TUGAS TERSTRUKTUR ANLAN MINGGU KE-2

February 28th, 2018

TUGAS TERSTRUKTUR

ANALISIS LANDSKAP TERPADU

Review tentang Landform Tektonik dan study case”

 

 

Disusun oleh :

Siti Khoirum Anisa (155040201111006)

Kelas A

 

PROGRAM STUDI AGROEKOTEKNOLOGI

FAKULTAS PERTANIAN

UNIVERSITAS BRAWIJAYA

MALANG

2018

 

 

LANDFORM TEKTONIK

Bentangalam struktural adalah bentang alam yang dihasilkan/dikontrol oleh aktivitas tektonik seperti lipatan atau patahan. Bumi ini terdiri dari lempeng tektonik yang berada di atas magma sehingga mengakibatkan terjadinya perubahan morfologi di atas permukaan bumi akibat gaya endogen tersebut. Berikut ini beberapa morfologi khas yang banyak diakibatkan oleh tenaga tektonik.

1. Escarpments (Gawir Sesar)
Merupakan bentangalam berbentuk bukit yang salah satu lerengnya merupakan bidang sesar. Morfologi ini dicirikan oleh bukit memanjang dengan perbedaan ketinggian yang cukup ekstrim antara bagian yang datar dan bagian bukit.
2. Pressure Ridge (Bukit Tertekan)
Merupakan bentangalam berbentuk bukit yang terjadi akibat gaya yang bekerja pada suatu sesar mendatar. Akibat gaya tekan tersebut batuan yang berada sepanjang patahan akan naik ke atas sehingga membentuk seperti bukit.
3. Sag Basin (Cekungan Kantong)
Merupakan bentangalam yang terbentuk dari hasil sesar mendatar (strike slipe fault) berbentuk cekungan. Sag basin merupakan pasangan dari pressure ridge.
4. Shutter Ridge (Bukit Terpotong)
Merupakan bentangalam yang biasanya terdapat di zona sesar mendatar. Shutter ridges terjadi bila salah satu sisi bidang sesar merupakan bagian permukaan tanah yang tinggi dan pada sisi lainnya merupakan bagian permukaan yang lebih rendah. Akibat pergeseran ini dapat menghasilkan penyumbatan aliran sungai.
5. Stream Offset (Sungai Zigzag)
Merupakan sungai yang arah alirannya berbelok secara tiba-tiba mengikuti bidang patahan. Morfologi ini disebabkan oleh pergeseran bukit di zona sesar mendatar.
6. Folded Mountain (Bukit Lipatan)
Bukit lipatan adalah bentangalam yang tersusun oleh batuan sedimen yang terlipat akibat gaya endogen dan membentuk struktur sinklin dan antiklin. Morfologi ini dicirikan oleh susunan perbukitan dan lembah yang berpola sejajar.
7. Anticlinal Ridges (Bukit Antiklin)
Merupakan bentangalam yang berbentuk bukit yang telah mengalami perlipatan membentuk struktur antiklin. Morfologi antiklin umumnya dijumpai di daerah cekungan sedimen yang telah mengalami pengangkatan dan perlipatan. Bukit antiklin diklasifikasikan ke dalam golongan geomorfik muda, artinya proses eksogen pada bentukkan ini belum sampai merubah bentuk awalnya yang berupa bukit.
8. Anticlinal Valley (Lembah Antiklin)
Merupakan bentangalam yang berbentuk lembah yang diapit oleh sepasang bukit antiklin. Lembah antiklin diklasifikasikan ke dalam geomorfik dewasa, artinya proses eksogen yang terjadi pada bentukkan ini telah merubah bentuk aslinya yang semula berbentuk bukit dan berubah menjadi lembah.
9. Synclinal Ridges (Bukit Sinklin)
Merupakan bentangalam yang berbentuk bukit, tersusun atas batuan sedimen yang membentuk struktur sinklin. Synclinal Ridges diklasifikasikan ke dalam morfologi geomorfik dewasa artinya proses eksogen telah merubah struktur aslinya yang awalnya lembah menjadi bukit. Dalam geomorfologi bentukkan ini sering disebut juga topografi terbalik (reverse topographic).
10. Synclinal Valley (Bukit Sinklin)
Merupakan bentangalam yang berbentuk lembah yang tersusun dari batuan sedimen dengan struktur sinklin. Morfologi ini termasuk dalam kategori geomorfik muda, artinya proses eksogen belum sampai merubah struktur  aslinya yang berupa lembah menjadi bukit.
11. Plateau (Plato)
Merupakan bentangalam berbentuk dataran yang menyerupai meja dan tersusun atas batuan yang perlapisannya horizontal. Plateu banyak dijumpai pada daerah yang kondisi geologinya stabil/ tidak terlalu terpengaruh gaya tektonik (pengangkatan/perlipatan).
12. Hogback (Hogbag)
Merupakan bentangalam yang berbentuk bukit yang memanjang searah dengan jurus perlapisan batuan dan memiliki kemiringan lebih dari 45 derajat.
13. Mesa 
Merupakan bentangalam yang berbentuk dataran dan dikontrol oleh struktur perlapisan mendatar dengan elevasi lebih tinggi dari sekitarnya. Mesa hampir sama dengan plateu, hanya ukurannya  yang relatif lebih kecil.
14. Monoclinal Ridges (Bukit Monoklin)
Merupakan bentangalam yang berbentuk bukit dan tersusun dari batuan sedimen dengan arah kemiringan yang seragam. Monoklin dapat berupa bagian sayap dari sebuah antiklin dan sinklin.
15. Block Faulting Ridges (Perbukitan Patahan)
Merupakan bentangalam yang terdiri dari bukit-bukit yang dibatasi oleh  bidang patahan.
16. Horst dan Graben
Horst merupakan bentangalam yang berbentuk bukit dipisahkan dengan morfologi lainnya oleh bidang patahan sedangkan graben adalah bentukkan depresi yang dipisahkan dengan morfologi lainnya oleh bidang patahan.
17. Intrusive
Merupakan bentangalam berbentuk bukit terisolir yang tersusun oleh batuan beku dan genesanya dikontrol oleh aktivitas magma. Bukit intrusi awalnya berada dibawah permukaan bumi dalam bentuk laccolith kemudian tanah diatasnya tererosi dan menyisakan batuan intrusif yang lebih keras.

Tektonik Permasalahan lingkungan 

Adanya erosi akibat gerakan lempeng saat terjadi pelipatan atau pensesaran. Hancurnya beberapa agregat tanah karena adanya pergeseran lempeng dan berpotensi besar menimbulkan longsor. Pada beberapa tempat pun yang mempunyai kandungan gas yang tinggi di bawah perut bumi yang menutupi suatu wilayah. Apabila pada daerah ini adanya aktifitas tektonik yang dapat menimbulkan retakan lapisan tanah, karena adanya tekanan gas yang berasal dari perut bumi lebih besar dapat terjadinya kebocoran gas dan menimbulkan permasalahan lingkungan.

Salah satu study case yaitu “Pengaruh tektonik dan longsor lahan terhadap perubahan bentuklahan
di bagian selatan Danau Purba Borobudur”

Lingkungan danau terbentuk sejak kala Pleistosen Akhir atau 22,130 + 400 B.P. (Murwanto,dkk, 2001). Berakhirnya lingkungan danauterjadi akibat tertimbun oleh material erupsi gunung api. Material hasil erupsi terangkut dan terendapkan, melalui sungai yang mengalir dan bermuara di lingkungan Danau Borobudur. Akibatnya, danau menjadi semakin dangkal dan sempit, akhirnya menjadi kering padaakhir abad ke-13 atau pada tahun 1288 Masehi (Murwanto, 1996).
Perubahan bentuk lahan dari lingkungan danau menjadi dataran membutuhkan proses dan waktu yang sangat lama. Secara umum, faktor penyebab pendangkalan danau adalah proses sedimentasi yang sangat intens. Hasil penelitian yang dilakukan oleh peneliti sebelumnya menyebutkan bahwa pendangkalan Danau Borobudur disebabkan oleh aktivitas gunungapi terutama Gunung Merapi, (Bemmelen1949; Purbohadiwidjojo dan Sukardi, 1966; Murwanto, 1996; Murwanto, dkk. 2001). Berdasarkan pengamatan secara spasial, bagian selatan dari danau ini dibatasi oleh Pegunungan Menoreh yang diperkirakan juga mempunyai peran dalam pendangkalan danau.

Kajian terkait dengan peran PegununganMenoreh terhadap pendangkalan danau belum pernah dilakukan, sehingga penelitian dalam artikel bermaksud mengkaji secara rinci dengan menunjukkan bukti-bukti lapangan, bahwa pendangkalan danau disebabkan oleh aktivitas tektonik dan longsoran material Pegunungan Menoreh cukup besar, terutama di kawasan Danau Purba Borobudur bagian selatan.tian yang dilakukan oleh peneliti sebelumnya menyebutkan bahwa pendangkalan Danau Borobudur disebabkan oleh aktivitas gunungapi terutama Gunung Merapi, (Bemmelen1949; Purbohadiwidjojo dan Sukardi, 1966;Murwanto, 1996; Murwanto, dkk. 2001).

Berdasarkan pengamatan secara spasial, bagian selatan dari danau ini dibatasi oleh Pegunungan Menoreh yang diperkirakan juga mempunyai peran dalam pendangkalan danau.Kajian terkait dengan peran Pegunungan Menoreh terhadap pendangkalan danau belumpernah dilakukan, sehingga penelitian ini bermaksud mengkaji secara rinci dengan menunjukkan bukti-bukti lapangan, bahwa pendangkalan danau disebabkan oleh aktivitas tektonik dan longsoran material Pegunungan Menorehcukup besar, terutama di kawasan Danau PurbaBorobudur bagian selatan.

Kesimpulan dari penelitian ini adalah bahwapada sisi selatan Danau Purba Borobudur telah mengalami pendangkalan yang disebabkan oleh adanya aktivitas tektonik dan longsor lahan dari Pegunungan Menoreh. Rekaman aktivitas tektonik yang terdapat di lapangan menunjukkan bahwa wilayah penelitian dikontrol oleh
struktur geologi. Struktur geologi tersebut mengubah morfologi dan membuka jalan keluar bagi genangan air danau. Aktivitas tektonik juga mengakibatkan terjadinya longsor lahan di Pegunungan Menoreh yang juga dipicu oleh curah hujan dan gravitasi bumi. Keberadaan struktur geologi akan membantu mempercepat terjadinya pelapukan batuan dan berpotensi terjadi longsor. Material hasil longsoran di daerah penelitian, mempunyai dimensi bervariasi mulai dari fraksi halus hingga kasar.

Kawasan di sekitar Candi Borobudur mempunyai daya vitalitas yang tinggi sampai sekarang, meskipun telah mengalami perubahan lingkungan danau menjadi rawa-rawa dan sekarang berupa bentuk lahan dataran. Jejak jejak
lingkungan alam masa lalu masih nampak jelas bisa dinikmati sampai sekarang. Untuk menjaga dan melestarikan keindahan kawasan tersebut, diperlukan penataan dan pengelolaan secara terpadu.

 DAFTAR PUSTAKA

Bemmelen, R.W. van, 1949, The Geology of Indonesia: General Geology of Indonesia and Adjacent Archipelagoes, vol. IA, Government Printing Office,Martinus Nijhoff, The Hague, 732.
Murwanto, H., 1996. Pengaruh Aktivitas Gunungapi Kuarter Terhadap Perubahan Lingkungan Danau di Daerah Borobudur dan Sekitarnya, Jawa Tengah.

Analisis Landskap area Malang Raya

February 14th, 2018

 

 

TUGAS

ANALISIS LANDSCAPE

 

 

 

 

Oleh :

 

Mahdi Akhmad                                    155040200111241

Erlis Herawati Manalu                                155040201111238

Siti Khoirum Anisa                              155040201111006

Nur Affina Safira                                155040201111261

Moch Taufiq Zulmanari                     155040207111046 

PROGRAM STUDI AGROEKOTEKNOLOGI

FAKULTAS PERTANIAN

UNIVERSITAS BRAWIJAYA

MALANG

2018

Macam-Macam Bencana Alam Di Indonesia

  1. Banjir

Gambar: becana alam Banjir

Banjir merupakan bencana alam akibat adanya curah hujan yang tinggi dengan tidak diimbangi dengan saluran pembuangan air (draenase) yang memadai sehingga merendam wilayah-wilayah yang tidak di kehendaki seperti pemukiman maupun lahan pertanian. Gambar diatas adalah bencana banjir di wilayah hulu Sungai Ciliwung di daerah Bogor dan telah menyebabkan debit Sungai Ciliwung meningkat. Imbasnya, banjir mulai melanda Jakarta dan sekitarnya.

Sumber : www.bbc.com/indonesia/indonesia-42956048

  1. Tanah Longsor

Gambar: Bencana Alam Tanah Longsor

Tanah longsor merupakan gejala alam yang terjadi di sekitar kawasan pegunungan. Semakin curam kemiringan lereng suatu kawasan, semakin besar pula kemungkinan terjadi longsor. Longsor terjadi saat lapisan bumi paling atas dan bebatuan terlepas dari bagian utama gunung atau bukit. Hal ini juga dapat disebabkan akibat hujan dengan intensitas tinggi yang berlangsung dalam waktu yang cukup lama. Gambar diatas merupakan salah satu daerah yang mengalami longsor di Kabupaten Bogor, Jawa Barat.

Sumber : https://www.google.co.id/amp/s/nasional.tempo.co/amp/1058621/bnpb-belum-genap-2-bulan-terjadi-275-bencana-alam-pada-2018

  1. Kekeringan

Gambar: Bencana Alam Kekeringan

Kekeringan adalah ketersediaan air yang jauh di bawah dari kebutuhan air untuk kebutuhan hidup, pertanian, kegiatan ekonomi dan lingkungan. Di Indonesia pada setiap musim kemarau hampir selalu terjadi kekeringan pada tanaman pangan dengan intensitas dan luas daerah yang berbeda tiap tahunnya, seperti pada sejumlah daerah di Pulau Jawa dan Nusa Tenggara mengalami kekeringan dan krisis air bersih.

Kekeringan merupakan salah satu fenomena yang terjadi sebagai dampak penyimpangan iklim global seperti el-nino dan Osilasi Selatan. Dewasa ini bencana kekeringan semakin sering terjadi bukan saja pada periode tahun-tahun El Nino, tetapi juga pada periode tahun dalam keadaan kondisi normal.

Sumber            : https://www.google.co.id/amp/s/amp.tirto.id/indonesia-darurat-kekeringan-dan-krisis-air-bersih-cwtr

  1. Kerusakan Lahan

Gambar: Pembalakan Liar

Kasus pembalakan liar hutan dan lahan ternyata masih marak ditemukan di Sumatra Barat. Selama semester I 2017, pemerintah provinsi Sumatra Barat sudah mengumpulkan barang bukti sebanyak 682,482 m3 kayu yang dikumpulkan dari 19 kasus pembalakan liar. Adanya pembalakan liar menyebabkan hutan menjadi gundul. Hal ini sangat membuat banyak pihak resah dikarenakan hutan menjadi gundul yang dapat menimbulkan banyak persoalan lain seperti kurangnya daya simpan air, timbulnya longsor, banjir dan juga cadangan karbon yang akan menurun akibatnya.

Sumber: http://nasional.republika.co.id/berita/nasional/daerah/17/10/12/oxpg3i382-pembalakan-liar-hutan-marak-di-sumatra-barat

Kondisi  Malang Raya yang di apit Oleh Berbagai Gunung Aktif

Malang yang saat ini diapit oleh berbagai macam gunung yakni seperti 1.  Pegunungan Kapur di Bagian Selatan Malang 2. Gunung Kawi dan Kelud di bagian barat 3. Kompleks Anjasmoro, Welirang dan Arjuno di bagian timur laut dan utara 4. Kompleks Tengger di bagian timur Bemmelen (1949) dalam Rumpoko & Hadi (2015). Gunung-gunung yang mengelilingi Malang mulanya berupa sebuah gunung api aktif mahabesar berbentuk strato Bemmelen (1949) Rumpoko & Hadi (2015). Identifikasi sebagai vulkan aktif itu sesuai dengan kondisi batuan di Malang, yang berupa formasi hasil gunung api kwarter muda, yang meliputi breksi gunung api, lava tuf, breksi tufan, anglomerat, dan lahar Santosa & Suarti (1992) dalam Rumpoko & Hadi (2015).

Batuan seperti ini umumnya berasal dari daerah vulkanik. Lantaran terjadi eksplosi hebat, maka puncak kerucutnya hancur, dan menyisakan kaldera yang sangat luas. Proses itulah yang menyebabkan Lama-kelamaan lobang kepundannya tersumbat, sehingga berubah menjadi danau besar. Pinggirpinggir danau purba kini menjadi gunung-gunung yang mengelilingi Malang, seperti G. Arjuno, Welirang, Anjasmoro, Kawi, Tengger, Semeru, dan Peg. Kapur Selatan. Menjelang akhir Plestosin, beberapa gunung api purba di Jawa, seperti Arjuno, Anjasmoro, Penanggungan dan Kawi, tidak aktif lagi. Tinggallah Welirang, Semeru dan Kelud yang merupakan gunung api aktif.

Kondisi Lanskap Dau Malang

Secara geografis terletak pada koordinat 112017’12,25” – 112057’28,17” Bujur Timur dan 7045’41,86” – 8027’53,58” Lintang Selatan. Daerah Malang bagian utara merupakan dataran tinggi diapit jajaran pegunungan di bagian barat dan timurnya dengan elevasi lebih dari 1.500 meter di atas permukaan laut dan daerah pantai di bagian selatan yang menghadap langsung ke Samudera Indonesia  (Iman, Riawan, Setiawan, & Abdurahman, 2017). Kecamatan Dau secara wilayah  berbatasan dengan

Utara               : Kecamatan Karangploso

Selatan            : Kecamatan Wagir

Timur               : Kota Malang

Barat               : Kota Batu

Sedangakan luas wilayah kecamatan Dau adalah 5.602,671 Ha dengan distribusi peruntukan tanah :

Pemukiman       :    952.000   Ha

Sawah               :    745.000   Ha

Tanah Kering    :  3.146.056  Ha

Fasum (L. Olh) :      17.405   Ha

Lain-lain            :    742.210   Ha

Wilayah Dau memiliki karateristik tanah atau landform yang menarik karena dekat dengan wilayah gunung yakni Gunung Buthak yang memiliki jenis tanah yang subur. Adapun landform yang terdapat pada wilayah ini adalah :

Landform Vulkanik

Pada wilayah Dau disebelah barat berdekatan dengan gunung buthak, hal ini sangat mendukung adanya pertanian, karena kondisi lahan yang subur dan memiliki air yang cukup untuk kegiatan budidaya. Meskipun kondisi gunung Buthak saat ini masih dalam kondisi dorman akan tetapi pada masa lalu sangat mempengaruhi dari wilayah Dau. Menurut (Nandi, 2007)  bentuk lahan vulkanik dapat terbentuk karena proses-proses vulkanik sehingga membentuk kawah, kerucut vulkanik, aliran lava, atau dataran kaki vulkanik.

 

DAFTAR PUSTAKA

Iman, M. I., Riawan, E., Setiawan, B., & Abdurahman, O. (2017). Air Tanag untuk Adaptasi perubahan Iklim di Malang Jawa Timur : Penilaian Resiko Penurunan Ketersediaan Air. Riset Geologi dan Pertambangan, 47-64.

Nandi. (2007). Longsor. Bandung: FPIPS-UPI.

Rumpoko, D., & Hadi, M. (2015). Sangahanyar (Sembilan Kebaruan dalam Pembangunan Kabupaten Malang). Malang: KPUD Kabupaten Malang.

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Hello world!

February 14th, 2018

Selamat datang di Student Blogs. Ini adalah posting pertamaku!