Sensasi Mancing Mania di Tengah Teluk Naga Tangerang

2018
11.21

Tangerang – Laut Jawa saat itu berlangit teduh dengan tiupan angin berudara lembab. Kami memancing di tengah laut perairan Teluk Naga, Tangerang. Seru!

Hembusan anginnya terasa menyegarkan ubun kepala yang panas setelah menempuh sejam jam perjalanan dari Kota Tangerang. Siang itu, air lautnya tenang dengan sedikit gelombang.Sesekali kerang-kerang di dasar perairan Teluk Naga, nampak oleh mata telanjang ketika menjauh dari pantai. Ombak yang bersahabat, membuat perjalanan dengan perahu nelayan dari Pantai Tanjung Kait, Kabupaten Tangerang, tak banyak menemui kendala. Hanya asap dari mesin perahu tempel yang mengenai wajah, yang membuat perjalanan sedikit kurang nyaman.

Akhir pekan lalu, detikTravel mencoba mengikuti rombongan pemancing yang memang biasa mengail ikan di perairan Kepulauan Seribu setiap akhir pekan. Setelah sekitar sejam perjalanan menjauh dari bibir pantai, Anto, sang kapten perahu, mengarahkan kemudi perahunya ke arah deretan bambu yang tegak menjorok di tengah laut.

Oleh para nelayan, deretan bambu yang dibangun di tengah laut tersebut disebut Bagan. Bentuk bagan terdiri dari bambu yang ditancapkan di dasar laut dengan luas serupa setengah lapangan badminton.

Sensasi Mancing Mania di Tengah Teluk Naga TangerangFoto: (Muhammad Idris/detikTravel)

Di tengahnya terdapat gubuk mirip gubuk bambu yang kerap ditemui di tengah areal persawahan. Rumah beratap terpal ini untuk digunakan para pemancing sebagai tempat berteduh, istirahat, dan menyimpan perbekalan selama memancing.

Ada ratusan bagan yang dibangun nelayan di teluk yang terletak tepat di sebelah barat Teluk Jakarta ini. Jenisnya pun beragam, dan berbeda dengan bagan yang biasa di bangun nelayan Sulawesi yang dipakai untuk menangkap ikan teri, bagan-bagan terapung di Teluk Naga tersebut memang sengaja dibangun nelayan setempat hanya untuk disewakan untuk para pemancing.

Bagi para pemancing yang ingin menikmati sensasi luar biasa memancing di tengah lautan, tak perlu khawatir merogok kocek dalam-dalam. Setiap orang hanya dikenai biaya Rp 60.000 untuk memancing di atas bagan terapung sampai sepuasnya.

Ongkos tersebut sudah termasuk biaya antar pulang pergi dengan perahu dari dermaga. Para pemancing ini biasanya menginap di bagan saat malam hari dan baru pulang keesokan harinya. Menurut para pemancing, justru saat tengah malam dan subuh hari, menjadi waktu paling tepat memancing ikan laut.

Harga tersebut tergolong sangat murah untuk bisa memancing ikan seharian di tengah laut, dengan pemandangan lautan biru dan sebaran Kepulauan Seribu yang mempesona. Lelahnya perjalanan pun dijamin akan terbayar bila sudah menginjakan kaki di atas rumah bambu tersebut. Dari bagan Pulau Laki, pemancing bisa melihat dengan jelas Pulau Laki dengan sangat jelas, serta hamparan gugusan gosong di sekitar bagan.

Bagi yang terbiasa naik pesawat dari Bandara Soekarno Hatta, pasti tak asing dengan pemandangan di bambu-bambu yang berjejer rapi yang tersebar dari Tangerang hingga Teluk Jakarta. Selain bagan pemancing, ratusan bagan lain digunakan untuk mengumpulkan kerang.

Tak ada yang tahu jumlah pasti bagan yang dibangun nelayan di kawasan tersebut. Di utara Tanjung Kait sendiri, ada ratusan bagan yang dibangun dan tersebar dari mulai satu mil dari pinggir pantai, hingga bagan yang terjauh di laut yang lebih dalam dengan harga sewa yang lebih mahal.

(Muhammad Idris/detikTravel)(Muhammad Idris/detikTravel)

Memancing di tengah laut pun tentunya jauh berbeda dengan memancing di darat atau pinggir pantai. Letaknya yang berada di laut dalam memungkinkan pemancing bisa memancing ikan laut dengan ukuran yang jauh lebih besar dan banyak. Jenis ikanya pun sangat banyak di laut dalam dengan air yang masih jernih dan kedalaman air sekitar 6 hingga 10 meter.

Sensasi memancing di tengah laut tentunya sangat berbeda dibandingkan memancing di daratan seperti di empang kolam pemancingan, pinggir pantai, sungai, dan lokasi mancing lainya. Ini lantaran memancing di laut bebas lebih tak hanya menantang dan jauh lebih menarik, berbagai kemampuan dan teknik tinggi memancing yang hanya bisa dilakukan di tengah laut.

Mancing di tengah laut Teluk Naga bisa menjadi alternatif bagus untuk menikmati liburan akhir pekan yang pendek. Sembari melatih kesabaran, memancing di tengah Laut Jawa bisa menjadi cara efektif menyegarkan pikiran, dan menghilangkan penat sejenak dari kesibukan pekerjaan. Bila tertarik, pastikan membawa peralatan pemancingan serta kebutuhan hidup untuk memancing seharian penuh di laut.

Tak jarang pula, banyak pemancing yang sengaja membawa peralatan lengkap untuk memasak di tengah laut. Memasak ikan langsung dari hasil tangkapan memancing sendiri jadi sensasi tersendiri dibanding membeli ikan dari pasar.

Bosan dengan aktivitas memancing, pemancing bisa melakukan berenang, atau bahkan snorkeling di bawah bagan. Lantaran letaknya yang jauh dari pantai, membuat airnya relatif masih cukup jernih, meski tetap saja sulit melihat dasar laut lantaran kedalamannya lebih dari 5 meter.

Cara pergi ke sana:

Teluk Naga adalah satu destinasi bagi pemancing yang memiliki banyak bagan nelayan. Jaraknya pun tak jauh dari Jakarta. Hanya sekitar setengah jam perjalanan dari Kalideres, Jakarta Barat.

Cara pergi ke Teluk Naga sangat dianjurkan untuk menggunakan kendaraan roda dua, ini karena pantai Tanjung Kait cukup jauh dari jalan raya dekat Pasar Teluk Naga. Jalan ke pantai pun sekarang terbilang sangat mulus dengan jalanan berlapis beton.

Bingung memarkir kendaraan saat ditinggal seharian memancing? Warung-warung di sekitar pantai, selain menjual umpan ikan serta peralatan pancing, juga menyediakan penitipan kendaraan motor di dalam warungnya. Lagi-lagi Anda tak perlu khawatir membayar mahal, untuk penitipan motor selama sehari penuh hanya dikenakan biaya Rp 5.000, dan mobil Rp 20.000. (idr/msl)