Mengulas Paradigma Penelitian Ilmu Komunikasi dan Aplikasinya

Salma Salima Hariza Nihru

Ilmu Komunikasi

Universitas Brawijaya

Kali ini saya akan mengulas tentang perbedaan dari paradigma-paradigma yang ada dalam metode penelitian ilmu komunikasi. Namun, sebelum melangkah lebih jauh, alangkah lebih baik jika kita memahami pengertian dari paradigma itu sendiri agar dapat memahaminya secara lebih holistik dan mendalam.

  1. Paradigma
  2. Paradigma memiliki definisi yang beragam. Kuhn (1962) dalam bukunya The Structure of Scientific Revolution memaparkan  bahwa  paradigma  adalah  gabungan  hasil  kajian  yang terdiri  dari  seperangkat  konsep,  nilai,  teknik, dan lain-lain, yang  digunakan  secara  bersama-sama dalam  suatu  komunitas  untuk  menentukan  keabsahan  suatu  masalah  berserta solusinya. Sementara itu, paradigma  menurut  Guba  (1990) seperti  yang  dikutip Denzin  &  Lincoln (1994) didefinisikan sebagai: “a  set  of  basic  beliefs  (or  metaphysics)  that  deals  with  ultimates  or  first principles…a  world  view  that  defines,  for  its  holder  the  nature  of  the world…” Jika diterjemahkan ke dalam Bahasa Indonesia, paradigma adalah seperangkat keyakinan atau kepercayaan yang  mendasari  seseorang  dalam  melakukan  segala  tindakan. Sedangkan Capra (1991)  dalam  bukunya Tao  of  Physics menyatakan  bahwa  paradigma  adalah asumsi  dasar  yang  membutuhkan  bukti  pendukung  untuk asumsi-asumsi  yang ditegakkannya,  dalam  menggambarkan  dan  mewarnai  interpretasinya  terhadap realita sejarah sains.

    Selanjutnya, paradigma oleh Bhaskar (1989) diartikan sebagai: “…a) a set of assumptions, b) belief  concerning  and  c)  accepted  assume  to  be  true,” Dalam Bahasa Indonesia, pernyataan tersebut dapat  diterjemahkan sebagai   seperangkat   asumsi yang dianggap   benar   apabila   melakukan   suatu pengamatan  supaya  dapat  dipahami  dan  dipercaya  dan  asumsi  tersebut  dapat diterima.  Dengan  kata  lain,  paradigma  adalah  sebuah  bingkai  yang  hanya perlu  diamati  tanpa  dibuktikan  karena  masyarakat  para  pendukungnya  telah mempercayainya.  Hanya  tinggal  kita  saja  yang  perlu  untuk  mencermati  dari berbagai macam paradigma yang ada.

    Ritzer (1981) mendefinisikan paradigma sebagai, “…A fundamental image of the subject matter within a science. It serves to define  what  should  be  studied,  what  question  should  be  asked,  how  the should be asked and what rule should be followed in interpreting the answer obtained. The paradigm is the broadest unit consensus within a science and serve  to  differentiate  on  scientific  community  (or  subcommunity)  from another.  It  subsumes,  defines  and  interrelates  the  exemplars  theories  and method and instruments that exist within it”.

    Ritzer (1981) menyatakan   argumentasinya   bahwa paradigma   adalah pandangan  yang  mendasar  dari  para  ilmuwan  atau  peneliti  mengenai  apa  yang seharusnya   menjadi   kajian   dalam   ilmu   pengetahuan,   apa   yang   menjadi  pertanyaannya  dan  bagaimana  cara  menjawabnya.    Paradigma  juga  dikatakan sebagai konsensus dari para ilmuwan yang dapat melahirkan suatu komunitas atau subkomunitas yang  berbeda  dengan  yang  lain.  Paradigma  yang  berbeda  tersebut terjadi   karena   adanya   perbedaan   dalam   teori   yang   digunakan,   metode   dan instrumen yang ada untuk mencapai suatu kebenaran.

    2. Pergeseran Paradigma Ilmu Pengetahuan

    Padangan   tentang paradigma   ilmu   pengetahuan   selalu dinamis, dengan kata lain nampak   akan   selalu berubah  dari waktu ke waktu.  Suatu  kelahiran  paradigma  yang  baru  tidak  akan  pernah terlepas  dari  paradigma  sebelumnya.  Atau  mungkin  paradigma  yang  muncul setelah  paradigma  sebelumnya  sebagai  paradigma  yang  selalu  berusaha  untuk memperbaiki   kekurangan-kekurangan   yang   ada   pada   paradigma   sebelumnya. Pergeseran  paradigma  akan  selalu  muncul  untuk  mendapatkan  realitas  yang sebenarnya  sesuai  dengan  masa  atau  waktu  yang  selalu  berganti  sesuai  dengan zaman  dan  peradaban  yang  ada  di  muka  bumi  ini.

    Kuhn  (1962)  menyatakan  bahwa  pergeseran  paradigma  ilmu  pengetahuan akan menimbulkan suatu kekerasan dan dapat memicu adanya suatu revolusi. Hal ini   disebabkan   penganut   paradigma   tersebut   berusaha   untuk   menggoyang paradigma   sebelumnya agar mereka   berada   dalam   paradigma   yang   baru. Penganut  paradigma  yang  baru  pada  masa  itu  berusaha  untuk  memusnahkan  dan mengantikan  paradigma  sebelumnya  dengan  jalan  mengungkap  realitas  yang  ada dengan menjelaskan segala bentuk kelemahan pada paradigma sebelumnya. Untuk   itu, Mulyana (2003) menyebut 2   faktor   yang   mendorong   terjadinya pergeseran paradigma yaitu: “   …1) gugatan   para   ilmuwan   perihal   daya   eksploratori   pendekatan kuantitatif-positivistik  terhadap  objek  kajian  dan  2)  laju  perubahan  social yang  begitu  cepat  memerlukan  pendekatan  dan  model  studi  yang  lebih kontekstual dan handal”.

    Pergeseran  paradigma  akan memunculkan penganut-penganut  yang mempercayai  dan  meyakini  masing-masing  paradigma.  Oleh  sebab  itu, adanya pergeseran paradigma menciptakan suatu pengembangan dalam paradigma ilmu pengetahuan.

     3. Perkembangan Paradigma Ilmu Pengetahuan

    Setelah   kita   paham   mengenai   definisi dari   ‘paradigma”,   maka   yang menjadi  pertanyaan  saat  ini  adalah  bagaimana  seorang  dapat  menggembangkan suatu   paradigma   ilmu. Burrel   &   Morgan   (1979)   mengembangkan aspek paradigma   tersebut   dalam   asumsi   meta teoritikal   yang   mendasari   kerangka referensi,  model  teori  dan  modus  operandi  dari  ilmuwan  yang  berada  dalam paradigma  tersebut. Semua  definisi  dari  paradigma tidak mengindikasikan kesamaan pandangan seutuhnya karena dalam setiap paradigma pasti   terdapat   ilmuwan   yang   mempunyai   pandangan   yang   berbeda-beda.

    Kesamaan  yang  bisa  ditunjukkan  hanya  dalam  konteks  dasar  dan  asumsi,  hal inilah  yang  membedakan  antara  satu  paradigma  dengan  paradigma  yang  lainnya. Sehingga  Burrell  &  Morgan  (1979)  membagi  paradigma  tersebut  sebagai a) paradigma  fungsionalis  (Thefunctionalist  paradigm),  b)  paradigma  interpretif (The  Intrepretive  Paradigm),  c)  paradigma  radikal  structuralis  (The  Radical Structuralist   Paradigm)   dan   d)   paradigma   radikal   humanis   (The   Radical Humanist Paradigm).

    Sedangkan Chua (1986) membagi paradigma dalam ilmu sosial menjadi 3 paradigma yaitu a) The Functionalist (Mainstream) Paradigm, b) The Interpretive Paradigma  dan  c)  The  Critical  Paradigm.  Menurut  Chua,  pernyataan yang diungkapkan  oleh  Burrell  &  Morgan  untuk  paradigma  radikal  humanis  dengan paradigma  radikal  strukturalis  dapat  digabungkan  menjadi  satu  paradigma  yaitu paradigma  kritis  (The Critical  Paradigm).  Sarantakos  (1993)  dalam  Triyuwono (2006)  membagi  paradigma  yang  hampir  sama  dengan  Chua  (1986)  yaitu 1)  The Functionalist (Positivist) Paradigm, 2) The Interpretive Paradigm, 3) The Critical Paradigm.

    Eichelberger  (1989)  dalam  Miarso  (2005)  selanjutnya  membedakan  tiga paradigma  filsafat  yang  melandasi  metodologi  pengetahuan,  yaitu: positivistik, fenomenologik,  dan  hermeneutik.  Sedangkan  Bhaskar  (1989)  mengelompokkan paradigma  dalam  3  kelompok  yang  didasarkan  pada  pengaruh  individu  dan masyarakat.    Pengelompokkan  tersebut  meliputi  paradigma positivisme (Emile Durkheim), paradigm conventionalisme (Max Weber), paradigma realisme (Karl Marx). Sedangkan Guba (1990) seperti  yang dikutip oleh Salim (2006) membagi paradigma  menjadi  empat  kelompok  yaitu positivisma,  post-positivism,  critical theory dan konstruktivisme. Dari    beberapa    ilmuwan yang    telah   dijabarkan    di    atas, dalam mengembangkan  paradigmanya,  penulis  melihat  pada  dasarnya   adalah  sama karena didasarkan dari 4 dimensi yang ada dalam filsafat ilmu pengetahuan yaitu dimensi   ontologis,   dimensi   epistemologis,   dimensi   aksilogis   dan   dimensi metodologis.

    Menurut  Burrell  &  Morgan  (1979),  Chua  (1986)  maupun Eichelberger  (1989), Bhaskar  (1989),  Guba  (1990)  dimensi tersebut  dijabarkan  dalam penjelasan berikut ini:

    1. Dimensi Ontologis

    Pada tataran dimensi ontologis, peneliti berada dalam pendekatan objektif dan akan  melihat  kenyataan  sebagai  objek. Artinya, objek  adalah sesuatu  yang berada  di  luar  peneliti  dan  yang  bebas  dari penelitinya  (value  free)  dan  dapat diukur   secara   objektif   dengan   menggunakan   instrument. Sedangkan   dalam pendekatan  subyektif,  kenyataan  adalah  sesuatu  yang  ada  dan  dilibatkan  oleh peneliti dalam penelitiannya dan peneliti juga ikut andil dalam penelitian tersebut (not value free).

    1. Dimensi Epistemologi

    Peneliti  dalam  dimensi  ini  memberikan  jarak  yang  cukup  jauh  dengan objek    penelitiannya    untuk    pendekatan    objektif    sehingga    lebih    bersifat independent.  Pendekatan  objektif  atau  positivistic  lebih  menuntut  penyusunan kerangka teori. Sebaliknya  untuk pendekatan subyektif atau paradigma alternatif, peneliti  justru  berinteraksi  dengan  objek  yang  diteliti.  Interaksi  tersebut  bisa berbentuk  tinggal  bersama  atau  mengamati  perilaku  subjek  penelitian  dalam jangka  waktu tertentu  dan  tidak  menuntut  penyusunan  kerangka  teori  sebagai persiapan awal penelitian.

    1. Dimensi Aksiologis

    Dalam  pendekatan  objektif  nilai-nilai  yang  dianut  peneliti  tidak  boleh mempengaruhi  penelitiannya  dengan  menghindari  pernyataan-pernyataan  yang berkaitan  dengan  nilai  dalam  hasil  penelitian  dengan  menggunakan  bahasa  yang impersonal,  sedangkan  dalam  pendekatan  subyektif  justru  sebaliknya,  Bahasa digunakan  sebagai  hubungan  untuk  mendekatkan  antara  peneliti  dengan  objek yang diteliti sehingga lebih bersifat personal.

    4. Tiga Paradigma

  3. Secara umum, paradigma dalam Ilmu-ilmu Sosial bisa dikategorikan ke dalam 3 paradigma, yang masing-masing selain memiliki asumsi epistemologi, ontologi, dan aksiologi berbeda, juga memiliki perbedaan asumsi metodologi berbeda pula. Tiga paradigma tersebut adalah Positivism/Post-positivism, Interpretif atau seringkali disebut Konstruktivis, dan Kritis. Tetapi pemisahan antara ketiga paradigma tersebut dalam prakteknya, tidaklah sebuah cut and clean kategori; ada “wilayah abu-abu” diantara ketiganya (Ringkasannya bisa dipelajari melalui Tabel 2, yang hanya akan diuraikan secara singkat dalam tulisan ini). Sebagai contoh, antara paradigma “tradisional” atau klasikal dengan paradigma constructivism/constructionism. Dalam tradisi constructionism, ada tradisi yang menekankan subjectivity dan reflexsivity; sebagai contoh penelitian dan kajian mengenai symbolic interactionism Chicago School yang dipelopori Herber Mead. Tetapi ada pula yang tetap menekankan objectivity (seperti studi-studi Manfred Kuhn et al. yang dikenal sebagai Iowa School, dengan melakukan pengukuranpengukuran kuantitatif tentang self-concept dsb. Demikian juga dengan banyak penelitian di bawah kerangka teori-nya Berger, i.e. social construction of reality, yang menerapkan quality criteria yang serupa atau pararel dengan yang dipergunakan dalam paradigma klasik (yang menekankan objectivity, seperti internal validity, external validity, reliability, dsb mungkin walaupun memakai istilah lain, seperti trusworthiness, credibility, transferability, dependability, dan confirmability).

    Sebaliknya, studi-studi dalam paradigma klasik seringkali menggunakan metode-metode kualitatif yang oleh banyak pihak dinilai sebagai “milik” paradigma interpretivism (seperti comparative analysis). Antara paradigma konstruksionisme dengan paradigma teori-teori kritikal, muncul apa yang disebut critical constructionism. Yang terakhir ini berbeda dengan arus utama paradigma constructionism (yang cenderung bersifat relativis) dari segi dipergunakannya kerangka teori yang normative yang memungkinkan peneliti membuat value judgement, seperti halnya dalam paradigma teori-teori kritis. Karena itu critical constuctionist menggunakan goodness atau quality criteria yang pararel dengan yang dipergunakan paradigma teori-teori kritis. Antara lain catalytic authenticity yang pararel dengan empowerment dalam paradigma teori-teori kritis, yakni criteria sejauh mana studi yang dilakukan bisa memberdayakan subjek penelitian. Kemudian ontological authenticity yang pararel dengan enlightenment, merujuk pada criteria apakah hasil studi mampu memberi penyadaran atau pencerahan bagi subjek penelitian.

    1. Paradigma Positivis

    Paradigma positivisme/fungsionalis adalah paradigma yang muncul paling awal  dalam  dunia  ilmu  pengetahuan.    Kepercayaan  dalam  pandangan  ini  berakar pada  paham  ontology  realisme  yang  menyatakan  bahwa  realitas  berada  dalam kenyataan dan berjalan sesuai dengan hukum alam. Penelitiannya berusaha untuk mengungkap  kebenaran  dari  realitas  yang  ada  dan  bagaimana  realitas  tersebut berjalan sesuai dengan kenyataannya. Dalam paradigma ini mempunyai prespektif yang   didasarkan   pada   sosiologi   regulasi   dengan   pendekatan   obyektif   dan cenderung mengasumsikan dunia sosial sebagai produk empiris yang sangat nyata serta mempunyai hubungan satu dengan yang lainnya (sebab-akibat). Paradigma  ini  muncul  pada  abad  ke  19  yang  dimunculkan  oleh  August Comte (1830-1842), kemudian dikembangkan oleh Emile Durkheim (1895)  yang menjadi  rujukan  penganut  positivist  dalam  bidang  sosial.

  4. a. Paradigma Positivistik
  5. 1. Aspek Ontologis
  6. a. Paradigma Positivistik
  7. 1. Aspek Ontologis
  8. Menurut  Durkheim (1895) seperti yang dikutip Salim (2006) objek studi sosiologi adalah fakta social (social-fact): “…any way of acting, whether fixed or not, capable of exerting over the individual an  external  constraint;  or  some  thing  which  in  general  over  the  whole  of  given society whilst having an existence of its individual manifestation.” Artinya, fakta  sosial  dalam  uraian  di  atas  adalah  semua  yang  berkaitan dalam  kehidupan,  sekalipun  fakta  sosial  tersebut  berasal  dari  luar  kesadaran individu. Untuk  mencapai  kebenaran  ini  peneliti  harus  menanyakan  secara langsung  kepada  obyek  yang  diteliti,  dan  obyek  tersebut  dapat  memberikan jawaban langsung kepada peneliti yang bersangkutan.

    Paradigma positivist/fungsionalis ini telah ratusan tahun menjadi pedoman bagi  ilmuwan  dalam  mengungkapkan  kebenaran  realitas. Kebenaran  tersebut tidak  merupakan  kebenaran  yang  mutlak  karena  harus  diuji  terlebih  dahulu berdasarkan beberapa faktor empiris untuk menjustifikasi kebenaran realitas yang ada pada saat itu. Dalam paradigma ini obyek ilmu pengetahuan dan pernyataan pengetahuan   harus   memenuhi   beberapa   syarat   yaitu   harus   dapat   diamati (observable),  dapat  diulang  (repeatable),  dapat  diukur  (measurable),  dapat  diuji (testable) dan dapat diramalkan (predictable) (Kerlinger, 1973).

    Paradigma  ini  memiliki  pendekatan  yang  berusaha  untuk  menjelaskan hubungan   sosial   dengan   pemikiran   yang   rasional,   dengan   orientasi   yang pragmatik berkaitan dengan pengetahuan tepat guna dan mengedepankan regulasi yang  efektif  serta  pengendalian  hubungan  sosial. Pendekatan  ini  cenderung mengartikulasikan dunia  sebagai  dunia  artefek  empiris  dan  hubungan  yang  ada dapat  diidentifikasi  dan  diukur  dengan  ilmu  natural  seperti  biologi  dan  mekanik. Paradigma  ini  di  dasarkan  pada  norma  rasionalitas  purposif  (Burrel  &  Morgan, 1979).

    Berlandaskan fakta sosial dan uraian di atas, maka dapat dikatakan bahwa paradigma  positivist/fungsionalis  melihat  teori  dalam  penelitian  sebagai  dogma atau  doktrin  karena  itu  dalam  mengembangkan  penelitiannya  selalu  didasarkan pada  logika  deduktif,  aksioma,  standart  dan  hukum,  selain dari  itu  bukanlah sebuah  teori  dan  menempatkan  hipotesis  sebagai  fakta  atau  hukum. Peran  dari akal menurut positivist/fungsionalis adalah semua yang ada di dasarkan pada akal, demikian  pula  dengan  kebenaran.  Kebenaran  menurut  positivist  adalah  segala sesuatu yang dapat diterima oleh akal sehat walaupun jumlahnya hanya sedikit. Positivist/fungsionalis    selalu    menekankan    pada    generalisasi    untuk memberikan  kekuatan  akumulasi  pengetahuan  atas  fenomena  sebab  akibat.

    Serta penjelasan   keilmuannya   selalu   berdasarkan   pada   angka   yang   mengandung kepastian  sehingga  tidak  bisa  ditolak.  Bagi  pendukung  paradigma  ini  penjelasan dan  deskripsi  adalah  hubungan  antara  logika,  data  dan  hukum  atau  mungkin standart yang diperoleh. Bukti yang dihasilkan adalah bukti yang didasarkan pada pengamatan  yang  tepat  dan  dapat  diulang  kembali  atau  mungkin  digeneralisasi.

    Sedangkan nilai yang ada dalam paradigma positivist selalu bersifat konvensional yaitu  bersifat  keras,  menekan,  memaksa  (reduksionis)  karena  kebenaran  adalah segala  sesuatu  yang  berada  di  dalam  maupun  diluar  yang  harus  bersifat  obyektif sehingga   bebas   dari   nilai   (value   free),   sehingga   kedudukan   peneliti   dalam paradigma ini bebas dari kepentingan.

    1. Paradigma Konstruktivis

    Paradigma interpretif   muncul   karena   adanya   ketidakpuasan   terhadap pandangan  yang  dikemukakan  oleh  paradigma  fungsionalist/positivist  khususnya mengenai   realitas,   karena   menurut   intrepretivist,   realitas   adalah   yang   dapat dikonstruksi   oleh   individu   yang   terlibat   dalam   situasi   penelitian,   sehingga paradigma  ini  menolak  3  prinsip  yang  didengung-dengungkan  oleh penganut paradigma    fungsionalis/positivist    yaitu    1)    ilmu    merupakan    usaha    untuk mengungkap realitas 2) hubungan subyek dan obyek harus dapat digambarkan dan 3) hasil temuan harus dapat digeneralisasi. Atau dapat dikatakan bahwa fenomena yang akan diteliti   adalah   harus   dapat   diobservasi,   dapat   diukur   dan   dapat dijelaskan melalui karakter yang ada dalam penelitian tersebut. Paradigma interpretif lebih menekankan pada peranan bahasa, interpretasi dan  pemahaman  akan  makna  dari  realitas  (Chua  1969).

    Menurut  Morgan  (1979) paradigma    ini    menggunakan    cara    pandang    para  nominalis    dari    paham nominalisme  yang  melihat  realitas  sosial  sebagai  suatu  yang  tidak  lain  adalah label, nama, konsep yang digunakan untuk membangun realitas.

    Dalam paradigm intrepretif,  secara  ontology melihat realitas  bersifat  sosial,  karena itu  selalu menghasilkan  realitas  majemuk  di  dalam  masyarakat. Mereka menganggap bahwa realitas tidak dapat diungkapkan secara jelas dengan satu kali pengamatan dan  pengukuran  oleh  sebuah  ilmu  pengetahuan. Keberadaan  realitas  merupakan seperangkat bangunan yang kokoh dan menyeluruh serta mempunyai makna yang bersifat  kontekstual  dan  dialektis.

    Paradigma  ini  memandang  suatu  fenomena alam  atau  social  dengan  prinsip  relativitas,  sehingga  penciptaan  ilmu   yang diekspresikan dalam teori bersifat sementara, local dan spesifik. Dalam   sisi   epistemology   hubungan   peneliti   dengan   obyek   bersifat interaktif  melalui  pengamatan  langsung  terhadap  aktor  sosial  dalam  setting  yang alamiah  agar  dapat  memahami  dan  menfsirkan  bagaimana  aktor  sosial  tersebut menciptakan  dunia  sosial  dan  memeliharanya. Peneliti  bebas  melakukan  segala tindakannya tanpa harus takut pada hukum, standart, norma yang ada asalkan apa yang dimaknai sesuai dengan realitas yang ada pada saat itu. Fenomena yang ada dapat  dirumuskan  dalam  ilmu  pengetahuan  dengan  memperhatikan  gejala  atau hubungan  yang  ada  di  antara  keduanya yang  hasilnya  akan  sangat  subyektif  oleh sebab itu tidak bersifat bebas nilai (Not Value Free).

    Dalam  hal  metodologi,  penelitian  ini  harus  dilakukan  di lapangan  atau alam bebas dan dapat secara wajar dalam mengungkap fenomena yang ada secara keseluruhan  tanpa  adanya  campur  tangan  dari  peneliti  sehingga  lebih  bersifat alamiah.  Teori  tumbuh  karena  adanya  fakta  di lapangan  yang  sudah  diamati dengan melihat interaksi tersebut, sehingga teori atau hipotesis tidak perlu dibuat sebelumnya  seperti  pada  paradigma  fungsionalis/positivist. Pengumpulan  data dilakukan  melalui  proses  dialog  dengan  aktor  sosial  untuk  memaknai  realitas sosial   yang   ada   dan   lebih   memfokuskan   pada   konstruksi,   rekonstruksi   dan elaborasi dalam suatu proses sosial.

    1. Paradigma Kritis

    Paradigma Kritisme lahir karena ketidakpuasan dari paradigma  yang lahir terlebih    dahulu    yaitu    paradigma    fungsionalis/positivisme    dan    paradigm interpretifis.   Pada  paradigma   fungsionalis   dilandasi   dengan   pemikiran   yang dimulai  dengan swift  epistemology dari epistemology  deduktif  platonik  menjadi epistemology  induktif  empiric  Aristotelian.  Reaksi  epistemology  ini  lahir  dari penolakan   kebenaran   yang   bersifat   spekulatif   dan   jauh   dari   maksud   yang sebenarnya dari pencarian kebenaran.

    Sedangkan   paradigma   interpret if   lebih   menekankan   pada   peranan   bahasa, interpretasi dan pemahaman (Chua 1969). Menurut Morgan (1979) paradigma ini menggunakan cara pandang para nominalis dari paham nominalisme yang melihat realitas  social  sebagai  suatu  yang  tidak  lain  adalah  label,  nama,  konsep  yang digunakan untuk membangun realitas. Chua (1986)  mengungkapkan  bahwa  upaya  interpretif  tetap  memiliki kelemahan.

    Ada  3  kritisme  dari  paradigma  interpretif  ini  (Habermas,  1978; Bernstein, 1976; Fay, 1975 dalam Chua, 1986) yaitu: Pertama, persetujuan pelaku sebagai standar penilaian kelayakan penjelasan masih menjadi ukuran yang sangat lemah,  kedua,  perspektif  kurang  mempunyai  dimensi  evalutif.  Habermas  (1978) berpendapat  bahwa  peneliti  interpretif  masih  tidak  mampu  mengevaluasi  bentuk kehidupan  dan  arena  itu  tidak  mampu  menganalisa  bentuk  kesadaran  salah  dan dominasi  yang  mencegah  pelaku  untuk  mengetahui  kepentingan  akan  kebenaran.

    Ketiga,  peneliti  interpretif  memulai  dengan  asumsi  order  sosial  dan  konflik  yang berisi  skema  interpretif,  sehingga  terdapat  kecenderungan  untuk  mengacuhkan konflik kepentingan antar kelas dalam masyarakat. (Chua, 1986) Dari  kelemahan-kelemahan  yang  terdapat  dalam  paradigma  interpretif, maka  paradigma  kritis  dikembangkan  dari  konsepsi  kritis  terhadap  berbagai pemikiran dan pandangan yang sebelumnya. Paradigma kritis menggunakan bukti ketidakadilan  sebagai  awal  telaah,  dilanjutkan  dengan  merombak  struktur  atau sistem  ketidakadilan  dan  dilanjutkan  dengan  membangun  konstruksi  baru  yang menampilan  sistem  yang  adil. Sedikitnya  ada  dua  konsepsi  yang  diungkapkan Salim  (2006)  perihal paradigm kritis  yang  perlu  dipahami:  Pertama,  kritik internal  terhadap  analisis  argument  dan  metode  yang  digunakan  dalam  berbagai penelitian. Kritik  ini  memfokuskan  pada  alasan  teoritis  dan  prosedur  dalam memilih,   mengumpulkan   dan   menilai   data   empiris.   Paradigma   ini   lebih mementingkan   pada   alasan,   prosedur   dan   bahasa   yang   digunakan   dalam mengungkap  kebenaran.    Oleh  karena  itu, penilaian  silang  secara  kontinyu  dan pengamatan  data  secara  intensif  merupakan  merk  dagang  dari  paradigma  ini.

    Kedua,  makna  kritis  dalam  reformulasi  masalah  logika.    Logika  bukan  semata-mata  pengaturan  formal  dan kriteria  internal  dalam  pengamatan,  tetapi  juga melibatkan  bentuk  khusus  pemikiran  yang  difokuskan  pada  skeptisisme  dalam pengertian  rasa  ingin  tahu  terhadap  institusi  sosial  dan  konsepsi  tentang  realitas yang berkaitan dengan ide, pemikiran, dan bahasa melalui kondisi sosial historis. Ide   yang   menonjol   dalam   prespektif   ini   sebagian   besar   mempunyai keyakinan  bahwa  setiap  suatu  yang  ada  baik  dalam  individu  atau  masyarakat memiliki  potensi  historis  yang  tidak  bisa  diterangkan.  Hal  ini  disebabkan  karena manusia  secara  khusus  tidak  dibatasi  keberadaannya  dalam  kondisi  tertentu, dimana  keberadaan  dan  lingkungan  materinya  tidak  dipengaruhi  oleh  kondisi disekitarnya (Chua, 1986).

    Dalam  berbagai  paradigma,  penekanan  terhadap  obyektivitas  menjadi suatu  keharusan  agar  temuan  yang  diperoleh  bermakna.  Sedangkan  hal-hal  yang bersifat subyektif harus  sejauh mungkin dihindari merupakan hal  yang mengada-ada  menurut  paradigma  kritis.  (Salim,  2006)  Dalam  berbagai  paradigma  yang menyatakan  bahwa  ilmu  pengetahuan  merupakan  studi  masa  kini  dibantah  oleh paradigma  kritis,  karena  studi  saat  ini  adalah  studi  yang  berasal  dari  pengamatan tentang   keteraturan   dan   ketidak   teraturan   sosial   di   masa   lampau.   Hasilnya kemudian  secara  tidak  langsung  digunakan  untuk  mempelajari  atau  menghindari hal-hal   yang   dianggap   kurang   bermanfaat   dalam   berbagai   aspek   realitas kehidupan  di  masa  depan.  Oleh  sebab  itu, paradigma  kritis  tidak  sependapat dengan  argumentasi bahwa  ilmu  dapat  memprediksi  atau  mengontrol. Ilmu menurut paradigma ini hanya dapat mengatur fenomena  yang bisa menuntun kita untuk  mengenali  berbagai  kemungkinan  dan  di  pihak  lain,  ilmu  juga  dapat menyaring kemungkinan yang lain.

    Manusia   menurut   paradigma   ini   dipersepsikan   sebagai   mahluk   yang dinamis dan selalu dapat menyesuaikan diri dengan lingkungan sosialnya. Namun mereka merasa dibatasi, ditekan oleh kondisi dan faktor sosial, dieksploitasi oleh orang  lain  untuk  memperoleh  argumentasi  yang  benar  atau  suatu  pembenaran supaya   dapat   diterima,   sehingga   membatasi   seseorang   untuk   mengeksplore potensi dalam dirinya secara utuh karena takut melanggar hukum, norma,  dogma atau   standard   yang   ada   dan   bersifat   memaksa.   (Sarantakos   1993   dalam Triyuwono, 2000) Paradigma  kritis  berpandangan  bahwa  unsur  kebenaran  adalah  melekat pada   keterpautan   antara   tindakan   penelitian   dengan   situasi   historis   yang melingkupi.

    Penelitian tidak dapat terlepas dari konteks tertentu, misalnya situasi politik,    kebudayaan,    ekonomi,    etnis    dan    gender.    Peneliti    juga    harus mengembangkan  penyadaran  (conscientization).  Hal  ini  menuntut  sikap  hati-hati dalam   kegiatan   penelitian,   karena   kegiatan   penelitian   dapat   mengungkap ketidaktahuan dan salah  pengertian. Tidak semua asumsi dan teori dapat memuat kebenaran,   sehingga   dalam   proses   kegiatan   penelitian   dimungkinkan   pula diperoleh  wawasan  baru  dalam  cara  berpikir  tertentu.  Bagaimana  membangun kesatuan  teori  dan  praksis?    Hal  inilah  yang  mendorong  terjadinya  transformasi dalam struktur kehidupan menurut paradigma kritis (Salim, 2006)

    Keyakinan  tentang  pengetahuan  dalam  paradigma  kritis  bahwa  standar penjelasan  ilmiah  yang  digunakan  sifatnya  temporal  dan  terikat  dengan  konteks yang  ada.  Kebenaran adalah  proses  yang  ingin  diungkapkan  dan  berada  dalam praktek sosial historis. Tidak ada fakta yang independent terhadap teori yang bisa menguatkan  atau  melemahkan  sebuah  teori.  Metode  penelitian  yang  disukai  oleh peneliti  dalam  paradigma  ini  cenderung  mengacuhkan  model  matematis  atau statistic.  Teori  dalam  paradigma  ini  mempunyai  hubungan  khusus  dengan  dunia praktek  yaitu  mengarah  pada  kesadaran  akan  kondisi  yang  terbatas.  Hal  ini melibatkan pengungkapakan hukum social obyektif dan universal tapi lebih tepat sebagai produk dari bentuk dominasi dan ideology.

    Dari uraian di atas yang perlu digarisbawahi dari paradigma kritis adalah: Secara  ontology  memandang  realitas  dalam  realisme  historis  yaitu  realitas  yang teramati (virtual reality)  adalah semu terbentuk oleh proses sejarah dan kekuatan social,  budaya  dan  ekonomi  public.  Dalam  pandangan  paradigma  kritis  realitas tidak  berada  dalam  harmoni  tetapi  lebih  dalam  situasi  konflik  dan  pergulatan sosial Secara  epistemology  mengenai  hubungan  antara  periset  dan  obyek  yang  dikaji adalah    transaksional/subyektivis:    hubungan    periset    dengan    obyek    studi dijembatani  nilai  tertentu.  Pemahaman  tentang  realitas  merupakan  temuan  yang dijembatani  nilai  tertentu.  Maksudnya  adalah  ada  hubungan  yang  erat  antara peneliti  dengan  obyek  yang  diteliti.  Sehingga  peneliti  ditempatkan  pada  situasi sebagai actor intelektual dalam proses transformasi social.

    Secara metodologi, paradigma kritis lebih menekankan penafsiran peneliti pada  obyek  penelitiannya.  Dalam  hal  ini  proses  dialogal  sangat dibutuhkan, dimana dialog kritis digunakan untuk melihat secara lebih dalam kenyataan social yang  telah  ada,  sedang  dan  akan  terjadi. Penelitian  dalam  paradigma  kritis  tidak bisa menghindari unsur subyektifitas peneliti yang bisa membuat perbedaan gejala social  dari  peneliti  lainnya  yang  lebih  mengutamakan  analisis  yang  menyeluruh, kontekstual dan multi level.

     

    5. Perbedaan Tiga Paradigma Berdasarkan Aspek Ontologis, Epistemologis, dan Aksiologis

    a. Paradigma Positivis

1. Aspek Ontologis

  1. Kriyantono (2012) menyatakan bahwa terdapat realitas yang nyata dan diatur oleh kaidah-kaidah tertentu yang berlaku universal (keseluruhan) meskipun kebenaran mengenai pengetahuan tersebut hanya sebatas probabilistik. Realitas dipandang dapat diukur dengan standar tertentu, dapat dilakukan generalisasi, dapat diukur dengan standar tertentu, dan terbebas dari konteks ruang dan waktu (berlaku umum, kapan pun). pendekatan ini dapat disebut pendekatan objektif atau pendekatan positif karena mengikuti kaidah-kaidah tertentu. Sebagai contoh: apabila ada buah yang jatuh dari pohon, paradigma ini akan beranggapan bahwa pasti akan jatuh ke bawah. Karena ada aturan umum yang berlaku universal, yaitu apabila benda jatuh maka akan tertarik ke int ibumi (Kriyantono, 2015).

    Paradigma ini berasumsi bahwa realitas berada di luar dunia subjektif ilmuan (terpisah dengan individu) karena bagi paradigma ini realitas bersifat objektif (Kriyantono, 2012). periset harus menjaga jarak dengan realitas yang diriset supaya tidak ada unsur penilaian subjektif (kepentingan pribadi). Contoh: untuk mengukur konsep “stategi”, periset tidak diperbolehkan memberikan definisi strategi kepada responden karena dapat mempengaruhi pemikiran dan jawaban responden. Oleh karena itu, periset harus mampu menyesuaikan penggunaan kata yang sesuai dengan responden.

    Dapat diukur dengan standart tertentu, digeneralisasi dan bebas dari konteks ruang dan waktu (Kriyantono, 2012). Paradigma ini biasanya menggunakan instrumen kuesioner. Kuesioner merupakan kaidah universal yang mampu mewakili realitas yang diteliti. Kuesioner perlu diadakan uji  validasi dan reliabilitas, karena merupakan hukum objektif (Kriantono, 2015).

    2. Aspek Epistemologis

  2. Terdapat realitas objektif sebagai suatu realitas yang eksternal di luar diri ilmuwan dan ilmuwan harus menmbuat jarak sejauh mungkin dengan objek peelitian untuk menghindari penilaian subjektif (Kriyantono, 2012). tujuan untuk mempelajari realitas adalah untuk menerapkan, menguji atau membuat hukum/kaidah yang bersifat universal tentang realitas yang diriset. Penjelasan dari Kriyantono, R. (2015) bahwa orang yang diteliti bernama objek riset (merupakan objek sehingga bersifat pasif). Maksud dari bersifat pasif adalah hanya merespon pertanyaan dalam kuisioner.kuesioner dianggap sebagai kaidah atau hukum universal yang mewakili realitas yang diteliti. Sebagai hukum objektif, kuesioner harus diuji validitas dan reliabilitasnya.

  3. Aspek Aksiologis
    1. Aspek Ontologi

      Nilai, etika, dan pilihan moral harus berada di luar penelitian (Kriyantono, 2012). Peneliti tidak diperbolehkan untuk mempengaruhi pendapat dari responden. Peneliti berperan sebagai disenterested scientist, peneliti menjalankan fungsi dengan hanya mengambil fakta yang sudah ada tanpa harus merasa empati dengan masyarakat yang ingin diteliti (Erianto, 2011). Sebagai contoh, apabila peneliti ingin meneliti pada suatu desa, maka peneliti tidak harus tinggal di desa itu untuk menanyakan hal yang ingin diketahui, karena bisa menggunakan instrumen kuesioner.

      Tujuannya untuk eksplanasi, prediksi, dan control realitas (Kriyantono, 2015). Paradigma ini terletak pada bagaimana periset mencoba mengobjektifkan pikiran (yaitu teori-teori). Paradigma ini bertujuan untuk menjelaskan mengenai kejadian dan fenomena yang terjadi. Selain itu juga bertujuan untuk memprediksi hal atau fenomena yang kemungkinan bisa terjadi. Paradigma positivistik juga bertujuan sebagai kontrol suatu realitas.

      b. Paradigma Konstruktivis

      1. Aspek Ontologi

      Paradigma ini menganggap bahwa realitas merupakan konstruksi sosial. Kebenaran suatu realitas bersifat relative, berlaku sesuai konteks spesifik yang dinilai relevan oleh pelaku sosial (Kriyantono, 2012). Contoh: apakah pohon yang tumbang di hutan menimbulkan bunyi? Jawabannya “belum tentu”. bisa jadi yang ditanya tidak berada di hutan pada saat pohon jatuh atau tumbangnya hanya setengah sehingga tertahan oleh pohon lain atau kebetulan di bawah pohon tumbuh semak belukar yang banyak sehingga efek bunyi berkurang (Kriyantono, 2015).

      Realitas adalah hasil konstruksi mental dari individu pelaku sosial sehingga realitas dipahami secara beragam dan dipengaruhi oleh pengalaman, konteks dan waktu. Realitas merupakan hasil konstruksi individu, maka realitas periset adalah satu kesatuan tak terpisah. Individu adalah subjek memaknai realitas. Contoh: saat mengukur atau memaknai konsep sikap, periset memberi kebenasan individu yang diriset untuk mengekspresikan secara bebas konstruksinya dengan sikap. Kemudian periset mendialogkan konstruksi konstruksi tentang sikap dari berbagai individu untuk menghasilkan sebuah kesimpulan yang berlaku pada culture-sharing tertentu, yaitu di antara para subjek riset (Kriyantono, 2015).

      1. Aspek Epistimologi

      Pemahaman terhadap suatu realitas atau temuan penelitian merupakan produk interaksi antara peneliti dengan yang diteliti. Ilmuwan dan objek atau realitas yang diteliti merupakan kesatuan yang tidak terpisahkan (Kriyantono, 2012).

      1. Aspek Aksiologi

      Nilai, etika, dan pilihan moral merupakan bagian takterpisahkan dari suatu penelitian. Peneliti dianggap sebagai passionate-participant, fasilitator yang menjembatani keragaman subjektivitas pelaku sosial (Erianto, 2011). peneliti tidak bisa hanya tinggal mengambil realitas yang riil, tetapi konstruksi atas realitas. Setiap orang memiliki pemaknaan dan konstruksi yang berbeda sehingga peneliti harus menempatkan dirinya di tengah keanekaragaman pandangan tersebut.

      Tujuannya untuk rekonstruksi realitas sosial secara dialektis antara peneliti dengan pelaku sosial yang diteliti (Erianto, 2011). Tujuan riset adalah memfasilitasi terjadinya dialog konstruksi-konstruksi yang beragam dari individu-individu. Memungkinkan periset bertindak sebagai partisipan dalam proses konstruksi realitas. Secara metodologi, disebut kualitatif dimana pembuktian kebenaran mengutamakan empati dan interaksi dialogis antara periset dan subjek riset untuk merekonstruksi realitas yang diriset. Tidak dikenal istilah responden atau objek riset. Lebih menggunakan istilah informan atau partisipan atau subjek riset, karena ketiga ini merepresentasikan sifat aktif dari individu dalam memaknai realitas (Kriyantono, 2015). Wawancara mendalam  dan observasi langsung di lapangan memungkinkan periset dan subjek riset berinteraksi dialektis memaknai realitas. Periset adalah instrumen itu sendiri yang memilih, menyusun, dan menentukan pertanyaan yang didialogkan dengan subjek riset.

      c. Paradigma Kritis

      1. Aspek Ontologi

    Realitas yang teramati (virtual reality) merupakan realitas semu yang telah terbentuk oleh proses sejarah dan kekuatan-kekuatan sosial, budaya, dan ekonomi politik (Kriyantono, 2012). pendekatan kritis menganggap bahwa realitas yang diamati hanyalah realitas yang ada di permukaan (di kulit). realitas yang sebenarnya dalahrealitas yang masih tersembunyi dan berada di dalam (bisa jadi karena disembunyikan). realitas semu dapat terjadi karena dibentuk oleh proses sejarah dan konsentrasi kekuatan di masyarakat dalam berbagai bidang (Kriyantono, 2015). Contoh: tayangan televisi yang sekarang menonjolkan realitas “orang kaya, rumah,danmobil mewah” adalah realitas semu yang menggambarkan orang Indonesia, yang didominasi oleh kelompok menengah dan miskin. Realitas semu dibentuk oleh kekuatan-kekuatan dominan yang ingin mengampanyekan simbol-simbol “kemakmuran dan kemewahan” di mayarakat.

    1. Aspek Epistemologi

    Hubungan antara peneliti dengan realitas yang diteliti selalu dijembatani oleh nilai nilai tertentu. Pemahaman tentang suatu realitas merupakan value-mediated Findings (Kriyantono, 2012). pengaruh filsafat rasionalisme terhadap riset kualitatif adalah terletakpada saat analisis dan interpretasi fakta-fakta di lapangan. Rasio sebagai sumber pengetahuan tampak saat perisetberteori termasuk menghubungkan dengan situasi historis dari fakta-fakta tersebut. Analisisndan interpretasi ini mesti mendalam dan holistiksehingga dapat menjelaskan realitas (Kriyantono, 2015). pengaruh empirisme pada riset kualitatif tampak pada saat periset terjun langsung ke lapangan untuk menggali data. Periset memberikan kesempatan luas subjek riset untuk mengekpose pengalaman-pengalaman mereka sendiri. Sementara filsafat idealis maupun humanistis memengaruhi riset kualitatifkarena memungkinkan periset mendialogkan proses-proses mental yang ada dalamdirinya (berpikir, emosi-emosinya, pengalaman-pengalamannya) dengan proses mental dari subjek risetnya.

    1. Aspek Aksiologi

    Nilai, etika, dan pilihan moral merupakan bagian takterpisahkan dari penelitian. Peneliti menempatkan diri sebagai intektual transformasi, advokat dan aktivis (Kriyantono, 2012). periset dalam pendekatan kritis berupaya untuk mempromosikan nilai-nilai untuk pencerahan masyarakat melalui kritik-kritik sosial (Kriyantono, 2015). Ilmuwan menawarkan pandangan-pandangan transformasi sosial dan aktivis perubahan. Tujuan dari penelitian menggunakan paradigma kritis adalah untuk kritik sosial, transformasi, emansipasi dan social empowerment (Kriyantono, 2012).

    6. Aplikasi Paradigma Positivistik dalam Penelitian Komunikasi

Aplikasi dari paradigma positivistik adalah penelitian mengenai pengaruh promosi melalui media sosial dengan minat beli seseorang. Sebelum itu, peneliti harus melakukan literature review untuk mencari indikator dalam teori yang sudah ada. Setelah itu, melalui indikator tersebut diturunkanlah item pertanyaan. Pertanyaan disebar melalui kuesioner untuk kemudian diuji validitas dan reliabilitasnya, setelah itu dianalisis.

 

Daftar Rujukan

Kriyantono, Rachmat. 2012. Etika & Filsafat Ilmu Komunikasi. Malang : UB Press.

Kriyantono, Rachmat. 2015. Public Relations, Issue, & Crisis Management. Jakarta: Prenadamedia Group.

Mulyana, D. 2003. Metodologi Penelitian Kualitatif Paradigma Baru Ilmu
Komunikasi dan Ilmu Sosial Lainnya. Rosda Karya. Bandung

Guba,E. 1990. The Paradigma Dialog. London: Sage

Kuhn, T.S. 1962, The Structure of Scientific Revolution. Peran Paradigma Dalam
Revolusi Sains. Edisi Terjemahan. Rosda Karya. Bandung

Salim, A. 2006. Teori & Paradigma Penelitian Sosial.Tiara Wacana. Yogyakarta.