0

“ SUB SISTEM AGRIBISNIS HULU “

  1. A.    Pengertian Subsistem Agribisnis Hulu

Agribisnis sebagai sebuah sistem yang dapat diartikan sebagai semua aktifitas, mulai dari pengadaan dan penyaluran sarana produksi (input) sampai dengan pemasaran produk-produk yang dihasilkan oleh usaha tani serta agroindustri, yang saling terkait satu sama lain. Dengan demikian sistem agribisnis merupakan suatu sistem yang terdiri dari berbagai subsiste yang salah satu diantaranya adalah subsistem hulu.

Banyak para ahli mengemukakan pendapatnya mengenai pengertian dari subsistem hulu yang diantaranya :

  1. Subsistem agribisnis hulu disebut juga subsistem faktor input (input factor subsystem). Dalam pengertian umum subsistem ini dikenal dengan subsistem pengadaan sarana produksi pertanian. Kegiatan subsistem ini berhubungan dengan pengadaan sarana produksi pertanian, yaitu memproduksi dan mendistribusikan bahan, alat, dan mesin yang dibutuhkan usahatani atau budidaya pertanian (on-farm agribusiness) ( Anwar, 2001 ).
  2. Subsistem agribisnis hulu (upstream agribusiness) yang merupakan kegiatan ekonomi yang menyediakan sarana produksi bagi pertanian, seperti industri dan perdagangan agrokimia (pupuk, pestisida, dll), industri agrootomotif (mesin dan peralatan), dan industri benih/bibit. Subsistem usahatani (on-farm agribusiness) yang merupakan kegiatan ekonomi yang menggunakan sarana produksi yang dihasilkan oleh subsistem agribisnis hulu untuk menghasilkan 10  produk pertanian primer. Termasuk ke dalam subsistem usahatani ini adalah usaha tanaman pangan, usaha tanaman hortikultura, usaha tanaman obat-obatan, usaha perkebunan, usaha perikanan, usaha peternakan, dan kehutanan ( Soekartawi, 2001 )
  3. Subsistem Agribisnis/Agroindustri Hulu meliputi pengadaan sarana produksi pertanian antara lain terdiri dari benih, bibit, makanan ternak, pupuk , obat pemberantas hama dan penyakit, lembaga kredit, bahan bakar, alat-alat, mesin, dan peralatan produksi pertanian. Pelaku-pelaku kegiatan pengadaan dan penyaluran sarana produksi adalah perorangan, perusahaan swasta, pemerintah, koperasi.  Betapa pentingnya subsistem ini mengingat perlunya keterpaduan dari berbagai unsur itu guna mewujudkan sukses agribisnis. Industri yang meyediakan sarana produksi pertanian disebut juga sebagai agroindustri hulu (upstream). (Silvana, 2015)
  4. Menurut Departemen Pertanian (2001), subsistem hulu merupakan industri yang menghasilkan barang-barang sebagai modal bagi kegiatan pertanian yang mencakup industri pembibitan tumbuhan dan hewan, industri agrokimia (pupuk,pestisida,obat-obatan), dan industri agro otomotif (mesin dan peralatan pertanian) seta industri pendukungnya.
  5. Subsistem agribisnis hulu adalah subsistem yang mencakup semua kegiatan untuk memproduksi dan menyalurkan input-input pertanian dalam arti luas (Purnomo, 2009).
  6. Subsistem agribisnis hulu disebut juga subsistem faktor input (input factor subsystem), yaitu subsistem pengadaan sarana produksi pertanian. Kegiatan subsistem ini berhubungan dengan pengadaan sarana produksi pertanian, yaitu memproduksi dan mendistribusikan bahan, alat, dan mesin yang dibutuhkan usahatani atau budidaya pertanian (on-farm agribusiness) (Saragih: 1998).
  7. Kegiatan ekonomi yang menyediakan sarana produksi bagi pertanian, seperti industri dan perdagangan agrokimia (pupuk, pestisida, dll), industri agrootomotif (mesin dan peralatan), dan industri benih/bibit (Hanafi, 2012).

 

  1. B.     Fungsi dan Contoh Subsistem Agribisnis Hulu

Subsistem agribisnis hulu memiliki beberapa fungsi penting yaitu:

  1. Menghasilkan dan menyediakan sarana produksi pertanian terbaik agar mampu menghasilkan produk usahatani yang berkualitas.
  1. Memberikan pelayanan yang bermutu kepada usahatani.
  2. Memberikan bimbingan teknis produksi.
  3. Memberikan bimbingan manajemen dan hubungan sistem agribisnis.
  4. Memfasilitasi proses pembelajaran atau pelatihan bagi petani
  5. Menyaring dan mensintesis informasi agribisnis praktis untuk petani
  6. Mengembangkan kerjasama bisnis (kemitraan) untuk dapat memberikan keuntungan bagi para pihak. (Nugraheni, 2012)

Sesuai dengan pengertian, subsistem agribisnis hulu bergerak pada bidang penyediaan sarana produksi. Terdapat beberapa jenis perusahaan maupun usaha yang bergerak pada subsistem ini, seperti penyediaan pupuk, benih, pestisida, alat serta mesin pertanian, dan sebagainya. Di Indonesia, cukup banyak perusahaan atau usaha yang bergerak di bidang ini. Sebagai contoh perusahaan dalam penyediaan pupuk yaitu PT Petrokimia Gresik, PT Pupuk Kaltim, PT Kujang, PT Pusri, dan sebagainya. Sedangkan perusahaan dalam penyediaan benih yaitu PT Arindro Utama Perkasa, PT Sang Hyang Seri, PT Syngenta, dan lain-lain.  Sementara itu, perusahaan penyediaan alat dan mesin produksi seperti PT Putra Andalan Jaya, dan masih banyak yang lainnya.

  1. C.    Permasalahan yang dihadapi dalam Subsistem Agribisnis Hulu

Dalam menjalankan sebuah sistem, tentunya terdapat hambatan maupun masalah-masalah yang terjadi. Contohnya saja pada penyediaan sarana produksi berupa benih. Di Indonesia, perusahaan-perusahaan bibit dan benih masih menghadapi kendala pada penyediaan dana, dimana dalam melakukan proses produksi perusahaan lokal masih sering kali bergantung pada dana yang diberikan investor asing. Keterbatasan modal yang dimiliki, berdampak pada keterbatasan peralatan produksi canggih. Hal ini tentu saja akan memberikan pengaruh pada benih atau bibit yang diproduksi.

Tidak hanya itu, perusahaan benih lokal dan pemerintah belum mengadakan penelitian atau riset lebih lanjut mengenai benih-benih yang diproduksi. Pengembangan terhadap produk bibit dan benih juga belum dilakukan secara maksimal. Keadaan ini menyebabkan untuk memperoleh bibit dan benih unggul, petani harus mengeluarkan modal yang lebih besar untuk membeli bibit maupun benih dari perusahaan benih asing atau impor.

Belum berhenti sampai disitu, benih dan bibit yang dihasilkan oleh perusahaan lokal juga masih memiliki kualitas yang berada dibawah bibit dan benih dari luar negeri.  Hal tersebut salah satunya dikarenakan kurangnya perhatian pemerintah terhadap perlindungan hukum bagi perusahaan benih lokal. Selain itu, dibutuhkan juga dukungan dalam melakukan penelitian untuk menemukan kultivar-kultivar baru yang berkualitas.

Selain itu dalam proses memperoleh alat – alat produksi yang dapat meningkatkan hasil produksinya, petani masih kesulitan. Selain barang yang tidak selalu ada juga dana yang dimiliki petani tidak cukup.

 

DAFTAR PUSTAKA

Deptan. 2011. Agribisnis . deptan.go.id [online]. Diakses pada 9 Mei 2015.

Hanafi, Riezwan. 2012. Ruang Lingkup dan Sistem Agribisnis. riezwanhanafi.blogspot.com [online]. Diakses pada 9 Mei 2015.

Hidayat, Anwar. 2001. Modul Dasar Ruang Lingkup Agribisnis. Jakarta : Direktorat Pendidikan Menengah Kejuruan

Maulidah, Silvana. 2015. Sistem Agribisnis Modul Manajemen Agribisnis. Malang : Universitas Brawijaya

Nugraheni. 2012. Kegiatan Subsistem Agribisnis Hulu.  nugraheniismyname.wordpress.com [online]. Diakses 9 Mei 2015.

Purnomo, Dwi. 2009. Subsistem Agribisnis. agroindustry.wordpress.com [online]. Diakses pada 9 Mei 2015.

Saragih, Bungaran. 1998. Agribisnis : Paradigma Baru Pembangunan Ekonomi Berbasis Pertanian. Kumpulan Pemikiran Agribisnis : Jakarta

Soekartawai. 2001. Pengantar Agroindustri. Jakarta : Grasindo

0

Bolehkah saya curhat?

Halo, terima kasih untuk dosen TIK saya yang memberikan tugas pembuatan blog ub ini.

Semoga kedepannya blog ini dapat saya kelola dengan baik sebagaimana saya mengelola blog terdahulu saya http://simatakodok.blogspot.com yang memang masih belom dari kata sempurna tapi inshaallah bermanfaat 🙂

Semangat untuk mengisi artikel artikel unyu di blog ini ^^9