Rss

Indonesia X-Files

coverindonesiax

Judul: Indonesia X-Files

Sub Judul: Mengungkap Fakta dari Kematian Bung Karno Sampai Kematian Munir

Penulis: dr. Abdul Mun’im Idries, Sp.F

Penerbit: Noura Books

Jumlah Halaman: xxiii + 334

Terbit Perdana: Juni 2013

Kepemilikan: Cetakan Kesembilan, Juli 2014

ISBN: 9786027816602

cooltext1660180343

“Kamu gila. Ngelawan arus. Pulang tinggal nama entar.” Begitu yang terlontar dari kolega dr. Abdul Mun’im Idries, ketika akhir 1993, dokter forensik ini berani menjadi saksi ahli kasus pembunuhan Marsinah. Kala itu, santer diyakini pejuang buruh ini dihabisi oknum militer—ketika militer paling ditakuti dengan penculikan senyapnya. Tapi berani-beraninya Mun’im mengusik tentara.

Lalu, apa yang dihadapi Mun’im dan fakta apa yang ia temukan ketika harus terjun pada detik-detik mencekam Tragedi Trisakti dan Tragedi Semanggi? Bagaimana analisis forensiknya terkait pembunuhan Munir, Tragedi Tanjung Priuk, Tragedi Beutong Ateuh, dan sebagainya?

Mun’im dalam buku ini membongkar arsip, membeberkan fakta-fakta mengejutkan, mengungkap sejumlah nama tabu, di samping berbagi kisah dan cara ilmiah (kedokteran) forensik dalam membongkar kriminalitas dan kejahatan di negeri ini.

“Buku ini merupakan rekaman dokter Mun’im Idries sebagai rekaman ‘voice of the voiceless’ – rekaman suara dari yang tidak lagi bersuara.” – Prof. Dr. O.C. Kaligis, S.H., M. H.

Februari: Buku Profesi

cooltext1660176395

Penegakan keadilan dalam kehidupan bermasyarakat memang mutlak diperlukan. Perbuatan baik dan buruk yang membaur jadi satu harus dipisahkan ketika perbuatan buruk tersebut sudah mengganggu kenyamanan bahkan merenggut korban jiwa. Selain polisi yang sudah seharusnya mengurusi hukum dan turunannya, ada sebuah profesi yang tak kalah penting: bagian forensik.

Bagi para penggemar kisah-kisah detektif, misteri, dan kriminal sepertinya sudah agak mengenal tentang profesi inni. Namun lika-liku dan sepak terjangnya dalam pencarian kebenaran suatu kasus yang telah terjadi, sepertinya belum banyak diketahui orang awam. Oleh karena itu, dr. Abdul Mun’im Idries sebagai seorang dokter spesialis forensik ingin berbagi kisah dan pengalamannya dalam buku ini.

Buku Indonesia X-Files terdiri atas enam bab yang berbeda-beda. Masing-masing terdiri dari beberapa sub bab yang berkaitan dengan judul bab. Saya beri cuplikan satu-satu ya. Bab pertama adalah Menyibak Fakta-Fakta Tersembunyi. Sesuai sub judul buku ini, ada sebelas kasus populer Indonesia sepanjang sejarah (yang masih belum tuntas pengerjaannya hingga kini) yang coba diungkap penulis melalui kacamata seorang ahli forensik.

Kasus yang cukup menarik perhatian saya adalah mengenai kematian sang proklamator Indonesia. Saya sih bukan penggemar dunia sejarah, tetapi saya juga sedikit mengetahui tentang misteri kematian presiden pertama Indonesia ini yang bisa dikatakan mendadak dan tiba-tiba. Ada berbagai versi mengenai kematian Bung Karno yang dikebumikan di kota kelahiran saya ini.

Bung Karno, selain tidak mendapat perawatan medis yang memadai untuk penyakit ginjal dan jantung, ditambah dengan kurangnya atensi serta dihilangkannya eksistensi beliau selama menjalani masa tahanan rumah, tak perlu diragukan merupakan keadaan yang bermuara pada kematian. (Hal. 45)

Selain itu, kasus yang tak kalah misteriusnya adalah kematian seorang aktivis HAM di Indonesia, Munir Said Thalib. Siapa sih yang belum pernah mendengar nama beliau ini? Berbagai gerakan mengenai hak asasi manusia sering dilakukan di bumi Indonesia. Meskipun beliau juga satu almamater kampus dengan saya, kematiannya masih diliput misteri hingga saat ini. Bahkan penyelesaian kasusnya juga masih jalan di tempat.

Saat pertemuan pertama tim untuk pertama kalinya, saya melihat pertemuan itu tidak serius menangani kasus Munir. (Hal. 87)

Bab kedua berjudul Kasus-Kasus Kedokteran Forensik, Serangkaian Kisah Membongkar Kejahatan. Setelah mengungkap beberapa fakta dari kasus-kasus populer, penulis mencoba mengajak pembaca berkenalan dengan dunia forensik. Mulai dari autopsi, bedah mayat, hingga perkiraan waktu kejadian dan sebab kematian. Ternyata saya baru tahu beberapa prosedur sebelum dilakukan bedah mayat.

Bedah mayat forensik diperlukan guna membantu tegaknya keadilan dan kebenaran di antara umat manusia. (Hal. 107)

Selain itu, ada bagian menarik lain yaitu mengenai isu tentang malapraktik. Cukup menarik sih mengingat kasus malapraktik sempat terjadi beberapa kali di Indonesia. Itupun yang muncul ke permukaan dan diulas media massa, bagaimana dengan malapraktik yang adem ayem tanpa tersorot kamera?

Perlu diketahui bahwa untuk mengetahui apakah seorang dokter telah melakukan penyimpangan atau tidak, tergantung dari pelbagai faktor, di antaranya kondisi dan fasilitas setempat serta standarisasi pendidikan yang diperoleh dari perguruan tinggi di mana dokter tersebut mendapatkan keahlian. (Hal. 149)

Lanjut ke bab ketiga berjudul Mengungkap Kejahatan Narkoba. Sudah jelas yah dari judulnya, penulis memaparkan berbagai hal yang bisa diungkap dari kematian seorang pengguna narkotika. Seperti yang sudah diketahui, Indonesia masuk dalam zona darurat narkoba. Penyalahgunaan zat terlarang itu memang sangat meresahkan.

Sebenarnya yang membuat narkoba wajib diberantas adalah efek perbuatan dan kondisi yang dilakukan oleh penggunanya. Namun selain narkoba, ada lagi sebuah bahan lain yang hampir sama dampaknya dengan narkoba. Apa itu? Minuman keras. Pasti ingat dong dengan berita miras oplosan yang menewaskan beberapa orang. Nah kedua zat berbahaya ini dipaparkan penulis dalam konteks forensik.

Melihat dampak negatif dari minuman keras dan mudah serta murahnya harga minuman keras bila dibandingkan dengan morfin, heroin, ganja, atau ekstasi, sebenarnya minuman yang mengandung alkohol haruslah lebih diwaspadai. (Hal. 175)

Setelah itu, saya diajak menyelami bab keempat berjudul Membongkar Kekerasan Seksual dan Kejahatan terhadap Anak. Pasti ingat juga dong dengan berbagai kasus kekerasan seksual terhadap anak yang heboh beberapa saat yang lalu. Anak-anak memang masih polos dan belum mengerti tentang hal “dewasa” seperti hubungan seksual.

Selain bercerita tentang pedofilia, penulis juga menulis tentang kasus bayi tertukar, aborsi, hingga pembunuhan bayi yang dilakukan oleh ibu kandungnya sendiri. Dua kasus terakhir cukup membuat saya terhenyak sih. Karena disadari atau tidak, menghilangkan nyawa bayi atau janin yang tidak bersalah sungguh perbuatan yang tidak pantas.

Suatu kenyataan hidup yang ironis: kaum wanita yang biasanya digambarkan sebagai makhluk yang lembut, halus perasaannya, ternyata juga potensial sebagai pelaku pembunuhan. (Hal. 238)

Bab kelima adalah Kedokteran Forensik Sebagai “Pisau” Ilmiah bercerita tentang sekelumit penafsiran yang bisa ditarik setelah dokter ahli forensik melakukan pemeriksaan dari korban tindak kejahatan. Ada yang tentang hasil visum, kematian mendadak, hingga identifikasi korban. Membaca bagian ini, saya baru tahu bahwa sangat panjang proses penarikan kesimpulan dari sebab kematian. Belum lagi penyidikan dan pengusutan kasus yang panjang pula. Mungkin ini alasannya berbagai kasus bisa sangat lama penyelesaiannya.

Fokus dari kriminologi pada saat ini agaknya memang hanya terbatas pada si pelaku/tersangka pelaku kejahatan, bukan kepada efek atau akibat yang ditimbulkan oleh kejahatan itu sendiri. (Hal. 278)

Akhirnya buku ini ditutup dengan bab terakhir berjudul Pembunuhan Sadis, Amukan Massa, dan Kematian Tokoh. Bab ini sebenarnya agak-agak mirip dengan bab satu sih, tetapi kasus yang diangkat tidak sepopuler di bab satu. Kasus yang cukup mencengangkan bagi saya di bab ini adalah kasus mutilasi mayat menjadi 13 bagian.

Si pembunuh tak hanya memotong-motong jasad korban secara sistematis, sempat pula menyayat dan mengupas seluruh daging dari tulang korbannya! (Hal. 300)

Awalnya, saya menganggap buku ini selayaknya buku-buku yang beredar di pasaran tentang pengungkapan fakta-fakta kasus populer di Indonesia. Namun yang membuat saya tertarik membacanya setelah lama ditimbun adalah penulisnya yang berprofesi sebagai dokter spesialis forensik. Penggunaan kacamata yang berbeda saat memandang kasus membuat buku ini spesial.

Saya menyukai buku fiksi dengan genre detektif-detektifan. Nah, kalau di buku seperti itu sebuah kasus selesai ketika sang detektif menyebut si A adalah pelaku. Ya sudah, the end, gitu doang. Tetapi sesungguhnya dibalik detektif yang menyebut pelaku itu, ada berbagai macam tahapan yang perlu dilakukan, khususnya pada bagian forensik.

Jujur, saya hanya sedikit mengetahui berbagai kasus yang disuguhkan di buku ini, baik kasus yang menjadi topik utama sub bab maupun kasus yang menjadi printilan alias sekilas info semata. Selain kasus tersebut terjadi pada tahun-tahun lampau (kebanyakan pada era orde baru), kekurang pedulian saya dengan dunia kriminal di masa lalu juga membuat saya cupu tentang kasus-kasus ini.

Belum lagi berbagai nama tokoh-tokoh terkemuka Indonesia yang lagi-lagi saya kurang mengenal karena mereka-mereka “biasa” nampang bukan di panggung jagat hiburan tanah air. Sebenarnya kalau saya tahu rupa tokoh yang disebutkan, mungkin saya bisa lebih bisa membayangkan tentang kasus yang diceritakan. Tapi yah, itu kan kelemahan dari sisi pembacanya ya hehehe.

Kalau kelemahan dari buku ini sendiri, saya sangat menyayangkan tentang pemaparan penulis. Setelah menutup buku ini, saya jadi agak bingung tentang definisi “mengungkap” fakta. Banyak bagian-bagian yang penulis mengakhirinya dengan ngegantung alias tidak selesai. Saya jadi geregetan dan terlontar “Lho, gini doang? Terus itu gimana jadinya?” berkali-kali. Ibarat kata lagi haus, tapi cuma disuguhi gambar jus jeruk doang, jadinya nanggung gitu. Di dalam buku ini penulis juga sering menggunakan kata “pelbagai” di berbagai kalimat. Saya tahu sih artinya apaan, namun saya kurang terbiasa saja saat membacanya.

Selain itu, berbagai istilah dari dunia kriminal, forensik, dan medis bercampur aduk jadi satu. Penulis mungkin terlalu semangat memaparkan konteks, namun melupakan definisi istilah asing bagi orang awam macam saya ini. Ada cukup banyak istilah yang penulis berikan penjelasan secukupnya, tetapi tidak sedikit pula berbagai istilah yang dibiarkan begitu saja sampai-sampai saya jadi males googling untuk tahu artinya saking banyaknya istilah itu.

Terlepas dari perlunya glosarium atau catatan kaki tentang istilah kurang populer, buku ini isinya bagus kok. Dunia forensik yang awalnya saya ketahui hanya periksa sana periksa sini di TKP, ternyata mengandung beragam kegiatan yang tidak mudah. Berbagai kasus yang diceritakan juga menambah wawasan bagi pembaca yang sebelumnya kurang mengetahui. Siapa tahu setelah membaca buku ini, pembaca bisa menyelami lebih lanjut tentang dunia forensik demi penegakan hukum yang lebih baik. Semoga.

Penilaian Akhir:

★★★

goodreads-badge-add-plus