Rss

Kanza Si Gadis Berkuda

coverkanza

Judul: Kanza Si Gadis Berkuda

Penulis: Saiman Ian Mahesa

Penerbit: Studia Press

Jumlah Halaman: iv + 76

Terbit Perdana: Februari 2002

Kepemilikan: Cetakan Pertama, Februari 2002

cooltext1660180343

Nama saya yang sebenarnya, Saiman. Nama tambahan Ian Mahesa. Kalau dipanjangin jadi Saiman Ian Mahesa. Nah, kalau untuk tulisan fiksi saya sering memakai nama komplit, tapi tak jarang Cuma tertulis Ian Mahesa saja atau Saiman saja. Kata orang tua sih, saya lahir di Purbalingga, Jawa Tengah, tanggal 3 Agustus 1966. Dalam catatan buku harian, ternyata saya hobi nulis sejak mulai bisa membaca.

Mulanya nulis bahan-bahan belanjaan, kalau disuruh ke pasr oleh Ibu. Terus nulis puisi untuk dibaca sendiri. Tulisan lain, bertebaran pada Majalah Dinding Sekolah. Pokoknya, kalau perlu seluruh majalah dinding berisi tulisan saya saja…soalnya yang lain pada nggak mau ngisi. Lantaran nulis di mading memang nggak ada honornya… sejak SMA sudah menulis di HAI, untuk liputan kegiatan sekolah. Tahun 1990-1997 bekerja sebagai Wartawan Majalah HumOr.

Selain jadi wartawan, saya juga getol nulis naskah komedi, terutama untuk acara Bagito Show di RCTI. Kemudian juga bikin naskah untuk NGELABA Patrio di TPI. Cerpen dan cerbung saya sudah tak terhitung. Tersebar diberbagai majalah remaja, antara lain; Anita Cemerlang, Warta Pramuka, Kawanku. Nah, kalau menulis untuk anak-anak, saya baru mulai tahun 1998, untuk BOBO, INA, dan ORBIT. Khusus di ORBIT saya membuat cerita bersambung “KANZA SI GADIS BERKUDA.” Yang sekarang bukunya sedang kalian baca ini. O-ya, sebelumnya saya sudah membuat 3 novel remaja (serial IGO) yang diterbitkan oleh ELEXMEDIA KOMPUTINDO. Sekarang saya bekerja di Indosiar Visual Mandiri (INDOSIAR), bagian Scriptwriter Drama. Yang terpenting, ini adalah untuk pertama kalinya saya mengikuti. Semoga…

cooltext1660176395

Apa jadinya sebuah cerita bersambung (cerbung) dalam sebuah majalah anak-anak diangkat menjadi novel? Hal inilah yang dialami cerbung hasil karya Saiman Ian Mahesa. Kanza Si Gadis Berkuda sesungguhnya merupakan cerita bersambung mingguan di majalah ORBIT. Kemudian suatu hari cerbung tersebut menjadi satu kesatuan yang utuh dan menjadi buku.

Kisah bermula dari sebuah arena pacuan kuda mini (yang entah berada dimana), dimana sedang berlangsung turnamen pacuan lima ekor kuda. Kuda pertama hingga keempat telah melaju kencang meninggalkan kuda kelima yang melenggang santai. Joki sang kuda ini tentu saja kesal bukan main ketika tertinggal satu putaran. Namun entah kenapa, tiba-tiba kuda bernama Jaranda ini bisa melesat dan mendahului kuda yang lain sehingga menjadi juara pertama.

Tubuh Jaranda melesat bagai anak panah yang diluncurkan dari busurnya. Begitu cepat. Sampai sang joki menjerit-jerit. (hal. 4)

Ternyata hal ini karena kendali remote control seseorang bernama Profesor Tantan. Ia telah mengubah Jaranda dari kuda pacuan biasa menjadi kuda super. Namun hal ini membuat sang penjahat kelas kakap bernama Jack Boban berusaha membeli Jaranda meskipun Profesor Tantan tak menyetujuinya.

Karena terdesak, Jaranda kabur melarikan diri hingga sapai di kaki Gunung Gede, Jawa Barat. Ketiga anak buah Jack yang mengejarnya pun semakin bernafsu menangkap kuda itu. Namun naas, pertolongan gadis bernama Kanza membuat ketiganya lari tunggang-langgang. Bersama kedua orang tuanya, Kanza mencoba merawat kuda itu alih-alih menyerahkan kepada ketiga penjahat tadi.

“Kenapa kaki belakang kuda itu keras sekali. Tidak ada unsur daging di dalamnya. Lalu kenapa pula ada jahitan di luarnya….” (hal. 47)

Ternyata tak dinyana, ketiga penjahat (yang bernama Junoro, Dulpon, dan Ludri) datang kembali bermaksud mengambil Jaranda. Tentu saja terjadi pertarungan sengit ketiga penjahat melawan Jaranda dan Kanza dibantu sang ayah, Pak Rusli Amin. Bagaimanakah nasib Jaranda selanjutnya? Apa rahasia yang ia sembunyikan? Apa pula keuntungan bagi Kanza?

Pada dasarnya, ide yang diangkat dalam buku ini cukup menarik. Tentang kuda super yang bisa menjuarai pacuan kuda dengan mudah. Daya tarik humor paling menonjol adalah dialog antara Junoro, Dulpon, dan Ludri yang kocak. Selain kedua hal tersebut, saya bisa katakan tidak ada yang membekas di benak.

Di sampul belakang, saya sama sekali tidak bisa menemukan inti cerita. Malah profil penulis yang dituliskan. Di awal cerita, saya sungguh bingung dimanakah lokasi pacuan kuda. Karena kemudian tiba-tiba Jaranda berlari hingga kaki Gunung Gede. Tidak ada penjelasan diawal.

Lantas, sebagai cerita untuk anak-anak, banyak sekali hal yang tidak patut di buku ini. Misalnya adalah umpatan dan makian Jack Boban yang bertebaran serta kekerasan yang disajikan ketika bertarung. Entah kenapa, saya juga sangat terganggu dengan penyebutan bapak Kanza, bernama Pak Rusli Amin. Kenapa penyebutan nama beliau harus diulang-ulang dengan “Pak Rusli Amin”?? Apakah tidak cukup dengan “Pak Rusli” saja. Kemudian pemberian nama tokoh yang tidak tepat. Saya rasa joki yang sempat berdialog lebih pantas diberi nama (daripada disebut joki satu, dua, tiga, dst) dibanding nama peternak kuda yang muncul sedetik dalam cerita saja tidak.

Berbagai kata tidak baku juga menghiasi buku ini. Membuat saya jengah membacanya. Misalnya “ngejoprak” dan “semaput”. Saya pikir kata tersebut belum diserap dalam KBBI. Sebenarnya alur cerita mengalir lancar. Tapi saking lancarnya jadi kayak arus deras. Berbagai hal terasa sekilas, bahkan tidak dijelaskan asal-usulnya.

Akhir yang terburu-buru dan menggantung (dan sangat ajaib) adalah kekurangan fatal cerita ini menurut saya. Sebaiknya bisa diselesaikan secara realistis dan masuk akal. Oh iya by the way, *SPOILER* kalau hanya kaki Jaranda yang dikendalikan, bagaimana mungkin organ tubuh yang lain juga ikut menuruti perintah? Ah saya tak mengerti maksud penulis buku ini bagaimana.

Penilaian Akhir:

goodreads-badge-add-plus