Kota Malang, kota yang menurut saya adalah kota yang lengkap. Memang saya tidak dilahirkan disini tapi keluarga besar saya berasal dari kota ini. Disini kita bisa menemukan tempat rekreasi, tempat berbelanja, dan sarana pendidikan yang  sudah baik mutunya. Banyak orang dari luar kota, luar pulau bahkan luar negeri yang memilih kota Malang untuk  menempuh pendidikan. Daerah Malang Raya sendiri sudah terkenal sebagai daerah wisata sejak zaman kolonial dulu. Letaknya yang terhampar di dataran tinggi yang dikelilingi oleh pegunungan yang dibelah oleh aliran sungai Brantas membuatnya memiliki iklim yang sejuk walaupun sekarang kesejukannya berkurang karena efek global warming. Karena faktor iklim ini, jadi banyak tanaman terutama bunga-bungaan yang bisa ditanam disini. Terdapat beberapa taman dengan beraneka ragam tanaman sebagai elemennya, Taman-taman ini bisa menjadi sarana hiburan bagi warga kota Malang dari kepenatan mereka beraktivitas. Taman-taman tersebut antara lain adalah tugu bundar dan alun-alun kota. Dan yang akan lebih saya ulas yaitu alun-alun kota.

Seperti umumnya kota-kota di Jawa, alun-alun merupakan unsur penting dari Kota Malang. Alun-alun kota terletak di sebelah selatan kawasan Kayutangan. Di sekeliling alun-alun berdiri bangunan-bangunan publik, baik peninggalan belanda maupun bangunan baru. Di bagian utara alun-alun terdapat sebuah kantor pos dengan arsitektur khas perkantoran zaman kolonial berdampingan dengan hotel Pelangi (dulu bernama hotel Concordia) yang juga sudah ada sejak zaman Belanda. Di sebelah barat, berdiri megah mesjid Jami’ berdampingan dengan gereja yang dua-duanya sudah menjadi saksi bisu kota Malang sejak zaman kolonial.

Designnya memang termasuk dalam standar alun-alun pada umumnya, membentuk sebuah bundaran yang dikelilingi jalan dan bangunan-bangunan disekitarnya. Ditengah terdapat kolam dan air mancur yang aktif pada sore hari, namun sayang air mancur ini kurang terawat jadi terlihat kurang indah. Banyak sampah yang masuk kedalam kolam, padahal dalam kolam itu hidup beberapa jenis ikan, kan kasihan kalo ikannya harus makan sampah 🙁

air mancur

sudah banyak pengunjung yang datang di pagi dan siang hari, juga penjual yang menawarkan berbagai jenis dagangan. Satu hal lagi yang dapat kita temui di pagi dan siang hari, banyak burung merpati yang dengan leuasanya berkeliaran. Mereka akan segera datang berbondong-bondong ketika kita memberi mereka makan.

banyak merpati, berasa di luar negeri :))

Plaza Sarinah dan Gereja kayutangan membentengi alun-alun di seblah selatan. Plaza Sarinah adalah bekas gedung bioskop peninggalan Belanda. Sedangkan di sebeah timur alun-alun dihuni oleh gedung pemerintahan kabupaten Malang dan Mal Alun-alun (Ramayana). Bergeser sedikit ke tenggara akan ditemui kompleks Plaza dan pertokoan serta Pasa besar Malang.

Alun-alun kota malang sekarang berfungsi menjadi taman dan lahan hijau yang menjadi ‘public space’ kota. Banyak keluarga yang menghabiskan waktu menikmati sore di bangku-bangku yang tertata rapi di areal alun-alun.

Dalam alun-alun juga kita bisa mendapati elemen-elemen yang mendukung alun-alun disebut sebagai taman kota, misalnya tanaman, air mancur, burung merpati.

pohon dan perdu

bougenvile

elemen taman

Beranjak sore hari, suasana akan semakin ramai, pengunjung dan dan pedagang yang ada bertambah banyak. Tapi, burung-burung merpati sudah mulai kembali kekandang mereka, mungkin sudah lelah dan ingin istirahat, hehe. 😀 Burung merpati digantikan oleh pertunjukan topeng monyet.

pertunjukan topeng monyet di sore hari

pedagang di saat malam

suasana alun-alun saat malam,,

saatnya narsis :))

by : Sofia Rosalina

0810440278

Kelas E