Rss

Archives for : C | publisihing

The Naked Traveler

covertnt1

Judul: The Naked Traveler

Sub Judul: Catatan Seorang Backpacker Wanita Indonesia Keliling Dunia

Penulis: Trinity

Penerbit: C | publisihing

Jumlah Halaman: xii + 282

Terbit Perdana: Juni 2007

Kepemilikan: Cetakan Kesepuluh, Juli 2009

ISBN: 9789792439366

cooltext-blurb

Ada banyak kisah menarik yang dituturkan dengan gaya bahasa yang santai dan ringan oleh Trinity dalam buku ini. Lucu, sedih, mendebarkan, bahkan menyebalkan. Semua itu menjadi bumbu sedap dalam pengalamannya menjadi “backpacker” yang melanglang buana ke berbagai tempat, baik di dalam maupun di luar negeri.

Membaca buku ini, kita akan memperoleh bermacam informasi tentang kebudayaan berbagai bangsa yang unik, tempat-tempat yang “harus” dikunjungi atau dihindari, serta tips dan trik saat traveling ke sebuah negeri. Pada akhirnya, setelah menutup buku ini, bisa jadi kita semakin mencintai negeri sendiri.

Happy traveling!

“Sebuah karya yang sangat personal, jarang terungkap tapi sarat informasi.” – Wien Muldian, pustakawan, pekerja literasi, dan pelancong

“Penuh petualangan, berwawasan, informatif, sering kali lucu…. Merupakan titik kebangkitan bagi yang dunia traveling-nya hanya bermula di Bogor dan berakhr di Bali.” – Daniel Ziv, penulis buku Jakarta Inside Out, Sutradara film dokumenter Jalanan

“Tulisannya spontan, jujur dan personal banget, lengkap dengan pikiran-pikiran liarnya…. Penting buat referensi kalau mau jalan-jalan ke daerah-daerah non-turistik yang seru itu.” – Edna C. Pattisina, wartawan Kompas yang suka jalan-jalan

“It was great pleasure, and even greater fun to read through Trinity’s anecdotes from her travels throughout the World.” – Laszo Wagner, hardcore backpacker asal Hongaria, salah satu penulis buku Lonely Planet.

cooltext-review

Traveling atau jalan-jalan merupakan kegiatan yang lumrah dilakukan orang-orang. Umumnya orang-orang melakukan traveling dalam rangka refreshing melepas penat pada saat liburan. Tujuan traveling juga ada yang dekat ataupun jauh dari tempat tinggal. Jika berbicara traveling dalam konteks liburan, tentu yang dimaksud biasanya berwisata ke tempat-tempat terkenal dan banyak turis yang ikut traveling disana. Hal ini pula yang dialami oleh Trinity, sang penulis buku ini.

Trinity adalah potret seorang mbak-mbak kantoran (pada masa itu) yang hobi jalan-jalan alias traveling. Sayangnya, ia tidak bisa seenak udel traveling dalam rangka wisata akibat pekerjaan rutinnya sebagai karyawati. Oleh sebab itu, ia menyisipkan hal-hal berbau rekreasi meskipun ia melakukan perjalanan dinas ke daerah lain. Lambat laun, pengalamannya dalam hal traveling sudah cukup banyak dan ia bersedia berbagi melalui buku ini.

Buku ini terdiri atas tujuh bagian atau bisa saya katakan sebagai bab yang memiliki tema sendiri-sendiri. Setiap bagian terdiri atas beberapa cerita. Bagian pertama adalah Airport yang mengisahkan berbagai pengalaman Trinity dalam dunia per-bandara-an. Bagian ini terdiri dari delapan cerita, namun favorit saya adalah kisah berjudul Pilih Makan Rendang atau KKN. Jadi dalam kisah ini dituliskan tentang pengalaman Trinity melewati bagian penitipan bagasi. Sayangnya, ada beberapa bandara yang tidak memperbolehkan satu dan lain hal dibawa masuk kedalam pesawat karena alasan khusus.

Saya jadi merasa beruntung karena pernah meloloskan 5 kg rendang ke Amsterdam gara-gara punya Om yang kerjanya di airport situ. Hehe, KKN boleh, dong! (Halaman 18)

Bagian kedua berjudul Alat Transportasi dengan sepuluh cerita. Saya suka dengan kisah berjudul Kumbang, Pantat, dan Kentut yang menyoroti kendaraan pribadi Trinity, sebuah mobil kijang yang dinamai Kumbang. Si Kumbang ini sudah sangat lama menemani keseharian Trinity. Sampai-sampai Kumbang dirasa memiliki nyawa karena membuat repot Trinity disaat yang tidak tepat.

Hah, ternyata ban mobil tadi adalah ban Kumbang yang lepas! Saya langsung turun mengejar si ban yang terus menggelinding… dan akhirnya ban tersebut nyebur ke sungai! (Halaman 62)

Life Sucks! adalah judul bagian ketiga yang terdiri dari sebelas cerita. Bagian ini menyuguhkan berbagai pengalaman Trinity yang menyebalkan akibat suatu hal yang membuat emosi jiwa. Favorit saya adalah Sial atau Tolol? Yang membuat saya tertawa karena kesialan Trinity yang tak kunjung reda (ups, maaf ya Mbak hehe). Salah satu kesialan itu adalah jalanan yang macet parah padahal ia sedang mengejar penerbangan terakhir hanya karena ada kegiatan warga.

Untuk antisipasi, saya pernah berangkat dari Salatiga 4 jam sebelum keberangkatan naik pesawat terakhir dari Semarang. Tak dinyana, jalan macet berat karena ditutup, berhubung ada pawai dalam rangka perayaan 17 Agustus-an! Duh, Indonesia banget! (Halaman 92)

Bagian keempat adalah Tips yang berjumlah 13 cerita dengan isi tips dan trik dari Trinity seputar jalan-jalan. Berbagai hal disampaikan Trinity dengan kocak sehingga menjadikan tips nya tidak wajib untuk dilakukan, namun akan membantu kenyamanan perjalanan jika dilaksanakan. Salah satunya kisah berjudul Manfaat Teman (Nemu di) Jalan yang mengupas tentang suka duka melakukan traveling bersama teman, baik teman yang sudah dikenal ataupun teman yang baru dijumpai. Meskipun terkadang sial, Trinity tidak kapok traveling bersama orang baru sesama backpacker.

Tapi apa daya, tidak semua teman berhobi sama, tidak semua teman mempunyai waktu libur yang sama, dan yang paling sering terjadi adalah tidak semua teman mempunyai jumlah tabungan yang sama. (Halaman 123)

Sok Beranalisa merupakan judul bagian kelima yang terdiri atas sembilan cerita. Jadi bagian ini merupakan sebuah riset sederhana dan agak ngawur seorang Trinity tentang berbagai hal. Mulai dari orang negara mana yang paling cakep hingga keberadaan pekerja seks komersial di berbagai negara. Bagian ini saya nikmati karena Trinity menyebutnya sebagai “ayam” dan disampaikan dengan ringan tanpa maksud menghina profesi tersebut. Cerita ini berjudul Ayam Bakpau Bukan Bakpau Ayam.

Di Thailand, ayamnya membingungkan. Ayamnya memang ayam banget, tapi susah membedakan antara ayam betina atau ayam jantan karena banyak sekali kaum transeksual yang cantiknya melebihi wanita beneran. (Halaman 180)

Lanjut pada bagian keenam yang berjudul Adrenaline. Sepertinya bagian ini adalah cerita yang hampir semuanya berazaskan wisata alias rekreasi. Trinity yang demen dengan hal-hal yang menantang dan mendebarkan mengungkapkannya dalam sembilan cerita lepas. Saya menyukai cerita yang berjudul Thai Message. Ehm, saya enggak salah nulis kok. Tapi Trinity menulis demikian karena menyesuaikan penulisan salah kaprah di Thailand sana. Seperti judulnya, ia menceritakan tentang pengalaman Trinity dipijat alias massage di negara Gajah Putih tersebut.

Kamar yang sunyi ini bau dupa, lampunya sangat minim alias remang-remang, dan semua orang berbaring dengan mata merem melek – suasana yang “mencekam” ini bagaikan pesta opium di benak saya. (Halaman 213)

Bagian terakhir alias ketujuh berjudul Ups! yang mengutarakan berbagai hal konyol yang ditemui Trinity selama traveling. Favorit saya adalah kisah berjudul Pilipina, Filipina, atau Pilifina? yang membahas tentang kesulitan orang negara itu melafalkan huruf P dan F sehingga sering terbalik. Ketidak tahuan Trinity menjadikannya lelucon bagi warga asli negara itu akibat pelafalannya yang dianggap salah. Sayangnya, meskipun salah, Trinity tidak hanya sekali mengalami kejadian sial seperti itu.

Tuh, kan! P & F itu ternyata sudah menjadi epidemi nasional! Huahaha! Pantas saja, mereka sendri menyebut nama negaranya bisa menjadi 3 versi: Pilipina, Filipina, atau Pilifina. (Halaman 271)

Awalnya saya membaca buku ini hanya iseng. Saat itu kakak saya membeli buku ini dan diletakkan sembarangan. Karena tidak ada buku lain, akhirnya saya baca juga deh (saat itu, pada jaman dahulu kala). Ternyata buku ini asik banget! Trinity menulis dengan gamblang, apa adanya, dan sangat subjektif berdasarkan pengalamannya traveling kemana-mana. Ia tidak berusaha menyampaikan segala sesuatu yang positif saja, namun juga tidak serta merta mengungkapkan sisi negatif suatu hal tanpa ada alasan.

Saya suka dengan selera humor Trinity yang khas namun tidak meninggalkan sakit hati (setidaknya saya yang membaca). Misalkan saat ia terjebak macet akibat pawai, ia justru mengungkapkan kesialannya itu tanpa menyalahkan pihak manapun. Sehingga saya yang membaca juga jadi ikut tertawa padahal Trinity mengalami kesulitan akibat budaya negeri sendiri.

Sayangnya, buku ini menjadi terasa nanggung banget apabila dijadikan sebuah panduan traveling ke suatu tempat. Pengalaman yang diceritakan Trinity dalam buku ini memang sangat buanyak banget. Namun ia menceritakan langsung pada inti hal yang menarik tanpa ada intermezo mengenai lokasi ataupun perjalanan yang dilakukan. Hal ini mengakibatkan buku ini hanya cocok dijadikan hiburan dan tidak cocok jika dijadikan panduan berwisata (eh atau memang buku ini memang demikian ya?) Selain itu, ada berbagai tempat yang disebutkan Trinity namun saya tidak tahu dimana persisnya padahal lokasi itu ada di Indonesia. Apabila dijabarkan sedikit lebih rinci mungkin akan lebih baik.

Ketika sedang menceritakan negara lain, Trinity tanpa sadar (atau memang sadar?) kerap membandingkan dengan negara Indonesia. Namun, apabila Trinity mengungkapkan kekurangan Indonesia dibandingkan negara lain, ia tetap cinta dengan negaranya sendiri melalui statement di bagian lain ataupun di cerita yang bersangkutan. Hal ini saya apresiasi karena memang tidak mudah membanggakan kelebihan Indonesia tanpa mau menerima hal buruk negeri sendiri. Jika bukan warga negaranya sendiri, siapa lagi?

Penilaian Akhir:

★★

goodreads badge add plus