3

Dia yang hanya bisa aku pandang

Aku tidak tau tepatnya aku suka, sayang, dan bahkan sampai mencintainya. Aku berharap dan aku menginginkannya menjadi milikku. Sopan, ramah namun terkadang mematikan. Itulah sikapnya seperti singa. Jangan mencoba membuat gaduh, dia tidak terlalu senang bercanda. Dia akan marah hanya dengan kau salah berucap. Namun begitu disisi yang lain dia begitu hangat. Aku terjatuh dalam kata “jatuh cinta”. Aku  selalu mengelak ketika perasaan itu datang, aku tidak terlalu mempedulikannya. Karena alibi yang aku buat, karena karakterku yang dingin dan mudah menyukai semua hal. Awalnya aku hanya mengira aku kagum, suka dan perasaan sejenis. Namun aku salah, aku sudah jatuh terlalu dalam.

Aku sangat mengetahui aku tidak mungkin bersamanya, itu begitu mustahil. Aku salah memilih, aku salah mendefinisikan semua perasaan yang telah tersimpan rapi yang terajut dengan sangat rapi. Bagaimana jika terlepas dengan paksa? Sakitkah? Membuat luka yang membekas? Aku butuh waktu untuk menghancurkannya. Aku butuh waktu untuk menjadikannya tidak ada.

Penyangkalan awal begitu menganggu, namun dengan berjalannya waktu sedikit demi sedikit sudah mulai terbiasa. Tidak dapat terlepas langsung, namun begitu aku sudah tidak mengharapkannya lagi. Tuhan telah menunjukkan satu persatu hal yang mustahil aku raih, pilihan-pilihan, kepentingan diatas kepentingan, prioritas yang harus diutamakan. Terkadang ketika aku sedang marah aku berkata “semoga Tuhan lebih menyayangimu”. Ada sedikit penekanan di kata “lebih” karena ada tujuan lain. Begitu egois, sudahlah meskipun aku belum mengikhlaskannya setidaknya aku sudah berusaha. Tanggungjawab dan resiko yang harus lalui sesuai dengan keputusan yang aku pilih dulu.

0

See or Not See

Aku tidak begitu paham akan diriku sendiri. Aku tidak tahu bagaimana aku yang sebenarnya. Bisa kau sebut aku tidak tahu jatidiriku yang sesungguhnya. Kata orang yang tidak mengenalku aku dingin dalam bersikap, tidak peduli dan acuh tak acuh, aku seorang yang pendiam dan tertutup. Well, mereka menyimpulkan aku seorang yang demikian. Bagi orang yang mengenalku terkadang mereka bingung karena sikapku yang mudah berubah, dapat dikatakan aku labil disisi lain aku menyenangkan. Kata salah satu dari kelompok temanku (semacam teman di sebuah organisasi) aku orang yang sangat manja, bawel, egois, ceria dan nyenyeng. Dirumah aku dikenal dengan sopan dan seorang yang dewasa dan begitu banyak opini dari mereka telah yang bertemu denganku.

Aku tersadar dari apa yang aku pikirkan. Apakah aku mempunyai Gangguan Identitas Disosiatif (Dissociative Identity Disorder)? Tidak, aku sudah mengkonfirmasinya. Aku juga bukan seorang psikopat, aku sudah melakukan tes tentang itu. Terkadang aku merasa aneh tentang bagaimana aku harus bersikap. Aku menyadari dari setiap tindakan yang aku lakukan. Namun begitu aku terkadang sangat malas menanggapi sesuatu hal sehingga aku hanya ingin tidur dan melupakannya. Seperti rasa sakit yang terkadang aku rasakan aku selalu ingin cepat tidur dan melupakannya. Alhasil aku bangun dan merasa lebih baik. Namun apakah kamu tau menghilangkan rasa ingin tidur dan malas? Aku bosan harus menjalani rutinitas yang monoton. Ketika tidak ada target yang aku capai aku merasa hidup yang aku jalani datar dan aku tidak merasakan apa apa. Kosong dan aku hanya mengikuti kemana saja arah itu berjalan.

Dimasa kecil aku merupakan seorang anak yang berbeda. Iya aku berkata berbeda dikarenakan ada beberapa kejadian yang aku alami. Dari nama yang diberikan oleh orangtuaku, mereka menginginkan aku menjadi anak yang sholehah dengan pemberian nama yang Islami. Namun aku kurang cocok menyandang nama itu, sehingga aku sakit yang berkepanjangan dan dengan begitu namaku dirubah dengan nama yang mengandung unsur kejawen. Dikarenakan nama pertama sudah didaftarkan dan sudah ada akta kelahiran sehinnga nama kedua dijadikan nama panggilan. Disekolah aku dikenal dengan nama pertama sedangkan di luar sekolah aku dikenal dengan nama kedua. Sekarang kedua nama itu menyampur jadi satu. Alasan lainnya aku sering sakit di masa kecil salah satu penyakit yang melekat sampai sekarang adalah alergi seefood, bukan hanya itu, alergi entah apa namanya terkadang suka mendadak kambuh. Aku juga punya riwayat penyakit dalam, typus yang datang sekali setiap beberapa tahun sekali dan mengharuskan aku untuk bedrest satu bulan penuh. Suhu tubuhku juga berbeda dari orang lain. Tubuhku selalu hangat disaat mereka kedinginan. Kulit tanganku tidak bisa kasar meskipun aku melakukan pekerjaan kasar, selalu berganti kulit. Entahlah, aku tidak mengerti. Sekarang datang beberapa penyakit yang tidak berbahaya sebenarnya menurut dokter namun sedikit mengganggu pikiranku dan lainnya yang tidak begitu aku mengerti.

Dimasa kecil aku begitu menyenangkan, bermain, tertawa, bekerja keras mencari uang untuk kepuasan diri, dan melakukan banyak hal yang sangat menyenangkan. Pada waktu TK aku seorang anak yang mandiri dan cerdas, namun sangat mudah terpengaruh. Sangat mudah terpengaruh karena aku tidak suka berfikir rumit, aku melakukan apa yang harus aku lakukan pada waktu itu dan berdasarkan pikiran dan apa yang aku lihat, spontanitas. Aku berhasil membuat orang tuaku, guru dan keluarga bangga dengan penampilan seni, lomba, sikap mandiriku dan hal yang aku lakukan. Meskipun dulu keluargaku masih belum cukup secara finansial seperti sekarang namun aku menyukai saat aku kecil, begitu menyejukkan, terasa hangat dan sesekali aku merindukannya. Hal itu berlanjut hingga aku masuk sekolah dasar, meskipun aku pernah merasakan bagaimana rasanya tidak memiliki teman perempuan sama sekali, yang artinya dimasa sekarang pembullyan, sistem bully itu sudah ada dari entah kapan hanya berbeda nama dari masa ke masa. Aku berhasil keluar dari zona itu dari awal dan berhasil mengembangkan otak kanan serta otak kiriku. Aku mampu mengontrol emosi sehingga aku cepat bangkit dan melawan. Aku pandai menganalisa kejadian yang akan terjadi dari kejadian kejadian sebelumnya, meskipun terkadang aku salah memprediksi namun instingku selalu tepat. Aku mampu mengontol waktu belajar dan kegiatan ektrakulikuler, aku sangat berusaha mengontrol otak kanan serta otak kiriku supaya berjalan sesuai yang aku harapkan. Alhasil, aku berhasil di akademik dan aku berhasil tampil di depan banyak orang. Hal itu pengaruh dari masa kanak kanak. Meskipun aku tahu resiko yang akan terjadi tapi aku selalu menyusun rencana diawal dan terkadang aku harus merelakan apa yang aku inginkan untuk sesuatu yang aku butuhkan. Pengorbanan itu harus dilakukan untuk sesuatu hal, harus dilakukan untuk rencana yang lain supaya berhasil.

Masa SMP inilah aku mulai hilang, kosong, tujuanku tidak terarah. Aku hanya mengikuti arah yang kosong tanpa tujuan. Aku tidak punya cita cita, aku tidak punya mimpi, aku tidak punya pengharapan apa apa. Sama sekali kosong. Ada salah satu cerita yang tidak begitu menyenangkan. Setiap tahun sekolah mengadakan lomba mading. Pada waktu itu aku masih duduk di bangku kelas VII, kegiatan itu mengharuskan setiap siswa datang setelah pulang sekolah, karena masih banyak waktu tersisa aku terlebih dahulu pulang dan kembali ke sekolah. Ha, kamu tahu pakaian apa yang aku kenakan waktu itu? Aneh, begitu kelihatannya aku sangat menyadari hal itu. Namun tiba tiba salah satu teman sekolah dasarku yang kebetulan satu sekolah smp juga, mengejekku dengan beberapa temannya. Apakah dia tidak bisa diam dan melihatku berlalu begitu saja?. Aku sangat tahu level mereka, namun demikian aku hanya diam dan berlalu. Sebenarnya aku tidak masalah dengan semua itu namun ketika ku pikirkan berulang kali itu sangat keterlaluan, menghina di depan banyak orang. Hah, siapa dia? teman? berfikirlah untuk menjadi lebih baik. Aku tidak menerima namun aku mengikhlaskan. Jangan tanya apa yang terjadi padanya, kamu tidak harus tahu. Seperti halnya anak anak yang mengabaikanku di masa lalu.

Masa SMP berlalu begitu cepat. Memasuki masa SMA aku berniat bangkit dari masa SMP yang memberiku banyak pelajaran. Menjadi bekalku di SMA. Aku melanjutkan ke sekolah yang tidak ada seorangpun yang mengenalku dari SMP, aku bertekad aku akan memulai lagi dari awal. Aku harus bangkit dan menciptakan masa SMA yang penuh dengan kenangan. Teman baru, guru baru, suasana baru, semua harus benar benar baru. Namun demikian aku Gagal, aku gagal masuk ke SMA. Tapi aku diterima di RSBI SMK. Pertama aku tidak percaya diri namun dengan berjalannya waktu aku menjadi sangat percaya diri dan berani. Disini juga aku mempunyai teman teman yang banyak dengan kepribadian yang berbeda dari sebelumnya. Aku punya sahabat, aku punya sesuatu yang baru. Meskipun terkadang aku sulit dengan kompetensi keahlianku namun aku bersyukur ada yang bisa membantuku mengerjakan semuanya. Di sini juga ada sistem pembullyan namun aku tidak terlalu memikirkannya. Aku sibuk dengan urusan ekskul dan kegiatan lainnya. Aku juga bersyukur Tuhan memilihkan aku sekolah disini banyak yang aku pelajari. Meskipun aku lebih menunjukkan sikap yang dingin namun manja. Ya seperti itulah aku tidak mengerti bagaimana menjelaskannya. Yang kemungkinan aku lebih easy going dan tanpa malu menyapa orang, menggoda, bertengkar, melanggar aturan, dan sesuatu hal yang lainnya. Hingga cinta dalam diam yang masih aku simpan rapat sampai sekarang. Penampakan fisikku yang jauh dari kata “cantik”, bagaimana aku dapat berdandan jika aku sering keluar ke alam bebas, menyapa matahari dan bintang malam. Aku terlihat kecil, item alias dekil, gesit, cuek, manja, dan entahlah sikap aneh ku di masa SMK. Yang pasti ketika aku bertemu dengan mereka sikapku akan berubah dengan sendirinya menyesesuaikan keadaan dan tempat.

Setelah selesai menyelesaikan pendidikan SMK aku melanjutkan di perguruan tinggi di Malang. Sebelumnya aku ingin melanjutkan di universitas yang menyediakan lapangan kerja sekaligus sehingga aku tidak repot mencari pekerjaan di kemudian hari. Namun takdir berkata lain, aku mengikuti prosedur dan di terima di salah satu perguruan tinggi negeri di Malang. Aku ingin merubah sikap lagi di masa kuliah. Aku berencana tinggal di pondok pesantren yang aku impikan sejak kecil, alangkah lebih dekat dengan Allah, aku bisa berada dilingkungan seperti itu, dapat ke beasiswa ke Mekkah itu cita cita awalnya. Ya sebatas cita cita. Di sini jalanku tidak terarah, bisa di bilang rencanaku GAGAL. Semester awal aku mencoba bersabar, sebisa mungkin aku harus bisa mengontrol emosiku. Aku harus bertahan, dengan berjalannya waktu aku dapat bertahan sampai sekarang meskipun transkip nilaiku bisa dikatakan tidak memuaskan. Aku harus belajar dari awal lagi, aku hampir menyerah dan melalukan tes ulang masuk universitas lain, tapi GAGAL. Aku harus bertahan disini sampai wisuda. Harus optimis selesai tepat waktu dan bekerja. Dengan dukungan orang tua dan orang sekitar aku dapat melewati sampai sekarang. Perbaiki IPK setidaknya harus diatas 3,25. Harus bisa. Sifat yang menjengkelkan di disini adalah aku tidak sepandai waktu kecil, aku harus berusaha keras untuk mendapatkan sesuatu dengan hasil yang memuaskan dan lagi sifat malas dan suka tidur ini yang Arrrrgh aku benci sekali namun selalu aku lakukan. Di sini juga aku lebih menonjolkan sikap yang dingin dan diam. Emosi, lagi lagi aku mengontrolnya.

 

Di dunia kerja nanti entah sikap apa yang akan aku ciptakan. Kemungkinan besar adalah penurut dan aktif.

Kamu tau apa yang lebih berbahaya dari mengontrol emosi, adalah sesorang yang pandai mengontrol emosi dan tidak mudah marah. Mereka jauh dari yang terlihat di luar, meskipun terlihat baik namun kamu tidak tau pikiran pikiran, rencana rencana didalam pikirannya. Bagi mereka semua sama, seseorang yang kaya akan melakukan apapun karena bagi orang itu uang tidak ada masalah semacam simbiosis mutualisme. Bagi mereka yang pendendam, tidak cukup secara finansial, mereka hanya diam dan memperhatikanmu sesekali melihat apa yang engkau lakukan, dan Banggg kau hancur meskipun dapat bangkit. semacam aib yang kau lakukan, akan membekas di dirimu atau orang lain seumur hidupmu. Permainan mereka cantik, tidak akan dapat engkau banyangkan apa yang mereka pikirkan dan lakukan. Rencana rencana cadangan bukan hanya banyak namun tak terdeteksi. Namun demikian sebenarnya mereka adalah seorang yang kesepian,