browser icon
You are using an insecure version of your web browser. Please update your browser!
Using an outdated browser makes your computer unsafe. For a safer, faster, more enjoyable user experience, please update your browser today or try a newer browser.

Mochi Jepang Khas Sukabumi, Ini Dia Ceritanya

Posted by on 26 February 2022

Mochi Jepang Khas Sukabumi, Ini Dia Ceritanya -Siapa tidak mengenal makanan kenyal yang satu ini, dengan taburan tepung putih serta dibalut kacang, maupun aneka buah di dalamnya, membuatnya ini digemari oleh seluruh kalangan.

Ya, mochi. Di Jepang, kudapan ini berasal berasal dari kata kerja motsu yang artinya “menahan”. Dalam keyakinan rakyat, mochi merupakan makanan yang diberikan oleh dewa.

Menurut Jonjon Johana, keliru satu dosen Sastra Jepang Universitas Padjajaran, sejarah mochi pertama kali masuk di Indonesia bermula ketika Jepang lakukan penjajahan di Indonesia.

“Ketika itu kehadiran tentara Jepang yang lakukan penjajahan di Indonesia. Ketika itu Sukabumi jadi pertahanan militer, selanjutnya ada orang Sukabumi yang bekerja di barak tentara Jepang selanjutnya mengikuti resepnya; dan pada akhirnya mochi di Sukabumi berkembang sampai kala ini,” ujar Jonjon.

Di Jepang, udah jadi normalitas dalam memakan mochi dalam rangka merayakan acara th. baru. Acara berikut bernama Mochitsuki yang artinya sebabkan mochi.

Mochi Jepang Khas Sukabumi, Ini Dia Ceritanya

Pembuatan mochi tradisional dibuat dengan sedikitnya dua orang. Dengan pertolongan palu kayu, mochi konsisten dipukul dan di bolak-balik adonannya sampai lembut. Setelah lengket, adonan dipotong jadi bulatan kecil, lantas dibentuk jadi bulat atau oval.

Moci di Jepang kebanyakan dimasak dengan langkah dibakar, direbus, maupun dipanggang. Dengan wujud dan isian yang beragam ragam, sebabkan mochi tambah cantik dan menggugah selera.

Di Sukabumi, mochi banyak dijajakan oleh pengasong di titik persimpangan jalan. Sukabumi termasuk tenar sebagai pusat oleh-oleh mochi.

Moci tradisional Sukabumi tetap menjaga wujud kemasan memanfaatkan pembungkus bambu. Satu paket mochi Sukabumi terdiri berasal dari lima keranjang persegi empat, masing-masing memuat 10 buah.

Moci kini berakulturasi dengan budaya Indonesia dan inovasi pembuat mochi tambah berkembang tidak hanya rasa original memuat kacang saja.

“Dengan berkembangnya inovasi mochi di penduduk dan dampak akulturasi budaya, mochi kini tidak hanya memiliki rasa kacang saja. Sudah merambah beragam varian rasa dan olahan. Seperti mochi es krim dan roti mochi serta varian rasa yang merasa menyentuh beragam rasa,” lanjut Jonjon.

Makanan mochi mampu bertahan 3 hari dalam suhu ruangan; dan untuk menjadikan mochi lebih awet sebaiknya disimpan di lemari pendingin.

Enaknya, dengan pertumbuhan teknologi kini kita tidak harus jauh-jauh membeli mochi ke Sukabumi atau Jepang. Kini ada pembelian di toko online.

Kini mochi datang dalam beragam varian rasa dan macam olahan, agar bakal lebih nikmat jika dimakan dengan secangkir teh hangat

Sejarah Mochi Lampion
Mochi Lampion berdiri sejak 1983. Saat ini Mochi Lampion udah dilanjutkan oleh generasi keduanya.

“Mochi Lampion ini berdiri th. 1983, lantas berkembang dan sebabkan bangunan baru kembali di th. 2014,” tutur Rudi, Jumat (21/01/2022).

“Pertama pendirinya adalah orang tua kami, sekarang udah diteruskan generasi keduanya,” tambahnya.

Menurut perbincangan Rudi bisnis ini bermula berasal dari orang tuanya yang sempat ikut sebabkan mochi dengan tentara Jepang.

Lebih jauh, Rudi menceritakan bahwa dahulu di dekat Kampung Kaswari terkandung markas tentara Jepang yang kini dikenal dengan nama SECAPA atau Sekolah Calon Perwira.

Saat itu tentara Jepang sebabkan mochi untuk camilan kala acara. Kemudian, sebagian orang pribumi di sekitarnya diperbantukan untuk ikut membuatnya. Termasuk termasuk orang tua Rudi.

“Awalnya kemungkinan bala tentara Jepang sebabkan semacam camilan, mochi buat hidangan acara. Nah sehabis itu barulah warga pribumi di Sukabumi diperbantukan untuk sebabkan kue mochi itu,” jelasnya.

Seiring berjalannya waktu, warga pribumi melanjutkan pembuatan mochi ini. Namun kebanyakan yang meneruskannya adalah keluarga Tionghoa.

“Dari situ barulah warga pribumi melanjutkan pembuatan mochi ini buat camilan-camilan. Nah dilanjutkannya itu rata-rata oleh pribumi yang keturunan Tionghoa. Jadi bukan Jepang kembali yang melanjutkan, namun pribumi keturunan Tionghoa,” ujar Rudi.

Berkat rasanya yang manis dan teksturnya yang kenyal, mochi jadi satu kudapan yang disukai warga pribumi.