“Persatuan Indonesia” dalam Sila Ketiga Pancasila


Apa yang pertama kali Anda pikirkan ketika mendengar kata “Persatuan”? Menyatukan budaya? Menyatukan banyak hal? Menyatukan perbedaan latar belakang? Menyatukan suatu pemikiran, pendapat, ide, atau gagasan? Menyatukan lapisan yang terpecah belah? Atau menyatukan yang jauh menuju yang dekat?

Kebanyakan dari kita akan berpikir bahwa makna dari sila ketiga Pancasila tersebut adalah menyatukan perbedaan yang begitu banyak ada di Indonesia menjadi satu. Sesuai dengan bagaimana penggambaran “Bhineka Tunggal Ika” yang digenggam di kaki Burung Garuda lambang dasar negara Indonesia. Tapi bagaimana dengan penjabaran sesungguhnya sila ketiga tersebut? Apakah Anda sudah menerapkannya dalam berkehidupan berbangsa dan bernegara di tanah tercinta kita, Indonesia? Jawabannya iya, namun tidak secara sesungguhnya.

Jika kita melihat fenomena pada beberapa tahun silam, tentang adanya GAM (Gerakan Aceh Merdeka), mengapa bagian barat Indonesia yang memiliki sebutan Serambi Mekkah tersebut membuat gerakan tersebut? Padahal jika kita menilik ke belakang pada masa kemerdekaan Indonesia, lima hari setelah RI diproklamasikan, Aceh menyatakan dukungan sepenuhnya terhadap kekuasaan pemerintahan yang berpusat di Jakarta.

Dibawah Residen Aceh, yang juga tokoh terkemuka, Teuku Nyak Arief, Aceh menyatakan janji kesetiaan mendukung kemerdekaan RI dan Aceh sebagai bagian tak terpisahkan. Pada 23 Agustus 1945, sedikitnya 56 tokoh Aceh berkumpul dan mengucapkan sumpah. Pada sumpah tersebut mereka menyatakan, “Demi Allah, saya akan setia untuk membela kemerdekaan Republik Indonesia sampai titik darah saya yang terkahir.”
Menggaris bawahi kalimat “tak terpisahkan” serta adanya sumpah yang dilakukan, kita adalah satu, Indonesia. Dari sabang sampai merauke, kita mempersatukan kekuatan dan tekad hingga bangsa kita dapat menjadi bangsa yang kuat dan tak akan terpisahkan meskipun secara fisik kita terpisah oleh puluhan pulau yang ada. Tak ada yang salah dalam kejadian tersebut. Lantas apakah yang membuat Aceh membentuk gerakan untuk memisahkan dan memerdekakan diri dari Indonesia?

Selain fenomena GAM, kejadian lainnya yang sangat ironis terjadi di Indonesia dalam kurun waktu 1995-1999 telah terjadi kerusuhan yang melibatkan amuk massa seperti perusakan yang dilakukan oleh petani di Jenggawah, perusakan Pengadilan Negeri di Kediri, perusakan Toserba oleh umat Islam di Purwakarta dan Pekalongan, pembunuhan atas seseorang oleh sekelompok anak muda umat Katolik terhadap seseorang yang dianggap melecehkan agama di Nusa Tenggara, dan masih banyak lagi kejadian-kejadian yang sebenarnya kejadian tersebut tidak mencerminkan sila ketiga Pancasila yaitu Persatuan Indonesia.

Fenomena lainnya yang saat ini juga lebih banyak terjadi adalah adanya “Bullying” atau Penindasan. Peristiwa ini yang paling mudah untuk menggambarkan bagaimana hilangnya penjabaran sila ketiga dari lima sila yang ada pada Pancasila. Tidak ada lagi kata “Persatuan” dalam diri orang-orang yang melakukan penindasan tersebut. Karena mereka menganggap yang kuat lah yang mampu melakukan apapun yang diinginkan tanpa melihat orang lain.

Sila ketiga adalah “Persatuan Indonesia”. Kita menyatukan banyak hal menjadi satu, Indonesia. Kita hidup dengan budaya yang sangat amat banyak namun tetap satu, Indonesia. *bagian ini cukup menarik untuk dibahas pada bagian lain sebenarnya  Yaaa…kita tau bahwa kita berasal dari berbagai budaya yang berbeda dan terkadang saat kita mendapatkan pertanyaan, “aslinya mana?” pasti sebagian dari kita akan bilang tempat asal kita namun dengan nada sedikit malu. Dan contoh budaya yang sangat dijadikan acuan dalam keseharian kita adalah budaya metropolitan. Iya atau tidak, sadar atau tidak, lihatlah bagaimana anak-anak remaja saat ini lebih suka mengendarai motor besar meskipun ia melewati jalanan sawah. Ok, mungkin ia menganggap bahwa dengan mengendarai motor besar tersebut maka, ia akan dianggap sama dengan orang-orang lainnya, pemersatuan budaya. *iyain aja biar cepat, bahas satu ini aja lama.

Kita memiliki ratusan bahasa daerah namun kita berbahasa satu, bahasa Indonesia * jika kita memperhatikan fenomena saat ini, banyak orang akan dengan bangga bersikap atau berkomunikasi dengan bahasa “Jakartaan” yang dianggap lebih keren dari budaya aslinya. Sadar atau tidak, banyak sekali orang disekitar kita akan lebih nyaman berbicara bahasa “gua, lu” dibandingkan dengan bahasa “aku, kamu” atau sebutan diri dalam bahasa daerah masing-masing  Yapss…mungkin ini yang namanya “Persatuan Indonesia”. Karena Ibu Kota Negara Indonesia adalah Jakarta, maka kita akan menganggap bahwa bahasa satunya Indonesia itu ya bahasa Jakarta.

Kalimat lain yang sering saya pribadi dengar adalah, “Kita berasal dari banyak aliran darah, namun satu darah kita, darah Indonesia” *jika memang kita berdarah satu, maka tak ada lagi rumah sakit atau orang-orang meninggal karena kekurangan transfusi darah -_- semuanya bisa nyumbang darahnya -_- *

Lalu di manakah kita dapat melihat makna sesungguhnya sila ketiga ini?

Category: Catatan Kuliah

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

CAPTCHA Image

*