Manajemen Krisis : Studi Kasus Pemboikotan Produk Arla Food

March 16th, 2017

Dalam sebuah organisasi atau perusahaan sangat dimungkinkan berkembang sebuah isu tentang organisasi tersebut. Isu muncul ketika ada ketidaksesuaian antara pengharapan publik dengan praktek organisasi yang jika diabaikan bisa berdampak merugikan bagi organisasi. Isu bisa meliputi masalah, perubahan, peristiwa, atau situasi. Berdasarkan pendapat The Issue Management Council (Kriyantono, 2015, h.152) jika terjadi gap atau perbedaan antara harapan publik dengan kebijakan, operasional, produk atau komitmen organisasi terhadap publiknya, maka disitulah muncullah isu.

Arla Foods merupakan produsen produk kebutuhan sehari-hari terbesar di Skandinavia yang berpusat di Arhus, Denmark. Perusahaan ini memiliki peranan besar di Timur Tengah, dengan angka penjualan tahunan mencapai US $ 480 juta. Sebuah perusahaan makanan terbesar Denmark tersebut, mengaku mengalami penurunan drastis penjualan produknya pasca penayangan kembali gambar kartun yang menghina Rasulullah SAW. Dalam buku Ruslan (1999, h. 99-100) menyatakan beberapa contoh peristiwa yang berperan menjadi krisis, salah satunya adalah peristiwa menakutkan yang disebabkan oleh masalah SARA. Peristiwa boikot yang dialami oleh Arla ini merupakan peristiwa yang disebabkan oleh isu SARA. Masyarakat Timur Tengah yang memang mayoritas penduduknya adalah orang Muslim menganggap bahwa kartun yang diterbitkan oleh Jyllands-Posten telah melecehkan Nabi Muhammad. Hal tersebut menimbulkan persepsi publik yang negatif terhadap negara Denmark.

Akibat dari kasus tersebut, 100 PHK terhadap karyawan. Boikot tersebut membawa kerugian mencapai 134 juta Euro atau sekitar 170 juta dollar bagi perusahaan Denmark, dan Arla, adalah perusahaan yang paling besar menanggung kerugian itu. Arla disebutkan mengalami kerugian mencapai 10 juta Kroner atau sekitar 1, 6 juta dollar setiap harinya karena sebagian besar pasar di Timur Tengah memutus penjualan produk Arla.
Hal-hal yang menjadi pemicu dalam isu ini terus berkembang tanpa penanggulangan dan juga kurangnya informasi yang disampaikan oleh pihak Arla Food. Akhirnya secara tidak langsung menjadi suatu bentuk krisis yang harus dihadapi oleh perusahaan Arla Foods. Menurut Kriyantono (2015, h. 164) terdapat beberapa tahapan isu yaitu:
a. Tahap Origin (Potential Stage) .
Pada tahap ini, seseorang atau kelompok mengekspresikan perhatiannya pada isu dan memberikan opini. Di tahap ini, dimungkinkan mereka melakukan tindakan-tindakan tertentu berkaitan dengan isu yang dianggap penting. Dalam kasus ini, sekelompok yang dimaksud adalah beberapa opinion leader yang ada di Timur Tengah. Mereka memberikan opini terkait pelecehan kepada Nabi mereka yang dibuat oleh redaksi Jyllands-Posten yang kemudian menjadi isu – yang dianggap penting untuk memboikot seluruh produk Negara Denmark –.
b. Tahap Meditation dan Amplification (Imminent Stage/Emerging).
Pada tahap ini, isu berkembang karena isu-isu tersebut telah mempunyai dukungan publik, yaitu ada kelompok-kelompok yang lain saling mendukung dan memberikan perhatian pada isu-isu tersebut.
Dapat terlihat bahwa isu tidak berjalan sesuai tahapan sebagaimana mestinya. Dikarenakan dalam kasus Arla Foods ini, tahap Origin serta tahap Meditation dan Amplification tidak terjadi. Perusahaan Arla Foods tidak mengetahui bahwa tindakan penyebaran kartun Nabi Muhammad SAW oleh media Eropa yang diawali oleh koran Jyllands-Posten menimbulkan dampak negatif yang dapat dikategorikan masuk langsung pada tahap selanjutnya.
c) Tahap Organization
Tahap ini publik sudah mengorganisasikan diri dan membentuk jaringan-jaringan. Current stage, isu berkembang menjadi lebih popular karena media massa memberitakanya berulang kali dengan eskalasi tinggi. Critical stage terjadi bila publik mulai terbagi dalam dua kelompok, setuju dan menentang.
Ketika kelompok Islam ini menggerakkan tujuan mereka untuk mencari cara mengkomunikasikan agar kartun Nabi Muhammad tidak beredar luas lagi kepada pemerintah Denmark. Konflik tersebut mencapai tingkat yang terlihat oleh publik yang akhirnya mendorong isu tersebut ke dalam proses kebijakan publik. Kebijakan publik yang dilakukan para petinggi Islam adalah dengan cara memboikot segala bentuk produk yang berasal dari Denmark sebagai salah satu bentuk dukungan terhadap kaum Islam. Pada tahap current stage, isu berkembang lebih luas karena media juga menyebarkan berita kartun yang menggambarkan Nabi Muhammad ke beberapa daerah di Eropa. Akibatnya isu tentang rasis terhadap kaum Islam menjadi diskusi publik di berbagai dunia. Sementara isu pada critical stage, akibat dari pemberitaan media tersebut membuat produk di Denmark di boycott. Arla merupakan salah satu produk Denmark yang kemudian memberikan dukungan terhadap kaum Islam dengan cara menempatkan iklan di Koran Saudi untuk menjauhkan diri dari kartun. Akan tetapi hal yang dilakukan oleh Arla tidak membuahkan hasil dan tidak dapat membantu kaum Islam agar surat kabar Jyllands-Posten Denmark meminta maaf kepada umat Islam.
d) Tahap Resolution
Pada tahap ini, organisasi dapat mengatas isu dengan baik sehingga pemberitaan di media mulai menurun, perhatian masyarakat juga menurun, sehingga isu diasumsikan telah berakhir sampai seseorang memunculkan kembali dengan pemikiran dan persoalan baru yang ternyata memiliki keterkaitan sebelumnya.
Setelah mengalami berbagai macam serangan dan boycott dari kaum Islam, pemerintah Denmark didesak untuk meminta maaf atas penyebaran kartun yang menggambarkan Nabi Muhammad. Pada awalnya pemerintah Denmark tidak memilih untuk meminta maaf, akan tetapi pada tanggal 27 januari pemerintah Denmark mengimbau kepada surat kabar Jyllands-Posten untuk meminta maaf atas penerbitan kartun Nabi Muhammad.
Perdana menteri Denmark menyambut permintaan maaf tersebut, tetapi pemerintah Denmark tidak dapat meminta maaf atas nama surat kabar Jyllands-Posten kepada umat Islam di dunia karena itu merupakan sebuah media independent yang tidak dinaungi oleh pemerintah. Setidaknya pemberitaan yang berdar di media tentang kartun Nabi Muhammad mulai menurun, dan perhatian masyarakat juga mulai menurun secara perlahan.
Arla menerapakan strategi yang kurang efektif dalam menangani sebuah krisis yang cukup besar. Karena respon yang diberikan oleh pihak Arla Food sudah sangat terlambat. Karena keterlambatan informasi yang disampaikan tersebut, sudah banyak terbentuk informasi yang berdampak negatif terbentuk dikalangan masyarakat. Beberapa pernyataan yang dikeluarkan pihak Arla Food dinilai menggunakan bahasa yang salah. Sehingga bisa saja berpotensi memperkeruh keadaan bukannya untuk memperbaiki keadaan. Tetapi, Setelah mengalami keterpurukan, Arla bisa kembali bangkit dan menegaskan untuk kembali menjualkan produknya di Timur Tengah pada bulan Maret. Perusahaan Arla mempercayai bahwa walaupun dihadapi dengan situasi sulit pihak Arla memiliki masa depan di Timur Tengah.

Daftar Pustaka

Kriyantono, R. (2015). Public Relations & Crisis Management : Pendekatan Critical Public Relations Etnografi Kritis & Kualitatif. Jakarta: Kencana.

Ruslan, R. (1999). Praktik dan Solusi Public Relations dalam Situasi Krisis dan Pemulihan
Citra. Edisi Kedua. Jakarta: Ghalia Indonesia.

Pengertian Publik&Stakeholder

April 6th, 2015

Dalam praktik nyata seorang Public Relations, tentunya sering mendengar atau berhubungan dengan dua hal ini yaitu stakeholder dan publik. Dua hal yang sangat erat hubungannya dalam dunia praktisi Public relations. Untuk membedakan dua hal tersebut berikut definisi stakeholder menurut beberapa ahli:
• Menurut Freeman (1984, h.8) “stakeholder merupakan individu atau kelompok yang bisa mempengaruhi dan atau dipengaruhi oleh organisasi sebagai dampak dari aktivitas-aktivitasnya.”
• Wibisono (2007, h.96) mendefinisikan “stakeholder adalah pihak atau kelompok yang berkepentingan, baik langsung maupun tidak langsung, terhadap eksistensi atau aktivitas perusahaan, dan karenanya kelompok-kelompok tersebut mempengaruhi dan/atau dipengaruhi oleh perusahaan.”
• Estaswara (2010, h.2) berpendapat bahwa “stakeholder adalah individu atau organisasi baik profit maupun non profit yang memiliki kepentingan dengan perusahaan sehingga dapat mempengaruhi atau dipengaruhi oleh pencapaian tujuan perusahaan.”
• Budimanta dkk (2008, h.27). Mengungkapkan “Stakeholder merupakan individu, sekelompok manusia, komunitas atau masyarakat baik secara keseluruhan maupun secara parsial yang memiliki hubungan serta kepentingan terhadap perusahaan.”
• “Stakeholder merupakan para pemegang saham dan semua pihak yang berkepentingan dalam sebuah perusahaan.” (Sutedi, 2012, h.4)
Dari beberapa definisi yang telah dijelaskan diatas, dapat disimpulkan bahwa karakteristik stakeholder adalah apabila seseorang telah berkecimpung atau menjadi orang yang penting dan berpengaruh dalam sebuah perusahaan orang itu bisa dikatakan sebagai stakeholder dari perusahaan itu.
Untuk membedakan antara publik dan stakeholder,tidak hanya stakeholder yang mempunyai beberapa definisi, beberapa ahli juga berpendapat tentang definisi dari publik yaitu:
• Kriyantono (2008, h.3) berpendapat bahwa “publik merupakan sekumpulan orang atau kelompok dalam masyarakat yang memiliki kepentingan atau perhatian yang sama terhadap suatu hal.”

• Newsom, dkk (2007, h.92) mengartikan publik sebagai “any group of people who are tied together; however loosely, by some common bond of interest or concern and who have consequences for organizations.”

• Menurut Baskin dan Lattimore dalam bukunya publik adalah target dari kegiatan public relation dan sumber dari umpan balik untuk melakukan evaluasi (Baskin dan Lattimore, 1997, H. 5)

• Publik adalah sekelompok individu yang terikat oleh satu masalah, kemudian timbul perbedaan pendapat terhadap masalah tadi dan berusaha untuk menanggulangi persoalan tadi dengan jalan diskusi sebagai jalan keluarnya. (Djaja, 1985, h.9)

• Mayor Polak dalam (Sunaryo, 1984, h.19) berpendapat bahwa publik ( khalayak ramai) adalah sejumlah orang yang mempunyai minat yang sama terhadap suatu persoalan tertentu.

Dari beberapa definisi diatas dapat dilihat karakteristik publik adalah apabila ada sekumpulan orang yang disatukan oleh suatu kepentingan yang sama terhadap sesuatu dan mereka tidak harus berada dilingkungan yang sama itu yang dinamakan publik. Perbedaannya dengan stakeholder adalah apabila publik sudah berpengaruh terhadap salah satu perusahaan atau pun organisasi publik tersebut sudah dikatakan stakeholder dalam perusahaan itu.

Daftar pustaka
Budimanta, A. Dkk. ( 2008). Corporate social responsibility
alternatif bagi pembangunan indonesia. Cet 2. Jakarta: ICSD.
Djaja, H.R.Danan.(1985).Peranan Humas Dalam Perusahaan.Bandung: Penerbit
Alumni
Estaswara, H. (2010). Stakeholder relations. Jakarta: Universitas Pancasila
Freeman, R. E., (1984). Strategic management: a stakeholder approach, , Boston:
Pitman Publishing
Kriyantono, R. (2008). Public relations writing. Jakarta: Prenada
Lattimore, Dkk. 2007. Public Relations: Profesi dan Praktik. Jakarta: Salemba
Humanika.
Newsom, D., Turk, J. V. Kruckeberg, D,. (2007). This is PR the realitis of public
relations. California: Thomson Wadsworth
Sunaryo. (1984). Evaluasi Hasil Belajar. Jakarta: P2LPTK Dikti Depdikbud.
Sutedi, A. (2012). Good corporate governance. Jakarta: Sinar Grafika
Wibisono, Y. (2007). Membedah konsep & aplikasi CSR. Gresik: Fascho Publishing

Public relations

March 17th, 2015

• Public Relations Continuing proses

Public relation adalah proses berkelanjutan dari penentuan kebijakan-kebijakan, pelayanan-pelayanan, dan tindakan-tindakan yang paling sesuai bagi individu atau kelompok. agar individu atau kelompok itu memperoleh kepercayaan dan goodwill dari mereka. Kedua, pelaksanaan kebijaksanaan, pelayanan dan sikap adalah untuk menjamin adanya pengertian dan penghargaan yang sebaik-baiknya

• Karakteristik 4 model public relation

Dalam humas, terdapat model yang menetukan sebuah pesan yang akan disampaikan kepada public. Ada empat model humas yang asli antaralain adalah Model Agen Pemberitaan, Model Informasi Publik, Model Asimetris Dua Arah, dan Model Simetris dua Arah. (Lattimore, Baskin, dkk. 2010, h. 63) Tiga model pertama mereflesikan sebuah praktik Public Relations yang berusaha mencapai tujuan organisasi melalui persusasi. Kemudian model keempat berfokus pada usaha menyeimbangkan kepentingan pribadi dengan kepentingan publik atau kelompok lainnya.

1. agen pemberitaan (press agentry)
2. informasi publik
3. model asimetris dua arah
4. model simetris dua arah

a) Agen Pemberitaan (Press Agentry), merupakan model dimana informasi bergerak satu arah dari organisasi menuju publik. Model ini bermakna sama dengan promosi dan publisitas. Praktisi Public Relations yang mempraktikkan model ini mencari kesempatan agar citra positif organisasi muncul di media. Model ini tidak banyak melakukan riset tentang publik.

Didalam pelaksanaannya, model ini melakukan taktik propaganda seperti penggunaan nama selebriti dan perangkat yang bisa memancing perhatian orang. Sehingga khalayak lebih tertarik dengan informasi-informasi yang diberikan oleh organisasi bersangkutan.

b) Informasi Publik, berbeda dengan Agen Pemberitaan karena tujuan utamanya adalah untuk memberi tahu publik dan bukan untuk promosi dan publisitas. Namun, alur komunikasinya masih tetap satu arah. Sekarang model ini mewakili praktik Public Relations di pemerintahan, lembaga pendidikan, organisasi nirlaba, dan bahkan beberapa korporasi. Pada model ini. Praktisi Public Relations sedikit melakukan riset terhadap publik guna untuk mendapat kejelasan dari informasi yang disampaikan.

c) Model Asimetris Dua Arah, model ini menerapkan metode riset Ilmu Sosial untuk meningkatkan efektivitas pengaruh pesan yang disampaikan. Praktisi Public Relations dengan model ini menggunakan survei, dan wawancara untuk mengukur serta menilai publik sehingga mereka bisa merancang program Public Relations yang bisa memperoleh dukungan dari publik.

d) Model Simetris Dua Arah, menggambarkan sebuah pedoman Public Relations di mana organisasi dan publik saling menyesuaikan diri. Fokus pada penggunaan metode riset Ilmu Sosial untuk memperoleh rasa saling pengertian serta komunikasi dua arah antara publik dan organisasi ketimbang persuasi satu arah.

Daftar pustaka
Lattimore, D., Baskin O., Heiman, S. T., Toth, E. L., (2010). Public relation:profesi dan Praktik. Jakarta: Salemba Humanika

Hello world!

March 17th, 2015

Selamat datang di Student Blogs. Ini adalah posting pertamaku!