Rss

Cerita Hati Uwie dan Mice

coveruwiemice

Judul: Cerita Hati Uwie dan Mice

Isi dan Gambar: Mice & Ustadz Wijayanto

Penerbit: Gramedia Widiasarana Indonesia

Jumlah Halaman: 128

Terbit Perdana: 13 Juni 2016

Kepemilikan: Cetakan Pertama, 13 Juni 2016

ISBN: 9786023755196

cooltext-blurb

“Komentar Ustadz Wijayanto di buku ini merupakan refleksi karakter Uwie yang kocak, menyentil, sedikit lebay, dan suka menggunakan analogi kehidupan sehari-hari dalam setiap dakwahnya. Di sisi lain, Mice melalui coretan tangannya sering kali memotret fenomena umum yang kerap luput dari perhatian kita, tapi bisa menjadi tolak ukur kondisi masyarakat masa kini.” – Bimo Setiawan, President Director Kompas TV

cooltext-review

Islam merupakan agama mayoritas di Indonesia. Literatur tentang agama ini juga tidak sedikit yang beredar di Tanah Air. Namun sepertinya buku kartun yang berisikan hal-hal positif ajaran agama Islam masih terbilang tidak banyak bertebaran. Hal ini disadari oleh Grasindo sehingga dirilislah sebuah karya yang menyuguhkan goresan tangan berbentuk kartun yang sarat akan pesan moral inspirasi islami.

Muhammad Misrad atau Mice sudah terkenal hasil karyanya sejak berduet dengan Benny Rachmadi melalui kartun yang bertajuk “Benny & Mice” bertahun-tahun silam. Rupanya setelah berpisah dengan Benny, Mice masih aktif dalam dunia kartun. Kali ini ia berkolaborasi dengan salah satu ustadz terkenal di Indonesia yaitu Ustadz Wijayanto atau kerap dikenal dengan sebutan Uwie.

Mengutip dari kata pengantar, buku Cerita Hati Uwie & Mice ini pada hakikatnya merupakan intisari ratusan episode Cerita Hati yang tayang setiap harinya dari Senin sampai Jumat pukul 10.00 WIB di Kompas TV. Buku ini adalah cuplikan dari salah satu segmen program Cerita Hati, ketika Mice mencurahkan kegelisahan hatinya yang dituangkan melalui komik dan kemudian dikomentari oleh Uwie.

Terdapat 32 judul atau headline yang terbagi dalam dalam tujuh bab berbeda di buku ini. Bab-bab tersebut memiliki tajuk yang meliputi Keluarga; Anak; Globalisasi; Harta, Takhta, Wanita; Etos Kerja; Zakat dan Rezeki; serta … dalam Islam. Semua bab tersebut tersaji dalam dua hingga sembilan bagian yang masih bermuara pada headline utamanya. Penasaran? Saya beri beberapa cuplikan yang saya anggap berkesan ya.

Bab pertama tentang keluarga yang memiliki lima bagian ini fokus pada dunia rumah tangga. Salah satu bagian yang berjudul Pernikahan: Penyatuan Hati Suami dan Istri, Uwie memberikan sebuah nasehat tentang pentingnya berperilaku untuk suami ataupun istri. Gaya tulisan dakwah Uwie ini diselingi humor sehingga tidak kaku dan bisa dicerna dengan mudah. Seperti kutipan berikut ini.

Sekarang, istri-istri lebih cenderung menyenangkan suami orang lain kala dipandang. Kalau keluar rumah, para hijabers memakai hijab 12 meter digulung-gulung. Kalau di rumah, mereka memakai daster bolong berpeniti 5. Jangan seperti itu! (Halaman 17)

Beda lagi dengan bab kedua tentang anak. Sesungguhnya bab ini masih berhubungan dengan bab sebelumnya. Hanya saja topik bahasan sudah menyinggung tentang sang buah hati. Hal ini terlihat pada bagian berjudul Mendidik Anak, Tanggung Jawab Siapa? Uwie menyentil para orang tua di luar sana yang sibuk bekerja namun tidak sempat memperhatikan anaknya. Padahal sudah tugas mereka untuk mendidik darah dagingnya sendiri.

Anak itu tanggung jawab orang tua, bukan pembantu, bukan guru. Sesibuk apapun orang tua, jangan sampai lupa pada pendidikan dan pengasuhan anak. (Halaman 31)

Bab tentang etos kerja adalah favorit saya meskipun hanya ada dua bagian. Bab ini Uwie bagai “menampar” orang-orang yang sibuk dengan masalah dunia dan melalaikan urusan akhirat. Padahal sudah bukan hal baru yang menyebutkan kehidupan di dunia hanyalah sementara, sedangkan kehidupan akhirat kekal selamanya. Tidak tanggung-tanggung, Uwie sampai membawa-bawa kematian pada bagian Bekerja Untuk Duniamu, Beribadah Untuk Akhiratmu.

Beribadahlah dengan pikiran mungkin ini adalah hari terakhir kita. Jangan tunda lagi besok-besok karena mungkin besok kita akan meninggal. (Halaman 77)

Pada dasarnya, buku ini hanya ingin memberikan sebuah inspirasi sekaligus mengingatkan pembaca bahwa kebaikan menurut agama Islam harus dilakukan dalam setiap aspek kehidupan. Mulai dari kehidupan diri sendiri, rumah tangga, hingga kehidupan bermasyarakat. Semua hal yang disampaikan di buku ini tidak ada yang salah. Topik yang bersinggungan langsung  dengan kehidupan umum membuat setiap kalimat mudah dimengerti.

Ketika membaca buku ini, saya merasa adem, dalam arti hati saya merasa tentram saat membaca untaian kalimat Uwie. Meskipun seharusnya saya bisa menyelesaikan buku ini dengan cepat, perlu waktu sekitar satu jam hingga akhir halaman karena saya memahami dan menyerap pelan-pelan kalimat Uwie. Sensasi bahagia juga ditambah tatkala melihat gambar kartun Mice di setiap bagian. Kartun tersebut menjadi sebuah hiburan sekaligus penjelas tulisan Uwie.

Satu kekurangan dari buku ini adalah terlalu tipis hehe. Ya benar, buku ini terasa terlalu cepat berakhir mengingat isinya yang bagus dan menghibur. Goresan gambar Mice membangkitkan nostalgia saya ketika menyimak kartun “Benny & Mice” dahulu, sedangkan tulisan Uwie yang mengajak dalam kebaikan terasa aura positifnya. Meskipun ada satu hal yang kurang pas menurut saya pada kalimat Uwie di bagian Keutamaan Norma dalam Islam berikut ini.

Nah! Bagi LGBT, susah untuk menempatkan toiletnya. Di toilet laki-laki, tidak diterima. Di toilet perempuan, tidak diterima. Jadi, mereka harus membuat toilet sendiri. (halaman 111)

Mungkin Uwie kurang tepat menafsirkan bahwa semua LGBT adalah kaum transgender. Padahal tidak semua lesbian, gay, dan biseksual mengubah jenis kelamin asli mereka. Jadi secara tampilan dan penggunaan toilet (menurut Uwie sebelumnya), mereka ini tidak perlu membuat toilet sendiri kok, sepengetahuan saya hehe.

Selain beberapa hal yang saya singgung di atas, masih banyak hal positif yang bisa dipetik dari buku ini. Mulai dari kesadaran mengeluarkan zakat, meminimalisir pemberian janji, ataupun rambu-rambu saat bertamu ke rumah orang lain. Akhir kata, buku ini layak dijadikan bacaan untuk orang yang ingin menikmati sisi relijius Islam dengan cara yang menyenangkan dan tidak membosankan.

Penilaian Akhir:


goodreads badge add plus

Sweet Winter

coversweetwi

Judul: Sweet Winter

Sub Judul: Saat Dingin Itu Menghangatkan Hati

Penulis: Kezia Evi Wiadji

Penerbit: Gramedia Widiasarana Indonesia

Jumlah Halaman: vi + 207 halaman

Terbit Perdana: Agustus 2014

Kepemilikan: Cetakan Pertama, Agustus 2014

ISBN: 9786022516514

cooltext1660180343

Matthew:

Aku berharap takdir yang mempertemukan kita di sini dapat memperbaiki kesalahanku.

Karin:

Oh Tuhan, kenapa kami harus bertemu, jika akhirnya harus kembali berpisah?!

Karin dan Matthew, dua sahabat yang saling mencintai. Tetapi takdir mempermainkan mereka layaknya dua layang-layang yang meliuk-liuk di langit. Akankah mereka bersatu, jika wedding song telah mengalun lembut dan salah satu dari mereka harus berjalan menuju altar untuk mengucapkan sumpah setianya?

Kisah Karin dan Matthew yang ceria seperti membawa langkah saya kembali pada masa remaja. Masa di mana semua terlihat demikian berkilau, saat kita menemukan cinta pertama (dan mungkin sejati). Evi berhasil membuat saya percaya, kadang tak perlu menoleh terlalu jauh untuk menemukan orang yang tepat, belahan hatimu. This kind of love could happen to anyone to us. :) – Rina Suryakusuma, Penulis Just Another Birthday dan Lullaby

Ah, saya iri sama Karin. Dia bisa bercerita so romantic di sini tentang apa yang dia rasa dan akhirnya menemukan cinta lamanya kembali dari orang di masa lalunya. Kalau ingin merasakan romantisme cerita cinta Karin di antara suasana negeri yang melahirkan banyak boy and girl band itu, baca deh novel ini sampai tuntas. Pasti kamu akan merasakan apa yang saya rasakan. – Anjar Anastasia, Penulis Renjana

cooltext1660176395

Manusia adalah makhluk sosial. Mereka membutuhkan orang lain untuk menjalani hidup. Berbagai karakter yang dimiliki manusia tentu menghadapkan manusia lain untuk bisa memiliki orang dengan karakter baik untuk menemani hari-harinya. Orang baik tersebut bisa berwujud sebagai sahabat karib yang selalu ada dalam duka dan bahagia. Bisa pula orang baik tersebut memiliki wujud sebagai tambatan hati yang menemani hari-hari hingga ajal memisahkan.

Hidup itu pilihan. Begitu pula yang dirasakan Karin, sang tokoh utama buku ini. Ia berhasil mendapatkan orang baik yang mengisi hidupnya. Bonusnya, orang tersebut menjadi kawan baik sekaligus pujaan hatinya. Hayoloh, sampai sini saja saya sudah sirik sama Karin. Kisah dibuka dengan prolog mengenai perjalanan Karin menuju Korea Selatan untuk berwisata. Kepribadiannya yang mandiri tidak membuatnya takut berkelana seorang diri. Disana tidak ada kerabat atau orang lain yang dikenalnya. Sehingga Karin benar-benar ingin bebas menikmati segala macam keindahan di negeri ginseng tersebut.

Saat keluar bandara, tiba-tiba ia dipanggil oleh seorang lelaki. Ternyata ia adalah Matthew. Tetangga, sahabat, sekaligus cinta pertamanya yang telah menghilang bertahun-tahun. Prolog ini kemudian langsung digantung begitu saja. Kemudian, pembaca dibawa ke bagian pertama yang flashback tiga belas tahun yang lalu. Saat itu, rumah disebelah tempat tinggal Karin ada penghuni baru. Tidak disangka, keluarga baru itu memiliki anak lelaki sebaya Karin. Jendela kamar rumah sebelah yang berhadapan dengan jendela kamar Karin membuat mereka berdua cepat akrab.

Tiba-tiba bayangan itu berubah, bukan lagi sosok Tessa dan Joni, tetapi dirinya dan Matthew!!! (Hal. 26)

Setiap hari Karin dan Matt (panggilan Matthew) menjalani hari-hari penuh suka cita. Berangkat dan pulang sekolah bareng naik sepeda, belajar setiap malam, main layangan, saling mengucapkan good night sebelum tidur, dan beragam kegiatan lainnya. Hingga saat kelas 3 SMP, Karin merasakan suatu rasa yang berbeda dari dirinya untuk Matt. Tetapi, kehadiran anak baru di kelas Karin dan Matt memberikan sebuah konflik awal untuk hubungan mereka berdua.

Matthew memang mencintai Silvia, itu yang membuatnya susah untuk bersikap apa adanya. (Hal. 58)

Ya benar. Cinta Karin tidak bisa membuat Matt mencintainya dengan utuh. Ia harus menelan kekecewaan saat Matt mengakui ia memang menyukai Silvia. There is something different between Karin and Sisil (panggilan Silvia). Hal itu pula yang membuat Matt memilih Sisil untuk mengisi hari-harinya. Sayangnya, emosi labil Karin bukannya membuat Matt tetap nyaman menjadi sahabat, justru membuat Matt menjauhi Karin.

Mana ada sih, cowok dan cewek bisa jadi sahabat sejati. Hasilnya mereka malah saling suka dan aku hanya jadi obat nyamuk buat kalian. (Hal. 62)

Pada bagian kedua, kisahnya melanjutkan akhir prolog yang menggantung tadi. Saya jadi mengerti kenapa Karin sampai bingung dan kikuk berhadapan dengan Matt. Beruntung Matt bisa mencairkan suasana dan sukses meyakinkan Karin untuk menikmati wisata di Korea Selatan bersamanya. Layaknya kenalan yang sudah lama tidak berjumpa, mereka berdua juga terlibat berbagai topik cerita, termasuk kisah pahit yang dialami Matt.

Perbedaan fisik yang harus ditebusnya dengan harga mahal karena melakukan perbuatan yang salah. (Hal. 98)

Sampai bagian ini, saya sudah bisa menebak selanjutnya akan seperti apa. Tebakan saya, Karin dan Matt akan pulang ke Indonesia kemudian mereka menikah dan hidup bahagia selama-lamanya (aih, dongeng Disney banget). Sayangnya, saya salah. Memang benar Karin pulang ke Indonesia. Tetapi tidak dengan Matt yang masih harus bekerja di Korea Selatan. Semenjak kepergian Karin, ia tidak bisa melupakan sahabatnya itu. Matt menyadari bahwa ia sesungguhnya mencintai Karin.

Sejak bertemu dengan Karin di bandara, sejak itu pula ia selalu ingin merekuh Karin dalam pelukannya, ingin menciumnya. (Hal. 120)

Begitu pula dengan Karin. Bagian ketiga yang sudah memiliki setting di Indonesia menghadirkan Karin dengan kegelisahan dan perasaan campur aduknya. Perjumpaannya dengan Matt di Korea Selatan adalah hal yang sangat tidak diperkirakan olehnya. Awalnya ia sudah bertekad akan melupakan cintanya kepada Matt sepulang dari Korea. Hal ini dikarenakan sebulan lagi Karin akan menikah dengan pria kawan sekampusnya dulu.

Ia takut hatunya akan semakin patah. Dekat namun tak terjamah. Dekat namun tak bisa memiliki. Rasanya sungguh menyakitkan. (Hal. 144)

Batin Karin yang semakin kalut serta perasaan Matt yang tak menentu menghiasi sebagian besar cerita bagian ketiga ini. Lantas bagaimana kelanjutannya? Bagaimana pernikahan Karin? Bagaimana sang calon mempelai pria, Bram, saat menghadapi Matt? Dan tindakan apa yang akan dilakukan Matt?

Overall, saya menyukai buku ini. Ceritanya manis dan gaya penceritaannya mengalir. Bisa dikatakan sang penulis mampu membuat saya terhanyut mengikuti masa kecil Karin dan Matt, beranjak pada masa kini, hingga konflik besar yang harus dihadapi keduanya. Oh iya, jadi yang usil menyembunyikan buku Sisil siapa dong? Masih misteri nih. Dan pada dasarnya, Karin dan Matt adalah potret orang-orang yang terjebak friendzone dan gagal move on #bukancurcol.

Saat bagian masa lalu, penulis berhasil menggambarkan masa kanak-kanak yang gemar bermain tetapi juga mulai mengenalkan cinta monyet ketika remaja. Apa yang dilakukan oleh Karin benar-benar sangat masuk akal untuk usia yang masih labil. Sayangnya, saya agak bingung kenapa tidak ada tokoh yang lain, selain Karin, Matt, dan Sisil. Apakah mereka tidak punya teman sekolah sama sekali sampai-sampai tidak ada tokoh lain. Tetapi mungkin ini memang niat penulisnya untuk hanya fokus pada kehidupan mereka bertiga.

Ketika setting di Korea Selatan, penulis cukup banyak bercerita tentang tempat-tempat menarik disana. Mulai dari Seoul, Cheonggyecheon Stream, kota Jeonju, ski resort Yongpyong, Nami Island, sampai lokasi paling nge-hits yaitu Jeju Island. Deskripsinya membuat saya ngebet ke Korea saat itu juga. Apalagi suasana musim dingin plus saljunya juga digambarkan dengan cantik disela-sela kebahagiaan Karin tentang cintanya yang hadir kembali. Judulnya Sweet Winter memang pas kok.

Satu lagi yang saya sukai, meskipun Karin dan Matt (dan juga Bram) masih berusia muda, mereka tidak memanggil satu sama lain dengan loe-gue. Bahkan pada kisah masa lalu saat keduanya berusia remaja, mereka tetap memanggil dengan sebutan aku-kamu. Padahal mereka tinggal di daerah Tangerang lho, yang biasa ber-loe-gue.

Bukannya saya tidak suka istilah loe-gue, tetapi saya pribadi merasa bahwa panggilan itu menghilangkan kesan manis dan rasa cinta sehingga terkesan hanya romansa picisan tak bermakna #tsaah. Alih-alih terkesan kaku, saya justru merasakan kehangatan pada perbincangan mereka.

Sayangnya, meskipun tadi saya sebutkan bahwa saya salah menebak perkembangan cerita, lambat laun saya bisa merevisi dan sukses menebak kelanjutan ceritanya sampai akhir. Karena novel ini ceritanya FTV material banget. Mungkin saya kebanyakan nonton FTV (tapi tidak nonton sinetron), sehingga konflik dan hal-hal lain di separuh akhir buku sudah bisa saya perkirakan.

Memang sangat-sangat FTV-able mulai dari flashback-nya, wisatanya, pernikahannya, pergolakan batinnya, sampai kehidupan masa depannya. Mungkin kalau ada sutradara yang tertarik, harus mempersiapkan budget syuting di Korea saat musim dingin aja yang pasti agak mahal. By the way, alasan Matt bisa berjumpa dengan Karin sungguh FTV banget lho #tidakmauspoiler.

Tetapi, gaya bercerita Evi yang lembut dan smooth membuat saya enggan melewati kata demi kata yang ia tulis. Mungkin kalau buku lain yang gaya berceritanya buruk, saya akan langsung baca halaman terakhir untuk mengetahui ending-nya. Sedangkan Evi sukses membuat saya untuk membuktikan perkiraan saya sendiri sambil menikmati tulisannya yang menghanyutkan itu.

Anyway, saya penasaran. Dulu ketika masih sekolah, saya diajari guru saya ketika menulis sebuah merek dalam cerita, merek tersebut ditulis miring atau diberi tanda kutip. Misalnya “Nokia” atau Nokia. Tapi di buku ini tetap ditulis tegak biasa aja gitu. Mungkin sudah bergeser ya ketentuan penulisan merek. Dan saya juga curiga, jangan-jangan Mbak Evi di-endorse SUV Hyundai, Jazz, Samsung, Garuda Airlines, dan Avanza sebagai brand ambassador saking cukup banyaknya merek diatas tertulis di cerita hehehe.

Penilaian Akhir:

★★★

goodreads-badge-add-plus

You Are Invited

coveryou

Judul: You Are Invited

Penulis: Kezia Evi Wiadji

Penerbit: Gramedia Widiasarana Indonesia

Jumlah halaman: 216

Terbit Perdana: April 2014

Kepemilikan: Cetakan Pertama, April 2014

ISBN: 9786022514930

cooltext1660180343

Stacy Tanu dan John Edward, berencana melangsungkan pesta pernikahan. Selain mengundang 400 tamu, juga enam orang yang mempunyai hubungan sangat spesial dengan kedua calon mempelai. Mereka adalah Dina, Ben, Lyla, Sonia, Edo, dan James.

Beberapa minggu menjelang pesta pernikahan itu, masalah demi masalah silih berganti menghampiri mereka. Dapatkah mereka bergabung dengan tamu undangan lain untuk merayakan pesta pernikahan Stacy dan John?

cooltext1660176395

Awalnya saya melihat cover novel ini sedikit heran. Ini novel atau undangan kawinan? Tapi ternyata ide cerita novel ini memang demikian, mengenai hari-hari menjelang pesta pernikahan John dan Stacy. Well, cover sudah mencuri perhatian saya. Mari simak isi di dalamnya. Ekspektasi saya sih novel ini mengisahkan prahara dan permasalahan sebelum pesta itu terlaksana. Jika membaca blurb diatas, seharusnya tokoh utama dalam novel ini adalah John dan Stacy (ya iyalah kan mereka yang mau merit). Tapi setelah membaca hingga tuntas, bukan mereka saja yang berperan. Terdapat delapan bab yang disuguhkan, masing-masing bercerita tentang kedua calon mempelai plus kehidupan orang-orang terdekat mereka.

Bab pertama tentu saja mengenai kedua calon pengantin yaitu John dan Stacy. Mereka menentukan jumlah undangan dan siapa saja yang hendak diundang. Tabir kehidupan masa lalu sedikit terkuak ketika Stacy ingin mengundang mantan kekasihnya, Ben dan menawarkan John untuk melakukan hal serupa dengan mengundang Dina, pacarnya dimasa lalu. Bab ini merupakan pintu gerbang awal cerita bab yang lain.

“Tapi aku nggak mau mengundang mantanku. Aku nggak mau mengorek luka lama. (hal. 7)

Bagian kedua menguak kehidupan Dina. Setelah putus secara tidak baik-baik dengan John, ternyata Dina masih galau. Sebenarnya dia sudah menemukan tambatan hati yang baru, namun ia belum bisa melupakan John. Terlebih sang pujaan hati baru yang bernama Cello ini membuat Dina pusing tujuh keliling gara-gara nge-PHP si Dina *kasian*.

“Kenapa lo marah? Kapan gue pernah minta lo jadi pacar gue? Gue juga nggak pernah bilang cinta ke lo. Nggak pernah bilang suka ke lo. Lo aja yang beranggapan kalo kita pacaran.” (hal. 32)

Bab ketiga bercerita tentang kehidupan Ben semenjak berpisah dengan Stacy. Diceritakan Ben yang menemukan pengganti Stacy, bernama Princille dengan jalan yang kurang mulus pada awalnya. Saya suka sekali dengan sosok Princille yang “istimewa” ini. Bagian tentang Ben yang gemar bertualang ini sukses membuat saya ingin berwisata ke Danau Maninjau. Penulis berhasil menceritakan daerah yang dikunjungi Ben dengan baik.

Pantulan sinar matahari di air danau layaknya serpihan kaca retak yang bergerak-gerak. Semakin mempercantik Danau Maninjau dengan luas hampir 100 km2 yang dikelilingi oleh bukit-bukit yang membentuk dinding. (hal. 54)

Bab selanjutnya bercerita tentang Lyla, sahabat Stacy. Sebenernya kisah yang dibawakan oleh Lyla cukup menarik yaitu tentang pengalaman naik gunung dan menemukan cinta. Cuma, menurut saya kok rasanya agak kurang pas. Karakter Lyla inilah yang saya rasa paling tidak membekas di hati (kecuali bagian wisata kuliner yang membuat cacing perut saya berdemo). Penyelesaiannya juga terburu-buru dan serba kebetulan.

Bab selanjutnya adalah Sonia, adik John yang menjalani kehidupan pahit setelah ditinggal cinta pertamanya. Saya rasa kisah Sonia tidak ada sangkut pautnya dengan Stacy ataupun John sih, selain status keluarga saja. Tetapi justru Sonia memiliki nasib paling mengenaskan diantara pemain lain di novel ini.

Kemudian ada kisah Edo, sahabat John yang juga sebagai cinta pertama Sonia. Saya suka dengan tokoh Edo yang meskipun awalnya miskin, namun semangat menuntut ilmu hingga jadi dokter patut diacungi jempol. Yah meskipun mengorbankan perasaannya terhadap Sonia, saya suka dengan takdir manis yang dia dapatkan.

Ada lagi kisah James yaitu kakak Stacy yang kehilangan kekasihnya saat SMA karena overdosis. Kemudian menemukan orang baru yang memiliki fisik serupa dengan kekasih masa lalunya itu. Saya rasa agak aneh ini cerita James. Diantara ratusan jiwa manusia di Indonesia, kok ada orang yang sama setelah mati. Takdir sih mungkin, tapi saya rasa it’s too good to be true.

“Hidup itu berawal dari huruf B dan berakhir di huruf D. Huruf B artinya Birth dan D artinya Death. Tapi di antara huruf B ada huruf C, yang artinya Choice. Artinya, hidup selalu menawarkan pilihan.” (hal. 198)

Terakhir adalah bab pesta pernikahan yang saya lihat sangat cantik dan meriah dari deskripsinya namun dengan jumlah halaman paling sedikit dibandingkan yang lain. Plus bikin saya mupeng pengen punya pesta pernikahan kayak gitu *uhuk*

Overall, saya suka dengan buku ini. Emosi dan konflik yang disajikan adalah masalah orang dewasa. Ingat, yang saya maksud dewasa adalah adanya adegan-yang-seperti-itu. Masalah setting, saya acungi jempol deh. Detil banget dalam mengemukakan keunggulan daerah dan membuat saya bisa membayangkan dengan jelas. Saya rasa novel ini bagus dengan ciri “Indonesia banget” yang meliputi Jakarta, Bali, Pekanbaru, Solo, Bandung, Batam, dan Medan. Tentu saja wisata kuliner yang diceritakan sukses membuat saya menelan air liur berkali-kali.

Tetapi, saya agak kecewa dengan pembagian tokoh. Harapan saya sih, Stacy dan John merupakan tokoh sentral di novel ini. Namun kok saya rasa justru mereka berdua hanya sebagai “status” tokoh yang lain. Sehingga seolah-olah ini adalah kumpulan cerpen yang digabung jadi satu buku dengan status “kerabat dekat John & Stacy”. Imbasnya, cerita tiap bab (tiap tokoh) kurang tergali. Dan juga setiap bab ada tokoh-tokoh baru (bisa tiga atau lebih) yang mengiringi tokoh utama tiap bab sehingga saya jadi bingung nama-namanya siapa aja (sering juga tertukar namanya) saat membaca cerita lain.

Pada awalnya saya berpikir cerita ini akan mengangkat cerita persiapan Stacy dan John sebelum pernikahan dengan menemui masing-masing tokoh lain dan menemukan masalah. Tetapi ternyata hanya diceritakan kisah tokoh lain di dunianya sendiri. Saya berharap jika nantinya ada spin-off tiap tokoh di novel ini menjadi novel tersendiri. Karena sepenggal kisah yang disajikan sangat menarik untuk dieksplorasi lebih lanjut.

Well, novel ini cocok dibaca golongan pra-dewasa hingga orang dewasa. Maklum adegan-yang-seperti-itu cukup bikin deg-degan hehehe. Meski genre-nya adalah romance, tetapi penulis sanggup menghadirkan kisah cinta yang tidak menye-menye dan lebay khas fiksi remaja. Selain itu penyelesaian masalah yang masuk akal dan ending yang sangat pas membuat saya puas membaca novel ini.

Penilaian Akhir:

★★★★

goodreads-badge-add-plus