Rss

Archives for : Bukuné

Seniormoon

coversenior

Judul: Seniormoon

Tagline: Dengan Kekuatan Senior Akan Menghukummu!

Penulis: Airra Nugie

Penerbit: Bukuné

Jumlah Halaman: x + 278 halaman

Terbit Perdana: Maret 2009

Kepemilikan: Cetakan Pertama, Maret 2009

ISBN: 9786028066358

cooltext1660180343

Merasa senior kamu galak? Tunggu sampai baca buku ini.

“Lu tau sendiri kan, kalo kita ini sering ngusilin adik-adik kelas.”

“Iya. Terus?”

“Nah itu. Sekarang kita daftar ke IPDN yang budaya senioritasnya keras banget. Itu artinya kita mengantarkan diri ke karma kita sendiri.”

“Apa sih maksud lu? Gue nggak ngerti.”

“Pokoknya, entar di IPDN kita bakal dapet balesan kayak apa yang sering kita lakukan dulu ke anak-anak baru.”

Seniormoon: Dengan Kekuatan Senior Akan Menghukummu! adalah buku tentang senioritas. Di mulai dari Nugie menjadi senior yang membabat habis-habisan juniornya, sampai masuk IPDN di mana Nugie dibabat habis oleh seniornya, dan di dalamnya diisi oleh pemahaman Nugie tentang arti “kekuasaan” yang sesungguhnya.

cooltext1660176395

Indonesia adalah sebuah negara yang menerapkan pendidikan formal bertingkat. Maksudnya mulai dari TK, SD, SMP, SMA, hingga Perguruan Tinggi. Setiap tingkat pendidikan memiliki lama masa belajar yang bervariasi. Ada yang dua tahun, tiga tahun, empat tahun, enam tahun, dan tak hingga yang berujung DO (drop out). Sehingga lahirlah istilah kakak kelas-adik kelas ataupun kakak tingkat-adik tingkat pada setiap masa pendidikan tersebut. Istilah tersebut ditinjau dari waktu pertama kali mengenyam pendidikan dan masa studi.

Disadari atau tidak, istilah tersebut juga sering melahirkan sebutan juniorsenior pada lingkungan sekolah ataupun kuliah. Julukan tersebut seringkali didengungkan ketika masa orientasi siswa/mahasiswa baru. Idealnya, senior mengayomi junior dan junior menghormati senior. Namun kenyataannya, ada saja pihak yang menyalahgunakan predikat itu. Hal inilah yang diangkat Nugie dalam bukunya ini.

Paskibra, biarpun tugasnya cuma mengibarkan bendera setiap upacara, tapi pembinaan mental mereka jauh lebih menyeramkan daripada yang lain. (hal. 16)

Buku non-fiksi ini dibuka dengan kisah keisengan Nugie saat masa SMA yang selalu mengincar adik kelasnya. Mulai dari saat MOS hingga pembinaan ekstrakurikuler. Sebenarnya maksud Nugie dan kawan-kawan hanyalah usil ngerjain junior baru. Tapi mungkin hal ini justru balik memberi mereka pelajaran…..dari guru BP. Sepak terjang Nugie ngerjain junior hanya sebagai pembuka kisah. Setelah lulus SMA, ia terancam tak bisa menggapai cita-citanya menjadi sarjana karena terhalang biaya. Tak menyerah, ia mencoba peruntungan pada sebuah lembaga pendidikan yang gratis biaya, yaitu IPDN.

Saat berhasil menjadi anggota IPDN, Nugie bersyukur bukan kepalang. Akhirnya cita-citanya melanjutkan sekolah tanpa merepotkan kedua orang tuanya berhasil. Namanya anak baru (junior), Nugie masih beradaptasi pada berbagai hal yang ditemuinya di kampus. Kisah cerita dalam IPDN inilah yang menghiasi sebagian besar halaman buku ini.

Nambah lagi satu pengetahuanku tentang larangan di IPDN. Pertama dilarang senyum, kedua dilarang cengengesan, dan yang ketiga dilarang makan dan minum sambil berdiri, mungkin lebih baik ngupil pakai jempol kaki. (hal. 102)

Di IPDN, para Muda Praja (sebutan untuk mahasiswa tingkat/tahun pertama) juga menjalani kuliah. Karena kegiatan yang sangat padat dan kurangnya waktu istirahat, saat kuliah berlangsung adalah waktu yang terpaksa dikorbankan untuk tidur melepas lelah.

Hah, gimana negara mau maju, kalau calon pamongnya saja pada tidur pas jam kuliah. (hal. 145)

Masih ingat kasus penganiayaan senior kepada junior IPDN (dulu namanya STPDN) yang mengakibatkan tewasnya junior tersebut beberapa tahun silam? Hal inilah yang dialami Nugie. Setidaknya ia tidak sampai meregang nyawa. Teror bermula ketika Nugie sedang jaga malam. Ia memergoki tiga orang laki-laki sedang merokok dan (sepertinya) menggunakan narkoba.

Kemudian mataku ditutup saputangan. Mereka menyeret tubuhku ke dinding. Aku dipukuli. Beramai-ramai. Aku tersungkur. Mereka menendang dan menonjok perutku dengan membabi buta. Entah berapa kali aku dipukuli, ditendang, dan ditampar. Yang jelas aku merasa sekujur tubuhku hancur seketika. Sakit tak terperi. (hal. 157)

Membaca bagian itu, emosiku tersulut. Itukah sikap calon abdi negara yang kelak memimpin negeri ini? Sekumpulan pengecut yang tak sudi kesalahannya terbongkar. Diri ini merasa tak ikhlas uang pajak rakyat Indonesia digunakan untuk membiayai kuliah ketiga berandalan itu. Selain itu, ada juga sebuah agenda yang cukup memprihatinkan di IPDN (pada saat itu, entah saat ini masih ada atau tidak), namanya kumpul kontingen.

Kegiatan malam yang berisi dengan pemukulan dari senior kepada para junior satu kontingennya tanpa kecuali. Semua pasti mendapat jatah ditonjok perut atau ditendang. Walaupun kita nggak punya salah, tapi pasti pukulan atau tendangan itu akan kita dapatkan. Kegiatan itu sudah turun-temurun dilakukan. Ilegal, tapi tidak pernah ada tindakan dari pihak kampus. Tidak jarang, banyak korban berjatuhan setelah kegiatan ini selesai. (hal. 165)

WTF?! Darah serasa mendidih saat membacanya. Inilah salah satu hal yang membuat saya tidak respek kepada institusi pendidikan bersistem seperti ini. Bagaimana bisa kampus tidak mengambil tindakan? Apakah mau nunggu sampai semua penghuni kampus mati mengenaskan? Sepertinya korban yang tewas beberapa tahun silam karena penganiayaan senior disana juga akibat acara tak berguna ini.

Bunga belum punya pacar, itu artinya aku punya kesempatan untuk bisa menjadi pacarnya. Tapi aku masih ragu untuk mengatakan semuanya. (hal. 182)

Sepertinya Nugie tidak ingin pembacanya larut dalam amarah. Ia menghadirkan sejumput kisah cintanya di IPDN. Ya, Bunga adalah seorang gadis asal Riau yang memikat hatinya. Bagian ini terasa sebuah oase diantara gurun penderitaan IPDN yang penulis ceritakan.

Secara keseluruhan, saya suka buku ini. Bukannya menyukai penderitaan yang Nugie alami. Namun lebih kepada rasa salut karena penulis bersedia membagi catatan hitam kehidupannya saat menjadi bagian kampus besar IPDN. Keberanian yang patut diacungi jempol. Tidak banyak orang yang mau membeberkan kisah dibalik gerbang megah kampus tersebut.

Karena buku ini adalah personal literature, saya bisa mengerti apa yang dirasakan penulis ketika mendapat tindakan penganiayaan, baik dalam konteks kurikulum/sistem kampus maupun “keisengan” senior. Saya adalah orang yang anti kekerasan. Apalagi kekerasan di sebuah lembaga pendidikan yang dilakukan oleh senior kepada junior.

Nugie berani membeberkan boroknya IPDN dengan cukup jelas (semoga kegiatan penganiayaan dengan alasan apapun seperti itu saat ini sudah musnah). Meskipun tidak semuanya, namun saya sudah memiliki cukup gambaran kehidupan IPDN di masa lalu. Oh iya, kisah cintanya dengan Bunga juga menarik untuk diikuti. Saya bisa merasakan ketika seusianya pastilah bahagia-bahagia-agak-salting saat pengen mengungkapkan cinta hehehe.

Kekurangannya menurut saya adalah nuansa humor pada bagian awal-awal terasa berlebihan. Baik secara tulisan reka kejadian ataupun berbagai hal absurd tak penting. Mungkinkah karena editor buku ini adalah Raditya Dika? Entahlah. Namun, agak ke tengah hingga halaman terakhir, humor yang ditulis sudah bisa dikondisikan porsinya dan membuat saya nyaman membaca.

Kisah yang dialami penulis dan dituliskan di buku ini terasa sangat miris dan membuat hati ini teriris (yes, I make a rhyme!). Budaya perploncoan memang harus dibumihanguskan dari lembaga pendidikan manapun. Terlebih lagi perploncoan yang dibarengi dengan penyiksaan fisik. Bagaimana bisa seorang peserta didik menjadi termotivasi menuntut ilmu apabila selalu dibayangi siksaan fisik ataupun “keisengan” senior.

Buku ini membuka pikiran saya bahwa tak selamanya kakak tingkat/kakak kelas adalah orang yang patut dijadikan teladan. Terkadang beberapa dari mereka tak lebih dari sekedar manusia pengecut tak memiliki hati nurani. Yang jelas, dalam menghadapi situasi sesulit apaun, kita masih memiliki Tuhan yang senantiasa membantu hamba-Nya yang selalu dekat kepada-Nya. Ingatlah, bahwa setelah hujan masalah akan ada pelangi kebahagiaan yang muncul. Buku ini cocok dibaca usia remaja hingga usia senja karena bisa membuka pikiran serta banyak terselip pesan moral menyejukkan hati.

Penilaian Akhir:

★★★★★

goodreads-badge-add-plus

Cado-Cado Kuadrat

covercado2

Judul: Cado-Cado Kuadrat

Tagline: Dokter Muda Serba Salah

Seri: Cado-Cado #2

Penulis: Ferdiriva Hamzah

Penerbit: Bukuné

Jumlah Halaman: xii + 188 halaman

Terbit Perdana: Juli 2010

Kepemilikan: Cetakan Kedua, Agustus 2010

ISBN: 9786028066709

cooltext1660180343

Pernah satu saat ketika menolong seorang ibu melahirkan, aku dan Budi megang toa serta spanduk bertuliskan: “Ayo, Ibu! Kamu bisa!” Sementara itu, Evie lompat-lompat dan jumpalitan di depan si Ibu kayak cheerleader, lengkap dengan pompomnya, sambil ikutan teriak-teriak, “Ayooo, Ibu bisaaa!!! Tarik napassss!!! Doroooonggg!!! Doroooooonggg!!!”

Ibu yang sedang menjalani persalinan itu saking terharunya melihat usaha kami sampe teriak, “Doook! Huf…huf…huf…. Aduuuh… huf… huf… huf… dorong… dorong, saya jadi pengen pup! … Huf… huf…huf!”

Tiba-tiba… Prrrooootttt!!! Si Ibu beneran pup! Alhasil, aku, Budi, dan Evie dihukum PPDS untuk membersihkan lantai kamar bersalin.

Ketemu lagi sama dokter dodol, Ferdiriva, yang akan membuat kalian jumpalitan ketawa lewat tulisannya. Banyak pengalaman lucu dibagi sama Riva, sewaktu ko-ass atau pendidikan lanjut mahasiswa kedokteran dulu. Mulai dari nanganin pasien yang ngejedot-jedotin stetoskop ke kepalanya sendiri, sampai dia sendiri yang ngejedot-jedotin kepalanya ngehadapin dosen.

A must read book bagi kalian yang ingin tahu susahnya jadi dokter. Riva, dengan serial CADO-CADO ini sukses membuat saya menunggu karya dia berikutnya. Keep it coming, Bro! – Adhitya Mulya, penulis Jomblo, Gege Mengejar Cinta

Sumpah deh! Lucu dan keren cerita-cerita di buku ini! I love it, Doc! – Nycta ‘Jeng Kelin’ Gina, dokter/artis

cooltext1660176395

Saat lihat buku ini di rak toko buku, pertama terpikir adalah ini buku teks kedokteran. Otak saya kalo nyangkut dunia kedokteran itu udah capek duluan. That’s not my world banget *ahem. Pasti isinya sudah di luar kepala semua alias gak paham huahaha. Oke back to review.

Buku ini sebenarnya adalah buku kedua setelah Cado-Cado. Saya yang saat itu entah tidak ngeh atau emang cupu, gak beli edisi pendahulunya dulu. Ah nasi emang udah jadi bubur, biarlah. Di buku ini ada sepuluh cerita dalam 188 halaman. Dan lagi-lagi karena keterbatasan waktu *uhuk* jadi saya hanya bahas beberapa aja yang membekas di benak ya hehehe. Ada sebuah kisah berjudul “Ko-Ass Ilmu Bedah: (Amit-Amit Jadi) Dokter Cabul” sebagai kisah keempat. Membaca judulnya aja saya udah mesem duluan.

Seorang dokter itu selalu diharapkan untuk berpikir super-cepat, atau super-super-duper cepat, soalnya pekerjaannya kan menyangkut keselamatan orang. (hal. 69)

Lantas, apa hubungannya dengan dokter cabul? Ternyata, si Riva ini sedang ujian pada bagian ilmu bedah. Ternyata sistem ujiannya adalah sang calon dokter diberi tanggung jawab memeriksa seorang pasien yang nantinya akan diambil alih oleh dokter ahli bedah ketika sudah selesai. Sang pasien bernama Angel ini kayaknya emang secantik namanya ya *keplak*

Keluhan yang diderita Angel ini ternyata adalah adanya benjolan di (maaf) payudara. Yak benar, di bagian itu. Seperti biasanya, dokter kan selalu memeriksa dengan seksama bagian yang menjadi keluhan melalui duo indra (penglihatan dan peraba). Bisa terbayang kan bagaimana sikap Riva ketika menghadapi keluhan Angel? Hehehe.

Ada lagi kisah berjudul “Ko-Ass Ilmu Kesehatan Anak: Gagal Sok Cool” yang awalnya saya pikir ceritanya unyu-unyu khas anak kecil. Lah, apa hubungannya kecoa dengan bagian kesehatan anak? Oh ternyata (kok jadi kayak judul ftv di Tr*nsTV) kamar jaga di ko-ass anak itu sangat jorok sehingga sering mengundang kecoa-kecoa berdatangan. Dan Riva terlalu takut untuk menghadapinya sendirian.

Ada satu hal yang selalu aku harapkan nggak akan pernah menggangguku di saat jaga malam, juga nggak akan pernah membuatku keringat dingin saat melihatnya. Mayat? Bukan. Hantu? Bukan. TAPI… KECOA! (hal. 122)

Dengan bangga, saya menobatkan buku ini sebagai salah satu terbitan Bukuné yang terbaik. Karena saya sukses ketawa ngakak saat membaca berbagai kisahnya. Awalnya saya heran, buku teks kedokteran kok letaknya di deretan buku humor, jadi penasaranlah saya ini. Saat baca blurb di belakang buku, wah kok kayaknya seru. Bayangin aja, image para dokter (termasuk mahasiswa kedokteran, versi saya) itu kan elegan, higienis, pinter, dan sebagainya. Tapi, buku ini sukses bikin image itu hancur lebur.

Ternyata calon dokter juga manusia. Mereka kadang (sering, di buku ini) melakukan hal-hal bego dan lucu dalam kesehariannya. Mereka tidak selalu kaku dan saklek kok. Mereka juga bisa ngocol dan gokil. Apalagi namanya status masih mahasiswa ya, belom jadi dokter beneran, masih aja tetep nyinyirin dokter di rumah sakit yang bikin merinding disko.

Banyak sekali cerita-cerita kocak di buku ini. Namun, tenang saja. Meskipun banyak sekali istilah-istilah kedokteran dan medis, bagi pembaca (saya khususnya) yang amat sangat awam sekali dengan dunia dokter, jadi tidak terlalu kesulitan untuk mengerti. Karena ada penjelasan di awalnya dengan bahasa yang mudah dipahami. But overall, buku ini sukses bikin citra dokter itu tidak selalu kaku sodara-sodara. Kalo bicara cocoknya sih, buku ini pantas dibaca remaja hingga dewasa. Humornya yang segar dan tidak kaku bisa jadi hiburan tersendiri.

Penilaian Akhir:

★★★★★

goodreads-badge-add-plus

Babi Ngesot

coverbabi

Judul: Babi Ngesot

Sub Judul: Datang Tak Diundang, Pulang Tak Berkutang

Penulis: Raditya Dika

Penerbit: Bukuné

Jumlah Halaman: viii + 240

Terbit Perdana: April 2008

Kepemilikan: Cetakan Pertama, April 2008

ISBN: 9786028066105

cooltext1660180343

Kesurupan Mbak Minah semakin menjadi-jadi. Tubuhnya semakin susah dikendalikan oleh kita bertiga. Lalu tiba-tiba, Ingga berkata, ‘Pencet idungnya, Bang.’

‘Apa?’

‘Idungnya,’ Ingga meyakinkan. ‘Aku pernah baca di mana gitu, pencet aja idungnya.’

‘Tapi, Ngga?’

‘ABANG! PENCET IDUNGNYA SEKARANG!’ Edgar memerintahkan gue.

Daripada kehilangan nyawa, gue ikutin saran mereka. HAP! Gue pencet idungnya Mbak Minah. Kita semua terdiam untuk beberapa saat. Semua menunggu efek yang datang dari mencet idung orang kesurupan. Apakah setannya akan keluar? Apa yang akan terjadi setelah ini?

Ternyata,

gak ngefek.

‘Kok nggak ngaruh?’ tanya gue.

Ami, yang emang expert soal kesurupan, langsung teriak, ‘YA IYALAH!!!! JEMPOL KAKINYA TAU YANG DIPENCET, BUKAN IDUNG!’

Babi Ngesot: Datang Tak Diundang, Pulang Tak Berkutang adalah kumpulan cerita pendek pengalaman pribadi Raditya Dika, penulis Indonesia terbodoh saat ini. Simak tujuh belas cerita aneh-tapi-nyata Raditya di buku ini, termasuk kalang kabut digencet kakak kelas, dihantuin setan rambut poni, sampai perjuangan menyelamatkan keteknya yang sedang ‘sakit’

cooltext1660176395

Ini merupakan buku keempat Raditya Dika setelah Kambing Jantan, Cinta Brontosaurus, dan Radikus Makankakus. Saya sedikit heran juga saat membaca judul novel ini. Apakah suster ngesot telah melakukan hubungan terlarang dengan babi ngepet? Ataukah kedua bayi babi ngepet yang baru lahir telah dipotong demi memenuhi kebutuhan masyarakat Indonesia? Saya tidak tahu.

Anyway, novel ini memuat 17 cerita gokil dan konyol khas Raditya Dika. Karena tidak mungkin saya menceritakan kesan-kesan saya membaca semua ceritanya, jadi saya ambil acak saja ya. Soalnya di buku ini tidak ada yang tidak saya sukai. Semua sukses menorehkan kesan mendalam di sanubari hati saya *apasih*

Sebuah cerita berjudul “Ketekku, Bertahanlah!” adalah salah satu kisah yang menggelikan sekaligus menjijikkan. Jadi saya ketawa sambil agak-agak jijik gitu. Jadi disini diceritakan bahwa Dika mulai (atau telah lama) terserang hypochondria, yaitu ketakutan abnormal seseorang atas kesehatan diri sendiri. Terutama kekhawatiran dirinya terkena penyakit serius.

Di bawah ketek gue ada tonjolan kecil. ‘Tonjolan apa ini? Perasaan kemarin kok gak ada,’ pikir gue. (hal. 109)

Parno yang semakin menjadi membuatnya mencari tahu secara absurd di internet. Merasa tak mendapat jawaban pasti, akhirnya Dika meluncur ke dokter. Setelah sesi interview *dikira wawancara kerja* dengan dokter, akhirnya Dika menceritakan kronologis masalah keteknya. Ternyata dokter memberikan jawaban yang membuat Dika ternganga lebar.

Ada lagi cerita yang mengusung judul cover yaitu “Babi Ngesot” sebagai kisah dua terakhir. Jadi Dika rencananya mau pelihara tuyul sebagai jalan pintas mendapatkan uang berlimpah. Ternyata tuyul itu ada berbagai jenis spesies, yaitu tuyul profesional, tuyul enterprise, dan tuyul maestro. Dari berbagai deskripsinya sih, sepertinya tuyul merupakan pekerjaan menjanjikan di masa depan *setelah mati*

Gue selalu seneng sama anak kecil. Tuyul, dalam beberapa hal, seperti anak kecil, kan? (hal. 224)

Sepertinya mengasosiasikan tuyul dengan anak kecil adalah hal yang salah. Yaiyalah, wong kemudian Dika melaporkan dengan gembira rencananya memelihara tuyul kepada sang kekasih. Bagaimana reaksi pacarnya ketika mendengar rencana tersebut? Hmm asik deh pokoknya.

Raditya Dika kayaknya udah gak perlu diragukan lagi gaya nulisnya. Selalu gokil dan kocak parah. Sebenarnya sih kejadian yang diceritakan adalah hal yang biasa dan lumrah dialami setiap orang. Namun kalau umumnya orang lain menceritakan dengan “biasa” hanya sekitar 2-3 halaman, Raditya Dika bisa memanjangkan hingga 15 halaman lebih dengan dominasi humor. Inilah yang membuat Dika berbeda dengan penulis yang lain.

Di buku ini juga diselingi dengan komik mini 1 halaman untuk tiap cerita. Well, ini sangat membantu saya membayangkan keadaan yang diceritakan. Berkali-kali saya ketawa ngakak pas baca. Karena tak jarang komik ini lebih lucu daripada tulisan narasi yang ada. Sehingga seolah-olah narasi dan komik ini saling melengkapi satu sama lain bagai sejoli.

Perihal judul Babi Ngesot, seperti yang saya sebutkan diawal, saya awalnya ngira ada kawin silang antara babi ngepet dengan suster ngesot akibat perselingkuhan terlarang di dunia supranatural. Tapi ternyata kok gak ada ya. Bahkan di kisah yang berjudul sama dengan cover, sang babi ngesot tidak dijelaskan dengan banyak. Ujung-ujungnya jadi tuyul. Jadi agak gak sinkron gitu.

Overall, novel ini bisa sangat menghibur ketika kesedihan melanda hati. Apalagi humor yang disajikan sangat Indonesia banget celetukan dan pilihan katanya. Tetapi bisa juga setelah membaca novel ini menjadi makin stress karena tulisan Dika yang super gokil. Setiap lapisan masyarakat bisa membaca buku ini kok.

Penilaian Akhir:

★★★★★

goodreads-badge-add-plus

Marmut Merah Jambu

covermarmut

Judul: Marmut Merah Jambu

Penulis: Raditya Dika

Penerbit: Bukuné

Jumlah Halaman: vi + 222 halaman

Terbit Perdana: Mei 2010

Kepemilikan: Cetakan Kesepuluh, 2012

ISBN: 9786028066648

cooltext1660180343

… Momennya lagi pas banget, pikir gue. Seperti yang Ara tadi anjurkan lewat telepon, ini adalah saatnya gue bilang ke Ina kalau gue sangat menikmati malam ini.

‘Tau gak sih, Na,’ kata gue sambil menyetir, memberanikan diri untuk bicara. ‘Gue seneng banget hari ini.’

‘Seneng kenapa?’ tanya Ina.

‘Seneng, soalnya,’ kata gue, berhenti bicara sebentar dan menengok ke kiri untuk melihat muka Ina. Gue masang muka sok ganteng. Gue natap mukanya dengan jelas, memasang mata nanar, berkata dengan sungguh-sungguh, ‘Seneng… soalnya… hari ini akhirnya… gue bisa pergi sama-’

‘AWAS!!!!’ jerit Ina memecahkan suasana.

BRAK! Mobil gue naik ke atas trotoar. Mobil masih melaju kencang, dan di depan ada pohon gede. Ina ngejerit, ‘Itu pohon! ITU ADA POHON, GOBLOK!’

‘AAAAAAAAHHHH!’ jerit gue, kayak cewek disetrum. Lalu gue ngerem dengan kencang. Ina teriak lepas. Suasana chaos.

Marmut Merah Jambu adalah kumpulan tulisan komedi Raditya Dika. Sebagian besar dari tiga belas tulisan ngawur di dalamnya adalah pengalaman dan observasi Raditya dalam menjalani hal paling absurd di dunia: jatuh cinta.

cooltext1660176395

Sebuah rasa yang dirasakan setiap makhluk hidup di dunia, termasuk manusia. Sebuah pengalaman hidup manusia yang mungkin tak hanya sekali bagi sebagian orang. Sebuah rasa yang tidak dapat dipikirkan oleh otak, namun dapat dirasakan oleh hati. Apakah rasa itu? Cinta. Raditya Dika mencoba untuk mengangkat sebuah perasaan universal sejuta umat dalam novel ketiganya. Itulah sebabnya judul novel kali ini menyinggung merah jambu. Sebuah warna yang khas dengan peasaan cinta, terlebih pada pengalaman jatuh cinta.

Novel dibuka dengan pengalaman Dika – dan beberapa temannya – yang jatuh cinta kepada seorang gadis saat masih duduk di bangku SMP. Layaknya remaja ABG yang mash awam dengan keberanian mengungkapkan perasaan, mereka bertiga hanya bisa melakukan hal yang umum dilakukan: jatuh cinta diam-diam. Mulai dari memandang dari kejauhan, menelpon tapi tidak bersuara, dan lain lain.

Orang yang jatuh cinta diam-diam pada akhirnya hanya melamun dengan tidak pasti, memandang waktu yang berjalan dengan sangat cepat dan menyesali semua perbuatan yang tidak mereka lakukan dulu. (hal. 14)

Bab pertama ini sukses besar menyindir dan menusuk hati saya dalam dunia perjombloan kronis yang hanya bisa memendam perasaan kepada orang yang disukai. Saya tidak menampik bahwa yang dituliskan Dika dalam berbagai kalimat di bab pembuka ini sungguh benar adanya. Tapi ternyata Dika tidak larut dalam kata dan kalimat puitis mengharu-biru. Ia tetap dengan celetukan kocak dan humor khas Indonesia dalam beberapa kisah selanjutnya.

Kisah yang berjudul “Panduan Menghadapi Cewek Sehari-hari” adalah salah satu kumpulan tips yang diberikan Dika dalam menghadapi kaum perempuan. Di bagian ini semuanya dikemas dengan lucu namun masih terselip beberapa fakta yang benar adanya. Dibagian ini kemungkinan banyak para gadis dan non-gadis diluar sana yang tersindir dengan tulisan Dika yang ini. Namun mungkin para kaum adam juga sedikit merasa makjleb saat membaca tips ini.

Cowok menjadi budak cewek pas malem minggu. Karena sebagai seorang cowok, kita diharuskan untuk selalu menghabiskan malam minggu bersama pacar kita. Dan ketika kita punya rencana lain, si cewek akan membuat cowoknya memilih antara rencana lain itu atau dirinya. (hal. 100)

Kisah terakhir yang ada di novel ini berjudul sama seperti cover, yaitu “Marmut Merah Jambu”. Disini dibeberkan apa latar belakang Dika menulis novel yang mengangkat tema jatuh cinta, terutama tentang pengalamannya jatuh cinta-pacaran-putus yang ia alami selama ini. Alih-alih meletakkan bagian ini di awal novel, namun Dika menempatkannya di akhir. Sehingga kisah ini berhasil menutup rangkaian cerita novel di buku ini dengan sangat manis.

Gue memulai buku ini dengan berusaha memahamiapa itu cinta melalui introspeksi kedalam pengalaman-pengalamangue. Dan di halaman terakhir ini, gue merasa…tetap gak mengerti, sama seperti gue memulai halaman pertama. (hal. 218)

Pada dasarnya, novel ini menjelaskan sebuah perasaan jatuh cinta yang selalu dirasakan setiap orang minimal sekali dalam hidupnya. Dengan adanya novel ini, Dika berharap agar pembaca bisa lebih mengerti esensi jatuh cinta serta dapat memahami mengenai hal-hal yang perlu diperhatikan dalam jatuh cinta. Termasuk mengetahui bahwa jatuh cinta tak hanya selalu berbunga-bunga, namun bisa pula pahit tak terkira. Tetapi setiap hal tersebut bisa dilihat secara positif dengan sentuhan humor.

Menurut saya pribadi, tulisan Dika tidak ada yang membosankan. Maksudnya tiap buku ada hal kocak lain yang disajikan, sehingga ciri khas dan sensasi yang berbeda bisa dirasakan ketika membacanya alias tidak hanya sekedar berlalu begitu saja. Ketika membaca judul buku ini yaitu marmut merah jambu, bisa saya tebak isinya tidak jauh-jauh dari cinta. Di buku ini, tiap cerita ada semacam benang merah yang menghubungkan, yaitu jatuh cinta dan segala hal merah jambu itu tadi. Ada kalanya cerita tersebut dibuka dengan konyol, namun lambat laun malah mengharu biru.

Saya rasa kisah yang berjudul “Panduan Menghadapi Cewek Sehari-hari” agak kurang pas bila dibandingkan dengan kisah yang lain. Saya sesungguhnya suka sekali dengan part ini. Tetapi maksud saya, bagian ini terkesan meng-underestimate cewek (dan cowok juga sih). Bukankah dalam jatuh cinta (dan proses selanjutnya) tidak perlu berkeluh kesah dengan yang ada? Katanya cinta, kok masih menggerutu aja.

Selain itu saya rasa Dika sangat tidak cocok dengan genre yang menye-menye seperti yang diusung novel ini. Image yang saya berikan kepadanya adalah sosok yang gokil dan kocak dalam bercerita. Saya sangat bersyukur sense of humor yang tersaji di buku ini masih mendominasi dibandingkan romansanya. Sehingga tidak mengurangi minat saya untuk menghabiskan novel ini hingga bagian terakhir.

Penilaian Akhir:

★★★★★

goodreads-badge-add-plus