Rss

Sejak Awal Kami Tahu, Ini Tidak Akan Pernah Mudah

coversejak

Judul: Sejak Awal Kami Tahu, Ini Tidak Akan Pernah Mudah

Sub Judul: Jalan Berliku Cinta dan Impian

Penulis: Sisimaya

Penerbit: DIVA Press

Jumlah Halaman: 268

Terbit Perdana: Februari 2016

Kepemilikan: Cetakan Pertama, Februari 2016

ISBN: 9786023910809

cooltext-blurb

Dua jalan bercabang dalam hutan. Dan aku-

Aku memilih yang jarang ditempuh

Dan perbedaannya besar sungguh.

“Jalan yang Tak Dipilih” —Robert Frost

 

Pikiranku dipenuhi dengan satu tanda tanya yang tak seorang pun bisa membantuku memberikan jawaban. Benarkah jalan dengan semak belukar yang belum pernah ditempuh itu kelak akan membawa perubahan besar dalam hidupku?

 

Agus dalam dilema. Kariernya sebagai auditor di kosmopolitan Jakarta sedang menanjak, namun sang kakak memintanya pulang ke Desa Manggar Wangi di Blitar. Mas Bayu membangun mimpi membuat pabrik gula jawa. Dan Agus diminta untuk membantu mewujudkan mimpi itu.

Banyak yang Agus pertaruhkan; kenyamanan pekerjaan, cinta sang kekasih.

Maka, jalan mana yang akan ia pilih?

cooltext-review

Percayalah, manisnya gula jawa tidak selalu bisa memaniskan hidup pembuatnya. (Halaman 9)

Novel ini dibuka dengan tokoh utama Agus Wicaksono yang harus lahir namun kehilangan ibu. Masa kecilnya dihabiskan berdua dengan ayah yang seorang pengrajin gula jawa di Kabupaten Blitar, mengikuti tradisi turun temurun di desa Manggar Wangi. Keluarga yang sangat sederhana ini tidak selalu berbahagia. Puncaknya, kehilangan ayah selama-lamanya membuat Agus harus mengalami kisah pilu.

Ingat, Le, sebisa mungkin hindari berutang. Urusannya bisa panjang di akhirat nanti jika kamu berutang di dunia dan meninggal sebelum utangmu itu dilunasi. (Halaman 41)

Kondisi menyesakkan yang dialami Agus berangsur membaik ketika ia diangkat menjadi anak Pak Lurah. Pesan mendiang sang ayah selalu Agus ingat hingga memasuki jenjang perkuliahan sehingga tidak merepotkan keluarga barunya. Perjuangan menamatkan kuliah mengantarkannya menjadi warga metropolitan dengan kemewahan dan jabatan strategis sebuah perusahaan terkemuka.

Cinta itu memang klise. Tapi terkadang ia bisa membuat segala urusan menjadi rumit. (Halaman 75)

Kehidupan Agus di Jakarta mulai terusik ketika anak sulung Pak Lurah, Bayu, mengajaknya mendirikan pabrik gula di Manggar Wangi. Agus tak langsung menyanggupi. Selain rasa bimbang meninggalkan kesuksesan, ia juga sulit berhubungan jarak jauh dengan Anggi, kekasih yang hendak ia lamar. Namun sebuah kesepakatan dengan atasannya di kantor membuatnya mengikuti ide Bayu.

Selama kita masih mau merasakan perasaan dan kepentingan orang lain, kita tidak perlu takut menjadi tidak berguna untuk sesama. Hati yang dikotori oleh keegoisanlah yang membuat seolah tak ada gunanya Tuhan menciptakan kita, sekalipun hidup bergelimang harta. (Halaman 109)

Sejak saat itu, pembangunan pabrik dilaksanakan. Ilmu teknik yang dimiliki Bayu dan ilmu teknologi pangan milik Agus menghasilkan pabrik dengan sistem bagus. Sayangnya, perjalanan menuju pembuatan gula kelapa harus menemui cobaan bertubi-tubi. Tetapi Ratna, adik Bayu yang mengidap kekurangan ternyata bisa menjadi penyelamat menyelesaikan masalah.

Pada akhirnya, tetap saja ada cinta yang tidak mungkin bisa digenggam sekalipun sudah jatuh cinta mati-matian. (Halaman 160)

Meskipun permasalahan mengenai pabrik gula ini terselasaikan, tujuan akhir yang dharapkan Bayu dan Agus tidak tercapai mulus. Bahkan polemik antara Agus, Ratna, dan Anggi, muncul ditengah proses operasi pabrik yang tidak bisa ditinggal. Lantas, bagaimana Agus menyikapi segalanya? Apakah keputusannya benar dengan kembali ke desa dan meninggalkan hingar-bingar ibukota?

Dan biasanya hal-hal yang bertentangan dengan kelaziman yang sudah jamak diterima masyarakat biasanya masuk dalam kategori tidak normal alias gila. (Halaman 164)

Novel ini cukup padat dengan 20 bab cerita, ditambah prolog dan epilog. Jumlah halaman tiap bab yang tidak banyak membuat saya memiliki jeda dalam membaca. Cover buku yang memiliki siluet rumah, pohon kelapa, dan gedung bertingkat merepresentasikan isi novel. Banyaknya kutipan kalimat bagus serta berbagai ilmu yang diberikan penulis membuat saya sering ber-ooh.

Hal yang saya sayangkan adalah Manggar Wangi. Saya tidak mendapatkan jawaban mengapa penulis harus membuat desa fiktif. Saya lahir dan tumbuh dewasa hingga saat ini di Blitar. Seumur hidup saya tidak pernah tahu Manggar Wangi. Bahkan saya membaca Peraturan Menteri Dalam Negeri Nomor 56 Tahun 2015 Tentang Kode dan Data Wilayah Administrasi Pemerintahan di Jawa Timur, tetap nihil. Seharusnya penulis memakai Desa Dayu sebagai sentra penghasil gula jawa di Blitar, tidak perlu mengada-ada.

Oh iya, novel ini sangat terasa sekali suasana Jawa Timur, khususnya Blitar. Karena saya merasa adat dan kebiasaan dalam kisah ini erat sekali dengan lingkungan saya yang ditunjang berbagai istilah bahasa Jawa yang digunakan. Namun alangkah lebih baik apabila dilengkapi catatan kaki karena ada beberapa ungkapan yang mungkin tidak dimengerti orang yang tidak memahami bahasa Jawa.

Mengenai tokoh, penulis piawai menciptakan tokoh yang cerdas dan baik hati. Saya bisa merasakan aura tokoh Bayu seperti BJ Habibie yang pintar dan rendah hati. Sedangkan tokoh Agus, justru saya agak kurang suka karena tidak tegas mengambil keputusan akibat terlalu banyak hal yang ia pertimbangkan, termasuk kelanjutan hubungannya dengan Anggi.

Ratna menurut saya adalah kuda hitam dalam cerita ini. Dibalik kekurangannya, ia menjadi juru kunci penyelamat dari jerat masalah pabrik. Hal ini membuat kisah ini terasa manis bagai gula kelapa meskipun saya sudah bisa menebak akhir ceritanya. Intinya, novel ini berisi banyak pembelajaran bagi anak muda masa kini. Sebagai penutup, ini ada kutipan paling favorit.

Menurut Mas Bayu, sudah terlalu banyak anak muda yang tergiur untuk berkarier di kota dan lupa bahwa kampung halaman mereka juga memerlukan sumbangan buah pikiran dan tenaga. (Halaman 260)

Penilaian Akhir:


goodreads badge add plus

Assalamu’alaikum warahmatullahi wabarakatuh.

Blog Rico Bokrecension mendapatkan kehormatan menjadi host blogtour buku Sejak Awal Kami Tahu, Ini Tidak Akan Pernah Mudah. Apakah kamu sudah ikutan giveaway kloter pertama di blog Utami Pratiwi? Belum menang? Sudah ikut yang kloter kedua di blog Nisa Rahmah? Masih belum sukses? Bagaimana dengan kloter ketiga di blog Afifah Mazaya? Masih belum dapet juga?

Baiklah ini adalah kesempatan terakhirmu mendapatkan satu novel Sejak Awal Kami Tahu, Ini Tidak Akan Pernah Mudah gratis persembahan DIVA Press. Syarat dan mekanismenya mohon diperhatikan dengan cermat. Karena partisipan yang tidak memenuhi ketentuan akan didiskualifikasi dan tidak akan memiliki kesempatan menang.

  1. Follow twitter divapress01 atau like fanpage Penerbit DIVA Press.
  2. Follow twitter richoiko.
  3. Promosikan GA ini melalui twitter dengan mention divapress01 dan richoiko. Jangan lupa cantumkan url giveaway ini ya.
  4. Ceritakan SATU hal yang ada di daerahmu (bisa daerah tempat tinggalmu saat ini atau kampung halamanmu) yang kurang dilirik namun menyimpan potensi besar apabila dikembangkan. Hal tersebut bisa berupa kuliner, pariwisata, kerajinan, sumber daya alam, atau apapun.
  5. Jika sudah melengkapi semua persyaratan diatas, silakan tinggalkan komentar di bawah postingan ini dengan mencantumkan Nama, Link Share, dan Jawaban.
  6. Pemenang dipilih berdasarkan jawaban yang menurut saya paling unik.
  7. Periode giveaway ini berlaku mulai tanggal 21 Maret 2016 hingga tanggal 27 Maret 2016 jam 23.59 WIB, dan hanya untuk kamu yang memiliki alamat kirim di Indonesia. Pengumuman pemenang pada tanggal 28 Maret 2016.

Nah, sekian informasi giveaway dalam rangkaian terakhir blogtour buku Sejak Awal Kami Tahu, Ini Tidak Akan Pernah Mudah di Rico Bokrecension. Terima kasih sudah membaca postingan ini sampai akhir. Bagi kamu yang sudah ikutan, saya doakan semoga menang.. (˘ʃƪ˘) Jika ada yang kurang jelas, jangan sungkan tanya ya.

Wassalamu’alaikum warahmatullahi wabarakatuh.

Assalamualaikum warahmatullahi wabarakatuh dan selamat pagi!

Sebelumnya, saya mengucapkan mohon maaf atas beberapa kendala yang terjadi selama berlangsungnya giveaway ini. Tak lupa saya mengucapkan terima kasih pada penerbit DIVA Press yang memberikan kesempatan pada saya untuk menjadi host dalam blogtour. Terima kasih juga saya ucapkan kepada penulis, Sisimaya, atas kesediannya saya usik sebentar melalui twitter karena bertanya beberapa hal hehe.

Terakhir, untuk 14 orang yang telah mengikuti giveaway ini, terima kasih banyak! Jawaban kalian bagus-bagus semua. Membuat saya yakin bahwa Indonesia masih memiliki banyak potensi daerah yang unggul. Langsung saja, ini dia nama pemenang beserta jawabannya yang berhasil mendapatkan hadiah buku Sejak Awal Kami Tahu, Ini Tidak Akan Pernah Mudah:

RINI CIPTA RAHAYU
Aku berasal dari Sibetan, Karangasem. Salah satu desa di timur pulau Bali yang terkenal sebagai daerah penghasil buah Salak terbaik di Bali. Buah dan olahan inilah yang jadi sumber daya alam yang menjadi unggulan daerahku. Salak yang kini tersebar di di Bali saat ini diduga berasal dari Sibetan. Sekitar 13 jenis Salak Bali telah teridentifikasi, yang biasa dikonsumsi adalah salak biasa (salak Bali), salak gula pasir, salak nangka. Jenis Salak Gula Pasir yang menjadi unggulan karena daging buahnya berwarna putih, rasanya manis tanpa rasa sepat atau asam.
Sebenarnya sudah ada agrowisata dan kelompok-kelompok tani yang membuat olahan dari Buah Salak, selain menjual buah aegar dan menyediakan bibit tanaman. Hanya saja masih ada banyak kendala terkait pengembangan potensi lokal ini. Agrowisata belum banyak dikenal, pengelolaannya juga masih perlu ditingkatkan. Pemasaran olahan Salak seperti wine, dodol salak, kurma salak, keripik salak juga masih terbatas. Sumber daya manusianya juga menurutku dapat ditingkatkan dengan mengadakan pelatihan atau pengembangan usaha kecil menengah. Ketika masa panen, harga Salak bisa menjadi sangat murah per kilogramnya.
Jika dikembangkan dan dikelola dengan baik, aku yakin Salak bisa menjadi ciri khas Karangasem dan tentu saja tujuan wisata baru. Masyarakat juga diberdayakan sehingga dapat meningkatkan kesejahteraan ekonomi.

Yak, selamat! Untuk pemenang, akan saya hubungi melalui media sosial. Diwajibkan konfirmasi maksimal tanggal 30 Maret 2016 pukul 09.00 WIB. Kalau tidak ada kabar sama sekali, saya akan pilih pemenang baru. Bagi yang belum beruntung, jangan kecewa. Saya akan mengadakan giveaway lagi di blog ini. Kapan? Rahasia. Tunggu aja pokoknya :)

Wassalamualaikum warahmatullahi wabarakatuh dan sampai jumpa lagi!

Miminlicious

covermiminlicious

Judul: Miminlicious

Sub Judul: Tak Ada Mimin yang Tak Retak

Penulis: Jacob of @divapress01

Penerbit: DIVA Press

Jumlah Halaman: 212 halaman

Terbit Perdana: Januari 2015

Kepemilikan: Cetakan Pertama, Januari 2015

ISBN: 9786022558002

cooltext1660180343

Alkisah….

Setelah menonton Twilight, seorang pemuda jadi rajin berkaca. Dia mematut-matut diri, mulai dari rambut, warna kulit, hingga biseps dan trisepnya. Lama kemudian, dia bergumam, “Hih! Kok nggak mirip si Jacob, sih!”

Sejak itu, dia pun terobsesi… dan muncul dalam jagat maya melalui akun @divapress01. Kehadirannya selalu dinanti followers. Banyak yang tergila-gila, nggak sedikit yang iri hati. Ototnya dari kawat, biar jempolnya bisa ngeladenin pertanyaan-pertanyaan followers yang ajaib. Tulangnya dari besi… *Ish! Ini MinCob apa Gatotkaca.

Siapakah Jacob sebenarnya?

Sebuah fanpage dan akun eksis karena dukungan para followers. Jadi, seajaib apa pun seorang followers, seorang admin ditutntut memiliki kesabaran dalam rangka melayani mereka. Kita akan kuak bersama bagaimana keseharian Jacob, seorang admin yang baru naik daun *juga naik darah karena tiap hari dikerjain followers.

cooltext1660176395

Pada jaman modern saat ini, internet bukanlah hal yang sulit untuk diakses kebanyakan orang. Selain mencari berbagai informasi, internet juga menawarkan sebuah hal baru yaitu media sosial. Jika setengah abad lalu orang-orang harus menempuh jarak cukup jauh dan bertatap muka jika ingin berbincang, sekarang cukup dengan update status ataupun nge-twit sudah bisa bercengkrama dengan orang lain di belahan bumi yang lain.

Media sosial, sebut saja twitter dan facebook, pada awalnya hanya digunakan oleh individu. Namun seiring perkembangan jaman, berbagai perusahaan ataupun instansi, bahkan berjualan produk juga bisa dituangkan dalam media sosial. Meskipun menyandang nama sebuah lembaga, akun tersebut tetap dioperasikan oleh seseorang. Orang ini biasa disebut dengan administrator (biasa disingkat admin). Kalau boleh saya katakan sih, admin ini adalah seorang operator yang menjalankan akun suatu lembaga itu.

Dalam dunia perbukuan, akun media sosial tentu dimiliki oleh penulis dan pembaca. Tidak heran karena mereka berdiri sebagai diri mereka sendiri. Bagaimana dengan penerbit? Ternyata penerbit tak mau kalah. Beberapa penerbit juga memiliki akun media sosial yang dalam kesehariannya dioperasikan oleh seorang admin. Lain penerbit, lain pula akunnya. Hal ini otomatis membuat adminnya juga beda *yaiyalah. Salah satu penerbit dengan admin yang “berbeda” adalah penerbit DIVA Press dengan akun @divapress01.

Admin media sosial penerbit ini dijuluki MinCob, MinLev, dan (dulu ada) MinDah. Ibarat kepribadian dan perbedaan karakter tiap orang, para followers akun ini (yang berjumlah ribuan) juga memiliki “keunikan” tersendiri. Oleh karena itu, salah satu admin akun penerbit DIVA, MinCob, bermaksud berbagi tentang hal-hal “berbeda” itu selama menjadi admin.

Begitulah anak jaman sekarang. Saking kreatifnya, ada lho yang bercita-cita ingin menjadi seorang admin fanpage atau grup komunitas di media sosial. (Hal. 4)

Buku ini terdiri atas delapan bagian utama yaitu Bagian Pengantar, Bagian berjudul “Dunia Mimin” dari satu sampai enam, serta Bagian Penutup dan Terima Kasih. Pada bagian Dunia Mimin 1 dengan sub judul Takkan Lari Admin Dikejar, MinCob bercerita tentang obrolannya dengan beberapa followers (yang sudah disamarkan namanya).

Bukan obrolan biasa dan penuh kewajaran, melainkan obrolan yang awalnya biasa namun kemudian justru bikin keki dan emosi jiwa. Saya rasa baik MinCob ataupun sang follower juga sama emosinya (dalam hal yang berbeda, tentu saja). Bagian ini sukses bikin saya ngakak sih. Soalnya apa ya, kalau saya jadi MinCob, pasti udah minus umur saya ngeladenin follower yang kudet gitu. Hih!

Lu cerewet banget ya Min, kayak corong stasiun! (Hal. 35)

Bagian Dunia Mimin 2, memiliki sub judul Rupa-Rupa Kak Nita. Sejenak meninggalkan ocehan MinCob, saya diajak berkenalan dengan keseharian Kak Nita. Bagi yang belum tahu, Kak Nita ini adalah orang yang bertanggungjawab dengan segala kepentingan orang-orang yang ingin memesan buku DIVA Press.

Karena Kak Nita bisa dijangkau melalui nomor telepon, maka percakapan dan obrolan “tidak biasa” juga disajikan dari hasil SMS dan telepon yang Kak Nita alami. Karena itu, bagian Kak Nita ini jadi cukup panjang. Agak takjub sih saya, kok ya ada para (calon) pemesan buku yang ngeselin begitu.

Masak penerbit kok nggak tahu jadwal dan rute bus malam. *tutup telepon* (hal. 61)

Selanjutnya, saya diajak ke bagian Dunia Mimin 3, dengan sub judul Admin Baik vs Mimin @divapress01 Slebor. Sudah sempat saya singgung diawal, admin itu ada berbagai macam. Alih-alih menjadi admin yang baik dan penuh semangat kehangatan demi para followers-nya, admin @divapress01 ini justru mendobrak pakem dengan menjadi admin yang ehm “unik”.

Segala keunikan dan betapa slebor-nya kata-kata admin ini (khususnya dalam twitter) disajikan dengan membandingkan tulisan admin baik dan admin slebor. Lucu sih, soalnya saya nggak ngira aja admin yang membawa nama lembaga justru berkelakuan begini. Tapi memang tidak bisa dipungkiri, ini justru menjadi nilai plus admin @divapress01 yang slebor ini.

Admin-admin slebor macam merekalah yang entah kenapa malah digilai oleh follower dengan jumlah follower yang ngehit sampai ratusan ribu. (Hal. 76)

Setelah berkenalan dengan Kak Nita, saya diajak berkenalan dengan Mas Dion. Pada bagian Dunia Mimin 4 dengan sub judul Proposal Oh Proposal ini, diceritakan beberapa keganjilan-keganjilan yang dialami Mas Dion selama bertanggungjawab menangani program buku gratis DIVA Press. Sekedar informasi, DIVA Press memiliki sebuah program bernama #AksiSejutaBukuGratis yang diperuntukkan bagi perpustakaan-perpustakaan di seluruh Indonesia.

Jadi intinya pihak perpustakaan yang berminat, bisa mengirimkan proposal pengajuan untuk mendapat buku gratis. Apabila sudah acc, voila! 100 eksemplar buku gratis dari DIVA Press sudah bisa dibawa ke perpustakaan tersebut. Nah, pengalaman Mas Dion menghadapi para (calon) pemohon inilah yang memenuhi bagian ini. Saya juga tidak menyangka ada orang-orang yang saking kudet-nya jadi tidak memahami prosedur yang ada *pukpuk Mas Dion*.

Buset itu tulisannya kecil-kecil, hemat bahan banget, spasinya setengah sentimeter dengan font Calibri dikebiri. (Hal. 120)

Setelah dibuat nyengir-nyengir membaca empat Dunia Mimin tadi, pada Dunia Mimin 5 dan 6 memiliki konsep yang hampir sama. Di Dunia Mimin 5, MinCob (atau MinLev juga?) membagikan pertanyaan-pertanyaan penting-nggak penting dari followers, yang kemudian dijawab juga dengan absurd oleh MinCob. Sedangkan bagian Dunia Mimin 6, perbedaannya adalah MinCob membagikan jawaban dari pertanyaan followers yang aslinya itu nggak direspon.

Pada umumnya sih, saya menyukai konsep buku ini. Seorang admin @divapress01 slebor berbagi tentang kesehariannya. Sedikit banyak hal ini bisa membuat para non-admin, khususnya followers, menjadi tahu tentang dunia admin. Tidak selamanya menjadi admin itu enak. Namun bukan berarti menjadi admin itu selalu menguras emosi. Yang penting bagaimana tetap enjoy dalam menjalani pekerjaan itu.

Layout dan tata letak yang sangat cantik, plus beberapa karikatur unyu di beberapa halaman, membuat buku ini rame. Tulisan MinCob saja sebenarnya sudah lucu. Namung dengan adanya panel-panel unyu dan selipan nggak penting dalam pojok-pojok tulisan membuat saya sering nyengir saat membacanya.

Sayangnya, saya kecewa dengan bagian Dunia Mimin 5 dan 6. Sebenarnya lucu-lucu aja sih membaca pertanyaan absurd followers sekaligus jawaban tambah absurd dari MinCob. Tetapi jumlah halaman yang sangat banyak (sekitar 83 halaman) membuat saya bosan. Sorry to say, bahkan saya tidak bisa menyelesaikan buku ini sekali duduk karena sudah keburu males dengan seabrek pertanyaan-jawaban absurd itu. Alhasil, tehnik skip-skip-skip saya lakukan.

Tapi besoknya saya baca lagi bagian ini. Ternyata, kalau sedikit dan tidak dibaca dalam waktu yang sama, saya justru dapet lucunya. Tapi kalau langsung dibaca semua sampai habis dalam satu waktu? Zzzz. Berarti sekitar 39% buku ini hanya berisi ocehan itu. Padahal kalau dibanyakin Dunia Mimin 1, 2, 3, ataupun 4, tentu buku ini lebih menarik.

Hidup itu perjuangan, penuh cobaan, dan butuh kesabaran, sesabar MinCob @divapress01 jawab pertanyaan-pertanyaan absurd para followers. (Hal. 141)

Pada bagian terakhir buku ini, saya justru lebih mendapat feel-nya. Tentang ucapan MinCob kepada para kontributor a.k.a followers yang sudi nama akunnya dicantumkan dalam halaman terima kasih. Selain itu juga ada halaman Tentang Penulis mengenai asal-usul MinCob. Lantas, siapakah MinCob itu? Sampai kata terakhir dalam buku ini pun masih belum terjawab. Yang jelas, MinCob akan tetap berusaha menjadi sahabat pembaca dalam mengarungi dunia perbukuan saat ini. Nice book, MinCob!

Penilaian Akhir:

★★★

goodreads-badge-add-plus