Budidaya Tanaman Kacang Tanah ( Arachis hypogeae L )

Posted: 6th June 2012 by ade supriyadi in Uncategorized

Budidaya Tanaman Kacang Tanah

a.      Pemilihan benih

Benih yang digunakan adalah galur-galur murni yang disediakan oleh bagian pemuliaan tanaman di Balai Penelitian Tanaman Kacang-Kacangan dan Umbi-Umbian (Balitkabi) Malang sebanyak 70 galur.

b.      Persiapan Media Tanam

Penanaman kacang tanah dilakukan di rumah kaca dengan menggunakan polibag. Media tanam yang digunakan adalah menggunakan tanah yang dicampurkan dengan pupuk kompos. Komposisi tanah dan pupuk kompos di dalam polibag adalah 1:0,5.  Sebelum tanah dicampur dengan pupuk kompos diusahakan tanah tidak menggumpal sehingga polibag dapat terisi penuh dan tidak terdapat ruang yang kosong akibat sudut dari tanah yang menggumpal.

c.       Penanaman

Sebelum dilakukan penanaman terlebih dahulu media tanam disiram dengan air hingga lembab, agar pada saat penanaman dilakukan tanah tidak keras. Pada masing-masing polibag dibuat 3 lubang tanam. Lubang tanam dibuat sedalam 3 cm dengan menggunakan tugal. Sebelum penanaman dilakukan, diawali dengan pemilihan benih kacang tanah yang bermutu tinggi. Setelah itu,  benih kacang tanah dimasukkan kedalam lubang tanam sebanyak 2 biji per lubang dan ditutup kembali dengan media tanam.

d.      Pemeliharaan

Pemeliharaan tanaman kacang tanah setelah ditanam perlu dilakukan, karena akan dapat berpengaruh terhadap hasil produksi kacang tanah. Pemeliharaan tanaman kacang tanah yang dilakukan diharapkan hasil produksi dapat maksimal. Pemeliharaan tanaman kacang tanah meliputi :

1.      Penyulaman

Penyulaman dilakukan agar pertanaman kacang tanah tubuh merata. penyulaman tanaman kacang tanah dilakukan karena terdapat beberapa tanaman kacang tanah tidak tumbuh pada beberapa polibag.

2.      Penyiraman

Penyiraman dilakukan agar tanah tetap lembab. Penyiraman dilakukan setiap dua hari sekali dengan cara menyiramkan air sedikit demi sedikit agar tidak menganggu pertumbuhan tanaman kacang tanah. Dengan dilakukannya penyiraman diharapkan tanaman kacang tanah dapat tumbuh dengan maksimal pada setiap fase.

3.      Pemupukan

Pemupukan dilakukan dengan menggunakan pupuk NPK dengan N sebanyak 15%, P2O5 15% dan K2O 15%. Pupuk diberikan setelah tanaman berumur 7 hari setelah tanam. Pada masing-masing media tanam diberi 5-10 butir pupuk NPK. Pemupukan dilakukan dengan cara dimasukkan ke dalam lubang yang dibuat didekat dengan tanaman dengan jarak 3 sampai 5 cm dan lubang ditutup kembali dengan media tanam.

4.  Penyiangan

Penyiangan dilakukan pada saat terdapat tanaman lain (gulma), hal ini dapat menghindari terjadinya persaingan nutrisi dalam tanah. Selain itu, penyiangan juga dilakukan untuk menghindari serangan hama dan penyakit tanaman, karena gulma dapat menjadi inang lain bagi hama dan penyakit tanaman kacang tanah. Penyiangan dilakukan dengan cara mencabut langsung gulma dengan menggunakan tangan. Penyiangan dilakukan seperlunya apabila gulma banyak tumbuh.

5.      Pengendalian hama dan penyakit

Pengendalian hama dan penyakit dilakukan dengan cara kimia dan fisik. Pengendalian secara fisik yang dilakukan adalah dengan mencabut tanaman yang terinfeksi penyakit dan serangga hama yang terdapat pada pertanaman kacang tanah. Pengendalian secara kimia dengan cara penyemprotan. Pengendalian secara kimia menggunakan insektisida Matador, Convidor dan Desis 2,5 EC yang memiliki bahan aktif Deltamethrin 25 g/l. Penyemprotan dilakukan pada sore hari, hal ini dikarenakan pestisida yang telah disemprotkan dapat bertahan lama pada tanaman.

e.       Panen

Panen tanaman kacang tanah dilakukan setelah tanaman berumur ± 120 hari setelah tanam. Tanaman kacang tanah yang siap panen memilki ciri-ciri seperti daun yang mulai menguning, batang yang mulai mengeras, polong telah keras dan berisi serta  berwarna coklat kehitam-hitaman. Ciri-ciri tanaman kacang tanah yang telah siap panen perlu diperhatikan, karena dapat berpengaruh pada kualitas dan kuantitas hasil produksi. Cara pemanenan tanaman kacang tanah adalah dengan cara dicabut, lalu polong diambil dan dibersihkan.

4.2  Hama dan Penyakit Tanaman Kacang Tanah

Tanaman kacang tanah merupakan tanaman budidaya yang menjadi obyek pengamatan di Balai Penelitian Kacang-Kacangan dan Umbi-Umbian (Balitkabi) Malang. Dalam budidaya tanaman kacang tanah di Balitkabi didapatkan beberapa organisme pengganggu tanaman (OPT).  OPT yang menyerang tanaman kacang tanah di rumah kaca diantaranya :

Hama Tanaman Kacang Tanah

1.   Ulat Penggulung Daun (Lamprosema indicata)

Ulat penggulung daun adalah salah satu hama pada kacang tanah. Ciri khas ulat penggulung daun Lamprosema indicata adalah terdapatnya dua bercak pada  kedua sisi prothorax. Sesuai dengan namanya, larva berdiam di dalam gulungan daun. Gulungan daun mulai dibentuk oleh larva muda pada bagian pucuk, tempat telur diletakkan. Gulungan daun dibentuk dengan cara merekatkan daun satu dengan lainnya dari sisi dalam dengan semacam zat perekat.

Menurut Arifin (2011), menyatakan bahwa selama berdiam di dalam gulungan daun, larva memakan daun sehingga tampak hanya tulang daunnya saja yang tersisa. Pupa dibentuk di dalam gulungan daun tersebut. Imago yang terbentuk berukuran kecil dan berwarna coklat-kekuningan.

2.  Ulat Jengkal (Plusia calcites Esp.)

Ulat jengkal merupakan salah satu hama utama tanaman kacang tanah. Keberadaan ulat jengkal ditandai dengan rusaknya sebagian daun akibat gigitan, serta dapat juga menyisakan tulang daun saja.

Menurut Arifin (2011), menyatakan bahwa inang ulat jengkal adalah tanaman kacang tanah dan beberapa jenis tanaman pangan lainnya, sayuran, dan gulma selain rerumputan. Oleh karena itu, ulat jengkal bersifat polifag. Larva menyerang tanaman muda dan tua dengan gejala serangan berupa defoliasi, baik sebagian dengan masih tersisanya tulang daun, maupun total.

3.  Kutu Daun (Aphis craccivora)

Kacang tanah adalah salah satu tanaman inang Aphis craccivora. Kehadiran A. craccivora di pertanaman kacang tanah terjadi mulai tanaman berumur 19 hari setelah tanam sampai menjelang panen. A. craccivora lebih menyukai bagian tanaman yang muda, seperti pucuk dan tangkai daun muda.

A. craccivora  menyerang tanaman kacang tanah dengan mengisap cairan tanaman. A. craccivora biasanya hidup berkelompok dan membentuk koloni yang besar pada daun tanaman yang meliputi betina yang berproduksi secara partenogenesis (tanpa kawin) (Talanca et al, 2008).

Menurut Arifin (2011),  A. craccivora  tidak menimbulkan gangguan, kecuali bila permukaan tanaman tertutup oleh noda hitam cendawan jelaga yang tumbuh dari hasil ekskresi A. craccivora. Noda hitam ini mengakibatkan terganggunya proses fotorespirasi tanaman dan menyebabkan daun berguguran sehingga kualitas fotosintat yang dihasilkannya menurun.

4.  Ulat Grayak (Spodoptera litura)

Kehadiran Spodoptera litura di pertanaman kacang tanah ditandai dengan adanya gejala kerusakan berupa gigitan pada daun. Tepi daun rusak dan terkoyak dimakan larva. Bahkan larva besar mampu melahap lembaran daun dan tinggal tulang daun sehingga tanaman gundul. Daun rusak terkoyak berlubang tidak beraturan. Biasanya larva berada di permukaan bawah daun, menyerang secara serentak berkelompok.

Menurut Talanca et.al  (2008), gejala serangan  S. litura adalah rusaknya daun dan menyerang secara berkelompok, dengan meninggalkan sisa-sisa bagian atas epidermis daun, transparan dan tinggal tulang-tulang daun. Larva S. litura berada di permukaan bawah daun hidup berkelompok.

5.   Belalang (Locusta migratoria)

Keberadaan Locusta migratoria ditandai dengan adanya kerusakan pada bagian daun akibat gigitan. Daun tanaman kacang tanah yang terserang L. migratoria pada serangan yang parah hanya menyisakan tulang daun. Talanca et al (2008) mengemukakan bahwa gejala serangan belalang (L. migratoria) adalah biasanya daun bagian pertama yang diserang dan termakan hampir keseluruhan daun termasuk tulang daun jika serangannya parah.

Penyakit Tanaman Kacang Tanah

1.   Layu  Bakteri (Ralstonia solanacearum)

Penyakit layu bakteri pada kacang tanah disebabkan oleh Ralstonia solanacearum. Tanaman kacang tanah yang telah terinfeksi R. solanacearum tanaman akan mengalami kelayuan pada sebagian bagian tanaman, sedangkan bagian lainnya tidak. Bagian tanaman yang tidak layu dapat berkembang terus sehingga akan layu secara keseluruhan. Pada bagian yang mengalami layu, daun akan tampak menguning kemudian mengering, dan akhirnya seluruh tanaman layu dan tanaman akan mati. Tanaman kacang tanah yang terinfeksi R. solanacearum apabila batangnya di belah, maka akan terihat berkas-berkas pembuluh yang berwarna coklat (Gambar 6.b). Semangun (2006) mengemukakan bahwa tanaman yang sudah layu, apabila batang dibelah berkas pembuluh batang akan tampak seperti garis-garis coklat, yang sering dapat diikuti sampai ketulang-tulang daun. Rahayu (2010b) mengemukakan bahwa gejala internal juga dapat dilihat dengan membuat irisan pangkal batang sakit, ditandai dengan perubahan warna jaringan pembuluh menjadi kecoklatan (diskolorasi), sedang pada tanaman sehat tidak ditemukan diskolorasi.

Pada diagnosis cepat, tanaman kacang tanah yang terinfeksi R. solanacearum dapat diketahui dengan membuat irisan pangkal batang tanaman sakit  dan direndam dalam air steril, setelah 5-10 menit maka akan terlihat rembesan dari massa bakteri berbentuk seperti benang berwarna putih susu yang keluar dari irisan batang tanaman yang terinfeksi.  Semangun (2006) mengemukakan bahwa pada serangan yang lebih lanjut, bila pangkal batang dipotong dan agak ditekan akan keluar lendir bakteri yang berwarna putih kotor dari bidang potongan. Dengan diagnosis cepat tersebut sangat berguna untuk membedakan antara layu yang disebabkan bakteri, dengan layu yang diakibatkan serangan OPT lainnya seperti jamur Fusarium spp. Ataupun kerusakan mekanis dan serangan hama (Rahayu, 2010b).

Penyakit layu adalah bakteri R. solanacearum yang sebelumnya bernama Pseudomonas solanacearum Smith. Bakteri ini tergolong bakteri gram negatif, berbentuk batang (gambar 22.c), hidup secara aerop, ukuran sel 0.5-0.7 x 1.5-2.0 µm, sangat sensitif terhadap kekeringan, dan pada media kultur terhambat oleh gram NaCl pada konsentrasi rendah 2%. Proses penyakit didahului dengan masuknya bakteri melalui luka-luka pada akar, selanjutnya masuk ke jaringan pembuluh akar dan batang. Selama proses infeksinya,bakteri menghasilnkan enzim-enzim penghancur dinding sel inang, mengeluarkan toksin, serta memproduksi eksopolisakarida suatu senyawa dengan berat molekul tinggi yang menyumbat jaringan pengangkutan sehingga timbul gejala layu. Senyawa-senyawa tersebut adalah vaktor penentu virulensi atau keganasan R. solanacearum (Rahayu, 2010b).

 2.   Bercak Daun (Cercospora arachidicola)

Penyakit bercak daun adalah penyakit utama pada kacang tanah. Serangan jamur Cercospora arachidicola pada tanaman kacang tanah ditandai dengan adanya bercak coklat dan disertai halo berwarna kuning di sekeliling bercak. Hardaningsih (1993) mengemukakan bahwa gejala seperti bercak daun awal, berupa bercak-bercak berbentuk bulat kadang-kadang tidak teratur dengan diameter 1-10mm, berwarna coklat tua sampai hitam pada permukaan bawah daun dan coklat kemerahan sampai hitam di permukaan atas. Selalu terdapat halo berwarna kuning yang terlihat jelas.

Menurut Sumartini  (2008)  penyakit bercak daun muncul pada daun-daun bagian bawah dengan bercak kecil berwarna coklat. Bercak yang disebabkan oleh C. arachidis dicirikan dengan bercak yang berwarna coklat muda dengan cincin kuning disekitar bercak.

3.   Penyakit Belang (Groundnut mottel virus)

Infeksi penyakit belang pada tanaman kacang tanah ditandai dengan adanya belang-belang pada helai daun yang tidak beraturan, berwarna hijau muda dan hijau tua. Penyakit belang pada daun tanaman kacang tanah ini tidak begitu merubah ukuran daun apabila dibandingkan dengan daun tanaman kacang tanah yang sehat.

Menurut Baliadi  (1993) mengemukakan bahwa gejala pada helaian daun terdapat bentuk belang-belang yang tidak beraturan, berwarna hijau tua dan hijau muda. Ukuran daun tidak begitu berubah dibandingkan dengan daun sehat. Permukaan daun menjadi tidak rata dengan pinggir daun melengkung ke atas. Perbedaan tampak pada warna daun terinfeksi mengalami klrosis dan di lapangan akan nampak lebih kekuningan. Infeksi yang terjadi saat tanaman masih muda sering menyebabkan timbulnya gejala berupa belang dengan cincin-cincin klorosis.

4.  Penyakit Karat (Puccinia arachidis)

Infeksi jamur karat ditandai dengan adanya bercak-bercak berwarna orange berukuran kecil tidak beraturan di bagian bawah daun. Seperti yang dikemukakan oleh Saleh (2002), bahwa Gejala infeksi jamur karat ditandai oleh timbulnya bercak-bercak kecil berwarna oranye pada permukaan bawah daun. Bercak-bercak tersebut sebetulnya merupakan uredinia jamur yang berisi spora (urediniospora). Gejala serangan tingkat lanjut ditandai oleh terbentuknya spora pada permukaan atas daun.

Jamur karat juga dapat menginfeksi tangkai dan batang tanaman. Berbeda dengan penyakit bercak daun yang dapat merontokkan daun, penyakit karat mengakibatkan daun menjadi kering tetapi masih tetap melekat pada batang atau cabang (Saleh, 2002).

Belum selesai

*