RSS
 

ANALISIS LANDSKAP-KLASIFIKASI BENTUK LAHAN

13 Mar

KLASIFIKASI BENTUK LAHAN

Dalam membahas klasifikasi bentuk lahan terdapat beberapa istilah yang rancu, sehingga perlu diperhatikan :

  1. Fisografi : merupakan suatu ilmu yang mempelajari tentang genesis dan evolusi pada landform (bentuk lahan). Bentukan alam yang ada di permukaan bumi, baik daratan maupun yang ad di dasar laut dibedakan atas proses pembentukannya.
  2. Geomorfologi : merupakan suatu ilmu yang mempelajari tentang sifat alami, penyebaran, dan sejarah bentuk lahan serta proses pelapukan, erosi dan sedimentasi yang dapat menyebabkan terbentunya landform tersebut.
  3. Proses geomorfik: merupakan proses yang menyebabkan terbentuknya suatu landform. Proses tersebut disebabkan oleh adannya gaya yang berasal dari bawah kulit bumi dan yang berasal dari luar angkasa.
  4. Landskap : semua bentukan alam maupun buatan manusia yang ada dipermukaan bumi, contohnya seperti rawa, hutan, bendungan, jalan dll yang membedakan suatu hamparan dengan hamparan yang lain
  5. Bentuk lahan (landform) :merupakan suatu kenampakan medan/fisik yang terentuk oleh proses alami, memiliki komposisi tertentu dan karakteristik fisikal dan visual yang unik an berbeda sau sama lain.
  6. Relief : merupakan keadaan suatu wilayah daratan di permukaan bumi yang ditinjau dari aspek lereng dan perbedaan tinggi(beda tinggi) yang ada
  7. Terrain : merupakan suatu istilah yang digunakan untuk menyatakan keadaan medan suatu wilayah dipermukaan bumi yang mencakup keadaan relief, vegetasi (penggunaan lahan), perairan, batuan (tanah).

Dasar Klasifikas bentuk lahan

  1. Kategori tertinggi berdasarkan atas proses khusus proses geomorfik
  2. Kategori selanjutnya didasarkan atas bentukan bentuk lahan tersebut, relief, litologi, tingkat erosi atau torehan, mana yang lebih dominan di daerah tersebut.

Grup Utama Landform

  1. Grup Aluvial (A) : bentuk lahan muda yang terbentuk dari proses fluvial (aktivitas sungai), koluvial (gravitasi) atau gabungan dari proses keduaya landform ini berupa dataran didaerah luas pengaruh sungai yang besar atau dataran sempit yang berada di sekitar sungai.
  2. Marine (M) : bentuk lahan muda yang terbentuk dari proses marine, baik proses yang bersifat konstruktif(pengendapan) atau abrasi. Daerah yang terpengaruh oleh air permukaan bersifat asin, biasanya dijumapi dikawasan pantai.
  3. Fluvio-Marine (B) : bentuk lahan yang terbentuk dari gabungan proses fluvial dan marine.keberadaan bentuk lahan ini dapat terbentuk pada lingkungan laut ataupun dimuara sungai yang terpengaruh oleh aktivittas laut. Umumnya dijumapi dimuara sungai yang membentuk delta.
  4. Eolin : bentuk lahan yang terbentuk oleh proses pengendapan bahan halus yang terbawa oleh angin. Contohnya itu terdapat di pantai parangtritis.
  5. Gambut (B) : bentuk lahan yang terbentuk didaerah rawa dengan akumulasi bahan organik yang cukup tebal. Bentuk lahan ini dapat berupa kubah maupun lainnya, biasanya terdapat didaerah kalimantan.
  6. Karst (K) : Bentuklahan yang didominasi oleh bahan batugamping keras dan masif, pada umumnya keadaan topografi daerah tidak teratur.
  7. Volkanik (V) : Bentuklahan yang terbentuk karena aktivitas volkan/gunung berapi. Bentuklahan ini terutama dicirikan dengan adanya bentukan kerucut volkan, aliran lahar, lava ataupun wilayah yang merupakan akumulasi bahan volkanik
  8. Tektonik (T) : Bentuklahan yang terbentuk akibat dari proses tektonik (orogenesa dan epirogenesa) berupa proses angkatan, lipatan atau patahan.
  9. Aneka : Bentukan alam atau hasil kegiatan manusia yang tidak termasuk dalam grup yang telah diuraikan di atas,misalnya: lahan rusak, singkapan batuan, penambangan, penggalian,tanah longsor, reklamasi pantai, dll.
 
Comments Off on ANALISIS LANDSKAP-KLASIFIKASI BENTUK LAHAN

Posted in Uncategorized

 

ANLAN – GAYA EKSOGEN (Denudasi dan Deposisi)

06 Mar

GAYA EKSOGEN

(Denudasi dan Deposisi)

Denudasi atau Gradasi :Proses Denudasi atau gradasi merupakan proses pengikisan, pemindahan/trasnsportasi yang biasanya dipengaruhi oleh adanya aktivitas air dimuk bumi yang selanjutnya akan di endapkan di tempat lain. Perkembangan landform denudasional adalah apabila bahan disuatu areal terseusun atas batuan yang mempunyai komposisi kimia, mineralogi dan sifat fisik tertentu. Proses denudasi diantaranya adalah :

  1. Pelapukan : Merupakan dekomposisi batuan di tempatnya, dimana proses statis sehingga tidak melibatkan pemindahan material.
  2. Perpindahan Massa karena Gravitasi : Merupakan proses dinamis, dimana melibatkan perpidahan massa batuan ke lereng yang lebih rendah karena adanya pengaruh dari gravitasi.
  3. Erosi dan Agen Transportasi : Yang mempengaruhi biasanya adalah erosi permukaan, alur, parit, jurang dan tebing. Sedangkan untuk agen transportasi adalah aliran air, air tanah, gelombang air, angin, glasier.
  4. Pengendapan : Bahan yang telah di angkut atau di transportasikan maka secara otomatis bahan tersebut akan mengendp dipermukaan tanah yang lebih rendah.

Yang telah disebutkan diatas dapat dikelompokkan dalam dua kategori diantaranya adalah:

  1. Proses Kimiawi : disebut dengan denudasi kimia, dimana proses pelapukan terjadi pergerakan dan translokasi ion yag terlarut ke tempat lain. Proses denudasi kimia aktif didaerah tropika basah, karena : curah hujan tinggi dengan vegetasi yang lebat sehingga pelapukan intensif dan menyebabkan solum tanah menjadi dalam.
  2. Proses Mekanik : dibawah pengaruh gaya berat dan aliran air. Eluviasi mekanik ini terjadi karena adanya proses pedogenik yang melibatkan pergerakan material tanah dari sat tempat ke tempat yang lain dalam profil tanah. Hal tersebut terjadi apabila kelebihan air dan struktur tanah yang baik.

Proses-proses tersebut dipengaruhi oleh

  1. Iklim : Misalnya jika suhu tinggi maka proses pelapukan akan berlangung lebih cepat.
  2. Vegetasi : Apabila vegetasi tidak diganggu oleh manusia maka didalam suatu landskap akan terdapat banyak vegetasi yang berbeda dengan kerapatan dan strktur yang berbeda pula. Sehinga jika pada suatu landskap sudah tidak terdapat vegetasi maka yang tertinggal hanya batuan, jika terjadi pelapukan maka batuan kecil akan turun kebawah dengan bantuan air hujan tersebut.
  3. Lingkungan Geokimia : Merupakan lingkugan dibawah zona pelapukan yang dicirikan oleh tekanan dan temperatur yang tinggi.

Karakteristik Lahan :

  1. Wilayah dengan curah hujan dan suhu yang tinggi maka proses pelapukan akan intensif dan proses pelapukan kimia lebih dalam sehingga mempengaruhi kedalaman solum tanah.
  2. Apabila tidak mengalami gangguan maka vegetasi penutup lahan berupa semak, rumput pepohonan akan berkesinambungan karena memiliki perbedaan kerapatan dan strukturnya.
  3. Air yang mencapai permukaan tanah dapat masuk kedalam tanah yang biasanya disebut dengan infiltrasi dan nantinya akan mengalami perkolasi, kemudian juga bisa terjadi aliran permukaan tanah. Keduanya dapat menyebabkan terangkutnya hasil pelapukan, hasil aktivitas biologi dan massa tanah. Dengan adanya permasalahan tersebut maka kondisi tersebut dapat diubah melalui penebangan dan pembakaran hutan dan penajaman lereng.

Peranan Vegetasi terhadap Geomorfologi di Tropika Basah

  1. Meredam enersi tetesan hujan
  2. Menahan aliran air di permukaan
  3. Meningkatkan laju infiltrasi melalui berkurangnya alira permukaa dan perbaikan struktur tanah
  4. Pemakaian air dan hara untuk proses metabolisme
  5. Peningkatan kemampuan tanah dalam menahan proses pencucian hara
  6. Mempengaruhi kesuuran tanah dan mempertahankan pertumbuhan penutup lahan
  7. Menahan bahan yang terangkut oleh aliran permukaan
  8. Mengurangi pengaruh fluktuasi suhu udara dan mengurangi erosi

Tipe Perpindahan Massa :

  1. Aliran Lambat : umumnya berupa rayapan yaitu pergerakan tanah dan batuan kelereng bawah secara labat. Dilapangan seing suli dialami. Contohnya adalah soil creep, tallus creep, rock creep.
  2. Aliran Cepat : terdapat dua macam yaitu earth flow ( gerakan runtuhan batuan yang jenuh air ke saluran tertentu. Sedangkan mud flow (bahan yang dialirkan berupa bahan liat jenu air).
  3. Landside : gerakan massa batuan atau tanah ke lereng di bawahnya. Gerakan ini dapat terjadi pada saat basah atau kering. Contohya slump, debris slide, rock slide.
  4. Subsisden : Pemindahan bahan di permukaan bumi ke arah bawah tanpa perpindahan horizontal.

Penyebab Gerakan Massa :

  1. Litologi : bahan tak padu yang bersifat lemah dan licin pada saat basah
  2. Statigrafik : adanya lapisan lemah dan kuat atau permeable berseling dengan tidak permeable dalam penampang kulit bumi
  3. Struktural : adanya fault (sesar), join (retak)
  4. Topografik : Kelerengan yang curam, berpengaruh terhadap kecepatan pengangkutan atau kecepatan pengendapan bahan yang terlarut. Jika lereng curam maka akan terjadi degradasi, sedangkan leren datar akan terjadi agradasi.
  5. Iklim : fluktuasi suhu dan curah hujan yang tinggi
  6. Bahan Organik : dipengaruhi oleh vegetasi

Deposisi atau Agradasi : Proses deposisiterjadi akibat dari adanya proses degradasi lahan. Dimana proses ini akan mendatarkan permukaan bumi. Contoh dari landform deposisi dalah landform alluvial, marin dan fluvio-marin.

Peran Air dalam Pembentukan Landform :

  1. Mengikis alur yang dilalui
  2. Mengangkut sedimen dan larutan yang dihasilkan oleh pelapukan dan proses yang ada dilereng
  3. Menghasilkan berbagai macam landform erosional dan deposional

Sistem Fluvial dibagi kedalam 3 Zona :

  1. Zona produksi sedimen : sungai bagian atas biasanya pegunungan atau lahan kering
  2. Zona transfer sedimen : merukpakan daerah pengankutan seperti lereng
  3. Zona deposisi sedimen : umumnya terletak disepanjang pantai dan membentuk delta dataran rendah dipantai
 
Comments Off on ANLAN – GAYA EKSOGEN (Denudasi dan Deposisi)

Posted in Uncategorized

 

RESUME- ANALISIS LANDSKAP (TEKTONISME)

27 Feb

Proses geomorfologi meliputi tenaga endogen, gaya eksogen dan tenaga tereterial. Tenaga endogen yang berasal dari dalam bumi. Tenaga eksogen adalah tenaga dari luar bumi. Proses geomorfologi adalah perubahan-perubahan baik secara fisik maupun kimiawi yang dialami permukaan bumi yang menyebabkan roman muka bumi berubah. Penyebab dari proses tersebut yaitu benda alam yang kita kenal dengan geomorohic agent yang berupa air dan dingin. Keduanya merupakan penyebab yang dibantu dengan adanya gaya berat dan keseluruhannya bekerja sama dalam melakukan perubahan terhadap permukaan muka bumi air selaku geonorphic agent yang utama atau penyebab dapat berupa air permukan, air tanah, glacier, gelombang, arus dan air hujan, sedangkan angin terutama bekerja pada tempat terbuka seperi gurun, padang pasir atau tepi pantai, air dan angindapat digolongkan sebagai tenaga perusak atau tenaga eksogen yaitu yang datang dari luar permukaan bumi. Sebagai lawan dari tenga endogen yang berasal dari dalam bumi. Tenaga asal luar pada umumnya bekerja sebagai perusak sedangkan tenaga dari dalam bumi sebagai pembentuk.

Salah satu contoh dari tenaga endogen adalah tektonisme. Tektonisme merupakan yang berasal dari dalam bumi yang menyebabkan terjadinya diskolasi (perubahan letak) patahan, retakan pada kulit bumi dan batuan. Berdasarkan jenis gerakan dan luas wilayah yang mempengaruhinya, tenaga tektonik dapat dibedakan atas gerak orogenesa dan epirogenesa. Orogenesa adalah pembentukan kulit bumi yang terjadi dalam kurun waktu cepat dalam kurun waktu yang sempit, sedagkan epirogenesa adalah pembentukan kulit bumi yang terjadi dalam waktu yang lambat dan cakupan wilayah yang luas.

Struktur pelapisan yang disebabkan oleh gerak diastropik adalah :

  1. Pelengkungan : gerak vertikal yang tidak merata disuatu daerah khusus yang berbatuan sedimen, seperti yang semula horizontal menjadi vertikal.
  2. Pelipatan : angkatan yang memiliki tenaga tidak sama menghasilkan pelipatan yang memanjang dan menghasilkan antiklin dan sinklin.
  3. Retakan : retakan batuan pada bidang belah alamiah bisa terbentuk karena peregangan batuan yang disebabkan pemuaian batuan.
  4. Pengangkatan : seperti hors dan graben

 

 
Comments Off on RESUME- ANALISIS LANDSKAP (TEKTONISME)

Posted in Uncategorized

 

RESUME- ANALISIS LANDSKAP (GUNUNG BERAPI)

27 Feb

Bukit atau gunung memiliki lubang kepundan, sebagai tempat keluarnya magma atau gas ke permukaan bumi. Indonesia sendiri memiliki sekitar 500 buah gunung (129 gunung aktif dan 70 diantaranya yang sering meletus). Gunung terbagi menjadiempat diantaranya adalah gunung aktif ( Welirang), gunung Istirahat (Arjuno, Kawi), Gunung Mati ( Anjasmoro), dan gunung sangat aktif (Semeru). Dengan adanya letusan gunung api maka struktur dan tekstur tanah dapat diperbarui sehingga pertanian meningkat., tetapi selama 100 tahun terakhir lebih dari 175 ribu manusia menjadi korban akibat letusan gunungapi.

1. Struktur Gunung berapi
a. Sejumlah wujud vulkanik yang membentuk landform khas seperti kepundan dan kaldera.
b. Batuan beku, intrusif (batuan beku yang menerobos dari batuan sedimen contohnya Gunung Linggo di Trenggalek) / ekstrusif ( batuan beku yang mengeras lebih cepat dari batuan instrusif) dalam lapisan atau massa membentuk komponen geologi lokal yang khusus.
Cara letusan gunungapi dan sifat alami dari ujud-ujud volkanik yang terbentuk dipengaruhi oleh karakteristik dari magma. Magma adalah cairan silikat pijar bersuhu antara 9000 sampai dengan 14000 yang terdapat di dalam bumi di bawah tubuh gunungapi. Magma terbagi menjadi dua :
a. Magma Granitik : Sangat kental dan tidak dapat mengalir dengan mudah, cepat membeku sehingga dengan mudah menyumbat lubang kepundan, biasanya asam dan banyak mengandung silika.
b. Magma basalitik : bersifat basah dengan kandungan silika yang rendah, tidak kental dan dpat dengan mudah mengalir ke bagian bawah.
Sedangkan untuk kerucut vulkanik memiliki 2 tipe :
a. Kerucut sinder : terbentuk oleh erupsi dari magma yang kental dan hampir semuanya tersusun dari deposit piroklastik.
b. Kerucut komposit : kerucut yang relatif curam yang tersusun dari pelapisan aliran lava kental dan deposit piroklastik, umumnya mencapai ketinggian lebih dari 10 000’.
Kerucut volkanik memiliki :
a. Kepundan : dibagian puncak dari gunung tempat keluarnya magma.
b. Kaldera : merupakan kepundan besar yang disebabkan oleh erupsi yang besar.

2. Tipe-Tipe Letusan


Tipe letusan gunung berapi :
1. Icelandic : Biasanya melibatkan semburan lava panas agak cair disepanjang celah.
2. Hawaiian : Lava cair keluar dari celah, jarang keluar dari kepundan, turun melalui atau mengisi celah-celah sisi gunung.
3. Strombolian : Keluar asap hitam, dengan lava cai yang tingkat kekentalannya tinggi, sehingga aliran lava tidak terlalu jauh.
4. Vulcanian : Lava yang kental dengan letusan yang sangat kuat dengan membentuk cerobong awan abu hitam yang terdiri dari gas, dan bahan fragmental padat yang tersebar luas.
5. Pelean : lava kental, letusannya berupa abu dan gas yang menyebar luas. Letusannya bersifat merusak karena cenderung menghasilkan longsoran abu panas dengan kecepatang yang sangat tinggi.
6. Plinian

3. Bahaya Gunungapi
a. Bahaya langsung (primer) : bahaya yang ditimbulkan secara langsung pada saat terjadi letusan gunung api. Yang di sebabkan oleh material yang langsung dihasilkan oleh letusan gunung seperti aliran lava, aliran piroklastika atau awan panas dll.
b. Bahaya sekunder (tidak langsung) : bahaya akibat letusan gunung api yang terjadi setelah atau selama letusan gunungapi tersebut terjadi. Umumnya di Indonesia adalah bahaya lahar.

4. Batuan Beku sebagai Komponen Geologik
a. Pluton : Sebagian besar batuan beku adalah instrusif, terbentuk dibawah permukaan dan membentuk massa batuan secara kolektif. Massa batuan tersebut ikut menyokong geomorfologi apabila tersingkap keluar setelah lapisan batuan diatasnya yang menutupi telah lapuk dan tererosi.
b. Aliran lava basal
c. Aliran lahar

5. Landform (bentukl ahan) Volkanik
Terbentuk karena aktivitas volkan/gunung berapi yang dicirikan dengan adanya bentukan kerucut volkan, aliran lahar, lava ataupun dataran yang menyerupai akumulasi bahan volkan. Landform ini mengalami proses patahan-lipatan.
a. Volkan berlapis : sistem gunung api dengan letusan berulang-ulang sehingga terjdi pelapisan bahan hasil letusan.
b. Volkan tameng : dengan lereng landai terbentuk karena erupsi lava basalitik pada suhu tinggi.
c. Aliran lahar lebih tua : aliran bahan piroklastika hasil erupsi gu nungapi yang telah lama diendapkan.

 
Comments Off on RESUME- ANALISIS LANDSKAP (GUNUNG BERAPI)

Posted in Uncategorized

 

SISDAL-KLIPING ALIH FUNGSI LAHAN DI DESA JENGGOLO KECAMATAN KEPANEN KABUPATEN MALANG

14 Feb

Dalam tulisan ini yang akan dibahas adalah salah satu kasus yang ada di Kota Malang, dimana kota ini sering dikenal oleh banyak orang dengan tempat wisatanya. Akan tetapi di lain sisi di Kota Malang ini banyak permasalahan tentang lingkungan yang masih belum diketahui oleh orang awam. Salah satu diantaranya adalah adanya alih fungsi lahan pertanian sebagai lahan pemukiman.
Kasus tersebut berada di desa Jenggolo kecamatan Kepanjen Kabupaten Malang. Wilayah desa Jenggolo yang memiliki luas persawahan mencapai 90 hektar selalu terancam oleh pengalih fungsian sebagai tempat permukiman dan usaha. Upaya mempertahankan lahan sawah sebagai area pertanian di Kabupaten Malang terus dilakukan Dinas Tanaman Pangan Hortikultura dan Perkebunan (DTPHP).
Alih fungs lahan tersebut mayoritas digunakan sebagai lokasi pemukiman, sehinga hal tersebut menjadikan warga menjadi resah, karena menurut pendapat salah satu warga yaitu, “Ini yang kami rasa harus disadari semuanya. Karena lahan persawahan di Desa Jenggolo menjadi salah satu penyumpang utama produksi padi di Kabupaten Malang hingga mengalami surplus,” kata Nasri Abdul Wahid, Rabu (31/1/2018). Dijelaskan Nasri, hingga kini di persawahan desa Jenggolo masih melakukan panen padi sebanyak dua kali dalam setahun. Kondisi panen di persawahan Desa Jenggolo masih bisa tingkatkan panennya menjadi tiga kali dalam setahun dengan adanya irigasi mencukupi dan alat mesin pertanian (Alsintan) yang lengkap.
Tetapi pernyataan tersebut seolah tidak menjadi pecutan bagi pemerintah ataupun masyarakat lainnya. Pasalnya lahan pertanian di desa tersebut hingga saat ini semakin berkurang akibat penggunaan lahan, sehingga hasil produksinyapun menurun. Untuk dapat meningkatkan hasil produksi tersebut maka kelompok tani di desa tersebut sedang melakukan suatu upayah untuk dapat mewujudkannya.
“Untuk itu, sebaiknya Poktan di Desa Jenggolo bisa mengajukan bantuan pada pemerintah untuk Alsintan, agar bisa melakukan tanam tiga kali dalam setahun,” ujar Nasri.
Kondisi tersebut memang harus dipertahankan dengan mempertahankan lahan persawahan dari pengalih fungsian menjadi permukiman sebagai dampak perkembangan ibu Kota Kabupaten Malang.
“Jadi rasanya sayang sekali bila Desa Jenggolo dengan areal sawah seluas 90 hektar dengan hasil produksi setiap hektar padi mencapai 8-9 ton dialih-fungsikan”.

Sumber : http://suryamalang.tribunnews.com/2018/01/31/pemkab-malang-upaya-pertahankan-lahan-sawah-dari-perubahan-fungsi diakses pada tanggal 07/02/2018 Pukul 19:41

 
Comments Off on SISDAL-KLIPING ALIH FUNGSI LAHAN DI DESA JENGGOLO KECAMATAN KEPANEN KABUPATEN MALANG

Posted in Uncategorized

 

TUGAS TERSTRUKTUR ANALISIS LANSEKAP STUDI KASUS BENCANA TANAH LONGSOR DI KECAMATAN NGANTANG, KABUPATEN MALANG

14 Feb

TUGAS TERSTRUKTUR ANALISIS LANSEKAP

STUDI KASUS BENCANA TANAH LONGSOR DI KECAMATAN NGANTANG, KABUPATEN MALANG

Disusun Oleh :

UmmiAmalinaPuteri 155040200111117
OctavianusMalau 155040200111244
Sifa’ulJanahtin 155040201111195
Katonawang Gellar B. 155040207111030
KhanzaAmaladewi S. 155040207111118

Kelas C
Kelompok 5

PROGRAM STUDI AGROEKOTEKNOLOGI
FAKULTAS PERTANIAN
UNIVERSITAS BRAWIJAYA
MALANG
2018
A. Alasan Malang Dikelilingi Banyak Gunung
Bumi mempunyai struktur tertentu yaitu kerak bumi, lapisan selubung, dan inti bumi yang dapat memicu terjadinya dinamika dari bagian inti bumi yaitu tektonik dan gunungapi. Tektonik gunungapi merupakan dinamika bumi utama yang menghasilkan bentukan-bentukan muka bumi makro, erosi, transportasi dan sedimentasi membentuk bentukan muka bumi mikro, seperti lembah-lembah dan daratan.
Gunung terjadi karena adanya proses gaya tektonik yang bekerja dalam bumi yang disebut dengan orogenesis dan epeirogenesis. Dalam proses orogenesis ini sedimen yang terkumpul menjadi berubah bentuk karena mendapat gaya tekan dari tumbukan lempeng tektonik. Ada tiga tipe tumbukan lempeng tektonik, antara lempeng busur kepulauan dan benua, lautan dan benua, dan antara benua dengan benua. Sedangkan dalam proses epeirogenesis merupakan gerakan yang membentuk benua yang bekerja sepanjang jari-jari bumi. Proses ini juga disebut gerakan radial karena gerakan mengarah atau menjauhi titik pusat bumi dan terjadi pada daerah yang sangat luas sehingga prosesnya lebih lambat dibandingkan dengan proses orogenesis (Rosyanti, 2015).
Akibat tumbukan lempeng dari proses tektonik maka Indonesia mempunyai 129 buah gunung api aktif atau sekitar 13 % dari gunung aktif di dunia sepanjang Sumatera, Jawa sampai laut banda. Bukit barisan 30 buah, Pulau Jawa 35 buah, Pulau Bali – Kepulauan Nusa Tenggara 30 buah, kepulauan Maluku 16 buah, dan sulawesi 18 buah yang dikategorikan aktif. Gunungapi terdapat di seluruh dunia, tetapi lokasi gunung berapi berada di sepanjang busur Cincin Api Pasifik “Pasific Ring Fire” (Rosyanti, 2015). Oleh karena mengapa daerah Malang Raya dikelilingi oleh banyak gunung akibat adanya bentukan dari lempeng-lempeng tersebut.

B. Bencana Tanah Longsor pada Kecamatan Ngantang, Kabupaten Malang yang Menyebabkan Akses Jalan Terhambat

Menurut data pemerintah Malang Kota, Struktur tanah pada daerah Malang umumnya relatif baik, namun sayangnya struktur tanah di Malang sangat peka terhadap erosi. Hal ini sesuai dengan data rekap bencana oleh BPBD Malang tahun 2016 dimana data kejadian Bencana di Malang didominansi oleh Longsor. Beberapa diantaranya ialah bencana longsor yang barusaja terjadi di akses jalur Batu-Jombang didaerah sekitar Ngantang. Tanah longsor terjadi sebagai akibat dari hujan deras yang kemudian menggerus plengsengan dan mengakibatkan plengsengan ambrol ke badan jalan.
Gejalaumumtanahlongsorditandai denganmunculnyaretakan-retakandilereng yang sejajardenganarahtebing, biasanyaterjadisetelahhujan, munculnyamata air barusecaratiba-tibadantebingrapuhsertakerikilmulaiberjatuhan.Faktorpenyebablainnyaadalahsebagaiberikut:
1. Hujan
Ancamantanahlongsorbiasanyadimulaipadabulan November karenameningkatnyaintensitascurahhujan.Musimkering yang Panjangakanmenyebabkanterjadinyapenguapan air di permukaantanahdalamjumlahbesar. Hal itumengakibatkanmunculnyapori-poriatauronggatanahhinggaterjadiretakandanmerekahnyatanahpermukaan.Ketikahujan, air akanmenyusupkebagian yang retaksehinggatanahdengancepatmengembangkembali. Padaawalmusimhujan, intensitashujan yang tinggibiasanyaserngterjadi, sehinggakandungan air padatanahmenjadijenuhdalamwaktu yang singkat.Hujanlebatpadaawalmusimdapatmenimbulkanlongsorkarenamelaluitanah yang merekah air akanmasukdanterakumulasidibagiandasarlereng, sehinggamenimblkangerakan lateral. Bilaadapepohonandipermukaannya, tanahlongsordapatdicegahkarena air akandiserapolehtumbuhan. Akartumbuhanjugaakanberfungsimengikattanah.
2. LerengTerjal
Lerengatautebing yang terjalakanmemperbesargayapendorong. Lereng yang terjalterbentukkarenapengikisan air sungai, mata air, air laut, dan angina.Kebanyakansudutlereng yang menyebabkanlongsoradalah 1800apabilaujunglerengnyaterjaldanbidanglongsornyamendatar.
3. AdanyaBebanTambahan
Adanyabebantambahinsepertibebanbangunanpadalereng, dankendaraanakanmemperbesargayapendorongterjadinyalongsor, terutama di sekitartikunganjalanpadadaerahlembah. Akibatadanyaseringterjadinyapenurunantanahdanretakan yang arahnyakearahlembah.
4. PenggundulanHutan
Tanah longsorumumnyabanyakterjadi di daerah yang relativgunduldimanapengikatan air tanah yang sangatkurang.
C. Kondisi Lansekap Kecamatan Ngantang, Kabupaten Malang
Kecamatan Ngantang terletak di Kabupaten Malang yang terletak antara 7 ° 48¹ 15˝ – 7° 57¹ 25˝ antara 112° 18¹ 30˝ BT – 112° 26 ¹ ˝ 30 BT. Kecamatan Ngantang berada pada ketinggian 500 – 700 m dpl (di atas permukaan laut) yang mana termasuk dataran tinggi. Ada beberapa gunung yang berada di sekitar kawasan ini, diantaranya adalah gunung Kelud yang berada di sebelah barat daya dan gunung Kawi yang berada pada sebelah tenggara. Selain itu, pada Kecamatan Ngantang juga mengalir sungai, yakni sungai Konto.
Sumber : Google Map
Keterangan diatas menunjukkan bahwa bentuk lahan pada Kecamatan Ngantang terbagi menjadi dua berdasarkan proses terbentuknya, yaitu :
1. Landform Vulkanik
Menurut Disaputro (2012),landform vulkanik adalah landform yang terbentuk dari aktifitas gunung berapi. Letusan gunung berapi dapat menyebabkan perubahan bentuk dataran. Misalnya karena kekuatan endogen saat letusan berlangsung, ataupun karena material yang dikeluarkan gunung berapi. Landform vulkanis biasanya memiliki tanah yang subur karena mengandung banyak mineral. Kecamatan Ngantang berada diantara gunung-gunung, yang berarti wilayahnya didominasi oleh landform vulkanik.
2. Landform Fluvial
Menurut Iskandar (2013), landform fluvial adalah proses yang terjadi di alam yang mengakibatkan perubahan bentuk permukaan bumi yang disebabkan oleh air mengalir. Dalam hal ini yang menyebabkan bentukan lahan fluvial adalah aktivitas sungai Konto yang mengalir melalui Kecamatan Ngantang yang kemudian menyebabkan perubahan oleh karena proses erosi maupun sedimentasi.

DAFTAR PUSTAKA
Disaputro, S. 2012. Geomorfologi Dasar. Catatan Kuliah. Yogyakarta: Fakultas Geografi Universitas Gadjah Mada.
https://news.detik.com/berita-jawa-timur/d-3728374/ada-longsor-di-ngantang-hindari-jalur-kota-batu-jombang
Iskandar, D. 2013. Bentuk Asal Fluvial. Jakarta: Bina Aksara.
Nandi, 2007.Longsor.JurusanPendidikanGeografi-UPI
Rosyanti, Lilin. 2015. Proses Terjadinya Gunung. Jakarta : Republika Penerbit

 
Comments Off on TUGAS TERSTRUKTUR ANALISIS LANSEKAP STUDI KASUS BENCANA TANAH LONGSOR DI KECAMATAN NGANTANG, KABUPATEN MALANG

Posted in Uncategorized

 

Hello world!

14 Feb

Selamat datang di Student Blogs. Ini adalah posting pertamaku!