Mengenal Riset Komunikasi dan Aplikasinya

SALMA SALIMA HARIZA NIHRU

185120207111025

ILMU KOMUNIKASI

UNIVERSITAS BRAWIJAYA

 

RESUME BUKU TEKNIK PRAKTIS RISET KOMUNIKASI OLEH RACHMAT KRIYANTONO (2016)

BAB 8

APLIKASI RISET KOMUNIKASI: MEDIA

Kajian komunikasi terjadi pada berbagai tingkatan dan bidang. Bidang-bidang tersebut tidak terpisah secara total. Dalam mengkaji fenomena komunikasi, dapat terjadi tumpang tindih dalam bidang-bidangnya. Pembagian bidang-bidang dilakukan untuk memudahkan pemahaman dan identifikasi.

DUA PERSPEKTIF RISET MEDIA MASSA

Kajian mengenai media massa terbagi dalam dua perspektif dengan menitikberatkan pada kondisi khalayak media tersebut. Pertama, khalayak media bersifat aktif ketika menerima pesan. Mereka tidak serta merta menerima pesan-pesan yang disampaikan. Kedua, khalayak media bersifat pasif, yaitu mudah dipengaruhi oleh media karena mereka asal menerima pesan yang diberikan. Khalayak yang bersifat aktif memiliki anggapan bahwa media memiliki efek yang terbatas. Dan sebaliknya, khalayak yang bersifat pasif beranggapan bahwa media memiliki kekuatan, sehingga efeknya tidak terbatas. Kondisi khalayak yang demikian itu memunculkan teori-teori dengan model-model yang beragam.

  1. Model Peluru (Komunikasi Satu Langkah)

Menurut model peluru, media dianggap memiliki pengaruh yang tidak terbatas dan kuat terhadap khalayak. Model ini berasumsi bahwa komponen-komponen komunikasi (komunikator, pesan, media) memiliki pengaruh yang sangat kuat (powerful) untuk mengubah sikap dan perilaku khalayak. Teori ini disebut peluru karena seakan-akan komunikasi ditembakkan kepada khalayak dan khalayak tidak dapat menghindar. Analoginya seperti jarum yang disuntikkan ke tubuh pasien dan pasien tidak kuasa menghindar. Teori yang termasuk model peluru yaitu: teori Stimulus-Respons, SMCR (Source-Message-Channel-Receiver), Spiral of Silence, Agenda Setting, dan sebagainya. Contoh riset yang menggunakan model ini yaitu “Pengaruh Iklan Politik Pemilu di TV Dengan Sikap Pemilih”.

  1. Model Uses & Gratifications

Riset model uses & gratifications berlawanan dengan riset model peluru. Riset model uses & gratifications memandang komunikasi, khususnya media massa, tidak mempunyai kekuatan untuk memengaruhi khalayak. Dalam model ini, dijelasan bahwa khalayak menggunakan media massa berdasarkan motif-motif tertentu dan media hanya berusaha memenuhi kebutuhan khalayak. Pada akhirnya, media yang mampu memenuhi kebutuhan khalayak disebut sebagai media yang efektif.

Beberapa macam riset yang berangkat dari model uses and gratifications adalah “pengaruh tingkat pendidikan terhadap frekuensi menonto tayangan berita”,  “ frekuensi ibu rumah tangga dalammenonton TV”, “pengaruh jenis hiburan terhadap pilihan jenis media”, dan “korelasi tingkat ekonomi dengan preferensi terhadap program TV”.

Model uses and gratification melahirkan konsep baru, yaitu GS (Gratification Sought) dan GO (Gratification Obtained). penggunaan konsep-konsep baru ini memunculkan teori yang merupakan varian dari teori uses and gratifications, yaitu teori expectancy values (nilai pengharapan). Menurut teori pengharapan, orang mengarahkan diri pada dunia (misalnya media) berdasarkan pada kepercayaan dan evaluasi evaluasi mereka tentang dunia tersebut. Gratification sougth adalah kepuasan yang dicari atau diinginkan individu ketika mengkonsumsi suatu jenis media tertentu. Sedangkan gratification obtained adalah kepuasan yang nyata yang diperoleh seseorang setelah mengonsumsi suatu jenis media tertentu. Contoh riset Uses and Gratifications: Perbedaan Kepuasan Pengguna Internet Pada Situs Liputan6.com dan Seputarindonesia.com di Sidoarjo. Berikut sistematika proposal penelitiannya:

BAB I PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang Masalah

1.2 Perumusan Masalah

1.3 Tujuan Penelitian

1.4 Manfaat Penelitian

BAB II TINJAUAN PUSTAKA

2.1 Tinjauan Pustaka

2.2 Hipotesis Teoretis

BAB III METODOLOGI

3.1 Pendekatan dan Metode Riset

3.2 Operasionalisasi Konsep

3.3 Hipotesis Riset

3.4 Populasi, Sampel, dan Teknik Penarikan Sampel

3.5 Unit Analisis 

  1. Model Agenda Setting

Agenda setting memiliki kesamaan dengan teori peluru yang menganggap media mempunyai kekuatan untuk mempengauhi khalayak. Perbedaannya teori peluru memfokuskan pada sikap (afektif), pendapat atau bahkan perilaku. Sementara agenda setting berfokus pada kesadaran dan pengetahuan (kognitif). Pada awal perkembangannya, riset agenda setting lebih banyak murni kuantitatif. Konsep-konsep seperti agenda media dan agenda publik, dalam tradisi kuantitatif dioperasionalkan sebagai susunan urutan isu-isu yang diberitakan media massa dan susunan isu-isu yang dianggap penting oleh masyarakat, sehingga dapat diukur secara kuantitatif. Namun seiring perkembangannya, agenda setting digabung dan dilengkapi dengan studi kualitatif, baik sebagai pelengkap studi awal, analisis prosesnya maupun efek lanjutannya.

Littlejohn dan Foss memaparkan bahwa fungsi dari agenda setting adalah proses linier yang terdiri dari tiga bagian. Pertama, agenda media itu sendiri harus disusun oleh awak media. Kedua, agenda media dalam beberapa hal memengaruhi atau berinteraksi dengan agenda publik atau naluri publik mengenai pentingnya isu, yang nantinya mempengaruhi agenda kebijakan. Ketiga, agenda kebijakan adalah apa yang dipikirkan para pembuat kebijakan publik yang dianggap penting oleh publik. Karena itu, riset yang menggunakanmodel ini harus mengkaji ketiga hal tersebut. Dalam buku Communication Theories, Origins, Methods, Uses in the Mass Media, Severin dan Tankard menyampaikan dimensi-dimensi dari ketiga agenda tersebut adalah sebagai berikut:

  1. Agenda Media. Dimensinya yaitu visibilitas (jumlah dan tingkat menonjolnya berita), audience salience (relevansi isi berita dengan kebutuhan khalayak), dan valensi (menyenangkan atau tidaknya cara pemberitaan suatu peristiwa).
  2. Agenda publik. Dimensinya yaitu keakraban (derajat kesadaran khalayak akan topik tertentu), penonjolan pribadi (relevansi kepentingan individu dengan ciri pribadi), dan kesenangan (pertimbangan senang atau tidaknya akan topik berita).
  3. Agenda kebijakan. Dimensinya yaitu dukungan (kegiatan menyenangkan bagi posisi suatu berita), kemungkinan kegiatan (kemungkinan pemerintah melaksanakan apa yang diibaratkan), kebebasan bertindak (nilai kegiatan yang mungkin dilakukan pemerintah).

Dalam mengukur variabel agenda publik dapat menggunakan beberapa cara, yaitu:

  1. Cara pertama, meminta self report khalayak tentang topik-topik apa yang dianggap penting oleh responden (apa yang dikenal, dianggap menonjol, dan menjadi prioritas khalayak), baik itu berdasarkan komunikasi intrapersonal maupun interpersonal.
  2. Cara kedua, responden diminta mengisi isu-isu apa yang yang penting ke dalam daftar isu-isu yang disediakan peneliti.
  3. Cara ketiga, variasi dari kedua teknik di atas. Responden diberikan daftar topik yang diseleksi peneliti dan responden diminta membuat urutan rangking mengenai penting tidaknya isu menurut responden.
  4. Cara keempat, cara paired-comparison. Setiap isu yang diseleksi sebelumnya dipasangkan dengan setiap isu yang lain dan responden diminta mengenal setiap pasang dan mengidentifikasi isu mana yang lebih penting.
  5. Sedangkan variabel antara dan efek lanjutan ini adalah variabel yang berpotensi memengaruhi agenda publik.

Beberapa contoh rumusan permasalahan berdasarkan model agenda setting antara lain: apakah agenda media memengaruhi agenda publik? Apakah ada hubungan antara tingkat pendidikan dengan apa yang dianggap penting oleh khalayak terhadap isu-isu politik? Bagaimana pengaruh kredibilitas media terhadap agenda publik? 

  1. Analisis Isi Kuantitatif

Berelson dan Kerlinger menyatakan bahwa analisis isi merupakan suatu metode untuk mempelajari dan menganalisis komunikasi secara sistematik, objektif, dan kuantitatif terhadap pesan yang tampak. Sedangkan menurut Budd, analisis isi adalah suatu teknik sistematis untuk menganalisa isi pesan dan mengolah pesan atau suatu alat untuk mengobservasi dan menganalisis isi perilaku komunikasi yang terbuka ari komunikator yang dipilih. Prinsip analisis isi, yaitu: 1. prinsip sistematik (ada perlakuan prosedur yang sama pada semua isi yang dianalisis). 2. prinsip objektif (hasil analisis tergantung pada prosedurriset bukan pada orangnya). 3. prinsip kuantitatif (mencatat nilai-nilai bilangan atau frekuensi untuk melukiskan berbagai jenis isi yang didefinisikan). 4. prinsip isi yang nyata (yang diriset dan dianalisis adalah isi yang tersurat, bukan makna yang dirasakan periset).

Tujuan diadakan analisis terhadap isi pesan komunikasi adalah: mendeskripsikan dan membuat perbandingan terghadap isi media, membuat perbandingan antara isi media dengan realitas sosial, isi media merupakan refleksi dari nilai-nilai sosial dan budaya serta sistem kepercayaan mayarakat, mengetahui fugsi dan efek media,menevaluasi media performance, dan mengetahui apakah ada bias media.

Tahapan dalam analisis isi meliputi:

  1. Merumuskan masalah
  2. Menyusun kerangka konseptual untuk riset deskriptif
  3. Menyusun perangkat metodologi (menentukan metode pengukuran atau prosedur operasional dan menentukan unit analisis, kategorisasi, dan uji reliabilitas, menentukan populasi dan sample, menentukan metode pengumpula data, menentukan metode analisis, dan interpretasi data). Uji Reliabilitas Kategori dilakukan untuk menjaga reliabilitas dari kategorisasi. Salah satu uji reliabilitas yang dapat digunakan adalah berdasarkan rumus Ole R. Holsty. Di sini periset melakukan pretest dengan cara mengkoding sample ke dalam kategorisasi. Kemudian hasil pengkodingan dibandingkan dengan menggunakan rumus Hosty:

CR: Coeficient Reliability

M : jumlah pernyataan yang disetujui oleh pengkoding dan periset

N1 N2 : jumlah pertanyaan yang diberi kode oleh pengkodingdan periset 

  1. Analisis Isi Kualitatif

Analisis isi kuantitatif memfokuskan risetnya pada isi komunikasi yang tersurat. Karena itu tidak dapat digunakan untuk mengetahui isi komunikasi yang tersirat. Contohnya: mengapa surat kabar A memberitakan konflik Ambon lebih banyak dari surat kabar lainnya, mengapa RCTI memberitakan isu kenaikan BBM yang berbeda dengan Trans TV. Sehingga diperlukan analisis isi yang medalam dan detail untuk memahami produk isi media dan mampu menghubungkannya dengan konteks sosial yang terjadi sewaktu pesan itu dibuat.

Analisis isi kualitatif disebut juga Ethnographic Content Analysis (ECA), yaitu perpaduan analisis isiobjektif dengan observasi partisipan. Artinya, periset berinteraksi dengan material material dokumentasi atau bahkan melakukan wawancara mendalam sehingga pernyataan pernyataan yang spesifik dapat diletakkan pada konteks yang tepat untuk dianalisis. Analisis isi kualitatif bersifat sistematis, analisis tetapi tidak kaku seperti analisis kuantitatif. Kategorisasi dipakai hanya sebagai guide, diperbolehkan konsep konsep atau kategorisasi yang lain muncul selama proses riset.

Beberapa yang harus diperhatikan oleh periset: Isi (situasi sosial seputar dokumen yang diriset). proses atau bagaimana suatu produk media/isi pesannya dikreasi secara aktual dan diorganisasikan secara bersama. Emergency (pembentukan secara bertahap dari makna sebuah pesan melalui pemahaman dan interpretasi). 

  1. Analisis Framing

Analisis framing adalah salah satu metode analisis media. Pengertian framing secara sederhana adalah membingkai sebuah peristiwa. Subur mengatakan bahwa framing digunakan untuk mengetahui bagaimana perspektif atau cara pandang yang digunakan wartawan ketika menyeleksi isu dan menulis berita. Cara pandang tersebutpada akhirnya menentukan fakta apa yang diambil, bagian mana yang ditonjolkan dan dihilangkan serta hendak dibawa kemana berita tersebut. Framing merupakan bagaimana suatu realitas dibingkai, dikonstruksi, dan dimaknai oleh media. Dalam praktik, analisa framing banyak digunakan untuk melihat frame surat kabar. Dapat dilihat bahwa masing-masing surat kabar sebenarya memiliki kenijakan politis sendiri. Contohnya, Jawa Pos dan Kompas dalam menyikapi majalah Playboy. Terdapat beberapa model analisi framing, antara lain dari Murray Edelman, Robert N. Entman, William A. Gamson maupun Zhongdang Pan dan Gerald M. Kosicki. 

  1. Analisis Wacana

Foucault mengatakan bahwa wacana sebagai bidang dari semua pernyataan, kadang sebagai sebuah individualisasi kelompok pernyatan, kadang sebagai praktik regulatif yang dilihat dari sejumlah pernyataan. Erianto mendefinisikan analisis wacana sebagai upaya pengungkapan maksud tersembunyi dari sang subjek yang mengemukakan suatu pernyataan. Wacara merupakan suatu praktik sosial yang menyebabkan suatu hubungan dialektis antara peristiwa yang diwacanakan dengan konteks sosial, budaya, ideologi tertentu. Disini bahasa dipandang sebagai faktor penting untuk merepresentasikan maksud si pembuat wacana. Terdapat beberapa model analisis wacana, yaitu model analisis Halliday dan model analisis Norman Fairclough. 

  1. Semiotik

Semiotik adalah ilmu mengenai tanda-tanda. Studi tentang tanda dan segala yang berhubungan dengannya, cara berfungsinya, hubungan dengan tanda tanda lain, pengirimannya dan penerimaannya oleh mereka yang menggunakannya. Preminger memaparkan ilmu ini menganggap bahwa fenomena sosial atau masyarakat dan kebudayaan itu merupakan tanda tanda. Tokoh penting dalam semiotik antara lain Ferdinand de Saussure. Kajian semiotik menurutnya lebih mengarah pada penguraian sistem tanda yang berkaitan dengan linguistik.

Analisis semiotik berupaya menemukan makna tanda termasuk hal-hal yang tersembunyi di balik sebuah tanda (teks, iklan, berita). Karena sistem tanda sifatnya amat kontekstual dan bergantung pada penggunaan tanda tersebut. Pemikiran pengguna tanda merupakan hasil pengaruh dari berbagai konstruksi sosial di mana pengguna tanda tersebut berada. Misalnya, kita dapat menanyakan: “mengapa iklan mobil menampilkan model cewek yang duduk di atas mobil?; apa makna sosial lirik lagu; mengapa berita menggunakan frase atau kalimat tertentu ketika menggambarkan kelompok tertentu?” dan sebagainya

Yang dimaksud “tanda” ini sangat luas. Peirce membedakan tanda atas lambang, ikon, dan indeks. Dapat dijelaskan sebagai berikut:

  1. Lambang: suatu tanda di mana hubungan antara tanda dan acuannya merupakan hubungan yang sudah terbentuk secara konvensional. Lambang ini adalah tanda yang dibentuk karena adanya consensus dari para pengguna tanda. Warna merah bagi masyarakat indonesia adalah lambang berani, mungkin di Amerika bukan.
  2. Ikon: suatu tanda di mana hubungan antara tanda dan acuannya berupa hubungan berupa kemiripan. Jadi, ikon adalah bentuk tanda yang dalam berbagai bentuk menyerupai objek dari tanda tersebut. Patung kuda adalah ikon dari seekor kuda.
  3. Indeks: suatu tanda di mana hubungan antara tanda dan acuannya timbul karena ada kedekatan eksistensi. Jadi indeks adalah suatu tanda yang mempunyai hubungan langsung dengan objeknya. Asap merupakan ideks dari adanya api.
  1. Aplikasi Teori Niche (Ekologi Media) Untuk Mengukur Persaingan Media

Teori Niche dapat digunakan untuk riset mengenai tingkat kompetisi antar media massa, baik itu surat kabar, radio maupun televisi. Teori ini juga dapat digunakan untuk mengukur persaingan antarprogram PR beberapa perusahaan. Bagi praktisi PR, riset ini berguna sebagai upaya melakukan monitoring lingkungan eksternal, misalnya untuk mengukur persaingan dengan kompetitor. Teori Niche muncul dari disiplin ekologi. Menurut teori ini, untuk mempertahankan kelangsungan hidupnya setiap makhluk hidup memerlukan sumber penunjang yang ada di alam sekitarnya. Bila sumber penunjang kehidupan yang diperlukan itu sama dan jumlahnya terbatas, maka akan terjadi perebutan atau persaingan.

Secara ekologis ruang kehidupan dan tingkat persaingan media dapat diriset secara kuantitatif dengan menghitung besaran nichenya. Niche didefinisikan sebagai semua komponen dari lingkungan di mana organisasi atau populasi berinteraksi, sifat interaksi tersebut tergantung pada tiga faktor:

  • Niche Breadth: daerah atau ruang sumber penunjang kehidupan yang ditempati oleh masing-masing individu atau tingkat hubungan antara populasi dengan sumber penunjang.
  • Niche Overlap: Penggunaan sumber penunjang kehidupan yang sama dan terbatas oleh kedua makhluk hidup atau lebih sehingga terjadi tumoang tindih atau derajat persamaan ekologis atau kompetisi antarpopulasi dalam memperebutkan sumber penunjang.
  • Jumlah seluruh sumber daya yang dapat digunakan oleh seluruh populasi.
  1. Readership Studies

Ini adalah metode yang digunakan untuk meriset khalayak. Riset ini semula banyak digunakan untuk riset surat kabar. Karena itu disebut readership studies. Namun kemudian digunakan pula untuk meriset khalayak radio dan televisi. Secara umum ada beberapa jenis riset yang bisa dimasukkan dalam riset-riset readership, antara lain:

Item-Selection Studies (Tracking Media)

Riset ini bermaksud mengetahui penerimaan khalayak terhadap ini media. Hasil riset ini bisa digunakan sebagai rekomendasi rubrik mana yang paling digemari dan tidak. Periset menanyakan kepada responden dengan cara mengidentifikasikan sebagian mana dari media (headline, teks, foto, rubrik, dan lainnya) yang mereka baca. Contoh pertanyaan yang diajukan: “Ketika membaca surat kabar ini, rubrik mana yang pertama kali anda baca?” atau “Rubrik mana yang terakhir anda baca?”.

Unit analisis dalam riset tracking media adalah: Artikel berita yang spesifik dan semua isi media. Biasanya riset ini berupaya mengkorelasikan dengan karakter khalayak. Misalnya hubungan antara tingkat pendidikan dengan pilihan rubrik di jawa pos, korelasi antara tingkat ekonomi dengan preferensi menonton televisi, dan lain-lain.

Audience Profile (Profil Khalayak)

Riset untuk memahami karakteristik-karakteristik konsumen media, yang mencakup demografis, gaya hidup, psikografis, dengan metode survei. Riset ini termasuk kategori riset perilaku konsumen. Diharapkan dengan mengetahui profile khalayak, pihak media atau PR dapat menentukan program-program yang sesuai dengan kebutuhan khalayak.

  1. Reader-Nonreader Studies

Riset ini bertujuan mengindentifikasi kelompok masyarakat mana yang termasuk pembaca dan kelompok masyarakat mana yang bukan. Dalam riset ini juga digali alasan mengapa mereka membaca atau mengapa mereka tidak membaca. Teknik pengumpulan datanya bisa menggunakan interview, telepon, dan lainnya. Operasional dari non-reader ditentukan dari jawaban “tidak” dari pertanyaan apakah anda biasanya membaca surat kaba? Atau berapa sering anda membaca surat kabar? Semakin sering berarti dia dalah reader. Dalam hal praktik, periset menyebarkan kuesioner kepada khalayak dari berbagai kategori segmen (usia, jenis kelamin, pekerjaan, penghasilan atau data sosiodemografis lainnya). kemudian secara proporsional dipilih samper dari masing-masing kategori segmen itu, dengan tetap memerhatikan sifat keterwakilan populasi.

Studi Perbandingan Pembaca dan Editor

Mempertemukan persepsi atau selera antara editor dengan pembaca. Misalnya memperbandingkan faktor kualitas antara pembaca dengan editor. Misalnya:

Menurut editor, kualitas lebih baik jika

  1. Berita lebih banyak ditulis oleh wartawannya sendiri
  2. Bila onformasi lebih banyak dari iklan
  3. Analisis berita lebih banyak

Sedangkan menurut pembaca, kualitas lebih baik bila:

  1. Terdapat ringkasan berita
  2. Terdapat banyak feature dan berita olahraga
  3. Terdapat banyak surat pembaca yang dimuat

Kemudian temuan data dari editor dan pembaca dibandingkan.

Program Testing

Metode ini jika diterapkan untuk isi iklan disebut copy testing. Sama seperti copy testing, program testing ini bisa dilakukan sebelum, selama, dan sesudah suatu program televisi atau radio ditayangkan. Karena itu ada tiga tahap program testing:

  1. Tahap perencanaan atau ide, program yang diuji masih dalam bentuk naskah acara siaran.
  2. Tahap produksi prototipe, program yang diuji sudah dalam bentuk “rough package” tetapi misalnya belum diberi ilustrasi musik, judul, belum diedit, dan lainnya.
  3. Tahap produksi final paket acara, program yang diuji sudah berbentuk merupakan paket acara, dan pengujiannya bisa sebelum, selama atau sesudah ditayangkan.

Music Call-out Research

Riset ini ada kaitannya dengan “format acara musik”. Melalui teknik ini, sejumlah “hook” (potongan lagu-lagu masing-masing selama 5-15 detik) diperdengarkan kepada sejumlah sampel untuk dimintakan penilaiannya. Dengan cara ini akan diperoleh gambaran lagu-lagu mana yang disukai. Pengumpulan data bisa melalui kuesioner langsung atau melalui telepon.

Station Image

Ini adalah riset tentang citra media. Biasanya sangat penting bagi praktisi public relations media yang bersangkutan. Contoh pernerapannya di stasiun radio, misalnya di Radio EBS FM yang selalu memutar secara rutin urutan lagu-lagu pop kreatif, top 40, dan lain-lain, perlu dikaji apakah dengan adanya program tersebut telah terbentuk citra pada khalayak bahwa radio tersebut adalah radio pop. Ini akan menjadi dasar apakah program tersebut diteruskan atau tidak. Memang riset ini termasuk dalam kategori “tracking media” seperti apa yang disampaikan di sub-bab sebelumnya.

  1. Riset Observasi Partisipan (Konstruktivis) Pada Media

Ada beberapa contoh jenis riset yang menggunakan metode partisipan observasi yang biasa dilakukan untuk menganalisis proses pembuatan pesan di media. Tidak jarang dipadukan dengan wawancara mendalam.

  1. Studi tentang organisasi berita (Studies of News Organizations)
  2. Unit analisis: organisasi berita sebagai institusi yang kompleks
  3. Tujuan Riset: Memahami bagaimana berita memengaruhi Official Interpretations dan kontroversi terhadap peristiwa.
  4. Epistemologi issue: bagaimana cara organisasi pembuat berita memproduksi berita (how do news organizations come to “know” what they “know”)
  5. Metode: Obsetvasi partisipan dengan melihat aktivitas pekerja berita dan aktivitas pendukung
  6. Bisa juga dikombinasikan dengan wawancara dan analisis isi kuantitatif terhadap tema berita
  1. Riset Kultivasi (Cultivation)

“Cultivation” berarti penguatan, pengembangan, perkembangan, penanaman atau pereratan. Maksudnya bahwa terpaan media (khususnya TV) mampu memperkuat persepsi khalayak terhadap realitas sosial. Hal ini tampak pada hipotesis dasar analisis kultivasi yaitu “semakin banyak waktu seseorang dihabiskan untuk menonton TV (artinya semakin lama dia hidup dalam dunia yang dibuat TV), maka semakin seseorang menganggap bahwa realitas sosial sama dengan yang digambarkan TV”

Riset kultivasi dengan demikian adalah riset tentang efek sosial terpaan media massa, sama dengan yang dilakukan melalui riset uses & gratifications atau agenda setting. Bedanya, kultivasi lebih memfokuskan bagaimana oranf mempersepsi realitas sosial setelah dia menonton TV. Cultivation analysis pertama kali dikenalkan oleh George Gerbner pada 1968. menurutnya ada dua tipe penonton TV, yaitu “Heavy-Viewers” dan “Light-Viewers). khalayak yang termasuk “heavy-viewers” menurut Gerbner akan memandang dunia nyata ini sama dengan gambaran yang ada di TV. Semakin sering dia menonton acara kekerasan di TV, maka dia akan menganggap bahwa dunia ini penuh dengan kekerasan.

  1. Readability Studies

Metode ini berupaya menguji tingkat keterbacaan isi media oleh pembacanya. Asumsinya jika berita-berita surat kabar tidak terbaca atau pembaca tidak mengerti kata-kata atau kalimat-kalimat dalam berita tersebut, maka lambat laun akan ditinggalkan pembaca. Riset ini mulai muncul di Amerika. Bagi penulis pesan, uji readability ini berguna sebagai evaluasi untuk membuat tulisan yang lebih bisa dibaca dan dimengerti pembacanya. Mengacu dari artikel Media Watch, berikut penjelasan mengenai Readability Studies. Readability Studies memiliki tiga dimensi dari proses membaca, yaitu:

  1. Pemahaman (Diartikan sebagai tingkat pengertian terhadap kata, frase, dan keterkaitan ide dalam bacaan dengan pengalaman dan pengetahuan pembaca).
  1. Kelancaran (Bagaimana pembaca dapat membaca teks yang diberikan dalam kecepatan maksimal).
  1. Ketertarikan (Diartikan sebagai faktor motivasi yang memengaruhi ketertarikan pembaca terhadap teks).

 

BAB 9

RISET KOMUNIKASI: PUBLIC RELATIONS, ORGANISASI, DAN KOMUNIKASI PEMASARAN

 

SIFAT RISET PUBLIC RELATION

Riset Informal

Riset informal atau bisa disebut riset sehari-hari, dapat dilaksanakan kapan saja dengan prosedur sederhana tanpa dibatasi oleh aturan-aturan baku dalam riset ilmiah. Beberapa contoh riset informal, antara lain sebagai berikut:

  1. Record Keeping

Record keeping berupa pembuatan catatan atau rekaman mengenai segala aktivitas dalam perusahaan, misalnya catatan mengenai kegiatan yang telah dilaksanakan, prestasi yang diperoleh perusahaan, karyawan yang meraih prestasi, pencapaian perusahaan dan alin sebagainya. Pada saat PR membuat profil perusahaan (company profile), record keeping merupakan salah satu hal yang sangat bermanfaat untuk memperkenalkan perusahaan..

  1. Managing by Walking Around (MBWA)

PR melakukan kunjungan ke divisi-divisi kerja dalam perusahaan (company visit) secara aktif dan berkala, melakukan komunikasi personal dengan para karyawan sehingga PR dapat mengetahui kebutuhan, keinginan dan keluhan karyawan.

  1. Kotak Opini (Opinion Box)

Sebuah upaya menampung kritik, saran, keluhan, fakta, opini, pengaduan dari karyawan secara tertulis dan terjamin kerahasiaannta. Kotak opini merupakan fasilitas bagi karyawan yang malu atau takut untuk menyampaikan secara lisan kepada manager.

  1. Unobstrusive Measurement

Riset tentang analisis sesuatu (objek) atau seseorang tanpa mengintervensi objek riset tersebut. Contohnya, riset atau pengamatan dengan memanfaatkan kamera cctv untuk menganalisis kebiasaan orang-orang di lingkungan lokasi riset.

  1. Publicity Analysis

Riset tentang analisis yang berkaitan dengan publisitas di media antara lain analisis frekuensi pemuatan press release yang dilakukan media, peliputan kegiatan-kegiatan PR,  analisis  opini publik mengenai perusahaan atau berita-berita negatif tentang perusahaan yang muncul di media. Contohnya, PR melakukan analisis opini, keluhan, saran dari pembaca dengan membuat kipling “Rubrik Pembaca”.

Riset Formal

Riset formal dilakukan dengan memperhatikan prosedur-prosedur ilmiah, baik secara kuantitatif atau kualitatif. Beberapa riset yang termasuk riset formal antara lain:

  1. Wawancara mendalam

Wawancara mendalam dengan publik eksternal mengenai pandaengan mereka terhadap promosi perusahaan.

  1. Analisis isi

Mencatat dan menganalisis isi mengenai kecenderungan isu-isu yang dianggap penting oleh media selama kurun waktu tertentu.

  1. Survei

Mengadakan survei bagi karyawan untuk mengukur tingkat kepuasan karyawan terhadap organisasi.

  1. Focus Group Discussion (FGD)

Mengadakan FGD bersama dengan tokoh-tokoh masyarakat seperti budayawan, agamawan, birokrat, akademisi, ibu rumah tangga, dan lainnya untuk meberikan pendapat mengenai suatu program yang akan di-launching oleh perusahaan

  1. Eksperimen

Melakukan eksperimen mengenai pengaruh pesan-pesan PR terhadap perilaku karyawan.

Dalam praktiknya, guna mendapat data yang mendalam dan akurat, perusahaan sering kali memadukan riset informal dan formal. Bahkan terkadang perusahaan meminta bantuan lembaga riset profesional atau kunsultan PR dari luar perusahaan untuk melakukan riset agar riset yang dilakukan secara profesional dan hasil risetnya dapat benr-benar diandalkan.

Riset-riset yang dilakukan mengarah pada penentuan karakteristik atau model komunikasi antara PR dan organisasi dengan publiknya. Penjelasan lebih lanjut mengenai model komunikasi akan dibahas setelah ini.

 

MODEL KOMUNIKASI PUBLIC RELATIONS

Terdapat empat tipe atau model komunikasi yang digunakan PR dalam melaksanakan fungsi dan perannya bagi organisasi dan, bagi penulis,

Model Press Agentry

Adalah model komunikasi public relations dimana informasi bergerak satu arah (one-way communication) dari organisasi kepada publiknya. Ini adalah bentuk tertua dari public relations . PR lebih banyak melakukan propaganda atau kampanye melalui komunikasi sutu arah untuk tujuan publisitas yang menguntungkan secara sepihak, khususnya menghadapi media massa dan mengabaikan kebenaran informasi sebagai upaya untuk menutupi unsur-unsur negatif dari perusahaan. Contoh : Pada kasus beberapa artis yang sering mrmbuat sensasi, agar dimuat oleh tayangan-tayangan infotaiment sehingga namanya tetap berkibat, meskipun artis tersebut jarang main sinetron atau menghasilkan album kaset.

Model Public Information

Sifatnya tetap komunikasi satu arah. PR bertindak sebagai “jurnalis in resident”. Berupaya membangun kepercayaan terhadap organisasi melalui komunikasi satu arah, bertujuan untuk memberikan informasi kepada khalayak, dan tidak mementingkan persuasif. Biasanya dilakukan oleh PR pemerintah dan PR organisasi non profit.

Model Two-Way Asymetric

Model ini lebih baik dari model komunikasi yang satu arah. Komunikasi berperan untuk pengumpulan informasi tentang publik untuk pengambilan keputusan manajemen. Walaupun umpan balik dari publik diperhatikan, namun pesa-pesan komunikasi organisasi lebih banyak berusaha agar publik beradaptasi dengan organisasi, bukan sebaliknya . Melalui model ini PR dapat membantu organisasi memersuasi publik untuk berpikir dan berperilaku seperti yang dikehendaki organisasi. Dalam model ini PR menggunakan metode ilmiah (seperti pooling, interview, FGD) untuk mengukur sikap publik, sehingga organisasi dapat men-design program yang bisa mendapatkan dukungan publik.

Model Two-Way Symetric

Dalam model ini, PR menerapkan komunikasi dua arah timbal balik dimana organisasi dan publik berupaya untuk mengadaptasikan dirinya untuk kepentingan bersama. Terbuka untuk proses negosiasi sehingga terjalin relasi jangka panjang. Komunikasi berfungsi sebagai alat negosiasi dan kompromi dalam mewujudkan pemecahan masalah yang “win-win slutions”.

 

KATEGORI RISET PUBLIC RELATIONS

PR dapat meriset pesan, pola interaksi, aliran informasi, motivasi dan sebagainya. Pada dasarnya, riset merupakan sarana melakukan evaluasi program PR. Tahapan-tahapannya yaitu tahap persiapan, pelaksanaan (implementasi), dan efek terhadap khalayak. Pada tahap persiapan bisa dilakukan uji readability untuk mengukur kualitas pesan, pada tahan implementasi PR melakukan riset untuk mengukur jumlah pesan yang disampaikan, jumlah orang yang menerima pesan atau jumlah orang yang menghadiri pesan.

 

MEMONITOR LINGKUNGAN (ENVIRONMENTAL MONITORING)

Public relations menggunakan program enviromental monitoring untuk mengobservasi kecenderungan opini publik dan peristiwa sosial yang mungkin memengaruhi organisasi.  Riset ini dibagi dalam dua fase. Pertama, fase “early warning”, artinya PR berfungsi sebagai “scanner” bagi organisasi. Contoh riset enviromental monitoring: panel study yang menghadirkan “community leader” atau “opinion leader” dan masyarakat yang dianggap berkompeten. Mereka disurvei secara kontinu mengenai ide-ide yang menurut mereka penting; sebuah perusahaan melakukan studi analisis isi terhadap jurnal-jurnal ekonomi, politik dan ilmu lainnya ; sebuah perusahaan mensponsori analisis secara kontinu terhadap surat kabar-surat kabar umum.

 

PUBLIC RELATIONS AUDIT

Audit public relations merupakan sebuah tinjauan dan studi tentang kebutuhan-kebutuhan komunikasi kehumasan dan praktik komunikasi yang sekarang sedang berlangsung. Audit PR yaitu studi komprehensif untuk mengetahui posisi dan kondisi PR dalam organisasi baik secara internal maupun eksternal, mencakup tentang pandangan publik terhadap PR.

Relevant Publics

PR menyusun segmen public yang paling penting bagi organisasi (audience identification). Kemudian masing-masing dideskripsikan sesuai fungsinya-stockholders, karyawan, pelanggan, suppliers, komunitas dan lainnya.

The Organization’s Standing with Publics

Dalam riset ini periset mengukur bagaimana persepsi public terhadap tiga variable. Teori Situasional Crisis Communications (Combs, 2007) menjelaskan tiga variabel dalam situasi krisis yang memengaruhi reputasi perusahaan yaitu:

  • Penanggung jawab krisis pertama (initial crisis responsibility)
  • Sejarah krisis (crisis history)
  • Reputasi perusahaan sebelumnya (prior relational reputation)

Issues of Concern to Publics

PR berusaha mengwtahui dan mengidentifikasi publik berdasarkan isu-isu yang menarik perhatian mereka.

Power of Publics

Publik dirating berdasarkan jumlah kekuatan ekonomi dan politik yang dimiliki.

 

AUDIT KOMUNIKASI ORGANISASI (COMMUNICATION AUDIT)

Audit komunikasi organisasi adalah sebuah analisis yang komplet terhadap komunikasi dari sebuah organisasi dirancang unyuk memotret kebutuhan komunikasi, kebijakan, maupun praktik-praktiknya.

 

SOSIAL AUDIT

Pada umumnya sosial audit merupakan survei sikap dan opini yang mengukur persepsi bermacam-macam publik sebagai wujud respons masyarakat terhadap perusahaan.

Tujuan Audit Komunikasi

Tujuan Audit Komunikasi :

  1. Menentukan ‘lokasi’ dimana kelebihan atau kekurangan muatan informasi terjadi berkaitan dengan topik-topik tertentu.
  2. Menilai kualitas informasi yang dikomunikasikan oleh dan/atau kepada sumber-sumber informasi
  3. Mengukur kualitas hubungan-hubungan komunikasi
  4. Mengenali jaringan-jaringan yang aktif

Pelaksanaan Audit

Audit komunikasi bisa dilakukan oleh manajer public relations sendiri dan dapat dilakukan dengan menyewa tenaga konsultan komunikasi. Seseorang yang melakukan audit harus memahami organisasi.

 

MENGUKUR EFEKTIVITAS KOMUNIKASI ORGANISASI

Profil komunikasi organisasi memiliki beberapa variabel yang diukur:

  • Iklim komunikasi. Subvariabel yang diukur adalah kepercayaan, pembuatan keputusan bersama, pemberian dukungan, keterbukaan, serta perhatian atas tujuan berkinerja tinggi
  • Kepuasan organisasi. Subvariabel yang diukur adalah kepuasan kerja, kepuasan kepenyeliaan atau supervisi, kepuasan upah dan keuntungan, kepuasan penilaian prestasi, promosi, dan peluang kerja, kepuasan pada rekan sejawat, aksesibilitas informasi, serta kualitas media.
  • Penyebaran informasi, adalah persepsi anggota organisasi mengenai jumlah berbagai informasi dalam organisasi yang diterima.
  • Beban informasi, yaitu persepti anggota mengenai jumlah berbagai informasi dalam organisasi yang diharapkan mereka
  • Ketepatan informasi, adalah persepsi anggota organisasi mengenai jumlah bit informasi yang mereka ketahui
  • Budaya organisasi, yaitu persepsi anggota organisasi mengenai nilai kunci dan konsep bersama yang membentuk citra mereka terhadap organisasi.

 

ANALISIS JARINGAN KOMUNIKASI

Prosedur Riset

Panduan proses riset analisis jaringan: mengidentifikasi klik klik dalam keseluruhan sistem dan bagaimana pengaruhnya terhadap perilaku komunikasi, mengidentifikasi beberapa peranan komunikasi yang terspesialisasi, dan mengukur variasi struktur komunikasi.

Frekuensi Pilihan Hubungan Komunikasi

Pilihan komunikasi adalah sedikit banyaknya pilihan yang ditunjuk individu dalam jaringan komunikasi sebagai pasangan komunikasinya. Melalui frekuensi hubungan yang telah ditetapkan, dapat dihitung jumlah hubungan yang muncul dari pilihan semua responden.

Arah Hubungan Komunikasi

Arah hubungan komunikasi adalah kedudukan individu memilih individu lain sebagai pasangan komunikasinya dalam jaringan komunikasinya.

Proksimitas Hubungan Komunikasi

Proksimilitas hubungan komunikasi adalah kedekatan relatif sepasang individu individu dalam berkomunikasi satu sama lain.

Keanggotaan Jaringan Komunkasi

Keanggotaan jaringan komunikasi adalah keterlibatan individu yang memilih individu lain dalam jaringan komunikasi sebagai pasangan komunikasinya.

Kepemukaan Pendapat (Opinion Leader)

Kepemukaan pendapat adalah kedudukan individu dalam jaringan komunikasi yang ditunjukkan dengan jumlah individu lain yang memilihnya sebagai pasangan komunikasi.

Jaringan Komunikasi Personal

Jaringan komunikasi personal adalah keterhubungan individu dalam jaringan komunikasi yang dihubungkan oleh arus komunikasi yang terpola. Hubungan yang dimiliki oleh individu tersebut, baik yang mengarah pada dirinya maupun yang mengarah pada individu lain sebagai pasangan komunikasinya.

Klik

Klik adalah bagian dari suatu sistem jaringan komunikasi yang anggota anggotanya relatif lebih sering berhubungan satu sama lain antar anggotanya. Syarat klik adalah: setiap klik paling sedikit terdiri dari tiga anggota, setiap anggota klik tidak mempunyai 50% hubungan, dan semua nggota klik harus berhubungan satu sama lain secara langsung maupun tidak langsung.

Penghubung Antar Klik (Bridge dan Laison)

Penghubung antarklik adalah individu anggota jaringan komunikasi yang menghubungkan dua klik atau lebih dalam suatu jaringan komunikasi. Penghubung ini terdiri dari bridge (individu sebagai penghubung antar dua klik atau lebih, dan individu tersebut menjadi anggota salah satu kliknya), liason (individu sebagai penghubung antarsatu klik atau lebih, namun individu tersebut tidak sebagai anggota klik manapun juga).

Keterbukaan Klik

Keterbukaan klik adalah tingkat hubungan anggota anggota klik terhadap individu lain yang berada di luar klik tersebut dan sistem jaringan komunikasi.

Keterhubungan Komunikasi

Kekompakan Jaringan Komunikasi

Metode Pengumpulan Data

  • Kuesioner, dimana pertanyaannya adalah pertanyaan-pertanyaan sosiometri untuk mengetahui arus informasi tentang sesuatu hal yang mengalir dalam suatu sistem. Misalnya, “dari siapa anda mencari informasi tentang X?”
  • Wawancara ,digunakan untuk melengkapi data hasil kuesioner.

Kedua instrumen tersebut dapat digunakan pada beberapa metode pengumpulan data,yakni :

  1. Self- Desganiting Method

Responden menentukan sendiri bahwa ia adalah opinion leader

Contoh: Teman-teman mengajak saya berdiskusi, dengan dipilihan: sering,terkadang,tidak pernah. Bila jawaban terbanyak adalah sering, ia adalah opinion leader.

  1. Key Informant Method

Menanyai sistem di luar sistem dan orang yang dianggap sebagai opinion leader. Misalnya , “ siapa saja anggota sistem yang dimaksud yang sering diajak bicara oleh orang yang dianggap sebagai opinion leader tersebut?”

  1. Objective Method

Melakukan eksperimen terhadap orang-orang yang dianggap sebagai opinion leader untuk melakukan persuasi, dialah yang dianggap sebagai opinion leader.

Analisis Data

Hubungan dalam Metide Analisis Jaringan Komunikasi dapat dianalisis dari 4 tingkatan, yaitu:

  1. Personal, dengan variabel: opinion leader,isolate ,bridge , dan liason.
  2. Diadik, komunikasi antardua orang.
  3. Klik, dengan variabel : kelompok klik,keterbukaan klik, dan keterhubungan klik.

Untuk memahami tingkat analisis dalam metode jaringan komunikasi harus memahami teori sistem, yaitu sistem terbuka.

  1. Unit Analisis

Hubungan antar individu dalam suatu sistem . Karena komunikasi dianggap sebagai kumpulan hubungan-hubungan sehingga ada interaksi antar individu dalam sistem.

  1. Sosiometri

Sosiometri adalah metode mengumpulkan data secara kuantitatif mengenai pola komunikasi di antara individu dalam sistem (Rogers & Kincaid, 1981:91)

Beberapa pertanyaan sosiometri adalah sebagai berikut :

  • Dengan siapa anda ingin bekerja sama?
  • Dengan siapa anda menyampaikan keluhan-keluhan anda?
  • Dengan siapa anda sering meminta pendapat?
  • Dengan siapa anda ingin mendapat informasi baru tentang pekerjaan?

Beberapa catatan penting tentang analisis jaringan komunikasi :

  1. Analisis jaringan komunikasi tidak menggunakan teknik pengambilan sampel, karena sampelnya adalah seluruh populasi.
  2. Analisis jaringan komunukasi dilakukan bila ada inovasi.

 

PUBLIC RELATIONS ONLINE (E-PR/PR ON THE NET)

Perkembangan teknologi informasi saat ini memungkinkan penggunaan berbagai macam media untuk menyampaikan pesan. Salah sat media baru adalah internet. Penggunaan internet untuk menunjang kinerja PR dikenal dengan istilah PR online. Keuntungan penggunaan internet untuk PR, yaitu: komunikasi dengan biaya murah dan cepat sampai ke publik, sarana mendapatkan informasi kemajuan dunia, memelihara hubungan, membentuk kelompok diskusi atau bisnis bagi siapapun, sarana promosi, dan dianggap lebih efektif dalam praktik PR, karena menciptakan hubungan one to one, daripada media massa lain yang bersifat one to many.

Mengukur Efektivitas Kegiatan PR on the Net

Menghitung jumlah orang yang mengunjungi dan memberikan informasi rinci mengenai dirinya pada website yang disediakan PR, mengukur tingkah laku khalayak, memantau liputan media, dan memantau penambahan data base.

 

PROFIL KHALAYAK (AUDIENCE PROFILE RESEARCH)

Macam-macam Pofil Khalayak

  • Profil geografis: berdasarkan tempat tinggal.
  • Profil sosiodemografis: meliputi usia, jenis kelamin, status perkawinan, pendidikan, pekerjaan, penghasilan, agama, dan faktor faktor sosial, ekonomi dan budaya lainnya.
  • Profil gaya hidup dan psikografis: gaya hidup merupakan pola di mana orang hidup dan menghabisnya waktu serta uang, sedangkan psikografi adalah ukuran operasional dari gaya hidup.

 

RISET TENTANG ELEMEN PESAN

Setiap pesan komunikasi terbentuk dari beberapa elemen pesan. Kita dapat melakukan riset untuk mengkaji elemen elemen apa saja yang ada pada pesan dan keefektifannya. Setiap pesan terdiri dari:

  1. Struktur pesan (message sidedness, order of presentation)
  2. Daya tarik pesan (fear, emotional appeals, rational appeals, humor)

 

RISET MOTIVASI DALAM ORGANISASI DAN PEMASARAN

Motivasi menyangkut alasan alasan mengapa orang mencurahkan tenaga, pikiran, serta waktu untuk melakukan suatu pekerjaan. Motivasi sangat berkaitan dengan komunikasi. Komunikasi bisa menjadi faktor pembangkit motivasi bisa pula motivasi yang baik memudahkan upaya komunikasi dalam fungsi koordinasi dan kerjasama. Teori motivasi yang biasa digunakan yaitu teori motivasi Maslow.

 

RISET ADVERTISING

Terence A. Shimp (2003) mengkategorikan ke dalam dua bentuk:

  1. Riset pesan iklan. Dilakukan untuk menguji efektivitas pesan kreatif iklan.
  2. Riset media, bertujuan mengkaji karakteristik khalayak media periklanan serta banyaknya khalayak yang bisa dijangkau sehingga peringkat atau rating dapat ditentukan.

 

RISET RATING

Rating merupakan ukuran yang digunakan untuk mengetahui jumlah khalayak. A.C. Nielsen mengenalkan beberapa metode pengukuran rating, yaitu:

  1. Audimeter, yaitu alat modern dalam menyurvei perilaku menonton TV dan mendengarkan radio khalayak.
  2. Channel Diaries, yaitu meminta khalayak untuk mengisi atau merekam aktivitas mengonsumsi media dalam sebuah buku harian.
  3. Phone interview. Melalui telepon, sampel diminta memberikan keterangan-keterangan apakah ada anggota rumah tangga yang melihat televisi atau mendengarkan radio.
  4. People meter, yaitu alat yang dikendalikan secara manual dan sedikit lebih besar dari selektor saluran televisi yang khas.

DAFTAR PUSTAKA

Kriyantono, Rachmat. 2006. Teknik Praktis Riset Komunikasi. Jakarta: Prenadamedia Group.

Mengulas Paradigma Penelitian Ilmu Komunikasi dan Aplikasinya

Salma Salima Hariza Nihru

Ilmu Komunikasi

Universitas Brawijaya

Kali ini saya akan mengulas tentang perbedaan dari paradigma-paradigma yang ada dalam metode penelitian ilmu komunikasi. Namun, sebelum melangkah lebih jauh, alangkah lebih baik jika kita memahami pengertian dari paradigma itu sendiri agar dapat memahaminya secara lebih holistik dan mendalam.

  1. Paradigma
  2. Paradigma memiliki definisi yang beragam. Kuhn (1962) dalam bukunya The Structure of Scientific Revolution memaparkan  bahwa  paradigma  adalah  gabungan  hasil  kajian  yang terdiri  dari  seperangkat  konsep,  nilai,  teknik, dan lain-lain, yang  digunakan  secara  bersama-sama dalam  suatu  komunitas  untuk  menentukan  keabsahan  suatu  masalah  berserta solusinya. Sementara itu, paradigma  menurut  Guba  (1990) seperti  yang  dikutip Denzin  &  Lincoln (1994) didefinisikan sebagai: “a  set  of  basic  beliefs  (or  metaphysics)  that  deals  with  ultimates  or  first principles…a  world  view  that  defines,  for  its  holder  the  nature  of  the world…” Jika diterjemahkan ke dalam Bahasa Indonesia, paradigma adalah seperangkat keyakinan atau kepercayaan yang  mendasari  seseorang  dalam  melakukan  segala  tindakan. Sedangkan Capra (1991)  dalam  bukunya Tao  of  Physics menyatakan  bahwa  paradigma  adalah asumsi  dasar  yang  membutuhkan  bukti  pendukung  untuk asumsi-asumsi  yang ditegakkannya,  dalam  menggambarkan  dan  mewarnai  interpretasinya  terhadap realita sejarah sains.

    Selanjutnya, paradigma oleh Bhaskar (1989) diartikan sebagai: “…a) a set of assumptions, b) belief  concerning  and  c)  accepted  assume  to  be  true,” Dalam Bahasa Indonesia, pernyataan tersebut dapat  diterjemahkan sebagai   seperangkat   asumsi yang dianggap   benar   apabila   melakukan   suatu pengamatan  supaya  dapat  dipahami  dan  dipercaya  dan  asumsi  tersebut  dapat diterima.  Dengan  kata  lain,  paradigma  adalah  sebuah  bingkai  yang  hanya perlu  diamati  tanpa  dibuktikan  karena  masyarakat  para  pendukungnya  telah mempercayainya.  Hanya  tinggal  kita  saja  yang  perlu  untuk  mencermati  dari berbagai macam paradigma yang ada.

    Ritzer (1981) mendefinisikan paradigma sebagai, “…A fundamental image of the subject matter within a science. It serves to define  what  should  be  studied,  what  question  should  be  asked,  how  the should be asked and what rule should be followed in interpreting the answer obtained. The paradigm is the broadest unit consensus within a science and serve  to  differentiate  on  scientific  community  (or  subcommunity)  from another.  It  subsumes,  defines  and  interrelates  the  exemplars  theories  and method and instruments that exist within it”.

    Ritzer (1981) menyatakan   argumentasinya   bahwa paradigma   adalah pandangan  yang  mendasar  dari  para  ilmuwan  atau  peneliti  mengenai  apa  yang seharusnya   menjadi   kajian   dalam   ilmu   pengetahuan,   apa   yang   menjadi  pertanyaannya  dan  bagaimana  cara  menjawabnya.    Paradigma  juga  dikatakan sebagai konsensus dari para ilmuwan yang dapat melahirkan suatu komunitas atau subkomunitas yang  berbeda  dengan  yang  lain.  Paradigma  yang  berbeda  tersebut terjadi   karena   adanya   perbedaan   dalam   teori   yang   digunakan,   metode   dan instrumen yang ada untuk mencapai suatu kebenaran.

    2. Pergeseran Paradigma Ilmu Pengetahuan

    Padangan   tentang paradigma   ilmu   pengetahuan   selalu dinamis, dengan kata lain nampak   akan   selalu berubah  dari waktu ke waktu.  Suatu  kelahiran  paradigma  yang  baru  tidak  akan  pernah terlepas  dari  paradigma  sebelumnya.  Atau  mungkin  paradigma  yang  muncul setelah  paradigma  sebelumnya  sebagai  paradigma  yang  selalu  berusaha  untuk memperbaiki   kekurangan-kekurangan   yang   ada   pada   paradigma   sebelumnya. Pergeseran  paradigma  akan  selalu  muncul  untuk  mendapatkan  realitas  yang sebenarnya  sesuai  dengan  masa  atau  waktu  yang  selalu  berganti  sesuai  dengan zaman  dan  peradaban  yang  ada  di  muka  bumi  ini.

    Kuhn  (1962)  menyatakan  bahwa  pergeseran  paradigma  ilmu  pengetahuan akan menimbulkan suatu kekerasan dan dapat memicu adanya suatu revolusi. Hal ini   disebabkan   penganut   paradigma   tersebut   berusaha   untuk   menggoyang paradigma   sebelumnya agar mereka   berada   dalam   paradigma   yang   baru. Penganut  paradigma  yang  baru  pada  masa  itu  berusaha  untuk  memusnahkan  dan mengantikan  paradigma  sebelumnya  dengan  jalan  mengungkap  realitas  yang  ada dengan menjelaskan segala bentuk kelemahan pada paradigma sebelumnya. Untuk   itu, Mulyana (2003) menyebut 2   faktor   yang   mendorong   terjadinya pergeseran paradigma yaitu: “   …1) gugatan   para   ilmuwan   perihal   daya   eksploratori   pendekatan kuantitatif-positivistik  terhadap  objek  kajian  dan  2)  laju  perubahan  social yang  begitu  cepat  memerlukan  pendekatan  dan  model  studi  yang  lebih kontekstual dan handal”.

    Pergeseran  paradigma  akan memunculkan penganut-penganut  yang mempercayai  dan  meyakini  masing-masing  paradigma.  Oleh  sebab  itu, adanya pergeseran paradigma menciptakan suatu pengembangan dalam paradigma ilmu pengetahuan.

     3. Perkembangan Paradigma Ilmu Pengetahuan

    Setelah   kita   paham   mengenai   definisi dari   ‘paradigma”,   maka   yang menjadi  pertanyaan  saat  ini  adalah  bagaimana  seorang  dapat  menggembangkan suatu   paradigma   ilmu. Burrel   &   Morgan   (1979)   mengembangkan aspek paradigma   tersebut   dalam   asumsi   meta teoritikal   yang   mendasari   kerangka referensi,  model  teori  dan  modus  operandi  dari  ilmuwan  yang  berada  dalam paradigma  tersebut. Semua  definisi  dari  paradigma tidak mengindikasikan kesamaan pandangan seutuhnya karena dalam setiap paradigma pasti   terdapat   ilmuwan   yang   mempunyai   pandangan   yang   berbeda-beda.

    Kesamaan  yang  bisa  ditunjukkan  hanya  dalam  konteks  dasar  dan  asumsi,  hal inilah  yang  membedakan  antara  satu  paradigma  dengan  paradigma  yang  lainnya. Sehingga  Burrell  &  Morgan  (1979)  membagi  paradigma  tersebut  sebagai a) paradigma  fungsionalis  (Thefunctionalist  paradigm),  b)  paradigma  interpretif (The  Intrepretive  Paradigm),  c)  paradigma  radikal  structuralis  (The  Radical Structuralist   Paradigm)   dan   d)   paradigma   radikal   humanis   (The   Radical Humanist Paradigm).

    Sedangkan Chua (1986) membagi paradigma dalam ilmu sosial menjadi 3 paradigma yaitu a) The Functionalist (Mainstream) Paradigm, b) The Interpretive Paradigma  dan  c)  The  Critical  Paradigm.  Menurut  Chua,  pernyataan yang diungkapkan  oleh  Burrell  &  Morgan  untuk  paradigma  radikal  humanis  dengan paradigma  radikal  strukturalis  dapat  digabungkan  menjadi  satu  paradigma  yaitu paradigma  kritis  (The Critical  Paradigm).  Sarantakos  (1993)  dalam  Triyuwono (2006)  membagi  paradigma  yang  hampir  sama  dengan  Chua  (1986)  yaitu 1)  The Functionalist (Positivist) Paradigm, 2) The Interpretive Paradigm, 3) The Critical Paradigm.

    Eichelberger  (1989)  dalam  Miarso  (2005)  selanjutnya  membedakan  tiga paradigma  filsafat  yang  melandasi  metodologi  pengetahuan,  yaitu: positivistik, fenomenologik,  dan  hermeneutik.  Sedangkan  Bhaskar  (1989)  mengelompokkan paradigma  dalam  3  kelompok  yang  didasarkan  pada  pengaruh  individu  dan masyarakat.    Pengelompokkan  tersebut  meliputi  paradigma positivisme (Emile Durkheim), paradigm conventionalisme (Max Weber), paradigma realisme (Karl Marx). Sedangkan Guba (1990) seperti  yang dikutip oleh Salim (2006) membagi paradigma  menjadi  empat  kelompok  yaitu positivisma,  post-positivism,  critical theory dan konstruktivisme. Dari    beberapa    ilmuwan yang    telah   dijabarkan    di    atas, dalam mengembangkan  paradigmanya,  penulis  melihat  pada  dasarnya   adalah  sama karena didasarkan dari 4 dimensi yang ada dalam filsafat ilmu pengetahuan yaitu dimensi   ontologis,   dimensi   epistemologis,   dimensi   aksilogis   dan   dimensi metodologis.

    Menurut  Burrell  &  Morgan  (1979),  Chua  (1986)  maupun Eichelberger  (1989), Bhaskar  (1989),  Guba  (1990)  dimensi tersebut  dijabarkan  dalam penjelasan berikut ini:

    1. Dimensi Ontologis

    Pada tataran dimensi ontologis, peneliti berada dalam pendekatan objektif dan akan  melihat  kenyataan  sebagai  objek. Artinya, objek  adalah sesuatu  yang berada  di  luar  peneliti  dan  yang  bebas  dari penelitinya  (value  free)  dan  dapat diukur   secara   objektif   dengan   menggunakan   instrument. Sedangkan   dalam pendekatan  subyektif,  kenyataan  adalah  sesuatu  yang  ada  dan  dilibatkan  oleh peneliti dalam penelitiannya dan peneliti juga ikut andil dalam penelitian tersebut (not value free).

    1. Dimensi Epistemologi

    Peneliti  dalam  dimensi  ini  memberikan  jarak  yang  cukup  jauh  dengan objek    penelitiannya    untuk    pendekatan    objektif    sehingga    lebih    bersifat independent.  Pendekatan  objektif  atau  positivistic  lebih  menuntut  penyusunan kerangka teori. Sebaliknya  untuk pendekatan subyektif atau paradigma alternatif, peneliti  justru  berinteraksi  dengan  objek  yang  diteliti.  Interaksi  tersebut  bisa berbentuk  tinggal  bersama  atau  mengamati  perilaku  subjek  penelitian  dalam jangka  waktu tertentu  dan  tidak  menuntut  penyusunan  kerangka  teori  sebagai persiapan awal penelitian.

    1. Dimensi Aksiologis

    Dalam  pendekatan  objektif  nilai-nilai  yang  dianut  peneliti  tidak  boleh mempengaruhi  penelitiannya  dengan  menghindari  pernyataan-pernyataan  yang berkaitan  dengan  nilai  dalam  hasil  penelitian  dengan  menggunakan  bahasa  yang impersonal,  sedangkan  dalam  pendekatan  subyektif  justru  sebaliknya,  Bahasa digunakan  sebagai  hubungan  untuk  mendekatkan  antara  peneliti  dengan  objek yang diteliti sehingga lebih bersifat personal.

    4. Tiga Paradigma

  3. Secara umum, paradigma dalam Ilmu-ilmu Sosial bisa dikategorikan ke dalam 3 paradigma, yang masing-masing selain memiliki asumsi epistemologi, ontologi, dan aksiologi berbeda, juga memiliki perbedaan asumsi metodologi berbeda pula. Tiga paradigma tersebut adalah Positivism/Post-positivism, Interpretif atau seringkali disebut Konstruktivis, dan Kritis. Tetapi pemisahan antara ketiga paradigma tersebut dalam prakteknya, tidaklah sebuah cut and clean kategori; ada “wilayah abu-abu” diantara ketiganya (Ringkasannya bisa dipelajari melalui Tabel 2, yang hanya akan diuraikan secara singkat dalam tulisan ini). Sebagai contoh, antara paradigma “tradisional” atau klasikal dengan paradigma constructivism/constructionism. Dalam tradisi constructionism, ada tradisi yang menekankan subjectivity dan reflexsivity; sebagai contoh penelitian dan kajian mengenai symbolic interactionism Chicago School yang dipelopori Herber Mead. Tetapi ada pula yang tetap menekankan objectivity (seperti studi-studi Manfred Kuhn et al. yang dikenal sebagai Iowa School, dengan melakukan pengukuranpengukuran kuantitatif tentang self-concept dsb. Demikian juga dengan banyak penelitian di bawah kerangka teori-nya Berger, i.e. social construction of reality, yang menerapkan quality criteria yang serupa atau pararel dengan yang dipergunakan dalam paradigma klasik (yang menekankan objectivity, seperti internal validity, external validity, reliability, dsb mungkin walaupun memakai istilah lain, seperti trusworthiness, credibility, transferability, dependability, dan confirmability).

    Sebaliknya, studi-studi dalam paradigma klasik seringkali menggunakan metode-metode kualitatif yang oleh banyak pihak dinilai sebagai “milik” paradigma interpretivism (seperti comparative analysis). Antara paradigma konstruksionisme dengan paradigma teori-teori kritikal, muncul apa yang disebut critical constructionism. Yang terakhir ini berbeda dengan arus utama paradigma constructionism (yang cenderung bersifat relativis) dari segi dipergunakannya kerangka teori yang normative yang memungkinkan peneliti membuat value judgement, seperti halnya dalam paradigma teori-teori kritis. Karena itu critical constuctionist menggunakan goodness atau quality criteria yang pararel dengan yang dipergunakan paradigma teori-teori kritis. Antara lain catalytic authenticity yang pararel dengan empowerment dalam paradigma teori-teori kritis, yakni criteria sejauh mana studi yang dilakukan bisa memberdayakan subjek penelitian. Kemudian ontological authenticity yang pararel dengan enlightenment, merujuk pada criteria apakah hasil studi mampu memberi penyadaran atau pencerahan bagi subjek penelitian.

    1. Paradigma Positivis

    Paradigma positivisme/fungsionalis adalah paradigma yang muncul paling awal  dalam  dunia  ilmu  pengetahuan.    Kepercayaan  dalam  pandangan  ini  berakar pada  paham  ontology  realisme  yang  menyatakan  bahwa  realitas  berada  dalam kenyataan dan berjalan sesuai dengan hukum alam. Penelitiannya berusaha untuk mengungkap  kebenaran  dari  realitas  yang  ada  dan  bagaimana  realitas  tersebut berjalan sesuai dengan kenyataannya. Dalam paradigma ini mempunyai prespektif yang   didasarkan   pada   sosiologi   regulasi   dengan   pendekatan   obyektif   dan cenderung mengasumsikan dunia sosial sebagai produk empiris yang sangat nyata serta mempunyai hubungan satu dengan yang lainnya (sebab-akibat). Paradigma  ini  muncul  pada  abad  ke  19  yang  dimunculkan  oleh  August Comte (1830-1842), kemudian dikembangkan oleh Emile Durkheim (1895)  yang menjadi  rujukan  penganut  positivist  dalam  bidang  sosial.

  4. a. Paradigma Positivistik
  5. 1. Aspek Ontologis
  6. a. Paradigma Positivistik
  7. 1. Aspek Ontologis
  8. Menurut  Durkheim (1895) seperti yang dikutip Salim (2006) objek studi sosiologi adalah fakta social (social-fact): “…any way of acting, whether fixed or not, capable of exerting over the individual an  external  constraint;  or  some  thing  which  in  general  over  the  whole  of  given society whilst having an existence of its individual manifestation.” Artinya, fakta  sosial  dalam  uraian  di  atas  adalah  semua  yang  berkaitan dalam  kehidupan,  sekalipun  fakta  sosial  tersebut  berasal  dari  luar  kesadaran individu. Untuk  mencapai  kebenaran  ini  peneliti  harus  menanyakan  secara langsung  kepada  obyek  yang  diteliti,  dan  obyek  tersebut  dapat  memberikan jawaban langsung kepada peneliti yang bersangkutan.

    Paradigma positivist/fungsionalis ini telah ratusan tahun menjadi pedoman bagi  ilmuwan  dalam  mengungkapkan  kebenaran  realitas. Kebenaran  tersebut tidak  merupakan  kebenaran  yang  mutlak  karena  harus  diuji  terlebih  dahulu berdasarkan beberapa faktor empiris untuk menjustifikasi kebenaran realitas yang ada pada saat itu. Dalam paradigma ini obyek ilmu pengetahuan dan pernyataan pengetahuan   harus   memenuhi   beberapa   syarat   yaitu   harus   dapat   diamati (observable),  dapat  diulang  (repeatable),  dapat  diukur  (measurable),  dapat  diuji (testable) dan dapat diramalkan (predictable) (Kerlinger, 1973).

    Paradigma  ini  memiliki  pendekatan  yang  berusaha  untuk  menjelaskan hubungan   sosial   dengan   pemikiran   yang   rasional,   dengan   orientasi   yang pragmatik berkaitan dengan pengetahuan tepat guna dan mengedepankan regulasi yang  efektif  serta  pengendalian  hubungan  sosial. Pendekatan  ini  cenderung mengartikulasikan dunia  sebagai  dunia  artefek  empiris  dan  hubungan  yang  ada dapat  diidentifikasi  dan  diukur  dengan  ilmu  natural  seperti  biologi  dan  mekanik. Paradigma  ini  di  dasarkan  pada  norma  rasionalitas  purposif  (Burrel  &  Morgan, 1979).

    Berlandaskan fakta sosial dan uraian di atas, maka dapat dikatakan bahwa paradigma  positivist/fungsionalis  melihat  teori  dalam  penelitian  sebagai  dogma atau  doktrin  karena  itu  dalam  mengembangkan  penelitiannya  selalu  didasarkan pada  logika  deduktif,  aksioma,  standart  dan  hukum,  selain dari  itu  bukanlah sebuah  teori  dan  menempatkan  hipotesis  sebagai  fakta  atau  hukum. Peran  dari akal menurut positivist/fungsionalis adalah semua yang ada di dasarkan pada akal, demikian  pula  dengan  kebenaran.  Kebenaran  menurut  positivist  adalah  segala sesuatu yang dapat diterima oleh akal sehat walaupun jumlahnya hanya sedikit. Positivist/fungsionalis    selalu    menekankan    pada    generalisasi    untuk memberikan  kekuatan  akumulasi  pengetahuan  atas  fenomena  sebab  akibat.

    Serta penjelasan   keilmuannya   selalu   berdasarkan   pada   angka   yang   mengandung kepastian  sehingga  tidak  bisa  ditolak.  Bagi  pendukung  paradigma  ini  penjelasan dan  deskripsi  adalah  hubungan  antara  logika,  data  dan  hukum  atau  mungkin standart yang diperoleh. Bukti yang dihasilkan adalah bukti yang didasarkan pada pengamatan  yang  tepat  dan  dapat  diulang  kembali  atau  mungkin  digeneralisasi.

    Sedangkan nilai yang ada dalam paradigma positivist selalu bersifat konvensional yaitu  bersifat  keras,  menekan,  memaksa  (reduksionis)  karena  kebenaran  adalah segala  sesuatu  yang  berada  di  dalam  maupun  diluar  yang  harus  bersifat  obyektif sehingga   bebas   dari   nilai   (value   free),   sehingga   kedudukan   peneliti   dalam paradigma ini bebas dari kepentingan.

    1. Paradigma Konstruktivis

    Paradigma interpretif   muncul   karena   adanya   ketidakpuasan   terhadap pandangan  yang  dikemukakan  oleh  paradigma  fungsionalist/positivist  khususnya mengenai   realitas,   karena   menurut   intrepretivist,   realitas   adalah   yang   dapat dikonstruksi   oleh   individu   yang   terlibat   dalam   situasi   penelitian,   sehingga paradigma  ini  menolak  3  prinsip  yang  didengung-dengungkan  oleh penganut paradigma    fungsionalis/positivist    yaitu    1)    ilmu    merupakan    usaha    untuk mengungkap realitas 2) hubungan subyek dan obyek harus dapat digambarkan dan 3) hasil temuan harus dapat digeneralisasi. Atau dapat dikatakan bahwa fenomena yang akan diteliti   adalah   harus   dapat   diobservasi,   dapat   diukur   dan   dapat dijelaskan melalui karakter yang ada dalam penelitian tersebut. Paradigma interpretif lebih menekankan pada peranan bahasa, interpretasi dan  pemahaman  akan  makna  dari  realitas  (Chua  1969).

    Menurut  Morgan  (1979) paradigma    ini    menggunakan    cara    pandang    para  nominalis    dari    paham nominalisme  yang  melihat  realitas  sosial  sebagai  suatu  yang  tidak  lain  adalah label, nama, konsep yang digunakan untuk membangun realitas.

    Dalam paradigm intrepretif,  secara  ontology melihat realitas  bersifat  sosial,  karena itu  selalu menghasilkan  realitas  majemuk  di  dalam  masyarakat. Mereka menganggap bahwa realitas tidak dapat diungkapkan secara jelas dengan satu kali pengamatan dan  pengukuran  oleh  sebuah  ilmu  pengetahuan. Keberadaan  realitas  merupakan seperangkat bangunan yang kokoh dan menyeluruh serta mempunyai makna yang bersifat  kontekstual  dan  dialektis.

    Paradigma  ini  memandang  suatu  fenomena alam  atau  social  dengan  prinsip  relativitas,  sehingga  penciptaan  ilmu   yang diekspresikan dalam teori bersifat sementara, local dan spesifik. Dalam   sisi   epistemology   hubungan   peneliti   dengan   obyek   bersifat interaktif  melalui  pengamatan  langsung  terhadap  aktor  sosial  dalam  setting  yang alamiah  agar  dapat  memahami  dan  menfsirkan  bagaimana  aktor  sosial  tersebut menciptakan  dunia  sosial  dan  memeliharanya. Peneliti  bebas  melakukan  segala tindakannya tanpa harus takut pada hukum, standart, norma yang ada asalkan apa yang dimaknai sesuai dengan realitas yang ada pada saat itu. Fenomena yang ada dapat  dirumuskan  dalam  ilmu  pengetahuan  dengan  memperhatikan  gejala  atau hubungan  yang  ada  di  antara  keduanya yang  hasilnya  akan  sangat  subyektif  oleh sebab itu tidak bersifat bebas nilai (Not Value Free).

    Dalam  hal  metodologi,  penelitian  ini  harus  dilakukan  di lapangan  atau alam bebas dan dapat secara wajar dalam mengungkap fenomena yang ada secara keseluruhan  tanpa  adanya  campur  tangan  dari  peneliti  sehingga  lebih  bersifat alamiah.  Teori  tumbuh  karena  adanya  fakta  di lapangan  yang  sudah  diamati dengan melihat interaksi tersebut, sehingga teori atau hipotesis tidak perlu dibuat sebelumnya  seperti  pada  paradigma  fungsionalis/positivist. Pengumpulan  data dilakukan  melalui  proses  dialog  dengan  aktor  sosial  untuk  memaknai  realitas sosial   yang   ada   dan   lebih   memfokuskan   pada   konstruksi,   rekonstruksi   dan elaborasi dalam suatu proses sosial.

    1. Paradigma Kritis

    Paradigma Kritisme lahir karena ketidakpuasan dari paradigma  yang lahir terlebih    dahulu    yaitu    paradigma    fungsionalis/positivisme    dan    paradigm interpretifis.   Pada  paradigma   fungsionalis   dilandasi   dengan   pemikiran   yang dimulai  dengan swift  epistemology dari epistemology  deduktif  platonik  menjadi epistemology  induktif  empiric  Aristotelian.  Reaksi  epistemology  ini  lahir  dari penolakan   kebenaran   yang   bersifat   spekulatif   dan   jauh   dari   maksud   yang sebenarnya dari pencarian kebenaran.

    Sedangkan   paradigma   interpret if   lebih   menekankan   pada   peranan   bahasa, interpretasi dan pemahaman (Chua 1969). Menurut Morgan (1979) paradigma ini menggunakan cara pandang para nominalis dari paham nominalisme yang melihat realitas  social  sebagai  suatu  yang  tidak  lain  adalah  label,  nama,  konsep  yang digunakan untuk membangun realitas. Chua (1986)  mengungkapkan  bahwa  upaya  interpretif  tetap  memiliki kelemahan.

    Ada  3  kritisme  dari  paradigma  interpretif  ini  (Habermas,  1978; Bernstein, 1976; Fay, 1975 dalam Chua, 1986) yaitu: Pertama, persetujuan pelaku sebagai standar penilaian kelayakan penjelasan masih menjadi ukuran yang sangat lemah,  kedua,  perspektif  kurang  mempunyai  dimensi  evalutif.  Habermas  (1978) berpendapat  bahwa  peneliti  interpretif  masih  tidak  mampu  mengevaluasi  bentuk kehidupan  dan  arena  itu  tidak  mampu  menganalisa  bentuk  kesadaran  salah  dan dominasi  yang  mencegah  pelaku  untuk  mengetahui  kepentingan  akan  kebenaran.

    Ketiga,  peneliti  interpretif  memulai  dengan  asumsi  order  sosial  dan  konflik  yang berisi  skema  interpretif,  sehingga  terdapat  kecenderungan  untuk  mengacuhkan konflik kepentingan antar kelas dalam masyarakat. (Chua, 1986) Dari  kelemahan-kelemahan  yang  terdapat  dalam  paradigma  interpretif, maka  paradigma  kritis  dikembangkan  dari  konsepsi  kritis  terhadap  berbagai pemikiran dan pandangan yang sebelumnya. Paradigma kritis menggunakan bukti ketidakadilan  sebagai  awal  telaah,  dilanjutkan  dengan  merombak  struktur  atau sistem  ketidakadilan  dan  dilanjutkan  dengan  membangun  konstruksi  baru  yang menampilan  sistem  yang  adil. Sedikitnya  ada  dua  konsepsi  yang  diungkapkan Salim  (2006)  perihal paradigm kritis  yang  perlu  dipahami:  Pertama,  kritik internal  terhadap  analisis  argument  dan  metode  yang  digunakan  dalam  berbagai penelitian. Kritik  ini  memfokuskan  pada  alasan  teoritis  dan  prosedur  dalam memilih,   mengumpulkan   dan   menilai   data   empiris.   Paradigma   ini   lebih mementingkan   pada   alasan,   prosedur   dan   bahasa   yang   digunakan   dalam mengungkap  kebenaran.    Oleh  karena  itu, penilaian  silang  secara  kontinyu  dan pengamatan  data  secara  intensif  merupakan  merk  dagang  dari  paradigma  ini.

    Kedua,  makna  kritis  dalam  reformulasi  masalah  logika.    Logika  bukan  semata-mata  pengaturan  formal  dan kriteria  internal  dalam  pengamatan,  tetapi  juga melibatkan  bentuk  khusus  pemikiran  yang  difokuskan  pada  skeptisisme  dalam pengertian  rasa  ingin  tahu  terhadap  institusi  sosial  dan  konsepsi  tentang  realitas yang berkaitan dengan ide, pemikiran, dan bahasa melalui kondisi sosial historis. Ide   yang   menonjol   dalam   prespektif   ini   sebagian   besar   mempunyai keyakinan  bahwa  setiap  suatu  yang  ada  baik  dalam  individu  atau  masyarakat memiliki  potensi  historis  yang  tidak  bisa  diterangkan.  Hal  ini  disebabkan  karena manusia  secara  khusus  tidak  dibatasi  keberadaannya  dalam  kondisi  tertentu, dimana  keberadaan  dan  lingkungan  materinya  tidak  dipengaruhi  oleh  kondisi disekitarnya (Chua, 1986).

    Dalam  berbagai  paradigma,  penekanan  terhadap  obyektivitas  menjadi suatu  keharusan  agar  temuan  yang  diperoleh  bermakna.  Sedangkan  hal-hal  yang bersifat subyektif harus  sejauh mungkin dihindari merupakan hal  yang mengada-ada  menurut  paradigma  kritis.  (Salim,  2006)  Dalam  berbagai  paradigma  yang menyatakan  bahwa  ilmu  pengetahuan  merupakan  studi  masa  kini  dibantah  oleh paradigma  kritis,  karena  studi  saat  ini  adalah  studi  yang  berasal  dari  pengamatan tentang   keteraturan   dan   ketidak   teraturan   sosial   di   masa   lampau.   Hasilnya kemudian  secara  tidak  langsung  digunakan  untuk  mempelajari  atau  menghindari hal-hal   yang   dianggap   kurang   bermanfaat   dalam   berbagai   aspek   realitas kehidupan  di  masa  depan.  Oleh  sebab  itu, paradigma  kritis  tidak  sependapat dengan  argumentasi bahwa  ilmu  dapat  memprediksi  atau  mengontrol. Ilmu menurut paradigma ini hanya dapat mengatur fenomena  yang bisa menuntun kita untuk  mengenali  berbagai  kemungkinan  dan  di  pihak  lain,  ilmu  juga  dapat menyaring kemungkinan yang lain.

    Manusia   menurut   paradigma   ini   dipersepsikan   sebagai   mahluk   yang dinamis dan selalu dapat menyesuaikan diri dengan lingkungan sosialnya. Namun mereka merasa dibatasi, ditekan oleh kondisi dan faktor sosial, dieksploitasi oleh orang  lain  untuk  memperoleh  argumentasi  yang  benar  atau  suatu  pembenaran supaya   dapat   diterima,   sehingga   membatasi   seseorang   untuk   mengeksplore potensi dalam dirinya secara utuh karena takut melanggar hukum, norma,  dogma atau   standard   yang   ada   dan   bersifat   memaksa.   (Sarantakos   1993   dalam Triyuwono, 2000) Paradigma  kritis  berpandangan  bahwa  unsur  kebenaran  adalah  melekat pada   keterpautan   antara   tindakan   penelitian   dengan   situasi   historis   yang melingkupi.

    Penelitian tidak dapat terlepas dari konteks tertentu, misalnya situasi politik,    kebudayaan,    ekonomi,    etnis    dan    gender.    Peneliti    juga    harus mengembangkan  penyadaran  (conscientization).  Hal  ini  menuntut  sikap  hati-hati dalam   kegiatan   penelitian,   karena   kegiatan   penelitian   dapat   mengungkap ketidaktahuan dan salah  pengertian. Tidak semua asumsi dan teori dapat memuat kebenaran,   sehingga   dalam   proses   kegiatan   penelitian   dimungkinkan   pula diperoleh  wawasan  baru  dalam  cara  berpikir  tertentu.  Bagaimana  membangun kesatuan  teori  dan  praksis?    Hal  inilah  yang  mendorong  terjadinya  transformasi dalam struktur kehidupan menurut paradigma kritis (Salim, 2006)

    Keyakinan  tentang  pengetahuan  dalam  paradigma  kritis  bahwa  standar penjelasan  ilmiah  yang  digunakan  sifatnya  temporal  dan  terikat  dengan  konteks yang  ada.  Kebenaran adalah  proses  yang  ingin  diungkapkan  dan  berada  dalam praktek sosial historis. Tidak ada fakta yang independent terhadap teori yang bisa menguatkan  atau  melemahkan  sebuah  teori.  Metode  penelitian  yang  disukai  oleh peneliti  dalam  paradigma  ini  cenderung  mengacuhkan  model  matematis  atau statistic.  Teori  dalam  paradigma  ini  mempunyai  hubungan  khusus  dengan  dunia praktek  yaitu  mengarah  pada  kesadaran  akan  kondisi  yang  terbatas.  Hal  ini melibatkan pengungkapakan hukum social obyektif dan universal tapi lebih tepat sebagai produk dari bentuk dominasi dan ideology.

    Dari uraian di atas yang perlu digarisbawahi dari paradigma kritis adalah: Secara  ontology  memandang  realitas  dalam  realisme  historis  yaitu  realitas  yang teramati (virtual reality)  adalah semu terbentuk oleh proses sejarah dan kekuatan social,  budaya  dan  ekonomi  public.  Dalam  pandangan  paradigma  kritis  realitas tidak  berada  dalam  harmoni  tetapi  lebih  dalam  situasi  konflik  dan  pergulatan sosial Secara  epistemology  mengenai  hubungan  antara  periset  dan  obyek  yang  dikaji adalah    transaksional/subyektivis:    hubungan    periset    dengan    obyek    studi dijembatani  nilai  tertentu.  Pemahaman  tentang  realitas  merupakan  temuan  yang dijembatani  nilai  tertentu.  Maksudnya  adalah  ada  hubungan  yang  erat  antara peneliti  dengan  obyek  yang  diteliti.  Sehingga  peneliti  ditempatkan  pada  situasi sebagai actor intelektual dalam proses transformasi social.

    Secara metodologi, paradigma kritis lebih menekankan penafsiran peneliti pada  obyek  penelitiannya.  Dalam  hal  ini  proses  dialogal  sangat dibutuhkan, dimana dialog kritis digunakan untuk melihat secara lebih dalam kenyataan social yang  telah  ada,  sedang  dan  akan  terjadi. Penelitian  dalam  paradigma  kritis  tidak bisa menghindari unsur subyektifitas peneliti yang bisa membuat perbedaan gejala social  dari  peneliti  lainnya  yang  lebih  mengutamakan  analisis  yang  menyeluruh, kontekstual dan multi level.

     

    5. Perbedaan Tiga Paradigma Berdasarkan Aspek Ontologis, Epistemologis, dan Aksiologis

    a. Paradigma Positivis

1. Aspek Ontologis

  1. Kriyantono (2012) menyatakan bahwa terdapat realitas yang nyata dan diatur oleh kaidah-kaidah tertentu yang berlaku universal (keseluruhan) meskipun kebenaran mengenai pengetahuan tersebut hanya sebatas probabilistik. Realitas dipandang dapat diukur dengan standar tertentu, dapat dilakukan generalisasi, dapat diukur dengan standar tertentu, dan terbebas dari konteks ruang dan waktu (berlaku umum, kapan pun). pendekatan ini dapat disebut pendekatan objektif atau pendekatan positif karena mengikuti kaidah-kaidah tertentu. Sebagai contoh: apabila ada buah yang jatuh dari pohon, paradigma ini akan beranggapan bahwa pasti akan jatuh ke bawah. Karena ada aturan umum yang berlaku universal, yaitu apabila benda jatuh maka akan tertarik ke int ibumi (Kriyantono, 2015).

    Paradigma ini berasumsi bahwa realitas berada di luar dunia subjektif ilmuan (terpisah dengan individu) karena bagi paradigma ini realitas bersifat objektif (Kriyantono, 2012). periset harus menjaga jarak dengan realitas yang diriset supaya tidak ada unsur penilaian subjektif (kepentingan pribadi). Contoh: untuk mengukur konsep “stategi”, periset tidak diperbolehkan memberikan definisi strategi kepada responden karena dapat mempengaruhi pemikiran dan jawaban responden. Oleh karena itu, periset harus mampu menyesuaikan penggunaan kata yang sesuai dengan responden.

    Dapat diukur dengan standart tertentu, digeneralisasi dan bebas dari konteks ruang dan waktu (Kriyantono, 2012). Paradigma ini biasanya menggunakan instrumen kuesioner. Kuesioner merupakan kaidah universal yang mampu mewakili realitas yang diteliti. Kuesioner perlu diadakan uji  validasi dan reliabilitas, karena merupakan hukum objektif (Kriantono, 2015).

    2. Aspek Epistemologis

  2. Terdapat realitas objektif sebagai suatu realitas yang eksternal di luar diri ilmuwan dan ilmuwan harus menmbuat jarak sejauh mungkin dengan objek peelitian untuk menghindari penilaian subjektif (Kriyantono, 2012). tujuan untuk mempelajari realitas adalah untuk menerapkan, menguji atau membuat hukum/kaidah yang bersifat universal tentang realitas yang diriset. Penjelasan dari Kriyantono, R. (2015) bahwa orang yang diteliti bernama objek riset (merupakan objek sehingga bersifat pasif). Maksud dari bersifat pasif adalah hanya merespon pertanyaan dalam kuisioner.kuesioner dianggap sebagai kaidah atau hukum universal yang mewakili realitas yang diteliti. Sebagai hukum objektif, kuesioner harus diuji validitas dan reliabilitasnya.

  3. Aspek Aksiologis
    1. Aspek Ontologi

      Nilai, etika, dan pilihan moral harus berada di luar penelitian (Kriyantono, 2012). Peneliti tidak diperbolehkan untuk mempengaruhi pendapat dari responden. Peneliti berperan sebagai disenterested scientist, peneliti menjalankan fungsi dengan hanya mengambil fakta yang sudah ada tanpa harus merasa empati dengan masyarakat yang ingin diteliti (Erianto, 2011). Sebagai contoh, apabila peneliti ingin meneliti pada suatu desa, maka peneliti tidak harus tinggal di desa itu untuk menanyakan hal yang ingin diketahui, karena bisa menggunakan instrumen kuesioner.

      Tujuannya untuk eksplanasi, prediksi, dan control realitas (Kriyantono, 2015). Paradigma ini terletak pada bagaimana periset mencoba mengobjektifkan pikiran (yaitu teori-teori). Paradigma ini bertujuan untuk menjelaskan mengenai kejadian dan fenomena yang terjadi. Selain itu juga bertujuan untuk memprediksi hal atau fenomena yang kemungkinan bisa terjadi. Paradigma positivistik juga bertujuan sebagai kontrol suatu realitas.

      b. Paradigma Konstruktivis

      1. Aspek Ontologi

      Paradigma ini menganggap bahwa realitas merupakan konstruksi sosial. Kebenaran suatu realitas bersifat relative, berlaku sesuai konteks spesifik yang dinilai relevan oleh pelaku sosial (Kriyantono, 2012). Contoh: apakah pohon yang tumbang di hutan menimbulkan bunyi? Jawabannya “belum tentu”. bisa jadi yang ditanya tidak berada di hutan pada saat pohon jatuh atau tumbangnya hanya setengah sehingga tertahan oleh pohon lain atau kebetulan di bawah pohon tumbuh semak belukar yang banyak sehingga efek bunyi berkurang (Kriyantono, 2015).

      Realitas adalah hasil konstruksi mental dari individu pelaku sosial sehingga realitas dipahami secara beragam dan dipengaruhi oleh pengalaman, konteks dan waktu. Realitas merupakan hasil konstruksi individu, maka realitas periset adalah satu kesatuan tak terpisah. Individu adalah subjek memaknai realitas. Contoh: saat mengukur atau memaknai konsep sikap, periset memberi kebenasan individu yang diriset untuk mengekspresikan secara bebas konstruksinya dengan sikap. Kemudian periset mendialogkan konstruksi konstruksi tentang sikap dari berbagai individu untuk menghasilkan sebuah kesimpulan yang berlaku pada culture-sharing tertentu, yaitu di antara para subjek riset (Kriyantono, 2015).

      1. Aspek Epistimologi

      Pemahaman terhadap suatu realitas atau temuan penelitian merupakan produk interaksi antara peneliti dengan yang diteliti. Ilmuwan dan objek atau realitas yang diteliti merupakan kesatuan yang tidak terpisahkan (Kriyantono, 2012).

      1. Aspek Aksiologi

      Nilai, etika, dan pilihan moral merupakan bagian takterpisahkan dari suatu penelitian. Peneliti dianggap sebagai passionate-participant, fasilitator yang menjembatani keragaman subjektivitas pelaku sosial (Erianto, 2011). peneliti tidak bisa hanya tinggal mengambil realitas yang riil, tetapi konstruksi atas realitas. Setiap orang memiliki pemaknaan dan konstruksi yang berbeda sehingga peneliti harus menempatkan dirinya di tengah keanekaragaman pandangan tersebut.

      Tujuannya untuk rekonstruksi realitas sosial secara dialektis antara peneliti dengan pelaku sosial yang diteliti (Erianto, 2011). Tujuan riset adalah memfasilitasi terjadinya dialog konstruksi-konstruksi yang beragam dari individu-individu. Memungkinkan periset bertindak sebagai partisipan dalam proses konstruksi realitas. Secara metodologi, disebut kualitatif dimana pembuktian kebenaran mengutamakan empati dan interaksi dialogis antara periset dan subjek riset untuk merekonstruksi realitas yang diriset. Tidak dikenal istilah responden atau objek riset. Lebih menggunakan istilah informan atau partisipan atau subjek riset, karena ketiga ini merepresentasikan sifat aktif dari individu dalam memaknai realitas (Kriyantono, 2015). Wawancara mendalam  dan observasi langsung di lapangan memungkinkan periset dan subjek riset berinteraksi dialektis memaknai realitas. Periset adalah instrumen itu sendiri yang memilih, menyusun, dan menentukan pertanyaan yang didialogkan dengan subjek riset.

      c. Paradigma Kritis

      1. Aspek Ontologi

    Realitas yang teramati (virtual reality) merupakan realitas semu yang telah terbentuk oleh proses sejarah dan kekuatan-kekuatan sosial, budaya, dan ekonomi politik (Kriyantono, 2012). pendekatan kritis menganggap bahwa realitas yang diamati hanyalah realitas yang ada di permukaan (di kulit). realitas yang sebenarnya dalahrealitas yang masih tersembunyi dan berada di dalam (bisa jadi karena disembunyikan). realitas semu dapat terjadi karena dibentuk oleh proses sejarah dan konsentrasi kekuatan di masyarakat dalam berbagai bidang (Kriyantono, 2015). Contoh: tayangan televisi yang sekarang menonjolkan realitas “orang kaya, rumah,danmobil mewah” adalah realitas semu yang menggambarkan orang Indonesia, yang didominasi oleh kelompok menengah dan miskin. Realitas semu dibentuk oleh kekuatan-kekuatan dominan yang ingin mengampanyekan simbol-simbol “kemakmuran dan kemewahan” di mayarakat.

    1. Aspek Epistemologi

    Hubungan antara peneliti dengan realitas yang diteliti selalu dijembatani oleh nilai nilai tertentu. Pemahaman tentang suatu realitas merupakan value-mediated Findings (Kriyantono, 2012). pengaruh filsafat rasionalisme terhadap riset kualitatif adalah terletakpada saat analisis dan interpretasi fakta-fakta di lapangan. Rasio sebagai sumber pengetahuan tampak saat perisetberteori termasuk menghubungkan dengan situasi historis dari fakta-fakta tersebut. Analisisndan interpretasi ini mesti mendalam dan holistiksehingga dapat menjelaskan realitas (Kriyantono, 2015). pengaruh empirisme pada riset kualitatif tampak pada saat periset terjun langsung ke lapangan untuk menggali data. Periset memberikan kesempatan luas subjek riset untuk mengekpose pengalaman-pengalaman mereka sendiri. Sementara filsafat idealis maupun humanistis memengaruhi riset kualitatifkarena memungkinkan periset mendialogkan proses-proses mental yang ada dalamdirinya (berpikir, emosi-emosinya, pengalaman-pengalamannya) dengan proses mental dari subjek risetnya.

    1. Aspek Aksiologi

    Nilai, etika, dan pilihan moral merupakan bagian takterpisahkan dari penelitian. Peneliti menempatkan diri sebagai intektual transformasi, advokat dan aktivis (Kriyantono, 2012). periset dalam pendekatan kritis berupaya untuk mempromosikan nilai-nilai untuk pencerahan masyarakat melalui kritik-kritik sosial (Kriyantono, 2015). Ilmuwan menawarkan pandangan-pandangan transformasi sosial dan aktivis perubahan. Tujuan dari penelitian menggunakan paradigma kritis adalah untuk kritik sosial, transformasi, emansipasi dan social empowerment (Kriyantono, 2012).

    6. Aplikasi Paradigma Positivistik dalam Penelitian Komunikasi

Aplikasi dari paradigma positivistik adalah penelitian mengenai pengaruh promosi melalui media sosial dengan minat beli seseorang. Sebelum itu, peneliti harus melakukan literature review untuk mencari indikator dalam teori yang sudah ada. Setelah itu, melalui indikator tersebut diturunkanlah item pertanyaan. Pertanyaan disebar melalui kuesioner untuk kemudian diuji validitas dan reliabilitasnya, setelah itu dianalisis.

 

Daftar Rujukan

Kriyantono, Rachmat. 2012. Etika & Filsafat Ilmu Komunikasi. Malang : UB Press.

Kriyantono, Rachmat. 2015. Public Relations, Issue, & Crisis Management. Jakarta: Prenadamedia Group.

Mulyana, D. 2003. Metodologi Penelitian Kualitatif Paradigma Baru Ilmu
Komunikasi dan Ilmu Sosial Lainnya. Rosda Karya. Bandung

Guba,E. 1990. The Paradigma Dialog. London: Sage

Kuhn, T.S. 1962, The Structure of Scientific Revolution. Peran Paradigma Dalam
Revolusi Sains. Edisi Terjemahan. Rosda Karya. Bandung

Salim, A. 2006. Teori & Paradigma Penelitian Sosial.Tiara Wacana. Yogyakarta.