Univ. of Brawijaya Change the World

Informatics Students Blog of Brawijaya University

*Source From prasetya.ub.ac.id

 

Dari kiri: PR III, Muchammad Muchlas, Savitri, Anang Mursalin, dan Dekan Fapet UB

Mahasiswa Fakultas Peternakan Universitas Brawijaya (Fapet UB) April ini akan mengikuti kegiatan magang di Australia. Ini merupakan kelanjutan dari deklarasi Perkumpulan Mahasiswa Indonesia Pencinta Sapi dan Kerbau. Tiga mahasiswa UB itu adalah Muchammad Muchlas, Savitri, dan Anang Mursalin. Mereka bertiga akan bertolak ke kota Darwin bersama mahasiswa Universitas Padjadjaran setelah terpilih melalui seleksi yang dilakukan NTCA (Northern Territory Cattlemen’s Association).

NTCA sendiri adalah kelompok industri utama di wilayah utara Australia. Kelompok ini mewakili 90 persen ternak di wilayah utara, mulai produksi rumahan hingga korporasi. Sekitar 55 persen produksi wilayah utara tersebut diekspor ke pasar Asia Tenggara. Sampai saat ini industri daging sapi wilayah ini akan fokus pada kerjasama dan program untuk menguatkan perdagangan.

Disampaikan Savitri kegiatan magang ini merupakan hasil kerjasama UB dan Unpad dengan Dinas Peternakan Australia. “Rencananya selama dua bulan kami akan mempelajari sistem manajemen penggemukan sapi di Cattle Station Darwin dan satu bulan kami akan belajar di Charles Darwin University,” ungkapnya. Cattle Station merupakan pusat ternak milik NTCA yang mengelola pemeliharaan sapi hingga penanganan pasca panen.

Keberangkatan mereka akan didahului oleh Dekan Fapet Prof.Dr.Ir Kusmartono, Kamis (29/3), untuk melakukan perbincangan lebih jauh terkait kemungkinan kerjasama dan kegiatan ketiganya selama di Darwin. Peluang kerjasama, disampaikan dekan Fapet ini saat mendampingi mahasiswanya bertemu Pembantu Rektor III, antara lain pengiriman mahasiswa periode selanjutnya, pembuatan cattle station di Indonesia atau lebih jauh yaitu peluang alumni program ini bekerja di NTCA.

Menurut Prof. Kusmartono, kesempatan ini baik bagi mahasiswa untuk mengetahui cara penyembelihan sapi yang dilegalkan oleh Pemerintah Australia. Sebagaimana diketahui beberapa saat yang lalu, Australia pernah memberhentikan ekspor sapi ke Indonesia karena menilai pemotongan sapi di Indonesia menyalahi aturan. Walau kebijakan ini sudah ditarik, tapi menurutnya isu tersebut masih hangat. “Siapa tahu di Australia nanti, mereka bisa diajari cara menyembelih sapi yang benar dan halal,” ungkapnya.

PR III UB Ir HRB Ainurrasyid MS yang menerima tim dan Dekan Fapet mengungkapkan kebanggaannya atas prestasi ketiga mahasiswa UB tersebut. Kebanggan ini bertambah, karena dua anggota tim yaitu Muklas dan Savitri merupakan penerima bidik misi. “Kita akan laporkan ini ke Pak Nuh (Menteri Kemdikbud), ternyata memang potensi dari golongan ini sangat bagus,” ungkapnya.

 

Both comments and pings are currently closed.