Univ. of Brawijaya Change the World

Informatics Students Blog of Brawijaya University

Archive for March 27th, 2012

 

PEMERINTAHAN Presiden SBY ditantang menyerahkan pengelolaan 23 sumur minyak bumi yang akan habis masa kontraknya dalam waktu dekat ke Pertamina. Kalau hal itu dilakukan, berarti rezim pemerintahan sekarang berpihak pada rakyat, kata ekonom Dr Hendri Saparini di depan mahasiswa dan dosen Universitas Sebelas Maret (UNS) Surakarta (SM, 28/06/11).

Membumbungnya harga BBM dan gas di Indonesia, jika ditelusuri Iebih dalam, adalah akibat amburadulnya kebijakan energi primer (BBM dan Gas) dan sekunder (PLN) di Indonesia.
Problem kelangkaan BBM, menurut Bapak Sodik (SP Pertamina), diakibatkan oleh rusaknya sistem yang digunakan Pemerintah. Ujungnya adalah diterapkannya UU 22/2001 tentang Minyak dan Gas Bumi yang sangat liberal. Pemenintah, melalui UU mi, lepas tanggung jawab dalam pengelolaan Migas. Dalam UU mi:

  1. Pemerintah membuka peluang pengelolaan Migas karena BUMN Migas Nasional diprivatisasi;
  2. Pemerintah memberikan kewenangan kepada perusahaan asing maupun domestik untuk melakukan eksplorasi dan eksploitasi minyak;
  3. Perusahaan asing dan domestik dibiarkan menetapkan harga sendiri. Sungguh aneh!

Di Indonesia ada 60 kontraktor Migas yang terkategori ke dalam 3 kelompok:

  1. Super Major: terdiri dari ExxonMobile, Total Fina Elf, BP Amoco Arco, dan Texaco yang menguasai cadangan minyak ‘70% dan gas 80% Indonesia;
  2. Major; terdiri dari Conoco, Repsol, Unocal, Santa Fe, Gulf, Premier, Lasmo, Inpex dan Japex yang menguasai cadangan minyak 18% dan gas 15%;
  3. Perusahaan independen; menguasai cadangan minyak 12% dan gas 5%.

Read More…

 

Kebijakan Pemerintah Mengenai Kenaikan BBM (Bahan Bakar Minyak) yang terkait dengan Efek penyebab naiknya Harga BBM di pasar Dunia maupun efek sosial dan ekonomi terhadap perekonomian maupun stabilitas Keamanan di Indonesia menuai banyak reaksi Pro maupun Kontra baik itu dari kalangan Partai Politik, Pengamat Ekonomi, organisasi Massa maupun rakyat Jelata.

Di tengah pro dan kontra kenaikan harga bahan bakar minyak (BBM) bersubsidi, ada baiknya kita merenungkan dua pertanyaan mendasar berikut.

Jawaban terhadap dua pertanyaan ini akan membantu kita memahami permasalahan sebenarnya. Pertama, apakah kita menilai wajar dan adil apabila harga BBM yang dibayar warga dari suatu negara kaya, sama dengan harga yang harus dibayar warga dari negara miskin? Konkretnya, apakah kita setuju apabila harga BBM yang kita bayar sedapat mungkin didekatkan dengan harga yang berlaku di negara-negara kaya?

Bila kita menilai hal itu wajar dan adil, karena ini merupakan konsekuensi globalisasi dan liberalisasi pasar, kita tak perlu iri menyaksikan harga premium di Singapura, yang pendapatan per kapitanya sekitar tiga puluh kali pendapatan kita, hanya sekitar dua kali lebih mahal daripada harga yang kita bayar. Tak perlu berkecil hati pula bila harga premium di Malaysia, yang kekayaan rata-rata penduduknya sekitar empat kali kekayaan penduduk kita, masih sedikit lebih murah dibanding harga yang kita bayar.

Read More…

JAKARTA- Bentrok antara mahasiswa dan polisi tak terhindarkan di Jalan Medan Merdeka Timur sekitar Stasiun Kereta Api Gambir, Jakarta Pusat, sore ini.

Bentrokan terjadi karena mahasiswa dilarang mendekat ke arah Istana Negara. Mereka keluar ketika massa pengunjuk rasa yang pagi tadi berunjuk rasa di depan Istana membubarkan diri.

Para mahasiswa mencoba nekat terus maju ke Istana. Hingga saat ini mahasiswa masih terus berusaha maju ke Istana, meskipun polisi terus menembakkan gas air mata dan menyemprot air dengan water canonnya.

Sementara itu, ratusan demonstran menutup Jalan Medan Merdeka Utara, Jakarta Pusat, sekitar pukul 15.00 tadi. Mereka masih menggelar aksi penolakan atas rencana kenaikan harga BBM.

Meskipun hujan sempat turun dan petir menyambar-nyambar, namun aksi tetap berjalan. Mahasiswa berkelompok dengan mengibarkan bendera aneka warna dari berbagai elemen. Massa aksi berhadapan dengan polisi yang bertugas mengamankan demonstrasi.

source : kompas.com

 

Jakarta (27 Maret 2012)5 Juta Orang Diperkirakan Ikut Demo Kenaikan BBM ,Massa terbesar dalam kegiatan tersebut terdiri dari Buruh, Petani, Nelayan, PKL, Mahasiswa dan Simpatisan dari Partai Oposisi

Dalam rangka menolak kenaikan harga Bahan Bakar Minyak (BBM), pada tanggal 27 Maret 2012 rencananya akan dilakukan aksi demonstrasi serentak di 33 Propinsi dan 340 Kabupaten/Kota, yang sedianya bisa melibatkan 2,5 juta orang.

Massa terbesar dalam kegiatan tersebut terdiri dari Buruh, Petani, Nelayan, PKL, Mahasiswa dan Simpatisan dari Partai Oposisi PDI Perjuangan dan Gerindra.

Aksi massa rencananya akan terkonsentrasi di Ibukota Propinsi, sementara aksi dalam jumlah kecil dilakukan di ibukota kabupaten dan beberapa aksi dilakukan juga di kantor-kantor kecamatan dan desa.

Pada aksi tersebut, massa akan menuntut 3 hal, Pertama menolak kenaikan BBM, Nasionalisasi asset Tambang dan Migas dan turunkan SBY-Boediono.

Demonstrasi itu juga diprediksi akan menjadi salah satu yang terbesar di Indonesia, beberapa hari menjelang dinaikkannya harga BBM.

Konsolidasi Nasional Mahasiswa Indonesia (Konami), melalui keterangan tertulisnya pun membenarkan akan mengadakan aksi pada 27 Maret 2012 mendatang.

Mereka sedianya akan memusatkan aksi demonstrasi di depan Istana Negara, dan diperkirakan sebagai puncak aksi demonstrasi menjelang kenaikan harga BBM.