buku aslinya. Agar apa yang tidak dijelaskan dan yang dijelaskan diatas, akan saling kita ketahui pembahasannya ^_^

Don’t be silent readers! Gunakan segala kemudahan yang ada sebagai kemudahan dalam mendapatkan pengetahuan juga ^_^

Daftar Pustaka

Biber, H., Sharlene, N., & Leavy, Patricia, (2010), The practice of qualitative research, 2nd edition, SAGE Publication, p. 59-93.

Stanford Encyclopedia of Philosophy. (2015, Sept 9). Environmental ethics. Retrieved From the Stanford Encyclopedia of Philosophy website http://plato.stanford.edu/entries/ethics-environmental/

Wikipedia. (2015, Sept 9). Etika. Retrieved From the Wikipedia website https://id.wikipedia.org/wiki/Etika

Terima kasih kepada para pembaca dan pastinya Pentatonix yang sudah menyemangati saya dengan lagu cover Cheerleader nya OMI ^_^

Category: Catatan Kuliah, Review

Review 1 : Qualitative Research : Defining and Designing


Dalam melakukan sebuah penelitian, kadang kita akan memilih cara yang seperti apa yang akan digunakan dalam penelitian tersebut. Setiap orang pasti melakukan penelitian secara langsung atau tidak langsung. Secara terencana atau tidak. Dan secara sadar atau tidak. Dengan begitu, kita juga akan berpikir, “Bagaimana jika saya menggunakan cara ini untuk penelitian ini?!” Setelah semua hal yang dibutuhkan dalam penelitian terpenuhi, terkadang hasil yang diinginkan tidaklah sesuai. Lalu dimana letak kesalahan yang terjadi?

Kebanyakan, masalah yang terjadi dalam suatu penelitian adalah, “Hanya bagaimana kita dapat melakukan penelitian dengan cara yang mudah, kerja yang ringan (atau lebih tepatnya, tidak menghabiskan banyak waktu, tenaga, dan materi), namun dengan hasil yang maksimal.” –saya pun begitu– Tapi itu dulu, sebelum saya memasuki jenjang sekolah yang lebih tinggi, setinggi MAHA.

Sangatlah jelas jika kesalahan yang terjadi selama ini, adalah tidak memperhatikan “METODE” apa yang akan digunakan dalam sebuah penelitian. Tidak jarang juga, jika ada yang mengatakan, “Saya tahu metode apa yang akan saya gunakan dalam penelitian saya!” Tapi hasil yang dikerjakan justru tidak sesuai dengan yang ada.

Pertama, kita harus memahami apa yang dimaksud dengan metode. Menurut Prof. Dr. Conny R. Semiawan dalam buku “Metode Penelitian Kualitatif”, dijelaskan bahwa, kata ‘metode’ dan ‘metodologi’ sering dicampuradukkan dan disamakan. Padahal keduanya memiliki arti yang berbeda. Metodologi merujuk pada alur pemikiran umum atau menyeluruh dan gagasan teoritis suatu penelitian. Sedangkan kata ‘metode’ menunjuk pada teknik yang digunakan dalam penelitian seperti survey, wawancara dan observasi. (Semiawan, hal. 1)

Dari penjelasan metode ini, kita akan mulai memikirkan tentang, “Metode apa yang seharusnya saya gunakan dalam suatu penelitian?” Selama saya menempuh pendidikan yang sekarang sedang menjalani semester 5, saya hanya mengetahui dua metode dalam suatu penelitian, yang keduanya sama-sama punya singkatan MPK. Singkatan pertama MPK (Metode Penelitian Kuantitatif) yang pernah dipelajari ketika semester 4, dan yang paling ribet ngerjakannya karena hasil penelitiannya harus berupa angka dengan penyelesaian matematika yang pernah diajarkan ketika SMA kelas 10 – 12. Dan MPK kedua (Metode Penelitian Kualitatif), yang saat ini sedang dalam proses pembelajaran.

Karena ini merupakan tugas review dari Dosen pengampu mata kuliah Metode Penelitian Kualitatif, dan beliau sudah memberikan materi apa yang akan di review, maka saya akan lebih memfokuskan pada apa yang diberikan. Dengan judul “Qualitative Research : Defining and Designing”. Jangan khawatir akan judulnya yang ber-bahasa Inggris, karena ini adalah review, bukan rewrite. meskipun ada banyak kalimat yang akan di rewrite

Pada halaman pertama, kita akan mendapatkan penjelasan tentang tujuan apa yang akan disampaikan dalam buku tersebut. Seperti kalimat “to answer the whys and hows of human behavior, opinion, and experience” Yang menurut buku ini, menurut terjemahan, dan sepemahaman saya sendiri, bahwa metode kualitatif itu digunakan untuk menjawab pertanyaan mengapa dan bagaimana perilaku manusia, opini, dan pengalaman. Ada juga seperti kalimat, “How one approaches qualitative research, and research in general, depends on a variety of personal, professional, political, and con-textual factors.” Yang berarti semuanya akan tergantung kebutuhan. Dan pada kalimat terakhir, terdapat kalimat yang dibuat untuk meyakinkan kita (para pembacanya) bahwa buku ini, adalah pemilihan yang tepat dalam memahami metode kualitatif. “It is the latter of these—applied research—for which the contents of this book will be most (though certainly not exclusively) relevant.”

Masuk pada isi pembahasan dalam buku tersebut. Kita akan melihat susunan penjelasan yang tidak jauh berbeda dengan buku lainnya. Seperti “Apa Itu Penelitian Kualitatif?”, “Macam-macam Data Kualitatif”, “Perspektif Epistemologi”, “Pendekatan Dasar di Penelitian Kualitatif”, dan “Menemukan Fokus Anda : Pertimbangan Design Penelitian”, dan beberapa sub-judul yang terdapat didalamnya.

Dari bebebara judul besar diatas, jujur saja, ada salah satu judul yang membuat saya tertarik untuk membacanya, meskipun tidak secara keseluruhan akan memahaminya. karena begitulah saya “Menemukan Fokus Anda : Pertimbangan Design Penelitian”, dengan judul tersebut, penulis seolah mengajak saya untuk menemukan fokus apa yang nantinya akan digunakan ketika di semester ‘tua’. Atau jangan jauh-jauh ke semester ‘tua’, untuk bahan di akhir semester mata kuliah ini saja, misalkan. Agar tidak terlalu menekan pada pikiran yang sebenarnya udah banyak pikiran dengan mata kuliah lain. maafkan saya

Di awal paragraf, akan ada kalimat yang menurut terjemahan itu artinya, “Tujuan dari bagian ini tidak menjelaskan secara rinci bagaimana mengembangkan pertanyaan penelitian,” Sampai disini, seketika akan langsung stuck. Tapi benar akan orang-orang bijak, yang mengatakan bahwa, “mengerjakan sesuatu itu jangan setengah-setengah”. Jadi pada kalimat selanjutnya dijelaskan, “karena proses dapat bervariasi secara substansial dari satu bidang ke yang berikutnya dan dari satu konteks ke yang lain.” Jadi, di kalimat ini, kita akan di kasih suatu pencerahan, bahwa sebenarnya rambu lalu lintas itu, terkadang tidak membuat beberapa orang mematuhinya. Ya, intinya seperti itu.

Di kalimat terakhir pada paragraf judul ini juga, kita akan melihat, bahwa sebenarnya penulis hanya mencoba membuat buku ini yang ditujukan kepada kita yang ingin mengetahui dasar dari penelitian kualitatif. Dengan kalimat seperti berikut, “Apa yang kami lakukan bukan mengidentifikasi dan mendiskusikan bawah parameter penelitian tertentu yang setiap peneliti perlu memikirkan dan memutuskan untuk benar mengoperasionalkan dan melaksanakan inisiatif penelitian kualitatif.” Jadi, jika kita kembali ke halaman pertama tentang tujuan buku ini dibuat, maka itu akan sesuai dengan kalimat terakhirnya bahwa, “It is the latter of these—applied research—for which the contents of this book will be most (though certainly not exclusively) relevant.”

Dalam buku ini, kita juga akan menemukan berbagai pendapat dan atau pemikiran para ahli yang pastinya sudah berpengalaman dalam hal penelitian kualitatif, serta penulis yang mencoba membuat buku ini terlihat lebih konkret (atau yang tadi sudah diyakinkan di halaman pertama bahwa buku ini will be most relevant sekali) dari buku lainnya. Ditambahkan lagi, dengan adanya tabel, membuat pembaca (termasuk saya) akan lebih memudahkan pembahasan yang dijelaskan pada setiap permasalahan. Ringkasan pemahaman dari penulis sendiri, dijelaskan dengan cukup sederhana agar mudah dipahami oleh pembaca.

Secara keseluruhan, materi pemberian dosen pengampu tentang “Qualitative Research : Defining and Designing” ini sangat recommended sekali buat kita-kita yang buta akan penelitian kualitatif, atau mengerti tentang penelitian kualitatif tapi kurang memahaminya dengan baik. Dari segi bahasa, ini mungkin adalah kelemahan yang paling sering sekali dialami oleh kita. Tapi, di zaman sekarang yang segalanya sudah terpenuhi, terutama penerjemah bahasa asing, sepertinya hal tersebut akan sedikit memudahkan (walaupun kita sedikit menambah jam belajar kita juga).

Sekian review e-book yang telah diberikan, tentang “Qualitative Research : Defining and Designing”. Semoga kalian juga tidak malas untuk membaca review yang sangat singkat ini. (sekalian menambah jam membaca kita). Dan jangan lupa untuk membaca buku aslinya, ya! Agar lebih paham dengan materi yang menjadi bahan review ini ^_^

Daftar Pustaka

Guest, G., E. Namey, E., & L. Mitchell, M. (2012). Collecting qualitative data: A field manual for applied research. London, Thousand Oaks, New Delhi, and Singapore: SAGE Publications.

Semiawan, C. R. (n/d). Metode penelitian kualitatif : Jenis, karakteristik dan keunggulannya. Jakarta: GRASINDO

Category: Catatan Kuliah, Review

Model Agenda Setting


Dalam buku “Teknik Praktis Riset Komunikasi, 2006, yang ditulis oleh Rachmat Kriyantono” terdapat penjelasan tentang “Model Agenda Setting.” Agenda setting ini merupakan salah satu teori dari sekian banyak teori yang biasanya digunakan dalam aplikasi riset komunikasi terutama pada media massa. Agenda setting tersebut memang tergolong teori yang wajib diketahui oleh para akademisi, terutama yang memiliki minatan pada massa. Teori atau model agenda setting sebenarnya bukan hanya dapat diaplikasikan pada massa, meskipun memang sudah banyak penelitian atau riset yang menggunakan model tersebut pada media. Salah satu minatan yang dapat menggunakan model agenda setting ini adalah PR atau Public Relations, selama penggunaannya sesuai dengan ruang lingkup Public Relations maka model tersebut dapat diaplikasikan. Berikut penjelasan tentang “Model Agenda Setting” yang tertulis dalam buku:

MODEL AGENDA SETTING

Teori Agenda Setting ditemukan oleh McComb dan Donald L. Shaw sekitar 1968. Teori ini berasumsi bahwa media mempunyai kemampuan mentransfer isu untuk mempengaruhi agenda publik. Khalayak akan menganggap suatu isu itu penting karena media menganggap isi itu penting juga (Griffin, 2003: 490). (h. 224)

Jadi, inti dari Agenda Setting ini adalah media dapat mentransfer isu untuk mempengaruhi khalayak. Diatas sudah dijelaskan bahwa, “….media memiliki kemampuan…..mempengaruhi…..”, itu berarti media benar-benar dapat mempengaruhi khalayak hanya dengan suatu isu yang dianggap media itu penting. Lalu bagaimana jika ada suatu isu yang menurut khalayak tidak terlalu penting, namun media tetap memberitakan isu tersebut? Jujur saja, ada banyak sekali isu yang media beritakan, namun isu tersebut tidaklah penting bagi sebagian khalayak, contohnya saja saya sebagai salah satu bagian dari khalayak. Saya tinggal di Madura, lebih tepatnya kabupaten Sampang. Ketika saya menonton berita, berita tersebut menyajikan tentang banjir yang terjadi di Jakarta. Bahkan berita tersebut ditampilkan lebih dari 2 hari, di hampir seluruh stasiun TV yang ada di Indonesia. Lalu, apa keuntungan yang saya dapatkan dari berita tersebut? Bahkan, tempat tinggal saya, setiap satu tahun sekali, terutama ketika musim hujan, selalu terjadi banjir. Dan terkadang, itu tidak diberitakan sama sekali oleh stasiun TV nasional. Meskipun banjir yang terjadi lebih dari 3 hari, sekalipun diberitakan oleh media, maka itu tidak lebih dari 30 menit, dan hanya ada satu stasiun TV nasional, dan beberapa stasiun lokal.

Tetapi, jika diperhatikan sampai sekarang, teori agenda setting ini benar-benar berpengaruh terutama di Indonesia. Dimana media benar-benar mengagendakan isu sedemikian rupa, memberitakannya di media, untuk di saksikan oleh khalayak seluruh Indonesia. Dari pengalaman saya sendiri sebagai contohnya. Ketika berbagai stasiun TV nasional memberitakan tentang banjir yang terjadi di Jakarta, orang-orang disekitar lingkungan saya terus membicarakan isu tersebut, seakan isu tersebut sangat penting untuk dibahas.

Kembali lagi pada materi dalam buku. Stephen W. Littlejohn & Karren Foss (2005: 280) mengutip Roger & Dearing mengatakan bahwa fungsi agenda setting merupakan proses linier yang berdiri dari tiga bagian. Pertama, Agenda Media itu sendiri harus disusun oleh awak media. Kedua, Agenda Media dalam beberapa hal mempengaruhi atau berinteraksi dengan Agenda Publik atau naluri publik terhadap pentingnya isu, yang nantinya mempengaruhi Agenda Kebijakan. Ketiga, Agenda Kebijakan (policy) adalah apa yang dipikirkan para pembuat kebijakan publik dan privat penting atau pembuatan kebijakan publik dianggap penting oleh publik. Karena itu, riset yang menggunakan model ini harus mengkaji ketiga hal tersebut. (h. 225)

Pada awal penjelasan, saya mengatakan bahwa model Agenda Setting ini bukan hanya dapat diaplikasikan pada minatan Massa. PR (Public Relations) pun dapat menggunakan model Agenda Setting selama pembahasannya masuh dalam ruang lingkup PR. Jadi apa alasan yang dapat menjadikan model Agenda Setting ini dapat diaplikasikan dalam PR?

Dalam buku “Public Relations Writing: Teknik Produksi Media Public Relations dan Publisitas Korporat, 2012, yang ditulis oleh Rachmat Kriyantono” terdapat sub-judul yang menjelaskan tentang Ruang Lingkup Pekerjaan Public Relations. Salah satu ruang lingkup tersebut yaitu, Point (a) Publication & Publicity, yaitu mengenalkan perusahaan kepada publik. Misalnya membuat tulisan yang disebarkan ke media, newsletter, artikel, dan lainnya. (h. 23, p. 3)

Jadi, dari penjelasan diatas, salah satu kajian dalam model Agenda Setting yaitu “Agenda Media…..mempengaruhi atau berinteraksi dengan Agenda Publik…., yang nantinya mempengaruhi Agenda Kebijakan…..dan Agenda Kebijakan adalah apa yang dipikirkan para pembuat kebijakan publik dan privat penting……” Dan dalam hal PR suatu Publication & Publicity merupakan salah satu ruang lingkup dari pekerjaan Public Relations. Bagaimana seorang PR dapat mengenalkan perusahaan yang dimilikinya kepada publik, bagaimana seorang PR dapat menyebarkannya dengan menggunakan media, maka PR dan Media dapat dianalisis menggunakan model Agenda Setting tersebut.

Lalu apa yang menjadi dimensi dari Agenda Media, Agenda Publik, dan Agenda Kebijakan dalam model Agenda Seeting tersebut? Berikut penjelasannya yang saya kutip dari buku Rachmat Kriyantono.

Werner Severin & James W. Tankard dalam buku Communication Theories, Origins, Methods, Uses in the Mass Media (2005) menyampaikan dimensi-dimensi tiga agenda diatas, yaitu:

1. Agenda Media, dimensi-dimensinya:
a. Visibilitas (visibility), yaitu jumlah dan tingkat menonjolnya berita.
b. Tingkat menonjol bagi khalayak (audience salience), yakni relevansi isi berita dengan kebutuhan khalayak.
c. Valensi (valence), yakni menyenangkan atau tidak menyenangkan cara pemberitaan bagi suatu peristiwa.

2. Agenda Publik, dimensi-dimensinya:
a. Keakraban (familiarity), yakni derajat kesdaran khalayak akan topik tertentu.
b. Penonjolan pribadi (personal salience), yakni relevansi kepentingan individu dengan ciri pribadi.
c. Kesenangan (favorability), yakni pertimbangan senang atau tidak senang akan topik berita.

3. Agenda Kebijakan
a. Dukungan (support), yakni kegiatan menyenangkan bagi posisi suatu berita tertentu.
b. Kemungkinan kegiatan (likelihood of action), yakni kemungkinan pemerintah melaksanakan apa yang diibaratkna.
c. Kebebasan bertindak (freedom of action), yakni nilai kegiatan yang mungkin dilakukan pemerintah.
Model alin yang lebih memfokuskan pada efek Agenda Media terhadap Agenda Publik yang disertai efek lanjutan pada diri individu dengan memperhatikan karakteristik individu. (h. 225-226)

Penjelasan selanjutnya tentang, bagaimana cara mengukur Agenda Media dan Agenda Publik tersebut:

Mengukur Agenda Media
Variabel media massa diukur melalui analisis isi kuantitatif. Analisis ini untuk menentukan ranking berita berdasarkan panjangnya (waktu dan ruang), penonjolan tema berita (ukuran headline, penempatannya, frekuensinya), konflik (cara penyajiannya). (h. 227)

Mengukur Agenda Publik
Variabel Agenda Publik (Khalayak) dapat diukur melalui beberapa cara:
a. Cara pertama dengan meminta self-report khalayak tentang topik-topik apa yang dianggap penting oleh responden (apa yang dikenal, dianggap menonjol, dan menjadi prioritas khalayak), baik itu berdasar komunikasi intrapersonal atau berdasarkan komunikasi interpersonal responden.
b. Cara kedua, responden diminta mengisis isu-isu apa yang penting ke dalam daftar isu-isu (topik-topik) yang disediakan peneliti.
c. Cara ketiga, variasi dari kedua teknik diatas. Responden diberikan daftar topik yang diseleksi peneliti dan responden diminta membuat urutan rankin mengenai penting tidaknya isu tersebut menurut persepsi responden.
d. Cara keempat, cara paired-comparison (berpasangan-perbandingan). Setiap isu yang diseleksi sebelumnya dipasangkan dengan setiap isu yang lain dan respon diminta mengenal setiap pasang dan mengidentifikasi isu mana yang lebih penting.
e. Sedangkan variabel antara dan efek lanjutan ini adalah variabel yang berpotensi mempengaruhi agenda publik. Sifat stimulus: jarak isu, apakah isu secara langsung atau tidak langsung dialami khalayak, aktualitas isu, kedekatan geografis, sumber berita (medianya kredibel atau tidak). Sifat khalayak: tingkat ekonomi, pendidikan dan lainnya. (h. 227-228)

Daftar Pustaka

Kriyantono, Rachmat. (2006). Teknik Praktis Riset Komunikasi: Disertai Contoh Praktis Riset Media, Public Relations, Advertising, Komunikasi Organisasi, Komunikasi Pemasaran. Jakarta: KENCANA
Kriyantono, Rachmat. (2012). Public Relations Writing: Teknik Produksi Media Publik Relations Dan Publisitas Korporat. Jakarta: KENCANA

Category: Catatan Kuliah

Metode Penelitian Komunikasi Kuantitatif

1

Tulisan ini berisi hasil review saya terhadap buku “Teknik Praktis Riset Komunikasi: Disertai Contoh Praktis Riset Media, Public Relations, Advertising, Komunikasi Organisasi, Komunikasi Pemasaran, 2006, yang ditulis oleh Rachmat Kriyantono”. Tujuan review ini adalah untuk mendeskripsikan pengertian dari operasional; jenis-jenis penelitian; bagaimana cara meneliti; mengapa penting untuk diteliti; serta menjelaskan contoh yang telah diberikan sebagai contoh dalam penelitian.

1. Definisi Operasional

Saya menemukan bahwa Kriyantono (2006) menyatakan bahwa, “Sebuah konsep harus dioperasionalkan, agar dapat diukur. Proses ini disebut dengan operasionalisasi konsep atau definisi operasional.” (h. 26)

Dari penjelasan diatas, terdapat “sebuah konsep”. Kriyantono (2006) menyatakan, “Konsep adalah istilah yang mengekspresikan sebuah ide abstrak yang dibentuk dengan menggeneralisasikan objek atau hubungan fakta-fakta yang diperoleh dari pengamatan.” (h. 17)

Dari kedua definisi diatas, saya memahaminya bahwa seorang peneliti yang ingin melakukan penelitian harus terlebih dahulu memiliki sebuh konsep. Dengan adanya konsep tersebut, maka peneliti akan memiliki arah yang jelas tentang penelitian apa yang akan ia lakukan. Dalam sebuah penelitian, peneliti tidak akan selesai hanya dengan memiliki konsep saja. Butuh beberapa proses yang harus peneliti lakukan demi membuat hasil penelitiannya dapat diterima manfaatnya secara praktis dan teoritis, termasuk dalam hal melakukan operasionalisasi.

Dalam penelitian kuantitatif, data yang harus digunakan adalah data yang berupa angka. Dengan begitu, pendekatan yang digunakan dalam penelitian kuantitatif biasanya berupa pendekatan positivistik. Mengapa harus menggunakan pendekatan positivistik? Apakah dalam penelitian kuantitatif tidak bisa menggunakan pendekatan kontruktivis?

Pada pertemuan kuliah pertama, tanggal 17 February 2015, catatan saya berisikan bahwa, “Penelitian kuantitatif, biasanya merujuk pada data angka. Data angka tersebut dihasilkan melalui pendekatan positivistik. Sedangkan penelitian kualitatif, biasanya merujuk pada data yang berupa narasi. Dan data narasi ini, dihasilkan dari pendekatan kontruktivistik. Hal ini bukan berarti, dalam penelitian kuantitatif harus menggunakan pendekatan positivistik, dan tidak boleh menggunakan pendekatan kontruktivistik, atau sebalikanya. Namun, dalam suatu penelitian, pendekatan yang satu dan yang lain, dapat diseimbangkan. Agar menjadi suatu penelitian yang baik.”

2. Jenis – Jenis Penelitian

Saya menemukan bahwa Kriyantono (2006), membagi jenis penelitian berdasarkan tataran atau cara menganalisis data menjadi empat jenis sebagai berikut:

Jenis Eksploratif

Bungin (2001: 29) dalam Kriyantono (2006), menyatakan bahwa, “……Periset langsung terjun ke lapangan, semuanya dilaksanakan di lapangan. Rumusan masalah ditemukan di lapangan, data merupakan sumber teori, teori berdasarkan data sehingga teori juga lahir dan berkembang di lapangan. Bahkan periset tidak mempunyai konsep awal.” (h. 69)

Seperti yang saya dijelaskan pada awal, penelitian kualitatif merupakan penelitian yang akan menggunakan data berupa narasi. Jenis penilitian eksploratif ini bisa dikatakan sebagai penelitian dengan pendekatan kualitatif. Kenapa? Karena penelitian dengan jenis eksploratif akan menghasilkan data berupa narasi. Peneliti akan menceritakan atau mendeskripsikan penelitiannya dalam laporan. Membentuk dan/atau membangun teori baru yang sesuai dengan lapangan yang dijadikan lokasi penelitian.

Jenis Deskriptif

Kriyantono (2006) menyatakan bahwa, “Jenis riset ini bertujuan membuat deskripsi secara sistematis, faktual, dan akurat tentang fakta-fakta dan sifat-sifat populasi atau objek tertentu. Periset sudah mempunyai konsep……, periset melakukan operasionalisasi konsep yang akan menghasilkan variabel beserta indikatornya……” (h. 69)

Pada penjelasan diatas saya berpendapat bahwa, dalam penelitian yang menggunakan jenis deskriptif ini, maka penelitian yang di ambil merupakan penelitian kuantitatif. Peneliti akan mendeskripsi suatu konsep dan kerangka konseptual yang sudah dibutanya, dan mengoperasionalisasikan konsep tersebut, agar peneliti atau periset dapat memberikan batasan sampai mana penelitiannya akan berjalan.

Jenis Eksplanatif

Kriyantono (2006) menyatakan, “Periset menghubungkan atau mencari sebab akibat antara dua atau lebih konsep (variabel) yang akan diteliti. Periset membutuhkan definisi konsep, kerangka konseptual dan kerangka teori…..”

Jenis penelitian eksplanatif ini bisa dikatan sebagai penelitian yang menggunakan dua metode, yaitu kuantitatif serta kualitatif. Seperti yang sudah saya jelaskan sebelumnya, bahwa dalam suatu penelitian yang baik, penggunaan kuantitatif dan kualitatif dapat dikerjakan secara seimbang. Kuantitatif dengan data yang digunakan berupa angka (kuantitatif), akan dijelaskan secara narasi (kualitatif). Dan data yang berupa narasi tersebut, dapat ditunjukkan dengan menggunakan angka.

Jenis Evaluatif

Kriyantono (2006) menyatakan, “……Riset ini membutuhkan definisi konsep, kerangka konseptual, kerangka teori, operasionalisasi konsep, hipotesis, ukuran keberhasilan riset, dan rekomendasi……evaluasi sumatif adalah penelitian evaluasi setelah program berakhir dan evaluasi formatif dilakukan sewaktu program berjalan…..” (h. 69-70)

Pada penjelasan diatas, beberapa hal yang dibutuhkan oleh peneliti atau periset merupakan hal yang dibutuhkan dalam penelitian kuantitatif. Pertama, peneliti membutuhkan definisi konsep, yang menurut Kriyantono (2006), “Dalam tahapan riset, proses mengubah konsep menjadi konstruk disebut definisi konsep.” (h. 19)

Kedua, peneliti membutuhkan kerangka konseptual dan kerangka teori, agar peneliti dapat mengarahkan penelitiannya sesuai dengan manfaat yang akan peneliti berikan sesudah penelitian selesai. Ketiga, peneliti juga membutuhkan operasionalisasi konsep dan hipotesis, yang menurut Kriyantono (2006), “…..Dengan kata lain seorang periset akan berada pada tiga level, yaitu level konsep (suatu level yang meliputi perumusan masalah, kerangka teori, hingga perumusan hipotesis teoritis) dan level empiris (mencakup perumusan hipotesis riset atau operasional, dan analisis data) serta kembali ke level konsep (tahap kesimpulan)……” (h. 25)

3. Bagaimana Cara Meneliti

Bagaimana cara meneliti berbagai jenis penelitian, yaitu dengan melakukan beberapa proses yang sudah ditentukan. Dalam suatu penelitian, peneliti harus mengetahui dan/atau sudah memiliki konsep yang akan dijadikan penelitian. Mengapa konsep sangat dibutuhkan dalam suatu penelitian? Kriyantono (2006) menyatakan, “Pengetahuan tentang konsep sangat penting dipahami……dapat menyederhanakan proses riset dengan cara mengkombinasikan karakteristik-karakteristik teetentu,…..” (h. 18)

“Kedua, konsep menyederhanakan komunikasi di antara orang – orang………yang ingin berbagi pemahaman tentang kosep yang digunakan dalam riset. Periset menggunakan konsep untuk mengorganisasikan apa yang diamatinya ke dalam kesimpulan atau kategori yang bermakna…… Ketiga, sebagai dasar untuk membangun variabel maupun skala pengukuran yang akan digunakan….” (h. 18)

Setelah peneliti mandapatkan konsep apa yang akan menjadi bahan penelitiannya, selanjutnya peneliti membuat konsep tersebut menjadi konstruk. Kriyantono (2006) menyatakan, “Konstruk adalah konsep yang dapat diamati dan diukur atau memberikan batasan pada konsep……” (h. 19)

Tujuan dari adanya konstruk ini, adalah menyempitkan kembali konsep yang sudah dimiliki oleh peneliti. Biasanya konsep yang sudah di konstruk akan lebih spesifik dalam pengambilan data berikutnya.

Selanjutnya ada variabel. Mayer, dalam Kriyantono (2006), “Variabel sebenarnya adalah konsep dalam bentuk konkret atau konsep operasional. Suatu variabel adalah konsep tingkat rebdah, yang acuan-acuannya secara relatif mudah diidentifikasikan dan diobservasikan serta mudah diklasifikasi, diurut atau diukur. Jadi, variabel adalah bagian empiris dari sebuah konsep atau konstruk.” (h. 20)

Setelah adanya konsep, konstruk, serta variabel, peneliti tidak akan berhenti sampai disini. Seperti yang digambarkan di halaman 25 tentang tahapan riset, maka peneliti berada pada tiga level, yaitu level konsep, level empiris, dan kembali pada level konsep yang nantinya akan menghasilkan suatu kesimpulan dari penelitian.

4. Mengapa Penting Untuk Diteliti

Semua penelitian penting untuk diteliti. Tidak hanya secara sadar, terkadang secara tidak sadar pun, penelitian akan selalu terjadi. Karena “riset merupakan proses penyelidikan secara hati – hati, sistematis dalam mencari fakta dan prinsip – prinsip suatu penyelidikan yang cermat guna menetapkan suatu keputusan yang tepat.” (h. 2)

Suatu penelitian dilakukan sesuai dengan kebutuhan dari peneliti. Biasanya setiap orang memiliki kebutuhan yang berbeda-beda sesuai dengan kemampuan peneliti. Dari kemampuan ini, peneliti juga harus melihat apa yang dapat peneliti lakukan setelah penelitian yang dilakukannya selesai. Apakah peneliti akan berhenti atau akan menggunakan hasil penelitiannya sebagai suatu manfaat yang dapat digunakan di kemudian hari atau dapat diterapkan dalam kehidupan peneliti.

Seperti yang saya jelaskan sebelumnya, bahwa suatu penelitian dilakukan diharapkan agar penelitian tersebut dapat menjadi manfaat secara teoritis ataupun praktis. Suatu penelitian bermanfaat secara teoritis atau akademik jika, penelitiannya atau pemikirannya tersebut dapat dimanfaatkan oleh orang lain, seperti menjadi rujukan atau referensi untuk penelitian selanjutnya. Penelitian dapat bermanfaat secara praktis, jika penelitian tersebut dapat diaplikasikan dan bermanfaat untuk kehidupan peneliti atau kehidupan dilingkungannya.

5. Contoh Riset

Masalah : “APAKAH ADA HUBUNGAN ANTARA SIKAP PEMILIH PEMULA TERHADAP PARPOL DENGAN SIKAP ORANG TUA TERHADAP PARPOL?”
Instrumen : Sikap orang tua saya terhadap parpol?
a. SS
b. S
c. CS
d. TS
e. STS
Sampel : dipilih 100 siswa SMU

Dari riset yang diberikan diatas, riset tersebut tidaklah valid. Mengapa riset diatas tidak valid? Karena, pada instrumen dinyatakan sikap orang tua. Sedangkan sampel yang diambil adalah siswa SMU. Seharusnya jika instrumen menggunakan sikap orang tua, maka sampel yang harus digunakan adalah dengan “dipilih 100 orang tua”.

Secara keseluruhan, saya dapat memahami materi – materi yang ada dalam buku tersebut. Buku ini sangat membantu dalam memahami penelitian lebih baik lagi. Referensi yang digunakan dalam buku ini juga berasal dari para pakar komunikasi yang sudah banyak memberikan bagian penting dalam komunikasi.

DAFTAR PUSTAKA
Kriyantono, Rachmat. (2006). Teknik Praktis Riset Komunikasi: Disertai Contoh Praktis Riset Media, Public Relations, Advertising, Komunikasi Organisasi, Komunikasi Pemasaran. Jakarta: KENCANA

Category: Catatan Kuliah