2010
10.31

Alun-Alun dan Kenampakan Kawasan Sekitarnya

Alun-alun merdeka kota Malang terletak di pusat kota Malang dengan berbagai perkembangan aktivitas di kawasan alun-alun dan sekitarnya seperi pemerintahan, perdagangan serta fasilitas sosial lainnya yang berskala regional. Alun-alun berperan penting sebagai kawasan strategis di kota Malang. Dalam kehidupan sosial budaya tak terlepas dari histori keberadaannya, sejak jaman kerajaan, kawasan  alun-alun telah difungsikan sebagai pusat pemerintahan dengan adanya Pendopo bekas Kadipaten, dan sekarang sekarang berfungsi sebagai kator Bupati.

Selain itu Alun-alun juga merupakan pusat spiritual, dengan adanya Masjid Agung Jami’ dan Gereja Kristen Protestan yang posisinya tak begitu jauh antara satu dan lainnya. Terdapat pula bangunan-bangunan kuno gaya Kolonial maupun tradisional di sekitar kawasan alun-alun yang tetap dipertahankan sebagai warisan sejarah masa lampau.

Dalam bidang sosial ekonomi fungsi kawasan alun-alun memiliki perkembangan yang sangat pesat dengan diiringi perubahan tatanan fisik yang ada, banyaknya pusat perbelanjaan di sekitar kawasan alun-alun seperti Gramedia, Sarinah, Ramayana Mall, Mitra, Gajah Mada Plasa, Malang Plasa, dan Pasar Besar menarik perhatian masyarakat Kota Malang dan sekitarnya sebagai daerah tujuan untuk berbelanja sehingga meningkatkan aktifitas-aktifitas komersial.

Terdapat pula beberapa perkantoran di kawasan Alun-alun meliputi Bank Indonesia, Bank Mandiri, CIMB Niaga, Kantor Pelayanan Pajak Pratama Malang Selatan,  Kantor Pos Malang, Kantor Pelayanan Perbendaharaan Negara, dan yang pasti terdapat Kantor Bupati Malang sebagai pusat pemerintahan Kabupaten Malang.

Alun-Alun sebagai Taman Kota dan Sarana Rekreasi Warga

Kawasan alun-alun rupanya juga menjadi sarana rekreasi taman kota bagi warga Malang dan sekitarnya. Dengan tidak membayar sepeser pun, kita dapat memasuki area alun-alun dan menikmati sejuknya pepohonan di sudut-sudut alun-alun. Di tengah alun-alun terdapat air mancur yang menyala ketika sore dan malam hari, menambah semarak aktifitas di dalamnya.

Taman kota merupakan suatu kawasan ruang terbuka hijau di wilayah perkotaan, lengkap dengan segala fasilitasnya untuk kebutuhan masyarakat kota sebagai tempat rekreasi, aktif maupun pasif. Di samping sebagai tempat rekreasi warga kota, sebagai paru-paru kota, juga sebagai pengendali iklim mikro, konservasi tanah dan air, serta merupakan habitat berbagai flora dan fauna, terutama burung.

Taman kota pada awalnya memiliki dua fungsi utama yaitu :

  1. memberikan kesempatan rekreasi bagi masyarakat kota, aktif maupun pasif
  2. memberikan efek visual dan psikologis yang indah dalam totalitas ruang kota.

Standart Taman Kota Masa Kini

Dalam perkembangannya kini, taman kota tidak lagi terbatas untuk menampung kegiatan santai dan piknik saja, tetapi harus dapat menampung kegiatan-kegiatan lain secara maksimal seperti rekreasi aktif, olah raga, kegiatan kebudayaan, hiburan dan interaksi sosial. Karenanya, dewasa ini suatu taman kota memiliki berbagai fungsi yakni ekologis, biologis, hidrologis, estetis, rekreasi dan sosial.

Dengan demikian, suatu kota untuk masa kini harusnya dirancang dengan mengembangkan berbagai fasilitas olahraga yang bersifat terbuka seperti joging track, sepatu roda dan fasilitas lain seperti plaza, open stage dan sebagainya.

Komponen-komponen yang digolongkan dalam pengertian taman kota diantaranya adalah sebagai berikut :

v    Taman halaman terdiri dari halaman rumah tinggal, halaman kantor, halaman bangunan khusus — tempat ibadah, rumah sakit, kampus dan lain-lain.

v    Tempat rekreasi kota atau bermain yang mencakup taman lingkungan perumahan, taman lingkungan suatu wilayah kota, kebun binatang (taman marga satwa) dan lain-lain.

v    Komplek olah raga.

v    Taman Monumen.

v    Ruang terbuka yang berfungsi ganda seperti alun-alun, plaza, pusat perbelanjaan, pusat pemerintahan.

Perkembangan taman kota tidak dapat dipisahkan dengan Rencana Umum Tata Ruang Kota (RUTRK), terutama yang menyangkut perihal lokasi, luasan, dan lokasi peruntukannya sehingga mudah dijangkau oleh warga kota serta sesuai dengan kebutuhan kegiatan warga. Oleh karena itu, lokasi serta luas taman kota menjadi faktor pertimbangan utama setelah proses pemilihan tema, filosofi, konsep, fungsi dan tujuan pengadaannya.

Menurut Won Kim Shin (1998), pada abad ke-21 ini ruang-ruang terbuka hendaknya memiliki program yang bertujuan dapat merespon krisis lingkungan. Tujuan pertama, ruang terbuka perkotaan dapat membantu kesinambungan pembangunan kota yang berhubungan dengan air, udara, dan sistem pepohonan. Tujuan kedua, hendaknya dapat membantu menjadikan kota sebagai tempat yang lebih bernuansa sosial bagi pemukimnya. Won Kim Shin juga berpesan agar para perancang taman harus mengolah ruang-ruang terbuka kota secara kritis dalam lingkaran aturan main ekologi, estetika dan pendidikan.

Dengan berbagai perubahan dan perkembangan yang terjadi, kehidupan dan penghidupan memang makin kompleks, rumit dan menawarkan berbagai pilihan. Khususnya di perkotaan, manusia layaknya berpacu dengan waktu dimana siang dengan malam hampir tiada batas yang akhirnya bermuara kepada kejenuhan serta kepenatan warga kota akan aktifitasnya sehari-hari. Maka, rekreasi merupakan salah satu upaya pemulihan dan taman kota adalah jawabannya.

Untuk pendekatan perencanaan sebuah taman kota yang sekaligus juga berarti ruang publik, dapat didekati dari pandangan Stephen Carr (1992) yang menyatakan bahwa tiga dimensi kemanusiaan yang sangat penting harus tercermin dalam ruang publik. Tiga dimensi itu meliputi:

  1. responsif, ruang publik harus dapat digunakan untuk berbagai kegiatan dan kepentingan warganya,
  2. demokratis, ruang publik yang dapat digunakan oleh berbagai lapisan masyarakat dengan latar belakang sosial, ekonomi, dan budaya serta aksesibel bagi para difabel, lansia dan berbagai kondisi fisik manusia, serta
  3. bermakna, ruang publik harus memiliki tautan dengan masyarakat, lingkungannya, serta dunia luas. Dengan demikian ruang publik juga harus memiliki tautan dengan konteks sosial budaya.

Aktivitas Pengunjung Alun-Alun

Aktifitas publik yang ada di dalam alun-alun beragam. Pagi hari sekitar jam 7 sudah banyak tukang sapu yang bertugas membersihkan kawasan alun-alun, setelah memasuki area tengah, banyak terdapat burung dara di tengah alun-alun dan hal tersebut dimanfaatkan oleh pedagang untuk menjual pakan jagung dan pengunjung dapat membeli dengan harga seribu rupiah saja untuk member makan pada burung-burung dara.

Banyak pedagang, baik pedagang mainan anak-anak, pedagang makanan dan minuman, serta pedagang koran. Banyak pula orang-orang yang duduk-duduk di bangku yang disediakan di bawah pohon untuk saling bercengkrama dan berinteraksi sosial.

Ada yang menggunakan alun-alun sebagai sarana olahraga badminton serta jogging, anak-anak sekolahan di sekitar alun-alun juga memanfaatkan area alun-alun untuk berolah raga, anak-anak MI Attaraqqie misalnya, setiap Sabtu mereka berlari berkeliling alun-alun sebagai bagian dari pelajaran Penjaskes, begitu pula murid dari SDN. Kauman I.

Aktifitas siang hari juga tak begitu berbeda, hanya saja lebih banyak orang-orang yang hanya duduk-duduk saja daripada berjalan kesana kemari. Pedagang makanan dan minuman segar di sekeliling kawasan alun-alun juga lebih banyak daripada di pagi hari, khususnya di sebelah selatan dekat kantor pos, beragam pedagang makanan mulai dari bakso, mie ayam, es degan, es campur berjajar di sepanjang tepi jalan.

Aktifitas di malam hari, suasana alun-alun semakin ramai. Pedagang PKL pun mulai menyeruak untuk memanfaatkan ramainya kondisi tersebut. Alun-alun sebagai ruang publik telah memberikan kesempatan kepada siapapun untuk menikmati situasi di dalam dan di sekitar kawasannya, tidak peduli dari kalangan tingkat ekonomi manapun, dan usia berapapun, semua dapat menikmati ruang publik ini dan dapat digunakan sebagai kawasan wisata murah meriah penghilang kepenatan dan kejenuhan.