Peran Mahasiswa dalam Mewujudkan SDGs melalui Gerakan Mahasiswa untuk Indonesia Maju

October 6th, 2021

Soe Hok Gie adalah salah satu contoh pemuda hebat yang pernah berkata: “Saya bermimpi tentang sebuah dunia dimana tokoh agama, buruh, dan pemuda bangkit dan berkata: Stop Semua Kemunafikan! Stop semua pembunuhan atas nama apapun! Tak ada rasa benci pada siapa pun, agama apa pun, dan bangsa apa pun. Dan melupakan perang dan kebencian, dan hanya sibuk dengan pembangunan dunia yang lebih baik”. 

Soe Hok Gie merupakan seorang mahasiswa dan aktivis Indonesia di era pemerintah Soekarno dan Soeharto yang meninggal dunia di Kawasan puncak Gunung Semeru (3.676 mdpl), Jawa Timur karena menghirup gas beracun. Perannya sebagai pemuda dalam menentang kediktatoran yang berturut-turut dari Presiden Soekarno dan Soeharto merupakan salah satu dari sekian banyak wujud aksi nyatanya untuk beraspirasi. Walaupun raganya telah hilang, tetapi semangat perjuangannya tidak pernah usai. Semangat perjuangan seperti Soe Hok Gie inilah yang perlu ditanamkan serta diimplementasikan oleh seluruh pemuda di Indonesia agar Sustainable Development Goals dapat segera terwujudkan.

Sustainable Development Goals (SDGs) atau yang biasa disebut tujuan pembangunan berkelanjutan adalah program aksi global yang memuat 17 tujuan dengan 169 target, dimana dari hampir semua tujuan SDGs diperlukan pemuda di dalam prosesnya untuk ikut serta berperan menyukseskan program SDGs ini.  Sesuai dengan peran mahasiswa dalam Tri Dharma Perguruan Tinggi, diharapkan mahasiswa dapat mengimplementasikan isinya dengan ikut berkontribusi selama di Perguruan Tinggi. Jika membahas mengenai mahasiswa, mungkin kebanyakan orang berpikir bahwa tugas mahasiswa adalah belajar dan belajar. Tetapi sesungguhnya tanpa kita sadari sedikit aksi saja dari mahasiswa mampu memberikan efek yang luar biasa terhadap kehidupan di masyarakat. 

Hal tersebut terbukti dengan aksi demonstrasi yang pernah dilakukan oleh mahasiswa pada masa Reformasi Mei 1998 yang kini berhasil membawa perubahan, walaupun hasil dari agenda reformasi tersebut yang tidak signifikan. Tetapi gerakan dari mahasiswa itu sedikit banyak dapat mewakilkan hampir seluruh aspirasi masyarakat. Selain itu, tidak bisa dilupakan bahwa gerakan menolak Omnibus Law (UU Cipta Kerja) yang mulai dilakukan pada 13 Januari 2020 oleh mahasiswa baik di ibukota maupun di luar daerah dengan berani yang berakhir pada tahun 2021. Para mahasiswa bersama saling bahu-membahu demi menyuarakan aspirasi, terlebih suara rakyat kecil yang jarang terdengar. Dengan disahkannya UU Cipta Kerja justru merugikan rakyat kecil karena berpotensi lebih menguntungkan investor daripada pekerja. Hal ini semakin menjauhkan Indonesia dari kesejahteraan bersama sesuai tujuan dalam SDGs. Disinilah semangat perjuangan para pemuda seperti Soe Hok Gie dibutuhkan.

Dengan demikian, perubahan dalam hal sekecil apapun tidak akan bisa terwujud tanpa adanya niat dan aksi nyata dari individu atau kelompok tertentu. Seperti yang telah dilakukan oleh para mahasiswa melalui aksi demonstrasi tentunya tanpa disertai anarkisme. Hal ini merupakan bukti nyata dan konkret yang pada akhirnya mampu menyadarkan seluruh lapisan masyarakat juga para pemerintah bahwa mahasiswa berperan sangat penting dalam membawa serta menciptakan perubahan untuk Indonesia Maju. Dengan adanya kontribusi dari mahasiswa dalam menyuarakan aspirasi masyarakat untuk ikut serta mewujudkan program SDGs, maka akan membantu menyukseskan 17 tujuan pembangunan berkelanjutan serta mampu menyejajarkan Indonesia dengan negara-negara maju

Hello world!

October 5th, 2021

Selamat datang di Student Blogs. Ini adalah posting pertamaku!