Archive for the ‘ Marketing ’ Category

KATEGORI PRODUK

Produk adalah segala sesuatu yang dapat ditawarkan ke pasar untuk memuaskan keinginan atau kebutuhan.

Klasifikasi atau Kategori Produk

Pemasar mengklasifikasikan produk berdasarkan ciri-cirinya: daya tahan, wujud, dan penggunaan (konsumen atau industri). Setiap jenis produk memiliki strategi bauran pemasaran yang sesuai.

DAYA TAHAN DAN WUJUD Produk dapat diklasifikasikan menjadi tiga kelompok menurut daya tahan dan wujudnya:

  1. Barang yang tidak tahan lama (nondurable goods) adalah barang-barang berwujud yang biasanya dikonsumsi dalam satu atau beberapa kali penggunaan, seperti shampo dan sabun mandi. Karena barang-barang ini dikonsumsi dengan cepat dan sering dibeli strategi yang tepat adalah menyediakannya di berbagai lokasi, hanya mengenakan marjin yang kecil, dan memasang iklan besar-besaran guna memancing orang mencobanya dan membangun preferensi.
  2. Barang tahan lama (durable goods) adalah barang berwujud yang biasanya tetap bertahan walaupun  sudah digunakan berkali-kali: lemari es, peralatan mesin, dan pakaian. Produk tahan lama biasanya memerlukan penjualan dan pelayanan yang lebih pribadi, mempunyai marjin yang lebih tinggi, dan memerlukan lebih banyak garansi dari penjual.
  3. Jasa (service) adalah produk-produk yang tidak berwujud, tidak terpisahkan dan mudah habis. Akibatnya, produk ini biasanya memerlukan pengendalian mutu kredibilitas pemasok, dan kemampuan penyesuaian yang lebih tinggi. Contohnya mencakup pemotongan rambut dan perbaikan barang.

KLASIFIKASI BARANG KONSUMEN Produk dapat diklasifikasikan menjadi tiga kelompok menurut klasifikasi barang konsumen:

  1. Barang sehari-hari (convenience goods) barang-barang yang biasanya sering dibeli pelanggan dengan cepat dan dengan upaya yang sangat sedikit. Contohnya meliputi produk-produk rokok, pasta gigi, dan Koran.
  2. Barang toko (shopping goods) adalah barang-barang yang biasanya dibandingkan berdasarkan kesesuaian, kualitas, harga, dan gaya dalam proses pemilihan dan pembeliannya. Contohnya meliputi perabotan, pakaian, mobil bekas, dan peralatan rumah tangga utama.
  3. Barang khusus (specialty goods) mempunyai ciri-ciri atau identifikasi merek yang unik dan karena itulah cukup banyak pembeli bersedia melakukan upaya pembelian yang khusus. Contohnya, mobil mercedez adalah barang khusus karena pembeli yang tertarik akan pergi ke tempat jauh untu membelinya.

KLASIFIKASI BARANG INDUSTRI Produk dapat diklasifikasikan  menjadi tiga kelompok menurut klasifikasi barang industri:

  1. Bahan baku dan suku cadang (materials and parts) adalah  barang-barang yang seluruhnya masuk ke produk produsen tersebut. Barang-barang ini terbagi menjadi dua kelompok: bahan mentah serta bahan baku dan suku cadang yang diproduksi. Bahan mentah terbagi menjadi dua kelompok utama: produk pertanian (misalnya gandum, kapas, ternak, buah, dan sayuran) dan produk alam (misalnya ikan, kayu, minyak mentah, biji besi).
  2. Barang modal (capital items) adalah barang-barang tahan lama yang memudahkan pengembangan atau pengelolaan produk jadi. Barang modal meliputi dua kelompok instalasi dan peralatan. Instalasi terdiri atas bangunan (pabrik dan kantor) dan peralatan (generator, bor, computer, mainframe, elevator).  Peralatan meliputi peralatan dan perkakas pabrik yang dapat dipindahkan (perkakas tangan, truk pengangkut) dan peralatan kantor (komputer pribadi, meja).
  3. Perlengkapan dan layanan bisnis (supplies and business service) adalah barang dan jasa berumur pendek memudahkan pengembangan atau pengelolaan produk jadi. Perlengkapan ada dua jenis: barang pemeliharaan dan perbaikan (cat, paku, dan sapu) dan perlengkapan operasional (pelumas, batu bara, kertas tulis, dan pensil).

 

Satrio Mulyo P

0910220175

Tugas Marketing Communication

 

Daftar Pustaka

Kottler, Philip dan Keller, Kevin Lane. Manajemen Pemasaran edisi 12 jilid 1. PT Indeks

Internet memiliki beberapa daya tarik dan keunggulan bagi para konsumen maupun organisasi. Internet juga merupakan media elektronik mutakhir yang menunjang e-commerce (electronic commerce) dan mengalami pertumbuhan pesat. Secara simplistik dengan membuat homepage dan melayani pesanan produk melalui internet, maka sudah dapat dikatakan sebagai pemasar global yang menjalankan e-commerce (Bertha, 2006). Internet menciptakan interaksi yang potensial dengan pelanggan pada skala global (Arnott dan Bridgewater, 2002:87). Furash (1999), Dutta dan Segev (1999) seperti dikutip Arnott dan Bridgewater (2002) mengungkapkan bahwa kemungkinan interaksi ditangkap oleh pemasar sebagai target pelanggan mereka pada basis one-to-one dan membangun brand loyal relationships. Interaksi dengan pelanggan melalui internet tersebut diharapkan dapat meningkatkan kinerja pemasaran.

Aplikasi internet dalam keperluan bisnis meliputi 8 (delapan) bidang pokok, yaitu (Chandra, 2001:112):

a. Yellow pages, berupa database terorganisasi yang memuat aneka ragam informasi produk, perusahaan, iklan, berita, hiburan, dan sebagainya

b. Web traffic control, berfungsi gerai penjualan virtual seperti amazon.com maupun mal-mal virtual yang kini semakin marak dijumpai.

c. Standard websites, berupa homepages dan alamat e-mail untuk kontak atau layanan pelanggan.

d. Business-to-business links, berupa koneksi pada jaringan bisnis yang dimiliki perusahaan.

e. Community sites, seperti ruang „ngobrol‟ (chatting room) khusus kelompok tertentu.

f. Information/image sites, yang tidak memiliki fungsi komersial langsung namun lebih menekankan aspek penyajian informasi, misalnya ABS (Australian Bureau of Statistics).

Pada umumnya strategi pemasaran melalui sebuah web di internet sama seperti strategi pemasaran secara tradisional (traditional marketing), yaitu meliputi penciptaan nilai pelanggan, merebut nilai pelanggan, dan mempertahankan nilai pelanggan. Namun, bagaimanapun juga strategi pemasaran melalui sebuah web mengubah konsep marketing mix yang ada sebelumnya. Hal ini karena sebuah web mempengaruhi pengembangan dan keputusan dalam strategi pemasaran terutama marketing mix (analisis 4C dan 4P). Eid dan Trueman (2002:54) juga menyetujui bahwa web berpengaruh terhadap perubahan marketing mix karena pemasaran melalui internet memiliki proses yang sangat berbeda dari pemasaran secara tradisional. Adapun kunci sukses usaha pemasaran melalui internet adalah strategi interaktif (Arnott dan Bridgewater, 2002:87; Eid dan Trueman, 2002:54). Pada bagian ini dijelaskan lebih lanjut mengenai perubahan dimensi marketing mix yang dimudahkan dengan adanya internet.

Product (produk)

Product mix menunjukkan pengembangan dan komersialisasi dari produk baru seperti keputusan, penentuan lamanya siklus produk, yaitu peremajaan dan perbaikan produk atau keputusan eliminasi (Eid dan Trueman 2002:55). Menurut Porter dan Millar (1985) seperti dikutip oleh Peattie (1997:147), teknologi informasi potensial dan penting untuk memberikan informasi mengenai isi suatu produk. Avlonitis dan Karayanni (2000) seperti dikutip oleh Eid dan Trueman (2002:55) mengungkapkan bahwa melalui web di internet, konsumen dapat semakin cepat menemukan apa yang mereka butuhkan, produk semakin customize, percobaan produk tercepat (faster product testing), dan PLC (product life cycle) atau daur hidup produk semakin pendek. Seorang pemasar internasional yang menggunakan internet, menurut Quelch dan Klein (1996) seperti dikutip oleh Eid dan Trueman (2002:55) seharusnya memiliki pemahaman yang dalam mengenai lingkungan pemasaran luar negeri untuk meningkatkan keuntungan relatif bagi produk dan jasa mereka. Melalui internet produk ditransformasikan kedalam bentuk digital produk. Oleh karena itu sebagai bagian dari perencanaan pemasaran yang baik, perusahaan harus mendesain produk baru atau memperbaiki produk sehingga dapat mempertemukan keinginan atau kebutuhan terpendam pelanggan dengan produk yang ditawarkan kepada pelanggan.

Price (Harga)

Komponen harga produk dan jasa terdiri dari 3 (tiga) elemen, yaitu biaya produksi, biaya koordinasi (co-ordination cost), dan profit margin (Peattie, 1997:147). Menurut Benjamin dan Wigand (1995) seperti yang dikutip Peattie (1997:147), biaya koordinasi dapat dikurangi dengan electronic market, supplier profit margin juga dapat ditingkatkan. Internet memiliki banyak pengaruh pada strategi harga. Melalui internet, harga menjadi lebih standar, hanya ada sedikit perbedaan harga bagi konsumen sehingga konsumen menjadi mengetahui dan membandingkan harga (Poon dan Jevons, 1997:30). Internet juga dapat membantu pelanggan untuk menganalisis harga dengan membandingkan harga lintas perusahaan dan lintas batas dariweb satu ke web yang lainnya serta menciptakan interactive internet commerce (Peattie, 1997:147).

Dalam area B2B, bargaining power dari pelanggan mungkin meningkat semenjak mereka sadar akan alternatif produk dan jasa. Sebaliknya menggunakan internet channel memudahkan konsumen untuk saling tukar dengan supplier. Hal inilah yang menjadi alasan menurut Chaffey et al. (2000) seperti yang dikutip oleh Eid dan Trueman (2002:56) bahwa perusahaan yang mengunakan sebuah web sebelum pesaing mereka merupakan suatu keunggulan kompetitif (competitive advantage). Persoalan akhir dalam dimensi harga adalah nilai mata uang (currency rate). Belanja melalui internet membutuhkan kemudahan atau kenyamanan (convenient). Menurut Eid dan Trueman (2002:56), konsumen tidak menyukai apabila harus mencari konversi nilai mata uang (currency conversion rates). mata uang (currency conversion rates).

Promotion (Promosi)

Menurut Kotler (1991) seperti yang dikutip oleh Eid dan Trueman (2002:56), promosi merupakan berbagai cara organisasi untuk mengkomunikasikan keunggulan produknya dan meyakinkan konsumen untuk membeli produk mereka. Menggunakan iklan melalui internet dan mengembangkan promosi penjualan yang smart menjadi perhatian yang baik, tetapi media promosi lainnya juga berubah (Peattie, 1997:148).

Efek dari penggunaan internet pada strategi promosi bagi perusahaan muncul dalam banyak penelitian seperti Avlonitis dan Karayanni, 2000; Bennet, 1997; Hamill, 1997a,b; Poon dan Jevons, 1997; Quelch dan Klein, 1996; Wilson dan Abel, 2002 (Eid dan Trueman, 2002:57). Bagi departemen penjualan, menggunakan internet memiliki komunikasi interaktif dengan konsumen. Menurut Poon dan Jevons (1997:30), penjualan yang harus ekstra keras (hard-selling) dan strategi promosi yang harus mendorong rangsangan (advertiser-push) bagi konsumen tidak perlu dilakukan dengan media internet. Internet juga dapat mengurangi biaya periklanan (advertising) global sehingga menjadi lebih murah (Hamill, 1997:310). Bagaimanapun, Wilson dan Abel (2002) mengemukakan bahwa teknik promosi online yang banyak dilakukan ternyata didalamnya juga masih terdapat teknik promosi offline seperti bentuk advertising tradisional yaitu dari mulut ke mulut (mouth by mouth). Menurut Bennet (1997:325), advertising di web pages dimungkinkan namun ternyata tidak diterima baik karena konsumen kadang mengharapkan bentuk nyata dari produk

Physical Distribution (Fisik Distribusi)

Distribusi fisik merupakan aspek tempat dari marketing mix (Eid dan Trueman, 2002:57). Menurut Kotler (1991) seperti dikutip Eid dan Trueman (2002:57), marketing channel didefinisikan sebagai organisasi interdependen menyangkut mulai proses pembuatan produk atau jasa sampai produk atau jasa tersebut tersedia untuk digunakan atau dikonsumsi. Penciptaan saluran pasar elektronik (electronic market channel) yang baru lebih perhatian pada pengaruh teknologi informasi terhadap pemasaran. Kesempatan baru muncul melalui database yang dijalankan pemasaran secara langsung (database-driven direct marketing), teleshopping, dan homeshopping.

Pada banyak kasus, distribusi melalui internet dinyatakan cukup berhasil apabila mempertimbangkan manfaat yang akan diperoleh (Peattie, 1997:148). Internet, menghubungkan konsumen akhir (end-users) dengan produsen secara langsung. Hal ini akan mengurangi peran perantara secara tradisional yaitu agen dan distributor dalam pemasaran internasional. Keuntungan yang diperoleh jelas untuk mengurangi biaya-biaya yang tidak diperlukan oleh produsen dalam memasarkan produk serta dapat menekan harga sampai ketangan konsumen lebih murah dibandingkan jika melalui perantara-perantara.

Menurut Parkinson (1994) seperti dikutip oleh Peattie (1997:143), teknologi komputer memberikan kesempatan untuk micromarketing dan kontrol yang lebih baik pada hubungan pemasaran. Teknologi komputer mengakibatkan perkembangan internet. Internet sebagai salah satu produk era informasi memungkinkan produk atau jasa menjadi lebih kreatif dan inovatif dalam marketspace (Tjandra, 1996:57). Internet telah membuka marketspace dengan beberapa karakteristik khusus. Marketspace meliputi saling berbagi (shared) antar produsen dengan produsen atau produsen dengan konsumen, waktunya nyata saat itu juga (real-time), global, dan terbuka (open) (Arnott dan Bridgewater, 2002:86). Menurut Arnott dan Bridgewater (2002:86) melalui marketspace, kesempatan pemasaran menjadi terbuka luas. Pemasar sekarang dapat mengikutsertakan konsumen pada skala global, waktunya nyata saat itu juga, interaksi dua arah (two-way interaction) (Peattie, 1997:143). Hal yang sama juga diungkapkan oleh Chandra (2001:103). Chandra mengungkapkan bahwa internet dipandang sebagai salah satu metode masuk (entry) pasar luar negeri yang efektif. Saat ini, sudah mulai banyak perusahaan yang memanfaatkan internet untuk keperluan memasarkan produk dalam pasar global.

Secara garis besar, kemajuan teknologi internet yang disertai dengan berkembangnya berbagai macam titik-titik akses (access point) seperti WWW membawa tiga implikasi utama, yaitu (1) percepatan globalisasi industri, (2) multidimensionalitas proses penciptaan nilai (value-addition process), dan (3) tingkat hambatan masuk industri (Chandra, 200:108).

Daftar Pustaka

Arnott, David C. dan Susan Bridgewater, 2002. “Internet, Interaction and Implications for Marketing,” Marketing Intelligence dan Planning, 20 (2):86-95.

Bennet, R., 1997. “Export Marketing and the Internet: Experience of Web Site Use and Perceptions of Export Barriers among UK,” Businesses. Industrial Marketing Review, 14 (5):324-344.

Chaffey, D., Mayer R., Johnston, K., dan Elliss-Chadwick, F., 2000. Internet Marketing: Strategy, Implementation, and Practice. England: Prentice Hall.

Chandra, Gregorius, 2001. Pemasaran Global. ed 1. Yogyakarta: penerbit Andi.

Eid, Riyad dan Myfanwy Trueman, 2002. “The Internet: New International Marketing Issues,” Management Research News, 25 (12):5-67.

Hamill, Jim, 1997. “The Internet and International Marketing,” Internetional Marketing Review, 14 (5):300-323.

Hoffman, D.L. dan Novak, T.P., 1996. “A New Marketing Paradigm for Electronic Commerce,” The Information Society:Special Issues On Electronic Ecommerce, 13 (1):43-54.

Paul, Pallab, 1996. “Marketing on the Internet,” Journal Of Consumer Marketing, 13 (4):27-39.

Peattie, Ken, 1997. “The Marketing Mix in the Third Age of Computing,” Marketing Intelligence dan Planning, 15 (3):142 -150.

Poon, S. dan Jevons, C., 1997. “Internet Enabled International Marketing:A Small Business Network Perspective,” Journal of Marketing Management, 13:29-42.

Sutejo, Berta Sulvia. 2006. Internet Marketing: Konsep dan Persoalan Baru Dunia Pemasaran. Jurnal Manajemen Vol 6. No 1, Nov 2006.

Talha, Mohammad, Deepak Shrivastva, Pooja Kabra, dan Abdullah Sallehhuddin Abdullah Salim. Problems And Prospects Of Internet Marketing. JIBC. Array Development.

Tjandra, Robert, 1996. “Mengelola di Dalam Era Informasi,” Usahawan, 25 (10):56-57. Oktober.

Simatupang, Batara M., 1996. “Strategi Memenangkan Persaingan di Era Pasar Bebas,” Usahawan, 25 (09): 46-49. September.

Wilson, S. G. dan Abel I., 2002. “So You Want It Get Involved in E-commerce,” Industrial Marketing Management, 31 (2):85-94.

STRATEGI PEMASARAN YANG TEPAT UNTUK UKM DI INDONESIA

Usaha Kecil dan Menengah disingkat UKM adalah sebuah istilah yang mengacu ke jenis usaha kecil yang memiliki kekayaan bersih paling banyak Rp 200.000.000 tidak termasuk tanah dan bangunan tempat usaha. Dan usaha yang berdiri sendiri. Menurut Keputusan Presiden RI no. 99 tahun 1998 pengertian Usaha Kecil adalah: “Kegiatan ekonomi rakyat yang berskala kecil dengan bidang usaha yang secara mayoritas merupakan kegiatan usaha kecil dan perlu dilindungi untuk mencegah dari persaingan usaha yang tidak sehat.”

Kriteria usaha kecil menurut UU No. 9 tahun 1995 adalah sebagai berikut: 1. Memiliki kekayaan bersih paling banyak Rp. 200.000.000,- (Dua Ratus Juta Rupiah) tidak termasuk tanah dan bangunan tempat usaha 2. Memiliki hasil penjualan tahunan paling banyak Rp. 1.000.000.000,- (Satu Miliar Rupiah) 3. Milik Warga Negara Indonesia 4. Berdiri sendiri, bukan merupakan anak perusahaan atau cabang perusahaan yang tidak dimiliki, dikuasai, atau berafiliasi baik langsung maupun tidak langsung dengan Usaha Menengah atau Usaha Besar 5. Berbentuk usaha orang perorangan , badan usaha yang tidak berbadan hukum, atau badan usaha yang berbadan hukum, termasuk koperasi.

Menurut UU No. 20 Tahun 2008 pasal 3 Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah bertujuan menumbuhkan dan mengembangkan usahanya dalam rangka membangun perekonomian nasional berdasarkan demokrasi ekonomi yang berkeadilan. Perbedaan UKM dengan perusahaan yang berskala besar salah satunya dari asas. Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah berasaskan:

  1. kekeluargaan;
  2. demokrasi ekonomi;
  3. kebersamaan;
  4. efisiensi berkeadilan;
  5. berkelanjutan;
  6. berwawasan lingkungan;
  7. kemandirian;
  8. keseimbangan kemajuan; dan
  9. kesatuan ekonomi nasional.

Setiap organisasi tentunya memiliki strategi pemasaran yang harus dijalankan dalam melaksanakan kegiatan bisnisnya. Strategi merupakan sarana organisasi yang digunakan untuk mencapai tujuannya. Salah satu bentuk dari strategi bisnis adalah strategi pemasaran. Tetapi banyak kasus UKM di Indonesia yang tidak dapat melakukan strategi pemasaran yang tepat. Cenderung UKM di Indonesia hanya “menunggu konsumen” dan monoton dalam melakukan kegiatan pemasaran.

Menurut Ina Primiana dalam bukunya Menggerakan Sektor Rill UKM & Industri (2009), selain permodalan yang menjadi pokok permasalahan bagi UKM berkaitan dengan pemasaran, lebih dikarenakan:

  1. Sulitnya akses pasar dikarenakan keterbatasan-keterbatasan antara lain membaca selera pasar, mengenal pesaing dan produknya, memposisikan produknya di pasar, mengenal kelemahan produknya diantara produk pesaing.
  2. Keterbatasan SDM. Untuk usaha Mikro dan Kecil pada umumnya pemilik masih melakukan semua kegiatan sendiri atau dibantu beberapa pegawai seperti produksi atau pengawasan produksi, sehingga mencari pasar menjadi terbengkalai.
  3. Strandarisasi produk lemah, hal ini menyebabkan pesanan dikembalikan (retur) dikarenakan kualitas produk yang dihasilkan spesifiknya tidak sesuai dengan pada saat pesan.
  4. Hilangnya kepercayaan pelanggan akibat ketidakmampuan memenuhi permintaan dalam jumlah besar, antara lain dikarenakan tidak tersedianya dana untuk memenuhi permintaan tersebut.

 

Berdasarkan galeriukm.web.id, Permasalahan mendasar yang sering dihadapi pemilik Usaha Kecil adalah lemahnya penetrasi pasar dan kurang luasnya jangkauan wilayah pemasaran. Karena itu untuk memajukan usaha kecil yang memiliki daya saing yang kuat adalah dengan membangun strategi pemasaran yang baik dan tepat sasaran. Pemasaran merupakan upaya mengatur strategi dan cara agar konsumen mau mengeluarkan uang yang mereka miliki untuk menggunakan produk atau jasa yang dimiliki sebuah perusahaan, dalam hal ini usaha kecil dan menengah. Dengan strategi pemasaran yang baik posisi usaha kecil dan menengah menjadi kuat dan patut diperhitungkan dalam kegiatan ekonomi nasional yang akhirnya membawa keuntungan bagi usaha tersebut.

Strategi pemasaran berkaitan dengan bagaimana cara meyakinkan pembeli/pelanggan terhadap produk yang akan dijual. Untuk dapat meyakinkan pembeli si penjual harus memiliki keyakinan bahwa produk yang dijual memang patut dibeli. Karena itu perlu dipertimbangkan beberapa aspek dalam menentukan strategi pemasaran yang akan dijalankan.

Berdasarkan permasalahan pemasaran yang dialami oleh UKM di Indonesia. Berikut beberapa cara yang dapat dilakukan untuk memperbaiki serta meningkatan strategi pemasaran yang tepat untuk UKM di Indonesia.

Melakukan STP (Segmenting, Targeting, dan Positioning)

Segmentasi pasar, strategi penentuan pasar, dan strategi penentuan posisi saling berhubungan satu dengan lainnya. Segmentasi pasar (segmenting) adalah proses menempatkan konsumen dalam subkelompok di pasar-produk, sehingga para pembeli memiliki tanggapan yang hampir sama dengan strategi pemasaran dalam penentuan posisi perusahaan. Oleh karenanya, segmentasi merupakan proses identifikasi yang bertujuan untuk mendapatkan pembeli dalam keseluruhan pasar.

Segmentasi mengidentifikasikan kelompok konsumen dalam pasar-produk, di mana setiap segmen terdiri dari pembeli dengan preferensi produk yang hampir sama. Setiap segmen merupakan pasar sasaran organisasi untuk bersaing di pasar. Segmentasi memberikan peluang bagi perusahaan untuk menyesuaikan produk atau jasanya dengan permintaan pembeli secara efektif. Kepuasan konsumen dapat ditingkatkan dengan pemfokusan segmen. Segmentasi dapat terjadi pada struktur pasar dengan berbagai produk generik, berbagai jenis produk, dan bentuk produk.

Penentuan pasar sasaran (targeting) merupakan proses pengevaluasian dan pemilihan setiap segmen yang akan dilayani oleh perusahaan. Perusahaan dapat saja menetapkan satu, sedikit, atau beberapa dari segmen pasar yang telah dilakukan.

(Galeri UKM) Menentukan target pasar  yang sudah tertentu merupakan strategi pemasaran agar tidak salah menjual produk pada orang yang tidak tepat.  Salah satu permasalahan usaha kecil adalah kesulitan untuk untuk menentukan segmen pasar dari hasil produknya, apakah diperuntukkan bagi masyarakat kelas menengah atas atau untuk menengah bawah. Bisnis Usaha kecil sejak awal harus menentukan bisnisnya diarahkan untuk kelas mana. Dengan menentukan target pasar yang dituju, perusahaan bisa memberikan satu nilai tambah yang menjadi pembeda dibandingkan dengan para pesaingnya. Nilai tambah inilah yang disebut sebagai differensiasi. Dengan differensiasi yang kuat, bisa menjadi senjata dalam menghadapi berbagai persaingan.

Strategi penentuan posisi (positioning) merupakan kombinasi kegiatan pemasaran yang dilakukan manajemen untuk memenuhi kebutuhan dan keinginan setiap pasar sasaran. Strategi ini terdiri dari komponen produk dan jasa pendukung, distribusi, harga, dan promosi.

Meningkatkan Mutu Produk

            Penerapan peningkatan mutu sebagai strategi bisnis menekankan pada tiga persyaratan utama bagi manajemen dan para pekerja. Pertama, budaya perusahaan yang menyeluruh sangatlah diperlukan. Kedua, karena manajemen mutu total (total quality management) memerlukan adanya kelompok kerja (teamwork) yang erat di antara fungsi-fungsi bisnis, pelaksanaan strategi seperti ini sangat memerlukan penyebaran falsafah manajemen kepada setiap tingkat organisasi. Ketiga, keberhasilan membutuhkan komitmen manajemen dan para pekerja secara kontinu. 

Strategi Distribusi

Hubungan dengan pembeli di pasar sasaran akan terjadi dalam bentuk hubungan langsung yang dilakukan oleh wiraniaga, daripada  melalui distribusi dan jaringan kerja para perantara pemasaran (seperti pedagang grosir, pengecer, atau dealer). Kebutuhan akan saluran distribusi semakin meningkat untuk menghubungkan produsen dengan pemakai akhir dan pasar bisnis. Pengambilan keputusahan untuk menggunakan saluran distribusi menyangkut masalah jenis organisasi saluran yang akan digunakan, peningkatan manajemen saluran peusahaan, dan intensitas distribusi sesuai dengan produk atas jasa. Pemilihan saluran distribusi mempengaruhi penentuan posisi merek di benak konsumen.

Strategi Penetapan Harga

Harga juga membantu penentuan posisi produk, reaksi konsumen terhadap alternatif harga, biaya produk, harga pesaing, serta faktor hukum dan etika lainnya meningkatkan fleksibilitas manajemen dalam penetapan harga. Strategi memilih peran dalam penentuan posisi, mencakup penentuan posisi produk atau merek yang diinginkan termasuk hambatan (margin) yang diperlukan untuk memuaskan dan memotivasi para penyalur. Harga mungkin digunakan sebagai komponen strategi pemasaran yang aktif (nyata) atau, malahan penakanan pemasaran mungkin pada komponen bauran pemasaran lainnya (seperti mutu produk).

Berdasarkan galeriukm.web.id berpendapat setelah menentukan produk apa yang ingin ditawarkan, selanjutnya adalah menentukan berapa harga yang harus dibayar oleh konsumen. Harga menjadi sesuatu yang cukup sensitif  bagi pelanggan, salah satu yang menjadi pertimbangan dalam membangun strategi pemasaran adalah menentukan harga yang pas. Prinsip utama dalam menentukan harga adalah menghitung keseluruhan biaya yang diperlukan. Dari situ, tinggal ditambahkan berapa persen laba yang ingin diperoleh untuk kepentingan pengembangan dan penghitungan berapa tahun akan balik modal.

Strategi Promosi

Strategi iklan, promosi penjualan, penjualan personal, dan hubungan masyarakat (public relations/PR), semuanya digunakan untuk membantu organisasi berkomunikasi dengan konsumennya, menjalin kerjasama antarorganisasi, masyarakat, dan sasaran lainnya. Strategi promosi memainkan peran penting dalam menempatkan posisi produk di mata dan benak pembeli. Promosi memiliki tujuan yaitu memberitahukan, meningkatkan, dan membujuk pembeli serta pihak lain yang berpengaruh dalam proses pembelian.

(Galeri UKM) Salah satu faktor yang penting dalam pemasaran sebagai P yang terakhir dari 4P yaitu promosi. Promosi adalah usaha-usaha sadar untuk melakukan sosialisasi, penerangan, dan pemberitahuan kepada masyarakat tentang berbagai informasi, yang biasanya mengenai berbagai produk yang ditawarkan. Aktivitas promosi melibatkan berbagai bentuk dan variasi yang sangat beragam. Tinggal bagaimana para pengelola melakukan berbagai promosi kreatif sesuai dengan kebutuhan dan anggaran promosi yang disediakan. Membuat kemasan produk yang baik dan menarik merupakan salag satu bentuk promosi yang cukup baik dan efektif.

Bentuk promosi yang paling tradisional adalah iklan. Iklan adalah pemasangan informasi produk di berbagai media dan penerbitan mulai dari koran, majalah, tabloid, televisi, dan juga radio. Iklan memang efektif menjangkau khalayak yang luas, tetapi dari sisi biaya memang membutuhkan anggaran yang besar. Jika terasa bahwa biaya iklan di media massa cukup besar, bisa dicoba bentuk lain yaitu dengan brosur, leaflet, dan juga spanduk yang dipasang di sekitar wilayah di mana konsumen berada. Dengan demikian, informasi lengkap tetap bisa didapatkan oleh target konsumen kita.

Cara lain yang efektif adalah melalui promosi dari mulut ke mulut (word of mouth) di mana satu orang memberikan penjelasan kepada orang lain karena merasa mendapatkan manfaat yang baik dari produk atau jasa yang digunakan. Promosi ini sangat efektif karena biasanya orang lebih percaya kepada apa yang dikatakan oleh saudara ataupun teman-teman yang sudah merasakan terlebih dahulu.

Pada akhirnya, aktifitas promosi apapun dalam perusahaan tidak bisa berjalan efektif jika secara internal tidak memperhatikan faktor kualitas sebuah perusahaan. Dengan kualitas produk yang baik, ditambahkan komunikasi yang mengena, maka aktifitas perusahaan bisa berjalan dengan baik

Penggunaan Teknologi Informasi

Sistem informasi mengurangi waktu proses, meningkatkan komunikasi, dan membantu pengambilan keputusan. Sistem informasi memberikan keunggulan teknologi yang penting, di mana banyak UKM tidak dapat menggunakan sepenuhnya. Sistem informasi akan menjadi hal yang penting di masa yang akan datang, menghubungkan kerjasama antarorganisasi, pemasok, dan konsumen.

Mencari Keunggulan Bersaing

Memahami kebutuhan dan keinginan konsumen adalah hal penting yang mempengaruhi konsumen mereka. Pengaruh konsumen memperlihatkan bagaiman sebaiknya perusahaan bersaing di pasar. Konsumen yang puas merupakan asset yang sangat berharga; mereka menciptakan keunggulan daya saing bagi perusahaan. Jika biaya mendapatkan konsumen baru dan pengembangan hubungan jangka panjang yang menguntungkan dijumlahkan, akan merupakan investasi yang besar.

Berdasarkan sumber karya (media cetak), pemerintah memprioritaskan pengembangan industri kerajinan nasional karena berdaya saing tinggi serta menyerap banyak tenaga kerja dan penghasil devisa. Pada 2010, ekspor produk kerajinan Indonesia mencapai 670 juta dolar AS, dan diperkirakan meningkat 10 persen pada tahun ini. “Pertumbuhan ekspor produk kerajinan Indonesia meningkat 5-10 persen setiap tahunnya,” kata Dirjen Industri Kecil dan Menengah (IKM) Kementerian Perindustrian (Kemenperin) Euis Saedah pada acara Pameran Industri Kreatif Yogyakarta di Plasa Industri Kemenperin Jakarta, Selasa (29/11).

Menurut dia, industri kerajinan yang termasuk kategori industri kreatif potensial untuk terus dikembangkan karena produknya diminati pasar dalam dan luar negeri. Industri kerajinan juga mampu menciptakan nilai tambah tinggi karena mengusung gagasan yang dipadukan dengan seni serta inovasi dan teknologi.

Di Indonesia sendiri, industri kerajinan sudah berkembang di sejumlah daerah, seperti Yogyakarta, Bandung, Jakarta, Solo, Bali, Pekalongan, dan lainnya. Didaerah-daerah ini terdapat banyak produsen/perajin yang berbakat dan masuk kategori ahli yang menghasil produk bernilai seni tinggi dan berciri khas spesifik, sehingga diminati pembeli.

Untuk Yogyakarta misalnya, industri produk kerajinan berkembang pesat. Mulai dari batik, anyaman, ukiran kayu, kain tenun/ikat tradisional) keramik gerabah hingga perhiasan perak. Meski demikian, kreativitas dan inovasi harus terus ditingkatkan oleh produsen/perajin produk kerajinan, sehingga juga bisa mengikuti selera pasar.

“Daya saing industri kreatif produk kerajinan harus terus ditingkatkan. Hal ini mengingat persaingan di pasar dalam negeri dan internasional yang makin ketat. Desain produk kerajinan yang terus berkembang serta selalu mengikuti tren pasar juga harus dilakukan pelaku industri kerajinan,”tutur Euis.

Setiap pemasar tentunya memiliki tujuan untuk selalu memuaskan konsumen dari penggunaan produk. Pemuasan konsumen harus disertai dengan pemantauan terhadap kebutuhan dan keinginan mereka. Mengidentifikasi atribut produk dan dukungan pelayanan yang dianggap penting oleh para pembeli pada saat mereka membeli dan menggunakan produk tersebut merupakan tujuan manajemen. Kepuasan konsumen dipengaruhi oleh beberapa hal yaitu sebagai berikut:

  1. Sistem Pengiriman. Memindahkan produk dari produsen ke konsumen atau pemakai akhir dalam bisnis biasanya meliputi saluran distribusi dari para pemasok, pabrikan, dan para perantara. Untuk dapat memuaskan konsumen, jaringan ini harus berfungsi sebagai unit yang terpadu dan terkoordinir, di mana semua anggotanya mengerti dan menanggapi kebutuhan dan keinginan konsumen.
  2. Performa Produk UKM. Performa dan keunggulan suatu produk yang dihasilkan sangatlah penting dijaga dalam mempengaruhi kepuasan konsumen.
  3. Citra atau Merek. Para pelaku bisnis mengakui bahwa citra atau merek perusahaan yang baik merupakan keunggulan bersaing yang mempengaruhi tingkat kepuasan konsumen dari sudut positif. Untuk itu setiap UKM di Indonesia harus memiliki merek yang positif dari setiap produknya yang dijual.
  4. Hubungan Harga-Nilai. Pembeli menginginkan nilai yang ditawarkan merek sesuai dengan harga yang diberikan, oleh karenanya terdapat hubungan yang menguntungkan antara harga dan nilai.
  5. Kinerja/Prestasi Karyawan. Kinerja produk dan sistem pengiriman tergantung pada bagaimana semua bagian UKM bekerjasama dalam proses pemenuhan kepuasan konsumen. Setiap karyawan di UKM akan mempengaruhi konsumen, baik hal-hal yang menyenangkan ataupun yang tidak menyenangkan.
  6. Persaingan. Kelemahan dan kekuatan para pesaing juga mempengaruhi kepuasan konsumen dan merupakan peluang untuk memperoleh keunggulan bersaing. Menganalisis konsumen dan pesaing merupakan hal yang penting.

Sumber:

Cravens, David W. 1996. Pemasaran Strategis Edisi Keempat Jilid 1. Jakarta: Erlangga

Haahti, Antti et all. 2005. Cooperative Strategy, knowledge intensity and export performance of small and medium sized enterprises. Journal of World Business 40 (2005) 124-138.

Jonsson, Sara. 2010. The impact of institutional impediments and information and knowledge exchange on SME’s investments in international business relationships. International Business Review 19 (2010) 548-561.

Karjalainen, K dan Kamppainen, K. 2008. The involvement of small- and medium- sized enterprise in public procurement: Impact of resource perceptions, electronic system and enterprise size. Journal of Purchasing & Supply Management 14 (2008) 230-240.

Michaelidou, Nina et all. 2011. Usage, barriers and measurement of social media marketing: An exploratory investigation of small and medium B2B brands. Industrial Marketing Management 40 (2011) 1153-1159.

Naidoo, Vikash. 2010. Firm survival through a crisis: The influence of market orientation, marketing innovation and business strategy. Industrial Marketing Management 39 (2010) 1311-1320.

Pressey, D. Andrew et all. 2009. Purchasing practices in small- to medium- sized enterprises: An examination of strategic purchasing adoption, supplier evaluation and supplier capabilities. Journal of Purchasing & Supply Management 15 (2009) 214-228.

Primiana, Ina. 2009. Menggerakan Sektor Rill UKM & Industri. Bandung; Alfabeta

Redoli, Judith et all. A model for the assessment and development of internet-based information and communication services in small and medium enterprises. Technvation 28 (2008) 424-435.

Tapia, Martin Innaculada et all. 2010. Environmental strategy and exports in medium, small. And micro-enterprises.  Journal of world business 45 (2010) 266-275.

Ti Bei, Lien dan Fong Shang, Cian. 2006. Building marketing strategies for state- owned enterprises against private ones based on the perspective of customer satisfaction and service quality. Journal of Retailing and Consumer Services 13 (2006) 1-13.

Urbonavicius, Sigitas. 2005. Iso System Implementation in small and medium companies from new EU member countries: A tool of managerial and marketing benefits development. Reserch in International Business and Finance 19 (2005) 412-426.

http://www.depkop.go.id/ (tanggal akses 10 desember 2011)

http://galeriukm.web.id/artikel-usaha/membangun-strategi-pemasaran-usaha-kecil (tanggal akses 10 desember 2011)

http://id.wikipedia.org/wiki/Usaha_Kecil_dan_Menengah (tanggal akses 2011)

BAURAN PROMOSI

Promosi sebagai salah kegiatan dari pemasar yang harus dilakukan untuk mempengaruhi perilaku konsumen, menginformasikan produk, mengingatkan produk kepada konsumen, dan mendorong minat beli. Ada delapan kategori dari promosi yaitu sebagai berikut:

1. Iklan (advertising)

Menurut Kotler dan Keller (2007) dalam buku manajemen pemasaran mengartikan iklan adalah segala bentuk presentasi non pribadi dan promosi gagasan, barang atau jasa oleh sponsor tertentu yang harus dibayar. Iklan dapat merupakan cara yang berbiaya efektif guna menyebarkan pesan, entah untuk membangun preferensi merek atau untuk mendidik seseorang.

Menurut Peter dan Olson (1999) berpendapat “advertising is intended to influence consumers affect and cognitions – their evaluations, feelings, knowledge, meanings, beliefs, attitudes, and images concerning products and brands.”

Contoh, iklan di media eletronik dan cetak. Telkomsel menggunakan televisi dalam mempromosikan produknya.

2. Promosi penjualan (sales promotion)

Menurut Kotler dan Keller (2007) dalam buku manajemen pemasaran mengartikan promosi penjualan (sales promotion) sebagai unsur utama dalam kampanye pemasaran, berbagai kumpulan alat-alat insentif yang sebagian besar berjangka pendek, yang dirancang untuk merangsang pembelian produk atau jasa tertentu dengan lebih cepat dan lebih besar oleh konsumen atau pedagang. Kalau iklan menawarkan alasan untuk membeli, promosi penjualan menawarkan insentif untuk membeli.

Menurut Peter dan Olson (1999) berpendapat “sales promotion are direct inducements to the consumer to make a purchase.”

Contoh, promosi penjualan mencakup alat untuk promosi konsumen seperti sampel, kupon, tawaran uang kembali, potongan harga, cinderamata, hadiah, hadiah berlangganan, pengujian gratis, garansi, dan peragaan

3. Hubungan masyarakat (public relation)

Perusahaan tidak hanya harus berhubungan secara konstruktif dengan pelanggan, pemasok, dan penyalur, melainkan juga harus berhubungan dengan sejumlah besar masyarakat yang berkepentingan. Masyarakat (public) adalah setiap kelompok yang memiliki kepentingan dalam atau pengaruh terhadap kemampuan suatu perusahaan mencapai tujuan saat ini atau pada masa mendatang. Hubungan masyarakat (public relation) meliputi berbagai program yang dirancang untuk mempromosikan atau melindungi citra perusahaan atau masing-masing produknya.

Contoh dari hubungan masyarakat adalah membantu peluncuran produk-produk baru. Keberhasilan komersial yang menganggumkan untuk mainan-mainan seperti Teenage Mutant Ninja Turtles, Beanie Barbies, dan Pokemon sangat banyak tercapai ketika pemberitaan yang cerdas.

4. Pemasaran langsung (direct marketing)

Pemasaran langsung (direct marketing) adalah penggunaan saluran-saluran langsung konsumen (CD-consumer direct) untuk menjangkau dan menyerahkan barang dan jasa kepada pelanggan tanpa menggunakan perantara pemasaran.

Contoh dari kegiatan pemasaran langsung adalah perusahaan menggunakan katalog, telemarketing, TV interaktif, dan  mobile device. Sophie Martin menggunakan pemasaran langsung sebagai kegiatan promosinya dengan menggunakan katalog.

5. Penjualan pribadi (personal selling)

Menurut Peter dan Olson (1999) berpendapat “Personal selling involves direct personal interactions between a potential buyer and a salesperson. Personal selling can be a powerful promotion method for at least two reason. First, the personal communication with the salesperson may increase consumers involvement with the product and/or the decision process. Second, the interactive communication situation allows salespeople to adapt their sales presentations to fit the informational needs of each potential buyer.”

Contoh dari personal selling dengan menggunakan sales sebagai perantara untuk menjual produk perusahaan.

6. Event Sponsorship

Salah satu cara kegiatan promosi yang dilakukan oleh perusahaan untuk memperkenalkan serta menjual produknya. Biasanya event sponsorship bekerjasama dengan event organizer (EO) sebagai penyelenggara acara.

Contoh dari event sponsorship yaitu “Bango Kuliner” dimana kecap bango yang biasa diadakan di beberapa kota dan rutin diadakan.

7. Publicity

Menurut Peter dan Olson (1999) berpendapat “Publicity is any unpaid form of communication about the marketer’s company, products, or brands.”

Contohnya adalah penggunaan majalah ponsel sebagai media promosi. Perusahaan tidak perlu membayar ke majalah ponsel tersebut.

8. Social media

Social media adalah salah satu media promosi yang terbaru di era new era marketing saat ini. Penggunaan internet tidak terlepas dari kegiatan bisnis yang dilakukan oleh perusahaan. Pengguna social media biasanya menamakan netizen. Menurut Mark Plus, netizen adalah penduduk di dunia virtual layaknya penduduk di dunia fisik, mempunyai identitas kependudukan sipil (avatar, user name), punya rumah (homepage), mempunyai kotak pos untuk surat menyurat (alamat e-mail), punya telepon (VoIP: Voice over Internet Protocol), dapat berpegian dari satu tempat ke tempat yang lain (pakai browser, apakah itu firefox, Internet Explorer, Opera, dan lain sebagainya).

By: Satrio Mulyo – 0910220175

Daftar Pustaka

Keller, Kevin Lane dan Kotler Philip. 2007. Manajemen Pemasaran edisi 12 Jilid 2. PT. Macanan Jaya Cemerlang: Indeks

Olson, Jerry C dan Peter, J. Paul. 1999. Consumer Behavior and Marketing Strategy. USA: McGraw-Hill

Berdasarkan riset dari Mark Plus, di era new wave marketing ada tiga sub culture konsumen yang memiliki peranan penting pasar di Indonesia yaitu women, youth, dan netizen. Dari ketiga sub culture memiliki kecendurugan yang berbeda dan tentunya dapat dijadikan sebagai peluang untuk menawarkan produk.

Kecenderungan sub culture: women, youth, dan netizen.

Women

Perempuan sebagai sub culture pertama di era new wave marketing memiliki peranan yang penting untuk pasar di Indonesia. Untuk perempuan terdapat beberapa kecenderungan dalam membeli suatu produk, yaitu keterkaitan perempuan kepada produk yang dibelinya, mereka ingin tahu mengapa mereka harus membeli atau membutuhkan produk ini, karena mereka juga melihat kebutuhan mereka seperti apa. Misal dalam membeli sabun muka, mereka akan melihat “saya membutuhkan pembersih muka yang seperti apa? Memutihkan, menghilangkan komedo? Atau apa?”. Selain melihat dari kebutuhan, para perempuan juga menginginkan produk yang aman untuk mereka. Mereka lebih menginginkan produk dengan efek samping yang lebih sedikit dan sesuai dengan keterangan yang ada di produk tersebut. Akses yang memudahkan perempuan dalam membeli suatu produk akan menjadi suatu referensi dalam membeli atau memilih suatu produk. Hal ini berkaitan dengan keinginan perempuan untuk memenuhi desire perempuan (to keep her well-being and stay optimist, multitasking efficientcy, to be a strong entrepreneur and networker). Selain itu perempuan sangat mengikuti trend dalam membeli produk mereka. informasi-informasi terbarumengenai suatu produk yang dipasarkan akan selalu menarik perhatian perempuan, apa hal  terbaru dari suatu produk. Maka dari itu produdk-produk yang informasinya tersedia di media-media informasi maupun jejaring sosial akan menjadi preferensi untuk si perempuan. Intinya kemudahan mengakses informasi mengenai suatu produk akan mempengaruhi keputusan pembelian perempuan

Youth

Anak muda memiliki peranan penting untuk sejarah berdirinya bangsa Indonesia, ketika tahun 1928 di era tersebut terkenal dengan Sumpah pemuda dimana pemuda/I Indonesia menggambarkan Indonesia yang Satu Nusa, Sau Bangsa, dan Satu Bahasa INDONESIA!. Tidak hanya sejarah, untuk pasar di Indonesia anak muda (youth) memiliki peranan penting. Dari survey yang dilakukan oleh Mark Plus terhadap anak muda usia 16 hingga 35 tahun di enam kota besar Indonesia (Jabodetabek, Bandung, Surabaya, Medan, Semarang, dan Makasar) dengan kelas sosial A dan B, hasil riset menemukan kecenderungan baru yang terbentuk berdasarkan karakter mereka yaitu:

  1. “Patriot” jumlahnya kurang lebih 25,7 persen. Mereka adalah anak muda yang mempunyai idealism dan rasa nasionalisme yang tinggi, berani, dan cenderung menjadi pemimpin. anak muda dari marco community ini punya jiwa sosial yang tinggi, selalu berpikir untuk orang lain, dan sangat loyal.
  2. “Buddy” jumlahnya kurang lebih 24,8 persen. Mereka adalah tipe anak muda yang cukup santai, memiliki banyak teman, sangat toleran, dan peduli orang lain.
  3. “Fighter” jumlah mereka sekitar 24,3 persen. Mereka adalah anak muda yang keras, punyak banyak kegelisahan, outspoken, dan kadang kala sedikit egois.
  4. “Star” kurang lebih 25,2 persen. Mereka cenderung idealis dan popular, mempunyai pengaruh yang besar buat peer group nya, mempunyai tujuan hidup yang jelas bagi masa depannya, namun cenderung focus pada diri sendiri.

Netizen

Netizen adalah penduduk di dunia virtual layaknya penduduk di dunia fisik, mempunyai identitas kependudukan sipil (avatar, user name), punya rumah (homepage), mempunyai kotak pos untuk surat menyurat (alamat e-mail), punya telepon (VoIP: Voice over Internet Protocol), dapat berpegian dari satu tempat ke tempat yang lain (pakai browser, apakah itu firefox, Internet Explorer, Opera, dan lain sebagainya).

Berdasarkan riset yang dilakukan Mark Plus dengan 1500 respon di delapan kota besar di Indonesia pengguna internet (netizen) di Indonesia memiliki kecenderungan antara lain: (1) Satu dari tiga anggota keluarga adalah pengguna internet. Penetrasi pengguna internet, baik yang melalui PC/Laptop maupun ponsel, di kota-kota besar di Indonesia (urban) ternyata cukup tinggi. dan hal ini merata di semua kota yang di survey. (2) Delapan dari sepuluh orang melakukan akses melalui mobile internet. Rata-rata  orang menggunakan 1-2 gadget untuk connect ke internet. (3) Selama 3-5 jam dalam sehari habiskan waktu untuk akses internet. Dalam satu hari, mereke dapat menghabiskan lebih dari tiga jam untuk berselancar di dunia maya. Kegiatan mereka cukup beragam, mulai dari yang hanya baca berita di portal online, update status di situs-situs media sosial yang mereka miliki, sampai kadang-kadang mereka melakukan transaksi online. (4) Pengguna internet rata-rata memiliki lebih dari sau target. Gadget merupakan barang wajib yang harus dimiliki oleh para pengguna internet. Untuk  semua kelas ekonomi sosial ternyata pengguna internet rata-rata memiliki gadget antara satu dan dua di mana ponsel adalah gadget yang paling wajib dimiliki oleh mereka. (5) Sembilan dari sepuluh pengguna internet memiliki akun Facebook. Satu dari lima pengguna internet memilki akun twitter.

Peluang dari sub culture: women, youth, dan netizen.

Women

Jumlah total penduduk Indonesia berjumlah 221.229.339 orang, jumlah populasi perempuan adalah sebesar 50 persen atau kurang lebih 110.313.129. Dari jumlah total perempuan tersebut peluang yang didapatkan dari konsumen perempuan yaitu  perempuan di Indonesia sebagai konsumen tidak hanya melakukan keuangan keluarga, namun sampai memutuskan apa saja yang harus digunakan oleh semua anggota keluarga. Dengan keadaan ini, tentunya produsen dapat mendapatkan peluang yang besar untuk menawarkan produknya melalui perempuan. Dengan kegiatan perempuan melakukan perbincangan (gossip) dengan lingkungan sekitar dengan membicarakan produk yang digunakan, menyarankan produk yang digunakan, dan tanggapan dari produk yang digunakan. Adanya word of mouth dari konsumen perempuan dapat menjadikan peluang produsen untuk mengembangkan produk yang dijual

Youth

Youth sebagai sub culture memiliki peluang yang besar untuk marketer. Anak muda dapat menjadi ikon atau mewakili sebagai ambassador dari suatu perusahaan. Seperti, yang dilakukan oleh Bank Danamon dengan program “Semangat Bisa!” yang mengangkat semangat nasionalisme serta kecintaan akan negeri memilih untuk mengajak Pandji Pragiwaksono menjadi program ini. Selain itu, dengan sifat anak muda yang dinamis dan dapat menerima suatu hal yang baru marketer memiliki kesempatan untuk menawarkan produk yang baru dengan mengetahui kebutuhan dan keinginan mereka yang biasanya dijadikan lifestyle atau gaya hidup.

Netizen

Peluang yang didapatkan dari netizen adalah produsen melakukan promosi melalui media sosial yang biasa digunakan oleh pengguna internet. Dengan biaya yang tidak terlalu mahal dapat memiliki manfaat yang lebih.

Produk yang ditawarkan untuk sub culture: women, youth, dan netizen.

Dari penjelasan kecenderungan dan peluang diatas, maka kami menganalisa produk yang tepat ditawarkan untuk women, youth, dan netizen adalah “AREMA CAFE” Mengapa café? Mengapa mengambil Arema menjadi bagian namanya?

Di kota Malang, café menjadi tempat favorit untuk anak mudanya. Di hari-hari tertentu café selalu ramai didatangi oleh kalangan muda di kota Malang bahkan biasanya mereka harus berpindah ke tempat yang lain karena café yang mereka datangi sudah penuh.

Arema menjadi bagian hal yang terpenting untuk masyarakat kota Malang. Ketika club sepak bola Arema yang identik dengan singa saat melakukan pertandingan dengan club sepak bola lain dipastikan suasana stadion selalu ramai. Hal tersebut mengartikan masyarakat kota Malang mencintai Arema.

Ada yang spesial dari supporter Arema yaitu supporter wanita nya yang menamakan dirinya “Aremanita” sebagai pemasar atau produsen dapat memanfaatkan peluang ini. Dengan jumlah yang besar dan loyalitas yang tinggi terhadap Arema dapat menjadikan wanita di kota Malang sebagai pangsa pasar.

Arema tidak hanya aktif di dunia offline saja, di pengguna internet atau netizen Arema memiliki positioning yang baik. Dengan account twitter @AremaFC dukungan yang positif selalu diberikan dari netizen untuk club sepak bola tercintanya yaitu Arema.

Di kota Malang supporter Arema yang dominannya adalah anak muda seperti kalangan pelajar, dan mahasiswa yang selalu memberikan dukungan moril ketika Arema bertanding dengan club sepak bola lain.

Dengan menggunakan historical Arema, dekorasi yang berkaitan Arema, pelayanan yang baik, menu makanan yang berkualitas kami yakin penawaran untuk sub culture women, youth dan netizen  akan dapat berkembang kedepannya.

Hello world!

Selamat datang di Student Blogs. Ini adalah posting pertamaku!