Blog What I Thought

Blog mahasiswa Universitas Brawijaya

Dampak Lempeng Tektonik bagi Wilayah Jakarta

Dampak Pergerakan Lempengan Tektonik dan Penjelasannya Setengah abad lalu, para ahli geologi dan geofisik membuktikan bahwa lapisan kerak Bumi atau litosfir terdiri dari puluhan lempengan besar dan kecil yang mengambang pada cairan magma. Lapisan kerak Bumi yang ketebalannya rata-rata 100 kilometer itu bergerak saling menjauh, atau saling mendekat dan tidak jarang bertabrakan. Apa yang terjadi jika dua atau lebih lempeng tektonik bertumbukan ?.

Dalam waktu singkat memang sulit melihat dampaknya. Karena lempeng tektonik itu bergerak dalam kecepatan amat lambat, yakin hanya beberapa sentimeter setahunnya. Para ahli geologi dari pusat penelitian Geomar di Universitas Kiel Jerman, yang meneliti tumbukan lempeng Cocos dan lempeng Karibia di Costa Rica melaporkan beberapa bukti baru.

Dengan metode pengukuran geofisik, untuk pertama kalinya dibuktikan, bahwa lempengen tektonik ketika menumbuk lempeng kontinen, mengikis material dari lapisan bawah lempeng kontinen. Lempeng tektonik Cocos yang berat jenisnya lebih kecil dari lempeng kontinen Karibia, menyusup miring ke bawah lempeng kontinen. Tumbukan ini disebut subduksi. Dampak timbal balik dari subduksi pada kedalaman lebih dari 100 kilometer itu, terlihat sepanjang puluhan kilometer di atas permukaan.

Yakni dalam bentuk rangkaian pegunungan berapi, akibat meleburnya batuan, cairan dan gas di zone subduksi tadi. Juga kawasan tumbukan semacam itu merupakan kawasan pusat kegempaan dunia. Yang lebih dramatis lagi pada zone subduksi di Costa Rica, adalah munculnya palung sedalam rata-rata 4.000 meter dan pegunungan di laut dalam.

Lempeng tektonik Cocos menabrak frontal lempeng kontinen Karibia dengan kecepatan 9 sentimeter per tahun. Kapal penelitian Jerman, Sonne berhasil mengukur kontur pegunungan di laut dalam itu. Lebarnya antara 10 sampai 20 kilometer dan tinggi pegunungannya antara 1000 sampai 2500 meter. Semuanya berada di bawah permukaan laut, dan menunjukan aktifitas subduksi lempeng tektonik. Di pinggiran zone tumbukan, para ahli menemukan sedimen batuan lunak.

Namun ketika tumbukan mencapai zone inti kontinen, yang terdiri dari batuan keras, tidak ditemukan kondisi dramatis seperti diperkirakan semula. Akibat tekanan amat besar di zone tumbukan itu, muncul cairan yang berfungsi seperti pelumas. Dengan demikian deformasi dan erosi batuan tidak sehebat yang diduga, karena adanya efek pelumasan tadi.

Akan tetapi sedimen dari dasar lautan ditekan naik sampai ke puncak gunung di bawah laut dan pecah di sana. Juga lapisan di bawah lempeng kontinen, digerus hebat oleh subduksi lempeng Cocos tsb. Hasil erosinya tertekan ke atas permukaan membentuk sedimen batuan muda di sepanjang zone subduksi. Yang lebih menarik lagi, pengukuran menggunakan sonar di kawasan subduksi ini menemukan lensa batuan raksasa sepanjang 15 kilometer selebar 1,5 kilometer.

Para ahli bertanya-tanya dari mana asal lensa raksasa ini. Banyak teori subduksi yang tidak cocok diterapkan untuk menerangkan fenomena tsb. Lempeng Tektonik adalah setruktur dan bentuk bumi khususnya susunan batuan yang membentuk benua, pulau ataupun gunung. Pulau atau benua pada dasarnya ditopang oleh sebuah plat atau landasan yang kuat ke dasar bumi yang sebagian besar tertutup oleh lautan. Tiap pulau atapun benua memiliki pelat atau landasan yang masing-masing berdiri sendiri atau bersamaan, dan pelat ini setiap saat bergeser sedikit demi sedikit kearah tertentu.

Kalau seandainya ribuan tahun silam permukaan bumi telah digambarkan pada atlas atau peta, maka gambaran pada atlas tersebut tidaklah sama dengan keadaan permukaan bumi saat ini. Pelat-pelat yang bergeser ini memicu timbulnya pelat baru karena keretakan dan juga dapat membentuk sungai bawah tanah dan sungai bawah laut (Palung) karena pelat yang bergeser saling menjauhi. Pergeseran pelat tersebut membentuk garis yang disebut garis tektonik, dan di Indonesia merupakan ujung dari pertemuan dua garis tektonik besar didunia. Gempa bumi yang sering terjadi di berbagai belahan dunia lebih sering disebabkan oleh pergeseran pelat tektonik ini. Misalnya gempa yang terjadi di Samudra Hindia (gempa Aceh) tersebut berkaitan dengan deformasi mendadak antara pelat Hindia dan pelat Burma disekitar palung sunda.

Dalam penyelidikan, Deformasi mendadak antara kedua pelat tersebut mengakibatkan pergeseran spontan secara vertikal sekitar 10 meter antara pelat India dengan Pelat Burma serta pergeseran secara horisontal saling menjauh sepanjang 15 meter yang terjadi pada kedalaman 1.200 km dibawah permukaan laut. Kejadian ini juga menimbulkan gempa bumi bawah laut sedalam 30 km dengan magnitudo 9 skala richter, dan menyebabkan air laut disekitar epicenter turun mendadak sehingga kemudian menimbulkan tsunami yang menyebar 360º dari epicenter gempa. Pergeseran plat tektonik (lempeng tektonik) tidak hanya dapat menimbulkan gempa bumi, akan tetapi juga pergerakan cairan panas didalam bumi yang akhirnya juga akan mempengaruhi aktivitas vulkanik di muka bumi. Secara umum, penelitian zone subduksi di Costa Rica berhasil menghimpun data perubahan sifat material akibat penujaman dua lempeng tektonik, serta mekanisme perpindahan fluida di dalam inti Bumi. Yang lebih penting lagi adalah diperolehnya pengetahuan mengenai gerakan material di kawasan subduksi, yang mempengaruhi munculnya gempa besar. Sejak lama para ahli geofisik memang meneliti fenomena gempa hebat di kawasan Pasifik dan Laut Tengah.

Mengapa di kedua kawasan itu seringkali dilepaskan energi seismik amat dahsyat. Selain itu para ahli juga hendak meneliti fenomena Tsunami. Karena tidak semua gempa hebat di zone subduksi memicu munculnya tsunami atau gelombang pasang akibat gempa. Semakin tinggi resolusi data refleksi seismiknya, ditunjang semakin tinggi kinerja komputer untuk menganalisisnya, semakin banyak rincian data yang diperoleh para ahli. Tujuan para ahli terus meneliti sifat pergerakan lempeng tektonik ini adalah untuk mengenal mekanismenya. Sasarannya adalah untuk membuat pra-kiraan terjadinya bencana alam, khususnya gempa bumi dan aktivitas gunung api. Namun penelitian ilmiah semacam itu memang tidak menarik secara ekonomis. Para peneliti geofisik pergerakan lempeng tektonik menyebutkan, peralatan standar maupun metode yang diterapkan, amat jauh ketinggalan dibanding metode dan peralatan yang digunakan industri minyak multinasional.

Lempeng Tektonik di Jakarta

Lempeng Indo-Australia bertabrakan dengan lempeng Eurasia di lepas pantai Sumatra, Jawa dan Nusatenggara, sedangkan dengan Pasific di utara Irian dan Maluku utara. Di sekitar lokasi pertemuan lempeng ini akumulasi energi tabrakan terkumpul sampai suatu titik dimana lapisan bumi tidak lagi sanggup menahan tumpukan energi sehingga lepas berupa gempa bumi. Pelepasan energi sesaat ini menimbulkan berbagai dampak terhadap bangunan karena percepatan gelombang seismik, tsunami, longsor, dan liquefaction. Besarnya dampak gempa bumi terhadap bangunan bergantung pada beberapa hal; diantaranya adalah skala gempa, jarak epicenter, mekanisme sumber, jenis lapisan tanah di lokasi bangunan dan kualitas bangunan.

Teori tektonika Lempeng (bahasa Inggris: Plate Tectonics) adalah teori dalam bidang geologi yang dikembangkan untuk memberi penjelasan terhadap adanya bukti-bukti pergerakan skala besar yang dilakukan oleh litosfer bumi. Teori ini telah mencakup dan juga menggantikan Teori Pergeseran Benua yang lebih dahulu dikemukakan pada paruh pertama abad ke-20 dan konsep seafloor spreading yang dikembangkan pada tahun 1960-an.

Bagian terluar dari interior bumi terbentuk dari dua lapisan. Di bagian atas terdapat litosfer yang terdiri atas kerak dan bagian teratas mantel bumi yang kaku dan padat. Di bawah lapisan litosfer terdapat astenosfer yang berbentuk padat tetapi bisa mengalir seperti cairan dengan sangat lambat dan dalam skala waktu geologis yang sangat lama karena viskositas dan kekuatan geser (shear strength) yang rendah. Lebih dalam lagi, bagian mantel di bawah astenosfer sifatnya menjadi lebih kaku lagi. Penyebabnya bukanlah suhu yang lebih dingin, melainkan tekanan yang tinggi.

Lapisan litosfer dibagi menjadi lempeng-lempeng tektonik (tectonic plates). Di bumi, terdapat tujuh lempeng utama dan banyak lempeng-lempeng yang lebih kecil. Lempeng-lempeng litosfer ini menumpang di atas astenosfer. Mereka bergerak relatif satu dengan yang lainnya di batas-batas lempeng, baik divergen (menjauh), konvergen (bertumbukan), ataupun transform (menyamping). Gempa bumi, aktivitas vulkanik, pembentukan gunung, dan pembentukan palung samudera semuanya umumnya terjadi di daerah sepanjang batas lempeng. Pergerakan lateral lempeng lazimnya berkecepatan 50-100 mm/a

Analisis Kasus Longsor di Agam

Longsor di Agam, 11 Tewas, 9 Hilang

Banjir Bandang Hantam Malalak

 Padang Ekspres • Senin, 28/01/2013 11:01 WIB • GUSTI AYU GAYATRI & YUHARNEL • 1844 klik

Kampung Dadok, Kenagarian Sungai Batang rata dengan tanah usai dihondoh longsor

Agam, Padek—Hujan yang mengguyur Kabupaten Agam sepanjang Sabtu (26/1) sore hingga malam, me­­nye­babkan longsor di Kampung Dadok, Kena­ga­rian Sungai Batang, Keca­matan Tanjungraya, Ming­­gu­ ( 27/1) sekitar pukul 05.30 WIB. Longsor me­nim­bun 12 unit rumah yang dihuni 28 jiwa. Se­be­las orang dilaporkan tewas, 9 hilang, dan 8 orang selamat.

 

Tim Search and Rescue (SAR) bersama Badan Pe­nang­gulangan Bencana Daerah (BPBD) Agam akan me­lanjutkan pencarian korban, pagi ini.

 

Pemerintah Kabupaten (Pem­­kab) Agam menetapkan status tang­gap darurat selama tujuh hari.

 

Jasad korban pertama kali di­temukan pukul 11.00, yakni Nur­sinah, 65, Martini, 60, Tara­judin, 65, Asril St Nurdin, 68, Ju­lianti, 26, dan Aldi, 9. Pada pukul 16.00 WIB, tim evakuasi berhasil me­ngevakuasi Rosda, 55. Ter­ak­hir, pada pukul 17.30 WIB, tim eva­­kuasi berhasil menemukan em­­pat jenazah lainnya; Indah, 9, Di­la, 8, Erni Astuti, 38, Juliardi, 25.

 

Seluruh korban ditemukan ter­timbun longsor. Pencarian kor­ban dihentikan pada pukul 17.45. Isak tangis keluarga kor­ban pecah saat melihat ang­gota ke­luarganya dimasukkan ke kan­tong mayat.

”Dua rumah di antaranya tak ber­­penghuni,” kata Kepala Pe­lak­­sana Badan Penang­gulangan Ben­cana Daerah (BPBD) Agam, Bambang Warsito.

 

Sekadar diketahui, Kam­pung Dadok, Jorong Tanjung­sa­ni ada­lah zona merah alias rawan ben­cana. Gempa tahun 2009, dae­rah ini juga ditimbun long­sor. Mujur tak ada korban jiwa saat itu.

 

Tim evakuasi dari SAR gabu­ngan BPBD Agam, TNI, Polri, PMI, Tagana, Basarnas serta BPBD dari Bukittinggi, Padang­pan­jang, Pariaman, Padang, So­lok Selatan, serta BPBD Sum­bar melakukan penggalian secara paralel menggunakan alat berat. Polres Agam juga mengerahkan dua ekor anjing pelacak untuk mem­bantu evakuasi.

 

“Evakuasi cukup sulit dilaku­kan, karena jalan menuju ke lo­kasi bencana, berat. Korban yang ditemukan dalam keadaan ter­timbun, kemungkinan se­dang tertidur,” tambah Bam­bang.

 

Pantauan Padang Ekspres di lokasi kemarin, masyarakat berbondong-bondong melihat proses evakuasi korban meski jalan menuju lokasi terjal. Jarak antara jalan raya Lubukbasung ke lokasi longsor sekitar 5 km.

 

Kendaraan roda dua dan roda empat baru bisa masuk ke lo­kasi, setelah satu unit ekska­va­tor dikerahkan untuk mem­ber­sihkan material longsor yang me­nutupi jalan menuju lokasi ben­cana. Jalan baru bisa dilewati ken­daraaan pada pukul 12.15. Un­tuk bisa menembus ke lokasi d­­e­ngan berjalan kaki, dibutuh­kan waktu hampir dua jam.

 

Asnidar, saksi mata, menu­tur­kan, musibah tersebut terjadi se­kitar pukul 05.15.  Kala itu, dia ba­ru usai Shalat Subuh. Tiba-tiba saja, ia merasakan ada  ge­taran kuat, lebih dahsyat dari gempa 2009. “Saya merasakan ru­m­ah saya terangkat. Saya lang­sung ambil anak saya dan ber­lari ke luar rumah dalam ke­ada­an gelap gulita. Dari arah bela­kang rumah, saya mende­ngar je­ritan minta tolong. Saya tak be­rani melihatnya karena takut long­sor susulan,” ucapnya.

 

Paginya, Asnidar kaget me­nyak­sikan rumah tetang­ganya telah rata dengan tanah. “Posisi ru­mah saya memang di keting­gia­n, dibanding 12 rumah yang ter­timbun itu,” ujar ibu dua anak itu.

 

Korban lainnya yang sela­mat, Mariani, 52, menceri­takan, saat itu sedang memasak di da­pur. Tiba-tiba terdengar suara ge­muruh dari arah perbukitan. T­a­pi, Mariani tetap terus mema­sak. Dia baru kaget ketika rumah ka­yu­nya bergetar. “Saya lang­sung membangunkan suami dan anak-anak. Rumah sudah ber­­guncang. Kami langsung ke luar rumah,” kata Mariani, ber­syukur dia sekeluarga selamat.

 

Korban selamat lainnya, Nur­hayati, 50, tidak kalah trau­ma­nya. Bagaimana tidak, dia harus kehila­ngan anak, menantu dan tiga cucunya. Hingga kema­rin, belum satu pun jasad keluar­ga­nya dite­mukan. Rumah Nur­ha­yati berada 300 meter terpi­sah dari rumah anak, menan­tu dan cucunya di lokasi longsor. Be­gitu mendengar teriakan long­sor, Nurhayati berge­gas me­nuju rumah anaknya. Na­mun na­has, rumah anaknya su­dah rata dengan tanah.

 

Anto, 31, korban lainnya, kemarin siang dirujuk ke RSUP M ­Djamil. Korban menderita ce­dera kepala, patah di lengan ka­nan dan luka lebam.

 

Wali Nagari Sungai Batang, Ah­sin Dt Bandaro Kayo menye­but­kan, banyaknya korban jiwa ka­rena masih tertidur lelap. “Kor­ban meninggal telah disha­lat­kan dan dimakamkan,” ujarnya.

 

Efek Gempa 2009

 

Manager Pusdalops Penang­gu­la­ngan Bencana BPBD Sum­bar, Ade Edwar menga­takan, lo­k­asi longsor adalah zona me­rah. “Lokasi tersebut bukan tempat hu­nian layak bagi masyarakat. Gem­pa 2009 lalu, juga longsor di sana. Pemerintah sudah be­ren­cana memindahkan warga di salingka Danau Maninjau, tapi lokasi pemindahan hingga kini belum ada. Longsor di Kampung Dadok, masih efek dari gempa 30 September 2009,” katanya.

 

Atas musibah itu, Pemkab Agam menetapkan tanggap da­rurat selama tujuh hari. “Hari per­­tama, kami akui proses eva­kua­­si belum maksimal. Pada hari kedua ini, proses evakuasi akan lebih maksimal. Bantuan kini telah mulai mengalir. Supa­ya lebih terarah, kami akan buat nan­ti satu komando untuk dis­tri­bus­i bantuan,” ujar Kabid Ke­darurutan BPBD Agam, Ri­naldi.

 

Data BPBD Agam, tujuh mo­tor juga tertimbun. Longsor juga mengakibatkan padi seluas tiga hektare, jagung 1 haktare dan kasang tanah 1 haktere ter­timbun. Diperkirakan keru­gian mencapai Rp 500 juta lebih. Longsor dipicu hujan deras yang mengguyur Agam selama tiga hari berturut-turut.

 

Jalan Sicincin-Malalak Putus

 

Masih di Agam, galodo meng­­­­­hantam Malalak, Keca­ma­tan Simpang Ampek Koto. Pu­lu­han rumah masyarakat te­ren­dam. Banjir bandang tak hanya me­­nerj­ang permukiman masya­ra­­kat, namun juga merusak me­ru­sak 10 hektare sawah, meng­ha­nyutkan dua sepeda motor dan beberapa ternak.

 

Darmeli, 53, meng­ung­kap­kan, banjir ban­dang terjadi Sab­tu (26/1), sekitar pukul 21.00. “Saat kejadian, saya habis Shalat Isya. Tiba-tiba terde­ngar suara ge­muruh dari bela­k­ang rumah. Setelah saya lihat, ternyata air se­tinggi empat meter menerjang ru­mah warga di sepanjang Ba­tang Sungai Simpang Mala­lak,” tutur Yuli­mar, 52, warga lainnya.

 

Camat Ampekkoto, Herman me­ngatakan masih mendata jum­lah korban dan kerugian. “In­formasi yang saya dapatkan, ha­­nya satu rumah yang rusak,” ka­ta Herman.

 

Akibat banjir bandang, jalan Si­cincin-Malalak putus. Sa­tu jem­batan penghubung ha­nyut se­­hingga tidak bisa di­lintasi ken­da­raan. “Jemba­tan yang pu­tus itu bukan jem­ba­tan uta­ma, dan un­tuk se­men­­tara dipasang jem­batan da­rurat agar warga tidak teri­so­lir dan anak-anak bisa seko­lah,” ujar Ade Edward.

 

Untuk material longsor yang me­nimbun badan jalan Sicincin-Ma­lalak, Dinas Pekerjaan Umum (PU) Agam dan provinsi masih melakukan pembersihan.

 

Akibat putusnya akses trans­por­tasi itu, sekitar 200 kepala ke­luarga (KK) di Nagari Suba­rang Balingka terisolasi. (*)

 

ANALISIS KASUS

 

Terjadinya longsor di daerah Agam terjadi akibat gempa, namun longsor juga terjadi karena dibagian gunung sudah sedikit vegetasi dan banyaknya pemukiman disana. Agam sudah menjadi zona merah, maksudnya disini sering terjadi gempa, sehingga daerah ini tidak cocok dijadikan tempat tinggal. Warga yang tetap membangun rumah disana berarti tidak mengikuti peraturan pemerintahan, hal ini sangat berdampak bagi keselamatan mereka.

 

Dengan mengikuti perundangan yang ada di daerah tersebut, walaupun terjadi bencana longsor setidaknya tidak memakan korban seperti yang terjadi di Agam.

Pengetahuan Dasar Sistem Informasi Sumberdaya Lahan

Sistem Informasi Geografis (SIG)

 

SIG adalah suatu sistem informasi yang dirancang untuk bekerja dengan data yang bereferensi spasial atau berkoordinat geografi, atau dengan kata lain suatu SIG adalah suatu sistem basis data dengan kemampuan khusus untuk menangani data yang bereferensi keruangan (spasial) bersamaan dengan seperangkat operasi kerja (Barus dan Wiradisastra, 2000).

Sistem Informasi Geografis adalah suatu Sistem Informasi yang dapat memadukan antara data grafis (spasial) dengan data teks (atribut) objek yang dihubungkan secara geogrfis di bumi (georeference). Disamping itu, GIS juga dapat menggabungkan data, mengatur data dan melakukan analisis data yang akhirnya akan menghasilkan keluaran yang dapat dijadikan acuan dalam pengambilan keputusan pada masalah yang berhubungan dengan geografi (Anon, 2001).

 

Peta

 

Peta adalah gambaran permukaan bumi pada bidang datar dengan skala tertentu melalui suatu sistem proyeksi. Peta bisa disajikan dalam berbagai cara yang berbeda, mulai dari peta konvensional yang tercetak hingga peta digital yang tampil di layar komputer. Istilah peta berasal dari bahasa Yunani mappa yang berarti taplak atau kain penutup meja. Namun secara umum pengertian peta adalah lembaran seluruh atau sebagian permukaan bumi pada bidang datar yang diperkecil dengan menggunakan skala tertentu.Sebuah peta adalah representasi dua dimensi dari suatu ruang tiga dimensi. Ilmu yang mempelajari pembuatan peta disebut kartografi. Banyak peta mempunyai skala, yang menentukan seberapa besar objek pada peta dalam keadaan yang sebenarnya. Kumpulan dari beberapa peta disebut atlas. (Wikipedia)

Peta dijital (digital map) adalah representasi fenomena geografik yang disimpan untuk ditampilkan dan dianalisa oleh komputer dijital. (Ruslan Nuryadin 2005:19)

 

Kartografi

 

Kartografi (atau pembuatan peta) adalah studi dan praktik membuat peta atau globe. Peta secara tradisional sudah dibuat menggunakan pena dan kertas, tetapi munculnya dan penyebaran komputer sudah merevolusionerkan kartografi. Banyal peta komersial yang bermutu sekarang dibuat dengan perangkat lunak pembuatan peta yang merupakan salah satu di antara tiga macam utama; CAD (desain berbatuan komputer), GIS (Sistem Informasi Geografis), dan perangkat lunak ilustrasi peta yang khusus. (Wikipedia)

Kartografi adalah organisasi, presentasi, komunikasi dan penggunaan geo-informasi dalam bentuk grafis, digital atau format nyata. Hal itu dapat meliputi semua langkah-langkah dari persiapan data sampai ke penggunaan akhir dengan penciptaan peta-peta dan hasil-hasil yang terkait dengan informasi spasial. Dengan arti lain dikatakan kartografi adalah pembuatan data spasial yang dapat diakses, menekankan visualisasinya dan memungkinkan berinteraksi dengannya yang berhubungan dengan masalah-masalah geospasial. (Taylor, (1991) dalam Kraak dan Ormeling, (2007))

 

Sistem Koordinat

 

Sistem koordinat merupakan suatu parameter yang menunjukkan bagaimana suatu objek diletakkan dalam koordinat. Ada tiga system koordinat yang digunakan pada pemetaan yakni:
1.Sistem Koordinat 1 Dimensi : satu sumbu koordinat
proyeksi7
2.Sistem Koordinat 2 Dimensi.
proyeksi5
 3.Sistem Koordinat 3 Dimensi.
proyeksi6
Posisi acuan dapat ditetapkan dengan asumsi atau ditetapkan dengan suatu kesepakatan matematis yang diakui secara universal dan baku. Jika penetapan titik acuan tersebut secara asumsi, maka sistim koordinat tersebut bersifat Lokal atau disebut Koordinat Lokal dan jika ditetapkan sebagai kesepakatan berdasar matematis maka koordinat itu disebut koordinat yang mempunyai sistim kesepakatan dasar matematisnya.
Koordinat Geografi pada Proyeksi UTM adalah salah satu transformasi geografi yang mempunyai referensi Posisi Acuan dan arah yang sama yaitu Titik Pusat Proyeksi untuk posisi dan arah utara Grid di Meridian Pusat sebagai arah acuan.
Sistem Proyeksi
Proyeksi diartikan sebagai metoda/cara dalam usaha mendapatkan bentuk ubahan dari dimensi tertentu menjadi bentuk dimensi yang sistematik. Analoginya adalah sama dengan saat kita akan menghitung luas kulit jeruk. Untuk menghitungnya kita harus mengupasnya dan meletakkannya pada bidang datar. Karena awalnya kulit jeruk tersebut 3 Dimensi dengan dikupas dan di letakkan mendatar maka dipaksakan menjadi 2 Dimensi maka sebagai akibatnya terjadi perubahan dari bentuk awal yang dikarenakan adanya sobekan, mengembang atau berkerut. Maka dalam hal ini bumi adalah jeruk dan sobekan kulit jeruk nantinya akan menjadi sebuah peta.
kulit bumi
Pemindahan dari globe ke bidang datar harus diusahakan akurat. Agar kesalahan diperkecil sampai tidak ada kesalahan maka proses pemindahan harus memperhatikan syarat-syarat di bawah ini:
  • Bentuk-bentuk di permukaan bumi tidak mengalami perubahan (harus tetap), persis seperti pada gambar peta di globe bumi.
  • Luas permukaan yang diubah harus tetap.
  • Jarak antara satu titik dengan titik lain di atas permukaan bumi yang diubah harus tetap.
Di dalam proses pembuatan peta untuk dapat memenuhi ketiga syarat di atas sekaligus adalah suatu hal yang tidak mungkin. Bahkan untuk dapat memenuhi satu syarat saja untuk seluruh bola dunia juga merupakan hal yang tidak mungkin, yang bisa dipenuhi hanyalah satu saja dari syarat-syarat di atas dan ini hanya untuk sebagian kecil dari muka bumi.
Oleh karena itu, untuk dapat membuat rangka peta yang meliputi wilayah yang lebih besar harus dilakukan kompromi ketiga syarat di atas. Akibat dari kompromi itu maka lahir bermacam jenis proyeksi peta.
Proyeksi berdasarkan bidang asal
  • Bidang datar (zenithal)
  • Kerucut (conical)
  • Silinder/Tabung (cylindrical)
  • Gubahan (arbitrarry)
proyeksi1
Jenis proyeksi datar, kerucut dan tabung merupakan proyeksi murni, tetapi proyeksi yang dipergunakan untuk menggambarkan peta yang kita jumpai sehari-hari tidak ada yang menggunakan proyeksi murni di atas, melainkan merupakan proyeksi atau rangka peta yang diperoleh melaui perhitungan (proyeksi gubahan).
Ada banyak sistim Proyeksi, diantaranya yang digunakan dalam kepentingan pemetaan adalah Proyeksi Silinder Melintang yang dikenalkan oleh Mercator dan bersifat Universal atau disebut UTM ( Universal Tranvers Mercator ) sistim ini telah dibakukan oleh BAKOSURTANAL sebagai sistim Proyeksi Pemetaan Nasional. Mengapa menggunakan sistem UTM, karena:
  1. Kondisi geografi negara Indonesia membujur disekitar Garis Katulistiwa atau garis lingkar Equator dari Barat sampai ke Timur yang relatip seimbang.
  2. Untuk kondisi seperti ini, sistim proyeksi Tranvers Mercator/Silinder Melintang Mercator adalah paling ideal (memberikan hasil dengan distorsi minimal).
  3. Dengan pertimbangan kepentingan teknis maka dipilih sistim proyeksi Universal Transverse Mercator yang memberikan batasan luasan bidang 6º antara 2 garis bujur di elipsoide yang dinyatakan sebagai Zone.

 

Data Vektor

 

Data vektor adalah data yang direkam dalam bentuk koordinat titik yang menampilkan, menempatkan dan menyimpan data spasial dengan menggunakan titik, garis atau area (polygon) . Ada tiga tipe data vector (titik, garis, dan polygon) yang bisa digunakan untuk menampilkan informasi pada peta. Titik bisa digunakan sebagai lokasi sebuah kota atau posisi tower radio. Garis bisa digunakan untuk menunjukkan route suatu perjalanan atau menggambarkan boundary. Poligon bisa digunakan untuk menggambarkan sebuah danau atau sebuah Negara pada peta dunia. Dalam format vektor, bumi direpresentasikan sebagai suatu mosaik dari garis (arc/line), poligon (daerah yang dibatasi oleh garis yang berawal dan berakhir pada titik yang sama), titik/ point (node yang mempunyai label), dan nodes (merupakan titik perpotongan antara dua baris). Setiap bagian dari data vector dapat saja mempunyai informasi-informasi yang bersosiasi satu dengan lainnya seperti penggunaan sebuah label untuk menggambarkan informasi pada suatu lokasi. Peta Vektor terdiri dari titik, garis, dan area polygon. Bentuknya dapat berupa peta lokal jalan.

 

Data Raster

 

Data raster adalah data yang disimpan dalam bentuk kotak segi empat (grid)/sel sehingga terbentuk suatu ruang yang teratur. Foto digital seperti areal fotografi atau foto satelit merupakan bagian dari data raster pada peta. Raster mewakili data grid continue. Nilainya menggunakan gambar berwarna seperti fotografi, yang di tampilkan dengan level merah, hijau, dan biru pada sel. Pada data raster, obyek geografis direpresentasikan sebagai struktur sel grid yang disebut sebagai pixel (picture element). Resolusi (definisi visual) tergantung pada ukuran pixel-nya, semakin kecil ukuran permukaan bumi yang direpresentasikan oleh sel, semakin tinggi resolusinya. Data raster dihasilkan dari sistem penginderaan jauh dan sangat baik untuk merepresentasikan batas-batas yang berubah secara gradual seperti jenis tanah, kelembaban tanah, suhu, dan lain-lain.Peta Raster adalah peta yang diperoleh dari fotografi suatu areal, foto satelit atau foto permukaan bumi yang diperoleh dari komputer. Contoh peta raster yang diambil dari satelit cuaca.

 

Daftar Pustaka

 

Nuryadin, Ruslan, 2005, Panduan Menggunakan MapServer, Informatika, Bandung.

Wiradisastra.Daftar Pustaka Barus. Baba. Laboraturium Pengindraan Jauh dan Kartografi Jurusan Tanah Fakultas Pertanian IPB. 2002. 2000.

Kraak, M.J., Ormeling, F., 2007, Kartografi Visualisasi Data Geospasial, Edisi kedua, Gadjah Mada University Press, Yogyakarta
Ormeling, Ferjan, 2004, Map Use Education and Geovisualisation, Prosiding, 3rd FIG Regioanl Conference, Jakarta

 

Acknowledge

Makasih buat semua nya yang udah download, buka, dan share link blog ku ini. Berkat kalian aku dapet fd 8 gb gratis dari UB.

 

Thanks all,

Sincerely,

 

Yours 🙂

 

MANAJEMEN TANAH TRADISIONAL

Mungkin tidak ada aspek dari mamajemen agroekosistem yang lebih penting dari sustainable agroekositem jangka panjang selain tanah. Ini terlihat signifikan bawha manajemen tanah tradisional tidak bergantung pada pemasukan pupuk buatan (anorganik). Hal ini juga dilihat bahwa pertanial tradisonal yang dipraktekan dengan sukses pada banyak jenis lahan, termasuk lahan yang berlereng curam, tanah buruk, drainase buruk, atau air yang tersedia sebaliknya memikirkan sedikit untuk pertanian atau mudahnya kebiasaan dari system menanam (struktur agroekosistem) untuk kapabilitas pertanian pada lahan, sebuah perbaikan system dari klasifikasi sustainabilitas lahan adalah hal penting. Pada artikel ini akan menunjukan contoh dari system tradisional dari klasifikasi lahan dan hubungan mereka dengan macam keseimbangan agroekosistem tradisonal dan metode “pertanian organic” yang petani tradisional kerjakan untuk memelihara kesuburan tanah mereka dan didiskusikan. Akhirnya, ada sebuah tinjauan mekanisasi oleh petani tradisional yang mempraktekkan control kehilangan tanah akibat erosi.

KLASIFIKASI LAHAN PADA SISTEM PERTANIAN TRADISIONAL

Petani Malaysia membeda-bedakan tanah yang manis, netral atau masam untuk dirasakan (menunjukkan pH tanah). Petani yang sama menggunakan semak keduduk (Melastoma) sebagai inidikator dari seberapa banyak alumunium pada tanah, pohon bakan (Hanguana) sebagai indicator asam pada tanah dengan keadaan air yang statis, dan rumput Imperata, semak beri keriang (Ploiarium), dan pohon cashew sebagai indicator kesuburan tanah.

Klasifikasi tanah tradisional di Java biasanya berdasarkan warna, tekstur, dan kandungan air tanah. Petani Sunda mengekspresikan tekstur tanah dalam masa kandungan batu, kandungan pasir, dan keteguhannya. Tanah gelap atau hitam disimpulkan lebih subur dibandingkan dengan tanah merah, dan tanah yang berwarna cerah memilihi kesuburan sedang hingga tinggi. Warna tanah penting dalam system rotasi tahunan dan musiman untuk mengindikasi apakah lahan tersebut siap untuk bagian lahan tanaman dalam siklus. Jika tanah di bamboo talun gelap, petani mengasumsikan bahwa lahan tersebut sudah siap diolah. Warna gelap pada tanah mungkin menunjukan naiknya bahan organic tanah selama fase bamboo di dalam siklus.

PENANAMAN CAMPURAN DAN TANAH

Beberapa manfaat dari penanaman bercampur dalam keadaan yang biasa dalam pertanian tradisional di Asia Tenggara didapat dari fakta bahwa menanam secara dicampur bisa menggunakan air tanah dan nutrisi lebih efektif dibandingkan dengan yang tanaman tunggal bisa lakukan. Ada sebuah kelimpahan pada informasi percobaan untuk menjelaskan tentang alam dan manfaatnya.

MEMELIHARA KESUBURAN TANAH

Kesuburan tanah memiliki pengaruh besar yang tidak hanya pada hasil namun juga pada macam tanaman yang bisa diolah. Contohnya, di Afrika pisang, tanaman lain, dan varietas yang memiliki nilai tinggi bisanya ditanamn pada lahan yang dulunya hutan dan baru saja dibuka. Ada pilihan yang besar pada tanaman langsung setelah membersihkan hutan karena kesuburannya tinggi, tapi setelah beberapa tahun digunakan sebagai pertanian, kersuburan tanah sering menurun, dan ini hanya praktek untuk menanam tanaman keras seperti ketela, kedelai, kacang, atau ubi, biasanya dalam monokultur.

 Siklus Nutrisi Mineral

Bila di Jawa hal ini dicontohkan dengan lahan padi yang terdapat 6 penghasil utama nutrisi dalam sawah: tanaman padi, tanah, jerami, gulma, air, dan ikan. Nitrogen dan phosphorus dari dekomposisi jerami dan dari tanah bisa menyuburkan air dalam sawah, penunjang makanan untuk planktion. Ikan memangsa plankton dan juga serangga kecil didalam air, ikan dimakan oleh burung atau ular di sawah, dan diburu oleh petani untuk kebutuhan komersil. Bagian dari jerami digunakan untuk makanan binatang, dan bagian lainnya di kembalikan ke sawah sebagai mulsa atau dipendam sebagai pupuk. Petani juga mengaplikasikan pupuk kimia dan kompos untuk sawah mereka agar hasilnya meningkat. Nutrisi lain yang dimasukan bisa datang dari atmosfer (air hujan), limpasan, erosi dari daerah yang lebih tinggi. Nutrisi hilang dari sawah lewat proses pemanenan dan pencucian.

 Bahan Organik

Manajemen bahan organic termasuk pemulsaan dan penambahan kompos dan pupuk kandang dan pupuk hijau ke dalam tanah. Bahan organic tanah menyebabkan antara sifat fisik dan kimia tanah dan penting untuk pemeliharaan kapasitas tukar kation. Efek dari mulsa pada tanah untuk sifar fisik tanah termasuk mengkontrol erosi dengan menurunkan dampak dari air hujan pada tanah dan menurunkan limpasan karena infinltrasi dipelihara pada tingkat tinggi, penurunan fluktuasi suhu (stabil), memperbaiki kelembaban tanah dengan mengurangi kehilangan air akibat leimpasan permukaan dan evaporasi, dan memperbaiki strukturm porositas, infiltrasi tanah dengan melindung tanah dari hantaman air hujan yang bisa membentuk impermeabilitas permukaan dan dengan menganjurkan mikroflora dan organisma tanah yang membantu pemeliharaan struktur tanah.

KONTROL EROSI

Erosi adalah masalah serius di daerah tropis untuk dua musim. Pertama adalah musim penghujan. Erosi muncul selama hujan lebat, yang sangat umum terjadi di daerah tropis. Alasan kedua adalah pertanian pada lahan berlereng. Saat lahan memiliki vegetasi alami yang menutupinya dihilangkan untuk pertanian, konsekuensi erosi semakin besar pada daerah lereng.

 Kualitas Tanah

Beberapa aspek dari kualitas tanah (tekstur) mengakibatkan keteguhan tanah tapi tidak bisa di control oleh manajemen pertanian. Bahan organic tanah bisa diatur dan mengakibatkan keteguhan tanah dalam beberapa cara. Pertanian tradisional seing memelihara kandungan humus tanah yang tinggi, dan konsistensi agregar yang bagus strukturnya, pada lapisan atas oleh pengaplikasian pupuk kandang, residu tanamn, limbah dapur, atau sampah hutan untuk permukaan tanah sebagai mulsa atau oleh memendamkannya di dalam tanah.
 Tanaman Penutup
Tanaman penutup melindungi tanah dari jatuhnya air hujan. Perlidungan adalah hal yang paling efektif jika ada penutup saat hujan lebat tiba. Hal ini juga sangan efektif juka penutup sangan dekat dengan tanah, sejak benturan air hujan ke tanah lebih besar jika tetesnya jatuh di daun tertinggi. Air hujan yang jatuh dari daun pada pohon tinggi memilihi benturan yang sama seperti air hujan yang berbenturan langsung dengan tanah pada intensitas hujan yang biasa. Tanaman monokultur seperti ubi yang bisa digunakan sebagai tanaman penutup.

 Terasering

Dengan menggunakan terasiring untuk daerah lereng curam dapat menurunkan resiko erosi hebat.

DOWNLOAD LINK:

versi pdf : Soil management

sumber : Traditional-Agriculture-chapter-10

happy download 🙂

Tugas PKN

Batas ruang lingkup wilayah nusantara ditentukan oleh lautan yang di dalamnya terdapat gugusan ribuan pulau yang saling dihubungkan oleh perairan. Oleh karena itu Nusantara dibatasi oleh lautan dan daratan serta dihubungkan oleh perairan didalamnya.
Setelah bernegara dalam negara kesatuan Republik Indonesia, bangsa indonesia memiliki organisasi kenegaraan yang merupakan wadah berbagi kegiatn kenegaraan dalam wujud suprastruktur politik. Sementara itu, wadah dalam kehidupan bermasyarakat adalah lembaga dalam wujud infrastruktur politik.

Letak geografis negara berada di posisi dunia antara dua samudra, yaitu Samudra Pasifik dan Samudra Hindia, dan antara dua benua, yaitu banua Asia dan benua Australia. Perwujudan wilayah Nusantara ini menyatu dalam kesatuan poliyik, ekonomi, sosial-budaya, dan pertahanan keamanan…

DOWNLOAD LINK: wadah isi pkn

happy download 🙂

TUGAS TERSTRUKTUR IRIGASI DAN DRAINASE

Air yang berada di dalam tanah ada pada tiap partikel tanah yang tersusun dari tiap tekstur nya. Tiap partikel tanah baik liat, debu, dan pasir memiliki ukuran yang berbeda. Makin kecil partikelnya maka makin banyak permukaan yang dapat menahan air, begitu pula sebaliknya, apabila partikel tanah semakin besar, contohnya pasir, maka permukaannya akan semakin sedikit yang dapat menahan air. Jadi air menempel pada permukaan partikel.

Apabila dalam lahan tersebut terdapat vegetasi, air juga bisa menempel dan diserap oleh akar tanaman.
Kandungan air dapat ditunjukan dengan rasio, mulai dari 0 (benar-benar kering) hingga tingkat kejenuhan tertentu tergantung porositasnya. Dapat diberikan pada volumetric ataupun gravimetric.

DOWNLOAD LINK : TUGAS TERSTRUKTUR IRIGASI DAN DRAINASE

happy download 🙂

TUGAS SURVEI DAN EVALUASI LAHAN MINGGU KE- 2

Suatu konsep kelompok dari satu sampai banyak delineasi yang diidentifikasi dengan nama yang sama dalam survei tanah yang menunjukkan areal lanskap yang sama terdiri dari (1) jenis komponen tanah yang sama, ditambah inklusi, atau (2) terdiri dari dua atau lebih komonen tanah, ditambah inklusi, atau (3) komponen-komponen tanah dan areal miselaneus, di tambah inklusi, atau (4) terdiri dari dua atau lebih jenis komponen tanah yang mungkin atau tidak berada bersamasama dalam berbagai delineasi tapi mempunyai penggunaan khusus dan pengelolaan yang sama, ditambah inklusi, atau (5) areal lahan miselaneus dan tanah-tanah yang termasuk didalamnya. Sinonim lepas dari delineasi. Lihat delineasi, komponen tanah, inklusi, konsosiasi tanah, kompleks tanah, asosiasi tanah, kelompok tak terbedakan, areal lahan miselaneous…

DOWNLOAD LINK: TUGAS SURVEI DAN EVALUASI LAHAN MINGGU KE- 2

happy download 🙂

Resume Jurnal Teknologi Pupuk dan Pemupukan “NARROW GRASS HEDGE EFFECTS ON NUTRIENT TRANSPORT FOLLOWING COMPOST APPLICATION”

Menggunakan semak dengan rumput pagar sebagai hambatan telah terbukti efektif mengurangi kerugian tanah dari lahan pertanian. Rumput bertangkai signifikan mengurangi limpasan dan kerugian tanah.Infiltrasi ditingkatkan dalam sistem rumput berbatang membantu untuk mengurangi beban limpasan nutrisi. Endapan yang mengandung serapan nutrisi dapat disimpan dalam kolam terbentuk tepat di atas pagar rumput. Ditemukan bahwa nutrisi terlimpas dari tanah lempung berliat di Kenya juga menurun dengan signifikan oleh rumput pagar. Rumput pagar menurunkan kehilangan nutrisi dengan efektif pada limpasan jika dilakukan pengaplikasian pupuk kandang. Pupuk kandang telah digunakan dengan efektif untuk tanaman produksi dan perbaikan tanah karena mengandung nutrisi dan bahan organic. Saat hujan segera tiba setelah pengaplikasian pupuk kandang, nilai nutrisi tanah pada area pertanian mungkin tidak berdampak dengan signifikan pada limpasan kandungan nutrisi…

DOWNLOAD LINK: Resume Jurnal Teknologi Pupuk dan Pemupukan

happy download 🙂