Rss

Kesetiaan Mr. X

coverkesetiaan

Judul: Kesetiaan Mr. X

Judul Asli: Yôgisha X No Kenshin

Seri: Detective Galileo #3

Penulis: Keigo Higashino

Penerjemah: Faira Ammadea

Penerbit: Gramedia Pustaka Utama

Jumlah Halaman: 320

Terbit Perdana: 25 Juli 2016

Kepemilikan: Cetakan Pertama, 25 Juli 2016

ISBN: 9786020330525

cooltext-blurb

Ketika si mantan suami muncul lagi untuk memeras Yasuko Hanaoka dan putrinya, keadaan menjadi tak terkendali, hingga si mantan suami terbujur kaku di lantai apartemen. Yasuko berniat menghubungi polisi, tetapi mengurungkan niatnya ketika Ishigami, tetangganya, menawarkan bantuan untuk menyembunyikan mayat itu.

Saat mayat tersebut ditemukan, penyidikan Detektif Kusanagi mengarah kepada Yasuko. Namun sekuat apa pun insting detektifnya, alibi wanita itu sulit sekali dipatahkan. Kusanagi berkonsultasi dengan sahabatnya, Dr. Manabu Yukawa sang Profesor Galileo, yang ternyata teman kuliah Ishigami.

Diselingi nostalgia masa-masa kuliah, Yukawa sang pakar fisika beradu kecerdasan dengan Ishigami, sang genius matematika. Ishigami berjuang melindungi Yasuko dengan berusaha mengakali dan memperdaya Yukawa, yang baru kali ini menemukan lawan paling cerdas dan bertekad baja.

cooltext-review

Saya tidak sering membaca novel terjemahan dengan tema fiksi kriminal. Ini pertama kalinya saya mencicipi sebuah novel terjemahan dari Negeri Sakura yang mengusung genre thriller-kriminal-misteri. Yōgisha X No Kenshin atau Kesetiaan Mr. X adalah buku ketiga dari seri Detective Galileo karangan Keigo Higashino. Premis ceritanya sangat menarik yaitu tentang kegigihan seseorang menyembunyikan fakta kejahatan agar tidak dapat diungkap kepolisian. Akankah usahanya berhasil?

Tetsuya Ishigami adalah seorang guru matematika. Ia hidup sendiri di sebuah apartemen dan memiliki tetangga seorang wanita bernama Yasuko Hanaoka dan anak perempuannya, Misato Hanaoka. Akibat sebuah kejadian dimasa lalu, Ishigami memendam rasa pada Yasuko. Sampai-sampai hampir setiap hari Ishigami membeli bekal makan di Kedai Benten-tei, tempat Yasuko bekerja.

Kehidupan Yasuko mulai terusik saat suatu hari mantan suaminya, Shinji Togashi, mengunjunginya. Puncaknya, kehadiran Togashi di apartemen Yasuko harus berakhir dengan tragis. Meski awalnya Yasuko ingin menyerahkan diri ke polisi, Ishigami yang mencintai wanita itu menawarkan bantuan untuk “mengurus” mayat Togashi dan membuat alibi sempurna untuk tetangganya itu agar bebas dari kecurigaan polisi.

Bukan ilmu matematika sejati namanya kalau menggunakan komputer untuk membuktikan kebenaran sebuah teori. (Halaman 90)

Sementara itu, Detektif Shunpei Kusanagi dan Detektif Kishitani yang menangani kasus tersebut mengalami jalan buntu karena kecurigaan mereka pada Yasuko terhalangi oleh alibi sempurna buatan Ishigami. Yukawa Manabu, sahabat Kusanagi, merupakan orang yang sering mendapat keluhan Kusanagi saat menemui hambatan dalam bertugas. Kali ini ketertarikannya timbul saat mengetahui bahwa Yasuko dan Ishigami hidup bertetangga.

Rupanya ada alasan pribadi di balik kasus ini sehingga Yukawa memutuskan untuk menjumpainya sendiri. Apa pun alasannya, Kusanagi tidak ingin mengusiknya. (Halaman 180)

Keadaan bertambah pelik ketika Kudo Kuniaki, duda yang menyimpan rasa pada Yasuko sejak lama, mulai sering mengunjungi Yasuko. Ia berdalih hanya ingin memastikan Yasuko baik-baik saja setelah kematian Togashi. Awalnya Yasuko juga menaruh hati kepada Kudo. Namun kata-kata Misato membuat Yasuko sadar bahwa “kebaikan hati” Ishigami tidak dapat dilupakan begitu saja.

Setelah sekian lama mempersiapkan segalanya dengan amat matang, Ishigami mulai gentar karena Yukawa ikut campur dalam kasus ini. Begitu pula Yasuko sempat membohongi Ishigami dan menyeret Kudo dalam pusaran situasi ini. Yukawa Manabu sang Profesor Galileo yang baru saja reuni dengan “sahabat” lama juga tidak berniat menjebloskan Ishigami ke penjara. Namun, apakah Yukawa bisa bertahan melihat fakta-fakta yang ia pecahkan sendiri?

Jangan terlalu banyak berpikir. Mungkin temanmu itu memang genius matematika, tapi dalam membunuh dia hanyalah amatir. (Halaman 200)

Gila. Saya tidak menyesal karena mengawali debut membaca novel fiksi misteri-thriller-kriminal dengan membaca Kesetiaan Mr. X. Eksplorasi tokoh, latar, hingga situasi yang berlangsung tertuang jelas melalui tulisan Keigo ini. Bagaimana tidak, awal bab di buku ini saja sudah berisi kematian Togashi. Keigo memang tidak membuat kematian Togashi sebagai puncak kisah, melainkan proses pengungkapan fakta kejadian tersebut yang ia tonjolkan.

Ada sembilan belas bab dalam buku ini. Bab pertama hingga empat belas masih berkutat pada penyidikan kasus. Meski saya agak bosan membaca bagian itu, rasa tegang sudah mulai saya rasakan kala memasuki bab lima belas hingga terakhir. Meskipun novel ini isinya thriller ala detektif, ada drama memilukan hati yang disisipkan oleh Keigo. Saya rasa hal inilah yang menjadi daya tarik terbesar novel ini.

Mengenai matematika dan fisika yang tertulis di blurb, saya merasa agak kecewa karena “porsi” matematika & fisika sangat terbatas. Saya awalnya menduga novel ini mengisahkan bagaimana Ishigami menciptakan sebuah “kondisi” ideal menggunakan teori matematika, kemudian Yukawa memecahkan teka-teki itu memakai rumus fisika. Nyatanya, saya keliru. Justru dunia filsafat dan filosofi tentang sejumput ilmu sains yang bertebaran.

Wajar jika seseorang bertanya-tanya mengapa ia harus mempelajari sesuatu, karena niat untuk belajar akan lahir saat pertanyaan itu terjawab. (Halaman 220)

Oh iya, Yukawa di sini tidak terlalu greget. Bahkan sebagai pengungkap kasus, ia tidak bisa menjawab satu keping misteri yang tertinggal. Selain itu, kepiawaian Yukawa dan Ishigami menunjukkan bahwa para detektif tidak becus apa-apa selain sebagai “pencari data” semata. Saya juga agak janggal membaca Ishigami yang cenderung anti sosial dan selalu fokus matematika bisa memperkirakan langkah-langkah yang akan diambil detektif.

Terlepas dari itu semua, saya sangat menikmati alur novel ini. Bahkan saya menyelesaikannya dalam waktu kurang dari empat jam. Semua itu tidak terlepas dari gaya terjemahan yang sangat baik dan nyaris tanpa typo. Oh, sebuah twist menjelang babak akhir buku membuat saya ternganga dan tidak menyangka bahwa Keigo akan menuliskan akhir kisah seperti itu. Mengapa oh mengapa.. T-T

Setelah menutup lembar terakhir buku ini, saya tidak menganggap penjahat selalu “hitam” dan orang baik selalu “putih”. Mereka memiliki alasan dalam bersikap. Tidak patut menghakimi orang lain tanpa melihat sudut pandang yang lain. Kejahatan yang dilakukan dengan dalih kebaikan juga bukan hal yang boleh dilakukan. Karena pada akhirnya, kejahatan yang paling sempurna tidak akan pernah menang.

Kita tidak bicara masalah perasaan. Menurutku tidak masuk akal jika seseorang merasa membunuh adalah jalan keluar dari penderitaan. Untuk apa menambahkan penderitaan lain dengan benar-benar melakukannya. (Halaman 212)

Penilaian Akhir:

goodreads badge add plus

Assalamu’alaikum warahmatullahi wabarakatuh.

Blog Rico Bokrecension mendapatkan kehormatan menjadi host blogtour buku Kesetiaan Mr. X hasil karya Keigo Higashino. Ada satu orang pemenang di blog Rico Bokrecension yang akan mendapatkan novel ini persembahan Gramedia Pustaka Utama. Syarat dan mekanisme berikut ini mohon diperhatikan dengan cermat. Karena partisipan yang tidak memenuhi ketentuan akan didiskualifikasi.

  1. Follow akun twitter Gramedia dan akun richoiko.
  2. Share giveaway ini melalui twitter dengan hashtag #MrXBlogTour. Jangan lupa cantumkan url giveaway ini ya.
  3. Jawab pertanyaan berikut ini: Menurut kamu, manakah yang paling mudah saat mengerjakan soal matematika: “mencari sendiri jawabannya” atau “memastikan benar salahnya jawaban orang lain”?
  4. Jika sudah melengkapi persyaratan di atas, silakan tinggalkan komentar di bawah postingan ini dengan mencantumkan Nama, Link Share, dan Jawaban.
  5. Pemenang saya pilih berdasarkan jawaban yang paling menarik sesuai kehendak saya hoahahaha. Saya tidak mencari jawaban yang benar kok. Saya hanya ingin melihat pendapat kamu saja.
  6. Periode giveaway di Rico Bokrecension berlaku mulai tanggal 20 Agustus 2016 hingga tanggal 21 Agustus 2016, dan hanya untuk kamu yang memiliki alamat kirim di Indonesia. Pengumuman pemenang serentak pada tanggal 29 Agustus 2016 bersama host yang lain.

Nah, sekian informasi giveaway dalam rangkaian blogtour buku Kesetiaan Mr. X di Rico Bokrecension. Terima kasih sudah membaca postingan ini sampai akhir. Bagi kamu yang sudah ikutan, saya doakan semoga menang.. (˘ʃƪ˘) Jika ada yang kurang jelas, jangan sungkan tanya ya.

Wassalamu’alaikum warahmatullahi wabarakatuh.

Assalamualaikum warahmatullahi wabarakatuh dan selamat pagi!

Sebelumnya, saya mengucapkan mohon maaf atas beberapa kendala yang terjadi selama berlangsungnya giveaway ini. Tak lupa saya mengucapkan terima kasih pada penerbit Gramedia Pustaka Utama (yang diwakili oleh mbak Faira Ammadea, sang penerjemah) yang memberikan kesempatan pada saya untuk menjadi host dalam blogtour. Oh, tentu tak lupa divisi humas BBI a.k.a Mas Dion yang memenangkan saya dalam tender blogtour hehe.

Terakhir, untuk 16 orang yang telah mengikuti giveaway ini, terima kasih banyak! Jawaban kalian bagus-bagus semua. Membuat saya bingung tentang manakah yang lebih mudah dalam menjawab soal matematika, meskipun pertanyaan saya memunculkan persepsi baru dan rada ambigu T.T Langsung saja, ini dia nama pemenang beserta jawabannya yang berhasil mendapatkan hadiah buku Kesetiaan Mr. X by Keigo Higashino:

WIRDA ADILLA RIDYANANDA
Cari sendiri aja deh. Baru cek jawaban yang benar gimana. At least dengan begitu, kita tahu dimana letak kesalahan kita, bagian apanya yang susah. Jadi belajar lah, lagian juga jadi inget rumusnya. Soalnya jawaban orang lain (yang bukan jawaban dari si pemberi/pembuat soal) belum tentu bener juga meskipun lebih gampang dan lebih sedikit geraknya XD Memastikan benar salah jawaban orang lain juga pointless kalau jawaban benernya nggak tau.

Yak, selamat! Untuk pemenang, akan saya hubungi melalui media sosial. Diwajibkan konfirmasi maksimal tanggal 30 Agustus 2016 pukul 09.00 WIB. Kalau tidak ada kabar sama sekali, saya akan pilih pemenang baru. Bagi yang belum beruntung, jangan kecewa. Saya akan mengadakan giveaway lagi di blog ini. Kapan? Rahasia. Tunggu aja pokoknya :)

Wassalamualaikum warahmatullahi wabarakatuh dan sampai jumpa lagi!

SuperDidi

coverdidi

Judul: SuperDidi

Sub Judul: Karena jadi Ayah itu, seru!

Penulis: Silvarani

Penerbit: Gramedia Pustaka Utama

Jumlah Halaman: 256

Terbit Perdana: 2 Mei 2016

Kepemilikan: Cetakan Pertama, 2 Mei 2016

ISBN: 9786020326900

cooltext-blurb

Menjadi ayah itu susah-susah gampang,

Atau malah gampang-gampang susah?

Mimpi buruk semakin memperkeruh hari-hari Arka karena Wina belum bisa kembali ke Jakarta, padahal Anjani dan Velia akan tampil dalam drama sekolah. Pada hari yang sama, Arka harus mempresentasikan proyek bernilai triliunan rupiah. Kalau sudah begitu, apakah Anjani dan Velia yang harus dikorbankan?

Apakah mereka harus tampil tanpa ditonton kedua orangtua?

Mungkin begitu.

Sampai suatu saat, sang “Didi” melakukan tindakan “super”!

cooltext-review

Membentuk sebuah keluarga dan menjadi seorang ayah adalah impian sebagian besar pria. Memanjakan buah hati dengan pergi berlibur, makan malam bersama istri, dan bersenang-senang dengan seluruh anggota keluarga adalah sebuah hal yang membahagiakan. Namun semua itu terkadang sulit diwijudkan karena tersandung paradigma masyarakat umum tentang “peran dan tugas” seorang ibu dan ayah.

Begitu pula yang terjadi dengan keluarga kecil Arka, sang tokoh utama novel ini. Ia bersama Wina, sang istri, membina rumah tangga dan berperan menjadi orang tua Anjani dan Velia. Semua tampak baik-baik saja bagi Arka alias Didi. Pagi hari dibangunkan oleh dua ocehan manja dari sang buah hati, sarapan bersama sebelum beraktivitas, dan bekerja mencari nafkah untuk keluarga. Hingga suatu ketika muncul sebuah tantangan baru untuk Arka.

Wina–yang biasa dipanggil Muti–harus rela meninggalkan anak-anak dan sang suami dikarenakan sahabat baiknya, Meisya, mengalami masalah besar di Hongkong. Hal ini tentu membuat Arka alias Didi harus berperan menjadi ayah sekaligus ibu untuk sementara waktu bagi Anjani dan Velia. Sebagai bantuan, Wina sudah memberikan catatan yang berisi jadwal penting Anjani dan Velia setiap hari.

Zaman sekarang, tak ada itu mengotak-ngotakkan kerjaan cowok atau kerjaan cewek. Semua bisa. (Halaman 93)

Disaat yang sama, Arka baru saja mendapatkan kehormatan menjadi ketua dalam tim pembangunan proyek benilai triliunan rupiah. Deadline yang hanya dua minggu membuatnya berpacu dengan waktu karena mengurusi segala keperluan Anjani dan Velia bukanlah hal yang mudah. Keterlambatan Wina pulang ke Indonesia juga menjadi masalah berat yang harus dihadapi Arka.

Puncaknya, pementasan drama yang dilakoni Anjani dan Velia terancam tidak dapat dihadiri Didi dan Muti karena keduanya berhalangan. Nah, hal ini menjadikan Arka harus berjuang keras agar kedua anaknya dapat berperan dengan sungguh-sungguh dalam pementasan tersebut. Berhasilkah Arka datang tepat waktu?

Arka juga menyadari bahwa peran Wina sebagai “muti”-nya Anjani dan Velia memang tidak dapat digantikan oleh siapapun. Begitu juga peran Arka sebagai “didi” tak dapat digantikan oleh Wina. Mereka berdua adalah satu kesatuan yang sama-sama berarti bagi Anjani dan Velia. (Halaman 175)

Menyentuh. Kata yang saya rasa sanggup mewakili perasaan saya setelah membaca novel ini hingga akhir. Ini bukanlah novel romansa tentang dua insan manusia, melainkan kisah keluarga yang saling menyayangi, gigih, dan pengertian. Saya jarang menjumpai novel Indonesia bertema keluarga. SuperDidi adalah salah satu novel yang menyuguhkan drama keluarga yang menjadi kesukaan saya.

Arka alias Didi bukanlah ayah yang sempurna. Ia harus bekerja keras mencari nafkah. Namun semuanya rela ia tinggalkan sejenak hanya untuk mengurus keperluan Anjani dan Velia. Wina alias Muti juga bukan ibu yang sempurna. Meninggalkan suami dan anak yang masih kecil selama beberapa minggu adalah satu hal yang tidak bisa saya setujui. Namun saya memahami bagaima ia merindukan dan mengasihi suami dan kedua anaknya dengan tulus.

Sifat dan perilaku Anjani dan Velia terdeskripsikan dengan baik sebagaimana anak usia TK pada umumnya. Mereka masih cengeng, mereka masih suka makanan manis, mereka masih suka bermain, dan mengidolakan Elsa dan Anna dari Frozen. Satu poin plus yang saya sukai adalah mereka sudah bisa memahami perihal kepergian Muti ataupun Didi yang tidak bisa mengantar les balet.

Alur yang disuguhkan novel ini adalah alur maju dengan menggunakan sudut pandang orang ketiga serba tahu. Saya rasa ini cocok karena apabila menggunakan sudut pandang orang pertama, perasaan dan pergolakan batin tokoh lain menjadi kurang tersampaikan dengan baik. Saya rasa ini adalah keberhasilan penulis yang telah berdiskusi secara matang dengan produser.

Produser? Ya benar, SuperDidi pada awalnya adalah film layar lebar yang rilis pada tanggal 21 April 2016 lalu. Kemudian tanggal 2 Mei 2016 lahirlah bentuk novelisasi film tersebut yang ditulis oleh Silvarani. Jujur saya belum sempat menonton filmnya, hanya menonton lewat trailer. Namun saya sudah bisa memastikan bahwa apa yang ada di film sudah tersaji lengkap di dalam novel.

Meskipun ini film bertema keluarga, sang produser, Reymund Levy, tidak lupa memberikan sepercik konflik asmara beberapa tokoh pendamping. Hal ini membuat saya tidak diliputi kebosanan karena mengikuti kisah keluarga Arka saja. silvarani sang penulis juga sukses menghadirkan kisah sampingan ini tanpa mengganggu kisah utama Arka. Oh iya, saya menemukan beberapa typo namun karena saya asyik membaca, typo tersebut tidak mengganggu kok.

Sebagai penutup, saya ingin merekomendasikan novel ini untuk para pembaca yang (mungkin) sudah bosan dengan drama romansa dua anak manusia, bisa melirik novel ini. Tema keluarga yang diangkat membuat kita bisa merenungkan apakah memang tidak mudah menjadi seorang ibu? Apakah memang berat menjadi seorang ayah? Yang jelas, berat ataupun tidak, selama dijalani bersama dan saling mendukung, niscaya kesulitan itu akan terlewati.

Tak gampang untuk menjadi seorang ayah

Tapi, tidak ada kata menyerah.

Malah terkadang semuanya tampak mudah.

Apalagi ketika melihat senyum mungil itu merekah.

Untuk seluruh ayah hebat di muka bumi ini…. (Halaman 5)

Penilaian Akhir:


goodreads badge add plus

Sekayu

coversekayu

Judul: Sekayu

Seri: Cerita Kenangan Nh. Dini #4

Penulis: Nh. Dini

Penerbit: Gramedia Pustaka Utama

Jumlah Halaman: 184

Terbit Perdana: Januari 1988

ISBN: 9789794034118

cooltext1660180343

“Alangkah sukar serta tidak enak menjadi anak-anak, karena semua dilarang, segala sesuatu tidak bisa diperbuat,” demikian Dini remaja mengeluh. Dini tidak mau lagi disebut anak-anak. Ia sudah berada di ambang kedewasaan. Ia mau agar orang memperlakukan dirinya seperti orang dewasa: orang yang berhak dan bisa berbuat sekehendak hati.

Dalam Sekayu dikisahkan bagaimana Dini (yang telah memasuki dunia remaja) melihat segala persoalan di sekitar rumah tangga, teman, dan kotanya. Juga dikisahkan rasa kesepian Dini setelah ditinggal oleh ayah tercinta, disusul dengan cinta remajanya yang sepihak, dan perkawinan kakaknya. Semua dikisahkannya dengan manis dan tidak membosankan. Buku ini adalah buku keempat dari seri “cerita kenangan” Nh. Dini.

cooltext1660176395

Nh. Dini bukanlah orang baru dalam dunia tulis-menulis di Indonesia. Berbagai karya telah ia hasilkan. Novel ini mengajak pembaca apabila ingin melihat seseorang yang masih beranjak dewasa menyikapi hal-hal di sekitarnya dengan positif. Karena meskipun terdapat berbagai masalah, bukan alasan untuk larut dalam kesedihan. Dengan penulisan yang teliti, jujur dan halus, pengalaman pribadi pengarang ini merupakan salah satu sumber daya ciptanya yang subur di kemudian hari.

Cerita dibuka dengan kematian ayah dari tokoh utama bernama Sri Hardini. Kematian kepala keluarga yang dikasihinya membuat ia bagai kehilangan kehidupannya. Namun nasi telah menjadi bubur. Tak mungkin ia bisa menghidupkan ayahnya kembali, meskipun segala kenangan tentang ayahnya, dari menonton wayang, bermain, sampai melihat perayaan di alun-alun kota sering menghuni pikirannya.

“Alangkah sukar serta tidak enak menjadi anak-anak, karena semua dilarang, segala sesuatu tidak bisa diperbuat. (hal. 14)

Sebagai anak bungsu, Hardini hanya bisa diam mendapati kakak-kakaknya akan meneruskan sekolah dan meninggalkannya dengan sang ibu dan seorang kakaknya. Dini tidak mau lagi disebut anak-anak. Ia sudah berada di ambang kedewasaan. Ia mau agar orang memperlakukan dirinya seperti orang dewasa: orang yang berhak dan bisa berbuat sekehendak hati. Heratih sebagai anak sulung telah berkeluarga dan menetap di kota lain dengan suaminya Utono. Hanya sesekali saja ia menengok ibu dan Hardini.

Anak kedua, Maryam, yang masih mengecap bangku kuliah, sering pulang pergi dari kota tempat tinggalnya ke Gadjah Mada Jogjakarta. Lain halnya dengan si tengah, Nugroho, ia masih duduk di bangku SMU yang masih awam dengan kehidupan berumahtangga. Kemudian ada Teguh, adik Heratih, Maryam, dan Nugroho sekaligus kakah Hardini. Entah kenapa, ia selalu terlibat cekcok dengan Nugroho. Meskipun itu adalah hal yang sepele.

Dalam bidang karang-mengarang, pintu keluar pertama bagiku ialah siaran-siaran di RRI. (hal. 15)

Hardini yang hobi membaca dan menulis, akhirnya memberanikan diri untuk mengirimkan tulisannya ke radio RRI Yogjakarta. Pucuk dicinta ulam tiba, tulisannya yang berupa cerpen dan sajak, sering mengisi saluran sandiwara di radio tersebut. Namun permasalahan datang saat ia mengenal yang namanya cinta. Saat di Sekolah Rakyat (kini disebut Sekolah Dasar), ia mendengar kabar bahwa ada seorang anak laki-laki yang menaruh perhatian padanya. Tapi, ia tak ingin konsentrasinya bersekolah terganggu dengan gosip itu.

Setelah lulus dan meneruskan di SMP, ia mulai merasakan getaran cinta pada seseorang bernama Digar. Namun, apa daya, ternyata cinta itu bertepuk sebelah tangan. Meskipun Digar sangat perhatian padanya, Digar telah memilih orang lain yang hinggap di hatinya. Adik Digar, Marso, yang notabene adalah cowok idola di sekolahnya, mulai mendekati Hardini. Namun Hardini (yang lambat laun dipanggil Dini), tak menghiraukan perhatian Marso kepadanya.

Di SMA, ia kembali mengalami cinta sepihak dengan guru pemberantas buta huruf di desanya. Meskipun sang guru yang masih muda ini, Pak Yanto sangat menaruh perhatian terhadapnya, Dini hanya bisa menghindarinya kapanpun ia sempat. Lantas, ia jatuh hati kepada salah seorang pemain drama pada perkumpulan karawitan yang diikutinya. Namun apa daya, Dini hanya dianggap adik semata oleh Mas Nur, sang pujaan hati Dini.

Persoalan di rumahnya tidak begitu berat. Karena uang honorarium dari radio itu telah mampu mencukupi sebagian kebutuhannya. Sehingga ia tak perlu meminta tambahan uang pada ibunya yang telah ditinggal sang ayah. Perlakuan sang ibu pada awalnya adalah menganggap Dini sebagai anak kecil yang lugu dan tak tahu apa-apa. Namu lambat laun, sang ibu mulai terbuka pada Dini yang akhirnya membuat Dini bahagia. Ia pun mulai berkomentar terhadap orang-orang di sekelilingnya. Mulai dari sanak saudaranya, tetangganya, sampai bakal calon pengantin Nugroho dan Maryam. Kesuksesan kedua kakaknya dalam percintaan sampai ke pelaminan tidak menurun pada Dini. Ia seringkali mengalami cinta bertepuk sebelah tangan. Namun ia hanya bisa diam dan merenungi segala hal yang mengisi hari-harinya.

Bahasa yang digunakan penulis dalam novel ini adalah bahasa yang singkat dan mudah dimengerti. Selain itu, penulis mampu menghadirkan suasana tradisional namun peduli dengan perkembangan jaman dengan bahasanya. Bahasa yang seolah menasehati namun tidak menggurui membuat kita dapat menangkap pesan moral yang tersirat di dalamnya. Permasalahan Dini di sekolah, rumah, tempat karawitan, hingga masalah percintaannya cukup menarik untuk diikuti.

Namun sayangnya, meskipun bahasa di novel ini tidak terlalu kaku, banyak terdapat istilah-istilah kedaerahan yang kurang dimengerti. Selain itu, banyak pula istilah-istilah yang artinya terdapat pada novel yang lebih dahulu terbit. Hal ini akhirnya membuat pembaca yang belum pernah membaca karya Nh. Dini yang lain menjadi bingung. Alur yang maju membuat kita nyaman membacanya. Tetapi seringkali terdapat cerita yang menceritakan masa lalu (flashback), yang mungkin membuat sebagian pembaca agak kesulitan saat kembali ke cerita utama. Namun secara keseluruhan, novel ini sanggup membuat pembaca ingin mengetahui akhir ceritanya. Novel ini tentu sangat berharga bagi peminat sastra.  Novel ini teramat sayang apabila dilewatkan begitu saja.

Penilaian Akhir:

★★★

goodreads-badge-add-plus

Pingsan Together

coverlupusk

Judul: Pingsan Together

Seri: Lupus Kecil

Penulis: Hilman Hariwijaya & Boim Lebon

Penerbit: Gramedia Pustaka Utama

Jumlah halaman: 112 halaman

Terbit Perdana: Oktober 2003

Kepemilikan: Cetakan Pertama, Oktober 2003

ISBN: 9789792205136

cooltext1660180343

Mami dan Papi ketiban sial. Mami ditipu dua laki-laki yang mengaku tukang servis jok. Dan yang bikin kesel, Papi juga ditipu dua lelaki yang menipu Mami itu. Keluarga Lupus kompak pingsan sama-sama alias pingsan together!

Dalam buku ini juga ada cerita-cerita menarik lainnya, seperti cerita tentang Lulu yang nyaris hilang terbawa bus, atau tentang Lupus yang mau kabur dari rumah, dan masih banyak lagi!

Yang jelas, di setiap cerita selalu ada tebakan konyol dan… ada bonus dahsyatnya, yaitu kom…mik! Seru deh pokoknya!

cooltext1660176395

Ini merupakan buku seri Lupus kecil yang pertama dan satu-satunya yang saya miliki. Dalam buku ini terdapat sepuluh cerita yang memiliki keunikan masing-masing. Cerita yang paling menarik bagi saya adalah “Kerja di Hari Minggu? Oh, No!”.

Jadi dalam cerita ini, entah kenapa tiba-tiba Mami memberikan titah kepada Lupus dan Lulu untuk membereskan rumah. Kebetulan itu adalah hari Minggu. Tentu saja Lupus dan Lulu (yang berstatus anak kecil nan imut) ngomel-ngomel karena tak rela hari libur mereka terganggu.

 ”Nah, ini yang belum kami ngerti. Maksudnya beres-beres rumah itu gimana? Soalnya rumah kita ini kelihatannya beres-beres aja, tidak kurang suatu apa,” tanya Lupus bergaya pejabat. (hal. 23)

Tentu saja Mami memiliki jawaban jitu (dan iming-iming imbalan) bagi kedua anaknya agar bersedia membantu dalam rangka kebersihan rumah. Apakah hanya segitu saja? Tentu tidak. Meski awalnya berjalan cukup lancar, lambat laun hari bersih-bersih itu menjadi malapetaka dan berujung membuat Papi murka.

Cerita yang sangat menghibur juga bisa ditemukan pada kisah “Pingsan Together” yang merupakan judul di bagian cover. Sebenarnya cerita ini bersambung dengan kisah berjudul “Memburu Mobil yang Hilang”. Sesuai yang dicantumkan pada blurb diatas, sepertinya keluarga Lupus sedang tertimpa cobaan berat. Mulai dari Mami yang ditipu tukang servis jok hingga Papi yang mobilnya hilang dicuri. Apesnya lagi, penipu Mami dan pencuri mobil Papi adalah orang yang sama. Tentu saja hal ini membuat uang simpanan mereka menipis. Padahal Lupus & Lulu sudah dijanjikan piknik.

“Tenang.. Tenang…,” Papi masih berusaha menenangkan. “Kita semua akan tenang, karena sebentar lagi kita pasti… Pingsan together…” (hal. 63)

Alih-alih lapor polisi, mereka sekeluarga pergi ke dukun demi menemukan sang pelaku. Hal ini dikarenakan STNK mobil Papi sudah kadaluwarsa. Takutnya disita polisi kalo ketahuan. Di tempat dukun itupun juga tidak terlepas dari kekonyolan yang dialami hingga akhirnya pulang dengan sebuah jawaban mengejutkan atas permasalahan mereka.

Lupus merupakan buah karya kolaborasi Hilman Hariwijaya & Boim Lebon. Seri Lupus sempat melejit dan digandrungi remaja pada tahun 90-an. Bahkan sampai muncul serial televisinya juga. Saya pribadi tidak tahu tentang bekennya Lupus, karena saya masih usia SD saat itu (dan anggapan Lupus adalah nama penyakit membuat saya tidak peduli).

Di buku ini, Lupus kecil digambarkan sebagai anak yang suka main tebak-tebakan. Entah mengapa kebiasaan ini dimunculkan sebagai hobi Lupus. Eh adiknya, Lulu, juga demen main tebakan juga. Jadi sangat lumayan saya bisa menemukan berbagai tebakan menarik dalam sepuluh kisah yang disajikan. Selain itu, konflik yang disuguhkan setiap cerita sungguh sederhana sehingga mudah dimengerti. Penyelesaian dan pesan moral setiap cerita bisa dipetik untuk segala usia.

Meskipun tebakannya sangat banyak, saya rasa hal ini menjadi bumerang bagi jalannya cerita itu sendiri. Karena saya rasa beberapa tebakan terkesan dipaksakan untuk masuk dalam cerita, alih-alih mendukung kisah yang disajikan. Selain itu, karena buku ini terbit akhir 2003 membuatnya seolah-olah (memang) jadul sehingga ketika saya membacanya di masa kini menjadi “aneh dan kuno” karena perbedaan kebiasaan.

Satu lagi yang menurut saya kelemahan buku ini adalah kurangnya eksplorasi tokoh dan penokohan. Hampir pasti di setiap cerita hanya berkutat pada Lupus, Lulu, Mami, dan Papi. Selang-seling sampai bosen. Memang sih saya tau mereka adalah tokoh utama. Tapi saya rasa menghadirkan keempat tokoh terus-terusan malah jadi membosankan. Padahal tokoh lain juga bisa dijelaskan secara menarik, misalnya teman-teman Lupus atau tetangga Mami.

Secara umum, pantas saja kisah Lupus Kecil bisa dijadikan bacaan mendidik bagi anak-anak. Selain itu, setiap cerita ada bosmik alias bonus sisipan komik dua halaman sehingga membuat pembaca mudah menggambarkan situasi cerita yang didominasi teks. Anak-anak bisa menangkap maksud setiap cerita dengan mudah karena permasalahan yang diangkat sangat bersinggungan dengan kehidupan sehari-hari.

Penilaian Akhir:

★★★

goodreads-badge-add-plus

Telepon Umum & Kecoak Nungging

coverlupusa

Judul: Telepon Umum & Kecoak Nungging

Seri: Lupus ABG

Penulis: Hilman Hariwijaya & Boim Lebon

Penerbit: Gramedia Pustaka Utama

Jumlah halaman: 96 halaman

Terbit Perdana: Oktober 1999

Kepemilikan: Cetakan Keempat, September 2004

ISBN: 9789796554194

cooltext1660180343

Lupus jail!

Semua orang tau!

Lupus usil!

Semua orang ngerti!

Lupus centil!

Semua orang juga, eh, enggak ding!

Gara-gara ber-ail-ria dengan kecoak nungging, si Lupus bisa mesra ama Prudence!

“Cayangku, kamu tau nggak hewan bersel satu?”

“Amuba, honey.”

“Kalo hewan bersel banyak?”

“Enggak tau, tuh.”

“Amuba lagi kampanye! Hehehe!”

Tapi gara-gara kecoak nungging itu ngedatenya juga jadi berantakan!

Apa istimewanya kecoak nungging itu, kok bisa-bisanya bikin Lupus senang sekaligus sengsara? Pengen tau? Baca aja!

cooltext1660176395

Lupus sekarang sudah ABG alias Anak Baru Galau *eh. Maksudnya Anak Baru Gede, atau bahasa resminya sih Remaja. Ketika masih remaja, saya teringat dengan perilaku seenaknya sendiri dan semau gue, tapi tak jarang menimbulkan penyesalan ataupun malapetaka. Kalo istilah jaman sekarang sih, ababil kali ya. Begitu pula yang dialami oleh Lupus.

Di buku ini ada delapan cerita mengenai kehidupan Lupus yang beranjak remaja. Mulai dari mengenal cinta-cintaan, pacaran, pergaulan diluar sekolah, dan sebagainya. Dari sekian kisah tersebut, saya suka dengan cerita berjudul “Biasa, Tujuh Belasan Lagi”. Cerita ini mengangkat problema Lupus yang tergabung dengan Karang Taruna kompleks rumahnya. Lupus dan anak muda sekompleks berencana mengadakan peringatan Hari Kemerdekaan Indonesia (aduh jadi kangen masa-masa di karang taruna desa saya dulu).

Tetapi masalahnya, selain anak muda, bapak-bapak dan ibu-ibu komplek rumah Lupus juga mengadakan acara peringatan kemerdekaan pula. Otomatis dana yang diperoleh Lupus cs jadi berkurang. Lha donaturnya sibuk bikin acara juga. Bukan Lupus namanya jika tidak kreatif. Ia sukses menemukan ide untuk sokongan dana sebagai bekal acara itu. Meski dengan pinjaman Bang Aziz, sang ketua Karang Taruna. Namun akhirnya malah menemui hal yang sangat menyedihkan bagi Lupus, Bang Aziz, dan anggotanya yang lain.

“Itu juga betul. Tapi, Pus, kamu tau kan kalo pahlawan-pahlawan kita berkorban tanpa pamrih. Mereka rela mengorbankan segala-galanya, dari mulai uang, tenaga, pikiran, ya semuanya dikorbankan demi kemerdekaan bangsa kita. Coba kamu bandingkan dengan pengorbanan kita ini. Nggak ada apa-apanya, kan?” (hal. 43) 

Bagus banget gak sih kata-katanya Bang Aziz itu. Saya sendiri merasa tersindir juga karena kurang (bahkan tidak) bisa menghargai pengorbanan para pahlawan kemerdekaan. Selain kisah diatas, yang menurut saya menarik adalah cerita berjudul “Tamu Tak Diundang Itu Bernama Dadang”. Kisah ini terdiri dari dua bagian yang sekaligus menjadi penutup rangkaian kisah di buku ini. Membaca istilah tamu tak diundang, saya langsung teringat sejenis-setan-yang-kamu-pasti-sudah-tau. Tetapi perkiraan saya meleset sodara-sodara.

Jadi, Dadang itu adalah teman Mami waktu masih SMA dulu. Atau lebih tepatnya mungkin adalah kekasih Mami ketika SMA. Nah, si Dadang ini tiba-tiba muncul di depan rumah Mami setelah bertahun-tahun menghilang tanpa kabar. Tentu saja Mami kaget sekaligus senang bisa bertemu dengan cinta masa lalunya *ahem CLBK ni yee*.

Hal ini membuat Papi menjadi jealous. Ya iya lah, suami mana yang gak cemburu coba. Jadi Papi berusaha dengan keras mencari tahu hubungan Mami dan Dadang itu. Yah siapa tau tiba-tiba ada sesuatu yang dirahasiakan. Saya suka dengan kata-kata Papi di akhir cerita ini. Sangat makjleb banget.

“Ya, sebetulnya Papi ngerti kalo Mami sedang berada dalam sebuah kenangan manis. Tapi yang namanya kenangan hanya boleh diingat-ingat aja, nggak usah berharap kenangan itu menjadi nyata lagi.” (hal. 84)

Seperti seri Lupus Kecil, buku ini masih mempertahankan hobi Lupus (dan Lulu) yaitu bermain tebakan. Setiap cerita ada aja tebakan yang bisa saya comot ketika ngumpul bareng teman-teman. Kemajuannya, tebakan yang tersaji di buku ini tidak terlalu banyak dan fokus kepada inti cerita. Konflik dan problematika yang disuguhkan sangat dekat dengan kejadian sehari-hari. Sehingga memahami dan menarik kesimpulan juga sangat terbantu.

Selain itu, setiap kisah pasti ada pesan moralnya, atau minimal ada kata-kata mutiara seperti diatas. Sehingga saya rasa kisah tersebut tidak hanya lucu, namun ada goal yang tercapai. Karikatur yang menhiasi setiap cerita (biasanya dua karikatur) membuat proses membaca jadi happy. Soalnya imut sekali gitu lho hehehe. Oh iya, di bagian tengah buku, ada delapan halaman mengenai tips & trik dalam menghadapi masalah sehari-hari. Tentu saja ditulis hanya untuk lucu-lucuan saja.

Sayangnya, edisi perdana tahun 1999 membuat berbagai macam hal di buku ini menjadi ketinggalan jaman. Contohnya adalah kado yang dibeli Lupus untuk Lulu yaitu sebuah pager seharga dua puluh ribu perak. Saya gak tau ya tingkat nilai rupiah jaman itu seperti apa, tapi hal ini membuat saya jadi berpikir sepertinya buku ini memang untuk generasi om tante saya. Selain itu penyebutan mobil menjadi boil juga sempat membingungkan saya yang tidak mengerti maksudnya. Oh iya, bagaimana dengan cerita “Telepon Umum & Kecoak Nungging” yang tercantum di cover? Sungguh disayangkan, saya sama sekali tidak bisa mengerti kenapa judul cerita itu yang dipilih sebagai headline (selain berada di urutan pertama tentu saja). Karena saya rasa kisah itu justru biasa-biasa saja dan tidak terlalu greget.

Lupus ABG ini menurut saya sangat cocok dibaca bagi segala umur. Karena bahasa yang sangat mudah dipahami dan tidak kaku, serta kelucuan yang dikemukakan juga sesuai dengan jamannya. Sebab meskipun sudah ABG, Lupus masih seorang anak yang baik dan mengutamakan keluarga. Berbeda dengan ABG jaman sekarang yang bertransformasi jadi cabe-cabean dan terong-terongan. *halah malah OOT*

Penilaian Akhir:

★★

goodreads-badge-add-plus