Archive for the ‘ KARTOGRAFI ’ Category

ANALISIS LANDSCAPE PADA KAB. SIDOARJO

  1. Karakteristik Geografis

Sidoarjo yang berlokasikan 23 km dari Surabaya. Itu terletak di Timur antara 112,5 dan 112,9 bujur derajat dan di Selatan antara 7,3 dan 7,5 derajat lintang. Kota ini adalah daerah kabupaten, terletak di dataran rendah DAS Brantas antara dua cabang sungai utama; Kali Porong dan Kali Surabaya. Sidoarjo merupakan delta dari DAS Brantas, oleh karena itu orang-orang dari daerah ini disebut kota ‘Kota Delta atau Delta City. Kabupaten ini berbatasan dengan Kota Surabaya dan Kabupaten Gresik di utara, dengan Kabupaten Pasuruan di selatan, dengan Kabupaten Mojokerto di sebelah barat, dan di sebelah timur oleh selat Madura.

(Http://www.petra.ac.id/eastjava/cities/sidoarjo /~~Vsidoarjo.)
Kondisi iklim Sidoarjo mirip dengan daerah lain di
Jawa Timur yang memiliki iklim tropis basah, dengan rata-rata tahunan curah hujan 1900 mm dan suhu tahunan dari 21 sampai 34 ° C. Tata Ruang Pemodelan dan Elemen pada Penilaian Resiko yang ada pada lumpur lapindo akan saya selipkan didalamnya agar lebih menarik pembaca dan mengerti sedikit tentang  hal tersebut.

Gambar. 2 – 1. Lokasi Lumpur aliran.

Gambar    2 – 2. Propinsi Jawa Timur

Gambar. 2 – 3.

Lokasi Semburan Lumpur dari

Gambar. 2 – 4.

Daerah genanganLandsat citra.

B. Topografi

Propinsi Jawa Timur dapat dibagi menjadi tiga zona fisiografi, sebuah dataran tinggi di selatan, daerah vulkanik di pusat, dan dilipat daerah di utara. Sidoarjo terletak di utara atau pegunungan daerah dan dikelilingi oleh tiga gunung berapi aktif dari kelompok Anjasmoro yang terdiri dari Mt. Arjuno (3.239 m), Mt. Welirang (3,156 meter) dan Mt. Anjasmoro (2,277 meter). Para ilmuwan berpendapat bahwa lumpur
gunung berapi berkaitan dengan aktivitas gunung berapi ini. Pada pegunungan di dekatnya berdiri sebuah bukit, Watukosek dengan menginterpretasikan citra Landsat ada indikasi bahwa itu adalah akibat dari kesalahan. Garis imajiner yang membentang ke utara dari kesalahan ini akan bertemu dengan sumber
dari lubang semburan lumpur. daerah penelitian terletak di dataran rendah dengan kisaran elevasi 0 sampai 5 m. Ini adalah wilayah delta DAS Brantas, sebagian besar datar dan laut, dan jarak ke laut berjarak 15 km saja.

                               Gambar. 2 – 5.

Sebuah tampilan tiga dimensi Porong dan sekitarnya

C. Geologi
Sidoarjo terletak di Cekungan Jawa Timur pada marjin tenggara dari platform Sunda di mana batuan dasar Mesozoikum dan batuan melange yang ditemukan (IAGI, 2006). Jawa Timur cekungan ekstensional terbalik merupakan cekungan (Matthews dan Bransden 1995, di Davis et al, 2007.). Di bawah ini bagian dari Jawa terdapat serangkaian pemogokan setengah graben di arah timur-barat, dan penuh dengan lumpur laut dan karbonat. secara geologis  cekungan Jawa masih aktif sejak zaman Paleogen. Cekungan diawali dengan tekanan selama periode Oligo-Miosen (Osborne dan Swarbrick, 1997 di Davies, 2007). Beberapa sedimen berubah menjadi lumpur gunung berapi yang telah diamati di Sangiran Dome dan
Bledukkuwu dekat Purwodadi, 200 km dari Sidoarjo.
Para disgorgement lumpur dekat Sidoarjo, menurut Matthews dan Bransden, 1995 (Davis 2007)  meyakini bahwa lebih rendah, Miosen yang mungkin setara dengan Tuban atau Tawun tanah liat Formasi (umur mirip dengan batu kapur Kujung) dan Atas
Formasi Kalibeng. Watanabe dan Kadar, (1985, dalam Davies, 2007) juga telah mempertimbangkan Formasi ini menjadi sumber lumpur

Sumber: Departemen Energi dan Pertambangan – Jawa Timur.

Gambar. 2 – 6.
Geologi Peta Sidoarjo.

Stratigrafi
Seperti dijelaskan oleh Suyoto (2006) urutan stratigrafi di Sidoarjo, berdasarkan usia formasi dari tua ke muda adalah sebagai berikut:
1. Formasi Ngimbang
Pembentukan terendah (yang tertua), terdiri dari lapisan batu pasir, puing dan siltstones, sebelumnya berada di laut dangkal lingkungan seperti yang ditunjukkan oleh isi dominan foraminifera. Usia pembentukannya adalah selama Oligosen awal
dengan batu kapur sebagai litologi dominan.
2. Formasi Kujung
Formasi ini didirikan selama Oligosen akhir. Hal ini
mirip dengan formasi Ngimbang di lingkungan laut pada kedalaman 200 sampai 500 meter. Hal ini ditunjukkan oleh benthos berlimpah. Itu pembentukan ditandai oleh napal dan batulempung sedangkan batu kapur dan karang terumbu deposito mengatur pada lapisan atas. Itu biota terdiri juga dari foraminifera dan rumput laut.
3. Formasi Prupuh
Pembentukan Prupuh ditarik dari Panceng di sebelah timur, melalui Paciran – Palang-Tuban dan terus ke selatan. Itu usia formasi ini di Oligosen akhir sampai lebih rendah Miosen. Formasi ini dicirikan oleh kotor berwarna putih batu kapur dan cahaya kelabu putih berwarna bio-klastik batu gamping.
4. Formasi Kalibeng
Pembentukan Kalibeng berada di Miosen akhir sampai tengah tahap Pliosen. Ketebalannya bervariasi 500-700 meter dan terungkap dalam Kalibeng, Jombang. Lapisan atas terdiri dari interspersions dari tuffan, tuf tuf, lapili breksi dan batu pasir.

Gambar. 2 – 7.

Stratigrafi Jawa Timur cekungan.
5. Formasi Lidah
Pembentukan Lidah memiliki dua lapisan, lapisan atas adalah terendapkan pada lingkungan laut dangkal pada kedalaman 20 sampai 50 meter dan lebih rendah mengeras di laut yang dilindungi lingkungan pada kedalaman 200 sampai 300 meter. Usia nya formasi diperkirakan antara Pliosen Pleistosen untuk.
6. Formasi Pucangan
Pembentukan Pucangan terletak di pusat barat dan meluas ke timur bagian dari zona Kendeng sebagai Mt. Pucangan, Jombang. Itu formasi terdiri dari tuf napalan dan mengandung moluska, sisipan dari breksi, batu pasir dan konglomerat tuffan dari batu pasir. Usia formasi ini selama Pliosen sampai akhir Pliosen.
7. Formasi Kabuh
Pembentukan Kabuh ditemukan dalam Sumberangin kecamatan, Jombang. Ini adalah situs terkenal di kalangan arkeolog. Sebagai contoh, Eugene Dubois menemukan tengkorak Homoerectus di Sangiran dan
von Konigswald menemukan fosil vertebrata di Trinil (Suyoto, 2006). Ketebalan formasi ini bervariasi 100-700 meter dan didirikan selama Mid Pleistosen.
8. Formasi Notopuro
Pembentukan, sebagai nama terungkap pada Notopuro, kecil desa di Madiun, memiliki usia yang diperkirakan pada kala Pleistosen akhir. Ketebalan formasi ini sekitar 240 meter dan terdiri dari tuf diselingi dengan batu pasir tuffan, breksi vulkanik dan
konglomerat.
2. Struktur Geologi
Beberapa struktur utama yang mendominasi bagian utara Cekungan Jawa Timur (Guntoro, 2006), adalah: pola struktural pada NNESSW yang diungkapkan dengan baik di Laut Jawa dan dikendalikan oleh
batuan dasar faulting, dan Barat-Timur pola yang baik diekspresikan pada Barat-Timur kesalahan seri (sesar mendatar), dan lipatan dengan Barat-Timur pola dan dikenal sebagai Kendeng kali lipat. Di gunung lumpur Porong-Sidoarjo sekitarnya, SW-NE kelurusan dapat diidentifikasi yang terus ke Pulau Madura. Itu memisahkan dua sistem dilipat. Seperti yang dijelaskan oleh Guntoro (2006), dan Kadar dkk (2006),. di sekitar Porong, struktur permukaan dikenal sebagai Watukosek kesalahan dapat diidentifikasi. Gunung berapi lumpur di Sidoarjo (Porong Volcano Lumpur) hampir di baris yang sama dengan kesalahan ini. Kesamaan pola dan arah antara kesalahan dan gunung lumpur menunjukkan hubungan antara semburan lumpur dan zona patahan (Guntoro, 2006, Kadar dkk, 2006.). Gunung lumpur lainnya beberapa yang terletak di baris yang sama dengan Volcano Lumpur Porong adalah Mud Volcano Pulungan, Gunung Anyar dan Gunung Lumpur Bujeltasek di Pulau Madura (Kadar dkk., 2006).


Gambar. 2 – 8.

Distribusi gunung berapi lumpur   diTengah dan Jawa Timur.

                             Gambar. 2-9.

Lumpur gunung api diSidoarjo, Jawa Timur.

Gambar. 2-10.

Para Watukosek kesalahan dari Landsat gambar.

D. Penggunaan lahan
Penggunaan informasi pertanahan daerah studi diekstraksi dari 1996 topografi peta (RBI) pada skala 1:10.000 yang diperbarui menggunakan gambar 2002 Ikonos dan melalui pemeriksaan lapangan. Tanah
Porong kecamatan terutama ditandai dengan kepadatan tinggi perkotaan pemukiman, kawasan industri, dan pertanian. Beras, diikuti dengan gula
tebu dan tembakau, dan hortikultura campuran yang kebanyakan tumbuh di daerah pinggiran kota. Dalam mendukung kegiatan industri, fisik infrastruktur seperti jalan tol, jembatan, bangunan pabrik, kereta api,
adalah imanen di daerah tersebut. Porong kecamatan merupakan salah satu Sidoarjo kabupaten yang dimaksudkan sebagai zona industri terbesar di Jawa Timur.

Gambar. 2 – 11.

Topografi Peta 1996, pada skala 1:10.000.

Gambar. 2 – 12.

Ikonos citra, 2002

Gambar. 2-13.

Penggunaan lahan peta (diperbaharui2002).

by.Ryant putra noor hidayat

KARTOGRAFI

Pengertian Kartografi
A.

Kartografi adalah studi dan praktik membuat peta atau globe, dapat pula didefinisikan sebagai gabungan dari ilmu, seni dan teknik dalam pembuatan (penggambaran) peta. Pengertian ilmu, seni dan teknik dapat diuraikan lebih terperinci lagi sebagai berikut :
• Ilmu : Penentuan ukuran kertas (A0, A1, A3 dan sebagainya), simbol yang
digunakan, ukuran pena / pensil / rapido yang digunakan dan jenis kertas yang
digunakan (kertas,kalkir, drafting film) dll.
• Seni : Penghalusan gambar, pewarnaan gambar, penggunaan symbol, penggunaan
huruf dll
• Teknik : Pengeplotan objek (titik, pohon, bangunan dll.), interpolasi kontur (bila menggunakan cara manual), pembuatan grid, sistem koordinat, legenda dll

B. Klasifikasi Kartografi
• Kartografi Dasar
Kartografi Dasar yaitu pengetahuan kartografi yang pekerjaannya lebih mengutamakan mulai dari pembahasan tentang judul peta, skala peta, legenda dan sebagainya.
• Kartografi Topografi
Kartografi topografi lebih mengutamakan kepada bidang pemetaan topografi, dan biasanya pada pembuatan peta-peta skala besar.
• Karografi Teknik
Kartografi teknik adalah pekerjaan kartografi yang lebih mengkhususkan kepada bidang-bidang pembuatan lettering peta, cetak mencetak peta dan sebagainya.
• Kartografi Tematik
Kartografi Tematik yaitu mengkhususkan kepada pembuatan peta-peta tematik, seperti pemetaan data sumberdaya alam dan mineral, data penduduk dan sebagainya.

C. Tujuan Kartografi
Sedangkan tujuan Kartografi adalah mengumpulkan dan menganalisis data dari hasil ukuran dari berbagai pola / unsur permukaan bumi dan menyatakan secara grafis dengan skala yang sedemikian rupa sehingga unsur-unsur tersebut dapat terlihat dengan jelas, mudah dimengerti dan dipahami.
D. Sejarah perkembangan kartografi
Sebuah peta adalah representasi grafis atau model skala konsep spasial. Ini adalah cara untuk menyampaikan informasi geografis. Peta adalah media universal untuk komunikasi, mudah dimengerti dan dihargai oleh kebanyakan orang, tanpa memandang bahasa atau budaya. Incorporated di peta adalah pemahaman bahwa itu adalah “snapshot” dari sebuah ide, gambar tunggal, pilihan konsep dari terus berubah database informasi geografis (Merriam 1996).
peta Lama memberikan banyak informasi tentang apa yang dikenal di masa lalu, serta budaya dan filosofi dasar peta, yang sering jauh berbeda dari kartografi modern. Peta adalah salah satu cara dimana para ilmuwan mendistribusikan ide-ide mereka dan meneruskannya kepada generasi mendatang (Merriam 1996).
• Peta di Awal Perkembangan
Kartografi adalah seni dan ilmu pembuatan peta. Peta tertua yang diawetkan pada tablet tanah liat Babilonia dari sekitar 2300 SM Kartografi itu cukup maju di Yunani kuno. Konsep Bumi bulat itu terkenal di kalangan filsuf Yunani pada saat Aristoteles (ca. 350 SM) dan telah diterima oleh semua geografer.
kartografi Yunani dan Romawi mencapai puncak dengan Claudius Ptolemaeus (Ptolemy, sekitar tahun 85-165). “peta dunia” digambarkan. Dunia Lama dari sekitar 60 ° N ke 30 ° S garis lintang. Dia menulis karya monumental, Panduan untuk Geografi (Geographike hyphygesis), yang tetap menjadi referensi otoritatif di geografi dunia hingga Renaissance.

• Medieval Maps
Selama periode Abad Pertengahan, peta Eropa didominasi oleh pandangan agama. Peta ATAS adalah hal biasa. Dalam format peta, Yerusalem digambarkan di pusat dan timur berorientasi pada bagian atas peta.eksplorasi Viking di Atlantik Utara secara bertahap dimasukkan ke dalam pandangan dunia dimulai pada abad ke-12. Sementara itu, kartografi dikembangkan lebih praktis dan realistis sepanjang garis di tanah Arab, termasuk wilayah Mediterania. Semua peta, tentu saja, ditarik dan diterangi dengan tangan, yang membuat distribusi peta sangat terbatas.
• Renaissance Maps
Penemuan pencetakan membuat peta lebih banyak tersedia dimulai pada abad ke-15. Peta berada di blok kayu pertama yang dicetak menggunakan diukir (lihat di atas). Di antara pembuat peta yang paling penting pada masa ini adalah Sebastian Münster di Basel (sekarang Swiss). Nya Geographia, yang diterbitkan pada tahun 1540, menjadi standar global baru untuk peta dunia.
Percetakan dengan pelat tembaga terukir muncul pada abad 16 dan terus menjadi standar hingga teknik fotografi dikembangkan. Kemajuan besar dalam pemetaan terjadi pada Zaman Eksplorasi di abad 15 dan 16.pembuat Peta menanggapi dengan grafik navigasi, yang digambarkan garis pantai, pulau, sungai, pelabuhan, dan fitur yang menarik berlayar. baris Kompas dan bantuan navigasi lainnya termasuk, proyeksi peta baru dibuat, dan bola dibangun. peta dan bola dunia tersebut diselenggarakan di nilai besar untuk, militer, dan diplomatik tujuan ekonomi, dan sebagainya sering dianggap sebagai atau komersial rahasia nasional – atau kepemilikan peta rahasia.
Seluruh-peta dunia pertama mulai muncul di awal abad ke-16, setelah pelayaran oleh Columbus dan orang lain untuk Dunia Baru. Peta dunia pertama benar biasanya dikreditkan ke Martin Waldseemüller di tahun 1507.Peta ini digunakan proyeksi Ptolemaic diperluas dan adalah peta pertama yang menggunakan nama Amerika untuk Dunia Baru – lihat Waldseemüller’s peta dunia .

Gerardus Mercator dari Flanders (Belgia) adalah kartografer terkemuka dari pertengahan abad ke-16. Ia mengembangkan proyeksi silinder yang masih banyak digunakan untuk grafik navigasi dan peta global. Ia menerbitkan peta dunia pada 1569 yang didasarkan pada proyeksi ini. Banyak proyeksi peta lainnya segera dikembangkan.
• Modern Maps
Peta menjadi semakin akurat dan faktual selama abad ke-17, 18 dan 19 dengan penerapan metode ilmiah. Banyak negara melakukan program pemetaan nasional. Meskipun demikian, sebagian besar dunia ini kurang diketahui sampai meluasnya penggunaan foto udara berikut perang Dunia I. Kartografi Modern didasarkan pada kombinasi pengamatan tanah dan penginderaan jauh.
• Sistem Informasi Geografis (GIS)
muncul pada periode-1980 1970. GIS merupakan perubahan besar dalam paradigma kartografi. Dalam tradisional (kertas) kartografi, peta itu dipandang baik sebagai database dan menampilkan informasi geografis. Untuk GIS, database, analisis, dan menampilkan secara fisik dan konseptual aspek terpisah dari penanganan data geografis. Sistem Informasi Geografis terdiri dari perangkat keras komputer, perangkat lunak, data digital, orang, organisasi, dan lembaga untuk mengumpulkan, menyimpan, menganalisis, dan menampilkan informasi bergeoreferensi tentang bumi (Nyerges 1993).
Semua peta yang dibuat sesuai dengan asumsi-asumsi dasar tertentu, untuk datum permukaan laut misalnya, yang tidak selalu benar atau diverifikasi. Akhirnya peta manapun adalah produk dari usaha manusia, dan dengan demikian dapat dikenakan kesalahan tanpa sadar, keliru, bias, atau penipuan langsung. Terlepas dari keterbatasan ini, peta terbukti sangat beradaptasi dan berguna melalui beberapa ribu tahun peradaban manusia. Peta dari segala jenis secara fundamental penting bagi masyarakat modern

E. PETA
I. Sejarah Peta
Peta yang sekarang sering kita lihat dan jumpai baik di toko buku, di Instansi, Perguruan Tinggi dan sebagainya pada saat ini umumnya penampilannya relatip menarik. Apabila ditengok kebelakang, keberadaan peta pada zaman dahulu tidaklah sebaik saat ini dari segi penampilan, hal ini karena keterbatasan peralatan maupun perlengkapan yang ada pada saat itu. Akan tetapi tentang bentuk dan ketelitiannya apakah sejelek yang diperkirakan? Jawabannya sangat relatif, artinya bergantung pada peta zaman sekarang yang akan dibandingkan dengan peta pada zaman dahulu, karena dapat saja peta saat ini dibuat asal jadi, lalu dihiasi dengan warna-warni supaya terlihat menarik (tetapi ketelitian geometris maupun koordinatnya sangat kecil).
II. Pengertian Dan Fungsi Peta
Peta adalah gambaran permukaan bumi yang diproyeksikan ke dalam bidang datar denngan skala tertentu. Kartografi merupakan ilmu yang khusus mempelajari segala sesuatu tentang peta. Mulai dari sejarah, perkembangan, pembuatan, pengetahuan, penyimpanan, hingga pengawetan serta cara-cara penggunaan peta. Dalam makalah ini akan dibahas bagaimana proses pemetaan dan simbol pada peta.
Lalu apa fungsi dan tujuan pembuatan peta? Adan beberapa maksud dari pembuatan sebuah peta. Fungsi pembuatan peta antara lain:
1. Dengan adanya peta dapat menunjukkan posisi atau lokasi relatif yang hubungannya dengan lokasi asli dipermukaan bumi.
2. Peta mampu memperlihatkan ukuran.
3. Peta mampu menyajikan dan memperlihatkan bentuk.
4. Mengumpulkan dan menyeleksi data dari suatu daerah dan menyajikan diatas peta dengan simbolisasi.
Sedangkan tujuan pembuatan peta yaitu:
1. Untuk komunikasi informasi ruang.
2. Media menyimpan informasi.
3. Membantu pekerjaan.
4. Membantu dalam desain.
5. Analisis data spatial.

Dari fungsi dan tujuan diatas, maka peta bukan hanya berguna dalam menentukan lokasi namun juga dalam berbagai bidang. Selain itu, pembuatan peta bukan semata-mata hanya karena untuk memperoleh uang, namun juga sangat berguna bagi hajat hidup masyarakat yang luas dalam keruangan.

III. Penggolongan Peta
Secara garis besar, peta dapat dikelompokkan menjadi 3 kelompok berdasarkan :
• Sifat
Berdasarkan sifatnya, peta dapat dikelompokkan menjadi 2 (dua) bagian yaitu:
Peta topografiü
Peta topografi dimaksudkan sebagai gambaran yang merupakan sebagian atau seluruh permukaan bumi yang digambar pada bidang datar dengan cara tertentu dan skala tertentu yang mencakup unsur-unsur alam saja, unsur buatan manusia saja atau keduanya. Contoh unsur-unsur alam adalah gunung, sungai, danau, laut, vegetasi dan sebagainya. Sedangkan contoh unsur-unsur buatan manusia adalah rumah, jembatan, gardu listrik, gudang, pelabuhan dan sebagainya.
Peta tematikü
Peta tematik dimaksudkan sebagai peta yang memuat atau menonjolkan tema s(unsur) tertentu. Walaupun temanya tertentu, tetapi sering peta tersebut membutuhkan “tempat” untuk wadah peta ini yaitu peta topografi. Oleh karena itu terkadang dalam peta tematik masih ada beberapa unsur pada peta topografi yang ikut pada lembar peta tersebut.
Contoh peta tematik:
opeta jaringan (jaringan pipa air minum, peta jaringan jalan, jaringan telekomunikasi, jaringan listrik, jaringan irigasi dll)
opeta ketinggian (kontur, Digital Terrain Model / Digital Elevation Model)
opeta tata guna lahan (land use) seperti sawah, hutan, kebun, ladang
opeta penyebaran penduduk
opeta batas administrasi, dll.
• Macam
Berdasarkan macamnya, peta dapat digolongkan menjadi 2 (dua) bagian yaitu :
Peta garisü
Peta garis didapat dari survei lapangan yaitu pengukuran di lapangan yang selanjutnya dihitung dan terakhir disajikan dalam bentuk plotting pada kertas, kalkir ataupun pada drafting film. Ada pula peta garis yang didapat dari foto udara yang diproses dengan cara mengeplotkan hasil foto tersebut sedemikian rupa sehingga tergambar menjadi peta garis.
Peta fotoü
Peta foto didapat dari survei udara yaitu melakukan pemotretan lewat udara pada
daerah tertentu dengan aturan fotogrametris tertentu.

Sebagai gambaran pada foto dikenal ada 3 (tiga) jenis yaitu foto tegak, foto miring dan foto miring sekali. Yang dimaksud dengan foto tegak adalah foto yang pada saat pengambilan objeknya
sumbu kamera udara sejajar dengan arah gravitasi( tolerensi <3o), sedangkan yang disebut dengan foto miring sekali apabila pada foto tersebut horison terlihat. Untuk foto miring, batasannya adalah antara kedua jenis foto tersebut. Secara umum foto yang digunakan untuk peta adalah foto tegak (Wolf, 1974). • Skala Pembagian peta berdasarkan skalanya masih belum ada kesepakatan antara ahli. Salah satu pendapat yang membagi peta berdasarkan skalanya, peta tersebut dikelompokkan menjadi 3 (tiga) bagian yaitu  Skala besarü Peta dikatakan skala besar jika bilangan skalanya kurang dari atau sama dengan 10000 atau skala1 : 10000  Skala sedangü Peta dikatakan skala sedang jika bilangan skalanya lebih dari 10000 sampai dengan kurang dari atau sama dengan 100000 atau skalanya antara 1 : 10000 > skala sedang1 : 100000
Skala Kecilü
Peta dikatakan skala kecil jika bilangan skalanya lebih besar dari 100000 atau
skalanya < 1 : 100000
IV. Desain Dan Tata Letak Peta
Desain peta memegang peranan penting dalam hal menciptakan peta yang menarik. Peta yang indah, menarik, warna-warni yang bagus perlu diperhatikan apakah peta tersebut memang baik secara geometris maupun kartografis. Kalau tidak, maka peta tersebut hanya merupakan “hiasan” saja tanpa memberi arti posisi dan informasi yang benar. Jadi peta yang baik haruslah mencakup kebenaran dari segi geometris dan kartografis dan ditunjang adanya desain dan penampilan yang menarik. Untuk menghasilkan peta yang semacam ini barangkali relatif mahal dari segi biaya. Misalnya dengan adanya kombinasi warna, tentunya akan lebih mahal dibanding dengan peta “hitam-putih”.
Syarat peta yang baik yaitu :
1. Peta tidak boleh membingungkan
2. Peta harus dengan mudah dapat dimengerti atau ditangkap maknanya oleh si pemakai peta
3. Peta harus memberikan gambaran yang mendekati keadaan sebenarnya . ini bearti bahwa peta itu harus cukup teliti sesuai dengan tujuannya.
4. Karena peta ini dinilai melalui penglihatan ( oleh mata ) , maka tampilan peta hendaknya enak dipandang.

V. Pertimbangan Dalam Mendesain Peta
Ada beberapa pertimbangan dalam mendesain peta, pertimbangan tersebut meliputi maksud dan tujuan peta, skala peta, penyajian symbol, proyeksi peta, warna yang digunakan, jenis dan ukuran huruf dan angka serta tata letak informasi tepi. Oleh karena itu banyak sekali peta yang beredar di masyarakat dengan berbagai bentuk, simbol, warna dan lain sebagainya. Hal ini sah-sah saja asal sesuai dengan kaidah kartografi yang berlaku yaitu bahwa peta merupakan sumber informasi yang harus dapat membuat jelas bagi penggunanya, kebenaran geometris dan penyajian yang menarik.
VI. Tata Letak Informasi Pada Peta
Setiap lembar peta yang disebut juga dengan blad peta, berisi beberapa informasi yang menerangkan tentang peta itu sendiri serta bagian-bagian atau tata letak dari informasi yang menerangkan isi peta tersebut. Umumnya tata letak informasi pada peta meliputi :
muka petaü : tempat dimana seluruh gambar (yang dipetakan)  informasi batasü : berada di daerah batas yang mencakup grid, graticule dan arah/tujuan
Dalam proses pemetaan harus melalui beberapa tahapan mulai dari penyusunan ide hingga peta siap digunakan. Kesemua itu harus dilakukan dengan penuh hati-hati dan ketelitian agar diperoleh peta yang baik dan benar sera memiliki dilai artistik atau seni sehingga pengguna mampu menggunakan peta dengan maksimal dan pembuat dapat menghasilkan peta yang baik sehingga terjadi timbal balik antar pengguna dengan pembuat peta.
Dalam pemberian simbol pada peta juga harus diperhatikan agar peta mudah diketahui dan dipahami isi dan maksud peta tersebut. Pemberian simbol ini juga menentukan nilai keartistikan sebuah peta sehingga peta tersebut enak dipandang dan lebih jelas.

VII. Proses Pemetaan
Dalam mempelajari bidang kartografi, peta sangatlah diperlukan. Tanpa adanya peta, Kartografi tidak akan ada pula karena kartografi merupakan ilmu yang mempelajari tentang perpetaan. Berbagai jenis peta telah muncul sesuai dengan maksud, tujuan, serta manfaat pembuatan peta tersebut. Namun, bagaimanakah sebuah peta itu dibuat? Dalam mempelajari kartografi kita harus mengetahui hal tersebut.
Pada dasarnya, peta merupakan kalibrasi dari bidang permukaan bumi 3 dimensi menjadi sebuah gambaran utuh yang lebih sederhana ke dalam selembar kertas media yang datar dengan penyesuaian baik ukuran maupun bentuknya disertai pula dengan informasi dan detail-detailnya.
Dalam proses pembuatan peta harus mengikuti pedoman dan prosedur tertentu agar dapat dihasilkan peta yang baik, benar, serta memiliki unsur seni dan keindahan. Secara umum proses pembuatan peta meliputi beberapa tahapan dari pencarian dan pengumpulan data hingga sebuah peta dapat digunakan. Proses pemetaan tersebut harus dilakukan dengan urut dan runtut, karena jika tidak dilakukan secara urut dan runtut, tidak akan diperoleh peta yang baik dan benar. Lalu apa dan bagaimana proses atau tahap-tahap pemetaaan itu?

1. Tahap pencarian dan pengumpulan data
Ada beberapa cara dalam mencari dan mengumpulkan data, yaitu:
a. Secara langsung
Cara pencarian data secara langsung dapat melalui metode konvensional yaitu meninjau secara langsung ke lapangan dimana daerah tersebut akan dijadikan objek dari peta yang dibuat. Cara ini disebut dengan teristris. Dengan cara ini dilakukan pengukuran medan menggunakan theodolit, GPS, dan alat lain yang diperlukan serta pengamatan informasi ataupun wawancara dengan penduduk setempat secara langsung sehingga didapat data yang nantinya akan diolah.
Dapat pula dilakukan secara fotogrameti, yaitu dengan metode foto udara yang dilakukan dengan memotret kenampakan alam dari atas dengan bantuan pesawat dengan jalur khusus menurut bidang objek. Atau dapat pula menggunakan citra dari satelit serta cara-cara lain yang dapat digunakan

b. Secara tak langsung
Melalui cara ini tentu saja kita tidak usah repot-repot meninjau langsung ke lapangan melainkan kita hanya mencari data dari peta atau data-data yang sudah ada sebelumnya. misalnya dalam membuat peta kepemilikan tanah di daerah Semarang, kita cukup mencari peta administrasi lengkap kota Semarang, kemudian dapat diperoleh data pemilikan tanah di Lembaga Pertanahan daerah atau nasional (BPN).
Data yang diperoleh dari pencarian data secara tak langsung ini disebut dengan data sekunder, sedangkan peta yang digunakan sebagai dasar pembuatan peta lain disebut sebagai peta dasar.
2. Tahap pengolahan data
Data yang telah dikumpulkan merupakan data spasial yang tersebar dalam keruangan. Data yang telah diperoleh tersebut kemudian dikelompokkan misalnya data kualitatif dan data kuantitatif, kemudian data kuantitatif dilakukan perhitungan yang lebih rinci. Langkah selanjutnya yaitu pemberian simbol atau simbolisasi terhadap data-data yang ada.
Dalam tahap akan mudah dengan menggunakan sistem digital komputing karena data yang masuk akan langsung diolah dengan software atau aplikasi tertentu sehingga data tersebut akan langsung jadi dan siap untuk disajikan.
3. Tahap penyajian dan penggambaran data
Tahap ini merupakan tahap pembuatan peta dari data yang telah diolah dan dilukiskan pada media. Dalam tahap ini dapat digunakan cara manual dengan menggunakan alat-alat yang fungsional, namun cara ini sangat membutuhkan perhitungan dan ketelitian yang tinggi agar didapat hasil yang baik.
Akan lebih baik jika digunakan teknik digital melalui komputer, penggambaran peta dapat digunakan aplikasi-aplikasi pembuatan peta yang mendukung, misalnya ARC View, ARC Info, AutoCAD Map, Map Info, dan software lain. Setelah peta tergambar pada komputer, kemudian data yang telah disimbolisasi dalam bentuk digital dimasukkan dalam peta yang telah di gambar pada komputer, pemberian informasi tepi, yang kemudian dilakukan proses printing atau pencetakan peta.
4. Tahap penggunaan data
Tahap ini sangatlah penting dalam pembuatan sebuah peta, karena dalam tahap ini menentukan baik atau tidaknya sebuah peta, berhasil atau tidaknya pembuatan sebuah peta. Dalam tahap ini pembuat peta diuji apakah petanya dapat dimengerti oleh pengguna atau malah susah dalam dimaknai. Peta yang baik tentunya peta yang dapat dengan mudah dimengerti dan dicerna maksud peta oleh pengguna. Selain itu, pengguna dapat memberikan respon misalnya tanggapan, kritik, dan saran agar peta tersebut dapat disempurnakan sehingga terjadi timbal balik antara pembuat peta (map maker) dengan pengguna peta (map user).
Dalam buku “Desain dan Komposisi Peta Tematik” karangan Juhadi dan Dewi Liesnoor, disebutkan bahwa tahapan pembuatan peta secara sistematis yang dianjurkan adalah:
1. Menentukan daerah dan tema peta yang akan dibuat
2. Mencari dan mengumpulkan data
3. Menentukan data yang akan digunakan
4. Mendesain simbol data dan simbol peta
5. Membuat peta dasar
6. Mendesain komposisi peta (lay out peta), unsur peta dan kertas
7. Pencetakan peta
8. Lettering dan pemberian simbol
9. Reviewing
10. Editing
11. Finishing
VIII. PENYUSUNAN PETA
1) Data Geografis
Untuk menyampaikan ide melaui peta dari berbagai hal kedudukannya dalam ruang muka bumi diamana objek (objek geografis) yang akan disampaikan tersebut tentunya amatlah rumit. Penyederhanan objek geografis dalam peta terdiri dari :
1. Titik, bentuk titik ini misalnya sebuah menara, tugu dan sebagainya.
2. Garis, misalnya sungai dan jalan.
3. Luasan, misalnya bentuk-bentuk penggunaan tanah, danau dan sebagainya.
2) Proyeksi Peta
Pada prinsipnya arti proyeksi peta adalah usaha mengubah bentuk bola (bidang lengkung) ke bentuk bidang datar, dengan persyaratan sebagai berikut ;
1. Bentuk yang diubah itu harus tetap.
2. Luas permukaan yang diubah harus tetap.
3. Jarak antara satu titik dengan titik yang lain di atas permukaan yang diubah harus tetap.
Untuk memenuhi ketiga syarat itu sekaligus suatu hal yang tidak mungkin. Untuk memenuhi satu syarat saja dari tiga syarat di atas untuk seluruh bola dunia, juga merupakan hal yang tidak mungkin. Yang bisa dilakukan hanyalah satu saja dari syarat di atas untuk sebagian kecil permukaan bumi.
Oleh karena itu, untuk dapat membuat rangka peta yang meliputi wilayah yang lebih besar harus dilakukan kompromi ketiga syarat di atas. Akibat dari kompromi itu maka lahir bermacam jenis proyeksi peta.
Proyeksi berdasarkan bidang asal
• Bidang datar (zenithal)
• Kerucut (conical)
• Silinder/Tabung (cylindrical)
• Gubahan (arbitrarry)
Jenis proyeksi no.1 sampai no.3 merupakan proyeksi murni, tetapi proyeksi yang dipergunakan untuk menggambarkan peta yang kita jumpai sehari-hari tidak ada yang menggunakan proyeksi murni di atas, melainkan merupakan proyeksi atau rangka peta yang diperoleh melaui perhitungan (proyeksi gubahan).
Dalam kesempatan ini tidak akan dijelaskan bagaimana perhitungan proyeksi tersebut di atas, akan tetapi cukup jenis proyeksi apa yang biasa digunakan dalam menyediakan kerangka peta di seluruh dunia.
Contoh proyeksi gubahan :
• Proyeksi Bonne sama luas
• Proyeksi Sinusoidal
• Proyeksi Lambert
• Proyeksi Mercator
• Proyeksi Mollweide
• Proyeksi Gall
• Proyeksi Polyeder
• Proyeksi Homolografik
Kapan masing-masing proyeksi itu dipakai ?
1. Seluruh Dunia
• Dalam dua belahan bumi dipakai Proyeksi Zenithal kutub
• Peta-peta statistik (penyebaran penduduk, hasil pertanian) pakai Mollweide
• Arus laut, iklim pakai Mollweide atau Gall
• Navigasi dengan arah kompas tetap, hanya Mercator
2. Daerah Kutub
• Proyeksi Lambert
• Proyeksi Zenithal sama jarak
3. Daerah Belahan Bumi Selatan
• Sinusoidal
• Lambert
• Bonne
4. Untuk Daerah yang lebar ke samping tidak jauh dari Khatulistiwa
• Pilih satu dari jenis proyeksi kerucut.
• Proyeksi apapun sebenarnya dapat dipakai
Untuk daerah yang membujur Utara-Selatan tidak jauh dari Khatulistiwa pilih Lambert atau Bonne.
3) Tata Warna dan Simbol
Agar peta dapat dengan mudah dimengerti oleh pengguna peta, pemakaian tata warna dan simbol sangat membantu untuk mencapai tujuan tersebut.
3.1. Tata warna
Penggunaan warna pada peta (dapat juga pola seperti titik-titik atau jaring kotak-kotak dan sebagainya) ditujukan untuk tiga hal :
• Untuk membedakan
• Untuk menunjukan tingkatan kualitas maupun kuantitas (gradasi)
• Untuk keindahan
Dalam menyatakan perbedaan digunakan bermacam warna atau pola. Misalnya laut warna biru, perkampungan warna hitam, sawah warna kuning dan sebagainya.
Sedangkan untuk menunjukan adanya perbedaan tingkat digunakan satu jenis warna atau pola. Misalnya untuk membedakan bersarnya curah hujan digunakan warna hitam dimana warna semakin cerah menunjukan curah hujan makin kecil dan sebaliknya warna semakin legam menunjukan curah hujan semakin besar.

3.2. Simbol
Untuk menyatakan sesuatu hal ke dalam peta tentunya tidak bisa digambarkan seperti bentuk benda itu yang sebenarnya, melainkan dipergunakan sebuah gambar pengganti atau simbol.
Bentuk simbol dapat bermacam-macam seperti; titik, garis, batang, lingkaran, bola dan pola.
Simbol titik biasanya dipergunakan untuk menunjukan tanda misalnya letak sebuah kota dan menyatakan kuantitas misalnya satu titik sama dengan 100 orang, dam sebagainya Simbol garis digunakan untuk menunjukan tanda seperti jalan, sungai, rel KA dan lainnya. Garis juga digunakan untu menunjukan perbedaan tingkat kualitas, yang dikalangan pemetaan dikenal dengan isolines.
Dengan demikian timbul istilah-istilah :
• Isohyet yaitu garis dengan jumlah curah hujan sama
• Isobar yaitu garis dengan tekanan udara sama
• Isogon yaitu garis dengan deklinasi magnet yang sama
• Isoterm yaitu garis dengan angka suhu sama
• Isopleth yaitu garis yang menunjukan angka kuantitas yang bersamaan.
Tujuan dari penggunaan peta isopleth (menunjukan angka kuantitas sama) yaitu untuk memperlihatkan perbandingan nilai dari sesuatu hal pada daerah yang satu dengan daerah yang lain. Sehingga pengguna peta akan tahu mana daerah dengan nilai besar dan mana daerah dengan nilai kecil.
Untuk simbol batang, lingkaran dan bola biasanya lebih banyak dipakai untuk nilai-nilai statistik yang ditunjukan dengan garfik (batang, lingkaran dan bola).

IX. KOMPONEN PETA
Setelah kita memahami konsep dasar dari penyusunan peta tersebut di atas, menjadi semakin mudah untuk menyimak apa saja komponen peta yang baik.
Komponen peta terdiri dari :
1. Isi peta
Isi peta menunjukan isi dari makna ide penyusun peta yang akan disampaikan kepada pengguna peta.
Kalau ide yang disampaikan tentang perbedaan curah hujan , isi peta tentunya berupa isohyet.
2. Judul peta
Judul peta harus mencerminkan isi peta. Isi peta berupa isohyet, tentu judul petanya menjadi “Peta Distribusi Curah Hujan”, dan sebagainya.
3. Sekala peta dan Simbol Arah
Sekala sangat penting dicantumkan untuk melihat tingkat ketelitian dan kedetailan objek yang dipetakan. Sebuah belokan sungai akan tergambar jelas pada peta1:10.000 dibandingkan dengan pada peta 1:50.000 misalnya. Kemudian bentuk-bentuk pemukiman akan lebih rinci dan detail pada sekala 1:10.000 dibandingkan peta sekala 1:50.000.
Simbol arah dicantumkan dengan tujuan untuk orientasi peta. Arah utara lazimnya mengarah pada bagian atas peta. Kemudian berbagai tata letak tulisan mengikuti arah tadi, sehingga peta nyaman dibaca dengan tidak membolak-balik peta. Lebih dari itu, arah juga penting sehingga si pemakai dapat dengan mudah mencocokan objek di peta dengan objek sebenarnya di lapangan.

4. Legenda atau Keterangan
Agar pembaca peta dapat dengan mudah memahami isi peta, seluruh bagian dalam isi peta harus dijelaskan dalam legenda atau keterangan.
5. Inzet dan Index peta
Peta yang dibaca harus diketahui dari bagian bumi sebelah mana area yang dipetakan tersebut.
Inzet peta merupakan peta yang diperbersar dari bagian belahan bumi. Sebagai contoh, kita mau memetakan pulau Jawa, pulau Jawa merupakan bagian dari kepulauan Indonesia yang diinzet.
Sedangkan index peta merupakan sistem tata letak peta , dimana menunjukan letak peta yang bersangkutan terhadap peta yang lain di sekitarnya.
6. Grid
Dalam selembar peta sering terlihat dibubuhi semacam jaringan kotak-kotak atau grid system.
Tujuan grid adalah untuk memudahkan penunjukan lembar peta dari sekian banyak lembar peta dan untuk memudahkan penunjukan letak sebuah titik di atas lembar peta.
Cara pembuatan grid yaitu, wilayah dunia yang agak luas, dibagi-bagi kedalam beberapa kotak. Tiap kotak diberi kode. Tiap kotak dengan kode tersebut kemudian diperinci dengan kode yang lebih terperinci lagi dan seterusnya.
Jenis grid pada peta-peta dasar (peta topografi) di Indonesia yaitu antara lain :
Kilometerruitering (kilometer fiktif) yaitu lembar peta dibubuhi jaringan kotak-kotak dengan satuan kilometer.
Disamping itu ada juga grid yang dibuat oleh tentara inggris dan grid yang dibuat oleh Amerika (American Mapping System).
Untuk menyeragamkan sistem grid, Amerika Serikat sedang berusaha membuat sistem grid yang seragam dengan sistem UTM grid system dan UPS grid system (Universal Transverse Mercator dan Universal Polar Stereographic Grid System).
7. Nomor peta
Penomoran peta penting untuk lembar peta dengan jumlah besar dan seluruh lembar peta terangkai dalam satu bagian muka bumi.
8. Sumber/Keterangan Riwayat Peta
Sumber ditekankan pada pemberian identitas peta, meliputi penyusun peta, percetakan,sistem proyeksi peta, penyimpangan deklinasi magnetis, tanggal/tahun pengambilan data dan tanggal pembuatan/pencetakan peta, dan lain sebagainya yang memperkuat identitas penyusunan peta yang dapat dipertanggungjawabkan.

Diposting oleh ryant putra (0910480147)