Rss

Lost in Bali 2

coverbmlost2

Judul: Lost in Bali 2

Kartunis: Benny Rachmadi & Muhammad Misrad

Penerbit: Kepustakaan Populer Gramedia

Jumlah Halaman: iv + 108

Terbit Perdana: Juli 2009

Kepemilikan: Cetakan Pertama, Juli 2009

ISBN: 9789799101969

cooltext-blurb

Benny & Mice semakin ‘tersesat’ di Pulau Dewata! Kali ini mereka bertualang ke dasar samudra, menyusuri pedalaman Ubud, hingga terjebak di kerumunan para penyuka sesama jenis… Wah… gawat!

cooltext-review

Setelah sukses mengeluarkan buku pertama, kali ini duo kartunis Benny & Mice menerbitkan sekuel Lost in Bali, yang diberi judul Lost in Bali 2. Jika buku pertama berisi awal mula perjalanan hingga beberapa tempat wisata yang mereka singgahi, buku kedua ini berisi lanjutan pengalaman mereka di Bali hingga kembali ke Jakarta

Nama orang Bali sedikit sekali…. Hanya ‘berkutat’ di nama-nama ini saja: Wayan, Putu, Made, Nyoman, Ketut!! (Halaman 7)

A Night at Seminyak adalah tempat pertama yang mungkin secara tidak sengaja mereka singgahi. Namanya juga orang Jakarta, tentu sudah tidak asing dengan dunia malam alias café. Oleh karena itu, Benny & Mice menyambangi salah satu café yang apesnya, adalah café yang biasa dikunjungi pria homoseksual. Bahkan pertunjukan di panggung juga biasa diperuntukkan pria gay.

Gimana kalo ada temen atau saudara yang ngeliat kita disitu? Bisa salah paham! (Halaman 37)

Pulau Penyu adalah destinasi wisata berikutnya yang disambangi duo kartunis ini. Menyeberang melewati Tanjung Benoa, Benny & Mice penasaran akan panorama dan keunikan pulau ini. Seperti namanya, penyu segala ukuran ada disana menyambut mereka berdua. Eits, Benny sempat menyinggung tayangan salah satu stasiun televisi swasta loh di bagian ini.

Emang isinya penyu semua? Nggak ada orangnya yaaaa? (Halaman 40)

Hard Rock Hotel Bali sebenarnya bukan tempat wisata khas Bali. Namun Hard Rock Hotel yang terkenal juga membuat hotel di cabang Bali ini menjadi persinggahan para turis. Tentu saja untuk foto-foto di depan papan surfing sebagai trademark hotel kelas atas ini. Tidak lupa Benny & Mice menyelipkan banyolan khas mereka tentang papan surfing ini.

Biasanya… yang suka foto-fotoan di lokasi ini, malah bukan tamu yang menginap di hotal yang berkelas ini… kasihan… (Halaman 62)

Ubud adalah destinasi selanjutnya karena Benny & Mice ingin mencoba suasana yang berbeda setelah terjebak hiruk pikuk Denpasar. Melipir ke Ubud adalah jawabannya. Setelah salah paham tentang istilah “Home Stay”, Benny & Mice menghadapi kondisi penginapan yang minim. Akhirnya mereka berdua klayapan di Ubud malam-malam.

Mungkin… di Ubud standarnya begini kali yaa? Turis pengennya tenang… (Halaman 70)

Goa Gajah menjadi destinasi terakhir yang menurut saya agak maksa dan kurang jelas asal-usulnya mereka “nyasar” ke tempat ini. Pokoknya di tempat ini Benny & Mice merasa sebagai turis yang tidak berbahagia karena mendapatkan sial hahahaha.

Kalau goanya sekecil ini…. Gajahnya masuk lewat mana yaaa?! (Halaman 93)

Hal yang berbeda dari Lost in Bali adalah adanya stempel khusus yang bertuliskan Recommended ataupun Not Recommended ala Benny & Mice kepada pembaca, untuk setiap tempat wisata ataupun pengalaman baru yang mereka dapatkan di sana. Saya tidak menghitung pasti, namun jumlah yang recommended masih lebih banyak daripada not recommended.

Kata orang, Bali tempat yang berkesan dan meninggalkan banyak kenangan, sepertinya kami sepakat…. (Halaman 105)

Hal yang cukup menggembirakan adalah buku ini mengandung 48 halaman full color dengan kertas glossy. Sebenarnya ada bonus poster juga, namun anehnya saya tidak menemukan poster itu. Padahal saya membeli masih tersegel rapi lho. Secara umum saya melihat cerita di tiap lokasi wisata pada buku ini cukup panjang. Imbasnya destinasi ataupun pengalaman baru yang disuguhkan tidak sebanyak Lost in Bali.

Berbicara tentang judl, saya kok merasa kurang tepat ya. Benny & Mice tidak lost beneran dalam arti hilang ataupun nyasar, tetapi malah sial dalam arti mendapati kondisi yang unik dan menguras emosi hehehe. But anyway, wahana baru Sea Walker, Camel Safari, dan juga menikmati musik jazz di salah satu café di Bali sepertinya sangat menarik untuk dicoba sendiri.

Penilaian Akhir:


goodreads badge add plus

Lost in Bali

coverbmlost1

Judul: Lost in Bali

Kartunis: Benny Rachmadi & Muhammad Misrad

Penerbit: Kepustakaan Populer Gramedia

Jumlah Halaman: iv + 108

Terbit Perdana: Desember 2008

Kepemilikan: Cetakan Pertama, Desember 2008

ISBN: 9789799101471

cooltext-blurb

Benny & Mice keluar dari “sarangnya”, Jakarta. Mereka melancong ke Bali. Hasilnya: Benny & Mice Lost in Bali. Bersiaplah ketawa membaca kisah mereka.

Buku ini adalah awal dari seri petualangan ala Benny & Mice. Nantikan kisah mereka yang lain.

cooltext-review

Duo kartunis beken se-Indonesia mengeluarkan buku komik baru. Kali ini berbeda dengan buku terbitan sebelumnya yang muatannya cenderung “berat” karena bertema politik, negara, dan berbagai problematika, kali ini buku yang berjudul Lost in Bali mengisahkan saat-saat mereka berdua plesiran ke Pulau Dewata. Meskipun demikian, sindiran halus namun menohok tetap dituangkan Benny dan Mice pada beberapa gambar.

Sesungguhnya saya tidak bisa membedakan bagian-bagian dalam buku ini berdasarkan apa. Bahkan daftar isi pun tidak ada. Oleh karena itu, saya mengupas berdasarkan tempat wisata yang disinggahi Benny & Mice saja ya. Yang pertama adalah Pantai Kuta. Pantai yang sudah terkenal seantero nusantara bahkan hingga mancanegara ini mereka gambarkan dengan kocak. Mulai dari pantai, jalanan, hingga kondisi di Kuta.

‘Pemandangan’ yang biasanya bisa dilihat di majalah pria dewasa, dapat disaksikan secara live di sepanjang jalan Legian-Kuta… (Halaman 28)

Pura Ulun Danu di Bedugul adalah destinasi kedua. Deskripsi yang menggugah minat untuk segera pergi ke sana membuat saya kagum. Meskipun begitu, saya tetap ngakak ketika Mice yang menikmati panorama indah Bedugul digambarkan layaknya adegan fenomenal sepanjang masa dari film musikal Sound of Music.

Alam pegunungan… Hamparan rumput hijau… dihiasi bunga-bunga… Danau yang tenang… dan kabut tipis… wonderfuuull… (Halaman 57)

Alas Kedaton yang memiliki banyak monyet sebagai penghuninya ini juga tidak luput dikunjungi oleh Benny & Mice. Saya suka bagaimana Benny & Mice menyelipkan sejumput tips ketika mengunjungi tempat ini. Selain itu, mitos atau kepercayaan yang ada di tempat tersebut membuat saya menjadi menerka benar ataukah hanya akal untuk menarik wisatawan?

Wah! Bagus ‘tuh mas! Kalau dinaikin sama monyet disini… akan dapat rejeki!! (Halaman 65)

Pasar Sukawati merupakan surga bagi turis yang ingin membeli oleh-oleh ataupun kenang-kenangan khas Bali. Selain harganya yang sangat murah (jika pandai menawar), barang-barang yang dijual pun juga beraneka macam. Nah tentang hal menawar ini, Benny memberikan sebuah tips yang bisa diterapkan Mice saat berbelanja. Sayangnya, Mice terlalu lebay dalam melaksanakannya. Akibatnya?

Ingat! Lu kalo nawar harus rendah! Harus kejam! Makin murah makin baik…. (Halaman 73)

GWK (Garuda Wisnu Kencana) adalah destinasi berikutnya. Proyek pembangunan patung terbesar se-Asia Tenggara ini tidak main-main. Patung kepala dan badan Dewa Wisnu yang telah selesai dibuat terlebih dahulu menjadi daya tarik wisatawan. Namun karena ukurannya sangat besar, Benny & Mice memberikan tips jitu jika ingin berfoto disana.

Anda berjiwa narsis? Jangan coba-coba moto bareng patung dewa Wisnu ini!! (Halaman 79)

Tempat wisata berikutnya adalah Uluwatu. Bagi yang belum mengerti, Uluwatu ini adalah (lagi-lagi) pura yang berdiri kokoh di puncak bukit karang yang menjulang di atas permukaan laut lepas. Belum juga memasuki kawasan pura, Benny & Mice harus menghadapi hardikan petugas loket yang tidak ramah.

Ini pura suci! Kalo mau masuk harus berpakaian yang sopan!! ‘Ndak boleh pakai celana pendek!! (Halaman 83)

Jimbaran adalah tempat penutup pada buku ini yang dikunjungi oleh Benny & Mice. Seperti yang kita ketahui, Jimbaran adalah tempat yang umumnya adalah tempat makan dan penginapan yang berada di tepi pantai. Karena penasaran, Benny & Mice juga mengunjungi sebuah resto seafood di tepi pantai itu. Namun sayang, harga yang mencekik dompet membuat mereka membatalkan niat makan di sana.

Biarin bule-bule hujan emas di negeri orang…. Yang penting kita nggak merasa hujan batu di negeri sendiri… (Halaman 105)

Satu kendala yang saya alami ketika membaca buku ini adalah tidak adanya batas yang membagi isi buku ini menjadi berapa bagian. Saya mengambil fokus tempat wisata yang dikunjungi karena setiap tempat ditulis dengan font besar dan tebal. Namun sesungguhnya buku ini isinya sangat acak, dalam artian Benny & Mice menuangkan apapun yang mereka temui.

Hal-hal itu misalnya profesi orang-orang di Pantai Kuta, tips dan trik saat mengunjungi Alas Kedaton, potret para wisatawan di Bali, bahkan sesajen yang lumrah bertebaran di setiap sudut kota. Selain itu, ada pula kuliner yang Benny & Mice suguhkan yaitu pisang leget dan nasi jinggo. Penempatannya pun asal saja tidak pakem ada dimana.

Oh iya, ada wahana yang saya baru tahu ada di Bali yaitu Flying Fish dan Sling Shot. Padahal selama ini wahana non-pura atau non-alam adalah banana boat (iya, saya cupu banget). Satu-satunya kekurangan buku ini adalah kurang halaman. Hahaha lha ya gimana, wong gambar Benny & Mice ini besar-besar. Tulisannya juga besar. Akibatnya saya tidak lama membaca buku ini sampai habis. Yah semoga ada kelanjutannya hehehe.

Penilaian Akhir:


goodreads badge add plus

Lagak Jakarta Edisi Koleksi (Jilid 2)

coverbmlagak2

Judul: Lagak Jakarta Edisi Koleksi (Jilid 2)

Kartunis: Benny Rachmadi & Muhammad Misrad

Penerbit: Kepustakaan Populer Gramedia

Jumlah Halaman: x + 284

Terbit Perdana: September 2007

Kepemilikan: Cetakan Keempat, Mei 2008

ISBN: 9789799100844

cooltext-blurb

Jakarta adalah potret kehidupan yang penuh warna. Di sana tersimpan mimpi-mimpi, ambisi, dan harapan. Di sana terukir kisah-kisah kegetiran dan kebahagiaan anak manusia, yang terkadang penuh ironi, satire, aneh, dan menggelikan. Lewat Lagak Jakarta Benny dan Mice melaporkan semua itu dengan cerdas, sebagai sociological report.

Lagak Jakarta Edisi Koleksi Jilid 2 berisi tiga buku dengan tema “Krisis… Oh… Krisis”, “Reformasi”, dan “(Huru-Hara) Hura-Hura Pemilu ‘99”. Ketiganya pernah diterbitkan oleh KPG, dan sekarang diterbitkan kembali untuk menyambut satu dekade seri Lagak Jakarta (1997-2007). Meski demikian, banyak peristiwa dan kehidupan yang direkam oleh Benny dan Mice tetap aktual sampai sekarang.

 

“Kalau hidup kita sedikit bertambah cerah, itu pasti karena sumbangan Benny dan Mice, sepasang “pakar sosiologi kota honoris causa”, yang menangkap inti sari kehidupan manusia Jakarta.” – Wimar Witoelar

cooltext-review

Lagak Jakarta masih berlanjut pada jilid kedua edisi koleksi. Sama seperti jilid pertama, edisi jilid dua ini juga terdiri atas kumpulan tiga tema yang digabung jadi satau. Tema pertama adalah Krisis… Oh… Krisis yang merupakan hasil karya Benny & Mice. Seperti yang pernah kita ketahui bersama, Indonesia pernah mengalami krisis pada akhir tahun 90-an hingga awal 2000-an. Keadaan yang biasa disebut krismon atau krisis moneter ini menyita perhatian banyak pihak, khususnya masyarakat kalangan menengah ke bawah.

Walaupun “sejernih akal sehat”, tapi harganya nggak bisa diterima akal sehat. (Halaman 31)

Berbagai komoditas rumah tangga yang mengalami krisis dan kenaikan harga mengakibatkan timbulnya gerakan mahasiswa menuntut adanya sebuah perubahan pada pemerintah. Hal ini tertuang pada tema kedua yaitu Reformasi. Pada gambar hasil karya Benny & Mice ini, terlihat bagaimana kondisi kerusuhan tahun 1998 di Jakarta. Massa tumpah ruah, penjarahan dimana-mana, kerusakan dan juga tindak anarkis terus berlangsung. Mereka menuntut adanya perubahan hidup yang lebih baik melalui perubahan pemerintahan.

Bandung lautan api..?? Itu sih, duluuu… Pada 14 Mei 1998 giliran Jakarta yang jadi “Lautan api”!!! Uuuuh…. TEGANG! MENCEKAM!!! AJAIB!! SERU!! ‘LUCU’!! HeBoh, Booo..!! (Halaman 113)

Dampak dari aksi yang mendebarkan semua pihak, khususnya warga Jakarta, akhirnya keluarlah satu momen yaitu pemilihan umum untuk memilih presiden baru. Mereka menganggap, dengana danya presiden yang baru, kehidupan mereka akan terbebas dari krisi dan menjadi lebih baik. Benny & Mice menggambarkan kondisi saat itu mulai dari persiapan hingga pelaksanaan pada tema ketiga yaitu (Huru-Hara) Hura-Hura Pemilu ’99. Baru kali itu juga pemilu diikuti oleh 48 partai politik yang masing-masing mengusung calon presiden.

Harga kebutuhan pokok makin melejit…, lapangan kerja makin langka… Apa boleh buat… Hati nurani dijual juga!! (Halaman 224)

Sebagai penutup, ada segelintir komik yang diberi judul The Editor. Seperinya komik ini melanjutkan komik The Making of Lagak Jakarta pada jilid satu. Kali ini Benny dan Mice masih bergelantungan di pohon. Tiba-tiba ada editor dari penerbit KPG yang ingin mereka berdua membuat seri Lagak Jakarta lagi. bukannya setuju, Benny dan Mice justru menginggalkan sang editor berceloteh sendiri di malam hari.

…Dalam bayanganku, buku ini akan menjadi… bla… bla… bla… Wah… pasti laku ini!!… (Halaman 281)

Akhirnya, setelah jilid pertama Benny dan Mice berdiri sendiri-sendiri dengan membawa satu tema, kali ini tiga tema yang disuguhkan di buku ini dibawakan oleh duo Benny dan Mice sekaligus. Hal ini membuat setiap goresan gambar membawa dua nyawa kartunisnya. Saya juga bingung dengan pembagian kerja mereka berdua dalam menggambar. Namun yang jelas kolabrasi mereka menghasilkan gambar yang lucu, menohok, sekaligus membawa pelajaran.

Yang membuat saya bahagia juga bukan hanya karikatur satu halaman berdiri sendiri, namun kadang ada beberapa gambar yang masih berkaitan dengan sebelumnya. Terasa seperti komik namun tidak terlalu terstruktur. Meskipun tema yang diusung pada buku kedua ini adalah tema cukup berat yaitu politik dan urusan negara, saya masih bisa menikmatinya kok.

Satu hal yang membuat saya rada kecewa dengan buku kedua ini adalah saya baru menyadari bahwa karakter Benny dan Mice di dalam buku sangat berbeda dengan yang ada di cover. Padahal saya lebih suka versi cover-nya. Kemudian blurb yang tidak kreatif di bagian belakang terasa sedikit mengecewakan. Harusnya blurb disesuaikan dengan isi buku, bukan hanya mencontek blurp jilid pertama dan mengganti satu kalimat saja.

Oh iya, saya sebenarnya kecewa dengan komik penutup buku ini yang terasa sangat nggak penting. Apa ya, terasa garing dan terlalu dipaksa agar lucu. Yah saya memahami sih mungkin komik sepintas ini adalah karya baru, tidak seperti karikatur sebelum-sebelumnya yang memotret kondisi ibukota. Namun seharusnya bisa lebih greget dalam hal sense of humor yang dibawakan. Bahkan kalaupun tidak ada komik bagian ini, menurut saya lebih bagus. Sekian.

Penilaian Akhir:


goodreads badge add plus

Lagak Jakarta Edisi Koleksi (Jilid 1)

coverbmlagak1

Judul: Lagak Jakarta Edisi Koleksi (Jilid 1)

Kartunis: Benny Rachmadi & Muhammad Misrad

Penerbit: Kepustakaan Populer Gramedia

Jumlah Halaman: x + 306

Terbit Perdana: September 2007

Kepemilikan: Cetakan Keempat, Mei 2008

ISBN: 9789799100832

cooltext-blurb

Jakarta adalah potret kehidupan yang penuh warna. Di sana tersimpan mimpi-mimpi, ambisi, dan harapan. Di sana terukir kisah-kisah kegetiran dan kebahagiaan anak manusia, yang terkadang penuh ironi, satire, aneh, dan menggelikan. Lewat Lagak Jakarta Benny dan Mice melaporkan semua itu dengan cerdas, sebagai sociological report.

Lagak Jakarta Edisi Koleksi Jilid 1 berisi tiga buku dengan tema “Trend dan Perilaku”, “Transportasi”, dan “Profesi”. Ketiganya pernah diterbitkan oleh KPG, dan sekarang diterbitkan kembali untuk menyambut satu dekade seri Lagak Jakarta (1997-2007). Meski demikian, banyak peristiwa dan kehidupan yang direkam oleh Benny dan Mice tetap aktual sampai sekarang.

 

“Kalau hidup kita sedikit bertambah cerah, itu pasti karena sumbangan Benny dan Mice, sepasang “pakar sosiologi kota honoris causa”, yang menangkap inti sari kehidupan manusia Jakarta.” – Wimar Witoelar

cooltext-review

Berbicara tentang Jakarta seakan tidak pernah ada habisnya. Ibukota negara kepulauan bernama Indonesia ini bagaikan sebuah daerah yang dihuni oleh manusia dari beragam suku, etnis, agama, kepercayaan, dan latar belakang. Tidak dapat dipungkiri pula bahwa apa yang terjadi di Jakarta bisa menjadi panutan daerah lain, terlepas dari hal itu baik atau buruk. Samai-sampai Jakarta adalah sebuah daerah yang menjadi tolok ukur kesuksesan. Duo kartunis Benny Rachmadi dan Muhammad Misrad atau yang kerap disapa Benny dan Mice memotret fenomena di Jakarta dalam serial lagak Jakarta.

Trend dan Perilaku yang merupakan hasil karya Mice menjadi pembuka dalam buku Lagak Jakarta Edisi Koleksi Jilid 1 ini. Trend merupakan hal yang sedang digemari dalam kurun waktu tertentu, dipadukan dengan perilaku yang mendukung, misalnya handphone, shopping diskon, ATM, mode atau fashion, ecstasy, dan putauw. Putauw menjadi favorit saya karena Mice sukses menggambarkan bagaimana dampak barang haram ini dengan apa adanya.

Bila sudah terjerumus ke dunia ‘serbuk putih’ ini… Tak ada lagi yang berguna di dunia ini!! Cuma PUTAUW!! PUTAUW!! PUTAUW!! (Halaman 85)

Transportasi merupakan buah karya Benny yang memberikan gambaran mengenai bermagai moda transportasi di ibukota. Mulai dari metromini, bajaj, bis kota, patas AC, ojek, bemo, dan lain sebagainya. Bemo adalah salah satu favorit saya pada bagian ini karena bentuknya yang unik dan perlu “perjuangan” agar penumpang bisa turun di tempat tujuannya.

Bemo adalah kendaraan yang sukar digolongkan ke jenis apa. Konon benda ini adalah hasil kawin silang antara mobil dan bajaj… (Halaman 123)

Profesi adalah bagian selanjutnya. Gambar tangan seorang Benny kali ini menyuguhkan berbagai profesi yang lumrah dilakoni para penduduk Jakarta. Bukan profesi macam pengusaha, anggota dewan, bahkan presiden, namun justru profesi menengah ke bawah mulai dari salesman, tukang setrika, penjual asongan, debt collector, ilustrator, hingga tukang ketik skripsi. Saya suka bagaimana Benny menggambarkan seorang debt collector atau biasa disebut tukang tagih utang ini dengan empat tipe sesuai cara menagih. Lucu banget hahaha.

Bekerja sebagai Tukang Tagih banyak dilakukan oleh mantan atlet beladiri dan orang-orang yang punya cukup “jam terbang” di “dunia hitam”…. (Halaman 289)

Sebagai penutup jilid pertama ada bab khusus berjudul The Making of Lagak Jakarta yang mengisahkan awal mula Benny dan Mice direkrut oleh penerbit KPG untuk menggambar kehidupan masyarakat di Jakarta. Saya sejuta persen yakin bahwa gambar pada bagian ini hanyalah akal Benny dan Mice yang terlalu lebay. Tapi amsih lucu juga sih hehe. Semua bermula ketika Benny dan Mice bergelantungan di pohon untuk mengamati kondisi Jakarta. Lanjutannya? Bersambung ke jilid dua yaa.

… Apa?! Bikin buku tentang Jakarta!!?? Cihuuuuuyy…. …Asyiiiik… hasil pengamatan kita enggak sia-sia!!! (Halaman 300)

Secara umum, hasil karya Benny Rachmadi yang mendominasi buku Lagak Jakarta Edisi Koleksi jilid pertama ini. Mice hanya menyumbang pada tema “Trend dan Perilaku” sedangkan tema “Transportasi” dan “Profesi” digambar oleh Benny. Hal ini mau tidak mau membuat saya membandingkan gaya gambar yang mereka hasilkan. Gambaran Mice menurut saya lebih soft dan apa adanya dibandingkan milik Benny. Saya merasa seolah gambar Mice ini memang dibuat untuk lucu, meski sebenarnya juga ada pesan tertentu yang disampaikan.

Sedangkan gambar hasil tangan Benny menurut saya lebih detil dengan garis lebih tegas dibandingkan milik Mice. Hal ini membuat saya merasa gambar Benny dibuat untuk menyampaikan sesuatu dengan cara yang lebih “jleb” namun sensasi lucunya masih bisa dirasakan. Yang jelas keduanya memiliki persamaan: sama-sama menghibur. Saya bukan orang Jakarta, namun inti buku ini tidak hanya monopoli orang Jakarta yang bisa memahami. Tunggu review jilid kedua ya..

Buku ini saya baca dalam rangka Posting Bareng BBI untuk bulan Maret 2016. Anggota yang berpartisipasi bisa menuliskan kesan-kesan selama membaca buku tertentu melalui cuitan di twitter dengan hashtag #BBILagiBaca. Sebenarnya cuitan-cuitan tersebut harus dicantumkan di postingan ini, namun karena screencap cukup banyak dan terlalu tidak efisien apabila saya masukkan di sini, maka rekap cuitan saya tentang buku ini bisa disimak di link chirpstory ini yah. Sampai jumpa lagi pada PosBar berikutnya…

Penilaian Akhir:


goodreads badge add plus

Karut-Marut Ekonomi

coverbmpresiden2

Judul: Karut-Marut Ekonomi

Seri: Dari Presiden ke Presiden #2

Kartunis: Benny Rachmadi

Penerbit: Kepustakaan Populer Gramedia

Jumlah Halaman: x + 267

Terbit Perdana: September 2009

Kepemilikan: Cetakan Pertama, September 2009

ISBN: 9789799102065

cooltext-blurb

Sepanjang 1998-2009 berjibun peristiwa sosial-politik-ekonomi sampai bencana yang mewarnai Tanah-Air. Benny Rachmadi–dari duo Benny & Mice–merekam peristiwa-peristiwa yang penting dalam bentuk kartun opini untuk Mingguan & Harian Kontan.

Setelah kartun-kartun itu–yang jumlahnya mencapai 700-an–dipilih-pilih dan disusun sebagai “cerita”, hasilnya adalah Dari Presiden ke Presiden. Buku jilid dua ini merekam karut-marut ekonomi Indonesia. Jilid pertama merekam tingkah-polah elite politik kita.

cooltext-review

Buku kumpulan kartun atau karikatur hasil karya Benny Rachmadi berlanjut ke buku kedua. Kali ini meskipun masih berasal dari Harian dan Mingguan Kontan sejak tahun 1998 hingga 2008, pembagian bab untuk buku kedua ini tidak lagi menggunakan periode presiden, malinkan berdasarkan isu besar yang sedang terjadi pada empat presiden setelah orde baru yang meliputi Habibie, Gus Dur, Megawati, dan SBY.

Yang Terjepit dan Yang Tetap Bergaya adalah bab pertama yang mengusung tentang kesenjangan sosial. Dari berbagai karikatur yang dikemas pada bab ini, saya suka pada karikatur mengenai operasi pasar, khususnya pada komoditas beras. Karikatur yang mengambil judul Operasi Pasar yang Banyak Kendala dan diterbitkan pada Mingguan Kontan tanggal 26 Februari 2007 ini menggambarkan beras dalam karung yang dioperasi di ruang bedah dokter. Kala itu sepertinya memang sedang ramai mengenai situasi beras dalam negeri yang mengkhawatirkan.

Operasi kita kayaknya gagal nih.. Penyakitnya sudah komplikasi!! Ada joki, spekulan, calo, ada yang beli berulang kali. (Halaman 78)

Susahnya Mencari Kerja adalah bab kedua. Bab ini menyoroti masyarakat Indonesia yang kesulitan memperoleh pekerjaan. Ketersediaan lapangan kerja tidak dapat memenuhi jumlah tenaga siap kerja yang semakin bertambah dari tahun ke tahun. Oleh karena itu, persaingan mendapatkan pekerjaan menjadi sangat tinggi. Kartun yang “menonjok” para pekerja dan “mengerti” para penganggur muncul pada karikatur berjudul Beda Pekerja dan Penganggur yang terbit pada Harian Kontan tanggal 16 Mei 2007. Kartun ini menggambarkan dua orang, yang satu seorang pekerja yang bersemangat karena hendak liburan, dan satu lagi seorang penganggur yang iri dengan si pekerja. Sampai-sampai ia memberikan komentar jleb.

Ironis ya… Lu udah kerja doyan libur… Gua nganggur pengen kerja kagak dapet-dapet! (Halaman 112)

Susahnya Mencari Uang Pendapatan Negara merupakan bab ketiga yang mengambil fokus tentang pendapatan negara. Seperti yang kita ketahui, negara juga harus memiliki pendapatan untuk digunakan berbagai keperluan, salah satunya pembangunan dalam negeri. Saya kurang mengerti tentang situasi pada masa itu, namun sepertinya pada karikatur berjudul Surat Utang Buat Menambah APBN mengindikasikan bahwa APBN sedang dalam tahap yang cukup mengkhawatirkan. Kartun yang terbit pada Harian Kontan tanggal 12 Januari 2008 ini menyuguhkan potret pemerintah yang menjual surat utang kepada masyarakat untuk meningkatkan jumlah APBN. Sampai-sampai ada tambahan bonus sebesar 7% untuk merangsang rakyat membeli surat tersebut.

Ladies and gentlemen, beli dong…. Buat nambah-nambah, dapat bonus 7% lho…. (Halaman 144)

Naiknya BBM dan Gas merupakan bab selanjutnya. Pada bab kali ini, yang disoroti adalah benda yang sangat dekat dalam kehidupan masyarakat, yaitu BBM dan gas elpiji. Dalam beberapa waktu, harga BBM cenderung terus meningkat mengikuti harga minyak dunia. Salah satu kartun yang menggambarkan situasi BBM dalam negeri itu ada yang sangat menyindir. Karikatur berjudul Ditengah Kesusahan Masih Ada yang Gemar “Bermain” yang terbit pada Mingguan Kontan di bulan Oktober 2007 ini menggambarkan adanya oknum yang memanfaatkan situasi BBM dalam negeri yang berharga tinggi. Oknum ini menyelundupkan BBM ke luar sehingga situasi per-BBM-an dalam negeri menjadi kacau.

Bagus ya… Aku babak belur karena harga minyak dunia naik, kamu malah selundupin ke luar! (Halaman 171)

Bab berikutnya adalah Jatuh-Bangun Rupiah dan Saham. Seperti yang kita ketahui, nilai tukar mata uang Indonesia, rupiah, cenderung fluktuatif dari hari ke hari. Terkadang naik, kadang bisa turun, bahkan bisa naik lagi. Sampai suatu ketika ada gerakan Cinta Rupiah untuk membuat nilai tukar rupiah menguat terhadap dollar. Membaca karikatur berjudul Cinta Rupiah Daripada Dollar ini membuat saya terngiang-ngian lagunya Cindy Cenora berjudul Aku Cinta Rupiah. Kartun yang terbit di Mingguan Kontan pada Minggu V Oktober 2008 ini menggambarkan rakyat yang mencintai rupiah daripada dollar. Saya suka banget pesan dari gambar ini.

Biar gimanapun aku akan selalu CINTA kamu! Dapetin aja susah, apalagi dollar… (Halaman 196)

Repotnya Mengurus Perbankan merupakan bagian keenam. Bab ini menyoroti bagaimana sulitnya pemerintah, dalam hal ini adalah Bank Indonesia, mengendalikan bank-bank swasta yang ada di Indonesia. Sampai-sampai ada karikatur yang menggambarkan kondisi Indonesia yang memudahkan investasi oleh pihak asing diluar Indonesia menjadi lebih mudah. Sayangnya, kartun berjudul Investasi Asing Dipermudah yang terbit pada Harian Kontan tanggal 26 September 2007 ini juga memberikan sebuah resiko yang akan dihadapi oleh bangsa Indonesia ketika menerapkan kemudahan bagi para investor asing.

Kalau sewaktu-waktu kuambil lagi? Kolaps deh lu… (Halaman 221)

Setelah bab sebelumnya menyuguhkan cara pemerintah mendapat tambahan APBN, kali ini bab berjudul Mencari Uang Lewat Pajak hampir mirip dengan itu. Berbeda dengan sebelumnya, kali ini pajak menjadi satu alternatif mendapatkan tambahan pendapatan negara. Setiap warga negara yang telah memiliki penghasilan diwajibkan mempunyai Nomor Pokok Wajib Pajak atau NPWP. Salah satu kartun berjudul Kewajiban Memiliki NPWP yang terbit pada Harian Kontan tanggal 27 Agustus 2008 ini mengingatkan pentingnya memiliki NPWP bagi warga negara yang telah berpenghasilan. Ingat slogan “Apa kata dunia??” pada iklan layanan masyarakat di televisi? Nah ini salah satu sosialisasinya.

Urus NPWP!!! Bayar pajak penghasilan kamu! Kalau enggak, kena denda 2x… (Halaman 233)

Bagian kedelapan adalah Menjaga Keamanan dan Kedaulatan Negara. Kalau berbicara tentang keamanan negara, hal yang langsung terlintas adalah polisi. Nah ada satu fenomena yang bisa dibilang mengkhawatirkan pada tahun 2007. Kartun yang mencoba menyuguhkannya berjudul Akibat Jumlah Personel Polisi yang Kurang. Kartun ini terbit pada Mingguan Kontan di Minggu II bulan November 2007. Adanya situasi kurangnya personel kepolisian membuat angka kejahatan menjadi semakin marak. Polisi yang notabene bertugas melindungi warga dari kejahatan, menjadi kurang efektif ketika jumlah polisi yang tidak memadai.

Waaah… Pak Polisi pada kemana nih… Lagi pada ngurusin jalanan macet kali ya…. Asyiiik!!! (Halaman 248)

Sehabis Pemilu  adalah bab penutup buku ini. Seperti biasa, pemilu identik dengan kampanye. Terlebih jika pemilu ini adalah pemilihan presiden, maka kampanye yang terjadi juga dimulai ibukota hingga desa pelosok di Indonesia. Pemilu yang disebutkan pada karikatur berjudul Tim Sukses Capres Banyak yang Tidak Membayar Kaos Pesanan yang terbit di Harian Kontan pada tanggal 11 Juli 2009 ini mengacu pada pemilu presiden untuk periode 2009 hingga 2014. Sungguh ironis yang digambarkan pada kartun ini. Tim sukses calon presiden yang notabene harus totalitas dalam menarik dukungan masyarakat, kok ya bisa-bisanya tidak melunasi pembayaran kaos yang digunakan sebagai salah satu alat kampanye. Kalau sudah begini, maka konveksi yang menjadi tender kampanye harus terkena imbasnya. Kalau sudah begini, siapa yang salah?

Bangkrut aku… “Pesta” nya udah usai, tagihan kaos belum pada lunas!!! (Halaman 262)

Satu hal yang membuat saya mengernyitkan dahi adalah ketika membaca judul buku ini. Karut-marut. Emang ada ya? Setahu saya kok carut marut, yang biasa digunakan? Ah mungkin saya memang terlewat memahami kata yang benar. Dan tentu saya tidak bisa menyalahkan judul buku yang jelas terpampang, karena bisa dipastika 99% benar, bukan? Jadi judul ini saya rasa pas untuk menggambarkan isi buku. Hanya saja, kok saya merasa tidak hanya ekonomi yang tertuang didalamnya, melainkan ada juga bidang sosial juga meskipun tidak banyak.

Buku kedua dari seri Dari Presiden ke Presiden ini membagi bagian sesuai tema, bukan pemerintahan presiden. Hal ini menjadi mudah saya pahami karena isinya jadi lebih fokus. Kalau dipisahkan sesuai presiden, situasi yang diangkat menjadi kurang fokus karena tercampur aduk jadi satu. Kalau bisa saya mengira-ngira, mungkin sekitar 97% berita negatif yang disuguhkan di buku ini. Namun saya jadi mengerti bahwa maksud kartun ini adalah menunjukkan bagimana situasi di Indonesia yang sebanrya tidak bagus. Meski terkadang lebay dalam penggambarannya, tapi maksudnya benar adanya.

Oh iya saya menyayangkan tidak ada halaman berwarna yang sama seperti buku pertama. Buku kedua ini isinya full hitam-putih, kecuali cover dan bagian belakang buku. Agak kurang hidup sih sebenarnya. Namun adanya sejumput komik yang memiliki tokoh penjual gado-gado dan pekerja kantoran di bagian awal dan akhir buku membuat saya puas membacanya hingga halaman terakhir. Good job, Benny Rachmadi!

Penilaian Akhir:


goodreads badge add plus

Tingkah-Polah Elite Politik

coverbmpresiden1

Judul: Tingkah-Polah Elite Politik

Seri: Dari Presiden ke Presiden #1

Kartunis: Benny Rachmadi

Penerbit: Kepustakaan Populer Gramedia

Jumlah Halaman: x + 333

Terbit Perdana: Juni 2009

Kepemilikan: Cetakan Kedua, Juli 2009

ISBN: 9789799101907

cooltext-blurb

Sepanjang 1998-2009 berjibun peristiwa sosial-politik-ekonomi dan bencana yang mewarnai Tanah-Air. Benny Rachmadi–dari duo Benny & Mice–merekam peristiwa-peristiwa yang penting dalam bentuk kartun opini untuk Mingguan & Harian Kontan.

Setelah kartun-kartun itu–yang jumlahnya mencapai 700 an–dipilih-pilih dan disusun sebagai “cerita”, hasilnya adalah buku ini. Dari Presiden ke Presiden: Tingkah Polah Elite Politik adalah buku pertama dari dua jilid. Buku kedua merekam tingkah-polah pemimpin kita dalam mengelola ekonomi Indonesia.

cooltext-review

Siapa yang tidak suka dengan kartun? Saya rasa, baik anak-anak ataupun dewasa menyukai gambar ilustrasi yang menghibur ini, meski berbeda dosis dan takarannya. Kartun pada dasarnya adalah sebuah media visual yang digunakan oleh pembuatnya (disebut kartunis) untuk menyampaikan sesuatu melalui gambar. Mulai dari hiburan, himbauan, ataupun hal yang lainnya. Benny Rachmadi adalah seorang kartunis yang biasa mengisi Mingguan & Harian Kontan. Isi kartun (atau boleh saya bilang sebagai karikatur) yang ia ciptakan ini cenderung mengambil fokus situasi yang sedang terjadi di Indonesia.

Buku ini memuat berbagai macam karikatur yang dibuat oleh tangan Benny selama sebelas tahun terakhir yang terhitung sejak buku ini diterbitkan hingga sebelas tahun kebelakang. Sengaja mengambil judul Dari Presiden ke Presiden karena pemimpin negeri ini adalah orang yang pasti berada dalam situasi yang terjadi di negeri ini, baik langsung ataupun tidak. Sehingga bisa segala kejadian dan kisah hidup yang ada di buku ini dibagi berdasarkan siapakah orag yang menduduki jabatan orang nomor satu di Indonesia pada waktu itu.

Dimulai pada bagian pertama yaitu Era Habibie (Mei 1998 – Oktober 1999). Karakter Pak Habibie digambarkan masih kecil karena diantara empat presiden di buku ini, beliaulah yang menjabat paling singkat sebagai presiden setelah serah terima jabatan dari Soeharto. Berbagai problematika juga terjadi pada masa pemerintahan Habibie. Mulai dari kasus korupsi Bank Bali, Sidang Istimewa MPR, kabinet yang kacau, jual beli suara pada Pemilu tahun 1999, dan tentu saja kerusuhan di Timor Timur.

Diantara buanyaknya kartun yang dtampilkan pada era pertama di buku ini, tentu saya langsung menengok pada karikatur berjudul Pengungsi TimTim Lari ke Bali yang dimuat pada Mingguan Kontan bulan September 1999. Sedikit banyak saya mengerti bagaimanakah nasib penduduk TimTim kala itu harus berjuang dari gempuran kesulitan pulau yang mereka huni. Meskipun tidak dijelaskan dengan rinci, saya bisa menangkap situasi negeri ini pada masa kanak-kanak saya itu seperti apa.

Apa?! City Tour? Sunset in Tanah Lot? Bungy jumping?? Kami inih ‘ngungsi’…. bukannya piknik!! (Halaman 27)

Meninggalkan bagian Pak Habibie, kali ini bagian kedua adalah Era Gus Dur (Oktober 1999 – Juli 2001). Sebagai presiden selanjutnya, masa pemerintahan Gus Dur tidak jauh lebih mulus dari masa pemerintahan Habibie. Gus Dur memiliki cukup banyak hal yang patut diperhatikan pada masa itu. Mulai dari permainan politik yang amat hebat, isu bumbu masak yang tidak halal, Papua yang ingin memerdekakan diri, hingga bongkar-pasang kabinet.

Jihad Pendukung Gus Dur adalah salah satu karikatur yang menarik minat saya. Karikatur yang diterbitkan di Mingguan Kontan tanggal 23 April 2001 ini memuat seseorang yang mendukung Gus Dur. Seperti artinya, jihad bisa diartikan secara bebas yaitu berani mati, yang bisa dikatakan seorang pendukung ini berani mati untuk mendukung Gus Dur. Yang menggelitik adalah seorang gambar anak kecil dengan pakaian lusuh berkata sinis.

Kalau saya sih…. Daripada berani mati mendingan berani idup… Mas!! (Halaman 121)

Bagian ketiga adalah Era Megawati (Juli 2001 – Oktober 2004). Satu-satunya presiden perempuan di buku ini juga tidak luput dengan segala macam persoalan sosial, politik, dan ekonomi selama menjabat sebagai kepala negara dan kepala pemerintahan. Sebut saja booming-nya penyanyi dangdut Inul Daratista dengan goyang ngebornya, pengangkatan Sutiyoso sebagai gubernur DKI Jakarta, dunia politik yang bagi-bagi kekuasaan, hingga permasalahan Tenaga Kerja Indonesia.

Kalau saya sangat ingat dan klau boleh dibilang sangat emosi pada karikatur berjudul Lepasnya Pulau Sipadan & Ligitan ke Tangan Malaysia yang dimuat pada Mingguan Kontan bulan Desember 2002. Seperti yang kita ketahui, kedua pulau tersebut sesungguhnya termasuk dalam wilayah Indonesia. Namun karena kurangnya perhatian pemerintah saat itu pada pulau-pulau ini, negara tetangga akhirnya mencaplok dengan sukses karena mengantongi landasan hukum yang kuat.

Elu siiih… Punya anak kagak diurusin!!! (Halaman 167)

Akhirnya bagian terakhir sebagai penutup adalah Era SBY (Oktober 2004 – Oktober 2009) yang memiliki masa jabatan benar-benar pas lima tahun, tidak seperti ketiga presiden sebelumnya yang kurang dari lima tahun. Masalah dan situasi pelik yang dihadapi Pak SBY memang tidak sama dengan ketiga presiden sebelumnya karena perbedaan iklim politik dan atmosfer negeri ini. Namun masalah yang muncul sesungguhnya juga tidak lebih enteng dibandingkan tiga periode pemerintahan yang sebelumnya. Mulai dari bencana tsunami di Propinsi Aceh, reshuffle kabinet, penerbitan KTP untuk etnis tionghoa (yang masih disebut Cina), ledakan lumpur lapindo di Sidoarjo, dan pembentukan lembaga Komisi Pemberantasan Korupsi.

Lagi-lagi satu buah karikatur pada bagian Pak SBY ini yang membuat darah saya mendidih adalah yang berjudul Anggota DPR Menikmati Berbagai Tunjangan. Seperti yang kita ketahui, tunjangan-tunjangan ini didapatkan anggota dewan perwakilan rakyat. Namun karikatur yang terbit pada Mingguan Kontan tanggal 31 Oktober 2005 ini menuliskan kata-kata yang sesungguhnya sangat tidak etis diucapkan anggota DPR. Namun saya harus mengakui bahwa memang begitulah realita yang ada.

Aku ‘kan wakil rakyat, jadi aku yang mewakili kalian menikmati kesejahteraan. (Halaman 212)

Secara umum, buku ini memberikan berbagai informasi tentang situasi Indonesia dari satu presiden ke presiden yang lain. Tiga presiden yang diungkapkan pertama sebenarnya saya tidak begitu memahami bagaimana sesungguhnya hal yang terjadi. Hal ini dikarenakan ada masa Pak Habibie contohnya, saya masih kecil berusia TK hingga kelas satu SD. Meskipun saya memaksa mengingat, namun saya tetap tidak bisa ingat situasinya, selain Pak Soeharto lengser dan digantikan oleh Pak Habibie. Selebihnya, saya manggut-manggut saja.

Begitu pula pada masa pemerintahan Gus Dur. Saya juga masih berusia sekolah dasar. Kalau waktu itu, yang saya ingat pada pemerintahan Pak Gus Dur adalah hari libur saat puasa Ramadhan benar-benar satu bulan plus Idul Fitri jadi bisa 45 hari. Puas banget pokoknya. Sedangkan situasi sosial-politik-ekonomi saat itu, saya rada ingat terkait karikatur yang disuguhkan, tetapi hanya samar-samar. Beruntung krtun di buku ini bisa memberikan pencerahan hehehe.

Kalau pemerintahan Ibu Mega sebenarnya ya sebelas dua belas dengan Gus Dur, alias saya juga nggak inget-inget banget. Masa itu kan saya masih anak-anak dan pra-remaja yang tidak pernah ambil pusing dengan kondisi Indonesia. Yang penting uang saku tetap terjaga dan nilai pelajaran di sekolah masih bagus, itu sudah cukup. Namun ternyata ada banyak segali kejadian yang ada di Indonesia kala itu yang saya lewatkan untuk memahaminya lebih jauh. Meskipun saya tidak mengetahuinya dengan pasti setidaknya kartun di buku ini bisa membantu meringankan kinerja otak saya mencerna kondisi yang ada hehe.

Terakhir pemerintahan Pak SBY adalah yang paling saya ingat dibandingkan tiga presiden sebelumnya. Mungkin karena ketika Pak SBY menjabat, saya sudah berusia sekolah menengah pertama dan atas, sehingga secara tidak langsung juga jadi melek situasi negeri ini. Apalagi pada saat saya SMA, guru pengajar Pendidikan Kewarganegaraan (PKn) selalu menyelipkan informasi terkait dunia pemerintahan yang sedang terjadi di akhir jam pelajaran beliau. Hal ini membuat saya lebih mudah related dengan karikatur era SBY.

Yang bisa saya tarik kesimpulan pada empat periode presiden di buku ini adalah: kapanpun waktunya, siapapun presidennya, pasti ada masalah yang terjadi terkait isu sosial-politik-ekonomi. Meskipun masalahnya juga berbeda-beda, hal ini yang menjadi tantangan bagi para presiden tersebut untuk mengatasinya. Kartun di buku ini menurut saya sukses memotret isu aktual kala itu dalam satu karya yang menghibur.

Banyak karikatur yang disajikan dalam buku ini mengusung majas personifikasi. Artinya me-manusia-kan benda mati (eh benar kan ya?). Contohnya kasus pulau SIpadan dan Ligitan dituangkan sebagai dua orang bayi. Tidak heran hal yang seperti itu membuat saya menjadi lebih cepat menangkap maksud dari sang kartunis. Oh iya, meskipun jumlah halaman buku ini ratusan, adanya halaman berwarna yang cukup banyak disela-sela halaman monokrom membuat pandangan menjadi segar. Memang sih warna yang digunakan tidak full block, namun gradasi yang diciptakan menjadi unik. Tidak sabar membaca buku keduanya. Tunggu resensinya ya!

Penilaian Akhir:


goodreads badge add plus

100 ‘Tokoh’ yang Mewarnai Jakarta

coverbm100

Judul: 100 ‘Tokoh’ yang Mewarnai Jakarta

Seri: Lagak Jakarta

Komikus: Benny Rachmadi & Muhammad Misrad

Penerbit: Kepustakaan Populer Gramedia

Jumlah Halaman: 160 halaman

Terbit Perdana: Januari 2008

Kepemilikan: Cetakan Kedua, April 2008

ISBN: 9789799100993

cooltext1660180343

KOMENTAR PARA PENGGEMAR SERI LAGAK JAKARTA:

Emang edan, to the point, bikin orang tertawa terpingkal2… nurutku ini salah satu karya anak bangsa yang lumayan orisinil, satrical, to the point, and realis…. cocok untuk dikoleksi dan dibaca berulang2… – www.klubsaham.com/index.fundamentalman

Sebenernya gw baca komik ini juga gara2 salah beli. Maksud gw mau beli yang bundel komik, yang kebeli malah Lagak Jakarta, habis pengarangnya sama. Tapi gw ternyata ga menyesal… tu komik bagus banget, dn bikin gw yang besar di (pinggiran) Jakarta agak2 tertohok! Baca deh… ga nyesel… dan rasakan bahwa kadang-kadang realitas lebih fiksi daripada cerita fiksi – www.friendster.com/review.php?action=all&uid=10331918

Benny Rachmadi dan Muhammad Misrad sangat luwes dan membumi dalam menggambarkan peristiwa sehari-hari Jakarta. Salah satu yang menarik buat gua adalah pada detail akurat dan penokohan yang kuat. …Hm, kebayang nggak sih, selama naik bajaj kita jelalatan dan mencatat semua pernak-perniknya? Belum lagi tokoh sopir bajaj ngeselin tapi lucu. – mpokb.blogdrive.com/archive/172.html

ISINYA MENGGUGAH, MENYAYAT SEKALIGUS KOCAK…. disain komiknya… 1.000% bagus… kertas covernya bagus, cover doublenya bagus banget… pilihan warna sangat kocak…. kerennn… buat gue kerennn deee kerennnnnnnnnnnnnnnnn… haheauheuhaeuhauehae. ENJOYYYYYY!!!! Dan jangan lupa dibeli yaaaaaaaa… biar kita makin cinte sama Jakarteeee kiteeeeee neeeeee. Wekekkwkekwekwkek. – momobilanku.multiply.com/photos/album/88/BENNY_MICE_LAGAK_JAKARTA

Nggak salah, ini emang buku wajib para komikus. …Kartunnya sendiri nggak humor-humor amat tapi cukup memotret keadaan sosial saat itu. – rinurbad.multiply.com/reviews/item/15

November – Buku yang Ada Unsur Angka

cooltext1660176395

Ada yang ngeh dengan penulisan judul buku ini yang menggunakan tanda kutip pada kata tokoh? Ternyata hal itu bukan tanpa alasan. Seringkali kita mendefinisikan “Tokoh” adalah orang-orang yang terkenal, berpengaruh dalam kehidupan, ataupun orang-orang yang membekas dalam benak masyarakat luas. Namun sepertinya Benny dan Mice enggan membuat sebuah karya dengan “tokoh” yang mainstream.

Lahirlah kumpulan karikatur dan sejumput komik berjudul 100 ‘Tokoh’ yang Mewarnai Jakarta ini. Bukan para artis ataupun sang pejabat terkemuka yang dimaksud komikus ini, melainkan para orang “biasa” yang sudah dikenal akrab oleh masyarakat Indonesia, khususnya di Jakarta.

Kita semua inilah ‘Tokoh-Tokoh’ yang mewarnai Jakarta! …he..he…he… (hal. 7)

Ada 100 orang manusia berbagai profesi dan latar belakang kehidupan masing-masing yang sempat digambarkan Benny dan Mice di buku ini. Karena terlalu banyak, jadi saya kemukakan segelintir saja ya yang cukup memorable. Salah satunya adalah tokoh “Mas-Mas Mudik” dengan deskripsi yang unik.

Rambut khas mas-mas. Jeans yang masih biru banget. Jacket supaya nggak masup angin di perjalanan. (hal. 20)

Btw, rambut khas mas-mas itu yang gimana sih? Saya biasa dipanggil “Mas” tapi kok rambut saya beda dengan karikatur si “Mas-Mas” itu. Jadi saya bukan “Mas-Mas” tulen dong? Ada lagi tokoh yang cukup bikin saya nyengir adalah deskripsi “Cewek Berjilbab 2”. Kenapa 2? Karena “Cewek Berjilbab 1” adalah potret sang muslimah sejati dengan pakaian yang memenuhi syariat Islam. Sedangkan yang kedua? Baca deh:

T-shirt lengan panjang tapi ketat! (lekuk tubuh masih terlihat jelas). Celana stretch!! (lekuk pinggul dan paha nyéplak banget!) (hal. 25)

Ada yang unik, ada juga yang bikin ngikik. Salah satu tokoh tersebut adalah “SPG Rokok”. Gile, ada aja nih prfesi yang dimasukin ke buku ini. Yah meskipun rokok itu tidak baik untuk kesehatan, tidak menghilangkan profesi SPG kok. Berikut cuplikannya:

Raut muka ‘menggoda’ iman dengan kata2 manis untuk mengajak melanggar peringatan pemerintah, bahwa: Merokok dapat menyebabkan kanker, serangan jantung, bla… bla… bla… (hal. 73)

Dipikir-pikir iya juga sih. Kalo promosi rokok masih merajalela, ya konsumennya tetep ada. Jadinya rokok nggak bisa hilang dengan mudah. Anyway, salah dua yang menjadi favorit saya adalah potret dua keluarga yang berbeda nasib. Nasib keluarga miskin dan kesusahan berdampingan dengan keluarga yang sangat berkecukupan di halaman sebelahnya. Keluarga pertama disebut “Keluarga Susah Makan”.

Seekor ikan kembung goreng buat lauk bersama. Sengaja makan sedikit, mengalah… supaya anak-anaknya dapat porsi lebih banyak (menunjuk gambar ibu). Sambil berpikir…. mencari uang untuk makan esok hari (menunjuk gambar bapak). (hal. 112)

Awalnya sih saya idak mengira potret kedua keluarga yang berbeda ini disandingkan bersama. Rasanya Benny dan Mice ingin menyadarkan pembaca bahwa ada berbagai macam kehidupan di dunia ini. Untuk keluarga kedua disebut “Keluarga Doyan Makan”.

Nasi goreng ikan asin porsi jumbo. Nasi sapi lada hitam. Ayam kuluyuk buat bersama. Kwetiau goreng sapi porsi kedua. Sup kepiting sebagai apetizer. (hal. 113)

Kedua halaman tersebut sempat membuat saya terhenyak dan langsung bersyukur kepada Allah SWT. Selain orang-orang Indonesia, ternyata Benny dan Mice tidak melupakan orang luar negeri yang malang melintang di Jakarta. Mereka turut ambil bagian menjadi “tokoh” yang digambarkan di buku ini. Antara lain “Bule Ransel”, “India Pasar Baru”, “Nigeria Kebon Kacang”, dan “Arab Atrium”.

Selain karikatur para “tokoh”, ada bonus 5 komik pendek di sela-sela halaman di buku ini. Tentunya komik itu menceritakan sepenggal kisah hidup para “tokoh” yang telah digambarkan sebelumnya. Saya suka seka dengan keduanya, baik karikatur maupun komiknya. Benny dan Mice seakan menuliskan apa yang ada di benak saya (atau kita semua?) ketika melihat “tokoh-tokoh” itu di dunia nyata.

Meskipun judulnya dituliskan 100 ‘Tokoh’ yang Mewarnai Jakarta, bukan berarti warga yang tidak berdomisili maupun yang tidak pernah ke Jakarta tidak bisa menikmatinya. Karena saya rasa, mayoritas para “tokoh” tersebut juga hidup di berbagai wilayah lain di Nusantara kok. Jadi siapapun pembacanya juga bisa relate dengan goresan gambar di buku ini.

Kekurangannya apa ya, mungkin penulisan kata-kata agak kurang rapi. Sepertinya karena semua gambar dan tulisannya hand made alias gambar manual terus di scan *CMIIW* jadi agak sedikit belepotan. Oh iya, kekurangan yang cukup fatal adalah: kurang tebal! Hahahaha. Saya sih pengennya 1000 tokoh yang mewarnai Indonesia. Biar puas bacanya hehehe.

Penilaian Akhir:

★★★★★

goodreads-badge-add-plus