Interaksionisme Simbolik


Pertama kali mendengar “Interaksionisme Simbolik” , saya langsung mempersepsikan, interaksi yang terjadi karena adanya simbol. Dimana sebenarnya saya juga, sedikit aneh dengan kata “interaksi”. Jujur saja, saya tidak terlalu pandai berinteraksi dengan baik, terutama dengan lingkungan yang baru. Butuh waktu berbulan-bulan, untuk dapat berinteraksi dengan teman-teman baru. Apalagi, dengan teman yang berasal dari luar lingkungan saya sebelumnya. Dan itu sangat membuat saya marah pada diri sendiri. :D

Sebenarnya apa itu Interaksionisme Simbolik? , saya juga kurang memahaminya secara keseluruhan. Dalam buku yang saya baca, Interaksionisme Simbolik termasuk dalam Tradisi Sosiokultural. Karena ada kata “Sosiokultural” , apakah ini berarti interaksionisme simbolik ada setelah penelitian dari berbagai kultural yang ada? Apa dasar dari penemu perspektif ini? Apa kegunaan dari perspektif ini, setelah kita mempelajarinya?. 2 semester menjalani perkuliahan, dan sekarang saya diharuskan mengetahui apa itu interaskionisme simbolik. Walaupun tidak terlalu mengerti, saya akan mencoba mem-publish nya menurut pemahaman sendiri dan menurut buku. :D Hitung-hitung belajar publhising, walaupun sudah terlambat :D

Dalam buku TEORI KOMUNIKASI : Theories of Human Communication Edisi 9, yang ditulis oleh STEPHEN W. LITTLEJOHN dan KAREN A. FOSS , interaksionisme simbolik menjelaskan proses dimana diri sendiri dikembangkan. Interaksionisme simbolik, sebuah pergerakan dalam sosiologi, berfokus pada cara-cara manusia membentuk makna dan susunan dalam masyarakat melalui percakapan. George Herbert Mead adalah perdiri gerakan interaksionisme simbolik dari Chicago School. Herbert Blumer (yang merupakan murid Mead), menemukan istilah interkasionisme simbolik, sebuah pernyataan yang Mead sendiri belum pernah menggunakannya. Blumer menyebut ini sebagai “Sebuah kata baru yang sedikit kejam yang saya ciptakan begitu saja……Istilah tersebut tiba-tiba saja datang.” Ketika baca kalimat ini, berasa sedikit menggelikan. Bayangkan saja, ketika kita sedang konsentrasi dan fokus untuk membuat sebuah judul penelitian. Berhari-hari, atau mungkin berbulan-bulan menghabiskan waktu dan tenaga, untuk mendapatkan sebuah judul, dan tiba-tiba ada ilham yang datang dari Tuhan, dan kita langsung mengucapkannya begitu saja. Semacam karunia yang luar biasa :) OK….lupakan 2 kalimat akhir. :D

Selanjutnya, dalam buku ini, disebutkan juga tiga konsep utama dalam teori Mead, yaitu masyarakat, diri sendiri, dan pikiran. Tiga konsep ini, diambil dari judul karya Mead yang paling terkenal. Kategori-kategori ini merupakan aspek-aspek yang berbeda dari proses umum yang sama yang disebut tindak sosial . Dalam bentuknya yang paling mendasar, sebuah tindak sosial melibatkan sebuah hubungan dari tiga bagian: gerak tubuh, respon, dan sebuah hasil. Makna tidak semata-mata terletak dalam setiap hal ini, tetapi dalam hubungan ketiga hal tersebut. Donald Ellis menuliskan, “Bahwa topik-topik utama dari sosiologi (misalnya etnis) tidak pernah benar-benar dilihat, tetapi ada di dalam dan hidup melalui kegiatan-kegiatan individu dalam situasi-situasi kecil.” Bahkan, dalam pola kelompok yang selalu berulang, tidak ada yang kekal. Setiap hal harus dimulai lagi dari awal dengan tindakan individu. Tidak peduli seberapa kokohnya sebuah tindakan kelompok, tindakan tersebut masih berakar dalam pilihan-pilihan individu manusia: “Ini merupakan proses sosial dalam kehidupan kelompok yang menciptakan dan menjunjung tinggi aturan-aturan, bukan sebaliknya.” Interhubungan dapat diserap, diperluas, dan dihubungkan melalui jaringan yang rumit: “Sebuah jaringan atau sebuah institusi tidak bekerja secara otomatis karena adanya beberapa persyaratan sistem atau dinamika pada bagian dalamnya:……….apa yang mereka lakukan merupakan sebuah hasil dari bagaimana mereka menjelaskan situasi yng meminta mereka untuk bertindak.”

Masyarakat (society) atau kehidupan kelompok, terdiri atas perilaku-perilaku kooperatif anggota-anggotanya. Makna merupakan sebuah hasil komunikasi yang penting. Pemaknaan kita merupakan hasil dari interaksi dengan orang lain. Kita menggunakan makna untuk menafsirkan kejadian-kejadian di sekitar kita. Penafsiran itu seperti percakapan internal: “Pelaku memilih, memeriksa, menahan, menyusun kembali, dan mengubah makna untuk mengetahui situasi dimana ia ditempatkan dan arah dari tindakan-tindakannya.” Kita tidak dapat berkomunikasi tanpa berbagi makna dari simbol-simbol yang kita gunakan. Mead menyebutkan gerak tubuh sebagai simbol signifikan. Disini, kata gerak tubuh (gestures) mengacu pada setiap tindakan yang dapat memiliki makna, bersifat verbal, atau non-verbal. Dikalimat ini saya kurang mengerti -_- , “Ketika ada makna yang dibagi, gerak tubuh menjadi nilai dari simbol yang signifikan.” Masyarakat ada karena ada simbol-simbol yang signifikan. Masyarakat terdiri atas sebuah jaringan interaksi sosial dimana anggota-anggotanya menempatkan makna bagi tindakan mereka dan tindakan orang lain dengan menggunakan simbol-simbol.

Kegiatan saling memengaruhi antara merespons pada orang lain dan diri sendiri ini adalah sebuah konsep penting dalam teori Mead dan hal ini memberikan peralihan yang baik ke konsep keduanya — diri. Dikalimat ini, saya harus membacanya berkali-kali -_- Cara utama kita dapat melihat diri kita seperti orang lain melihat kita adalah melalui pengambilan peran atau menggunakan sudut pandang orang lain dan inilah yang menyebabkan kita memiliki konsep diri. Generalized others atau refleksi umum orang lain, semacam gabungan sudut pandang yang memandang diri kita sendiri. Refleksi umum orang lain merupakan keseluruhan persepsi kita dari cara orang lain melihat kita. Diri memiliki dua segi, I adalah bagian diri kita yang menurutkan kata hati, tidak teratur, tidak terarah, dan tidak dapat ditebak. Me adalah refleksi umum orang lain yang terbentuk dari pola-pola yang teratur dan tetap, yang dibagi dengan orang lain. Setiap tindakan dimulai dengan sebuah dorongan dari I dan selanjutnya dikendalikan oleh Me. Mead menggunakan konsep me untuk menjelaskan perilaku yang dapat diterima secara sosial serta adaptif dan konsep I untuk menjelaskan gerak hati yang kreatif dan tidak dapat ditebak.

Kemampuan kita untuk menggunakan simbol-simbol yang signifikan untuk merespon pada diri kita sendiri menjadikan berpikir adalah sesuatu yang mungkin. Pikiran bukanlah sebuah benda, tetapi merupakan sebuah proses. Hal ini tidak lebih dari sekedar berinteraksi dengan diri kita sendiri. Kemampuan ini, yang berkembang sejalan dengan diri kita sendiri, sangat penting bagi kehidupan manusia karena merupakan bagian dari setiap tindakan manusia. Berpikir melibatkan keraguan (menunda tindakan yang jelas) ketika kita menafsirkan situasi. Disini, kita berpikir melalui situasi dan merencanakan tindakan selanjutnya. Kita membayangkan beragam hasil dan memilih serta menguji alternatif-alternatif yang mungkin ada. Manusia menggunakan simbol-simbol yang berbeda untuk menamai objek. Kita selalu mengartikan sesuatu berhubungan dengan bagaimana kita bertindak terhadap hal tersebut. Objek menjadi objek melalui proses pemikiran simbolis kita; ketika kita membayangkan tindakan yang baru atau yang berbeda terhadap sebuah objek, objek itu sendiri berubah karena kita melihatnya melalui sudut pandang yang berbeda pula. Bagi Blumer, objek terbagi ke dalam tiga jenis: fisik (benda-benda), sosial (manusia), dan abstrak (gagasan-gagasan). Manusia mendefinisikan objek secara berbeda, bergantung bagaimana mereka bertindak terhadap objek tersebut.

Berhubung materi ini hanya berasal dari satu sumber, hasilnya pun tidak terlalu sempurna, karena kesempurnaan hanya milik Tuhan. Walaupun masih banyak pertanyaan yang bertebaran, sedikit demi sedikit akan saya cari jawabannya :D

Category: Catatan Kuliah

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

CAPTCHA Image

*

You may use these HTML tags and attributes: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>