Sedikit Ilmu Tentang Rumus Pendidikan Blog mahasiswa Universitas Brawijaya

29Aug/19Off

Warisan kerajaan Samudra Pasai

Ada banyak peninggalan kerajaan Samudra Pasai yang masih bisa kita temukan di kota Lhokseumawe dan Aceh Utara. Kerajaan yang didirikan oleh Marah Silu dengan gelar Sultan Malik As-Saleh, kekaisaran dibangun pada 1267. Namun, sayangnya, pemerintahan Samudra Pasai pada 1521 akhirnya runtuh setelah serangan dari Portugal.

Namun, masih ada beberapa peninggalan sejarah yang masih dilestarikan hingga saat ini. Bagi Anda yang tinggal di Sumatra utara, Anda sudah tahu apa peninggalan kerajaan ini.

Warisan kerajaan Samudra Pasai

Berikut adalah memorabilia dari kerajaan samudera Pasai, termasuk:

 

Dirham

Di masa lalu Dirham tidak menggunakan kertas, jadi dirham di Kerajaan Samudera Pasai dibuat dengan 70% emas murni 18 karat tanpa campuran kertas kimia, berdiameter 10 mm dengan 0,6 gram per koin.

Dirham ini dicetak dalam dua jenis, yaitu Dirham dan Dirham setengah. Di satu sisi dirham atau koin emas, kata-kata Muhammad Malik Al-Zahir dicetak. Sementara itu dicetak nama Al-Sultan Al-Adil. Dirham ini banyak digunakan sebagai alat transaksi, terutama tanah.

Tradisi percetakan Dirham Mas kemudian menyebar ke seluruh Sumatra, hingga ke semenanjung Malaka sejak Aceh menaklukkan Pasai pada 1524.

Chakra Donya

Chakra Donya adalah lonceng yang bisa dianggap sakral. Chakra Donya ini adalah lonceng berbentuk mahkota besi yang berbentuk seperti stupa buatan China pada 1409 Masehi. Bel ini memiliki ketinggian 125 cm dan lebar 75 cm. Chakra itu sendiri memiliki makna poros kereta, simbol Wisnu, matahari atau cakrawala, sedangkan Donya berarti dunia.

Di luar Chakra Donya ada ornamen dan simbol dalam bentuk karakter Arab dan Cina. Tulisan arab tidak bisa lagi dibaca karena sudah dikonsumsi. Sedangkan karakter Cina bertuliskan Sing Fang Niat Tong Juut Kat Yat Tjo (Sultan Sing Fa yang dibayarkan pada bulan ke 12 tahun ke-5).

Intinya, Donya Chakra ini adalah lonceng impor. Chakra Donya sendiri adalah hadiah dari kekaisaran Cina untuk Sultan Samudra Pasai. Kemudian hadiah lonceng ditransfer ke Banda Aceh karena Portugis dikalahkan oleh Sultan Ali Mughayat Syah.

Naskah surat oleh Sultan Zainal Abidin

Naskah surat Sultan Zainal Abidin adalah surat yang ditulis oleh Sultan Zainal Abidin sebelum dia meninggal pada tahun 1518 M atau pada 923 Hijriah. Surat ini dikirim ke Kapitan Moran, yang bertindak atas nama wakil raja Portugis di India.

Surat ini ditulis dalam bahasa Arab, isinya menjelaskan status Kesultanan Samudera Pasai pada abad keenam belas. Selain itu, surat ini juga menggambarkan kondisi terakhir yang dialami Kesultanan Samudera Pasai setelah Portugis berhasil menaklukkan Malaka pada 1511 Masehi.

Di dalamnya juga tertulis nama-nama kerajaan atau negara yang memiliki hubungan dekat dengan Kesultanan Samudera Pasai. Jadi, Anda bisa tahu ejaan dan nama kerajaan atau negara. Kerajaan atau negara yang tercantum dalam surat itu termasuk Mulaqat (Malaka) dan Fariyaman (Pariaman).

Segel kerajaan

Meterai ini diyakini milik Sultan Muhamad Malikul Zahir, yang merupakan sultan kedua dari pemerintahan Samudera Pasai. Tuduhan itu dibuat oleh kelompok riset sejarah kerajaan Islam. Perangko ini ditemukan di desa Kuta Krueng, distrik Samudera, Kabupaten Aceh Utara.

Diperkirakan perangko 2 × 1 sentimeter ini dibuat dengan sejenis tanduk binatang. Kondisi stempel ketika diketahui bahwa stempelnya patah. Ada pendapat bahwa segel ini digunakan sampai masa pemerintahan pemimpin terakhir Samudera Pasai, Sultan Zainal Abidin.

Nisan Sultan Malik As-Shalih

Sepasang batu nisan oleh Sultan Malik As-Salalih dalam bentuk persegi panjang bersayap datar dengan bagian atas berbentuk mahkota pada dua tingkat. Di batu nisan ini ada masing-masing dari tiga panel di bagian depan dan belakang diukir dalam kaligrafi Arab. Di bagian atas ada juga bingkai oval yang terukir dalam kaligrafi Arab. Secara keseluruhan pendaftaran dapat diartikan sebagai berikut menurut Asmanidar (2016: 410):

"Makam ini milik pelayan yang dihormati, yang diampuni, siapa yang taqwa, yang adalah seorang penasihat, yang terkenal, yang keturunan, yang mulia, yang kuat dalam ibadah, penakluk, yang memiliki gelar dengan Sultan Malik As-Shalih, tanggal kematian, Ramadhan tahun 696 Hijrah / 1297 M).

 

Nisan Sultanah Nahrasiyah

Makam Ratu Nahrasiyah terletak di desa Meunasah Kuta Krueng, distrik Samudera. Di atas makam ratu ini juga berisi silsilah raja-raja Samudera Pasai. Makamnya adalah makam Muslim paling indah di Asia Tenggara. Makam Sultanah Nahrasiyah memiliki jirat tinggi dikombinasikan dengan batu nisan, semuanya terbuat dari marmer yang diimpor langsung dari Gujarat.

Makam Sultan Muhammad Malik Al-Zahir

Malik Al-Zahir adalah putra Malik Al-Saleh yang memimpin Kesultanan Samudera Pasai pada 1287 hingga 1326 juta. lokasi makamnya berdekatan dengan makam ayahnya Malik Al-Saleh.

Artikel terkait: 6 jenis perjanjian Indonesia Belanda dan deskripsi mereka
Makam Teungku Sidi Abdullah Tajul Nillah
Makam ini adalah peninggalan dinasti Abbasiyah dan merupakan cicit dari khalifah Al-Muntasir. Teungku Sidi, ibuku, adalah menteri keuangan di laut Pasai. Makam itu terletak di desa Kuta Krueng, batu nisannya di marmer dihiasi dengan kaligrafi.

Makam Teungku Peuet Ploh Peuet

Secara keseluruhan ada makam 44 cendekiawan dari Kesultanan Samudera Pasai yang dibunuh karena melarang pernikahan raja dengan putri kandungnya. Makam ini terletak di desa Beuringen, Kec Samudera. Kaligrafi ayat 18 Ali Imran juga ditulis di batu nisan.

Makam Ratu Al-Aqla (Nur Ilah)

Dia adalah putri Sultan Muhammad Malikul Dhahir, makam ini terletak di Gampong Meunje Tujoh Keca Matangkuli. Batu nisannya dihiasi dengan kaligrafi Kawi dan Arab.

Artiker Terkait : rumus guru

Filed under: Pendidikan Comments Off