Daily Archives: 15 July 2017

Pancasila Sila Kedua


Pancasila! Satu! Ketuhanan Yang Maha Esa!
Dua! Kemanusiaan yang adil dan beradab!
Tiga!……stop!
Hmm…kalau di postingan sebelumnya penulis menulis tentang sila satu yang kebanyakan lebih kepada pendapat orang, sekarang penulis akan kembali menulis tentang sila kedua dari Pancasila *meskipun nantinya akan tetap ada banyak kutipan dari orang lain :D
Berbicara tentang Kemanusiaan yang adil dan beradab…kemanusiaan yang seperti apa yang ingin digambarkan oleh Pancasila sebenarnya? Lalu sikap adil dan beradab yang seperti apa yang dimaksud? Jadi, mengutip dari Zurrnelly (2010) dalam bukunya yang berjudul “Filsafat Pancasila”, pada sila kedua dari lima sila yang ada dalam Pancasila, terkandung nilai-nilai humanistis antara lain :
1. Pengakuan terhadap adanya martabat manusia dengan segala hak asasinya yang harus dihormati oleh siapapun.
2. Perlakuan yang adil terhadap sesama manusia.
3. Pengertian manusia beradab yang memiliki daya cipta, rasa, karsa dan iman, sehingga nyatalah bedanya dengan makhluk lain.

Inti sila kemanusiaan yang adil dan beradab adalah landasan manusia.
Maka konsekuensinya dalam setiap aspek penyelengaraan Negara antara lain hakikat Negara, bentuk Negara, tujuan Negara , kekuasaan Negara, moral Negara dan para penyelenggara Negara dan lain-lainnya harus sesuai dengan sifat-sifat dan hakikat manusia. Hal ini dapat dipahami karena Negara adalah lembaga masyarakat yang terdiri atas manusia-manusia, dibentuk oleh manusia untuk memanusia dan mempunyai suatu tujuan bersama untuk manusia pula. Maka segala aspek penyelenggaraan Negara harus sesuai dengan hakikat dan sifat-sifat manusia Indonesia yang monopluralis , terutama dalam pengertian yang lebih sentral pendukung pokok Negara berdasarkan sifat kodrat manusia monodualis yaitu manusia sebagai individu dan makhluk sosial.

Selain itu juga..pada sila kedua ini berhubungan terhadap perilaku kita sebagai manusia yang pada hakikatnya semua sama di Dunia ini. Berikut contoh sikap yang mencerminkan sila kedua :
● Mengakui persamaan derajat, hak, dan kewajiban asasi setiap manusia tanpa membedakan.
● Mengakui dan memperlakukan manusia sesuai dengan harkat dan martabatnya sebagai makhluk Tuhan Yang Maha Esa.
● Mengembangkan sikap saling mencintai sesama manusia.
● Tidak semena-mena terhadap orang lain.
● Gemar melakukan kegiatan kemanusiaan, seperti acara acara bakti sosial, memberikan bantuan kepada panti panti asuhan sebagai bentuk kemanusiaan peduli akan sesama.
● Senang membantu teman yang sedang mengalami kesusahan.
● Memberikan bantuan kepada korban bencana alam.
● Mengembangkan sikap tenggang rasa.
Menjunjung tinggi Hak Asasi Manusia.
● Mengembangkan sikap hormat menghormati dan bekerjasama dengan bangsa lain.
● Mengembangkan sikap saling tenggang rasa dan tepa selira.
● Menyadari bahwa kita mempunyai hak dan kewajiban yang sama.

Category: Catatan Kuliah

Pancasila Sila Pertama Itu???


Pancasila! Satu! Ketuhanan Yang Maha Esa!
Dua!…..Eeeiiitttt…..sebelum ke sila selanjutnya, dari sila pertama, sudah pahamkah kita akan fungsi dan tujuan dari sila pertama tersebut?

Mengutip tulisan dari Sutia Budi dalam situs www.rmol.co (17 Juni 2017) tentang prinsip Ketuhanan, pada pidato 1 Juni 1945, Bung Karno menegaskan : “Marilah kita di dalam Indonesia yang kita susun ini, sesuai dengan itu, menyatakan bahwa prinsip ke-5 daripada negara kita, ialah Ketuhanan yang hormat menghormati satu sama lain. Hatiku akan berpesta raya, jikalau saudara-saudara menyetujui bahwa Negara Indonesia Merdeka berasaskan Ketuhanan Yang Maha Esa!”.

Dari tulisan di atas, penulis mengartikan Negara Indonesia yang berprinsip Ketuhanan dalam pandangan Bung Karno, juga diartikan sebagai negara yang setiap warga negaranya dapat menyembah Tuhan-nya dengan cara leluasa. Sementara bertuhan secara kebudayaan, dimaknai dengan tiada “egoisme-agama”. Bung Karno juga mengajak untuk mengamalkan dan menjalankan ajaran agama masing-masing dengan cara yang berkeadaban, yaitu hormat-menghormati satu sama lain.

Berasal dari negara yang memiliki banyak perbedaan budaya, membuat Ir. Soekarno dan tokoh lainnya pada masa itu membuat rumusan Pancasila untuk dasar suatu negara, serta sebagai pedoman dalam bersikap dan berperilaku yang baik. Dengan tujuan agar Pancasila tersebut dapat menjadi landasan yang tepat, baik untuk rakyat, bangsa dan negara Indonesia. Toleransi merupakan kunci utama dalam menerapkan Pancasila di kehidupan sehari-hari. Namun di zaman milenial di mana setiap orang akan bergerak dengan cepat sesuai dengan perkembangan teknologi seperti ini, toleransi akan perbedaan agama khususnya masihkan dapat kita rasakan keberadaannya?

Nurcholish Madjid berpendapat bahwa Ketuhanan Yang Maha Esa yang dipahami sudut Islam sebagai Tauhid, adalah sebagai dasar moral sedangkan tujuannya adalah Keadilan Sosial. Membaca pendapat Cak Nur, maka dapat dimaknai bahwa jika yang terjadi “Ketidakadilan Sosial” maka sesungguhnya “belum bertuhan” secara benar. Karena Tuhan itu Maha Adil.

Category: Catatan Kuliah

Pancasila Ohh Pancasila


Pancasila?!? Kapan pertama kali Anda mendengar kata Pancasila? Semasa kecil (sebelum sekolah)? Waktu TK? atau Sekolah Dasar? Kebanyakan dari kita akan menjawab, ketika berada di Sekolah Dasar. Saya pribadi sudah sering mendengar kata Pancasila bahkan sebelum masuk Taman Kanak-kanak, dan sudah hafal Pancasila ketika berada di Taman Kanak-kanak. Tapi….apakah hanya dengan menghafal Pancasila itu sudah membanggakan? Pernahkan kita bertanya-tanya apa itu Pancasila? Mengapa kita harus menghafalkan Pancasila? Dan apa tujuan dibuatnya Pancasila itu sendiri? Tak banyak dari kita berpikir ke arah sana. Bahkan ketika kita hanya hafal kelima sila yang ada, itu sudah cukup.

Pertanyaan pertama, apa itu Pancasila? Ketika pertanyaan tersebut ditujukan secara random, maka akan ada beberapa jawaban yang sering kita dapatkan yaitu, Pancasila itu dasar negara; Pancasila itu ideologi negara: Pancasila itu identitas negara; Pancasila itu budaya negara Indonesia; Pancasila itu kita yang lahir di Indonesia; Pancasila itu dasar sikap kita untuk berperilaku di negara yang menerapkannya; dan lain sebagainya. Semua jawaban tersebut tidak ada yang salah. Apapun pengertian Pancasila pada setiap individu, tidak menentukan apakah ia salah atau benar dalam mengartikannya. Namun, pemaknaan dan penerapan Pancasila itulah yang menentukan apakah seseorang tersebut memahami Pancasila atau tidak.

Mengutip tulisan dari seorang dosen di IKIP Sanata Dharma yang mengajar tentang ilmu Sejarah Tatanegara Indonesia dan Pancasila, P.J. Suwarno menuliskan, “…..Pancasila pada masa sekarang pikirannya langsung tertuju pada Pancasila yang dirumuskan dalam alinea ke-4 Pembukaan Undang-undang Dasar 1945…..”. Sedangkan pada situs www.wikipedia.org/wiki/Pancasila , “Pancasila adalah ideologi dasar bagi negara Indonesia. Nama ini terdiri dari dua kata Sanskerta yaitu panca yang berarti lima, dan sila yang berarti prinsip atau
asas.”

Pancasila merupakan rumusan dan pedoman kehidupan berbangsa dan bernegara bagi seluruh rakyat Indonesia. Sederhananya, Pancasila adalah landasan dari segala keputusan bangsa dan menjadi ideologi tetap bangsa serta mencerminkan kepribadian bangsa. Pancasila merupakan ideologi bagi negara Indonesia. Dalam hal ini, Pancasila dipergunakan sebagai dasar mengatur pemerintahan negara. Pancasila merupakan kesepakatan bersama bangsa Indonesia yang mementingkan semua komponen dari sabang sampai merauke.

Pengertian Pancasila menurut para ahli antara lain:
1. Muhammad Yamin, Pancasila berasal dari kata Panca yang berarti lima dan Sila yang berarti sendi, atas, dasar atau peraturan tingkah laku yang penting dan baik. Dengan demikian Pancasila merupakan lima dasar yang berisi pedoman atau aturan tentang tingkah laku yang penting dan baik.
2. Notonegoro, Pancasila adalah dasar falsafah negara Indonesia, sehingga dapat diambil kesimpulan bahwa Pancasila merupakan dasar falsafah dan ideologi negara yang diharapkan menjadi pandangan hidup bangsa Indonesia sebagai dasar pemersatu, lambang persatuan dan kesatuan serta sebagai pertahanan bangsa dan negara Indonesia
3. Ir. Soekarno, Pancasila adalah isi jiwa bangsa Indonesia yang turun-temurun sekian abad lamanya terpendam bisu oleh kebudayaan barat. Dengan demikian, Pancasila tidak saja falsafah negara, tetapi lebih luas lagi, yakni falsafah bangsa Indonesia.

Yahh….intinya Pancasila itu adalah dasar buat kita berperilaku dalam menghadapi segala situasi dan keadaan yang ada disekitar kita, terutama jika kita tinggal Indonesia. Namun, tidak berarti ketika kita berada di luar Indonesia, kita tidak menerapkan Pancasila. Justru dengan berperilaku dan bersikap baik menerapkan Pancasila dimanapun kita berada, maka orang lain pun akan memandang baik orang-orang yang berasal dari Indonesia. Karena Pancasila adalah ideologi atau dasar kehidupan rakyat Indonesia.

Pertanyaan kedua, mengapa kita harus mengahafalkan Pancasila? Hmm….pertanyaan ini sebenarnya cukup rancu buat saya. Lebih tepatnya mungkin memahami bukan menghafal. Tapi ya…namanya juga mantan siswa yang suka dengar kata-kata guru, “Hafalkan bagian ini, hafalkan bagian itu!”, jadi selalu kebawa kata “hafalkan”, padahal sebenarnya disuruh pahami, cuma karena salah penyampaian aja, sampai sekarang masih suka bilang, “….hafalkan…”.

Tapi sebelum memahami, kita juga bakalan disuruh menghafalkan lebih dulu sih *yahh…balik lagi deh :D * Jadi intinya, memang kita bakalan disuruh menghafalkan, setelah itu baru kita memahami apa yang kita hafalkan tersebut. Pancasila itu ibarat lagu *menurut saya pribadi sih*. Ketika kita suka dengan sebuah lagu, kita akan mencari liriknya, menghafalkan liriknya, memahami makna dari lirik, dan menyanyikannya di saat menurut kita lagu tersebut cocok untuk dibawakan. Semakin dalam kita memaknai lagu tersebut, maka semakin dapat kita mengetahui tujuan atau pesan dari seorang penyanyi atau penulis lagu yang ingin mereka sampaikan. Dengan begitu kita dapat merasakan perasaan yang sama dengan sang penulis lagu ataupun yang membawakannya.

Nahh….Pancasila itu seperti itu. Jadi ketika kita menghafalkannya, lambat laun kita akan mencari tahu kenapa kita harus menghafalkan Pancasila. Seperti yang sudah dijelaskan di awal dan menurut pengertian Muhammad Yamin, Pancasila merupakan dasar atau pedoman tentang tingkah laku yang penting dan baik. Dengan kita mengahafalkan dan memahami Pancasila, maka kita dapat mencoba untuk berpikir kembali atau berpikir sebelum bertindak, apakah hal yang kita lakukan nantinya baik atau tidak? Merugikan orang lain atau tidak? Sesuai atau tidak dengan sila-sila yang ada dalam Pancasila?.

Apalagi di zaman teknologi yang serba canggih saat ini dan kita yang berada pada generasi milenial tentunya harus memperhatikan dengan baik, apakah kita masih menerapkan Pancasila dalam kehidupan sehari-hari atau kita hidup sebagaimana mestinya kita hidup di zaman yang serba cepat.

Mengutip salah satu pemberitaan tentang Pancasila di www.republika.co.id, yang ditulis oleh Amri Amrullah, “Ketua MPR Zulkifli Hasan, menilai generasi muda milenial Indonesia bisa memberikan kontribusi besar bagi kemajuan bangsa. Zulkifli percaya, hadirnya generasi milenial biasa membawa kemajuan asalkan memahami serta melaksanakan nilai-nila Pnacasila. Ia menyampakan bahwa Pancasila harus didekatan pada generasi milenial dengan pendekatan yang interaktif dan menarik. Dengan nilai-nilai yang sama dan cara yang lebih adaptif.”

Pertanyaan terakhir, apa tujuan dari dibuatnya Pancasila? Kita tau bahwa Pancasila dibuat dengan sangat tidak mudah. Banyak perbedaan pendapat, ide, dan gagasan yang diberikan dari orang satu ke orang lainnya. Pancasila juga memiliki lima sila yang berbeda menurut para ahlinya. Mengutip tulisan dari buku “Pendidikan Pancasila dan Kewarganegaraan (PPKN di Perguruan Tinggi) yang ditulis oleh Sarinah, Muhtar Dahri dan Harmaini (2016) :

“Proses perumusan Pancasila diawali ketika dalam sidang BPUPKI pertama dr. Radjiman Widyodiningrat, mengajukan suatu masalah, khususnya akan dibahas pada sidang tersebut. Masalah tersebut adalah tentang suatu calon rumusan dasar negara Indonesia yang akan dibentuk. Kemudian tampillah dalam sidang tersebut tiga orang pembicara yaitu Mohammad Yamin, Seoepomi dan Soekarno. Pada tanggal 1 Juni 1946 di dalam sidang tersebut, Ir. Soekarno berpidato secara lisan (tanpa teks) mengenai calon rumusan dasar negara Indonesia. Kemudian untuk memberikan nama “Pancasila” yang artinya lima dasar. Pada tanggal 17 Agustus 1945 Indonesia memproklamasikan kemerdekaannya, kemudia keesokan harinya tanggal 18 Agustus 1945 disahkannya UUD 1945 termasuk Pembukaan UUD 1945 di mana didalamnya termuat isi rumusan lima prinsip sebagai satu dasar negara yang diberi nama Pancasila.”

Tujuan dibuatnya Pancasila sebagaimana dengan fungsi Pancasila dan sila-sila yang ada di dalamnya itu sendiri. Fungsi Pancasila yang kita ketahui antara lain : sebagai jiwa bangsa Indonesia; sebagai kepribadian bangsa Indonesia; sebagai sumber dari segala sumber hukum; sebagai pandangan hidup bangsa Indonesia; sebagai cita-cita dan tujuan bangsa Indonesia; menjadi falsafah hidup bangsa; sebagai dasar Negara Republik Indonesia; dan sebagai perjanjian luhur bangsa Indonesia.
Sesuai dengan setiap sila yang ada di dalamnya, maka tujuan Pancasila adalah :
1. Menghendaki bangsa yang religius yang taat kepada Tuhan Yang Maha Esa
2. Menjadi bangsa yang adil secara sosial ekonomi
3. Menjadi bangsa yang menghargai HAM (Hak Asasi Manusia)
4. Mengehendaki bangsa yang demokratis; dan
5. Menghendaki menjadi bangsa yang nasionalis yang mencintai tanah air Indonesia.

Jadi, sudah pahamkah kita apa itu Pancasila? Apakah dengan sadarnya kita akan Pancasila, kita akan menjadi pribadi yang berperilaku penting dan baik di mata orang lain dan terhadap orang lain? Ya. Karena Pancasila dalah pedoman perilaku kita dalam setiap tidakan. Berpikirlah cerdas dan berperilakulah dengan bijak. Semoga dengan kita menyadari dan memahami dengan baik Pancasila, maka semakin cinta kita kepada negara Indonesia.

Category: Catatan Kuliah