Tugas Analisis Lanskap

February 14th, 2018

TUGAS KULIAH

ANALISIS LANSKAP

 

Disusun oleh :

Rika Firmania K.N

155040201111118

Kelompok 2

Kelas D

PROGRAM STUDI AGROEKOTEKNOLOGI

FAKULTAS PERTANIAN

UNIVERSITAS BRAWIJAYA

MALANG

2018

Mengapa Malang banyak dikelilingi oleh banyak gunung api?

Terbentuknya gunung berapi akibat adanya dua lempeng yakni lempeng Eurasia dan Indopasifik yang saling bertabrakan (konvergen). Dimana salah satu lempeng tersebut memiliki kekuatan hantam yang tinggi dan pada lempeng yang lainnya kekuatannya lemah. Pada saat keduanya bertubrukan maka lempeng dengan kekuatan lemah akan berada diatas sedangkan pada lempeng dengan kekuatan yang kuat akan menuju kebawah. Hal ini didukung dari pernyataan Nandi (2006) bahwa gunung berapi terbentuk akibat 2 fator yakni pergerakan lempeng dan gaya endogen.

Gunung berapi terbentuk pada pertumbukan antara lempeng benua dengan lempeng samudera dan lempeng samudera dengan lempeng samudera. Selain itu terbentuk juga pada titik panas tempat keluarnya magma ke permukaan ( di benua maupun di samudera. Tidak Hanya itu terbentuknya gunung berapi ini juga diakibatkan oleh adanya gaya endogen. Ketika magma yang bersifat asam akan bergerak ketas karena lebih ringan sedang yang bersifat basa dibagian bawah. Gerakan pemisah tersebut yang menimbulkan gaya keatas merekah batuan di kerak bumi, sehingga apabila terdapat celah- celah retakan akan muncul ke permukaan. Berikut gambar skema terbentuknya gunung berapi :

Kabupaten malang nemiliki kondisi wilayah kompleks dimana kabupaten malang dikelilingi oleh gunung aktif bagian utara barat dan timur. Kondisi kabupaten malang selatan dilihat dari kondisi geologi merupakan bagian dari ol dan desit formation (endapangunungapi). Di lihat dari kondisu geomorfologinya bagian selatan kabupaten malang adalah bentukan plato hasil pengankatan zaman Miosen. Hasil pengangkatan menghasilkan endapan batu gamping diselingi batuan vulkanik yang terangkat menjadi pegunungan dimalang selatan.

Geomorfologi Kota Malang

Malang terletak pada bagian tengah Provinsi Jawa Timur, dengan luas sekitar 3.534,86 km2 (353.486 hektar) yang terdapat DAS sumber brantas, Wilayah DAS ini sebagian besar berada di Kota Madya Batu dan sebagian kecil berada di Kabupaten Malang (Kecamatan Pujon dan Karangploso). Bagian hulu termasuk kawasan Taman Hutan Raya (Tahura Suryo). Secara geografik terletak pada 115017‟0‟$E2 hingga118019‟0‟‟ Bujur Timur dan 7055‟30‟‟ hingga 7057‟30‟‟ Lintang Selatan. DAS Sumber Brantas ini berada di wilayah pegunungan vulkanik yang mengelilinginya, yaitu: Gunung Arjuna-Welirang, Gunung Anjasmara dan Gunung Kawi-Butak. Gambaran relief dan kompleks pegunungan yang membatasi DAS Sumber Brantas.

Informasi Geologi diperoleh dari Peta Geologi yang ber skala 1:100,000 Lembar Malang (Santosa et.al., 1992). Secara umum tanah yang berkembang di wilayah Malang berkembang dari bahan vulkanik hasil gunung api, yang dipengaruhi oleh Gunung Arjuno dan Anjasmoro di bagian utara, dan Gunung Panderman di bagian selatan. Berdasarkan Peta Geologi Lembar Malang (Santosa et.al., 1992), formasi geologi yang dijumpai di kawasan Kota DAS Sumber Brantas ada lima, berturut-turut dari yang paling luas yaitu: 1) Qvaw (Batuan Gunungapi Arjuna Welirang), 2) Qpat (Batuan Gunungapi Anjasmara Tua), 3) Qvp (Batuan Gunungapi Panderman), 4) Qpvkb (Batuan Gunungapi Kawi-Butak) dan 5) Qpva (Batuan Gunungapi Anjasmara Muda).

Kondisi geologi dan proses pembentukan lahan menghasilkan bentuk lahan yang dipengaruhi oleh proses vulkanisme. Berdasarkan reliefnya, bentuk lahan di wilayah Malang dapat dibagi menjadi empat macam, yaitu: (1) jalur pelembahan sempit (Ac) dan jalur aliran lahar (Al), (2) dataran (P), (3) perbukitan (H), dan (4) pegunungan (M), dimana, berdasarkan posisinya pada suatu lereng dan kemiringan lerengnya, masih dapat dibagi lagi menjadi berbagai macam bentuk lahan. Jalur perlembahan tersebar di seluruh lokasi merupakan hasil proses denudasional/ pengikisan dari bentuk lahan asalnya. Pada beberapa jalur, ditumpuki oleh sedimentasi lahar tua atau debris. Kedalaman, lebar dan bentuknya tergantung lokasi jalur ini. Di bagian lereng atas pegunungan umumnya cukup lebar dan dalam dengan lemah bentuk V. Di bagian dataran, tidak terlalu lebar, tidak terlalu dalam dan berbentuk U.

Sistem dataran dijumpai di bagian tengah, merupakan dataran vulkanik antar pegunungan yang terbentuk oleh berbagai bahan hasil letusan dan atau sedimentasi hasil erosi dan atau longsor dari kawasan perbukitan/ pegunungan di atasnya. Berdasarkan atas posisi dan proses pegikisan yang dapat dibagi lagi ke beberapa subsistem, yaitu: dataran bagian bawah (Pl), bagian tengah (Pm), bagian atas (Pu), dataran yang tertoreh (Pd) dan bagian dataran yang mengalami erosi berlebihan (Ps). Sistem perbukitan dijumpai di bagian lereng tengah atau kaki kompleks pegunungan yang ada di sekitarnya. Relief perbukitan memiliki amplitudo ketinggian antara 50 – 300m. Berdasarkan atas posisi dan kemiringan lerengnya dapat dibedakan atas: puncak/ punggung perbukitan (Hp), pereng perbukitan (Hs), kaki perbukitan (Hc), dan lereng perbukitan yang tertoreh (Hd). Sistem Pegunungan berapa di bagian lereng atas kompleks pegunungan yang ada, yaitu Gunung Arjuna-Welirang, Anjasmara dan Kawi-Butak. Berdasarkan atas konfigurasi permukaannya, grup ini dapat dikelompokkan menjadi beberapa kelompok, yaitu: Plato, spurs dan punggung

gunung (Mp), kerucut gunung vulkanik pada bagian lereng atas (Mu), lereng-lereng gunung curam (Ms), bahan tertimbun akibat longsoran di gunung (Mc ), gunung tertoreh dengan punggung tajam sejajar (Md), Kerucut gunung vulkanik terisolir, curam sampai sangat curam (Mi), dan bekas longsoran tanah di gunung (Ml).

Kemiringan pada lereng di wilayah Malang khususnya daerah DAS Brantas sangat bervariasi dari datar sampai sangat curam. Lereng datar dijumpai pada dataran antar gunung api di bagian tengah, termasuk dataran sempit antara Gunung Arjuna dan Anjasmara. Lereng terjal umumnya dijumpai pada tebing lereng hampir di semua lokasi. Lereng datar sampai agak datar (<8%) sekitar 19.18% luas areal berada pada dataran vulkanik antar pegunungan. Sebagian besar berada di Kecamatan Junrejo dan Batu dan sebagian kecil di Kecamatan Bumiaji. Di Kecamatan Bumiaji biasanya diusahakan untuk tanaman pangan (padi dan jagung), sedangkan di Kecamatan Batu dan Bumiaji untuk tanaman sayuran. Lereng landai (8-15%) sekitar 16.8% luas wilayah pada dataran berombak di kaki perbukitan yang dimanfaatkan untuk lahan budidaya (tanaman pangan di Kecamatan Bumiaji dan Batu), dan sayuran dan/ atau buah-buahan di Kecamatan Bumiaji. Lereng agak curam (15- 25%) sekitar 15.45% luas wilayah pada dataran berombak-bergelombang di kaki perbukitan yang budidaya tanaman pangan dan kebun campuran (Kecamatan Junrejo dan Batu) dan kebun

apel dan/ atau sayuran di Kecamatan Bumiaji. Lereng curam (25-40) sekitar 15.47 % luas wilayah pada kawasan kaki perbukitan atau tebing lembah yang ada di DAS Sumber Brantas.

Bentuk Lahan dan Geomorfologi Kecamatan Ngantang, Kabupaten Malang

Kondisi lansekap berdasarkan pada studi kasus poin 1 ialah letak dan luas Kecamatan Ngantang,berada tepat di tengah Propinsi Jawa Timur, secara geografis terletak antara 112°26’113 – 122°28’923 BT dan 7°52’203 – 7°49’373 LS dengan luas wilayah kecamatan Ngantang 13.075,144 ha. Ketingian wilayah 1.100 mdpl dengan suhu rata-rata 18 -23 0C. Batas-batas wilayah kecamatan Ngantang adalah sebagai berikut:

Sebelah utara               : Kabupaten Mojokerto

Sebelah timur              : Kota Batu

Sebelah selatan            : Kabupaten Blitar dan Kecamatan Ngajum

Sebelah barat               : Kecamatan Pujon

Topografi di Kecamatan Ngantang merupakan dataran tinggi yang membentang dari barat ke timur maupun dari utara ke selatan dengan ketinggian antara 1000 mdpl sampai dengan 2500 mdpl dengan dikelilingi gunung-gunung, antara lain: G. Dworowati (Ngabab), G. Argowayang (Tawangsari), G. Gentong growah (Madiredo), G. Biru (Wiyurejo), G. Banyak (Pandesari), G. Anjasmoro (Coban Rondo), G. Kawi (Ngantang Kidul).

Pada gambar di bawah menunjukkan kondisi tutupan lahan di kawasan Kecamatan Ngantang. Kondisi eksisting dari kawasan Kecamatan Ngantang yaitu bergunung-gunung dan berlereng curam.

Citra Landsat ETM 2000 Kawasan Ngantang, 2015.

Kondisi fisik geografi Kecamatan Ngantang memiliki wilayah datar sampai berombak dengan kemiringan 40%, berombak sampai berbukit dengan kemiringan 30%, dan berbukit sampai bergunung dengan kemiringan 30%. Suhu minimum 18 0C dan suhu maksimum 20 0C serta memiliki rata-rata curah hujan 21400 mm/tahun. Letak geografis dan bentuk wilayah sangat berpengaruh pada produktifitas tanah di wilayah Kecamatan Ngantang yang menghasilkan hasil bumi (sayur mayur) yang sangat berpotensi dengan perincian sebagai berikut: Tanah Sawah sebesar 910,10 ha, tanah tegalan sebesar 2.276,00 ha, tanah perkebunan sebesar 14,00 ha, tanah hutan sebesar 21.671,00 ha, dan lain-lain sebesar 48,55 ha.

Daftar Pustaka :

Nandi.2006.VULKANISME (Geologi Lingkungan). Universitas Pendidikan

Indonesia.Jakarta.

Mardianto Djatu; Dyah R.Hizbaran.,dkk. 2016. Seminar Prosiding Pengelolaab

Pesisir dan Daerah Aliran Sungai ke 2. Univeristas Gajah mada.

Kliping Bencana

 

Peristiwa longsor yang terjadi di Kota Malang khususnya di bantaran sungai brantas tersebut telah menyebabkan rumah warga disekitar roboh. Longsor yang terjadi di lokasi tersebut diakibatkan oleh tingginya intensitas hujan yang kemudian membuat debit dan arus aliran air meningkat.

Seperti yang kita ketahui, longsor merupakan salah satu dari banyaknya bencana alam yang dapat terjadi. Longsor dapat terjadi akibat dari dua faktor yaitu faktor alam dan faktor manusia. Longsor yang terjadi pada berita tersebut, selain diakibatkan oleh tingginya intensitas hujan yang turun juga dapat diakibatkan oleh faktor manusia. Misalnya dengan membangun rumah di bantaran sungai. Hal tersebut tentu tidak baik untuk kondisi ekologis sungai. Selain dapat menyebabkan pencemaran air sungai juga dapat mengurangi ketahanan tanah yang berada di bantaran sungai. Sehingga tanah akan mudah tergerus oleh tingginya arus aliran air yang kemudian akan menyebabkan terjadinya longsor.

Longsor yang terjadi di Ngantang Kabupaten Malang, menutup akses jalur Batu-Jombang. Material longsor berasal dari plensengan yang berada di tepi jalan

di lokasi tersebut diakibatkan oleh tingginya intensitas hujan yang kemudian membuat debit dan arus aliran air meningkat. Derasnya air hujan mengerus plesengan hingga tanah ambrol ke badan jalan. Longsor tersebut selain disebabkan karena intensitas hujan yang tinggi dapat juga disebabkan karena kurangnya vegertasi yang berada pada daerah tersebut, sehingga kemampuan air dalam menahan air sangat kurang.

Upaya sosialisasi kepada pengguna jalan akan digelar mulai memasuki pusat kota Batu. Pihak pemerintah menghimbau kepada pengendara yang menuju ke Kediri atau Jombang agar melalui jalur Pujon, berbalik arah

 

Hello world!

February 14th, 2018

Selamat datang di Student Blogs. Ini adalah posting pertamaku!