Metode Penelitian Komunikasi Kuantitatif

1

Tulisan ini berisi hasil review saya terhadap buku “Teknik Praktis Riset Komunikasi: Disertai Contoh Praktis Riset Media, Public Relations, Advertising, Komunikasi Organisasi, Komunikasi Pemasaran, 2006, yang ditulis oleh Rachmat Kriyantono”. Tujuan review ini adalah untuk mendeskripsikan pengertian dari operasional; jenis-jenis penelitian; bagaimana cara meneliti; mengapa penting untuk diteliti; serta menjelaskan contoh yang telah diberikan sebagai contoh dalam penelitian.

1. Definisi Operasional

Saya menemukan bahwa Kriyantono (2006) menyatakan bahwa, “Sebuah konsep harus dioperasionalkan, agar dapat diukur. Proses ini disebut dengan operasionalisasi konsep atau definisi operasional.” (h. 26)

Dari penjelasan diatas, terdapat “sebuah konsep”. Kriyantono (2006) menyatakan, “Konsep adalah istilah yang mengekspresikan sebuah ide abstrak yang dibentuk dengan menggeneralisasikan objek atau hubungan fakta-fakta yang diperoleh dari pengamatan.” (h. 17)

Dari kedua definisi diatas, saya memahaminya bahwa seorang peneliti yang ingin melakukan penelitian harus terlebih dahulu memiliki sebuh konsep. Dengan adanya konsep tersebut, maka peneliti akan memiliki arah yang jelas tentang penelitian apa yang akan ia lakukan. Dalam sebuah penelitian, peneliti tidak akan selesai hanya dengan memiliki konsep saja. Butuh beberapa proses yang harus peneliti lakukan demi membuat hasil penelitiannya dapat diterima manfaatnya secara praktis dan teoritis, termasuk dalam hal melakukan operasionalisasi.

Dalam penelitian kuantitatif, data yang harus digunakan adalah data yang berupa angka. Dengan begitu, pendekatan yang digunakan dalam penelitian kuantitatif biasanya berupa pendekatan positivistik. Mengapa harus menggunakan pendekatan positivistik? Apakah dalam penelitian kuantitatif tidak bisa menggunakan pendekatan kontruktivis?

Pada pertemuan kuliah pertama, tanggal 17 February 2015, catatan saya berisikan bahwa, “Penelitian kuantitatif, biasanya merujuk pada data angka. Data angka tersebut dihasilkan melalui pendekatan positivistik. Sedangkan penelitian kualitatif, biasanya merujuk pada data yang berupa narasi. Dan data narasi ini, dihasilkan dari pendekatan kontruktivistik. Hal ini bukan berarti, dalam penelitian kuantitatif harus menggunakan pendekatan positivistik, dan tidak boleh menggunakan pendekatan kontruktivistik, atau sebalikanya. Namun, dalam suatu penelitian, pendekatan yang satu dan yang lain, dapat diseimbangkan. Agar menjadi suatu penelitian yang baik.”

2. Jenis – Jenis Penelitian

Saya menemukan bahwa Kriyantono (2006), membagi jenis penelitian berdasarkan tataran atau cara menganalisis data menjadi empat jenis sebagai berikut:

Jenis Eksploratif

Bungin (2001: 29) dalam Kriyantono (2006), menyatakan bahwa, “……Periset langsung terjun ke lapangan, semuanya dilaksanakan di lapangan. Rumusan masalah ditemukan di lapangan, data merupakan sumber teori, teori berdasarkan data sehingga teori juga lahir dan berkembang di lapangan. Bahkan periset tidak mempunyai konsep awal.” (h. 69)

Seperti yang saya dijelaskan pada awal, penelitian kualitatif merupakan penelitian yang akan menggunakan data berupa narasi. Jenis penilitian eksploratif ini bisa dikatakan sebagai penelitian dengan pendekatan kualitatif. Kenapa? Karena penelitian dengan jenis eksploratif akan menghasilkan data berupa narasi. Peneliti akan menceritakan atau mendeskripsikan penelitiannya dalam laporan. Membentuk dan/atau membangun teori baru yang sesuai dengan lapangan yang dijadikan lokasi penelitian.

Jenis Deskriptif

Kriyantono (2006) menyatakan bahwa, “Jenis riset ini bertujuan membuat deskripsi secara sistematis, faktual, dan akurat tentang fakta-fakta dan sifat-sifat populasi atau objek tertentu. Periset sudah mempunyai konsep……, periset melakukan operasionalisasi konsep yang akan menghasilkan variabel beserta indikatornya……” (h. 69)

Pada penjelasan diatas saya berpendapat bahwa, dalam penelitian yang menggunakan jenis deskriptif ini, maka penelitian yang di ambil merupakan penelitian kuantitatif. Peneliti akan mendeskripsi suatu konsep dan kerangka konseptual yang sudah dibutanya, dan mengoperasionalisasikan konsep tersebut, agar peneliti atau periset dapat memberikan batasan sampai mana penelitiannya akan berjalan.

Jenis Eksplanatif

Kriyantono (2006) menyatakan, “Periset menghubungkan atau mencari sebab akibat antara dua atau lebih konsep (variabel) yang akan diteliti. Periset membutuhkan definisi konsep, kerangka konseptual dan kerangka teori…..”

Jenis penelitian eksplanatif ini bisa dikatan sebagai penelitian yang menggunakan dua metode, yaitu kuantitatif serta kualitatif. Seperti yang sudah saya jelaskan sebelumnya, bahwa dalam suatu penelitian yang baik, penggunaan kuantitatif dan kualitatif dapat dikerjakan secara seimbang. Kuantitatif dengan data yang digunakan berupa angka (kuantitatif), akan dijelaskan secara narasi (kualitatif). Dan data yang berupa narasi tersebut, dapat ditunjukkan dengan menggunakan angka.

Jenis Evaluatif

Kriyantono (2006) menyatakan, “……Riset ini membutuhkan definisi konsep, kerangka konseptual, kerangka teori, operasionalisasi konsep, hipotesis, ukuran keberhasilan riset, dan rekomendasi……evaluasi sumatif adalah penelitian evaluasi setelah program berakhir dan evaluasi formatif dilakukan sewaktu program berjalan…..” (h. 69-70)

Pada penjelasan diatas, beberapa hal yang dibutuhkan oleh peneliti atau periset merupakan hal yang dibutuhkan dalam penelitian kuantitatif. Pertama, peneliti membutuhkan definisi konsep, yang menurut Kriyantono (2006), “Dalam tahapan riset, proses mengubah konsep menjadi konstruk disebut definisi konsep.” (h. 19)

Kedua, peneliti membutuhkan kerangka konseptual dan kerangka teori, agar peneliti dapat mengarahkan penelitiannya sesuai dengan manfaat yang akan peneliti berikan sesudah penelitian selesai. Ketiga, peneliti juga membutuhkan operasionalisasi konsep dan hipotesis, yang menurut Kriyantono (2006), “…..Dengan kata lain seorang periset akan berada pada tiga level, yaitu level konsep (suatu level yang meliputi perumusan masalah, kerangka teori, hingga perumusan hipotesis teoritis) dan level empiris (mencakup perumusan hipotesis riset atau operasional, dan analisis data) serta kembali ke level konsep (tahap kesimpulan)……” (h. 25)

3. Bagaimana Cara Meneliti

Bagaimana cara meneliti berbagai jenis penelitian, yaitu dengan melakukan beberapa proses yang sudah ditentukan. Dalam suatu penelitian, peneliti harus mengetahui dan/atau sudah memiliki konsep yang akan dijadikan penelitian. Mengapa konsep sangat dibutuhkan dalam suatu penelitian? Kriyantono (2006) menyatakan, “Pengetahuan tentang konsep sangat penting dipahami……dapat menyederhanakan proses riset dengan cara mengkombinasikan karakteristik-karakteristik teetentu,…..” (h. 18)

“Kedua, konsep menyederhanakan komunikasi di antara orang – orang………yang ingin berbagi pemahaman tentang kosep yang digunakan dalam riset. Periset menggunakan konsep untuk mengorganisasikan apa yang diamatinya ke dalam kesimpulan atau kategori yang bermakna…… Ketiga, sebagai dasar untuk membangun variabel maupun skala pengukuran yang akan digunakan….” (h. 18)

Setelah peneliti mandapatkan konsep apa yang akan menjadi bahan penelitiannya, selanjutnya peneliti membuat konsep tersebut menjadi konstruk. Kriyantono (2006) menyatakan, “Konstruk adalah konsep yang dapat diamati dan diukur atau memberikan batasan pada konsep……” (h. 19)

Tujuan dari adanya konstruk ini, adalah menyempitkan kembali konsep yang sudah dimiliki oleh peneliti. Biasanya konsep yang sudah di konstruk akan lebih spesifik dalam pengambilan data berikutnya.

Selanjutnya ada variabel. Mayer, dalam Kriyantono (2006), “Variabel sebenarnya adalah konsep dalam bentuk konkret atau konsep operasional. Suatu variabel adalah konsep tingkat rebdah, yang acuan-acuannya secara relatif mudah diidentifikasikan dan diobservasikan serta mudah diklasifikasi, diurut atau diukur. Jadi, variabel adalah bagian empiris dari sebuah konsep atau konstruk.” (h. 20)

Setelah adanya konsep, konstruk, serta variabel, peneliti tidak akan berhenti sampai disini. Seperti yang digambarkan di halaman 25 tentang tahapan riset, maka peneliti berada pada tiga level, yaitu level konsep, level empiris, dan kembali pada level konsep yang nantinya akan menghasilkan suatu kesimpulan dari penelitian.

4. Mengapa Penting Untuk Diteliti

Semua penelitian penting untuk diteliti. Tidak hanya secara sadar, terkadang secara tidak sadar pun, penelitian akan selalu terjadi. Karena “riset merupakan proses penyelidikan secara hati – hati, sistematis dalam mencari fakta dan prinsip – prinsip suatu penyelidikan yang cermat guna menetapkan suatu keputusan yang tepat.” (h. 2)

Suatu penelitian dilakukan sesuai dengan kebutuhan dari peneliti. Biasanya setiap orang memiliki kebutuhan yang berbeda-beda sesuai dengan kemampuan peneliti. Dari kemampuan ini, peneliti juga harus melihat apa yang dapat peneliti lakukan setelah penelitian yang dilakukannya selesai. Apakah peneliti akan berhenti atau akan menggunakan hasil penelitiannya sebagai suatu manfaat yang dapat digunakan di kemudian hari atau dapat diterapkan dalam kehidupan peneliti.

Seperti yang saya jelaskan sebelumnya, bahwa suatu penelitian dilakukan diharapkan agar penelitian tersebut dapat menjadi manfaat secara teoritis ataupun praktis. Suatu penelitian bermanfaat secara teoritis atau akademik jika, penelitiannya atau pemikirannya tersebut dapat dimanfaatkan oleh orang lain, seperti menjadi rujukan atau referensi untuk penelitian selanjutnya. Penelitian dapat bermanfaat secara praktis, jika penelitian tersebut dapat diaplikasikan dan bermanfaat untuk kehidupan peneliti atau kehidupan dilingkungannya.

5. Contoh Riset

Masalah : “APAKAH ADA HUBUNGAN ANTARA SIKAP PEMILIH PEMULA TERHADAP PARPOL DENGAN SIKAP ORANG TUA TERHADAP PARPOL?”
Instrumen : Sikap orang tua saya terhadap parpol?
a. SS
b. S
c. CS
d. TS
e. STS
Sampel : dipilih 100 siswa SMU

Dari riset yang diberikan diatas, riset tersebut tidaklah valid. Mengapa riset diatas tidak valid? Karena, pada instrumen dinyatakan sikap orang tua. Sedangkan sampel yang diambil adalah siswa SMU. Seharusnya jika instrumen menggunakan sikap orang tua, maka sampel yang harus digunakan adalah dengan “dipilih 100 orang tua”.

Secara keseluruhan, saya dapat memahami materi – materi yang ada dalam buku tersebut. Buku ini sangat membantu dalam memahami penelitian lebih baik lagi. Referensi yang digunakan dalam buku ini juga berasal dari para pakar komunikasi yang sudah banyak memberikan bagian penting dalam komunikasi.

DAFTAR PUSTAKA
Kriyantono, Rachmat. (2006). Teknik Praktis Riset Komunikasi: Disertai Contoh Praktis Riset Media, Public Relations, Advertising, Komunikasi Organisasi, Komunikasi Pemasaran. Jakarta: KENCANA

Category: Catatan Kuliah

one responses

  1. Free Piano says:

    Free Piano…

    This definitely be the next preference. You are perfect, theme team. I Really enjoy the system, fonts along with the perfect subject. Thanks for a great valuable design. Great job! Popular Free Webmaster Keep up the ultra do the webjob!…

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

CAPTCHA Image

*