Monthly Archives: July 2017

Keadilan Sosial Bagi Seluruh Rakyat Indonesia


Sila terakhir yang ada dalam Pancasila membahas tentang keadilan sosial bagi seluruh rakyat Indonesia. Hal ini menunjukkan adanya kesadaran akan hak dan kewajiban yang sama untuk menciptakan keadilan sosial dalam masyarakat Indonesia. Keadila sosial memiliki unsur pemerataan, persamaan dan kebebasan yang bersifat komunal. Nilai dari adanya sila ini juga mengandung makna dasar sekaligus tujuan tercapainya masyarakat Indonesia yang adil dan makmur secara lahririah maupun batiniah.

Mengutip tulisan Syahrial (2016) pada laman weblog-nya, “Dalam rangka ini dikembangkan perbuatan luhur yang mencerminkan sikap dan suasana kekeluargaan dan kegotongroyongan. Untuk itu dikembangkan sikap adik terhadap sesama, menjaga keseimbangan antara hak dan kewajiban serta menghormati hak-hak orang lain. Nilai keadilan sosial mengamatkan bahwa semua warga negara mempunyai hak yang sama dan bahwa semua orang sama di hadapan hukum.” Ia juga menuliskan bahwa dengan adanya sikap yang demikian maka tidak ada usaha-usaha yang bersifat pemerasan terhadap orang lain serta perbuatan-perbuatan lain yang bertentangan dengan atau merugikan kepentingan umum.

Lalu apakah keadilan yang dijelaskan diatas sudah sepenuhnya teraplikasikan dengan baik di Indonesia? Apakah kita sudah secara merata mendapatkan keadilan sosial yang diharapkan oleh Pancasila? Berdasarkan temuan beberapa pemberitaan beberapa hari terakhir, masihkah kita mengatakan bahwa keadilan sudah merata? Sebut saja salah satu pembahasan tentang penerapan sistem zonasi yang diharuskan oleh pemerintah untuk dilakukan oleh pemerintah daerah dalam hal Penerimaan Peserta Didik Baru (PPDB).

Inti pembahasan ini adalah tentang siswa-siswi baru yang mengharuskan setiap siswa untuk mendaftarkan diri pada satu sekolah saja. Jika ia sudah mendaftar di sekolah A, maka ia tidak boleh mendaftarkan diri di sekolah B, C, D, bahkan Z sekalipun. Peraturan tersebut diartikan sebagai sistem penerimaan berdasarkan pada radius atau jarak terdekat calon siswa dan sekolah yang dituju. Baiklah, tujuan ini mungkin baik untuk beberapa pemikiran. Hasil positif dari adanya peraturan ini adalah agar input siswa maupun dana sumbangan yang mungkin diberikan oleh orangtua siswa yang berduit dapat terdistribusi rata. Namun adakah yang salah dari dikeluarkannya peraturan ini?

Pertama, apakah sekolah yang dimaksud juga sudah terbagi secara rata? Kita dapat melihat bahkan meskipun itu hanya sekilas. Sekolah-sekolah terbaik bahkan lebih banyak berdiri di kota-kota besar. Lalu bagaimana dengan sekolah di luar wilayah kota besar tersebut? Yapss..seperti yang kita lihat, bangunannya saja bahkan masih ada yang tidak layak. Belum lagi dengan perilaku “gengsi” yang dimiliki oleh orangtua dewasa ini. Mereka hanya mementingkan tempat sekolah yang favorit meskipun harus membayar lebih.

Dan yang kedua adalah guru-guru yang ada di setiap sekolah, apakah sudah memiliki kualitas yang sama dengan sekolah-sekolah favorit lainnya? Fakta yang pernah penulis temukan adalah masih banyaknya guru-guru di pelosok desa yang bahkan baru lulusan SMA namun sudah menjadi guru di suatu sekolah desa tersebut. Alasan dirinya memutuskan untuk menjadi guru karena tidak ada banyak guru yang mengajar di sekolah tersebut. Selain itu, adanya kendala dalam hal biaya untuk melanjutkan sekolah ke jenjang yang lebih tinggi.

Lalu dimanakah keadilan sosial yang dimaksudkan pada hal ini? Memaksa masyarakat untuk pindah ke kota besar agar anak-anaknya mendapatkan pendidikan yang baik atau mencoba menghilangkan perilaku “gengsi” yang dimiliki oleh setiap individu untuk bersikap atau berperilaku adil terhadap orang lain?

Category: Catatan Kuliah

Kerakyatan Yang Dipimpin Oleh?


Silahkan lanjutkan dengan kalimat apa saja yang ada dalam pikiran Anda saat ini.

Pancasila sila keempat berbunyi “Kerakyatan Yang Dipimpin Oleh Hikmat Kebijaksanaan Dalam Pemusyawaratan/Perwakilan”. Sila dengan susunan kalimat terpanjang dari sila-sila lainnya. Kenapa pada sila keempat ini sangat panjang? Apa yang diharapkan oleh para pejuang pembuat Pancasila akan adanya isi sila keempat tersebut? Bagaimana bisa mereka berpikir untuk memutuskan bahwa dalam sila keempat berisikan tentang itu? Dan bagaimana penjabaran isi sila tersebut dalam kehidupan berbangsa dan bernegara saat ini?

Jika kita kembali ke masa pembelajaran Sekolah Dasar atau Sekolah Menengah Pertama tentang Pendidikan Pancasila dan Kewarganegaraan, kita pasti menjumpai BAB atau pertemuan yang membahas tentang makna dari Pancasila. Yang saya ingat dari adanya makna sila keempat yang saya dapatkan semasa duduk di bangku sekolah adalah pada sila ini, kita memaknai adanya kepentingan terhadap negara dan masyarakat serta penggunaan cara musyawarah untuk mencapai suatu mufakat dalam segala hal keputusan yang berhubungan dengan orang banyak.

Semasa itu, untuk anak seusia saya tak banyak bertanya dan hanya menerima pengetahuan tersebut tanpa banyak bicara, “Iya, baiklah intinya seperti itu.” Tetapi semakin meningkatnya pendidikan yang diterima serta kehidupan lingkungan yang semakin luas, seketika ada beberapa pertanyaan yang muncul seperti, Kerakyatan yang dipimpin oleh hikmat. Kerakyatan yang mana? Siapa yang memimpin? Dipimpin dengan cara hikmat yang bagaimana? Apakah pemimpin yang hikmat dalam memimpin suatu rakyat itu ada? Jika memang ada pemimpin yang seperti apa beliau? Pertanyaan lainnya yang muncul adalah, Kebijaksanaan. Kebijaksanaan yang seperti apa yang diinginkan oleh rakyat terhadap seorang pemimpin? Bagaimana cara menilai atau mengukur kebijaksanaan tersebut agar seorang pemimpin layak dikatakan bijaksana untuk memimpin rakyat? Dan pertanyaan terakhir yang amat sangat sering dipertanyakan oleh orang lain, bukan hanya saya, namun tidak secara mendalam menghayati pertanyaan tersebut adalah, Permusyawaratan. Musyawarah merupakan satu-satunya cara yang dilakukan oleh warga Indonesia dalam memutuskan segala hal yang memiliki sangkut paut dengan kehidupan orang banyak dan demi kepentingan bersama.

Pada prakteknya kita sangat sulit melihat kegiatan musyawarah tersebut di era globalisasi teknologi saat ini. Kita lihat bagaimana sejatinya musyawarah diterapkan. Kita akan menjawab, “Dalam hal keputusan pemimpim kita lakukan dengan cara musyawarah.” Benarkah? Dimana letak musyawarah itu diterapkan? Pada saat pemilihan Presiden? Gubernur? Atau yang paling sederhana di sekitar kita adalah pemilihan ketuan RT/RW? Apakah pemilihan mereka semua dilakukan dengan cara musyawarah? Maka jawabannya, tidak.

Saya melihat, disekitar lingkungan tempat tinggal saya, tidak pernah menggunakan cara musyawarah dalam pemilihan ketua RT/RW. Tetapi mereka menggunakan cara siapa yang paling “kuat dan berpengaruh” dalam satu lingkungan tersebut dan menggunakan cara voting untuk menentukan siapa yang berhak duduk di tempat paling tinggi untuk mewakili rakyat sekitar. Mengertikah Anda makna dari “kuat” dan “berpengaruh”? Orang-orang elit, orang-orang yang memiliki kekuasaan secara material, orang-orang yang bahkan ia tidak memiliki kesadaran akan makna berbangsa dan bernegara yang sebenarnya, orang-orang yang hanya ingin dipuji dan haus akan jabatan namun dengan topeng yang sangat baik menampilkan diri mereka yang bijaksana dan ingin mendapatkan kepercayaan dari orang sekitar.

Mungkin kita masih bisa melihat bagaimana praktek Pancasila sila keempat ini di beberapa ruang lingkup yang sangat kecil yang bahkan tak akan terlihat sama sekali oleh masyarakat sekitar. Salah satu contoh penerapan musyawarah yang pernah saya alami secara pribadi adalah ketika pemilihan ketua kelas semasa berada di Sekolah Menegah Atas. Pemilihan dilakukan secara musyawarah dengan melihat bagaimana setiap siswa dalam satu kelas tersebut. Satu per satu berhak dan harus menyampaikan pendapat atau pemikiran mereka tentang siapa yang menurutnya pantas untuk dijadikan pemimpin kelas. Tak terlihat penting memang karena ini hanyalah ruang lingkup kecil, bahkan amat sangat kecil. Mungkin Anda juga akan mengatakan, “Hal bodoh yang terlalu dianggap serius. Itu hanyalah pemilihan ketua kelas. Tentukan saja siapa yang menurut mu yang terlihat lebih kekar atau besar sehingga ia dapat menjadi ketua.”

Ya seperti itulah memang pemikiran kita saat ini akan pemimpin yang dipilih melalui permusyawaratan adalah hal basi namun selalu mengatakan “kita memilihnya dengan cara musyawarah”, namun tidak secara prakteknya. Masih adakah Pancasila dalam diri kita? Jika ya, sudahkah kita menerapkannya? Atau terkadang kita menganggapnya hal yang, “Ahhh…sudahlah itu terlalu tua dan berlebihan untuk dilakukan. Kita lakukan dengan cara yang mudah saja.”

Category: Catatan Kuliah

“Persatuan Indonesia” dalam Sila Ketiga Pancasila


Apa yang pertama kali Anda pikirkan ketika mendengar kata “Persatuan”? Menyatukan budaya? Menyatukan banyak hal? Menyatukan perbedaan latar belakang? Menyatukan suatu pemikiran, pendapat, ide, atau gagasan? Menyatukan lapisan yang terpecah belah? Atau menyatukan yang jauh menuju yang dekat?

Kebanyakan dari kita akan berpikir bahwa makna dari sila ketiga Pancasila tersebut adalah menyatukan perbedaan yang begitu banyak ada di Indonesia menjadi satu. Sesuai dengan bagaimana penggambaran “Bhineka Tunggal Ika” yang digenggam di kaki Burung Garuda lambang dasar negara Indonesia. Tapi bagaimana dengan penjabaran sesungguhnya sila ketiga tersebut? Apakah Anda sudah menerapkannya dalam berkehidupan berbangsa dan bernegara di tanah tercinta kita, Indonesia? Jawabannya iya, namun tidak secara sesungguhnya.

Jika kita melihat fenomena pada beberapa tahun silam, tentang adanya GAM (Gerakan Aceh Merdeka), mengapa bagian barat Indonesia yang memiliki sebutan Serambi Mekkah tersebut membuat gerakan tersebut? Padahal jika kita menilik ke belakang pada masa kemerdekaan Indonesia, lima hari setelah RI diproklamasikan, Aceh menyatakan dukungan sepenuhnya terhadap kekuasaan pemerintahan yang berpusat di Jakarta.

Dibawah Residen Aceh, yang juga tokoh terkemuka, Teuku Nyak Arief, Aceh menyatakan janji kesetiaan mendukung kemerdekaan RI dan Aceh sebagai bagian tak terpisahkan. Pada 23 Agustus 1945, sedikitnya 56 tokoh Aceh berkumpul dan mengucapkan sumpah. Pada sumpah tersebut mereka menyatakan, “Demi Allah, saya akan setia untuk membela kemerdekaan Republik Indonesia sampai titik darah saya yang terkahir.”
Menggaris bawahi kalimat “tak terpisahkan” serta adanya sumpah yang dilakukan, kita adalah satu, Indonesia. Dari sabang sampai merauke, kita mempersatukan kekuatan dan tekad hingga bangsa kita dapat menjadi bangsa yang kuat dan tak akan terpisahkan meskipun secara fisik kita terpisah oleh puluhan pulau yang ada. Tak ada yang salah dalam kejadian tersebut. Lantas apakah yang membuat Aceh membentuk gerakan untuk memisahkan dan memerdekakan diri dari Indonesia?

Selain fenomena GAM, kejadian lainnya yang sangat ironis terjadi di Indonesia dalam kurun waktu 1995-1999 telah terjadi kerusuhan yang melibatkan amuk massa seperti perusakan yang dilakukan oleh petani di Jenggawah, perusakan Pengadilan Negeri di Kediri, perusakan Toserba oleh umat Islam di Purwakarta dan Pekalongan, pembunuhan atas seseorang oleh sekelompok anak muda umat Katolik terhadap seseorang yang dianggap melecehkan agama di Nusa Tenggara, dan masih banyak lagi kejadian-kejadian yang sebenarnya kejadian tersebut tidak mencerminkan sila ketiga Pancasila yaitu Persatuan Indonesia.

Fenomena lainnya yang saat ini juga lebih banyak terjadi adalah adanya “Bullying” atau Penindasan. Peristiwa ini yang paling mudah untuk menggambarkan bagaimana hilangnya penjabaran sila ketiga dari lima sila yang ada pada Pancasila. Tidak ada lagi kata “Persatuan” dalam diri orang-orang yang melakukan penindasan tersebut. Karena mereka menganggap yang kuat lah yang mampu melakukan apapun yang diinginkan tanpa melihat orang lain.

Sila ketiga adalah “Persatuan Indonesia”. Kita menyatukan banyak hal menjadi satu, Indonesia. Kita hidup dengan budaya yang sangat amat banyak namun tetap satu, Indonesia. *bagian ini cukup menarik untuk dibahas pada bagian lain sebenarnya  Yaaa…kita tau bahwa kita berasal dari berbagai budaya yang berbeda dan terkadang saat kita mendapatkan pertanyaan, “aslinya mana?” pasti sebagian dari kita akan bilang tempat asal kita namun dengan nada sedikit malu. Dan contoh budaya yang sangat dijadikan acuan dalam keseharian kita adalah budaya metropolitan. Iya atau tidak, sadar atau tidak, lihatlah bagaimana anak-anak remaja saat ini lebih suka mengendarai motor besar meskipun ia melewati jalanan sawah. Ok, mungkin ia menganggap bahwa dengan mengendarai motor besar tersebut maka, ia akan dianggap sama dengan orang-orang lainnya, pemersatuan budaya. *iyain aja biar cepat, bahas satu ini aja lama.

Kita memiliki ratusan bahasa daerah namun kita berbahasa satu, bahasa Indonesia * jika kita memperhatikan fenomena saat ini, banyak orang akan dengan bangga bersikap atau berkomunikasi dengan bahasa “Jakartaan” yang dianggap lebih keren dari budaya aslinya. Sadar atau tidak, banyak sekali orang disekitar kita akan lebih nyaman berbicara bahasa “gua, lu” dibandingkan dengan bahasa “aku, kamu” atau sebutan diri dalam bahasa daerah masing-masing  Yapss…mungkin ini yang namanya “Persatuan Indonesia”. Karena Ibu Kota Negara Indonesia adalah Jakarta, maka kita akan menganggap bahwa bahasa satunya Indonesia itu ya bahasa Jakarta.

Kalimat lain yang sering saya pribadi dengar adalah, “Kita berasal dari banyak aliran darah, namun satu darah kita, darah Indonesia” *jika memang kita berdarah satu, maka tak ada lagi rumah sakit atau orang-orang meninggal karena kekurangan transfusi darah -_- semuanya bisa nyumbang darahnya -_- *

Lalu di manakah kita dapat melihat makna sesungguhnya sila ketiga ini?

Category: Catatan Kuliah

Pancasila Sila Kedua


Pancasila! Satu! Ketuhanan Yang Maha Esa!
Dua! Kemanusiaan yang adil dan beradab!
Tiga!……stop!
Hmm…kalau di postingan sebelumnya penulis menulis tentang sila satu yang kebanyakan lebih kepada pendapat orang, sekarang penulis akan kembali menulis tentang sila kedua dari Pancasila *meskipun nantinya akan tetap ada banyak kutipan dari orang lain 😀
Berbicara tentang Kemanusiaan yang adil dan beradab…kemanusiaan yang seperti apa yang ingin digambarkan oleh Pancasila sebenarnya? Lalu sikap adil dan beradab yang seperti apa yang dimaksud? Jadi, mengutip dari Zurrnelly (2010) dalam bukunya yang berjudul “Filsafat Pancasila”, pada sila kedua dari lima sila yang ada dalam Pancasila, terkandung nilai-nilai humanistis antara lain :
1. Pengakuan terhadap adanya martabat manusia dengan segala hak asasinya yang harus dihormati oleh siapapun.
2. Perlakuan yang adil terhadap sesama manusia.
3. Pengertian manusia beradab yang memiliki daya cipta, rasa, karsa dan iman, sehingga nyatalah bedanya dengan makhluk lain.

Inti sila kemanusiaan yang adil dan beradab adalah landasan manusia.
Maka konsekuensinya dalam setiap aspek penyelengaraan Negara antara lain hakikat Negara, bentuk Negara, tujuan Negara , kekuasaan Negara, moral Negara dan para penyelenggara Negara dan lain-lainnya harus sesuai dengan sifat-sifat dan hakikat manusia. Hal ini dapat dipahami karena Negara adalah lembaga masyarakat yang terdiri atas manusia-manusia, dibentuk oleh manusia untuk memanusia dan mempunyai suatu tujuan bersama untuk manusia pula. Maka segala aspek penyelenggaraan Negara harus sesuai dengan hakikat dan sifat-sifat manusia Indonesia yang monopluralis , terutama dalam pengertian yang lebih sentral pendukung pokok Negara berdasarkan sifat kodrat manusia monodualis yaitu manusia sebagai individu dan makhluk sosial.

Selain itu juga..pada sila kedua ini berhubungan terhadap perilaku kita sebagai manusia yang pada hakikatnya semua sama di Dunia ini. Berikut contoh sikap yang mencerminkan sila kedua :
● Mengakui persamaan derajat, hak, dan kewajiban asasi setiap manusia tanpa membedakan.
● Mengakui dan memperlakukan manusia sesuai dengan harkat dan martabatnya sebagai makhluk Tuhan Yang Maha Esa.
● Mengembangkan sikap saling mencintai sesama manusia.
● Tidak semena-mena terhadap orang lain.
● Gemar melakukan kegiatan kemanusiaan, seperti acara acara bakti sosial, memberikan bantuan kepada panti panti asuhan sebagai bentuk kemanusiaan peduli akan sesama.
● Senang membantu teman yang sedang mengalami kesusahan.
● Memberikan bantuan kepada korban bencana alam.
● Mengembangkan sikap tenggang rasa.
Menjunjung tinggi Hak Asasi Manusia.
● Mengembangkan sikap hormat menghormati dan bekerjasama dengan bangsa lain.
● Mengembangkan sikap saling tenggang rasa dan tepa selira.
● Menyadari bahwa kita mempunyai hak dan kewajiban yang sama.

Category: Catatan Kuliah

Pancasila Sila Pertama Itu???


Pancasila! Satu! Ketuhanan Yang Maha Esa!
Dua!…..Eeeiiitttt…..sebelum ke sila selanjutnya, dari sila pertama, sudah pahamkah kita akan fungsi dan tujuan dari sila pertama tersebut?

Mengutip tulisan dari Sutia Budi dalam situs www.rmol.co (17 Juni 2017) tentang prinsip Ketuhanan, pada pidato 1 Juni 1945, Bung Karno menegaskan : “Marilah kita di dalam Indonesia yang kita susun ini, sesuai dengan itu, menyatakan bahwa prinsip ke-5 daripada negara kita, ialah Ketuhanan yang hormat menghormati satu sama lain. Hatiku akan berpesta raya, jikalau saudara-saudara menyetujui bahwa Negara Indonesia Merdeka berasaskan Ketuhanan Yang Maha Esa!”.

Dari tulisan di atas, penulis mengartikan Negara Indonesia yang berprinsip Ketuhanan dalam pandangan Bung Karno, juga diartikan sebagai negara yang setiap warga negaranya dapat menyembah Tuhan-nya dengan cara leluasa. Sementara bertuhan secara kebudayaan, dimaknai dengan tiada “egoisme-agama”. Bung Karno juga mengajak untuk mengamalkan dan menjalankan ajaran agama masing-masing dengan cara yang berkeadaban, yaitu hormat-menghormati satu sama lain.

Berasal dari negara yang memiliki banyak perbedaan budaya, membuat Ir. Soekarno dan tokoh lainnya pada masa itu membuat rumusan Pancasila untuk dasar suatu negara, serta sebagai pedoman dalam bersikap dan berperilaku yang baik. Dengan tujuan agar Pancasila tersebut dapat menjadi landasan yang tepat, baik untuk rakyat, bangsa dan negara Indonesia. Toleransi merupakan kunci utama dalam menerapkan Pancasila di kehidupan sehari-hari. Namun di zaman milenial di mana setiap orang akan bergerak dengan cepat sesuai dengan perkembangan teknologi seperti ini, toleransi akan perbedaan agama khususnya masihkan dapat kita rasakan keberadaannya?

Nurcholish Madjid berpendapat bahwa Ketuhanan Yang Maha Esa yang dipahami sudut Islam sebagai Tauhid, adalah sebagai dasar moral sedangkan tujuannya adalah Keadilan Sosial. Membaca pendapat Cak Nur, maka dapat dimaknai bahwa jika yang terjadi “Ketidakadilan Sosial” maka sesungguhnya “belum bertuhan” secara benar. Karena Tuhan itu Maha Adil.

Category: Catatan Kuliah

Pancasila Ohh Pancasila


Pancasila?!? Kapan pertama kali Anda mendengar kata Pancasila? Semasa kecil (sebelum sekolah)? Waktu TK? atau Sekolah Dasar? Kebanyakan dari kita akan menjawab, ketika berada di Sekolah Dasar. Saya pribadi sudah sering mendengar kata Pancasila bahkan sebelum masuk Taman Kanak-kanak, dan sudah hafal Pancasila ketika berada di Taman Kanak-kanak. Tapi….apakah hanya dengan menghafal Pancasila itu sudah membanggakan? Pernahkan kita bertanya-tanya apa itu Pancasila? Mengapa kita harus menghafalkan Pancasila? Dan apa tujuan dibuatnya Pancasila itu sendiri? Tak banyak dari kita berpikir ke arah sana. Bahkan ketika kita hanya hafal kelima sila yang ada, itu sudah cukup.

Pertanyaan pertama, apa itu Pancasila? Ketika pertanyaan tersebut ditujukan secara random, maka akan ada beberapa jawaban yang sering kita dapatkan yaitu, Pancasila itu dasar negara; Pancasila itu ideologi negara: Pancasila itu identitas negara; Pancasila itu budaya negara Indonesia; Pancasila itu kita yang lahir di Indonesia; Pancasila itu dasar sikap kita untuk berperilaku di negara yang menerapkannya; dan lain sebagainya. Semua jawaban tersebut tidak ada yang salah. Apapun pengertian Pancasila pada setiap individu, tidak menentukan apakah ia salah atau benar dalam mengartikannya. Namun, pemaknaan dan penerapan Pancasila itulah yang menentukan apakah seseorang tersebut memahami Pancasila atau tidak.

Mengutip tulisan dari seorang dosen di IKIP Sanata Dharma yang mengajar tentang ilmu Sejarah Tatanegara Indonesia dan Pancasila, P.J. Suwarno menuliskan, “…..Pancasila pada masa sekarang pikirannya langsung tertuju pada Pancasila yang dirumuskan dalam alinea ke-4 Pembukaan Undang-undang Dasar 1945…..”. Sedangkan pada situs www.wikipedia.org/wiki/Pancasila , “Pancasila adalah ideologi dasar bagi negara Indonesia. Nama ini terdiri dari dua kata Sanskerta yaitu panca yang berarti lima, dan sila yang berarti prinsip atau
asas.”

Pancasila merupakan rumusan dan pedoman kehidupan berbangsa dan bernegara bagi seluruh rakyat Indonesia. Sederhananya, Pancasila adalah landasan dari segala keputusan bangsa dan menjadi ideologi tetap bangsa serta mencerminkan kepribadian bangsa. Pancasila merupakan ideologi bagi negara Indonesia. Dalam hal ini, Pancasila dipergunakan sebagai dasar mengatur pemerintahan negara. Pancasila merupakan kesepakatan bersama bangsa Indonesia yang mementingkan semua komponen dari sabang sampai merauke.

Pengertian Pancasila menurut para ahli antara lain:
1. Muhammad Yamin, Pancasila berasal dari kata Panca yang berarti lima dan Sila yang berarti sendi, atas, dasar atau peraturan tingkah laku yang penting dan baik. Dengan demikian Pancasila merupakan lima dasar yang berisi pedoman atau aturan tentang tingkah laku yang penting dan baik.
2. Notonegoro, Pancasila adalah dasar falsafah negara Indonesia, sehingga dapat diambil kesimpulan bahwa Pancasila merupakan dasar falsafah dan ideologi negara yang diharapkan menjadi pandangan hidup bangsa Indonesia sebagai dasar pemersatu, lambang persatuan dan kesatuan serta sebagai pertahanan bangsa dan negara Indonesia
3. Ir. Soekarno, Pancasila adalah isi jiwa bangsa Indonesia yang turun-temurun sekian abad lamanya terpendam bisu oleh kebudayaan barat. Dengan demikian, Pancasila tidak saja falsafah negara, tetapi lebih luas lagi, yakni falsafah bangsa Indonesia.

Yahh….intinya Pancasila itu adalah dasar buat kita berperilaku dalam menghadapi segala situasi dan keadaan yang ada disekitar kita, terutama jika kita tinggal Indonesia. Namun, tidak berarti ketika kita berada di luar Indonesia, kita tidak menerapkan Pancasila. Justru dengan berperilaku dan bersikap baik menerapkan Pancasila dimanapun kita berada, maka orang lain pun akan memandang baik orang-orang yang berasal dari Indonesia. Karena Pancasila adalah ideologi atau dasar kehidupan rakyat Indonesia.

Pertanyaan kedua, mengapa kita harus mengahafalkan Pancasila? Hmm….pertanyaan ini sebenarnya cukup rancu buat saya. Lebih tepatnya mungkin memahami bukan menghafal. Tapi ya…namanya juga mantan siswa yang suka dengar kata-kata guru, “Hafalkan bagian ini, hafalkan bagian itu!”, jadi selalu kebawa kata “hafalkan”, padahal sebenarnya disuruh pahami, cuma karena salah penyampaian aja, sampai sekarang masih suka bilang, “….hafalkan…”.

Tapi sebelum memahami, kita juga bakalan disuruh menghafalkan lebih dulu sih *yahh…balik lagi deh 😀 * Jadi intinya, memang kita bakalan disuruh menghafalkan, setelah itu baru kita memahami apa yang kita hafalkan tersebut. Pancasila itu ibarat lagu *menurut saya pribadi sih*. Ketika kita suka dengan sebuah lagu, kita akan mencari liriknya, menghafalkan liriknya, memahami makna dari lirik, dan menyanyikannya di saat menurut kita lagu tersebut cocok untuk dibawakan. Semakin dalam kita memaknai lagu tersebut, maka semakin dapat kita mengetahui tujuan atau pesan dari seorang penyanyi atau penulis lagu yang ingin mereka sampaikan. Dengan begitu kita dapat merasakan perasaan yang sama dengan sang penulis lagu ataupun yang membawakannya.

Nahh….Pancasila itu seperti itu. Jadi ketika kita menghafalkannya, lambat laun kita akan mencari tahu kenapa kita harus menghafalkan Pancasila. Seperti yang sudah dijelaskan di awal dan menurut pengertian Muhammad Yamin, Pancasila merupakan dasar atau pedoman tentang tingkah laku yang penting dan baik. Dengan kita mengahafalkan dan memahami Pancasila, maka kita dapat mencoba untuk berpikir kembali atau berpikir sebelum bertindak, apakah hal yang kita lakukan nantinya baik atau tidak? Merugikan orang lain atau tidak? Sesuai atau tidak dengan sila-sila yang ada dalam Pancasila?.

Apalagi di zaman teknologi yang serba canggih saat ini dan kita yang berada pada generasi milenial tentunya harus memperhatikan dengan baik, apakah kita masih menerapkan Pancasila dalam kehidupan sehari-hari atau kita hidup sebagaimana mestinya kita hidup di zaman yang serba cepat.

Mengutip salah satu pemberitaan tentang Pancasila di www.republika.co.id, yang ditulis oleh Amri Amrullah, “Ketua MPR Zulkifli Hasan, menilai generasi muda milenial Indonesia bisa memberikan kontribusi besar bagi kemajuan bangsa. Zulkifli percaya, hadirnya generasi milenial biasa membawa kemajuan asalkan memahami serta melaksanakan nilai-nila Pnacasila. Ia menyampakan bahwa Pancasila harus didekatan pada generasi milenial dengan pendekatan yang interaktif dan menarik. Dengan nilai-nilai yang sama dan cara yang lebih adaptif.”

Pertanyaan terakhir, apa tujuan dari dibuatnya Pancasila? Kita tau bahwa Pancasila dibuat dengan sangat tidak mudah. Banyak perbedaan pendapat, ide, dan gagasan yang diberikan dari orang satu ke orang lainnya. Pancasila juga memiliki lima sila yang berbeda menurut para ahlinya. Mengutip tulisan dari buku “Pendidikan Pancasila dan Kewarganegaraan (PPKN di Perguruan Tinggi) yang ditulis oleh Sarinah, Muhtar Dahri dan Harmaini (2016) :

“Proses perumusan Pancasila diawali ketika dalam sidang BPUPKI pertama dr. Radjiman Widyodiningrat, mengajukan suatu masalah, khususnya akan dibahas pada sidang tersebut. Masalah tersebut adalah tentang suatu calon rumusan dasar negara Indonesia yang akan dibentuk. Kemudian tampillah dalam sidang tersebut tiga orang pembicara yaitu Mohammad Yamin, Seoepomi dan Soekarno. Pada tanggal 1 Juni 1946 di dalam sidang tersebut, Ir. Soekarno berpidato secara lisan (tanpa teks) mengenai calon rumusan dasar negara Indonesia. Kemudian untuk memberikan nama “Pancasila” yang artinya lima dasar. Pada tanggal 17 Agustus 1945 Indonesia memproklamasikan kemerdekaannya, kemudia keesokan harinya tanggal 18 Agustus 1945 disahkannya UUD 1945 termasuk Pembukaan UUD 1945 di mana didalamnya termuat isi rumusan lima prinsip sebagai satu dasar negara yang diberi nama Pancasila.”

Tujuan dibuatnya Pancasila sebagaimana dengan fungsi Pancasila dan sila-sila yang ada di dalamnya itu sendiri. Fungsi Pancasila yang kita ketahui antara lain : sebagai jiwa bangsa Indonesia; sebagai kepribadian bangsa Indonesia; sebagai sumber dari segala sumber hukum; sebagai pandangan hidup bangsa Indonesia; sebagai cita-cita dan tujuan bangsa Indonesia; menjadi falsafah hidup bangsa; sebagai dasar Negara Republik Indonesia; dan sebagai perjanjian luhur bangsa Indonesia.
Sesuai dengan setiap sila yang ada di dalamnya, maka tujuan Pancasila adalah :
1. Menghendaki bangsa yang religius yang taat kepada Tuhan Yang Maha Esa
2. Menjadi bangsa yang adil secara sosial ekonomi
3. Menjadi bangsa yang menghargai HAM (Hak Asasi Manusia)
4. Mengehendaki bangsa yang demokratis; dan
5. Menghendaki menjadi bangsa yang nasionalis yang mencintai tanah air Indonesia.

Jadi, sudah pahamkah kita apa itu Pancasila? Apakah dengan sadarnya kita akan Pancasila, kita akan menjadi pribadi yang berperilaku penting dan baik di mata orang lain dan terhadap orang lain? Ya. Karena Pancasila dalah pedoman perilaku kita dalam setiap tidakan. Berpikirlah cerdas dan berperilakulah dengan bijak. Semoga dengan kita menyadari dan memahami dengan baik Pancasila, maka semakin cinta kita kepada negara Indonesia.

Category: Catatan Kuliah