Blog Archives

Hayam Wuruk (1334-1389)


Rajapatni (Gayatri) wafat pada tahun 1350. Setelah ibundanya wafat, Ratu Tribuwanatunggadewi menyerahkan tahta Majapahit kepada putranya, Hayam Wuruk. Ketika naik tahta Hayam Wuruk  baru berusia 16 tahun.

Setelah naik tahta Hayam Wuruk bergelar Sri Rajasanegara. Pada masa pemerintahan Hayam Wuruk, Majapahit mengalami zaman keemasan. Hayam Wuruk didampingi oleh Patih Gajah Mada. Hayam Wuruk menjadi raja Majapahit yang paling besar. Gajah Mada meneruskan cita-citanya. Satu per satu kerajaan di Nusantara dapat ditaklukkan di bawah Majapahit. Wilayah kerajaannya meliputi hampir seluruh wilayah Nusantara sekarang, ditambah Tumasik (Singapura) dan Semenanjung Melayu.

Pada masa ini, Majapahit menjalin hubungan dengan kerajaan-kerajaan di daerah daratan Asia Tenggara seperti India, Muangthai, Kamboja, dan Cina. Dengan kemajuan hubungan itu, perdagangan dan pelayaran kerajaan Majapahit semakin maju. Bandar-bandar Majapahit, seperti Ujung Galuh, Tuban, Gresik, dan Pasuruan ramai dikunjungi oleh pedagang-pedagang dari Cina, India, dan Persia.

Selain berkembang menjadi kerajaan maritim yang besar, Majapahit juga menjadi kerajaan agraris yang maju. Hayam Wuruk membangun waduk dan saluran irigasi untuk mengairi lahan pertanian. Beberapa jalan dan jembatan penyeberangan juga dibangun untuk mempermudah lalu lintas antardaerah. Hasil pertanian Majapahit antara lain beras, rempah-rempah, kapas, sutera, dan hasil-hasil perkebunan.

Hayam Wuruk juga memperhatikan kegiatan kebudayaan. Hal ini terbukti dengan banyaknya candi yang didirikan dan kemajuan dalam bidang sastra. Candi-candi peninggalan Majapahit, antara lain Candi Sawentar, Candi Sumberjati, Candi Surawana, Candi Tikus, dan Candi Jabung. Karya sastra yang terkenal pada masa Kerajaan Majapahit ialah Kitab Negara-kertagama karangan Empu Prapanca dan Kitab Sutasoma karangan Empu Tantular. Dalam kitab Negarakertagama terdapat istilah Pancasila. Sedangkan di dalam Sutasoma terdapat istilah Bhinneka Tunggal Ika.

Category: Sejarah

TAG , ,

Tribuwanatunggadewi

3

Jayanegara memerintah sampai tahun 1328. Beliau wafat tanpa meninggalkan putra. Seharusnya, Jayanegara digantikan oleh Rajapatni (Gayatri). Namun, karena Rajapatni hidup membiara, pemerintahan diserahkan pada putrinya, Sri Gitarja.

Ketika menjadi ratu, Sri Gitarja bergelar  Tribuwanatunggadewi Jayawisnuwardhani.  Pada masa itu terjadi pemberontakan Sadeng. Gajah Mada diangkat menjadi pejabat perdana menteri (maha patih) Majapahit menggantikan Arya Tadah yang sedang sakit. Gajah Mada ditugasi memimpin penumpasan pemberontakan Sadeng.

Gajah Mada berhasil melaksanakan tugas itu. Beliau diangkat menjadi maha patih. Saat dilantik, Gajah Mada meng-
ucapkan Sumpah Palapa. Dalam sumpah itu tersirat cita-cita Gajah Mada
mempersatukan Nusantara.

Adapun  Bunyi sumpah yang diucapkan Gajah Mada sebagai berikut:
“Sira Gajah Mada pepatih amugkubumi tan ayun amukita palapa, sira Gajah Mada, lamun huwus kalah nusantara ingsun amukti palapa, lamun kalah ring Gurun, ring Seram, Tanjungpura, ring Haru, ring Pahang, Dompo, ring Bali,
Sunda, Palembang, Tumasik, samana ingsun amukti palapa. (Sumber:
Ensiklopedi Umum untuk Pelajar 3).11

Yang dimaksud dengan Nusantara ketika itu adalah Hasta Dwipa Nusantara (delapan pulau), yaitu Malaka, Sumatra, Jawa, Madura, Kalimantan, Sulawesi, Sunda Kecil (Nusa Tenggara), Maluku, dan Irian (Gurun).

Untuk mewujudkan cita-cita itu, Gajah Mada membangun armada laut. Karena memiliki angkatan laut yang kuat, Kerajaan Majapahit dikenal sebagai  kerajaan maritim. Pimpinan armada laut dipercayakan kepada Empu Nala. Dengan armada yang kuat, Majapahit berhasil menaklukkan Dompo pada tahun 1340 dan Bali pada tahun 1343.

Category: Sejarah

TAG , ,

Kalagemet / Jayanegara


Raden Wijaya digantikan oleh puteranya,  Kalagemet.  Kalagemet adalah putra Raden Wijaya dan putri Melayu, Dara Petak. Setelah menjadi raja, Kalagemet bergelar Sri Jayanegara. Pada saat Jayanegara menjadi raja, sering terjadi pemberontakan, antara lain pemberontakan Ranggalawe, Sora, Nambi, dan Kuti.

Pemberontakan Kuti sangat berbahaya. Akibat pemberontakan itu, Jayanegara melarikan diri ke Badander. Jayanegara dikawal oleh pasukan Bayangkari yang dipimpin oleh Gajah Mada. Berkat pengawalan pasukan Bayangkari, raja selamat dari pemberontakan Kuti. Berkat bantuan Gajah Mada, Jayanegara dapat merebut kembali tahta Majapahit. Atas jasanya,
Gajah Mada diangkat menjadi Patih di Kahuripan. Dua tahun kemudian, Gajah Mada diangkat menjadi patih di Daha.

Category: Sejarah

TAG ,

Penyebab Runtuhnya kerajaan Sriwijaya

1

Kerajaan Sriwijaya mengalami puncak kejayaan pada tahun 850 M. Masa kejayaan berlangsung selama pemerintahan Raja Balaputradewa, di mana rakyat hidup tenteram dan makmur. Namun, Kejayaan Sriwijaya mulai surut pada abad ke-11 karena faktor-faktor berikut ini.

a. Setelah Balaputradewa wafat, tidak ada lagi raja yang cakap memerintah.
b. Letak Palembang yang jauh dari laut membuat kapal-kapal tidak mau singgah dan mencari tempat lain untuk berlabuh.
c. Banyak wilayah bawahan yang melepaskan diri, misalnya Jawa Tengah dan Melayu.
d. Serangan dari kerajaan lain, seperti dari Kerajaan Colamandala, India Selatan (1017 M); ekspedisi Pamalayu dari Kerajaan Singasari (1275 M), dan serangan Majapahit (1377 M).

Nah, setelah berdirinya kerajaan Majapahit di Jawa Timur, Kerajaan Sriwijaya sekitar tahun 1377 M tenggelam dan tidak berkuasa lagi. Hal ini berarti berakhir pula riwayat kerajaan bercorak Buddha tertua di Indonesia ini.

Category: Sejarah

TAG ,

Kerajaan Sriwijaya


Kerajaan Buddha terbesar di Asia Tenggara adalah Sriwijaya. Kerajaan Sriwijaya berdiri pada abad ke-7 di Palembang, Sumatra Selatan. Bukti-bukti  yang menunjukkan adanya Kerajaan Sriwijaya ditunjukkan oleh prasasti-prasasti yang
ditulis huruf Pallawa dan bahasa Melayu Kuno berikut ini.
1. Prasasti Kedukan Bukit (683 M) di Palembang.
2. Prasasti Talang Tuo (684 M) di Palembang.
3. Prasasti Telaga Batu (tanpa tahun) di Palembang.
4. Prasasti Kota Kapur ( 686 M) di Pulau Bangka.
5. Prasasti Karang Berahi (686 M) di Jambi.
6. Prasasti Palas Pasemah (abad ke-7 M) di Lampung Selatan.

Candi Mendut dan candi Pawon


Candi Mendut dan candi Pawon terletak tidak jauh dari candi Borobudur. Kedua candi ini bercorak Buddha dan merupakan candi tiga serangkai dengan candi Borobudur. Ketiga candi ini terletak pada satu garis lurus, hal ini sengaja dilakukan berdasarkan ajaran Buddha Mahayana. Menurut ajaran agama Buddha Mahayana, untuk mencapai tujuan terakhir (moksa),yaitu mencapai kedudukan sebagai Buddha harus melalui jalan secara bertahap. Tahap-tahap tersebut terdiri atas dua bagian yaitu Dasyabodhisatwabhumi disebut tingkat lokattara (tingkat di atas dunia), sebelum sampai ke tingkat lokattara lebih dahulu harus menjalani tingkat persiapan.
Tingkat persiapan tersebut terdiri atas dua tahap pula, yaitu Sambharamarga dan Prayogamarga. Kedua tahap ini merupakan tahap kehidupan di dunia atau laukika. Jadi dari paham tersebut dapat diterangkan bahwa candi Borobudur yang bersifat lokattara dibangun di atas bukit, sedangkan candi Mendut dan candi Pawon yang bersifat laukika dan masing masing menggambarkan Sambharamarga dan Prayogamarga dibangun di atas permukaan bumi (daerah pedataran).

Category: Sejarah

TAG , ,

Candi di Jawa Tengah dan Yogyakarta


Di Jawa Tengah dan Yogyakarta banyak ditemukan candi, baik yang bercorak Hindu maupun Buddha, di antaranya sebagai berikut.
a. Candi Borobudur terletak di desa Budur, Magelang. Candi ini bercorak Buddha dan didirikan oleh keluarga Syailendra pada aman Mataram Lama. Bentuk candi Borobudur yang berupa punden berundak-undak menggambarkan adanya akulturasi antara budaya India dengan budaya asli Indonesia dari aman megalithikum. Berdasarkan ajaran Buddha Mahayana, candi Borobudur merupakan Dasya-bodhisatwa-bhumi, artinya tempat mencapai kebuddhaan melalui sepuluh tingkat bodhisatwa. Borobudur terdiri atas sepuluh tingkat yang terbagi dalam tiga bagian yaitu kamadhatu (merupakan tingkatan paling rendah atau disebut kaki candi, pada tingkatan manusia masih terpengaruh oleh keduniawian), Rupadhatu (merupakan bagian lorong-lorong dengan dinding-dinding yang penuh dengan hiasan dan relief, pada tingkat ini manusia masih terikat pada bentuk keduniawian, tetapi telah insyaf untuk mencari kebenaran), A-rupadhatu (bagian ini terdiri atas lantai yang bulat, di sini terdapat 72 stupa dan stupa induk dipuncaknya yang sekaligus merupakan mahkota candi Borobudur. Hal ini menggambarkan manusia telah dapat membebaskan diri sama sekali dari nafsu keduniawian dan hanya satu keinginan, yaitu mencapai moksa).

Category: Sejarah

TAG , , ,


Munculnya kerajaan-kerajaan yang bercorak Hindu-Buddha di Indonesia tidak terlepas dari pengaruh persentuhan kebudayaan antara daerah Nusantara dengan India sebagai tempat kelahiran kedua agama tersebut. Persentuhan kebudayaan ini terjadi sebagai salah satu akibat dari hubungan yang dilakukan antara orang-orang India dengan orang-orang yang ada di Nusantara, terutama karena daerah Nusantara merupakan jalur perdagangan strategis yang menghubungkan antara India dan Cina.

Hubungan perdagangan yang semakin lama semakin intensif menimbulkan pengaruh terhadap masuknya pengaruhpengaruh kebudayaan India di Nusantara. Dengan kata lain, terjadi proses akulturasi antara kebudayaan India dengan kebudayaan Nusantara. Demikian juga dengan agama Hindu-Buddha menjadi agama yang dianut oleh penduduk di Nusantara dan menjadi pendorong muncul dan berkembangnya negaranegara kerajaan yang bercorak Hindu-Buddha di Indonesia.

Category: Sejarah

TAG , ,