Hasil wawancara dengan petani di Desa Jedong

Deskripsi Keluarga Petani

Dalam kegiatan praktikum lapang (fieldtrip) mata kuliah Sosiologi Pertanian, saya dan teman-teman sekelas berkesempatan mengunjungi desa petani di Dusun Jaten,desa Jedong Kecamatan Wagir kota Malang. Pada kegiatan praktikum tersebut saya berkesempatan mewawancarai bapak Warso seorang petani berusia 70 tahun yang memiliki 3 orang anak dan 1 orang cucu perempuan. Pak warso tinggal berempat yaitu bersama anak dan cucunya. Pak Warso terakhir mengenyam pendidikan pada tingkat Sekolah Dasar (SD) dan sudah sejak kecil beliau suka membantu orangtuanya bertani di sawah. Bapak Sutrisno bekerja sebagai petani yang merupakan pekerjaan utama beliau dan beliau tidak mempunyai pekerjaan sampingan. Pak warso sudah menjadi petani sejak tahun 1970.

 

Status Sosial Petani dan Posisinya dalam Lapisan Sosial

Luas lahan pertanian yang dimiliki oleh pak Warso dari warisan orang tuanya dulunya tidak begitu luas namun setelah beliau bekerja keras sekarang luas lahan pak warso kurang lebih 0,5 ha. Pak warso juga memiliki seekor anak sapi  Rumah yang dimiliki oleh pak Warso sudah milik sendiri karena merupakan warisan dari kedua orang tuanya. Dengan ukuran rumah 6 x 10 m, berjenis lantai keramik, berdinding tembok, dan beratapkan genteng. Rumah pak Warso sudah mengalami renovasi karena dulu rumah beliau tidak berkeramik hanya ubin biasa dan atapnya seng biasa. Dengan rezeki yang diperoleh keluarga pak Warso akhirnya rumah mereka tinggal menjadi lebih baik. Pak Warso memiliki sepeda motor sebagai alat tranportasi dan memiliki TV serta HP sebagai alat komunikasi. Namun sepeda motor milik Pak Warso lebih sering dipakai oleh anaknya berhubung karena pak warso sudah tua dan tidak terlalu mahir dalam mengnedarai sepeda motor. Demikian juga dengan Hp beliau juga tidak terlalu sering menggunakannya. Walaupun pak warso memiliki sepeda motor tetapi beliau selalu berjalan kaki ke ladang yang dimilikinya meskipun jarak antara rumah dengan ladang agak jauh.

Kebudayaan Petani

Pak warso menanam ketela pohon yang ditanam awal musim hujan pada lahan pertanian yang ada. Alasan pak warso menanam ketela yaitu karena tidak terlalu melelahkan merawatnya, mengingat usia pak warso yang sudah tua. Cara bertanam dipelajari pak warso dari kedua orangtuanya selain itu pak warso belajar sendiri meniru apa yang dilakukan oleh orang tua beliau karena sejak kecil pak warso selalu membantu kedua orang tuanya di ladang. Ketela pohon yang ditanam pak warso bibitnya buat sendiri dari hasil sebelumnya. Selain itu untuk menanam ketela pohon yang diperlukan hanya batangnya saja jadi tidak memerlukan biaya tambahan. Ketela pohon tersebut ditanam dengan jarak 1mx 75cm. dengan masing-masing 1 batang pada setiap bedengnya. Pak warso tidak mengairi ladangnya, beliau hanya menunggu datangnya hujan. Pak warso kadang memberikan pupuk kandang yaitu kotoran sapi.  Jika ketela pohon tersebut terserang hama atau penyakit pak warso tidak member pestisida dengan alasan karena harganya mahal selain itu pak warso sudah tua dan tidak sekuat dulu. Tetapi jika ada gulma maka pak warso akan menyianginya dengan menggunakan cangkul.  Ketela tidak memerlukan waktu yang lama untuk dipanen yakni sekitar tiga bulan saja sudah siap panen. Cara panennya hanya menggali tanah dan menggunakan cangkul, lalu dipisahkan antara batang dan umbinya dan siap untuk dijual kepada tengkulak dengan harga perkilo Rp 2000 yang datang sendiri ke rumah pak warso sehingga pak warso tidak perlu membuang tenaga ke pasar.

Pada musim tanam berikutnya pak warso menanam kacang tanah di ladangnya. Pak warso tidak pernah membeli benih, beliau hanya menggunakan benih hasil dari panen sebelumnya. Sama seperti ketela rambat alasan pak warso menanam kacang tanah adalah karena tidak melelahkan dalam merawat tanaman tersebut. Kacang tanah ditanam denga jarak 30 cmx 30 cm dengan jumlah benih 3 biji perlubang. Pak warso member pupuk kandang pada  permukaan bedengan kurang lebih seminggu sebelum tanam, dicampur pada tanah bedengan atau diberikan pada lubang tanam. Setelah itu pak warso juga memberi Pupuk anorganik yaitu pupuk urea dan ZA yang diberikan pada tanaman ketika berumur kira-kira 30 hari. Pak warso juga tidak menyemprotkan pestisida meskipun kacang tanah tersebut terserang hama seperti ulat.Kira-kira 4 bulan kacang tanah ini sudah bisa dipanen. Pak warso memanen kacang tanah dengan mencabutnya dari tanah, lalu dipisahkan antara biji kacang dengan batangnya. Setelah itu langsung dijemur hingga kering dan siap dijual ke tengkulak biasanya dijual dengan harga Rp 15.000 perkilonya.

Pada musim tanam selanjutnya adalah memenam jagung, di tanam di saat penghujung musim penghujan. Pak warso menggunakan jagung varietas hibrida, yaitu dengan menggunakan benih hasil dari panen sebelumnya. Selainitu pak warso juga bukan anggota dari GAPOKTAN sehingga tidak mendapat pupuk bersubsidi. Jarak tanam tanaman jagung yaitu 50 cm x 50 cm dengan jumlah 2-3 biji per lubang benih jagung. Pemupukan dilakukan pada 1 minggu setelah tanam, 3 minggu setelah tanam dan 1 bulan setelah tanam yaitu dengan memberikan pupuk urea dan ZA. Pupuk ZA dan urea di beli oleh pak warso pada sebuah toko  dengan harga per saknya yaitu 85.000. sedangkan penyiangan dilakukan setiap 2 minggu sekali dengan menggunakan cangkul.. Sama seperti kacang tanah tanah dan ketela pak warso tidak menyemprotkan pestisida jika jagung terserang hama seperti ulat. Kira-kira 4 bulan jagung sudah bisa untuk dipanen. Jagung yang sudah dipanen di pipil dan di jemur, setelah itu di jual ke tengkulak dengan harga  perkilo biasanya Rp 2500. Pak warso dulu juga pernah menanam cabe saat berumur 40 tahun untuk sekedar mencoba tetapi hanya sekali itu saja tidak pernah lagi karena pak warso tidak telaten dalam merawat cabai tersebut yang katanya butuh tenanga lebih banyak dari jagung maupun ketela.

Perubahan Sosial budaya petani terkait cara bercocok tanam

Pak warso bercocok tanam sesuai dengan apa yang dilihatnya dulu, yaitu dari orang tuanya.  Walaupun di desa kadang ada penyuluhan pak warso tidak pernah mengikuti kegiatan penyuluhan tersebut. Pak warso juga tidak ikut dalam gabungan kelompok tani (GAPOKTAN) alasannya karena pak warso lebih percaya akan apa yang diajarkan oleh kedua orangtuanya dulu juga karena sekarang umur pak warso yang 70 tahun sehingga tidak memungkinkan lagi untuk berkecimpung dalam orgnisasi.

Lembaga yang berkaitan dengan pengadaan sarana produksi, tenaga kerja dan pemasaran hasil usaha tani petani

Lahan Pak warso merupakan lahan milik sendiri dari warisan orang tua berupa lahan tegal atau ladang. Ladang pak warso ditanami dengan ketela pohon, kacang tanah dan jagung. Awalnya beliau memperoleh benih dari membeli di pedagang setempak dengan membeli secara kontan. Setelah beliau menanam dan mendapatkan hasil, hasil panen sebelumnya tersebut sebagian digunakan sebagai bahan untuk benih. Beliau menggunakan pupuk kimia yaitu Urea, dan ZA. Pupuk tersebut didapat dari membeli di toko dengan membayar tunai sebesar Rp 85.000. Selain pupuk kimia, beliau manggunakan pupuk organik yaitu pupuk kandang banyaknya pupuk kandang yang diberikan pada tanaman tidak menentu. Beliau hanya mengantarkan yang ada saja ke lahan tidak peduli sedikit atau banyak. Sebenarnya pupuk kandang yang diberikan pada tanaman  budidaya pak warso relative sedikit karena sapi milik beliau hanya satu ekor saja. Dalam kegiatan bertani pak warso tidak menggunakan pestisida baik anoragnik maupun nabati, meskipun tanamannya diserang hama. Pak warso selalu membiarkannya. Alasannya karena dulu orang tua pak warso yang tidak menggunakannya bisa panen dengan baik. Karena itulah sampai sekarang pak warso tidak menggunakan pestisida dan selain itu harganya  mahal. Hasil panen dari panennya sebagian besar dijual dan sebagian kecil dikonsumsi sendiri serta digunakan sebagai benih. Hasil panen dilakukan penanganan pasca panen dengan cara dikeringkan lalu dijual kepada pedagang atau tengkulak yang datang ke rumah Pak Warso dengan per satuan kg menyesuaikan harga pasaran.

Kesimpulan

Pak warso adalah petani di desa jedong yang tinggal berempat dengan anak dan seorang cucu perempuan. Pak warso memiliki lahan sendiri dengan luas kira-kira 0,5 ha hasil warisan dari kedua orangtua pak warso. Pak warso menanam ketela pohon, kacang tanah dan jagung di ladangnya.Cara bercocok tanam dipelajari pak warso dari kedua orangtuanya. Pak warso memiliki satu ekor sapi yang kotoran sapinya dimanfaatkan sebagai pupuk kandang. Pak warso juga membeli pupuk anorganik di took yaitu urea dan ZA. Pak warso tidak menggunakan pestida baik nabati maupun sintetis (kimia). Hasil panen pak warso sebagian besar dijual dan sebagian kecil dikonsumsi seperti ketela pohon. Hasil panen dijal kepada tengkulak persatuan kg dengan menyesuaikan harga pasaran.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

CAPTCHA Image

*

You may use these HTML tags and attributes: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>