Monthly Archives: March 2015

Model Agenda Setting


Dalam buku “Teknik Praktis Riset Komunikasi, 2006, yang ditulis oleh Rachmat Kriyantono” terdapat penjelasan tentang “Model Agenda Setting.” Agenda setting ini merupakan salah satu teori dari sekian banyak teori yang biasanya digunakan dalam aplikasi riset komunikasi terutama pada media massa. Agenda setting tersebut memang tergolong teori yang wajib diketahui oleh para akademisi, terutama yang memiliki minatan pada massa. Teori atau model agenda setting sebenarnya bukan hanya dapat diaplikasikan pada massa, meskipun memang sudah banyak penelitian atau riset yang menggunakan model tersebut pada media. Salah satu minatan yang dapat menggunakan model agenda setting ini adalah PR atau Public Relations, selama penggunaannya sesuai dengan ruang lingkup Public Relations maka model tersebut dapat diaplikasikan. Berikut penjelasan tentang “Model Agenda Setting” yang tertulis dalam buku:

MODEL AGENDA SETTING

Teori Agenda Setting ditemukan oleh McComb dan Donald L. Shaw sekitar 1968. Teori ini berasumsi bahwa media mempunyai kemampuan mentransfer isu untuk mempengaruhi agenda publik. Khalayak akan menganggap suatu isu itu penting karena media menganggap isi itu penting juga (Griffin, 2003: 490). (h. 224)

Jadi, inti dari Agenda Setting ini adalah media dapat mentransfer isu untuk mempengaruhi khalayak. Diatas sudah dijelaskan bahwa, “….media memiliki kemampuan…..mempengaruhi…..”, itu berarti media benar-benar dapat mempengaruhi khalayak hanya dengan suatu isu yang dianggap media itu penting. Lalu bagaimana jika ada suatu isu yang menurut khalayak tidak terlalu penting, namun media tetap memberitakan isu tersebut? Jujur saja, ada banyak sekali isu yang media beritakan, namun isu tersebut tidaklah penting bagi sebagian khalayak, contohnya saja saya sebagai salah satu bagian dari khalayak. Saya tinggal di Madura, lebih tepatnya kabupaten Sampang. Ketika saya menonton berita, berita tersebut menyajikan tentang banjir yang terjadi di Jakarta. Bahkan berita tersebut ditampilkan lebih dari 2 hari, di hampir seluruh stasiun TV yang ada di Indonesia. Lalu, apa keuntungan yang saya dapatkan dari berita tersebut? Bahkan, tempat tinggal saya, setiap satu tahun sekali, terutama ketika musim hujan, selalu terjadi banjir. Dan terkadang, itu tidak diberitakan sama sekali oleh stasiun TV nasional. Meskipun banjir yang terjadi lebih dari 3 hari, sekalipun diberitakan oleh media, maka itu tidak lebih dari 30 menit, dan hanya ada satu stasiun TV nasional, dan beberapa stasiun lokal.

Tetapi, jika diperhatikan sampai sekarang, teori agenda setting ini benar-benar berpengaruh terutama di Indonesia. Dimana media benar-benar mengagendakan isu sedemikian rupa, memberitakannya di media, untuk di saksikan oleh khalayak seluruh Indonesia. Dari pengalaman saya sendiri sebagai contohnya. Ketika berbagai stasiun TV nasional memberitakan tentang banjir yang terjadi di Jakarta, orang-orang disekitar lingkungan saya terus membicarakan isu tersebut, seakan isu tersebut sangat penting untuk dibahas.

Kembali lagi pada materi dalam buku. Stephen W. Littlejohn & Karren Foss (2005: 280) mengutip Roger & Dearing mengatakan bahwa fungsi agenda setting merupakan proses linier yang berdiri dari tiga bagian. Pertama, Agenda Media itu sendiri harus disusun oleh awak media. Kedua, Agenda Media dalam beberapa hal mempengaruhi atau berinteraksi dengan Agenda Publik atau naluri publik terhadap pentingnya isu, yang nantinya mempengaruhi Agenda Kebijakan. Ketiga, Agenda Kebijakan (policy) adalah apa yang dipikirkan para pembuat kebijakan publik dan privat penting atau pembuatan kebijakan publik dianggap penting oleh publik. Karena itu, riset yang menggunakan model ini harus mengkaji ketiga hal tersebut. (h. 225)

Pada awal penjelasan, saya mengatakan bahwa model Agenda Setting ini bukan hanya dapat diaplikasikan pada minatan Massa. PR (Public Relations) pun dapat menggunakan model Agenda Setting selama pembahasannya masuh dalam ruang lingkup PR. Jadi apa alasan yang dapat menjadikan model Agenda Setting ini dapat diaplikasikan dalam PR?

Dalam buku “Public Relations Writing: Teknik Produksi Media Public Relations dan Publisitas Korporat, 2012, yang ditulis oleh Rachmat Kriyantono” terdapat sub-judul yang menjelaskan tentang Ruang Lingkup Pekerjaan Public Relations. Salah satu ruang lingkup tersebut yaitu, Point (a) Publication & Publicity, yaitu mengenalkan perusahaan kepada publik. Misalnya membuat tulisan yang disebarkan ke media, newsletter, artikel, dan lainnya. (h. 23, p. 3)

Jadi, dari penjelasan diatas, salah satu kajian dalam model Agenda Setting yaitu “Agenda Media…..mempengaruhi atau berinteraksi dengan Agenda Publik…., yang nantinya mempengaruhi Agenda Kebijakan…..dan Agenda Kebijakan adalah apa yang dipikirkan para pembuat kebijakan publik dan privat penting……” Dan dalam hal PR suatu Publication & Publicity merupakan salah satu ruang lingkup dari pekerjaan Public Relations. Bagaimana seorang PR dapat mengenalkan perusahaan yang dimilikinya kepada publik, bagaimana seorang PR dapat menyebarkannya dengan menggunakan media, maka PR dan Media dapat dianalisis menggunakan model Agenda Setting tersebut.

Lalu apa yang menjadi dimensi dari Agenda Media, Agenda Publik, dan Agenda Kebijakan dalam model Agenda Seeting tersebut? Berikut penjelasannya yang saya kutip dari buku Rachmat Kriyantono.

Werner Severin & James W. Tankard dalam buku Communication Theories, Origins, Methods, Uses in the Mass Media (2005) menyampaikan dimensi-dimensi tiga agenda diatas, yaitu:

1. Agenda Media, dimensi-dimensinya:
a. Visibilitas (visibility), yaitu jumlah dan tingkat menonjolnya berita.
b. Tingkat menonjol bagi khalayak (audience salience), yakni relevansi isi berita dengan kebutuhan khalayak.
c. Valensi (valence), yakni menyenangkan atau tidak menyenangkan cara pemberitaan bagi suatu peristiwa.

2. Agenda Publik, dimensi-dimensinya:
a. Keakraban (familiarity), yakni derajat kesdaran khalayak akan topik tertentu.
b. Penonjolan pribadi (personal salience), yakni relevansi kepentingan individu dengan ciri pribadi.
c. Kesenangan (favorability), yakni pertimbangan senang atau tidak senang akan topik berita.

3. Agenda Kebijakan
a. Dukungan (support), yakni kegiatan menyenangkan bagi posisi suatu berita tertentu.
b. Kemungkinan kegiatan (likelihood of action), yakni kemungkinan pemerintah melaksanakan apa yang diibaratkna.
c. Kebebasan bertindak (freedom of action), yakni nilai kegiatan yang mungkin dilakukan pemerintah.
Model alin yang lebih memfokuskan pada efek Agenda Media terhadap Agenda Publik yang disertai efek lanjutan pada diri individu dengan memperhatikan karakteristik individu. (h. 225-226)

Penjelasan selanjutnya tentang, bagaimana cara mengukur Agenda Media dan Agenda Publik tersebut:

Mengukur Agenda Media
Variabel media massa diukur melalui analisis isi kuantitatif. Analisis ini untuk menentukan ranking berita berdasarkan panjangnya (waktu dan ruang), penonjolan tema berita (ukuran headline, penempatannya, frekuensinya), konflik (cara penyajiannya). (h. 227)

Mengukur Agenda Publik
Variabel Agenda Publik (Khalayak) dapat diukur melalui beberapa cara:
a. Cara pertama dengan meminta self-report khalayak tentang topik-topik apa yang dianggap penting oleh responden (apa yang dikenal, dianggap menonjol, dan menjadi prioritas khalayak), baik itu berdasar komunikasi intrapersonal atau berdasarkan komunikasi interpersonal responden.
b. Cara kedua, responden diminta mengisis isu-isu apa yang penting ke dalam daftar isu-isu (topik-topik) yang disediakan peneliti.
c. Cara ketiga, variasi dari kedua teknik diatas. Responden diberikan daftar topik yang diseleksi peneliti dan responden diminta membuat urutan rankin mengenai penting tidaknya isu tersebut menurut persepsi responden.
d. Cara keempat, cara paired-comparison (berpasangan-perbandingan). Setiap isu yang diseleksi sebelumnya dipasangkan dengan setiap isu yang lain dan respon diminta mengenal setiap pasang dan mengidentifikasi isu mana yang lebih penting.
e. Sedangkan variabel antara dan efek lanjutan ini adalah variabel yang berpotensi mempengaruhi agenda publik. Sifat stimulus: jarak isu, apakah isu secara langsung atau tidak langsung dialami khalayak, aktualitas isu, kedekatan geografis, sumber berita (medianya kredibel atau tidak). Sifat khalayak: tingkat ekonomi, pendidikan dan lainnya. (h. 227-228)

Daftar Pustaka

Kriyantono, Rachmat. (2006). Teknik Praktis Riset Komunikasi: Disertai Contoh Praktis Riset Media, Public Relations, Advertising, Komunikasi Organisasi, Komunikasi Pemasaran. Jakarta: KENCANA
Kriyantono, Rachmat. (2012). Public Relations Writing: Teknik Produksi Media Publik Relations Dan Publisitas Korporat. Jakarta: KENCANA

Category: Catatan Kuliah

If Your Happy, and You Know It (Keep It Yourself)


Bagaimana perasaanmu, ketika orang-orang disekitar tidak terlalu memberi perhatian bahkan sedikit mempercayaimu, hanya karena kamu seorang yang pendiam? Bahkan mungkin sangat tertutup.

Ketika kita tidak terlalu diperhatikan, mungkin hal tersebut tidak menjadi sesuatu yang harus dikhawatirkan. Sekalipun kita tidak meminta perhatian itu, mereka akan memberikan perhatian kepada kita. Sedikit atau sebesar apapun perhatian tersebut tertuju kepada kita, orang-orang akan melakukannya secara langsung ataupun tidak langsung. Bahkan ketika kita berdiam diri.
Namun, bagaimana jika ‘pendiam’ tersebut membuat orang-orang disekitar tidak terlalu mempercayai apa yang kita katakan sedikitpun?

Dan apakah kamu termasuk orang yang akan berteman dengan orang ‘pendiam’?
Sangat suka?
Suka?
Cukup suka?
Tidak suka?
Atau sangat tidak suka?

to be continued…..

Category: The Story

Metode Penelitian Komunikasi Kuantitatif

1

Tulisan ini berisi hasil review saya terhadap buku “Teknik Praktis Riset Komunikasi: Disertai Contoh Praktis Riset Media, Public Relations, Advertising, Komunikasi Organisasi, Komunikasi Pemasaran, 2006, yang ditulis oleh Rachmat Kriyantono”. Tujuan review ini adalah untuk mendeskripsikan pengertian dari operasional; jenis-jenis penelitian; bagaimana cara meneliti; mengapa penting untuk diteliti; serta menjelaskan contoh yang telah diberikan sebagai contoh dalam penelitian.

1. Definisi Operasional

Saya menemukan bahwa Kriyantono (2006) menyatakan bahwa, “Sebuah konsep harus dioperasionalkan, agar dapat diukur. Proses ini disebut dengan operasionalisasi konsep atau definisi operasional.” (h. 26)

Dari penjelasan diatas, terdapat “sebuah konsep”. Kriyantono (2006) menyatakan, “Konsep adalah istilah yang mengekspresikan sebuah ide abstrak yang dibentuk dengan menggeneralisasikan objek atau hubungan fakta-fakta yang diperoleh dari pengamatan.” (h. 17)

Dari kedua definisi diatas, saya memahaminya bahwa seorang peneliti yang ingin melakukan penelitian harus terlebih dahulu memiliki sebuh konsep. Dengan adanya konsep tersebut, maka peneliti akan memiliki arah yang jelas tentang penelitian apa yang akan ia lakukan. Dalam sebuah penelitian, peneliti tidak akan selesai hanya dengan memiliki konsep saja. Butuh beberapa proses yang harus peneliti lakukan demi membuat hasil penelitiannya dapat diterima manfaatnya secara praktis dan teoritis, termasuk dalam hal melakukan operasionalisasi.

Dalam penelitian kuantitatif, data yang harus digunakan adalah data yang berupa angka. Dengan begitu, pendekatan yang digunakan dalam penelitian kuantitatif biasanya berupa pendekatan positivistik. Mengapa harus menggunakan pendekatan positivistik? Apakah dalam penelitian kuantitatif tidak bisa menggunakan pendekatan kontruktivis?

Pada pertemuan kuliah pertama, tanggal 17 February 2015, catatan saya berisikan bahwa, “Penelitian kuantitatif, biasanya merujuk pada data angka. Data angka tersebut dihasilkan melalui pendekatan positivistik. Sedangkan penelitian kualitatif, biasanya merujuk pada data yang berupa narasi. Dan data narasi ini, dihasilkan dari pendekatan kontruktivistik. Hal ini bukan berarti, dalam penelitian kuantitatif harus menggunakan pendekatan positivistik, dan tidak boleh menggunakan pendekatan kontruktivistik, atau sebalikanya. Namun, dalam suatu penelitian, pendekatan yang satu dan yang lain, dapat diseimbangkan. Agar menjadi suatu penelitian yang baik.”

2. Jenis – Jenis Penelitian

Saya menemukan bahwa Kriyantono (2006), membagi jenis penelitian berdasarkan tataran atau cara menganalisis data menjadi empat jenis sebagai berikut:

Jenis Eksploratif

Bungin (2001: 29) dalam Kriyantono (2006), menyatakan bahwa, “……Periset langsung terjun ke lapangan, semuanya dilaksanakan di lapangan. Rumusan masalah ditemukan di lapangan, data merupakan sumber teori, teori berdasarkan data sehingga teori juga lahir dan berkembang di lapangan. Bahkan periset tidak mempunyai konsep awal.” (h. 69)

Seperti yang saya dijelaskan pada awal, penelitian kualitatif merupakan penelitian yang akan menggunakan data berupa narasi. Jenis penilitian eksploratif ini bisa dikatakan sebagai penelitian dengan pendekatan kualitatif. Kenapa? Karena penelitian dengan jenis eksploratif akan menghasilkan data berupa narasi. Peneliti akan menceritakan atau mendeskripsikan penelitiannya dalam laporan. Membentuk dan/atau membangun teori baru yang sesuai dengan lapangan yang dijadikan lokasi penelitian.

Jenis Deskriptif

Kriyantono (2006) menyatakan bahwa, “Jenis riset ini bertujuan membuat deskripsi secara sistematis, faktual, dan akurat tentang fakta-fakta dan sifat-sifat populasi atau objek tertentu. Periset sudah mempunyai konsep……, periset melakukan operasionalisasi konsep yang akan menghasilkan variabel beserta indikatornya……” (h. 69)

Pada penjelasan diatas saya berpendapat bahwa, dalam penelitian yang menggunakan jenis deskriptif ini, maka penelitian yang di ambil merupakan penelitian kuantitatif. Peneliti akan mendeskripsi suatu konsep dan kerangka konseptual yang sudah dibutanya, dan mengoperasionalisasikan konsep tersebut, agar peneliti atau periset dapat memberikan batasan sampai mana penelitiannya akan berjalan.

Jenis Eksplanatif

Kriyantono (2006) menyatakan, “Periset menghubungkan atau mencari sebab akibat antara dua atau lebih konsep (variabel) yang akan diteliti. Periset membutuhkan definisi konsep, kerangka konseptual dan kerangka teori…..”

Jenis penelitian eksplanatif ini bisa dikatan sebagai penelitian yang menggunakan dua metode, yaitu kuantitatif serta kualitatif. Seperti yang sudah saya jelaskan sebelumnya, bahwa dalam suatu penelitian yang baik, penggunaan kuantitatif dan kualitatif dapat dikerjakan secara seimbang. Kuantitatif dengan data yang digunakan berupa angka (kuantitatif), akan dijelaskan secara narasi (kualitatif). Dan data yang berupa narasi tersebut, dapat ditunjukkan dengan menggunakan angka.

Jenis Evaluatif

Kriyantono (2006) menyatakan, “……Riset ini membutuhkan definisi konsep, kerangka konseptual, kerangka teori, operasionalisasi konsep, hipotesis, ukuran keberhasilan riset, dan rekomendasi……evaluasi sumatif adalah penelitian evaluasi setelah program berakhir dan evaluasi formatif dilakukan sewaktu program berjalan…..” (h. 69-70)

Pada penjelasan diatas, beberapa hal yang dibutuhkan oleh peneliti atau periset merupakan hal yang dibutuhkan dalam penelitian kuantitatif. Pertama, peneliti membutuhkan definisi konsep, yang menurut Kriyantono (2006), “Dalam tahapan riset, proses mengubah konsep menjadi konstruk disebut definisi konsep.” (h. 19)

Kedua, peneliti membutuhkan kerangka konseptual dan kerangka teori, agar peneliti dapat mengarahkan penelitiannya sesuai dengan manfaat yang akan peneliti berikan sesudah penelitian selesai. Ketiga, peneliti juga membutuhkan operasionalisasi konsep dan hipotesis, yang menurut Kriyantono (2006), “…..Dengan kata lain seorang periset akan berada pada tiga level, yaitu level konsep (suatu level yang meliputi perumusan masalah, kerangka teori, hingga perumusan hipotesis teoritis) dan level empiris (mencakup perumusan hipotesis riset atau operasional, dan analisis data) serta kembali ke level konsep (tahap kesimpulan)……” (h. 25)

3. Bagaimana Cara Meneliti

Bagaimana cara meneliti berbagai jenis penelitian, yaitu dengan melakukan beberapa proses yang sudah ditentukan. Dalam suatu penelitian, peneliti harus mengetahui dan/atau sudah memiliki konsep yang akan dijadikan penelitian. Mengapa konsep sangat dibutuhkan dalam suatu penelitian? Kriyantono (2006) menyatakan, “Pengetahuan tentang konsep sangat penting dipahami……dapat menyederhanakan proses riset dengan cara mengkombinasikan karakteristik-karakteristik teetentu,…..” (h. 18)

“Kedua, konsep menyederhanakan komunikasi di antara orang – orang………yang ingin berbagi pemahaman tentang kosep yang digunakan dalam riset. Periset menggunakan konsep untuk mengorganisasikan apa yang diamatinya ke dalam kesimpulan atau kategori yang bermakna…… Ketiga, sebagai dasar untuk membangun variabel maupun skala pengukuran yang akan digunakan….” (h. 18)

Setelah peneliti mandapatkan konsep apa yang akan menjadi bahan penelitiannya, selanjutnya peneliti membuat konsep tersebut menjadi konstruk. Kriyantono (2006) menyatakan, “Konstruk adalah konsep yang dapat diamati dan diukur atau memberikan batasan pada konsep……” (h. 19)

Tujuan dari adanya konstruk ini, adalah menyempitkan kembali konsep yang sudah dimiliki oleh peneliti. Biasanya konsep yang sudah di konstruk akan lebih spesifik dalam pengambilan data berikutnya.

Selanjutnya ada variabel. Mayer, dalam Kriyantono (2006), “Variabel sebenarnya adalah konsep dalam bentuk konkret atau konsep operasional. Suatu variabel adalah konsep tingkat rebdah, yang acuan-acuannya secara relatif mudah diidentifikasikan dan diobservasikan serta mudah diklasifikasi, diurut atau diukur. Jadi, variabel adalah bagian empiris dari sebuah konsep atau konstruk.” (h. 20)

Setelah adanya konsep, konstruk, serta variabel, peneliti tidak akan berhenti sampai disini. Seperti yang digambarkan di halaman 25 tentang tahapan riset, maka peneliti berada pada tiga level, yaitu level konsep, level empiris, dan kembali pada level konsep yang nantinya akan menghasilkan suatu kesimpulan dari penelitian.

4. Mengapa Penting Untuk Diteliti

Semua penelitian penting untuk diteliti. Tidak hanya secara sadar, terkadang secara tidak sadar pun, penelitian akan selalu terjadi. Karena “riset merupakan proses penyelidikan secara hati – hati, sistematis dalam mencari fakta dan prinsip – prinsip suatu penyelidikan yang cermat guna menetapkan suatu keputusan yang tepat.” (h. 2)

Suatu penelitian dilakukan sesuai dengan kebutuhan dari peneliti. Biasanya setiap orang memiliki kebutuhan yang berbeda-beda sesuai dengan kemampuan peneliti. Dari kemampuan ini, peneliti juga harus melihat apa yang dapat peneliti lakukan setelah penelitian yang dilakukannya selesai. Apakah peneliti akan berhenti atau akan menggunakan hasil penelitiannya sebagai suatu manfaat yang dapat digunakan di kemudian hari atau dapat diterapkan dalam kehidupan peneliti.

Seperti yang saya jelaskan sebelumnya, bahwa suatu penelitian dilakukan diharapkan agar penelitian tersebut dapat menjadi manfaat secara teoritis ataupun praktis. Suatu penelitian bermanfaat secara teoritis atau akademik jika, penelitiannya atau pemikirannya tersebut dapat dimanfaatkan oleh orang lain, seperti menjadi rujukan atau referensi untuk penelitian selanjutnya. Penelitian dapat bermanfaat secara praktis, jika penelitian tersebut dapat diaplikasikan dan bermanfaat untuk kehidupan peneliti atau kehidupan dilingkungannya.

5. Contoh Riset

Masalah : “APAKAH ADA HUBUNGAN ANTARA SIKAP PEMILIH PEMULA TERHADAP PARPOL DENGAN SIKAP ORANG TUA TERHADAP PARPOL?”
Instrumen : Sikap orang tua saya terhadap parpol?
a. SS
b. S
c. CS
d. TS
e. STS
Sampel : dipilih 100 siswa SMU

Dari riset yang diberikan diatas, riset tersebut tidaklah valid. Mengapa riset diatas tidak valid? Karena, pada instrumen dinyatakan sikap orang tua. Sedangkan sampel yang diambil adalah siswa SMU. Seharusnya jika instrumen menggunakan sikap orang tua, maka sampel yang harus digunakan adalah dengan “dipilih 100 orang tua”.

Secara keseluruhan, saya dapat memahami materi – materi yang ada dalam buku tersebut. Buku ini sangat membantu dalam memahami penelitian lebih baik lagi. Referensi yang digunakan dalam buku ini juga berasal dari para pakar komunikasi yang sudah banyak memberikan bagian penting dalam komunikasi.

DAFTAR PUSTAKA
Kriyantono, Rachmat. (2006). Teknik Praktis Riset Komunikasi: Disertai Contoh Praktis Riset Media, Public Relations, Advertising, Komunikasi Organisasi, Komunikasi Pemasaran. Jakarta: KENCANA

Category: Catatan Kuliah

Q-1


Ketika kita membuat rencana untuk menjadikan suatu hal berjalan dengan ‘sempurna’, di waktu itulah terkadang kita sendiri yang membuatnya sedikit kacau
Tetapi bisa saja kekacauan itu bukan seluruhnya kesalahan dari kita
Kita hanya ingin menunjukkan kerja keras kita, memberikan penampilan yang terbaik, walaupun itu sedikit menyakitkan dan melelahkan
Tapi, itulah kami
Memberikan kalian semua sebuah kesenangan ^_^
*NFF

Category: My Quotes

Komunikasi Antar Budaya


Komunikasi Antar Budaya???
Ketika pertama kali mendengar ‘Komunikasi Antar Budaya’, saya langsung memaknainya sebagai suatu komunikasi yang terjadi antara dua orang atau lebih yang memiliki budaya yang berbeda.
Dan ternyata……itu benar ^_^ hahaha

Pertama, dalam SIAM keterangannya bukan ‘Komunikasi Antar Budaya’, tetapi ‘Komunikasi Lintas Budaya’. Akan tetapi, dalam pertemuan kuliah pertama yang membahas RPKPS, dosen mengatakan bahwa, “Lintas Budaya itu terlalu luas. Jadi untuk pertemuan selanjutnya, atau ketika kalian berbicara tentang mata kuliah ini, sebaiknya kalian menggunakan kalimat ‘Komunikasi Antar Budaya (KAB)’ bukan ‘Komunikasi Lintas Budaya (KLB)’”. Semenjak itu, saya dan mahasiswa/i lain terbiasa mengatakan KAB. :D curhat

Jadi semester yang lalu saya mendapat tugas untuk mendiskripsikan apa itu ‘Komunikasi Antar Budaya’. Tetapi saya lupa menyertakan keterangan referensinya :( maafkan saya :(

Dalam buku tersebut menjelaskan bahwa, “Komunikasi antar budaya akan terjadi apabila, komunikator dan komunikan berasal dari budaya yang berbeda. Komunikasi berhubungan dengan perilaku manusia dan kepuasan terpenuhinya kebutuhan berinteraksi dengan manusia-manusia lainnya. Tujuan dalam mempelajari komunikasi antarbudaya adalah untuk mengembangkan keterampilan-keterampilan yang kita terapkan dengan sengaja. Terdapat 8 unsur khusus komunikasi dalam konteks komunikasi sengaja, yaitu:

1. sumber (source);
2. penyandian (encoding);
3. pesan (message);
4. saluran (channel);
5. penerima (receiver);
6. penyandian balik (decoding);
7. respon penerima (receiver response);
8. umpan balik (feedback)

Budaya berkenaan dengan cara manusia hidup. Manusia belajar berpikir, merasa, mempercayai dan melakukan tindakan sesuai dengan budaya yang ada. Budaya dan komunikasi tidak dapat dipisahkan, karena budaya tidak hanya menentukan siapa bicara dengan siapa, tentang apa, dan bagaimana orang menyandi pesan, makna yang ia miliki untuk pesan, dan kondisi-kondisinya untuk mengirim, memperhatikan dan menafsirkan pesan. Budaya merupakan landasan komunikasi. Bila budaya beraneka ragam, maka beraneka ragam pula praktik-praktik komunikasi.”

Jadi, inti dari Komunikasi Antar Budaya itu sama seperti yang dikatakan saya pada awal. Komunikasi yang terjadi antara dua orang yang berbeda latar belakang budaya.

Category: Catatan Kuliah