Analisis Landskap area Malang Raya

February 14th, 2018

 

 

TUGAS

ANALISIS LANDSCAPE

Oleh :

 

Mahdi Akhmad                                    155040200111241

Erlis Herawati Manalu                                155040201111238

Siti Khoirum Anisa                              155040201111006

Nur Affina Safira                                155040201111261

Moch Taufiq Zulmanari                     155040207111046 

PROGRAM STUDI AGROEKOTEKNOLOGI

FAKULTAS PERTANIAN

UNIVERSITAS BRAWIJAYA

MALANG

2018

Macam-Macam Bencana Alam Di Indonesia

 

  1. Banjir

 

Gambar: becana alam Banjir

Banjir merupakan bencana alam akibat adanya curah hujan yang tinggi dengan tidak diimbangi dengan saluran pembuangan air (draenase) yang memadai sehingga merendam wilayah-wilayah yang tidak di kehendaki seperti pemukiman maupun lahan pertanian. Gambar diatas adalah bencana banjir di wilayah hulu Sungai Ciliwung di daerah Bogor dan telah menyebabkan debit Sungai Ciliwung meningkat. Imbasnya, banjir mulai melanda Jakarta dan sekitarnya.

Sumber : www.bbc.com/indonesia/indonesia-42956048

 

  1. Tanah Longsor

 

Gambar: Bencana Alam Tanah Longsor

Tanah longsor merupakan gejala alam yang terjadi di sekitar kawasan pegunungan. Semakin curam kemiringan lereng suatu kawasan, semakin besar pula kemungkinan terjadi longsor. Longsor terjadi saat lapisan bumi paling atas dan bebatuan terlepas dari bagian utama gunung atau bukit. Hal ini juga dapat disebabkan akibat hujan dengan intensitas tinggi yang berlangsung dalam waktu yang cukup lama. Gambar diatas merupakan salah satu daerah yang mengalami longsor di Kabupaten Bogor, Jawa Barat.

Sumber : https://www.google.co.id/amp/s/nasional.tempo.co/amp/1058621/bnpb-belum-genap-2-bulan-terjadi-275-bencana-alam-pada-2018

 

  1. Kekeringan

Gambar: Bencana Alam Kekeringan

Kekeringan adalah ketersediaan air yang jauh di bawah dari kebutuhan air untuk kebutuhan hidup, pertanian, kegiatan ekonomi dan lingkungan. Di Indonesia pada setiap musim kemarau hampir selalu terjadi kekeringan pada tanaman pangan dengan intensitas dan luas daerah yang berbeda tiap tahunnya, seperti pada sejumlah daerah di Pulau Jawa dan Nusa Tenggara mengalami kekeringan dan krisis air bersih.

Kekeringan merupakan salah satu fenomena yang terjadi sebagai dampak penyimpangan iklim global seperti el-nino dan Osilasi Selatan. Dewasa ini bencana kekeringan semakin sering terjadi bukan saja pada periode tahun-tahun El Nino, tetapi juga pada periode tahun dalam keadaan kondisi normal.

Sumber            : https://www.google.co.id/amp/s/amp.tirto.id/indonesia-darurat-kekeringan-dan-krisis-air-bersih-cwtr

 

 

 

 

 

 

  1. Kerusakan Lahan

Gambar: Pembalakan Liar

Kasus pembalakan liar hutan dan lahan ternyata masih marak ditemukan di Sumatra Barat. Selama semester I 2017, pemerintah provinsi Sumatra Barat sudah mengumpulkan barang bukti sebanyak 682,482 m3 kayu yang dikumpulkan dari 19 kasus pembalakan liar. Adanya pembalakan liar menyebabkan hutan menjadi gundul. Hal ini sangat membuat banyak pihak resah dikarenakan hutan menjadi gundul yang dapat menimbulkan banyak persoalan lain seperti kurangnya daya simpan air, timbulnya longsor, banjir dan juga cadangan karbon yang akan menurun akibatnya.

Sumber: http://nasional.republika.co.id/berita/nasional/daerah/17/10/12/oxpg3i382-pembalakan-liar-hutan-marak-di-sumatra-barat

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Kondisi  Malang Raya yang di apit Oleh Berbagai Gunung Aktif

Malang yang saat ini diapit oleh berbagai macam gunung yakni seperti 1.  Pegunungan Kapur di Bagian Selatan Malang 2. Gunung Kawi dan Kelud di bagian barat 3. Kompleks Anjasmoro, Welirang dan Arjuno di bagian timur laut dan utara 4. Kompleks Tengger di bagian timur Bemmelen (1949) dalam Rumpoko & Hadi (2015). Gunung-gunung yang mengelilingi Malang mulanya berupa sebuah gunung api aktif mahabesar berbentuk strato Bemmelen (1949) Rumpoko & Hadi (2015). Identifikasi sebagai vulkan aktif itu sesuai dengan kondisi batuan di Malang, yang berupa formasi hasil gunung api kwarter muda, yang meliputi breksi gunung api, lava tuf, breksi tufan, anglomerat, dan lahar Santosa & Suarti (1992) dalam Rumpoko & Hadi (2015).

Batuan seperti ini umumnya berasal dari daerah vulkanik. Lantaran terjadi eksplosi hebat, maka puncak kerucutnya hancur, dan menyisakan kaldera yang sangat luas. Proses itulah yang menyebabkan Lama-kelamaan lobang kepundannya tersumbat, sehingga berubah menjadi danau besar. Pinggirpinggir danau purba kini menjadi gunung-gunung yang mengelilingi Malang, seperti G. Arjuno, Welirang, Anjasmoro, Kawi, Tengger, Semeru, dan Peg. Kapur Selatan. Menjelang akhir Plestosin, beberapa gunung api purba di Jawa, seperti Arjuno, Anjasmoro, Penanggungan dan Kawi, tidak aktif lagi. Tinggallah Welirang, Semeru dan Kelud yang merupakan gunung api aktif.


Kondisi Lanskap Dau Malang

Secara geografis terletak pada koordinat 112017’12,25” – 112057’28,17” Bujur Timur dan 7045’41,86” – 8027’53,58” Lintang Selatan. Daerah Malang bagian utara merupakan dataran tinggi diapit jajaran pegunungan di bagian barat dan timurnya dengan elevasi lebih dari 1.500 meter di atas permukaan laut dan daerah pantai di bagian selatan yang menghadap langsung ke Samudera Indonesia  (Iman, Riawan, Setiawan, & Abdurahman, 2017). Kecamatan Dau secara wilayah  berbatasan dengan

Utara               : Kecamatan Karangploso

Selatan            : Kecamatan Wagir

Timur               : Kota Malang

Barat               : Kota Batu

Sedangakan luas wilayah kecamatan Dau adalah 5.602,671 Ha dengan distribusi peruntukan tanah :

Pemukiman       :    952.000   Ha

Sawah               :    745.000   Ha

Tanah Kering    :  3.146.056  Ha

Fasum (L. Olh) :      17.405   Ha

Lain-lain            :    742.210   Ha

Wilayah Dau memiliki karateristik tanah atau landform yang menarik karena dekat dengan wilayah gunung yakni Gunung Buthak yang memiliki jenis tanah yang subur. Adapun landform yang terdapat pada wilayah ini adalah :

Landform Vulkanik

Pada wilayah Dau disebelah barat berdekatan dengan gunung buthak, hal ini sangat mendukung adanya pertanian, karena kondisi lahan yang subur dan memiliki air yang cukup untuk kegiatan budidaya. Meskipun kondisi gunung Buthak saat ini masih dalam kondisi dorman akan tetapi pada masa lalu sangat mempengaruhi dari wilayah Dau. Menurut (Nandi, 2007)  bentuk lahan vulkanik dapat terbentuk karena proses-proses vulkanik sehingga membentuk kawah, kerucut vulkanik, aliran lava, atau dataran kaki vulkanik.
DAFTAR PUSTAKA

 

Iman, M. I., Riawan, E., Setiawan, B., & Abdurahman, O. (2017). Air Tanag untuk Adaptasi perubahan Iklim di Malang Jawa Timur : Penilaian Resiko Penurunan Ketersediaan Air. Riset Geologi dan Pertambangan, 47-64.

Nandi. (2007). Longsor. Bandung: FPIPS-UPI.

Rumpoko, D., & Hadi, M. (2015). Sangahanyar (Sembilan Kebaruan dalam Pembangunan Kabupaten Malang). Malang: KPUD Kabupaten Malang.

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Hello world!

February 14th, 2018

Selamat datang di Student Blogs. Ini adalah posting pertamaku!