• serat sintetis

    Date: 2012.10.19 | Category: Uncategorized | Tags:

    Nama              : Riska Safitri Maulani

    NIM                 : 105100301111059

    Dosen Pengampuh  : Ika Atsari Dewi STP, MP.

    Mata Kuliah                : Teknologi Kayu Serat da Bambu

     

    1. I.                    PENDAHULUAN

     

    1.1               Latar Belakang

    Serat merupakan suatu jenis bahan berupa potongan-potongan komponen yang membentuk jaringan memanjang yang utuh. Contoh serat yang paling sering dijumpai adalah serat pada kain. Manusia menggunakan serat dalam banyak hal yaitu untuk membuat tali, kain atau kertas. Serat dapat digolongkan menjadi dua jenis yaitu serat alami dan serat sintetis (Serat buatan manusia). Serat sintetis dapat diproduksi secra murah dalam jumlah yang besar. Namun demikian, serat alami memiliki berbagai kelebihan khususnya dalam hal kenyamanan.

    Serat banyak sekali dibutuhkan baik itu serat alami maupun sintetis. Serat sintetis banyak digunakan di dunia industri terutama industri tekstil. Serat sintetis memiliki kelebihan dan kekurangan. Salah satu kekurangannya adalah serat sintetis yang digubakan untuk bahan tekstil akan menyebabkan rasa panas dan tidak dapat menyerap cairan seperti cairan keringat. Kelebihannya adalah memiliki struktur yang lebih kuat dan tahan lama.Serat sintetis ini juga terdapat pada susunan polimer. Polimer merupakan suatu molekul raksasa(makromolekul) yang terbentuk dari susunan ulang molekul kecil yang terikamelalui ikatan kimia. Suatu polimer akan terbentuk bila seratus atau seribu unit molekul yang kecil yang disebut monomer, saling berikatan dalam suatu rantai.

     

    1.2               Tujuan

    Adapun tujuan dari penulisan makalah ini adalah agar penulis dapat mengerti dan memahamitentang serat sintetik serta untuk memenuhi tugas mata kuliah Teknologi Kayu Serat Bambu.

     

    1. II.                  TINJAUAN PUSTAKA

     

    2.1               Pengertian Serat

    Serat ialah jaringan serupa benang atau pita panjang berasal dari hewan atau tumbuhan. Serat digunakan untuk membuat kertas, tekstil, dan tali. Sifat serat, yaitu tidak kaku dan mudah terbakar.  Serat ada juga yang merupakan hasil olahan manusia. Serat ini disebut juga serat sintetis. Contohnya, serat optik.  Serat optik adalah saluran transmisi atau sejenis kabel yang terbuat dari kaca atau plastik yang sangat halus dan lebih kecil dari sehelai rambut, dan dapat digunakan untuk mentransmisikan sinyal cahaya dari suatu tempat ke tempat lain (Pudjaatmaka, 2002).

     

    2.2               Jenis Serat

    Serat terbagi menjadi dua macam, yaitu serat alami dan serat buatan (sintetis). Serat alam merupakan serat  yang dihasilkan dari hewan, tumbuhan dan proses geologis. Serat tumbuhan biasanya tersusun atas selulosa, hemiselulosa dan terkadang mengandung lignin. Contoh dari jenis serat ini yaitu katun dan kain ramie. Serat tumbuhan digunakan sebagai bahan pembuat kertas dan tekstil. Sedangkan serat dari hewan contohnya seperti bulu domba yang dijadikan wol. Sedangkan serat buatan (sintetis) merupakan serat buatan manusia. Contoh dari serat buatan ini adalah serat polimer. Serat ini dibuat melalui proses kimia. Contoh lain dari serat sintetis adalah kaca, plastic dan lain-lain (Chang, 2004).

     

    2.3               Polimer

    Berdasarkan asalnya, polimer dibedakan atas polimer alam dan polimer Buatan. Polimer buatan dapat berupa polimer regenerasi dan polimer sintetis. Polimer regenerasi adalah polimer alam yang dimodifikasi. Contohnya rayon, yaitu serat sintetis yang dibuat dari kayu (selulosa). Polimer sintetis adalah polimer yang dibuat dari molekul sederhana (monomer) dalam pabrik. Beberapa contoh polimer yang dibuat oleh pabrik adalah nylon dan poliester, kantong plastik dan botol, pita karet, dll. Plastik yang pertama kali dibuat secara komersial adalah nitroselulosa. Material plastik telah berkembang pesat dan sekarang mempunyai peranan yang sangat penting dibidang elektronika, pertanian, tekstil, transportasi, furniture, konstruksi, kemasan kosmetik, mainan anak-anak dan produk-produk industri lainnya (Powel, 2003).

     

    1. III.                PEMBAHASAN

     

    3.1               Serat Sintetis

    Serat sintetis merupkan serat buatan manusia, Serat sintetis diperoleh dengan mengolah bahan plastik. Bahan pakaian yang terbuat dari bahan serat sintetis diantaranya nilon dan poliester. Pakaian yang terbuat dari serat sintetis memiliki sifat, antara lain tidak mudah kusut, kuat, tetapi tidak nyaman dipakai dan tidak menyerap keringat. Selain itu, terdapat pula beberapa kain yang dilapisi damar sehingga kedap air. Kain-kain seperti ini digunakan sebagai bahan untuk membuat jas hujan, parasut, karpet, serta tenda.

     

    3.2               Jenis Serat Sintetis

    Berdasarkan asalnya, polimer dibedakan atas polimer alam dan polimer buatan (Azizah, 2004). Polimer alam yang telah kita kenal antara lain : selulosa, protein, karet alam dan sejenisnya. Pada mulanya manusia menggunakan polimer alam hanya untuk membuat perkakas dan senjata, tetapi keadaan ini hanya bertahan hingga akhir abad 19 dan selanjutnya manusia mulai memodifikasi polimer menjadi plastik. Polimer buatan dapat berupa polimer regenerasi dan polimer sintetis. Polimer regenerasi adalah polimer alam yang dimodifikasi. Contohnya rayon, yaitu serat sintetis yang dibuat dari kayu (selulosa). Polimer sintetis adalah polimer yang dibuat dari molekul sederhana (monomer) dalam pabrik. Beberapa contoh polimer yang dibuat oleh pabrik adalah nylon dan poliester, kantong plastik dan botol, pita karet, dll. Plastik yang pertama kali dibuat secara komersialadalah nitroselulosa. Material plastik telah berkembang pesat dan sekarang mempunyai peranan yang sangat penting dibidang elektronika, pertanian, tekstil, transportasi, furniture, konstruksi, kemasan kosmetik, mainan anak-anak dan produk-produk industri lainnya. transportasi, furniture, konstruksi, kemasan kosmetik, mainan anak -anak dan produk-produk industri lainnya.

     

    3.2.1          Polimer Sintetis

    Polimer sintesis atau polimer buatan adalah polimer yang tidak terdapat di alam dan harus dibuat oleh manusia. Sampai saat ini, para ahli kimia polimer telah melakukan penelitian struktur molekul alam guna mengembangkan polimer sintesisnya. Dari hasil penelitian tersebut dihasilkan polimer sintesis yang dapat dirancang sifat-sifatnya, seperti tinggi rendahnya titik lebur, kelenturan dan kekerasannya, serta ketahanannya terhadap zat kimia. Tujuannya, agar diperoleh polimer sintesis yang penggunaannya sesuai yang diharapkan. Polimer sintesis yang telah dikembangkan guna kepentingan komersil, misalnya pembentukan serat untuk benang kain dan produksi ban yang elastisterhadap jalan raya. Ahli kimia saat ini sudah berhasil mengembangkan beratus-ratus jenis polimer sintesis untuk tujuan yang lebih luas. Contoh polimer sintesis dapat dilihat pada tabel di bawah ini :

     

     

     

    No Polimer Monomer Terdapat pada
    1. Polietena Etena Kantung, kabel plastik
    2. Polipropena Propena Tali, karung, botol plastik
    3. PVC Vinil klorida Pipa paralon, pelapis lantai
    4. Polivinil alcohol Vinil alcohol Bak air
    5. Teflon Tetrafluoroetena Wajan atau panci anti lengket
    6. Dakron Metil tereftalat dan etilena glikol Pipa rekam magnetik, kain atau tekstil (wol sintetis)
    7. Nilon Asam adipat dan heksametilena diamin Tekstil
    8. Polibutadiena Butadiena Ban motor
    9. Poliester Ester dan etilena glikol Ban mobil
    10. Melamin Fenol formaldehida Piring dan gelas melamin
    11. Epoksi resin Metoksi benzena dan alcohol sekunder Penyalut cat (cat epoksi)

     

     

    3.2.2          Polyester

    Menurut Poespo (2005) Polyester fiber, adalah serat sintetik yang terbuat dari hasil polimerisasi etilen glikol dengan asam tereptalat melalui proses polimerisasi kondensasi. Hasil polimerisasi berupa chip atapun polimer leleh, yang kemudian di lakukan proses spinning untuk membentuk fiber. Pembentukan fiber dilakukan dengan temperatur di atas titik leleh polyester, dengan bantuan gear pump yang menentukan ukuran fiber yang keluar melalui spinneret. Spinneret disini akan menentukan cross section atau bentuk dari fiber yang diinginkan, seperti bulat, segitiga, dan lain-lain. Selanjutnya ribuan helai serat panjang ini disatukan dan ditarik serta diletakkan di dalam can. Serat-serat dari bebarapa can kemudian ditarik (draw) bersama sama sehingga didapatkan serat dengan ketebalan tertentu biasanya dinyatakan dengan satuan denier. Pada proses peregangan ini diberikan spin finish oil yang berfungsi mengurangi elektro statik yang terjadi pada saat serat polyester diproses pada mesin mesin pemintalan berikutnya. Setelah melalui proses peregangan selanjutnya masuk ke proses crimping. Kemudian serat tadi dipotong potong menggunakan rotary cutter dengan panjang sesuai dengan keperluan, misalnya 38 mm, 44 mm, 51 mm dan lain sebagainya. pada saat proses pemotongan serat diberikan hembusan agar serat-serat yang telah terpotong pendek-pendek dapat terurai satu sama lain. Serat yang telah selesai dipotong dikemas pada mesin baling press dengan standar berat sekitar 350 kg per bal. Selain kehalusan (denier) serat dan panjang serat, kilau (luster) juga merupakan spesifikasi yang sangat penting, misalnya bright, semi dull atau dull. Serat poliester merupakan bahan baku bagi pabrik pemintalan (spinning) yang membuat benang pintal. Di pabrik pemintalan serat poliester biasanya diproses untuk produk benang pintal poliester 100% atau cempuran dengan serat alam atau serat sintetik lainnya. Misalnya poliester/katun, polyester/rayon, polyester/rami, polyester/flax, polyester/acrilik. Contoh Karakteristik serat poliester : Kehalusan : 1.3 denier, Panjang : 38 mm, Kekuatan tarik : 6.6 gram/denier, Mulur : 22%, Mengkerut : 6.3%, Krimp : 5.2 per Cm, Kandungan oil : 0.15%, Kandungan air : 0.4%.

    Hal yang penting untuk mendapatkan perhatian pada proses serat polyester di pabrik pemintalan adalah timbulnya elektro statis pada saat serat mengalami gesekan, baik antar serat dengan serat sendiri dan juga antara serat dengan metal atau karet yang merupakan bagian mesin yang bergesekan langsung dengan serat yang diproses. Elektro statik ini berdampak kepada ketidak-lancaran proses pemintalan seperti terjadinya serat menggulung (lapping) pada rol-rol yang berputar atau serat menyumbat (choking) pada corong atau terompet. Untuk mengurangi gejala elektro statik ini biasanya ditempuh hal-hal sebagai berikut : Pada serat diberikan anti statik atau spin finish oil, mesin-mesin produksi dibumikan (grounding) dan mengatur suhu dan kandungan kelembaban udara di ruangan pabrik, Misalnya suhu 30 derajat Celcius dan kelembaban udara (relative humidity) 53% di ruangan Ring Spinning.

     

    3.2.3          Kelebihan dan Kekurangan kain polyester

    Dalam dunia kain, dikenal dua jenis kain yang utama. Kedua jenis kain tersebut adalah kain yang terbuat dari serat alami dan kain yang terbuat dari serat buatan atau sintetis. Contoh kain yang terbuat dari serat alami adalah kain katun. Salah satu contoh kain sintetis adalah kain polyester. Bahan pembuat kain polyester adalah polyethylene terepththalate (PET). Bahan ini adalah bahan yang juga digunakan sebagai bahan pembuat botol minuman plastik. Dalam industri garmen, kain polyester umumnya dimanfaatkan sebagai bahan baku pakaian dan perlengkapan rumah tangga, seperti seprai, penutup tempat tidur, tirai, dan gordin. Kain katun mungkin memang terasa lebih alami daripada kain polyester. Namun, kain polyester tidak mudah kusut dan lebih cepat kering setelah dicuci. Selain itu, baju yang terbuat dari kain polyester tidak mudah susut maupun melar. Kain polyester tidak memerlukan penyetrikaan panas. Karena terbuat dari serat sintetik, kain polyester kurang mampu menyerap panas dan keringat saat dikenakan. Kelebihan lain dari kain polyester adalah ketahanannya terhadap pencucian kimia/ dry cleaning dan pelarut organik. Kain ini juga lebih tahan terhadap jamur dan bakteri dibanding kain katun. Untuk memanfaatkan kelebihan kain polyester serta meminimalisir kekurangannya, serat kain polyester biasanya dipintal bersama serat alami. Penggabungan kedua serat ini mampu menghasilkan pakaian dengan sifat-sifat gabungan kedua serat.

     

    DAFTAR PUSTAKA

    Azizah. 2004. Rangkaian Polimer Alam. Bumi Aksara. Sukabumi

     

    Chang, Y. 2004. Kimia Dasar. Erlangga. Jakarta.

     

    Poespo, G. 2005. Pemilihan Bahan Tekstil. Kanisius. Yogyakarta.

     

    Powel. 2003. Kejuruteraan dengan Polimer. University Teknologi Malaysia. Johor Bahru.

     

    Pudjaatmaka. 2002. Kamus Kimia. Balai Pustaka. Jakarta.