browser icon
You are using an insecure version of your web browser. Please update your browser!
Using an outdated browser makes your computer unsafe. For a safer, faster, more enjoyable user experience, please update your browser today or try a newer browser.

Sejarah Kopi Hingga Sampai Di Indonesia

Posted by on 22 February 2022

Sejarah Kopi Hingga Sampai Di Indonesia – Didukung bersama dengan fakta kalau Saya terhitung kategori yang tidak buka warung kopi, satu kata yang tepat untuk mengekspresikannya “asem telat lek”.

Saking larisnya, lebih dari 15 juta cup kopi diminum oleh orang di seluruh dunia dalam. Artinya, jikalau di tempat tinggal Anda tidak tersedia “rodong isi kopi”, bermakna Anda adalah minoritas.

Sebagai pelipur, akhirnya Saya tertarik menengok sedikit sejarah kopi ini, dari mana ia bermula dan bagaimana ia sampai mendunia.

Sejarah Kopi Hingga Sampai Di Indonesia

Awal Sejarah Kopi
Mengutip dari Chapter 2 Buku “1001 Inventions: The Enduring Legacy of Muslim Civilization”. Dikabarkan, kalau kopi ini udah dikenal lebih dari 1.200 th. yang lalu. Konon, sebagaimana dikutip di dalam artikel “On the Coffe Trail”, para pengembala kambinglah yang menemukannya. Mereka penasaran bersama dengan gembalanya yang lebih seperti tersuplai energi sesudah memakan buah seperti beri. Para penggembala sesudah itu merebusnya dan menjadikannya minuman yang oleh orang Arab disebut bersama dengan “al-qahwa”. Simak kisah lengkapnya di The Origin of Coffee: Kaldi plus the Dancing Goats.

Oleh karenanya, tak salah kalau dikatakan “Kopi membuat kita dapat merenung, serius dan filosofis” demikian kutipan dari Jonathan Swift, Irish Writer.

Di zaman peradaban Islam, kopi disebarkan ke seluruh dunia Muslim oleh para pelancong, peziarah, dan pedagang, capai Mekah dan Turki pada akhir abad ke-15 dan Kairo pada abad ke-16.

Kopi di Eropa
Pada abad ke-15, kopi dibudidayakan di Afrika Timur dan diperdagangkan di seluruh semenanjung Arab. Awalnya, minuman baru itu dianggap sebagai alat bantu konsentrasi dan digunakan oleh para sufi di Yaman untuk mencegah mereka tertidur selama menjalankan ibadah. (Teh terhitung diawali sebagai penolong kecil bagi biksu Buddha yang berjuang untuk selalu terjaga melalui meditasi yang panjang.) Dalam satu abad, kedai kopi bermunculan di kota-kota di seluruh dunia Arab. Pada th. 1570 tersedia lebih dari 600 dari mereka di Konstantinopel saja, dan mereka menyebar ke utara dan barat bersama dengan kekaisaran Ottoman.

Sebelum abad ke-16 pertengahan, tipe penyajian kopi di lokasi Eropa sebagian besar menirukan gaya penyajian kopi Muslim yaitu campuran bubuk kopi, gula, dan air mendidih bersama-sama, yang meninggalkan residu kopi di cangkir sebab tidak disaring.

Barulah kemudian, pada akhir abad 16 atau tepatnya 1683 M, ditemukan langkah baru penyajian kopi dan menjadi langkah tervaforit saat itu. Sekarang kita mengenalnya bersama dengan sebutan “Cappucino”.

Kopi cappuccino terinspirasi oleh Marco d’Aviano, seorang pendeta dari ordo biara Capuchin, yang berperang melawan orang-orang Turki yang mengepung Wina pada th. 1683. Setelah mundurnya orang-orang Turki, orang-orang Wina membuat kopi dari karung-karung kopi Turki yang ditinggalkan. Merasa amat kuat untuk rasanya, mereka mencampurnya bersama dengan krim dan madu. Hal ini membuat warna kopi menjadi coklat, menyerupai warna jubah kapusin. Jadi, orang Wina menamakannya cappuccino untuk menjunjung pesanan Marco D’Aviano. Sejak itu, cappuccino menjadi populer sebab rasanya yang sedap dan lembut…

Bermula dari seorang pedagang Ottoman bernama Pasqua Rosee [Paşa Rıza] yang pertama kali membawa kopi ke Inggris pada th. 1650, menjualnya di sebuah kedai kopi di George-yard, Lombard Street, London.

Delapan th. kemudian, kedai kopi lain bernama Sultaness Head diakses di Cornhill. Lloyd’s of London, saat ini menjadi perusahaan asuransi terkenal, pada mulanya adalah kedai kopi bernama Edward Lloyd’s Coffee House. Pada 1700, tersedia sekitar 500 kedai kopi di London,

Kopi di Indonesia
Khusus di Indonesia, ternyata orang Belanda-lah yang mempopulerkannya, tepatnya tersedia 1966 lalu. Jenis kopi “Arabika” yang ditanam di tanah Jawa saat itu memetik berhasil besar. Namun, sayang nya pada th. 1878, serangan penyakit karat daun atau Hemileia vastatrix (HV) memporak-porandakan nya. Kemudian, Belanda menggantinya bersama dengan tipe kopi lain, spesies kopi liberika (Coffea liberica). Anda dapat perhatikan kisah lengkapnya di Sejarah Kopi. Belanda saat itu, menjadi pemasok kopi dunia. Pasca kemerdekaan, sudah pasti kebun kopi punya Belanda seutuhnya udah dinasionalisasi.

Setelah melihat sedikit ulasan sejarah Kopi di tas, tersedia satu fakta menarik yaitu “Model Penyajian Kopi”. Melihat fakta bahwa Cappucino selalu menjadi favorit sampai saat ini, timbul di dalam benak saya, bagaimana bersama dengan inovasi yang dikerjakan di Indonesia?

Kalau merujuk pada kota kelahiran Saya, tersedia banyak ragam penyajian kopi yang menurut pernyataan lidah Saya, rasanya lebih sedap dari Cappucino. Sebut saja, Kopi Ijo, Kopi Cethe bersama dengan sensasi hias rokoknya. Belum kembali tipe “Kopi Arang”, yang pernah sebagian saat lalu pernah saya cobalah di lokasi Jogja.

Dengan sebagian keragaman kopi ini sesungguhnya menurut prediksi Saya yakin kalau tersedia potensi besar pada kopi ini. Tinggal bagaimana kita dapat membuatnya mendunia. Bahkan sebagian saat lalu, di Wilayah Jember, Saya sempat dibuat takjub bersama dengan Pusat Penelitian Kopi dan Kakao Indonesia (Puslitkoka).dan hampir 3.000 di seluruh Inggris. Dari sini kita dapat sangat percaya kalau orang Arab lah yang mempopulerkan Kopi di seluruh dunia melalui lokasi Mocha.