KATA PENGANTAR

 

Laporan Sosiologi Pertanian ini dibuat dalam rangka memenuhi salah satu persyaratan praktikum Sosiologi pada Fakultas Pertanian Universitas Brawijaya. Laporan ini mengambil tema aspek – aspek sosiologis yang ada di masyarakat, tepatnya lagi di Dusun Sengon ds. Bedalisodo kec. Wagir Kab. Malang.

Laporan sosiologi ini mengulas tentang bagaimana kebudayaan, kebiasaan, stratifikasi sosial, kelembagaan, jaringan sosial yang ada di desa tersebut dan lebih spesifik lagi ke arah perkembangan pertanian di daerah tersebut.

Selama pembuatan laporan ini penulis tidak mengalami kesulitan yang begitu berarti karena penulis menyelesaikan laporan ini dengan kerjasama dan selalu kompak.

Selesainya penulisan laporan ini berkat bantuan dari berbagai pihak oleh karena itu, pada kesempatan ini penulis sampaikan terima kasih kepada:

  1. Allah SWT yang telah melimpahkan rahmat serta hidayah-Nya hingga penulis dapat menyelesaikan laporan ini.
  2. Kakak asisten Sosiologi Pertanian Mbak Imas yang telah membimbing kami selama dilakukannya wawancara dan penulisan laporan ini.
  1. Rekan-rekan semua di Kelas A Universitas Brawijaya Fakultas Pertanian Malang Jawa Timur
  1. Secara khusus penulis menyampaikan terima kasih kepada keluarga tercinta yang telah memberikan dorongan dan bantuan serta pengertian yang besar kepada pennulis, baik selama mengikuti perkuliahan maupun dalam menyelesaikan laporan ini.
  2. Serta kerabat-kerabat dekat dan rekan-rekan seperjuangan yang penulis banggakan. Semoga Allah SWT, memberikan balasan atas kebaikan yang telah diberikan kepada penulis.

Penulis menyadari laporan ini masih jauh dari sempurna oleh karena itu, kritik dan saran yang sifatnya konstruktif sangat diharapkan oleh penulis. Akhirnya pennulis berharap semoga laporan ini dapat bermanfaat bagi semua pihak yang berkompeten. Amin.

 

  1. I.              PENDAHULUAN

Pada saat ini pertanian di Indonesia makin berkembang. Cara bercocok tanam yang dilakukan petani pun makin beragam. Terlihat perbedaan cara bercocok tanam yang dilakukan oleh petani, dari antar petani itu sendiri, antar desa tempat petani tinggal hingga antar daerah pasti berbeda. Dari zaman ke zaman pasti akan mengalami kemajuan. Yang awalnya hanya secara biasa atau sederhana hingga sekarang yang sudah menggunakan alat untuk sistem pengolahan tanah, bercocom tanam hingga cara panen.

Dilihat dari aspek sosiologi petani dapat terlihat jelas bahwa mereka mempunyai cara tersendiri untuk bercocok tanam. Dari orang tua, mereka mendapat warisan pengetahuan bagaimana tradisi bercocok tanam keluarga mereka.

Sangat penting bagi kita untuk mengetahui bagaimana kebudayaan, kebiasaan, stratifikasi sosial, kelembagaan dan jaringan sosial yang terdapat pada suatu daerah karena dari hal tersebut kita bisa memastikan bahwa daerah tersebut telah mengalami kemajuan terlebih lagi dalam bidang pertanian.

Untuk mengetahui lebih jelas tentang cara bercocok tanam ataupun sejenisnya yang menyangkut tentang pertanian maka dilakukanlah survei lapang ini. Selain itu tujuan dari dilakukannya praktikum ini adalah untuk memperoleh pengetahuan dan pemahaman aspek-aspek sosiologis pada tingkat petani dan tingkat desa.

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

  1. II.            ASPEK SOSIOLOGIS PETANI
    1. Diskripsi Keluarga dan Usaha tani P. Ridwan

Moh. Ridwan adalah petani yang berumur 34 th dengan tingkat pendidikan terakhir adalah Sekolah Menengah Pertama yang memiliki pekerjaan sampingan sebagai pedagang yaitu membuka toko sendiri sebagai usaha keluarga. Beliau menjadi petani sejak tahun 1995 dan memiliki jumlah anggota keluarga 4 orang.

Bapak Ridwan tidak mempunyai sawah sendiri, namun beliau bekerja pada sawah perhutani yang ditanami cabai dengan luas 2 plong. Entah berapa luasnya karena ukuran plong untuk di desa-desa itu tidak pasti berapa luasnya. Beliau mempunyai tegal yang luasnya sekitar 3 petak. Lahan tegal tersebut ditanami cengkeh dan kopi, serta memiliki ternak yaitu sapi sejumlah satu ekor.

Keluarga pak Ridwan mempunyai sepeda motor dengan jumlah dua, yang biasanya satu digunakan untuk berladang. Memiliki radio 1 unit, televisi 1 unit dan handphone 1 unit. Keadaan rumah tempat mereka tinggal sederhana. Dengan lantai rumah tegel/keramik, dinding rumah sudah tembok dan atap rumah genteng biasa.

Bapak Ridwan memperoleh pengetahuan tentang cara bercocok tanam dari orang tuanya. Pengolahan tanah yang dilakukan dengan menggunakan cangkul atau secara manual, tanpa traktor. Pupuk yang digunakan pada tanamannya yaitu pupuk kandang yang dibuat sendiri, ZA untuk memupuk kopi pada tegalan, yang biasanya menghabiskan satu karung pupuk ZA untuk lahan seluas 2 plong. Dan pupuk petroganik untuk lombok yang ditanam di lahan sewa milik perhutani.

Cara bercocok tanam di desa ini dari zaman ke zaman mungkin ada perubahan yang tidak signifikan, misalnya pada cara bercocok tanam pak Ridwan yang dulunya tidak menggunakan pupuk apapun, sekarang sudah beralih menggunakan pupuk kandang, ZA dan petroganik untuk meningkatkan produktivitas tanaman yang ditanamnya. Untuk hasil panen pak Ridwan dijual di toko miliknya sendiri, namun juga dijual di pasar Besar Malang.

Kesimpulan dari hasil survei yang telah dilakukan yaitu kita dapat mengetahui cara bercocok tanam petani desa yang ada pada saat ini, mungkin tidak terlalu banyak perubahan karena di desa tempat kami survei juga tidak menggunakan alat – alat yang canggih untuk melakukan pengolahan tanahnya. Selain itu pupuk yang digunakan juga masih menggunakan pupuk alami yaitu pupuk kandang, tidak terlalu banyak menggunakan pupuk kimia.

 

  1. Diskripsi Keluarga dan Usaha tani P. Karsuji

Bapak Karsuji adalah seorang yang berumur 59 tahun dengan tingkat pendidikan terakhir  Sekolah Dasar. Memiliki pekerjaan utama sebagai petani dan pekerjaan sampingan sebagai pedagang pisang. Beliau menjadi petani sejak tahun 1987 atau sudah sekitar 35 tahun dengan jumlah anggota keluarga 6 orang.

Bapak Karsuji tidak mempunyai sawah sendiri dan hanya mempunyai tegal. Beliau mempunyai tegal yang luasnya sekitar 1ha. Lahan tegal tersebut ditanami sengon dan kopi. Beliau tidak memiliki ternak.

Keluarga pak Karsuji mempunyai sepeda motor dengan jumlah satu, dan mobil 1 yang digunakan untuk berdagang. Memiliki radio 1 unit, televisi 1 unit dan handphone 2 unit. Keadaan rumah tempat mereka tinggal sederhana. Dengan lantai rumah plester, dinding rumah sudah tembok dan atap rumah genteng biasa.

Untuk petani yang satu ini pada lahan tegal yang dimilikinya terdapat dua macam tanaman yaitu sengon dan kopi. Tanaman utama pada tegalnya adalah sengon. Untuk sistem pemupukan hanya dilakukan dua kali pada awal penanaman sengon dengan menggunakan pupuk kandang dan ampas tebu. Namun beliau juga menggunakan pupuk anorganik yaitu NPK dan ZA yang digunakan untuk memupuk kopi.

Tidak ada perubahan cara bercocok tanam yang dilakukan oleh pak Karsuji karena dari dulu tanaman yang ditanam adalah sengon dan kopi. Sengon merupakan tanaman tahunan yang membutuhkan waktu lama untuk proses pemanenan. Petani ini tidak terikat dengan suatu lembaga untuk memasarkan hasil panennya karena hasil panen yang dimiliki hanya akan dijual saat membutuhkan biaya misal untuk memenuhi kebutuhan sekolah anaknya. Dan untuk hasil panen kopi digunakan untuk keperluan sendiri.

Dengan survei yang telah dilakukan dapat diketahui bahwa petani tersebut menanam dua tanaman yaitu sengon sebagai tanaman utama dan kopi sebagai tambahan. Pupuk yang digunakan masih cenderung pupuk kandang yang diproduksi sendiri dan pupuk kimia hanya sebagai tambahan.

 

  1. Diskripsi Keluarga dan Usaha tani P. Yahmun

Petani yang satu ini bernama Yahmun dan sudah berumur 58 tahun dengan tingkat pendidikan formal adalah Sekolah Dasar. Beliau sudah menjadi petani sejak tahun 1997 dan tidak memiliki pekerjaan sampingan. Memiliki jumlah anggota keluarga sebanyak 3 orang.

Pak Yahmun tidak memiliki sawah dan hanya memiliki tegal. Beliau mempunyai tegal dengan luas sekitar 1ha yang ditanami kopi, cengkeh, langsep, durian dan bambu serta memiliki ternak sapi dengan jumlah 4 dan mendho dengan jumlah 15.

Keluarga pak Yahmun mempunyai sepeda motor dengan jumlah dua, yang biasanya satu digunakan untuk berladang. Memiliki radio 1 unit, televisi 1 unit dan handphone 3 unit. Keadaan rumah tempat mereka tinggal sederhana dengan lantai rumah tegel/keramik, dinding rumah sudah tembok dan atap rumah genteng biasa.

Cara bercocok tanam petani ini didapatkan dari orang tua yang dahulu lahan tersebut juga milik orang tuanya sehingga berupa warisan dari orang tuanya. Lahan tegal tersebut ditanami langsep, durian, kopi, cengkeh dan bambu. Dari kesekian tanaman tidak ada yang diberi pupuk, dan alami hanya dari tanah asupan nutrisi yang didapatkan oleh tanaman. Dari dulu kebiasaan pak Yahmun yang tidak memberi pupuk pada tanamannya tidak berubah sampai sekarang, namun tingkat produktivitas tanaman tidak mengalami perubahan secara signifikan. Dan hasilnya pun masih bisa dikatakan maksimal. Tidak ada satu lembaga pun yang terikat dalam penjualan hasil panen pak Yahmun karena dipesan secara perseorangan. Sehingga sisitem penjualan dilakukan secara pribadi tanpa terikat oleh lembaga atau perusahaan.

Dari cara bercocok tanam yang dilakukan pak Ridwan dapat terlihat masih sangat alami sekali karena tanpa dilakukan sistem pemupukan, sehingga asupan nutrisi yang diperoleh tanaman alami hanya berasal dari tanah.

 

  1. Diskripsi Keluarga dan Usaha tani P. Yahdi

Bapak Yahdi merupakan salah satu petani tertua yang sudah berumur 87 tahun dengan tingkat pendidikan formal Sekolah Dasar dan tidak memiliki pekerjaan sampingan selain menjadi petani. Bapak yang satu ini sudah menjadi petani sejak tahun 1954 atau lebih kurang sekitar 58 tahun, dengan jumlah anggota keluarga 8 orang.

Pak Yahdi tidak memiliki lahan sawah dan hanya memiliki lahan tegal. Beliau mempunyai tegal sebanyak 4 plong yang ditanami kopi, cengkeh dan langsep dengan ternak ayam yang tidak terhitung jumlahnya. Keluarga pak Yahdi mempunyai sepeda motor dengan jumlah satu, namun ketika berladang beliau berjalan kaki. Keluarga pak Yahdi memiliki radio 1 unit, televisi 1 unit dan handphone 3 unit. Keadaan rumah tempat mereka tinggal sederhana dengan lantai rumah yang berupa tegel/keramik, dinding rumah sudah tembok dan atap rumah genteng biasa.

Kemampuan bercocok tanam yang dimiliki pak yahdi didapatkannya dari orang tuanya dengan mempertahankan komoditas yang telah ditanam sejak dulu yakni langsep, kopi dan cengkeh secara bergiliran sesuai kecocokan waktu tanam. Sebagai penunjang keberhasilan tanam pak Yahdi memenfaatkan kotoran ternaknya sebagai pupuk kandang.

Pada awalnya pak Yahdi tidak melakukan pemupukan terhadap tanaman yang dibudidayakannya, namun seiring dengan berjalannya waktu tanam, hasil produktivitas tanaman semakin menurun. Hal ini membuka inisiatif pak Yahdi mencari solusi untuk meningkatkan produktivitas tanaman yang ditanamannya sehingga dimanfaatkanlah kotoran ternak sebagai pupuk kandang untuk menunjang peningkatan produktivitas tanaman yang dibudidayakannya. Dari segi pemasaran produk pertanian yang dihasilkan, pak Yahdi tidak pernah memasarkan hasil komoditasnya di pasar, melainkan pada setiap mendekati musim panen selalu ada para tengkulak yang datang dan membeli hasil komoditas yang akan dipanen.

Apabila melihat cara bercocok tanam yang dilakukan pak Yahdi dapat disimpulkan bahwa sistem penananam yang dilakukan masih sederhana dengan memanfaatkan kotoran ternak sebagai tambahan nutrisi pada tanaman yang dibududayakan.

 

  1. Diskripsi Keluarga dan Usaha tani Joni

Joni adalah petani muda yang berumur 18 tahun dengan tingkat pendidikan terakhir Sekolah Dasar. Joni  menjadi petani sejak tahun 2010 atau baru saja sekitar 2 tahun. Karena keterbatasan biaya, joni harus berhenti sekolah. Sungguh sangat disayangkan disaat banyak orang yang menikmati bangku sekolah bahkan kuliah, disisi lain ada salah satu dari sekian banyak anak bangsa yang putus sekolah karena keterbatasan ekonomi.  Jumlah anggota keluarga yang ada dirumahnya adalah 6 orang

Joni menjadi petani penggarap sawah dan tegal. Lahan sawah yang digarap oleh joni ini adalah lahan sewa dari H. Atim seluas 0,5 ha yang sudah digarap sejak tahun 2010. Lahan tegal yang dimiliki oleh petani ini juga merupakan lahan sewa dari H. Atim seluas 1 ha yang ditanami cabai dengan harga 17juta/ha/tahun. Joni tidak memiliki ternak ataupun pekerjaan sampingan lain. Sarana transportasi yang dimiliki oleh joni adalah sepeda motor dengan jumlah 1 unit. Memiliki radio 1 unit, televisi 1 unit dan handphone 1 unit. Rumah tempat keluarga joni tinggal adalah rumah yang sangat sederhana, dengan keadaan lantai rumah yang hanya diplester, dinding yang hanya dari papan kayu dan atap genteng biasa yang banyak bolong-bolongnya.

Pengetahuan bercocok tanam yang dikuasai oleh joni ini didapatkan dari  warisan orang tuanya dan juga belajar secara otodidak. Lahan sawah yang disewanya ditanami padi. Pengolahan tanahnya dengan cara dibajak. Pupuk yang digunakan adalah pupuk urea. Untuk proses pemanenan dilihat dari bulir padi yang dihasilkan. Setelah dilakukan pemanenan, padi dikelompokkan sesuai dengan mutunya lalu dipasarkan.

Karena kurangnya pengetahuan terkait cara budidaya tanaman, menyebabkan cara budidaya yang tidak pernah berubah. Sehingga kondisi sosial yang cenderung monoton, tidak ada perubahan sosial, baik secara ekonomi yang signifikan. Tidak ada penghasilan yang lebih dari hasil panennya. Karena joni hanya berfokus terhadap padi dan cabai, tidak dapat memanfaatkan lahan yang ada secara maksimal.

Joni mendapatkan benih ataupun bibit dari membeli ditoko pertanian. Selain benih dan bibit, ketika bertanam joni memerlukan pupuk kimia yang berjenis phonska dengan jumlah lebih kurang 6-8 KW, dan didapat dari toko pertanian. Selain pupuk kimia, petani tersebut juga menggunakan kompos sebagai pupuk organiknya. Hasil dari panen sebagian kecil dikonsumsi dan sebagian besar dijual ke tengkulak.

Dari hasil penjelasan diatas, dapat kita ambil sedikit kesimpulan bahwa petani yang masih muda tersebut yang bernama joni adalah seorang petani yang memulai karirnya sebagai seorang petani sejak dua tahun yang lalu, keahliannya didapat dari kedua orang tuanya dan belajar secara otdidak bukan menjadi suatu kendala yang berat dalam bercocok tanam. Cara budidaya yang tidak mengalami perubahan memberikan dampak yang sangat berarti bagi kehidupan sosialnya. Bibit dan benih yang digunakan petani tersebut didapat dengan membeli ditoko pertanian dan menggunakan jenis phonska. Joni juga menggunakan pupuk kimia dan organik untuk membantu penyuburan tanaman.hasil panen joni dijual langsung ke tengkulak.

 

  1. Rangkuman

Dari keseluruhan data yang telah diperoleh dari hasil survei lapang dapat diketahui bahwa kebudayaan atau cara bercocok tanam di dusun Sengon ds. Bedalisodo tidak banyak mengalami perubahan. Hal itu bisa terlihat dari kebiasaan bercocok tanam pak Yahmun yang tidak menggunakan pupuk untuk tanaman di lahan tegalnya, dari dulu hingga sekarang. Meskipun dalam produksinya mengalami penurunan. Untuk ke empat petani yang lain sudah menggunakan pupuk organik maupun anorganik. Sebagai contoh adalah pak Ridwan, beliau mencampur sendiri pupuk – pupuk tunggal untuk dijadikan pupuk campuran. Perbedaan dari cara bercocok tanam masing – masing petani menggambarkan bahwa mereka memiliki kebudayaan sendiri – sendiri dalam hal bercocok tanam meskipun dalam beberapa konteks mereka memiliki persamaan. Kebanyakan dari mereka mendapat pengetahuan tentang cara bercocok tanam dari orang tuanya, selain itu juga belajar secara otodidak.

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

  1. III.        PENUTUP

Berdasarkan hasil diskripsi yang telah dilakukan sesuai hasil wawancara meliputi segi kondisi Keluarga Petani, Status Sosial Ekonomi Keluarga Petani, Kebudayaan petani, Perubahan sosial budaya Petani Terkait cara bercocok Tanam, Lembaga yang berkaitan dengan pengadaan sarana produksi, tenaga kerja dan pemasaran hasil usahatani petani didapatkan beberapa poin kesimpulan dari aspek sosialogisnya, yaitu :

  1. Kondisi ekonomi petani bergantung pada harga komoditi yang dihasilkannya atau dengan kata lain tergantung dengan harga komoditi di pasar.
  2. Kebudayaan petani yang telah dianut sejak dulu ada kalanya tersisihkan oleh modernisasi, seperti contohnya kebudayaan tanpa melakukan pemupukan akan tergantikan oleh kebiasaan pemupukan mengingat hasil pertanian akan semakin menurun karena kurangnya nutrisi tanah untuk tanaman budidya.
  3. Hasil panen pertanian yang dihasilkan, kebanyakan dipasarkan secara personal tanpa terikat oleh suatu lembaga pesaran.