Rss

Archives for : Grantika Publishing

Shift

covershift

Judul: Shift

Sub Judul: Jika kau memiliki kekuatan untuk mengubah kenyataan, apa yang akan kau ubah?

Seri: Shift #1

Penulis: Kim Curran

Penerjemah: Indriani Grantika

Penerbit: Grantika Publishing

Jumlah Halaman: 363 halaman

Terbit Perdana: April 2014

Kepemilikan: Cetakan Pertama, April 2014

ISBN: 9786021791400

cooltext1660180343

Bagaimana jika kau bisa beralih dari versi kenyataan yang sedang kau jalani saat ini ke versi kenyataan alternatif? Bagaimana jika kau bisa mengubah keadaan saat ini dengan membatalkan segala keputusan yang telah kau ambil di masa lalu? Sehingga kau bisa mengubah kejadian yang tak kau inginkan hanya dalam sekejap mata.

Scott Tyler bisa melakukannya karena dia adalah seorang Pengalih. Scott tak pernah mengetahui bahwa dirinya adalah Pengalih sampai suatu ketika dia tanpa sengaja menggunakan kekuatannya untuk mengubah kenyataan.

Awalnya Scott mengira kekuatannya itu luar biasa, sampai akhirnya dia menyadari bahwa ada konsekuensi yang tak terprediksi setiap kali dia menggunakan kekuatannya. Dengan beralih dari satu versi kenyataan ke versi kenyataan lainnya, Scott tak hanya membuat keselamatannya terancam, tapi juga membuat keselamatan orang-orang di sekitarnya terancam.

Saat Scott terjebak dalam versi kenyataan yang bagaikan mimpi buruk, akankah dia berhasil memilih versi kenyataan yang membuat kehidupannya kembali normal? Atau dia justru memilih versi kenyataan yang membawa malapetakan bagi orang-orang yang disayanginya?

“Seperti video game yang seru.” – Amazon

“Seperti perpaduan film Jumper dan Butterfly Effect.” – GoodReads

cooltext1660176395

Setiap manusia di muka bumi ini memiliki bakat dan kemampuan yang berbeda-beda. Ada yang berbakat menyanyi, memasak, menembak, dan lain sebagainya. Pada umumnya bakat tersebuat adalah sebuah keahlian yang wajar dan bisa diterima akal sehat. Lantas bagaimana jika ada manusia yang memiliki kemampuan “unik” dan mencengangkan?

Adalah Scott Tyler, seorang pemuda Inggris berusia 16 tahun yang tinggal bersama kedua orang tuanya yang selalu cekcok sepanjang hari dan adik perempuannya, Katie. Hidup Scott begitu membosankan. Ia tidak pandai bergaul sehingga kawannya sedikit. Bahkan di akhir pekan, ia hanya bermain video game dengan adik yang usianya lima tahun lebih muda.

Satu-satunya teman dekat (Scott tidak menyebutnya sebagai sahabat), Hugo, mengajak Scott untuk meninggalkan game itu dan mengunjungi Rectory Ground. Tempat yang disingkat RC ini semacam tempat nongkrong anak-anak populer dari sekolah Scott dan Hugo. Salah satu anak paling populer adalah Sebastian Cartwright. Meskipun usianya diatas Scott, ia membiarkan Scott dan Hugo ikut bergabung di “pesta anak populer” tersebut.

Scott yang mulai mabuk berusaha membuktikan pada semua orang disitu bahwa ia bukan seorang pecundang dengan cara memanjat sebuah tower listrik. Ia yakin tower itu sudah tidak dialiri listrik sehingga ia tidak perlu mengkhawatirkan nyawanya. Tepat sebelum puncak menara, Scott terjatuh ke tanah yang jaraknya cukup jauh. Apakah Scott mati? Ternyata tidak.

Tanpa membuka mata, kujulurkan tanganku yang gemetar, lalu meraba-raba batang logam di atas kepala. (Hal. 20)

Suatu hal aneh terjadi. Scott tidak cedera. Bahkan ia berjarak cukup jauh dari menara disertai tawa orang-orang yang menganggapnya pecundang karena Scott terjatuh dari pagar, BUKAN dari menara. Apa yang terjadi? Seorang gadis bernama Aubrey Jones mengajak Scott pergi dari tempat itu sambil menjelaskan apa yang terjadi. Mereka menuju sebuah kasino.

Aubrey menjelaskan bahwa Scott adalah seorang Pengalih. Biasanya Pengalih akan segera ditangkap oleh Regulator untuk dibawa ke markas besar. Markas tersebut semacam pangkalan militer untuk membina Pengalih melalui sebuah Program. Aubrey ternyata adalah seorang Pelacak resmi (Spotter) sehingga ia bisa mengetahui keberadaan Scott. Ia berasal dari ARES atau Agen Regulasi dan Evaluasi Pengalih.

Shifter atau Pengalih punya kemampuan untuk Mengalihkan kenyataan. Dengan Mengalihkan kenyataan, Pengalih menciptakan kenyataan baru di sekitarnya. (Hal. 35)

Tiba-tiba, muncul kelompok bernama Satuan Liberasi Pengalih (SLP) atau disebut Pembelot yang diketuai oleh Isaac Black atau biasa dipanggil Zac. Tak disangka, terjadi sedikit kericuhan antara Aubrey dan Zac di dalam kasino itu. Sebelum semua bertambah panas, mendadak muncul sebuah kejadian yang akhirnya membuat Scott dan Aubrey harus pergi secepat mungkin.

Di apartemen Aubrey, Scott mendapat informasi yang lebih rinci mengenai apa yang terjadi. Selain jenis pekerjaan yang disebutkan Aubrey di kasino tadi, ada lagi Pemeta yang berspesialisasi pada konsekuensi dan prediksi. Awalnya Scott tidak percaya semua kata-kata Aubrey. Namun menyadari keadaan tentang tragedi menara-menjadi-pagar tadi membuat Scott percaya. Bakat seorang Pengalih ini hanya muncul di usia muda dan akan menghilang ketika sudah berusia dewasa. Waktu ketika kekuatan menghilang ini disebut dengan istilah Entropi.

Ini semacam psikosis di mana kau mendapati dirimu berada dalam versi kenyataan baru yang mengganggu, itu karena kau tidak merencanakan alur Peralihan yang kau lakukan dengan hati-hati. (Hal. 96)

Keesokan harinya, Scott yang baru saja mengalami sebuah “hidup” yang memilukan akhirnya berinisiatif untuk menghubungi ARES. Ia percaya bahwa ARES akan membantunya menangani kemampuan ini. Keputusan ini ditentang Aubrey dengan keras. Scott tidak perduli dan tetap pada pendiriannya. Di kantor ARES yang berlokasi di East London, Scott bertemu dengan Komandan Morgan sebagai Kepala Divisi Peralihan ARES.

Ternyata Program ARES untuk para Pengalih itu adalah semacam sekolah. Komandan Morgan menyambut baik kehadiran Scott dan memintanya bergabung di kelas Sersan Jon Cain. Di kelas itu ada Jake, Max, CP, Molly, dan Ben. Mereka berusia dibawah Scott namun kemampuannya lebih baik. Selain itu juga ada Mr. Abbott yang mengajar kelas Sejarah.

Begitu Pengalih menyadari kemampuannya, segelintir pertanyaan pertama yang terbersit di benaknya adalah ‘Bisakah kita mengubah sejarah? (Hal. 164)

Hari-hari Scott dalam Program ARES selama liburan musim panas membuatnya menjadi orang berbeda. Ayah dan ibunya merasa Scott yang “bekerja” di ARES adalah sesuatu yang membanggakan. Namun Katie dan Hugo merasa bahwa Scott telah berubah dan tidak seperti yang dulu. Hal ini mungkin karena ia menghadapi berbagai kesulitan yang harus ia hadapi. Mulai dari kecelakaan kereta, pertemuan dengan orang jahat, bahkan mengalami tekanan menyakitkan bersama teroris.

“Semua teroris adalah pengecut, Scott. Mereka adalah pengintimidasi yang bersembunyi di balik prinsip-prinsip untuk membenarkan tindak kekerasan.” (Hal. 189)

Bagaimana hari-hari Scott selanjutnya? Mengapa semua orang menjulukinya sebagai Pengalih terkuat? Bagaimana mungkin Scott yang baru saja mengetahui kemampuan tersebut bisa menjadi yang terkuat? Lantas, mengapa bisa muncul SLP buatan Zac? Apa yang menjadi tujuan mereka? Lebih penting lagi, kemampuan apa yang dimiliki Scott itu sebenarnya? Silakan dibaca sendiri yah!

Awalnya, saya mengira buku ini akan menceritakan kehidupan remaja dengan kemampuan unik yang kemudian kemampuan tersebut digunakan dalam kehidupan sehari-hari unuk menjahili. Tetapi saya salah. Pada beberapa bab awal memang dikisahkan bagaimana hari-hari Scott yang membosankan dan khas remaja banget. Bahkan kehidupannya di rumah juga terlukiskan sangat membuat depresi.

Namun semua berubah saat negara api menyerang kemampuan Beralih itu Scott gunakan, ehm lebih tepatnya tidak sengaja digunakan. Pertemuannya dengan Aubrey adalah cikal bakal kehidupan baru yang harus Scott hadapi mulai awal libur musim panas dan seterusnya. Dua hari cukup bagi saya untuk menyelesaikan buku ini.

Penulis piawai dalam bercerita. Alih-alih menggunakan kalimat panjang dan bertele-tele, ia menggunakan kalimat singkat dan mudah dipahami. Sudut pandang orang pertama dari tokoh Scott membuat saya bisa lebih relate dengan cerita dan mengerti apa yang Scott alami. Dialog yang bertebaran cukup banyak juga banyak membantu saya mamahami cerita dibandingkan narasi yang berpotensi membuat saya bosan.

Bagian terbaik bagi saya adalah saat perubahan hidup Scott yang awalnya biasa-biasa saja cenderung membosankan menjadi penuh petualangan dan ketegangan. Betul sekali, mulai pertengahan hingga akhir semuanya full action dan berbeda 180 derajat dibandingkan bab awal yang membuat saya ngantuk. Tidak bisa saya pungkiri bahwa penulis sanggup membuat saya penasaran hingga halaman terakhir.

Sayangnya, ada beberapa hal yang membuat saya agak kecewa. Ketika Scott dan Aubrey (atau remaja lain di ARES) bercakap-cakap dalam sebuah pembicaraan, saya tidak bisa membayangkan usia mereka hanya 16 tahun. Dalam benak saya justru tergambar tokoh dengan usia 24 tahun keatas gara-gara saking “beratnya” obrolan mereka. Terlalu dewasa dan tidak cocok dengan usia mereka sih. Apalagi kehidupan baru yang Scott jalani pasca tragedi-menara tadi terkesan too damn different than before, dan itu sangat-sangat aneh karena terjadi dalam hitungan bulan saja.

Dan hal yang cukup fatal membuat saya jengkel sendiri adalah tentang konsep Shift atau Peralihan itu sendiri. Awalnya saya menganggap itu semacam kemampuan kembali ke masa lalu dan memperbaiki kesalahan lalu kembali lagi ke masa sekarang. Sayangnya bukan itu maksudnya. Bahkan sampai ada kalimat penegasnya lho.

Tapi kita tidak bisa memutar ulang waktu. Kita hanya bisa membatalkan keputusan. (Hal. 220)

Lah terus apa dong?? Penulis tidak memberikan sebuah penjelasan gamblang yang bisa memuaskan saya tentang kemampuan itu. Ada sih penjelasan tentang konsep mekanika kuantum sebagai konsep shift, tapi apa ya, saya masih bingung (maafkan otak saya yang cetek ini). Buku ini adalah buku pertama dari trilogi Shift. Mungkin apabila saya membaca buku selanjutnya, segala kerisauan saya diatas bisa terjawab dengan baik.

Anyway, saya kagum dengan editornya karena saya nyaris tidak menemukan typo. Hanya satuuu saja yaitu kata menganguk di halaman 317. Selain itu, semuanya bersih tanpa salah penulisan (menurut saya). Jos banget deh. Oh iya, saya acungi jempol untuk penerjemahnya. Saya rasa 99% terjemahannya memang benar-benar menggunakan bahasa Indonesia karena ada beberapa kata yang harus saya googling karena saya tidak familiar hehe.

Kenapa saya katakan hanya 99% saja? Karena panggilan orang seperti Mr., Mrs., Ms., dan Sir justru tidak diterjemahkan. Entah apa alasannya. Saya rasa lebih baik total saja dalam penerjemahan. Karena nanggung banget semuanya sudah pakai bahasa Indonesia yang baik, sedangkan panggilan masih menggunakan bahasa asli. Toh penerjemahan hal itu juga tidak mengurangi esensi cerita. Tapi yang jelas, saya tidak sabar menunggu kelanjutan seri ini. Mengingat buku aslinya sudah tamat, semoga bisa segera diterjemahkan sekuelnya di Indonesia ya.

Penilaian Akhir:

★★★★

goodreads-badge-add-plus