Tugas Minggu Ke-2 Analisis Lanskap

PROSES PEMBENTUKAN WILAYAH PASURUAN, PROBOLINGGO, SITUBONDO, DAN BANYUWANGI MELALUI PROSES TENAGA ENDOGEN (TEKTONISME DAN VULKANISME)

 

PAPER

 

Ditulis untuk Memenuhi Tugas Terstruktur

Matakuliah Analisis Lansekap Terpadu

oleh

Ria Rifky Ardiyani                115040200111120

Rurin Eka A.                         115040200111172

Serlly Hardianita                  115040200111186

Olivia Surya Dini                  115040201111143

Kelas                                      : B

Dosen Pengampu               : Dr.Ir. Sudarto, MS

download

PROGRAM STUDI AGROEKOTEKNOLOGI

FAKULTAS PERTANIAN

UNIVERSITAS BRAWIJAYA

MALANG

2014

 

PENGARUH TENAGA ENDOGEN (TEKTONISME DAN VULKANISME) TERHADAP PROSES PEMBENTUKAN WILAYAH PASURUAN

  1. A.     TEORI TEKTONISME

Teori tektonik lempeng merupakan teori yang menjelaskan tentang sifat-sifat bumi yang mobil/dinamis yang disebabkan oleh gaya endogen yang berasal dari dalam bumi. Dalam teori tektonik lempeng dinyatakan bahwa pada dasarnya kerak bumi (litosfir) terbagi dalam 13 lempeng besar dan kecil (Noor, 2009). Adapun lempeng-lempeng besar terdiri dari:

  1. Lempeng Pasific (Pasific plate)
  2. Lempeng Euroasia (Eurasian plate)
  3. Lempeng India-Australia (Indian-Australian plate)
  4. Lempeng Afrika (African plate)
  5. Lempeng Amerika Utara (North American plate)
  6. Lempeng Amerika Selatan (South American plate)
  7. Lempeng Antartika (Antartic plate)

Berikut beberapa lempeng kecil seperti:

  1. Lempeng Nasca (Nasca plate)
  2. Lempeng Arab (Arabian plate)
  3. Lempeng Karibia (Caribian plate)
  4. Lempeng Philippines (Phillippines plate)
  5. Lempeng Scotia (Scotia plate)
  6. Lempeng Cocos (Cocos plate)

1

Gambar 1. Lempeng-lempeng utama litosfir

Noor (2009) menjelaskan berdasarkan teori tektonik lempeng, lempeng-lempeng yang ada saling bergerak dan berinteraksi satu dengan lainnya. Pergerakan lempeng-lempeng tersebut secara tidak langsung dipengaruhi oleh rotasi bumi pada sumbunya. Sebagaimana diketahui bahwa kecepatan rotasi yang terjadi bola bumi akan semakin cepat ke arah ekuator. Pada Gambar 2 diperlihatkan prinsip-prinsip dari pergerakan lempeng bumi, dimana pada bagian kutub (Euler pole) masuk ke dalam lingkaran besar sedangkan ke arah ekuator masuk ke dalam lingkaran kecil. Interaksi antar lempeng dapat saling mendekat (subduction), saling menjauh dan saling berpapasan (strike slip fault). Adanya tektonik ini, maka terbentuk lipatan serta patahan.

2

Gambar 2. Prinsip-prinsip Pergerakan Lempeng

Andimanwno (2010) menyatakan bahwa lipatan adalah suatu kenampakan yang diakibatkan oleh tekanan horizontal dan tekanan vertikal pada kulit bumi yang plastis. Lapisan yang melengkung membentuk lipatan yang besar, punggung lipatan atau antiklinal dan lembah lipatan atau sinklinal. Lembah sinklinal yang sangat luas disebut geosinklinal. Daerah ladang minyak bumi di Indonesia umumnya terletak pada daerah geosinklinal yang oleh J.H.F Umgrove disebut idiogeosinklinal. Adakalanya sebuah daerah lipatan terjadi dari beberapa antiklinal dan sinklinal. Deretan semacam itu masing- masing disebut antiklinorium dan sinklinorium.

Patahan adalah gejala retaknya kulit bumi yang tidak plastis akibat pengaruh tenaga horizontal dan tenaga vertikal. Daerah retakan seringkali mempunyai bagian-bagian yang terangkat atau tenggelam. Jadi, selalu mengalami perubahan dari keadaan semula, kadang bergeser dengan arah mendatar, bahkan mungkin setelah terjadi retakan, bagian-bagiannya tetap berada di tempatnya (Andimanwno, 2010).

3

Gambar 3. Beberapa contoh patahan

  1. B.     TEORI VULKANISME

Istilah vulkanisme berasal dari kata latin vulkanismus nama dari sebuah pulau yang legendaris di Yunani. Tidak ada yang lebih menakjubkan diatas muka bumi ini dibandingkan dengan gejala vulkanisme dan produknya, yang pemunculannya kerapkali menimbulkan kesan-kesan religius. Letusannya yang dahsyat dengan semburan bara dan debu yang menjulang tinggi, atau keluar dan mengalirnya bahan pijar dari lubang di permukaan, kemudian bentuk kerucutnya yang sangat mempesona, tidak mengherankan apabila di masa lampau dan mungkin juga sekarang masih ada sekelompok masyarakat yang memuja atau mengkeramatkannya seperti halnya di pegunungan Tengger (Gn.berapi Bromo) di Jawa Timur.

Vulkanisme dapat didefinisikan sebagai tempat atau lubang diatas muka bumi dimana daripadanya dikeluarkan bahan atau bebatuan yang pijar atau gas yang berasal dari bagian dalam bumi ke permukaan, yang kemudian produknya akan disusun dan membentuk sebuah kerucut atau gunung.

Penyebab terjadinya vulkanisme adalah diawali dengan proses pembentukan magma dalam litosfir akibat peleburan dari batuan yang sudah ada, kemudian magma naik ke permukaan melalui rekahan, patahan dan bukaan lainnya dalam litosfir menuju dan mencapai permukaan bumi.

Wilayah-wilayah sepanjang batas lempeng dimana dua lempeng litosfir saling berinteraksi akan merupakan tempat yang berpotensi untuk terjadinya gejala vulkanisma. Gejala vulkanisma juga dapat terjadi di tempat-tempat dimana astenosfir melalui pola rekahan dalam litosfir naik dengan cepat dan mencapai permukaan. Tempat-tempat seperti itu dapat diamati pada batas lempeng litosfir yang saling memisah-diri seperti pada punggung tengah samudra, atau pada litosfir yang membentuk lantai samudera.

 

  1. C.     PROSES PEMBENTUKAN WILAYAH PASURUAN
  2. Kondisi Umum Wilayah

Kabupaten Pasuruan adalah kabupaten di Provinsi Jawa Timur, Indonesia. Pusat pemerintahan berlokasi di Kota Pasuruan. Kabupaten ini berbatasan dengan Kabupaten Sidoarjo dan Laut Jawa di utara, Kabupaten Probolinggo di Timur, Kabupaten Malang di selatan, Kota Batu di barat daya, serta Kabupaten Mojokerto di barat. Kabupaten ini dikenal sebagai daerah perindustrian, pertanian, dan tujuan wisata. Kompleks Dataran Tinggi Tengger dengan Gunung Bromo merupakan atraksi wisata utama.

  1. Geografi Daerah Pasuruan

BPBD Kabupaten Pasuruan (2011) menyebutkan letak geografi Kabupaten Pasuruan antara 1120 33′ 55″ hingga 1130 30′ 37″ Bujur Timur dan antara 70 32′ 34″ hingga 80 30′ 20″ Lintang Selatan dengan batas-batas wilayah:

Utara               : Kabupaten Sidoarjo dan Selat Madura.

Selatan            : Kabupaten Malang

Timur               : Kabupaten Probolinggo

Barat               : Kabupaten Mojokerto

Bagian utara wilayah Kabupaten Pasuruan merupakan dataran rendah. Bagian barat daya merupakan pegunungan, dengan puncaknya Gunung Arjuno dan Gunung Welirang. Bagian tenggara adalah bagian dari Pegunungan Tengger, dengan puncaknya Gunung Bromo (BPBD Kabupaten Pasuruan, 2011).

Kondisi wilayah Kabupaten Pasuruan terdiri dari daerah pegunungan berbukit dan daerah dataran rendah, yang secara rinci dibagi menjadi 3 bagian :

-            Bagian selatan terdiri dari pegunungan dan perbukitan dengan ketinggian permukaan tanah antara 186 meter sampai 2.700 meter yang membentang mulai dari wilayah kecamatan Tutur, Purwodadi dan Prigen.

-            Bagian Tengah terdiri dari dataran rendah yang berbukit dengan ketinggian permukaan antara 6 meter sampai 91 meter dan pada umumnya relatif subur.

-            Bagian Utara terdiri dari dataran rendah pantai yang tanahnya kurang subur dengan ketinggian permukaan tanah 2 meter sampai 8 meter. Daerah ini membentang dari timur yakni wilayah kecamatan Nguling ke arah Barat yakni Kecamatan Lekok, Rejoso, Kraton dan Bangil.

Secara geologis daerah Kabupaten Pasuruan dilewati oleh lempeng Eurasia, lempeng ini terus bergerak dari waktu ke waktu. Gerakan ini akan menimbulkan pergeseran lempeng, yang akan membentuk lipatan atau patahan. Dapat kita temui deretan perbukitan mulai dari jalan sepanjang daerah Purwodadi-Nongkojajar. Perbukitan ini terjadi karena proses tektonik,yaitu bentukan lahan yang terjadi sebagai akibat deformasi kulit bumi oleh proses angkatan, patahan, dan atau lipatan (proses tektonik). Dengan adanya proses ini maka terbentuklah perbukitan yang memanjang sepanjang daerah daerah Purwodadi-Nongkojajar.

Selain dipengaruhi oleh proses tektonisme, Pasuruan juga dipengaruhi oleh proses vulkanisme. Landform yang terbentuk karena aktivitas volkan/gunung berapi (resen atau subresen). Landform ini dicirikan dengan adanya bentukan kerucut volkan, aliran lahar, lava ataupun dataran yang merupakan akumulasi bahan volkan. Wilayah Pasuruan dikelilingi oleh beberapa gunung aktif seperti G.Semeru, G.Welirang serta G.Bromo. Pada wilayah Nongkojajar, daerahnya relative subur, karena dekat dengan pegunungan yang mengandung bahan- bahan yang kaya akan hara. Sehingga di daerah ini banyak terdapat kegiatan pertanian seperti bercocok tanam sayur dan buah-buahan.

Daerah Pasuruan khususnya bagian utara, seringkali terjadi peristiwa banjir, hal ini dikarenakan pada daerah Pasuruan dilewati oleh enam sungai serta daerah ini meruakan daerah dataran rendah sehingga banjir tidak dapat dihindari. Sungai yang mengalir di daerah Pasuruan antara lain :

Sungai Lawean                       : Bermuara di Desa Penunggul, Kec. Nguling.

Sugai Rejoso                           : Bermuara di Wilayah Kec. Rejoso.

Sungai Gembong                    : Bermuara di Wilayah kota Pasuruan.

Sungai Welang                        : Bermuara di Desa Pulokerto. Kec, Kraton.

Sungai Masangan                   : Bermuara di Desa Raci, Kec. Bangil.

Sungai Kedunglarangan         : Bermuara di Desa Kalianyar, Kec. Bangil.

Terjadinya banjir yang sering membuat daerah ini dapat disebut sebagai daerah dataran banjir. Pembentukan daerah ini dipengaruhi oleh sungai-sungai yang melewati. Aktivitas sungai akan membawa bahan endapan sungai dalam jumlah yang relative banyak dalam kurun waktu yang lama. Dengan adanya penendapan bahan-bahan sedimentasi ini maka terbentuk wilayah yang dipengaruhi oleh aktifitas sungai dan disebut dengan landform alluvial. Dengan demikian, proses pembentukan daerah Pasuruan dipengaruhi oleh proses Tektonik, vulkanisme serta aktivitas sungai (Aluvial).

PROSES PEMBENTUKAN WILAYAH PROBOLINGGO

Tenaga endogen adalah tenaga yang berasal dari dalam bumi yang menyebabkan perubahan pada kulit bumi. (Script, 2012). Tenaga endogen ini sifatnya membentuk permukaan bumi menjadi tidak rata. Mungkin saja di suatu daerah dulunya permukaan bumi rata (datar) tetapi akibat tenaga endogen ini berubah menjadi gunung, bukit, atau pegunungan. Pada bagian lain permukaan bumi turun menjadikan adanya lembah atau jurang. Secara umum tenaga endogen dibagi dalam tiga jenis yaitu tektonisme, vulkanisme, dan seisme atau gempa bumi.

3

Gambar 4. Taman Nasional Bromo-Tengger-Semeru

Bentuk permukaan bumi yang terlihat saat ini merupakan hasil dari proses geologi sebagai tenaga endogen dan pengaruh faktor cuaca sebagai tenaga eksogen yang menyebabkan batuan mengalami proses pelapukan. Dengan demikian daerah yang telah terangkat akan mengalami proses denudasi sehingga terbentuk bukit-bukit dan dataran (peneplain), proses pengangkatan dan patahan akan menimbulkan zona-zona lemah sehingga terbentuk lembah-lembah sungai dan penerobosan magma ke permukaan dalam bentuk kegiatan vulkanisme yang menghasilkan batuan vulkanik. Seperti yang membentuk fisiografi Jawa Timur yang memiliki karakteristik geologi terdiri dari pedataran alluvial, perbukitan lipatan dan gunung api.

5

Gambar 5. Zona Fisiografis Provinsi Jawa Timur

Secara fisiografis, wilayah Provinsi Jawa Timur dapat dikelompokkan dalam tiga zona, yaitu zona selatan (plato), zona tengah (gunung berapi), dan zona utara (lipatan) (Script2, 2012). Di daerah Jawa Timur bagian tengah, dan khususnya Probolinggo, proses tenaga endogen terjadi melalui adanya proses volkanisme, yaitu peristiwa yang sehubungan dengan naiknya magma dari dalam perut bumi. Magma adalah campuran batu-batuan dalam keadaan cair, liat serta sangat panas yang berada dalam perut bumi. Aktivitas magma disebabkan oleh tingginya suhu magma dan banyaknya gas yang terkandung di dalamnya sehingga dapat terjadi retakan-retakan dan pergeseran lempeng kulit bumi. Magma dapat berbentuk gas padat dan cair. Proses terjadinya vulkanisme dipengaruhi oleh aktivitas magma yang menyusup ke lithosfer (kulit bumi). Apabila penyusupan magma hanya sebatas kulit bumi bagian dalam dinamakan intrusi magma. Sedangkan penyusupan magma sampai keluar ke permukaan bumi disebut ekstrusi magma.

6

Gambar 6. Bahan-bahan dari dalam bumi di sekitar gunung berapi

Probolinggo merupakan daerah gunung api, hal tersebut ditandai dengan adanya bahan induk alluvial dan vulkanik muda (kwarter) yang ditemukan di daerah tersebut. Gunung-gunung yang berada di kawasan Probolinggo antara lain, Gunung Bromo (2.192 meter), Gunung Semeru (3.676 meter), Pegunungan Tengger, Gunung Lamongan, dan Gunung Argopuro (3.088 meter—saat ini tidak aktif). Bromo merupakan salah satu yang memiliki pengaruh paling kuat terhadap pembentukan dataran di wilayah Probolinggo. Dari bentuk gunung tersebut pernah terjadi letusan yang kuat sehingga menghancurkan bagian permukaan dan membentuk corong pada kawahnya (kawah di dalam kawah). Gunung Bromo kemungkinan terbentuk dari ledakan yang sangat kuat yang melempar ujung atas gunung sehingga membentuk cekungan, oleh karena itu disebut sebagai kaldera.

Gunung Bromo mempunyai sebuah kawah dengan garis tengah 800 meter (utara-selatan) dan sekitar 600 meter (timur-barat). Sedangkan daerah bahayanya berupa lingkaran dengan jari-jari 4 km dari pusat kawah Bromo. Kompleks kaldera seperti yang disebut di atas diperkirakan terbentuk sekitar 150.000 tahun yang lalu dan kini telah mengering karena airnya mengalir melalui Lembah Sapikerep. Selain itu terdapat lautan pasir seluas 9×10 km pada kawasan kaldera yang terletak pada ujung barat daya dari kompleks kaldera. Diperkirakan terbentuk secara bertahap selama Pleistosen akhir dan Holosen awal, atau sekitar 2 juta tahun lalu. Sebuah cluster tumpang tindih kerucut pasca kaldera dibangun di lantai kaldera lautan pasir dalam beberapa ribu tahun terakhir. Menurut Ananta (2012), Bromo adalah gunung api tipe cinder cone, yaitu gunung api yang dibentuk oleh litifikasi abu gunungapi, yang berada di dalam kaldera Tengger. Kaldera Tengger berukuran hampir 100 km per segi, dasarnya tertutup oleh endapan pasir lepas hasil erupsi. Dari kaldera ini muncul lima gunungapi: Bromo, Widodaren, Kursi, Giri, dan Batok, tetapi hanya Bromo yang aktif.

PROSES PEMBENTUKAN WILAYAH SITUBONDO

Indonesia merupakan negara yang secara geologis memiliki posisi yang unik karena berada pada pusat tumbukan Lempeng Tektonik Hindia Australia di bagian selatan, Lempeng Eurasia di bagian Utara dan Lempeng Pasifik di bagian Timur laut. Lempeng Indo-Australia bertabrakan dengan lempeng Eurasia di lepas pantai Sumatra, Jawa dan Nusatenggara, sedangkan dengan Pasific di utara Irian dan Maluku utara. Hal ini mengakibatkan Indonesia mempunyai tatanan tektonik yang komplek dari arah zona tumbukan yaitu Fore arc, Volcanic arc dan Back arc. Fore arc merupakan daerah yang berbatasan langsung dengan zona tumbukan atau sering di sebut sebagai zona aktif akibat patahan yang biasa terdapat di darat maupun di laut. Akibat dari terbentunya zona subduksi inilah maka banyak sekali ditemukan gunung berapi di Indonesia. Makanya orang- orang banyak menyebut daerah kita sebagai RING OF FIRE.

Perkataan bumi yang padat dan tenang sebenarnya salah, didalam bumi ada beberapa lempengan dunia yang terus bergerak saling menyeimbangkan satu sama lain. Dalam proses penyeimbangan ini menyebabkan terjadinya pergesekan yang mengakibatkan gempa tektonik. Sedangkah akibat adanya aktifitas tektonik ini akan dapat memicu gunung api aktif bereaksi untuk menyeimbangkan juga yang nantinya akan menyebabkan gempa vulkanik.

Kabupaten Situbondo merupakan salah satu Kabupaten yang berada di Provinsi Jawa Timur. Kabupaten ini terletak di ujung timur Pulau Jawa bagian utara, sebelah Utara berbatasan dengan Selat Madura, sebelah Timur berbatasan dengan Selat Bali, sebelah Selatan berbatasan dengan Kabupaten Bondowoso dan Banyuwangi, serta sebelah Barat berbatasan dengan Kabupaten Probolinggo. Secara geografis Kabupaten Situbondo berada pada posisi 70 35’- 70 44’ lintang selatan dan 1130 30’-1140 42’ bujur timur. Luas wilayah Kabupaten Situbondo adalah 1 638.50 km2 atau 163 850 hektar. Kondisi fisiknya berbentuk memanjang dari barat ke timur 140 km dengan rata-rata lebar wilayah 11 km.

Kabupaten Situbondo berada pada ketinggian 0-1.250 m di atas permukaan air laut. Temperatur daerah ini 24,70 C-27,90 C dengan rata-rata curah hujan 994 mm-1.503 mm per tahunnya sehingga daerah ini tergolong kering. Umumnya keadaan tanah menurut teksturnya tergolong sedang 96,26%, tergolong halus 2,75% dan tergolong kasar 0,99%. Drainase tanah tergolong tidak tergenang 99,42%, kadang-kadang tergenang 0,05% dan selalu tergenang 0,53%.

7

Gambar 7. Peta Kabupaten Situbondo

8

Gambar 8. Kondisi Tanah pada Wilayah Situbondo

Jenis tanah di Kabupaten Situbondo antara lain berjenis alluvial, regosol, gleysol, renzine, grumosol, tanah latosol. Pembentukan lanskap wilayah situbondo terjadi karena letak Sitbondo yang berada di sepanjang pesisir pantai utara. Yang mana pantai di Situbondo merupakan Tipologi pantai Volcanic Coast. Tipe pantai ini merupakan pesisir yang terbentuk sebagai akibat proses volkanik. Tipe pantai seperti ini biasanyaplatform-nya landai dan memungkinkan tumbuhnya karang, sehingga lautnya cukup jernih seperti dijumpai di Pantai Pasir Putih, Situbondo. Air laut relatif tenang dengan ketersedian airtanah yang cukup baik dan tidak asin.

TERBENTUKNYA GEOMORFOLOGI PADA DAERAH BANYUWANGI

Kabupaten Banyuwangi mempunyai luas daratan sekitar 5.782,50 km2 dengan kawasan hutan mencapai 183.396,34 ha atau sekitar 31,72%, persawahan sekitar 66.152 ha atau 11,44%,  perkebunan dengan luas sekitar 82.143,63 ha atau 14,21%, permukiman dengan luas sekitar 127.454,22 ha atau 22,04%.  sisanya dipergunakan untuk jalan, ladang dan lain-lainnya. Kabupaten banyuwangi terbagi menjadi wilayah administrasi sebanyak 24 kecamatan dengan jumlah penduduk sekitar 1.457.523 jiwa (BPS Kabupaten Banyuwangi, 2003).

Kabupaten tersebut didominasi oleh daratan yang memiliki kandungan potensi sumberdaya alam dan sumberdaya laut yang dapat memainkan peran penting dalam pembangunan daerah dan nasional. Pemanfaatan sumberdaya alam merupakan modal utama dalam melaksanakan pembangunan. Namun sampai sekarang belum dikelola dan dimanfaatkan secara optimal untuk kepentingan masyarakat yang salah satunya disebabkan oleh kurangnya data dan informasi spatial mengenai potensi sumberdaya alam. Berdasarkan hal-hal tersebut diatas, diperlukan data dan informasi yang lengkap, akurat dan terbaru yang tersedia tentang informasi potensi sumberdaya lahan Kabupaten Banyuwangi. Untuk mempercepat penyediaan data dan informasi tersebut secara lengkap dan akurat, dilakukan penelitian untuk mendapatkan data informasi tentang kesesuaian lahan untuk tanaman pangan di Kabupaten Banyuwangi secara spasial menggunakan data satelit penginderaan jauh Dengan menggunakan teknologi penginderaan jauh dapat diperoleh informasi kesesuaian lahan terbaru yang lengkap, akurat dalam bentuk spasial digital dinamis. Teknologi penginderaan jauh didukung dengan sistem informasi geografi mampu menyediakan informasi untuk mengatasi permasalahan kesenjangan informasi potensi sumberdaya alam untuk arahan dalam perencanaan pembangunan berkelanjutan baik di Daerah Penelitian.

A. Kondisi Fisik Kabupaten Banyuwangi

1. Letak dan Luas

Kabupaten Banyuwangi terletak pada 114,32_ LS 114,53_ LS dan 113,84_ BT 114,60 BT di ujung timur pulau jawa, dengan luas seluruh wilayah Kabupaten Banyuwangi berdasarkan hasil pengukuran menggunakan citra Landsat-7 ETM+ yaitu 3.601,11 km2 atau 360.111 ha. Wilayah daratannya terdiri atas dataran tinggi berupa pegunungan yang merupakan daerah penghasil produk perkebunan; dan dataran rendah dengan berbagai potensi produk hasil pertanian serta daerah sekitar garis pantai yang membujur dari arah utara ke selatan yang merupakan daerah penghasil berbagai biota laut.. Secara administrasi, wilayah Kabupaten Banyuwangi terdiri atas 24 Kecamatan, yaitu Kecamatan Bangorejo, Banyuwangi, Cluring, Gambiran, Genteng, Giri, Glagah, Glenmore, Kabat, Kalibaru, Kalipuro, Licin, Muncar, Pesanggaran, Purwoharjo, Rogojampi, Sempu, Siliragung, Singojuruh, Songgon, Srono, Tegaldlimo, Tegalsari dan Kecamatan Wongsorejo. Kecamatan yang memiliki wilayah paling luas adalah Kecamatan Tegaldlimo yaitu 555,38 km2 atau 55.538 ha (15,2% dari luas wilayah Kabupaten). Sedangkan kecamatan dengan luas wilayah paling kecil adalah Kecamatan Giri yaitu 20,19 km2 atau 2.019 ha (0,56% dari luas wilayah Kabupaten Banyuwangi).

Bagian barat dan utara pada umumnya merupakan pegunungan, dan bagian selatan sebagian besar merupakan dataran rendah. Tingkat kemiringan rata-rata pada wilayah bagian barat dan utara 40°, dengan rata-rata curah hujan lebih tinggi bila dibanding dengan bagian wilayah lainnya. Daratan yang datar sebagian besar mempunyai tingkat kemiringan kurang dari 15°, dengan rata-rata curah hujan cukup memadai sehingga bisa enambah tingkat kesuburan tanah. Dataran rendah yang terbentang luas dari selatan hingga utara dimana di dalamnya terdapat banyak sungai yang selalu mengalir di sepanjang tahun. Di Kabupaten Banyuwangi tercatat 35 DAS, sehingga disamping dapat mengairi hamparan sawah yang sangat luas juga berpengaruh positif terhadap tingkat kesuburan tanah.

Di samping potensi di bidang pertanian, Kabupaten Banyuwangi merupakan daerah produksi tanaman perkebunan dan kehutanan, serta memiliki potensi untuk dikembangkan sebagai daerah penghasil ternak yang merupakan sumber pertumbuhan baru perekonomian rakyat. Dengan bentangan pantai yang cukup panjang, dalam perspektif ke depan, pengembangan sumberdaya kelautan dapat dilakukan dengan berbagai upaya intensifikasi dan diversifikasi pengelolaan kawasan pantai dan wilayah perairan laut.

Batas wilayah kabupaten banyuwangi antara lain:

Sebelah Utara             : Kabupaten Situbondo

Sebelah Timur                        : Selat Bali

Sebelah Selatan          : Samudera Indonesia

Sebelah Barat             : Kabupaten Jember dan Bondowoso

2. Iklim

Wilayah Kabupaten Banyuwangi mempunyai kondisi iklim yang bervariasi. Berdasarkan data dari Badan Meteorologi dan Geofisika (BMG) dari 33 stasiun selama 20 tahun (1981-2000), bahwa curah hujan rerata tahunan berkisar antara 926 mm/th (Stasiun Tegaldlimo) hingga 2913 mm/th (Stasiun Banyu Lor). Secara agroklima-tologis. Wilayah Kabupaten Banyuwangi terbagi ke dalam 7 (tujuh) zona agroklimat (pembagian menurut Oldeman, 1975), yaitu zona A, B1, B2, C2, C3, D3, D4. Pembagian ini didasarkan atas perhitungan rerata jumlah bulan basah (BB) dan bulan kering (BK).

Sepanjang tahun 2011 rata-rata kelembaban udara di Kabupaten Banyuwangi diper-kirakan mendekati 82 persen. Kelembaban terendah terjadi pada bulan Nopember dengan rata-rata kelembaban udara sebesar 78 persen. Sebaliknya kelembaban tertinggi terjadi pada bulan Januari dengan besaran 85 persen.

Adapun rata-rata curah hujan selama tahun 2011 angkanya  mencapai 24,8-181,6 mm terjadi pada bulan Januari sampai dengan Juni. Sedang bulan Juli sampai dengan Desember angkanya hanya mencapai 4,0-195,5 mm.
Indikasinya dalam semester pertama pada tahun 2011,  hari hujannya relatif lebih banyak yang diikuti dengan curah hujan yang lebih besar pula. Sedang pada semester kedua pada tahun 2011, dengan  hari hujan yang lebih sedikit serta diikuti dengan curah hujan yang lebih rendah.

Selain kelembaban, hari hujan dan curah hujan yang biasanya digunakan untuk mengidentifikasi keadaan iklim, rata-rata suhu udara juga kerap kali digunakan sebagai ukuran atau tingkat kedinginan suatu daerah.  Intepretasinya semakin mendekati angka nol maka daerah tersebut akan semakin dingin, demikian pula sebaliknya.

Selama tahun 2011 rata-rata suhu udara terendah terjadi pada bulan Agustus yaitu sebesar 25,7 derajat celcius. Sedang tertinggi pada bulan Desember sebesar 28,6 derajat celcius. Sedang bulan-bulan lain angka rata-rata suhu udara yang terjadi sekitar 26 derajat celcius. Sebuah angka dalam ukuran atau tingkat kedinginan suatu wilayah yang sangat ideal. Artinya dalam rata-rata, bukan berarti setiap wilayah dengan suhu udara yang sama.

3. Geologi

Berdasarkan Peta Geologi skala 1:100.000 terbitan Pusat Penelitian dan Pengembangan Geologi, wilayah Kabupaten Banyuwangi terbagi dalam 3 sheet peta, yaitu Lembar Banyuwangi, Lembar Jember, dan Lembar Blambangan. Secara keseluruhan Kabupaten Banyuwangi tersusun oleh 20 satuan geologi (dalam 3 sheet peta). Berdasarkan peta geologi tersebut, satuan geologi paling luas yaitu Formasi Kalibaru (Qpvk) seluas 1.142,75 km2, atau 114.275 Ha. Sedangkan satuan geologi dengan luas paling kecil yaitu Batuan Intrusif Dasit (Tmi (da)) seluas 1,63 km2 atau 163 Ha.

Berdasarkan hasil interpretasi dan analisis citra, Kabupaten Banyuwangi tersusun oleh beberapa bentuk lahan yang kompleks, yaitu termasuk kelompok bentuk lahan asal vulkanik, denudasional, fluvial, marin, struktural, kars dan organik. Secara keseluruhan wilayah Kabupaten Banyuwangi terbentuk dari 48 kelas bentuklahan, sebagai berikut :

(a)   Bentuk lahan asal vulkanik, meliputi: Kawah aktif, Kerucut gunung api cinder, Kerucut gunung api parasiter, Gunung api bocca, Kaki gunung api bocca, Leher gunung api, Lembah barranco, Lereng gunung api, Lereng gunung api atas, Lereng gunung api bawah, Medan lava, Medan lahar, Kaki gunungapi, Dataran kaki gunungapi, Dataranuvio gunungapi, dan Kipas uvio gunungapi

(b)   Bentuk lahan asal denudasional, meliputi: Perbukitan denudasional terkikis kuat,Perbukitan denudasional terkikis sedang, Perbukitan denudasional terkikis ringan,Perbukitan sisa, Dataran nyaris, Permukaan planasi, Kipas koluvial, Lerengkaki erosi,Lerengkaki rombakan dan Dinding terjal

(c)   Bentuk lahan asal fluvial, meliputi: Dataran aluvial, Dataran aluvial pantai, Dataran banjir, Gosong sungai, Kipas aluvial aktif, Rawa belakang, Tanggul alam, Rawa air tawar, dan Dataran lembah isian

(d)   Bentuk lahan asal marin, meliputi: Gisik, Kompleks beting gisik, Lagun, Rawa payau, dan Rataan Lumpur

(e)   Bentuk lahan asal structural, meliputi: Gawir sesar, Perbukitan sill dan Perbukitan dike

(f)    Bentuklahan asal kars, meliputi: Perbukitan kars (berkembang baik, sedang, dan tidak berkembang, dan Dataran aluvial kars

(g)   Bentuk lahan asal organik, meliputi: Terumbu paparan pelataran 98

Hasil perhitungan luas menunjukkan bahwa wilayah Kabupaten Banyuwangi secara geomorfologi sebagian besar adalah bentuk lahan Dataran nyaris (788,65 km2 atau 21,9 % luas total), Dataran aluvial (519,06 km2 atau 14,41% luas total), Perbukitan denudasional terkikis ringan (308,08 km2 atau 8,56 % luas total), Perbukitan kars berkembang baik (259,9 km2 atau 7,22 % luas total), Kaki gunung api (245,62 km2 atau 6,82 % luas total), Lereng gunung api (204,46 km2 atau 5,68 % luas total), Dataran kaki gunung api (185,56 km2 atau 5,15 % luas total), Perbukitan denudasional terkikis sedang (180,51 km2 atau 5,01 % luas total), dan dataran aluvial kars (141,15 km2 atau 3,92 % luas total)

4. Interpretasi Citra Untuk Analisis Penutup/ Penggunaan Lahan

Berdasarkan hasil interpretasi menggunakan citra satelit Landsat-7 ETM+, terdapat 27 kelas penutup/penggunaan lahan di Kabupaten Banyuwangi yaitu berturut-turut mulai yang paling luas yaitu ; Hutan Darat, Sawah Irigasi, Perkebunan Sejenis, BelukarTegalan/Ladang, Permukiman Desa/Kampung, Kebun Campur, Semak, Lahan Terbuka, Tegalan/Ladang, Hutan Mangrove, Tambak, Sungai, Jalan Lokal, Permukiman Kota, Emplasemen, Sawah Pasut, Industri, Sungai Irigasi, Jalan Kolektor, Jalan Arteri, Jalan Kereta, Sawah Tadah Hujan, Taman Kota, Danau, Pelabuhan, Waduk, Hutan Kota.

5. Hasil Pengamatan dan Analisis Tanah di Lapangan

Pengamatan tanah di lapangan dilakukan terpadu dalam kegiatan survei lapangan. Meliputi survei bentuklahan, penutup/penggunaan lahan, satuan lahan, pengamatan tanah di lapangan dan pengambilan sampel tanah untuk analisis laboratorium. Jumlah lokasi pengamatan yang diambil pada pekerjaan ini yaitu 20 lokasi sampel. Lokasi sampel diambil secara purposif, yaitu diharapkan dapat mewakili daerah penelitian. Pengamatan dilapangan yang dilakukan di lapangan meliputi karakteristik fisik tanah yaitu: kelas bentuklahan dan karakteristik bentuklahan yang meliputi kemiringan lereng, tingkat bahaya erosi, dan tingkat bahaya banjir. Pengamatan karakteristik tanah meliputi tekstur tanah, drainase tanah, dan kedalaman tanah. Pengamatan sifat kimia tanah yang dilakukan di lapangan meliputi salinitas dan pH tanah. Pengamatan tanah di lapangan dilakukan sekaligus sebagai upaya cek lapangan dari hasil-hasil interpretasi citra dan analisis peta.

Tabel 1. Jenis Tanah di Kabupaten Banyuwangi berdasarkan struktur geologi

No. Struktur Geologi Luas (Ha) %
1. Alivium 134.525,00 23,27
2. Hasil G. Api Kwarter Muda 170.310,50 29,43
3. Hasil G. Api Kwarter Tua 59.283,00 10,26
4. Andesit 47.417,75 8,20
5. Miosen Falses Semen 89.177,25 15,43
6. Miosen Falses Batu Gamping 77.536,50 13,41

Tabel 2. Keadaan jenis Tanah di Kabupaten Banyuwangi

No. Jenis Tanah Luas (Ha) %
1. Regosol 138.490,87 23,96
2. Lithosol 39.031,88 6,75
3. Lathosol 14.109,30 2,44
4. Podsolik 348.684,75 60,30
5. Gambut 37.433,70 6,55

6. Hasil Analisis Tanah di Laboratorium

Sifat-sifat fisik yang dianalisis yaitu tekstur (prosentase pasir, debu dan lempung) serta kadar air. Sedangkan sifat-sifat kimia yang dianalisis meliputi prosentase bahan sulfida, bahan organik, KTK, KTL, unsur-unsur Na, K, Ca, Mg dan kejenuhan basa. Parameter sifat fisik dan kimia tanah ini merupakan penciri produktivitas tanah. Hasil pengukuran laboratorium tanah ini digunakan untuk membantu dalam analisis kesesuaian lahan tanaman pangan.

7. Hasil Analisis Kesesuaian Lahan Tanaman Pangan

Berdasarkan analisis kesesuaian lahan yang dilakukan mulai dari interpretasi citra dan analisis peta, suvei lapangan, analisis laboratorium, diketahui lokasi dan luas lahan yang mempunyai tingkat kesesuaian untuk beberapa komoditas tanaman pangan. Komoditas tanaman pangan yang ditentukan untuk dianalisis meliputi ; padi sawah, jagung, kedelai dan kacang tanah. Tanaman pertanian ini merupakan komoditas utama pertanian dan mempunyai nilai ekonomis cukup tinggi. Hasil perhitungan secara keseluruhan, luas lahan Kabupaten Banyuwangi yang mempunyai kelas Sangat Sesuai (S1) untuk Tanaman Pertanian Padi Sawah yaitu 60.910 ha (16,91 %), untuk kelas Sesuai Moderat (S2) yaitu 66.327 ha (18,42 %), untuk kelas Sesuai Marjinal yaitu 17.616 ha (4,89 %), dan Tidak Sesuai (N) yaitu 215.258 ha (59,78 %).

9

Gambar 9. Pembagian daerah kars di Kabupaten Banyuwangi

REFERENSI

Aminudin, Nur Hasan. 2012. Geomorfologi Jawa Timur Zona Tengah [Online]. http://www.slideshare.net/Hsnura/geomorfologi-jawa-timur-zona-tengah. Diakses pada 2 Maret 2014.

Ananta, Hildan. 2012. Saat Terindah di Puncak Bromo [Online]. http://travel.detik.com/read/2011/11/20/215701/1771511/1025/saat-terindah-di-puncak-bromo. Diakses pada 2 Maret 2014.

Andimawno. 2010. Aneka Bentuk dan Potensi Muka Bumi. http://andimanwno.files.wordpress.com/2010/08/aneka-bentuk-dan-potensi-muka-bumi.pdf. Diakses pada 5 Maret 2014.

Anonymous. 2012. Gunung Berapi [Online]. http://id.wikipedia.org/wiki/Gunung_berapi. Diakses pada 2 Maret 2014.

Badan Penanggulangan Bencana Daerah Kabupaten Pasuruan. 2011. Gambaran Umum Kabupaten Pasuruan. http://bpbd.pasuruankab.go.id/pages-7-gambaran-umum.html. Diakses pada 5 Maret 2014.

BPS Kabupaten Banyuwangi. 2003. Publikasi Hasil Sensus Penduduk 2003. Banyuwangi.

Budisma. 2010. Tenaga Endogen – Vulkanisme [Online]. Available at http://budisma.web.id/materi/sma/geografi/tenaga-endogen-vulkanisme/. Diakses pada 2 Maret 2014.

Dinas Energi dan Sumberdaya Mineral Provinsi Jatim. Data Geologi Provinsi Jawa Timur.

Noor, D. 2009. Teori Pembentukan Bumi dan Tektonik Lempeng. http://www.docstoc.com/docs/43307701/Bab-2-Teori-Pembentukan-Bumi. Diakses pada 5 Maret 2014.

Script1. 2012. Tenaga Endogen [Online]. Available at http://id.wikipedia.org/wiki/Tenaga_endogen. Diakses pada 2 Maret 2014.

Script2. 2012. Jawa Timur [Online]. Available at http://id.wikipedia.org/wiki/Jawa_Timur. Diakses pada 2 Maret 2014.

Categories: Uncategorized | Leave a comment

Tugas Kuliah STELA M-03

Nama       : Serlly Hardianita

NIM          : 115040200111186

Kelas        : N

Koleksi peta

1.  meneruskan pengayaan bahan kajian seperti yang dituliskan pada minggu kedua

2. Koleksi peta rupa bumi/topografi, geologi, peta tanah, dan peta penggunaan lahan masing-masing asal daerah anda.

3. Buat halaman pada blog anda, upload peta-peta tersebut dan berikan penjelasan setiap peta tentang:

1. Judul (lembar peta untuk peta rupa bumi) , Tahun Penerbitan, Pembuat Peta

2. Skala dan  Sistem Proyeksi

3. Lokasi Keberadaan Peta Tersebut :

catatan:

 

PETA RUPA BUMI/TOPOGRAFI

peta-probolinggo7

  1. Judul : KOTA PROBOLINGGO

Tahun Penerbitan :

Pembuat Peta :

  1. Skala :

Sistem Proyeksi :

  1. Lokasi Keberadaan Peta :

PETA GEOLOGI

Peta Geologi Teknik Daerah Probolinggo dsk skala 50rb

 

  1. Judul : PETA GEOLOGI TEKNIK DAERAH PROBOLINGGO DAN SEKITARNYA

Tahun Penerbitan : 1997,  GTL

Pembuat Peta :  SUDADI, Purwanto; SUTISNA, Joni R.; EFFENDI, Asep

  1. Skala : 1:50.000

Sistem Proyeksi :

  1. 3.    Lokasi Keberadaan Peta : Provinsi: Jawa Timur

kabupaten: 

Probolinggo

Batas Barat: 

113 ° Bujur Timur

Batas Timur : 

113.25° Bujur Timur

Batas Utara: 

-7.667 ° Lintang Selatan(-) / Lintang Utara (+)

Batas Selatan: 

-7.833 ° Lintang Selatan(-) / Lintang Utara (+)

 

PETA TANAH

  1. Judul :

Tahun Penerbitan :

Pembuat Peta :

  1. Skala :

Sistem Proyeksi :

  1. Lokasi Keberadaan Peta :

 

PETA PENGGUNAAN LAHAN

  1. Judul : KOTA PROBOLINGGO

Tahun Penerbitan :

Pembuat Peta :

  1. Skala :

Sistem Proyeksi :

  1. Lokasi Keberadaan Peta :
Categories: Uncategorized | Leave a comment

Tugas Kuliah STELA M-04

LATIHAN

Nama           : Serlly Hardianita    Kelompok diskusi : Rurin Eka Asgianingrum 115040200111172

NIM              : 115040200111186                             Safarudin Slamet Riady (115040200111169)

Kelas/Prodi : N/Agroekoteknologi                               Safitri Dwi Rahmawati (115040201111337)

 

1.  meneruskan pengayaan bahan kajian seperti yang dituliskan pada minggu kedua

2. Kerjakan bahan diskusi pada slide no 4 di bahan kuliah minggu 3

  1. Mengapa perlu ditentukan luasan SPT terkecil 0.4 cm2?

Karena penentuan luasan SPT terkecil tersebut ditujukan untuk mendapatkan kompleks tanah, yang mana bila komponen tanah yang berasosiasi secara geografis, tetapi tidak dapat dipisahkan kecuali pada tingkat amat detil. Sehingga dilakukan dengan luasan terkecil 0.4 cm2

2. Apakah dibenarkan kita membesarkan peta analog (misalnya peta tanah cetak) dgn scanner/foto copy  skala 1 : 250.000 menjadi 1 : 50.000? JELASKAN

Tidak bisa dibenarkan, karena jika kita hanya memfotocopy/scanner memperbesar peta ataupun memperkecilnya, maka ada pada bagian-bagian dalam peta tersebut yang hilang ataupun bertambah. Kecuali jika kita membuat ulang dan memperkecil skala sebelumnya.

  1. Skala peta
    1. Berapa luas di lapangan untuk suatu SPT berukuran 0.8 cm2 pd peta berbagai skala seperti pada butir-butir di bawah?
  • Eksplorasi (1: 1000.000), maka menjadi :

L.sebenranya   = 0.8cm2 x (1.000.000)2

                                             = 0.8 x 1012 cm2

= 0.8 x 104 ha

  • Tinjau (1:250.000), maka menjadi :

L.sebenarnya   = 0.8 cmx (250.000)2

= 0.8 x 625 x 108

= 500 x 10cm2  = 500 ha

  • Semi detil (1:50.000), maka menjadi :

L.sebenarnya   = 0.8 cmx (50.000)2

= 20 x 108  cm2  = 20 ha

  • Detil (1:25.000)

L.sebenarnya   = 0.8 x 625 x 106

= 500 x 10cm2  = 5 ha

  • Sangat Detil (1:5 000)

L.sebenarnya    = 0.8 cmx (5000)2

= 20 x 10cm2  = 20-1 ha 

Categories: Uncategorized | Leave a comment

Tugas Kuliah STELA M-02

Tugas Pengayaan Materi

Nama                       : Serlly Hardianita

NIM                          : 115040200111186

Kelas/Prodi           : N/Agroekoteknologi

 

Tugas Minggu pertama

1. Ada beberapa istilah dalam kuliah ini, dalam kuliah minggu 1 dan 2 ada beberapa istilah yang perlu pemahaman, berikan penjelasan (definisi dan penjelasannya), misalnya:

  • Peta Tanah

adalah peta yang dibuat untuk memperlihatkan distribusi taksa tanah, dalam hubungnnya dengan kenampakan fisik dan budaya dari permukaan bumi.

  • Skala peta

adalah perbandingan antara jarak  di lapangan dengan jarak di peta.

Skala Peta sendiri, dibedakan menjadi 3 macam, yaitu:

 a.       Skala Angka/Skala Pecahan (Numerical Scale).

Skala ini sering disebut skala numeric yaitu skala yang dinyatakan dalam bentuk perbandingan angka.

Contoh:
Skala 1 : 100.000, skala 1 : 2.000.000 dan sebagainya

 b.       Skala Verbal yaitu skala yang dinyatakan dengan kalimat atau kata-kata.

Skala ini disebut juga skala inci dibanding mil yang dalam bahasa Inggris disebut “Inch Mile Scale”.

Contoh:
Skala dalam suatu peta dinyatakan dalam 1 inch to 5 miles, ini berarti jarak 1 inci di peta menggambarkan jarak 5 mil di lapangan atau jarak sebenarnya.

c.       Skala Garis (Line Scale)/Skala Grafik (Graphical Scale) / Skala Batang (Bar Scale)/ Skala Jalan (Road Scale)

Untuk skala ini dinyatakan dalam bentuk garis lurus yang terbagi dalam beberapa bagian yang sama panjangnya. Pada garis tersebut harus dicantumkan ukuran jarak yang sesungguhnya di lapangan, misalnya dalam meter, kilometer, feet atau mil.

 

  • Delineasi batas tanah (Soil delineation)

adalah daerah yang dibatasi oleh suatu batas tanah pada suatu peta.

 

  • Poligon Satuan Peta (Map unit)

Poligon berasal dari kata polygon yang berarti poly : banyak dan gon(gone) : titik. Yang kita maksud disini adalah poligon yang digunakan sebagai kerangka dasar pemetaan yang memiliki titik titik dimana titik tersebut mempunyai sebuah koordinat X dan Y koordinat dan proyeksi peta yang tidak terlepas akan pengukuran dan penghitungan poligon.

Jenis Poligon

  1. Poligon tertutup
  2. Poligon tertutup (koordinat lokal)
  3. Poligon terbuka tidak terikat / lepas (koordinat lokal)
  4. Poligon terbuka tidak terikat sempurna
  5. Poligon terbuka terikat sempurna
  • Satuan Peta

adalah satuan lahan yang sistem fisiografi/bentuk-lahannya sama, yang dibedakan satu sama lain di lapangan oleh batas-batas alami, dan dapat digunakan sebagai satuan evaluasi lahan.

  • Satuan Peta Tanah

yaitu dimana kelompok lahan atau tanah yang memiliki karakteristik yang sama.

  • Legenda

merupakan penjelasan simbol-simbol yang terdapat pada sebuah peta.

  • Foto udara

yaitu dimana pengambilan gambar atau foto melalui udara atau angkasa dengan menggunakan alat satelit.

  • Stereoskop

merupakan alat untuk mengamati peta tanah secara tiga dimensi atas foto udara yang bertampalan.

2.   Buat halaman yang berisi resume bahan kajian kuliah minggu pertama, yang berisi penjelasan (definisi dan penjelasannya) .

Pada pertemuan pertama matakuliah STELA, diisi dengan pengenalan dan pembahasan kontrak kuliah dan sedikit mengenai materi  survei tanah dan evaluasi lahan. Kuliah ini adalah kegiatan survei di lapang yang nantinya akan dikemas dalam 3 fieldtrip yang mempunyai tujuan yang berbeda. Selain itu, berbagai tugas yang akan diberikan oleh dosen kuliah, dosen praktikum dan asisten juga dijelaskan pada pertemuan ini.

Categories: Uncategorized | Leave a comment

Tugas Kuliah STELA M-05

Anggota Kelompok :
1. Safarudin Slamet Riady (115040200111169)

2. Rurin Eka Asgianingrum (115040200111172)

3. Serlly Hardianita ( 115040200111186)

4.  Safitri Dwi Rahmawati (115040201111337)

 

  1. a. Perbedaan pendekatan analitik dan pendekatan sintetik !

Pendekatan sintetik : dilakukan pengamatan lapang telebih dahulu, kemudian mengelompokkan berdasarkan kisaran sifat-sifat tertentu

Pendekatan analitik : dilakukan pengelompokan terlebih dahulu, kemudian melakukan survei lapang, yang didasarkan dari landform, vegetasi, dantanah permukaan.

Persamaan pendekatan sintetik dan pendekatan analitik !

Pada pendekatan sintetik maupun analitik, keduanya sama-sama mengikuti petinjuk eksternal yang mengarahkan di manan batas-batas antara tanah-tanah yang berbeda akan terjadi.

b. Contoh pendekatan analitik dan sintetik !

Pendekatan sintetik : Metode Grid

Pendekatan analitik : Metode sistem fisiografi dengan bantuan interpretasi foto udara

2. Yang harus dilakukan saat ingin menggunakan metode survei dengan pendekatan analitik, adalah :

a. Lansekap dibagi dibagi ke dalam tubuh tanah “alami”, berdasarkan karakteristik eksternal seperti landform, vegetasi dan tanah permukaan.

b. Penentuan karakteristik tanah pada masing-masing satuan tersebut melalui pengamatan dan pengambilan contoh tanah.

3. Lihat pada peta landform Pujon dan sekitanya di bawah. Gambaran relief wilayah tersebut disajikan pada peta di bawahnya (peta relief).

Landform Pujon relief Pujon

 

peta landform Pujon                                                                 Peta relief Pujon

  1. Diskusikan apakah pendekatan yang akan dipakai, jelaskan alasannya.

Pendekatan yang akan dilakukan oleh kelompok kami, adalah dengan pendekatan analitik. Karena kami belum mengetahui detail mengenai titik-titik yang ada pada peta landform tersebut. Maka agar lebih mudah saat pengelompokan taksa-taksa tanah, terlebih dahulu melakukan pengamatan lapang (survei).

Jika akan melakukan survei tanah pada skala 1:25.000 plot pengamatan Saudara jika:

  • menggunakan grid kaku

Dalam metode grid kaku, jarak pengamatan dibuat secara teratur pada jarak tertentu untuk menghasilkan jalur segiempat seluruh daerah survey. Pengamatan tanah dilakukan dengan pola teratur, jarak pengamatan tergantung dari skala peta. Pada peta semi detail ( 1 : 25.000 ) dengan luas lahan 4.600 ha dan jumlah titik yang ideal adalah 184 titik, maka luas tiap 1 cmpada peta mewakili 25 ha di lahan sebenarnya.

  • menggunakan grid bebas

Dalam metode grid bebas, jarak pengamatan tidak perlu sama dalam dua arah, namun tergantung pada fisiografi daerah survey. Jika terjadi perubahan fisiografi yang menyolok dalam jarak dekat, perlu pengamatan lebih rapat, sedangkan landform relatif seragam maka jarak pengamatan dapat dilakukan berjauhan, dengan demikian dapat disimpulkan  Kerapatan pengmatan disesuaikan dengan kebutuhan skala survei serta tingkat kerumitan pola tanah di lapangan. Metode ini biasanya dilaksanakan pada skala 1:12.500 sampai dengan 1: 25.000. Pelaksanaan survei ini diiawali dengan analisis fisiografi melalaui interpretasi foto udara secara detail.

  • menggunakan pendekatan fisiografis dengan menggunakan key area dan transek

 

Categories: Uncategorized | Leave a comment

Tugas STELA Minggu ke-2 27 Februari 2013

TUGAS KULIAH MINGGU KE 2

Anggota Kelompok :
1. Safarudin Slamet Riady (115040200111169)

2. Rurin Eka Asgianingrum (115040200111172)

3. Serlly Hardianita ( 115040200111186)

4.  Safitri Dwi Rahmawati (115040201111337)

1.        Tanah sbg suatu individu, berbeda dg dunia hayati, yg setiap individunya punya ciri tersendiri. Tiap spesies punya kisaran sifat yg sempit, shg mudah dibedakan 1 dg lainnya. Jelaskan !

Tanah memiliki cakupan arti yang berbeda, namun secara umum tanah dapat dinyatakan sebagai medai tumbuh tanaman. Tanah disebut memiliki ciri tersendiri karena sebagai suatu individu memiliki batas-batasnya, baik sebagai suatu transisi maupun sebagai intergrades. Di dunia ini terdapat berbagai macam jenis tanah, yang mana setiap masing-masing individu tanah memiliki karekteristik/ sifat yang berbeda. Tetapi perbedaan dari sifat-sifat tersebut relatif sempit antara tanah yang satu dengan yang lainnya. Dalam menentukan jenis suatu tanah tidak terlepas dari sifat fisik, kimia, dan keadaan biologi dari suatu tanah tersebut.

2.        Jelaskan definisi TANAH. Pasir pantai apakah termasuk dlm definisi tanah? Mengapa?

Tanah menurut Arsyad (1989) memilki 3 pengertian, yaitu :

  1. Tanah sebagai media tumbuh tanaman, yang artinya lebih ditekankan pada kualitas tanah
  2. Tanah sebagai benda alami tiga dimensi di permukaan bumi yang terbentuk dari interaksi antara bahan induk, iklim, organisme, topografi dalam kurun waktu tertentu, yang artinya tanah diperlakukan sebagai bahan galian atau tambang dan bahan bangunan yang dinyatakan dalam berta (ton, kg) atau volume (m3)
  3. Tanah sebagai ruangan atau tempat dipermukaan bumi yang digunakan oleh manusia untuk melakukan segala aktivitasnya, yang artinya tanah dinilai berdasarkan luas (ha, m2)

Pasir belum termasuk dalam definisi tanah, karena pembentukan pasir bukan terjadi karena 5 faktor yang membentuk tanah melainkan karena pengaruh arus pantai atau gelombang pantai itu sendiri.

3.        Jelaskan apa yg dimaksud dlm Gambar 2 ? continuum, soilscape, polypedon dll

Untitled4

  • - Kontinum merupakan proses pertukaran dalam kesinambungan interaksi antar komponen tanah dan kelangsungan segala reaksi tanah.
  • - Soil scape merupakan gabungan dari beberapa polypedon yang mempunyai sifat berbeda antara sifat polypedon yang satu dengan polypedon yang lainnya.
  • - Polypedon merupakan gabungan atau kumpulan dari  pedon – pedon yang mempunyai sifat hampir sama atau sama.
  • - Pedon adalah Tubuh tiga dimensi dari tanah dengan dimensi – dimensi lateral, Pedon biasanya mempunyai luas antara 1 hingga 10 meter. Dimana horizon – horizon terputus atau siklik.
  • - Soil Profil merupakan Penampang vertikal tanah yang ditempati horizon – horizon dan dibawahnya terdapat bahan induk.

-       Soil Agregat merupakan Agregat tanah merupakan gumpalan tanah yang tidak mempunyai bentuk yang jells. Berbeda dengan struktur tanah yang mempunyai bentuk yang jelas.

4.   Tanah sbg satuan 3-D, perlu disajikan dg cara ‘multifactorial‘ dlm btk peta tanah. 2-D digambarkan pd peta tanah, sedangkan dimensi vertikal + sifat2 internalnya, disajikan dlm legenda peta. Maksudnya apa?

Tanah memiliki sebaran taksa tanah dalam hubungannya dengan kenampakan fisik dan budaya dari permukaan bumi, maka harus disajikan dalam bentuk 3-D untuk memberikan gamabaran yang jelas. Dalam suatu peta tanah, bentuk fisik tanah disajikan dalam bentuk 2 dimensi sesuai keadaan topografinya dan perbandingan luasan berdasar skala. Kemudian, untuk faktor-faktor pendukung mengenai keadaan tanah atau sifat internal dari tanah itu sendiri biasanya disajikan dalam legenda, karena cakupan materi yang dijelaskan cukup banyak dan biasanya dapat diwakilkan dalam bentuk simbol.

5.  Jelaskan pengertian Peta tanah. Untuk membuat peta tanah, peta apa saja yg diperlukan sbg dasar/ penunjang? Mengapa?

Peta tanah adalah peta yang dibuat untuk memperlihatkan sebaran taksa tanah dalam hubungannya dengan kenampakan fisik dan budaya dari permukaan bumi.

Yang perlu digunakan sebagai penunjang pembuatan peta tanah, yang pertama adalah peta dasar yang meliputi peta vegetasi/penggunaan lahan, peta iklim, dan umumnya juga digunakan peta topografi. Di Indonesia sebagaian besar instansi masih menggunakan peta topografi sebagai peta dasar. Digunakan peta topografi sebagai dasar karena apabila akan membuat suatu peta tanah, harus mengetahui keadaan nyata dari suatu objek wilayah secara 3 dimensi terlebih dahulu. Apabila keadaan topografi suatu wilayah berbeda, maka keadaan atau kondisi suatu tanah juga akan berbeda. Bentuk suatu muka bumi (topografi) berbeda-beda antara tempat yang satu dengan tempat yang lain, begitu pula keadaan tanahnya. Oleh karena itu diperlukan peta topografi sebagai dasar apabila membuat suatu peta tanah. Peta topografi dapat diperoleh melalui foto udara (skala besar) dan citra satelit (skala kecil).

6.  Apa yg dimaksud dg Poligon di dlm peta tanah? Bagaimana membuatnya?

Poligon adalah penggambaran batas (delineasi) tanah-tanah yang dijumpai di lapangan yang berupa garis-garis.

Cara pembuatan poligon, ada dua yaitu :

1.      Pengukuran Polyangon Terbuka Bebas

1) Siapkan catatan, daftar pengukuran dan buat sket lokasi areal yang akan diukur.

2) Tentukan dan tancapkan patok pada titik-titik yang akan dibidik

3) Dirikan pesawat di atas titik P1dan lakukan penyetelan alat sampai didapat kedataran.

4) Arahkan pesawat ke arah utara dan nolkan piringan sudut horisontal dan kunci kembali dengan memutar skrup piringan bawah.

5) Putar teropong dan arahkan teropong pesawat ke titik P2, baca dan catat sudut horisontalnya yang sekaligus sebagai sudut azimuth.

Bacaan ini merupakan bacaan biasa untuk bacaan muka.

6) Dengan posisi pesawat tetap di atas titik P1, putar pesawat 180° searah jarum jam, kemudian putar teropong  180° arah vertikal dan arahkan teropong ke titik P2.

7) Lakukan pembacaan sudut horizontal.

Bacaan ini merupakan bacaan luar biasa untuk bacaan muka.

8) Pindah pesawat ke titik P2 dan lakukan penyetelan alat.

9) Arahkan pesawat ke titik P3, baca dan catat sudut horisontalnya (bacaan biasa untuk bacaan muka).

10) Lakukan pembacaan sudut luar biasa pada titik P2.

11) Putar teropong pesawat searah jarum jam dan arahkan ke titi P1. Baca dan catat sudut horisontalnya, baik bacan biasa maupun luar biasa.

12) Dengan cara yang sama, lakukan pada titik-titik polyangon berikutnya sampai P akhir.

13) Lakukan pengukuran jarak antar titik dengan meteran.

14) Lakukan perhitungan sudut pengambilan b, sudut azimuth dan koordinat masing-masing titik.

15) Gambar hasil pengukuran dan perhitungan.

2.      Pengukuran Polyangon Tertutup

1) Siapkan catatan , daftar pengukuran dan buat sket lokasi areal yang akan diukur.

2)  Tentukan dan tancapkan patok pada titik-titik yang akan dibidik

3)  Dirikan pesawat di atas titik P1dan lakukan penyetelan alat sampai didapat kedataran.

4)  Arahkan pesawat ke arah utara dan nolkan piringan sudut horisontal dan kunci kembali dengan memutar skrup piringan bawah.

5) Putar teropong dan arahkan teropong pesawat ke titik P2, baca dan catat sudut horisontalnya yang sekaligus sebagai sudut azimuth.

Bacaan ini merupakan bacaan yang biasa untuk bacaan muka.

6) Dengan posisi pesawat tetap di atas titik P1, putar pesawat 180° searah jarum jam, kemudian putar teropong  180° arah vertikal dan arahkan teropong ke titik P2.

7) Lakukan pembacaan sudut horisontal.

Bacaan ini merupakan bacaan yang luar biasa untuk bacaan muka.

8) Putar teropong pesawat dan arahkan di titik P akhir dan lakukan pembacaan sudut horisontal pada bacaan biasa dan luar biasa.

Bacaan ini merupakan bacaan belakang

9) Dengan cara yang sama, lakukan pada titik-titik polyangon berikutnya hingga kembali ke titik P1.

10)  Lakukan pengukuran jarak antar titik dengan meteran.

11)  Lakukan perhitungan sudut pengambilan b, sudut azimuth dan koordinat masing-masing titik.

12)  Gambar hasil pengukuran dan perhitungan

7.   Apa yang dimaksud dengan taksa tanah ?

Taksa tanah merupakan satuan yang diperoleh dari menentukan suatu selang sifat tertentu dari sifat–sifat tanah yang didefinisikan oleh suatu sistem klasifikasi tanah. Hal ini berhubungan dengan peta tanah karena soil taxonomy bisa digunakan untuk satuan sistem klasifikasi tanah , masing – masing diwakili oleh suatu profil tanah. Peta tanah dapat semakin terlihat jelas dan detai dengan soil taxonomy.

8. Dalam legenda Peta Tanah terdapat istilah konsosiasi, asosiasi atau kompleks. Jelaskan. Beri ilustrasi dengan gambar, shg perbedaan ketiganya jelas !

Untitled6

  • Konsosiasi

Satuan pemetaan tanah konsosiasi didominasi oleh satuan tanah dan tanah yang serupa  (similiar soil unit). Dalam konsosiasi paling tidak memmpunyai 50% satu satuan tanah yang sama dan 25% satuan tanah yang serupa. SPT konsosiasi diberinama sesuai dengan satuan tanah yang dominan. Satuan tanah lain yang tidak sejenis dan serupa maksimal  mempunyai persentase 25%. Dua satuan tanah dikatakan sebagai tanah yang serupa apabila mereka hanya berbeda pada satu atau duua kriteria yang menyebabkan keduanya diklasifikasikan kedalam kelompok yanng berbeda. Secara umum satuan satuan tanah yanng serupa mempunyai potensi yang hampir sama. Sedangkan dua satuan tanah dikatakan tidak serupa apabila keduanya mempunyai perbedaan yang tegas dan lebih dari tiga kriteria yang meenyebabkan keduanya diklasifikasikan ke dalam kelompok yang berbeda. Satuan-satuan tanah  yang tidak serupa mempunyai potensi terhadap penggunaan tertentu yang berbeda secara tegas.

  • Asosiasi

SPT jenis ini mengandung dua atau lebih satuan tanah yang tidak serupa yang digunakan dalam pennamaan SPT dan mempunyai komposisi yang hampir sama. Satuan-satuan tanah penyusun SPT ini tidak dapat dipisahkkan satu sama lain kedalam  SPT SPT yang berbeda karena keterbatasan skala pemetaan. SPT asosiasi dalam skala pemetaan yang lebih besar dapat dipisahkan kedalam SPT-SPT konsosiasi yang berbeda.

  • Kompleks

SPT ini mirip dengan SPT asosiasi karena terdapat dua atau lebih satuan-satuan tanah yang tidak serupa yang digunakan dalam penamaan SPT, demikian juga komposisi masing-masing satuan tanahnya serupa dengan SPT asosiasi. Persebaran satuan tanah yang ada pada SPT ini tidak mengikuti pola tertentu sehingga dalam skala pemetaan yang lebih besar, satuan-satuan tanah yang menyusunnya tetap tidak dapat dipisahkan satu sama lain.

9. Beri contoh single value map. Cari di internet. Mengapa peta tsb dikatakan bukan peta tanah?.

Untitled5

Peta kedalamann tanah termasuk bukan dalam  jenis peta tanah, karena peta diatas tidak menunjukkan taksa tanah maupun garis-garis batas tanah yang dijumpai di lapangan.

10. Apa yg dijelaskan dalam Gambar ini?

Untitled8

Rigid survey :

Gambar diatas menunjukkan lokasi titik observasi menggunakan metode Grid Kaku (Rigid Grid). Penentuan batas tanah ini diterapkan pada survey tanah detil sampai dengan sangat detil, dimana tidak tersedia foto udara. Kalaupun foto udaranya tersedia, mungkin :

-          Skalanya terlalu kecil

-          Mutunya sangat rendah

-          Daerah yang disurvey tertutup awan atau kabut

-          Kenampakan permukaan tidak jelas atau daerahnya sangat homogeny dan datar

-          Daerah yang disurey tertutup vegetasi yang rapat dan lebat

-          Daerah survey berrawa, padang rumput atau savana yang tidak menampakkan gejala permukaan.

Adapted Grid Survey :

Gambar diatas menunjukkan lokasi titik observasi menggunakan metode Grid bebas (adapted grid survey). Metode ini merupakan perpaduan antara metode grid kaku dengan metode fisiografi. Metode ini dilakukan pada survey detil sampai dengan semi detil yang kemampuan foto udara dianggap terbatas dan di tempat-tempat yang orientasi lapangan cukup sulit.

Pengamatan lapangan dilakukan pada titik-titik seperti grid kaku, tetapi jarak titik-titik pengamatan tidak perlu sama dalam 2 arah, tetapi tergantung keadaan fisiografi. Jika terjadi perubahan fisiografi yang menyolok dalam jarak dekat, maka jarak titik-titik pada pengamatan adalah rapat. Sebaliknya jika bentuk lahan relative seragam, maka jarak titik-titik pada pengamatan adalah renggang. Metode ini sangat baik diterapkan oleh penyurvey yang belum banyak berpengalaman dalam interpretasi foto udara.

Physiographic Survey :

Gambar diatas menunjukkan lokasi titik observasi menggunakan metode Fisiografik (bantuan foto udara). Metode ini sangat efektif pada survey tanah berskala < 1 : 25.000, dan tersedia foto udara berkualitas cukup tinggi. Hampir semua batas satuan peta diperoleh dari IFU, sedangkan kegiatan lapangan hanya untuk mengecek batas satuan peta dan mengidentifikasi sifat dan cirri tanah masing-masing satuan peta. Pengamatan dilakukan pada tempat-tempat tertentu pada masing-masing satuan peta.

Pada penentuan batas tanah menggunakan metode fisiografik, jumlah pengamatan pada tiap-tiap satuan peta tergantung pada :

-          Ketelitian IFU, keahlian dan kemampuan penyurvey dalam memahami hubungan fisiografi dan keadaan tanah

-          Kerumitan (kompleks atau tidaknya) satuan peta tersebut. Semakin rumit, maka semakin banyak luasan satuan peta. Semakin luas, maka jumlah pengamatan yang dilakukan juga semakin banyak.

 11.  Sebutkan berbagai macam peta tanah berdasarkan skala peta yg digunakan di Indonesia. Bandingkan nama peta-peta tsb dg nama yg digunakan di Amerika, Kanada, Inggeris dan negara lainnya. àCari dr internet

1. Peta Tanah bagan, peta ini dibuat sebagai hasil komplikasi dan generalisasi peta-peta tanah eksplorasi atau peta tanah tinjau.skala petanya sama atau lebih kecil dari 1:2.500.000

2. Peta tanah eksplorasi, peta ini menyajikan keterangan yang sangat umum tentang keadaan tanah dari suatu daerah.Peta ini dibuat dengan survey yang biasanya menggunakan helicopter di wilayah yang dianggap memiliki perbedaan jenis tanahnya. Skala peta bervariasi dari 1:500.000 hingga 1:500.000

3. Peta tanah tinjau(peta tanah ruang), satuan peta yang dibuat daidasarkan atas satuan lahan atau satuan tanah –bentuk lahan atau sistem lahan yang didelineasi melalui interpretasi foto udara dan atau citra satelit. Skala petanya 1:250.000

4. Peta tanah semi-detail, peta ini umumnya dibuat dengan skala 1:50.000 dengan intensitas pengamatan 1 untuk setiap 50 hektar, tergantung dari kerumitan bentang lahan.

5. Peta tanah detail, peta ini biasanya dibuat dengan skala 1:25.000 dan 1:10.000 serta ditujukan untuk mempersiapkan pelaksanaan suatu proyek termasuk proyek konservasi tanah. (misalnya:teknik-teknik konservasi yang bisa dan cocok diterapkan pada masing-masing satuan peta atau pada suatu demplot).

6. Peta tanah sangat detail, mempunyai skala > 1:10.000 pengamatannya 2 atau lebih untuk setiap hektarnya.

Peta tanah berdasarkan skala peta di Kanada oleh Coen (1987) :

H I

12.  Apa yg dimaksud dengan luas minimum yg masih dapat disajikan pada peta?. Mengapa perlu ada batasan tsb?

Luas minimum yang dapat disajikan pada peta adalah suatu luasan terkcil yang masih dapat digambarkan pada peta. Pada dasarnya ukuran tersebut merupakan parameter kartografi, karena setiap polygon pada suatu peta harus tertulis simbol satuan petanya. Simbol tersebut harus tertulis dengan ukuran tertentu, sehingga masih dapat dibaca. Batasan ukuran polygon minimal adalah 0,4 cm(untuk yang bebentuk bulat), sedangkan untuk polygon bebentuk memanjang dan sempit harus lebih besar (dari aspek luasannya) agar dapat memuat simbol satuan peta.

Perlu ada batasan, karena untuk mengetahui batas antara tanah dan udara, air dangkal, tumbuhan hidup atau bahan-bahan tumbuhan yang belum mulai melapuk. Satuan – satuan yang di hasilkan umumnya berupa tubuh lahan yang memiliki cirri-ciri tertentu yang dibedakan oleh batas-batas alami suatu batas tanah pada suatu peta.

13.  Untuk peta tanah di Indonesia, berapa satuan luas tsb? Masing2 kelompok agar menghitung berapa luasnya di lapangan pd skala yg berbeda.

 14. Kerjakan soal berikut :

3

 

dengan catatan yang ada pada gambar diatas, maka metode yang bisa saya lakukan adalah metode Grid Kaku. Karena jika dilihat, skala yang digunakan adalah skala kecil, dan berdasarkan penjelasan pada jawaban soal sebelumnya, bahwa penggunaan metode Grid Kaku ini digunakan jika daerah yang disurvei tertutup vegetasi yang tebal dan rapat.

Categories: Uncategorized | Leave a comment

TUGAS MATAKULIAH STELA 20 Februari 2013

TUGAS PERSIAPAN KULIAH KE 1

1. Peta skala besar dan skala kecil?

Peta skala besar adalah penggunaan angka pada peta yang mengunakan perbandingan yang semakin kecil, dan semakin banyak jumlah dan macam pengamatan yang dilakukan per satuan luasan tertentu.

Peta skala kecil penggunaan angka pada peta yang mengunakan perbandingan yang semakin besar, dan semakin sedikit  jumlah dan macam pengamatan yang dilakukan per satuan luasan tertentu.

-  Beri Contoh masing2

Skala besar : 1 : 5000 – 1 : 250.000 (Peta Kota Malang)

Skala kecil : 1 : 500.000 – 1 : 1.000.000 (Peta Provinsi Jawa Timur)

- Apa saja yg berbeda?

Perbedaan yg akan ditemukan pada skala besar dan akala kecil adalah perbandingan angkanya, jumlah pengamatan, dan macam pengamatan. Juga belokan dan lekukan dan lebar sungai, serta anak sungai sangat jelas tergambar pada peta skala besar.

2. Survei Tanah Bertujuan UMUM dan KHUSUS?

-  Beri Contoh masing2

Contoh Survei tanah bertujuan umum : meliputi pembuatan peta pedologi yang menyajikan sebaran satuan-satuan tanah yang ditentukan menurut morfologi serta data sifat fisik, kimia, dan biologi.

Contoh Survei anah bertujuan khusus : survei yang dirancang untuk perkebunan sawit, sehingga tidak dapat digunakan sebagai dasar untuk merencanakan tujuan lain, misalnya untuk perkebunan teh atau sawah irigasi.

-  Apa kelebihan dan kekurangan masing2

Kelebihan Survei tanah bertujuan umum : berisikan evaluasi lahan yang tidak hanya mencakup berdasarkan karakteristik satuan tanah saja, melainkan juga berdasarkan faktor-faktor fisik, ekonomi dari sosial lainnya yang berkaitan.

Kelebihan Survei tanah yang bertujuan khusus : memiliki isian evaluasi lahan yang lebih khusus dan lebih fokus pada lahan yang sedang di evaluasi . Dan dengan survei tanah bertujuan khusus ini dapat memudahkan penyurvei dalam mengembangkan lahan tersebut.

Kekurangan Survei tanah bertujuan umum : belum bisa menyatakan secara terfokus mengenai fungsi atau guna lahan yang sedang di survei. Read more »

Categories: Uncategorized | Leave a comment

Hello world!

Selamat datang di Student Blogs. Ini adalah posting pertamaku!

Categories: Uncategorized | 1 Comment