Apa Itu Sunnah?

Life with Sunnah

Memahami pengertian sunnah, kita akan mulai dari pengertian sunnah menurut bahasa. Kata sunnah berasal dari kata sanna yang berarti menciptakan sesuatu dan mewujudkannya menjadi suatu model. Kata Sunnah yang bentuk pluralnya, “sunan” berakar dari huruf sin dan nun yang berarti berjalan. Kata sanna umumnya diterapkan untuk menggambarkan peragaa tingkah laku. Misalnya perbuatan yang menjadi patron untuk diteladani. Suatu tingkah laku yang layak dicontoh. Perbuatan sebagai contoh, dapat di mulai dengan membuat model atau mengambil praktik orang terdahulu, nenek moyang suku atau suatu komunitas (baca: pengertian sunnatullah).

 

Adapun pengertian sunnah secara etimologi, yaitu perilaku yang telah menjadi tradisi (habitual practice), kebiasaan, atau prilaku keumuman. Sunnah menurut istilah juga berarti praktek yang diikuti, baik berupa arah, model perilaku, bentuk perilaku atau tindakan, perilaku yang berdasarkan pada ketentuan dan peraturannya, serta dapat juga diartikan sebagai teladan baik atau teladan buruk. Meski demikian, banyak pakar yang memberi arti berbeda dari sunnah. Namun, secara garis besar bahwa sunnah merupakan tata cara atau praktek aktual yang dilakukan secara berulang-ulang sehingga mentradisi, maka dapat dinyatakan bahwa sunnah merupakan hukum tingkah laku.

Oleh ulama, sunnah bisa juga diartikan sebagai jalan (althariqah), baik jalan yang terpuji maupun jalan yang tercela. Dengan kata lain, sunnah sebagai thariqah bersifat netral. Ia dapat menunjuk kepada jalan yang terpuji atau jalan yang tercela atau menunjukkan kepada teladan baik atau teladan buruk (baca: peristiwa karbala menurut ahlussunnah).

Sunnah bisa menunjukan jalan baik dan buruk, berdasarkan seperti apa yang disabdakan hadis Nabi saw; “Barangsiapa yang membuat Sunnah (teladan) yang baik dalam Islam, maka baginya pahalanya dan pahala orang yang mengamalkannya sesudahnya tanpa mengurangi sedikitpun dari pahala mereka. Barangsiapa yang membuat Sunnah (teladan) yang buruk dalam Islam, maka baginya dosanya dan dosa orang yang mengamalkannya sesudahnya tanpa mengurangi sedikitpun dari dosa mereka”.

Referensi Makalah®

Kepustakaan: Ahmad Warson al-Munawwir, Kamus Arab-Indonesia Terlengkap, (Surabaya: Pustaka Progressif, 1997). Salim Ali al-Bahanasawi, as-Sunnah al-Muftara Alaiha, terj. Rekayasa as-Sunnah oleh Abdul Basith Junaidy, (Yogyakarta; Ittaqa Press, 2001)

Wahai saudaraku yang ku cintai,

manfaat dari mengikuti sunnah itu banyak. Diantaranya:

Pertama, menggapai mahabbatullah (kecintaan Allah)

Mendekatkan diri kepada Allah Azza Wa Jalla dengan melakukan berbagai hal yang dianjurkan menjadi sebab digapainya cinta Allah. Ibnul Qayyim berkata dalam Madarijus Salikin:

ولا يحبك الله إلا إذا اتبعت حبيبه ظاهرًا وباطنًا، وصدقته خبرًا، وأطعته أمرًا، وأجبته دعوة، وآثرته طوعًا، وفنيت عن حكم غيره بحكمه، وعن مَحبة غيره من الخلق بمحبته، وعن طاعة غيره بطاعته، وإن لم يكن ذلك فلا تَتَعَنَّ، وارجع من حيث شئت، فالتمس نورًا فلست على شيء

“Allah tidak akan mencintaimu kecuali engkau mengikuti Habibullah (Rasulullah) secara lahir dan batin, membenarkan sabdanya, mentaati perintahnya, menjawab dakwahnya, mengikuti jalan hidupnya, mendahulukan hukum beliau dibandingkan dengan hukum lain, mendahulukan cinta kepada beliau diatas cinta kepada yang lain, mendahulukan ketaatan kepada beliau dibandingkan kepada orang lain. Kalau engkau tidak demikian, maka tidak ada gunanya. Coba saja lakukan apa yang dapat menggapai cinta Allah menurut caramu sendiri. Engkau mencari cahaya namun tidak akan mendapatkannya”.

Kedua, menggapai ma’iyatullah (kesadaran bahwa Allah senantiasa melihat kita, pent.)

Sehingga Allah senantiasa memberi taufiq untuk berbuat kebaikan. Anggota tubuhnya tidak akan melakukan sesuatu kecuali yang diridhai oleh Allah. Jika mahabbatullah diraih maka ma’iyatullah pun diraih.

Ketiga, dikabulkannya doa-doa yang menunjukkan kecintaan kepada Allah

Barangsiapa mendekatkan diri kepada Allah Azza Wa Jalla dengan melakukan berbagai hal yang dianjurkan, ia mendapat kecintaan Allah. Dan jika kecintaan Allah telah diraih, doa pun dikabulkan. Hal ini ditunjukkan oleh hadits dari Abu Hurairah, bahwa Rasulullah Shallallahu’alaih Wasallam bersabda:

إن الله قال: من عادى لي وليًّا، فقد آذنته بالحرب، وما تقرب إلي عبدي بشيء أحب إلي مما افترضته عليه، وما يزال عبدي يتقرَّب إلي بالنوافل حتى أحبه، فإذا أحببته كنت سمعه الذي يسمع به، وبصره الذي يبصر به، ويده التي يبطش بها، ورجله التي يمشي بها، وإنْ سألني لأعطينه، ولئن استعاذ بي لأعيذنه، وما ترددت عن شيء أنا فاعله ترددي عن نفس المؤمن يكره الموت، وأنا أكره مساءته

Sesungguhnya Allah berfirman: “Barangsiapa yang memusuhi wali-Ku, maka aku telah mengumumkan perang terhadapnya. Tidak ada yang lebih aku sukai dari seorang hamba yang mendekatkan diri kepada-Ku, kecuali ia melakukan hal yang Aku wajibkan kepadanya. Dan sesungguhnya hamba-Ku dengan sebab senantiasa mendekatkan diri kepada-Ku dengan amalan-amalan sunnah, Aku pun mencintainya. Maka bila aku telah mencintainya Aku menjadi pendengarannya, yang ia mendengar dengannya. Aku menjadi penglihatannya, yang ia melihat dengannya. Aku menjadi tangannya yang ia memukul dengannya. Aku menjadi kakinya yang ia berjalan dengannya. Bila ia meminta kepada-Ku, Aku akan mengabulkannya. Bila meminta perlindungan kepada-Ku maka aku akan melindunginya. Bila ia menolak sesuatu yang dibenci oleh dirinya, Akulah yang melakukannya. Dan seorang mukmin itu benci kematian yang jelek, maka Akulah yang menghindarkannya” (HR. Bukhari)

Keempat, memperbaiki kekurangan dalam penunaian kewajiban

Perbuatan-perbuatan yang dianjurkan (nafilah) memperbaiki kekurangan-kekurangan dalam penunaian hal-hal yang wajib. Yang menunjukkan ini adalah hadits

إنَّ أول ما يحاسب به العبد يوم القيامة من عمله صلاته، فإن صلحت فقد أفلح وأنجح، وإن فسدت، فقد خاب وخسر، فإن انتقص من فريضة شيئًا، قال الرب – تبارك وتعالى -: انظروا هل لعبدي من تطوع؟ فيكمل بها ما انتقص من الفريضة، ثم يكون سائر عمله على ذلك

Sesungguhnya hal pertama yang dihisab dari hamba-Ku di hari kiamat adalah shalatnya. Jika perhitungannya baik, ia akan beruntung dan selamat. Jika perhitungannya buruk, ia akan rugi. Jika ada kekurangan dalam shalat wajibnya, Allah Tabaraka Wa Ta’ala berfirman: Lihatlah apakah hambaku mengerjakan shalat sunnah? Maka disempurnakan dengannya apa-apa yang kurang dari shalat wajibnya. Demikian juga dengan seluruh amal-amalnya” (HR. Ahmad, Abu Daud, Tirmidzi)

Kelima, menghidupkan hati

Jika seorang hamba senantiasa menjaga sunnah dan menjadikannya hal yang paling penting untuk dipegang, akan terasa sulit baginya meremehkan kewajiban atau kurang dalam pelaksanaannya. Lalu ia pun mendapat keutamaan lain, yaitu ia senantiasa mengagungkan syiar-syiar Allah. Sehingga hatinya pun hidup karena ketaatan kepada Allah. Dan barangiapa meremehkan hal-hal yang sunnah, mengakibatkan ia akan terhalang menjalankan kewajibannya.

Keenam, terjaga dari melakukan bid’ah

Ketika seorang hamba senantiasa mengikuti apa-apa yang datang dari sunnah Nabi, ia akan bertekad untuk tidak melakukan suatu ibadah kecuali ada dalilnya. Dengan ini ia akan selamat dari jalan kebid’ahan.

Bagi pengikut sunnah, masih banyak lagi buah yang didapat. Ibnu Taimiyah dalam Al Qa’idah Al Jaliyah berkata:

فكل من اتبع الرسول صلى الله عليه وسلم فالله كافيه وهاديه وناصره ورازقه

“Barangsiapa mengikuti Rasulullah Shallallahu’alaihi Wasallam maka Allah akan mencukupkannya, memberinya hidayah,  menolongnya dan melimpahkan rezeki kepadanya”

Murid beliau, Ibnul Qayyim, juga berkata dalam Madarijus Salikin :

فمن صحب الكتاب والسنة، وتغرب عن نفسه وعن الخلق، وهاجر بقلبه إلى الله، فهو الصادق المصيب

“Barangsiapa mengikuti Qur’an dan Sunnah, mengalahkan egonya dan pendapat-pendapat orang, ia berhijrah kepada Allah dengan sepenuh hati, maka dia lah orang yang benar”

 

Sumber: http://www.almenhaj.net/tawheed/text.php?linkid=9964