Rss

Demam Kabin

covertengil6

Judul: Demam Kabin

Judul Asli: Diary of a Wimpy Kid: Cabin Fever

Seri: Diary Si Bocah Tengil #6

Penulis: Jeff Kinney

Penerjemah: Maria Lubis

Penerbit: Atria

Jumlah Halaman: vi + 218 halaman

Terbit Perdana: November 2013

Kepemilikan: Cetakan Ketiga, November 2013

ISBN: 9786021440209

cooltext1660180343

Greg Heffley terlibat masalah besar. Properti sekolah dirusak, dan Greg adalah tersangka utama. Tapi, yang gila adalah, dia tidak bersalah. Atau, setidaknya bisa dikatakan begitu.

Pihak berwenang mulai memburunya, tapi saat badai salju tiba-tiba menyerang, keluarga Heffley terperangkap di dalam rumah. Greg tahu, saat salju sudah mencair, dia harus menghadapi masalah ini. Namun, mungkinkah hukuman apa pun bisa lebih buruk daripada terjebak di dalam rumah bersama keluagamu selama liburan?

PARA PEMBACA MENGGEMARI SERIAL DIARY SI BOCAH TENGIL – USA Today, Publishers Weekly, Wall Street Journal, dan Bestseller No. 1 New York Times

“Diary si Bocah Tengil karya Jeff Kinney adalah keajaiban baru dalam bisnis buku.” – Parade

“Serial Diary si Bocah Tengil adalah suatu pencapaian besar dalam dunia penerbitan masa kini.” – The Hollywood Reporter

“Diary si Bocah Tengil akan mendominasi dunia.” – Time

“Salah satu serial anak-anak paling sukses yang pernah diterbitkan.” – The Washington Post

cooltext1660176395

Lika-liku perjalanan kehidupan Greg masih berlanjut pada buku keenam (yang diterjemahkan). Pada buku bersampul warna biru cerah ini, Greg kembali bercerita mengenai kehidupan remajanya yang sepertinya makin hari makin memuakkan. Salah satu masalah yang ia hadapi adalah menghilangnya peralatan bermain di sekolah. Ia merasa tersiksa ketika jam istirahat tiba.

Aku mendengar sekolah mengalami masalah pembayaran asuransi taman bermain, jadi setiap kali ada suatu kecelakaan atau luka akibat peralatan itu, hal paling mudah untuk dilakukan adalah menyingkirkannya. (hal. 23)

Hal yang selalu ada di buku Diary si Bocah Tengil adalah mengenai Greg yang ingin meminta hadiah untuk Natal ataupun ulang tahun. Tak terkecuali di buku ini. Namun bedanya, di buku ini Greg mendapat kesulitan karena banyak sekali hal yang ngin ia minta.

Yang kusadari adalah, jika setiap kali kita mendapatkan sesuatu yang keren sebagai hadiah ulang tahun atau Natal, seminggu kemudian, benda itu akan digunakan sebagai senjata pemeras bagi kita. (hal. 47)

Ada lagi masalah di sekolah ketika ada Tes Kebugaran Nasional untuk semua sekolah. Dan mau tidak mau, sekolah memberlakukan sebuah latihan olahraga intensif untuk semua siswa agar bisa meningkatkan posisi peringkat sekolah.

Orang-orang dewasa berkata bahwa masalah terbesar anak-anak zaman sekarang adalah kebugaran tubuh, karena kami tidak cukup banyak berolahraga. (hal. 99)

Di hari yang lain, Greg ingin menjual buku komik miliknya yang ditandatangai oleh penulis. Namun Mom malah melarangnya karena beranggapan ketika Greg memiliki anak nanti di masa depan, mereka akan murka mengetahui ayah mereka menjual komik yang sangat berharga. Namun bisa kamu tebak apa yang dipikirkan Greg?

Aku ingin menjadi bujangan seperti Paman Charlie-ku, yang menghabiskan seluruh uangnya untuk liburan, dudukan toilet yang bisa dihangatkan, dan hal-hal semacam itu, bukannya membiayai sekawanan anak tak tahu terima kasih. (hal. 110)

Di sisi lain, kasus mengenai kerusakan fasilitas sekolah yang menggegerkan itu ternyata berujung maut pada Greg. Alih-alih ia selamat dari tuduhan dan hidup damai, justru dengan mudah ia dipanggil oleh Wakil Kepala Sekolah untuk mempertanggungjwabkan perbuatannya. Dan tahukah siapa yang melaporkan Greg?

Aku tak tahu apakah Rowley melakukannya secara sengaja atau apakah dia benar-benar tolol, tapi kukira yang benar adalah kemungkinan kedua. (hal. 149)

Sepertinya keluarga Heffley benar-benar menghadapi masa sulit ketika hujan badai salju berlangsung sehingga mereka terjebak di dalam rumah karena salju menghalangi pintu keluar. Keadaan bertambah parah saat Manny melakukan sabotase pada salran listrik di rumah.

Mom bertanya pada Manny mengapa dia memadamkan listrik bagian rumah yang lain, dan Manny mulai mengoceh. Katanya, itu karena tidak ada yang mau mengajarinya menalikan sepatu. (hal. 204)

Saat membaca buku ini, apa ya, terasa ada sesuatu yang beda. Apakah dikarenakan penerjemahnya ganti setelah lima buku pendahulunya sehingga taste of words-nya berbeda? Entahlah. Tapi kalau dari segi tema, memang berbeda sih. Disini Greg terkesan menjadi seorng berandalan cilik meskipun dengan alasan yang menurutnya baik.

Di buku ini, saya sukses membenci tokoh Manny dan Rowley. Sang penulis berhasil menggambarkan Manny sebagai adik yang menyebalkan buianget. Jika saya menjadi Greg, saya rasa tidak akan berpikir dua kali untuk menendang Manny (aduh kok saya jahat). Tapi ya gimana, Manny benar-benar licik dan sangat egois terhadap diri sendiri.

Bagaimana dengan Rowley? Aduh saya tidak bisa memahami ada seorang siswa SMP yang sangat tolol dan kekanakan sekali seperti anak SD. Tidak hanya dalam akademis, tapi juga sikap dan perilaku. Saya bahkan tak bisa mengerti mengapa Greg betah bersahabat dengan Rowley.

Dibalik kelebihannya yang bisa menggambarkan sosok Rowley dan Manny untuk saya benci, ternyata ada beberapa kekurangan sih. Salah satunya adalah humor. Ya benar, ketika membaca buku ini, saya sama sekali tidak tertawa seperti ketika membaca lima buku sebelumnya. Paling banter hanya nyengir, itupun bisa dihitung gak sampe lima kali kayaknya. Apakah karena perbedaan terjemahan? Atau memang aslinya begitu? Enggak tau ya. Tapi saya benar-benar kecewa karena lucunya (yang seharusnya ditonjolkan novel ini) malah tidak sampai ke saya.

Sebagai sekuel Diary si Bocah Tengil, buku ini cukap baik lah mengobati kerinduan terhadap hari-hari Greg. Tapi kalo dlihat segi kelucuan, bagi saya sih amat sangat kurang. Saya berharap buku selanjutnya (apabila memang diterjemahkan) bisa menghadirkan kelucuan yang sempat hilang di buku ini hehe.

Penilaian Akhir:

★★★

goodreads-badge-add-plus

Kenyataan Pahit

covertengil5

Judul: Kenyataan Pahit

Judul Asli: Diary of a Wimpy Kid: The Ugly Truth

Seri: Diary Si Bocah Tengil #5

Penulis: Jeff Kinney

Penerjemah: Ferry Halim

Penerbit: Atria

Jumlah Halaman: vi + 219 halaman

Terbit Perdana: Agustus 2011

Kepemilikan: Cetakan Kesembilan, Februari 2014

ISBN: 9789790244740

cooltext1660180343

Sejak dulu, Greg Heffley selalu ingin cepat-cepat dewasa. Namun, apakah bertambah usia memang seenak yang dia bayangkan?

Greg mendadak harus berurusan dengan berbagai macam tekanan, yang disebabkan oleh pesta menginap di sekolah, bertambahnya tanggung jawab, dan bahkan oleh perubahan-perubahan canggung yang biasa timbul seiring dengan bertambahnya usia. Dia terpaksa menghadapi semua itu tanpa kehadiran sang sahabat baik, Rowley, di sisinya. Dapatkah Greg melewatinya seorang diri? Ataukah dia harus berhadapan dengan “kenyataan pahit”?

“Detail yang sempurna dalam tulisan dan gambar.” – Publishers Weekly

“Diary si Bocah Tengil kelihatannya akan mendominasi dunia.” – Majalah Time

“Salah satu buku bacaan berseri untuk anak-anak tersukses yang pernah diterbitkan.” – Washingtn Post

“Kalau anak-anak Anda suka membaca … dan lebih-lebih jika mereka tidak suka membaca, maka buku ini adalah buku yang tepat untuk mereka.” – Whoopi Goldberg, The View

cooltext1660176395

Kisah hdup Greg Heffley masih berlanjut. Setelah di buku-buku sebelumnya Greg bagaikan soulmate abadi dengan Rowley, di buku kelima ini akhirnya mereka mengalami cobaan dalam hubungan persahabatan. Entah Greg yang terlalu egois ataupun Rowley yang terlalu kekanakan sehingga persahabatan mereka berhenti untuk sementara.

Satu-satunya anak lain seusiaku yang belum memiliki sahabat adalah Fregley. Namun, sudah lama aku mencoret namanya dari daftar calon sahabat baikku. (hal. 3)

Greg merasa memiliki seorang sahabat baik dapat membantunya dalam kesulitan ataupun memanfaatkan untuk sebuah kebaikan bersama. Apalagi di sekolah, Greg sama sekali tidak punya teman biasa yang layak untuk dijadikan sahabat. Namun, ketika melihat teman satu angkatannya yang populer, Bryce Anderson, membuatnya agak tersadar.

Nah, Bryce Anderson memang benar. Dia tidak MEMBUTUHKAN sahabat baik, karena dia memiliki segerombolan tukang jilat yang sangat memujanya. (hal. 12)

Padahal kalau dipikir-pikir, Rowley juga bukan seorang yang populer ataupun pintar dalam bidang akademis. Greg selalu merasa dengan bersahabat dengan Rowley, ia merasa setingkat lebih tinggi dari Rowley dalam bidang apapun. Saya rasa emang akhirnya persahabatan mereka hanya menguntungkan Greg aja sih ya.

Pokoknya, aku rasa Rowley termasuk salah seorang anak yang akan selalu tertinggal beberapa tahun di belakang dalam urusan kedewasaaan. (hal. 21)

Selain perihal persahabatan dengan Rowley yang lumayan hancur, Greg juga menghadapai sebuah kenyataan bahwa ia bukanlah anak-anak lagi. Padahal menurutnya dengan menjadi anak-anak semua terasa lebih mudah dan indah, termasuk terpilih menjadi bintang iklan di teve.

Nah, ketika kamu masih anak-anak, tidak ada yang memperingatkan bahwa kamu memiliki tanggal kadaluwarsa. Pada suatu saat, kamu menjadi pujaan, saat berikutnya kamu cuma seonggok sampah. (hal. 33)

Di hari yang lain, Mom mengumumkan pada seluruh keluarga Heffley bahwa ia akan mengambil pelajaran selama satu semester untuk mengasah otaknya setelah bertahun-tahun mengurus rumah. Akibatnya, Greg mengalami hal yang buruk bahkan nyaris dihukum di sekolah.

Namun, aku TAHU bahwa kita seharusnya jangan mengumumkanhukuman yang akan dijatuhkan SEBELUM kita menyuruh orang yang bersalah menyerahkan diri. (hal. 81)

Di sisi lain, Mom merasa harus mempekerjakan seorang asisten rumah tangga agar rumah bisa terjaga selama ia mengambil pelajaran. Oleh karena itu, seorang pembantu bernama Isabella bekerja di rumah Heffley selama Mom berada di sekolah. Namun Greg sangat membenci Isabella karena menurutnya ia tidak melakukan apa-apa sebagai seorang pembantu.

Yang bisa aku katakan hanyalah: kalau saja menjadi pembantu Cuma berarti menonton televisi sepanjang hari, menyantap makanan kecil, dan tidur siang di ranjangku; maka, aku rasa aku akhirnya berhasil menemukan karir yang bisa membuatku bersemangat. (hal. 128)

Cerita tentang menginap di sekolah saya rasa adalah cerita paling mengenaskan dalam buku ini. Acara menginap ini adalah sebuah acara rame-rame di sekolah Greg untuk semua murid. Tapi ternyata kesialan-kesialan bermunculan satu persatu. Ada yang pemisahan lokasi tidur laki-laki dan perempuan, dilarangnya makan cemilan saat jam tidur, serta permainan-permainan konyol yang diadakan oleh pengawas acara tersebut.

Nah, hal seperti inilah yang membuat aku tidak tahan terhadap anak laki-laki seusiaku. Kalau sudah bercanda, mereka mirip segerombolan binatang. (hal. 156)

Di hari lain, Greg mendapat sebuah ceramah dari Gammie (nenek buyut Greg) yang sedikit membuatnya tersadar bahwa tak selamanya menjadi dewasa itu menyenangkan. Saya rasa sebagai seorang nenek buyut, Gammie cukup bijak dalam memberi petuah kepada Greg.

Gammie mengatakan bahwa sebagian besar anak-anak seusiaku selalu ingin buru-buru tumbuh dewasa, tapi bila aku memang cerdas, aku pasti akan menikmati masa kecilku selagi masih sempat. (hal. 209)

Meskipun ada beberapa hal yang lucu, saya justru tidak bisa menikmati dengan baik. Mungkin kalau membaca versi aslinya (bukan terjemahan) akan bisa saya resapi lagi kelucuannya. Entah bahasa yang digunakan ataupun istilah asing yang “terpaksa” diterjemahkan. Overall, buku ini sudah baik. Berbeda dengan buku-buku sebelumnya yang penuh lelucon dan kekonyolan, di novel kelima ini saya mendapat banyak pelajaran tentang kehidupan. Khususnya kehidupan masa kecil hingga remaja. Seperti Greg, saya dulu juga ingin sekali tumbuh dewasa. Namun ketika telah dewasa, saya merindukan sekali masa kanak-kanak.

Penilaian Akhir:

★★★★★

goodreads-badge-add-plus

Hari-Hari Sial

covertengil4

Judul: Hari-Hari Sial

Judul Asli: Diary of a Wimpy Kid: Dog Days: Book Four

Seri: Diary Si Bocah Tengil #4

Penulis: Jeff Kinney

Penerjemah: Ferry Halim

Penerbit: Atria

Jumlah Halaman: vi + 218 halaman

Terbit Perdana: Desember 2010

Kepemilikan: Cetakan Pertama, Desember 2010

ISBN: 9789790244566

cooltext1660180343

Liburan musim panas yang seharusnya sangat mengasyikkan dan ditunggu-tunggu ternyata berubah menjadi serentetan peristiwa yang tidak menyenangkan – dimulai  dari ibu Greg yang mencanangkan program pengetatan ikat-pinggang (selamat tinggal deh acara jalan-jalan ke pantai!), diikuti dengan pengalaman tidak menyenangkan di kolam renang kota. Lalu, hadiah ulang tahun yang diidam-idamkan ternyata mengecewakan. Selain itu, pertengkaran dengan Rowley, tambahan anggota keluarga baru yang banyak tingkah, dan masih banyak lagi hal-hal menyebalkan lainnya. Sungguh apes nasib Greg kali ini.

“Serial yang mampu menggebrak genre bacaan yang sudah ada … dilengkapi dengan humor yang pas dan ramuan cerita yang mengasyikkan.” – Publishers Weekly, ulasan dengan anugrah bintang

“Diary si Bocah Tengil kelihatannya akan mendominasi dunia.” – Majalah Time

“Salah satu buku bacaan berseri untuk ank-anak tersukses yang pernah diterbitkan.” – Washington Post

“Telah menyingkirkan kata ‘segan’ dari istilah ‘orang-orang yang segan membaca.’” – USA Today

cooltext1660176395

Ah tak terasa saya sudah membaca dan mereview buku diary si Greg ini pada buku keempat. Edisi yang ini cukup mencolok mata dengan warna cover yang menurut saya kuning banget tu. Tinggal dilempar ke sungai biar mengapung kayak ta…*some text missing*

Anyway, buku ini konsepnya adalah membeberkan hari-hari yang dialami Greg yang berujung dengan kesialan dan kenestapaan selama liburan musim panas. Tidak hanya hari-hari bersama keluarganya saja sih, tapi juga ketika bersama teman-teman sepermainannya. Oh iya, buku yang ini juga sudah diangkat ke layar lebar lho.

Aku rasa Dad Cuma iri saja karena dia terpaksa pergi bekerja sementara kami semua bisa bersantai dan berleha-leha setiap hari. (hal. 13)

Namanya juga anak-anak sekolah, tentu sangat bahagia ketika libur tiba. Dan saya sangat mirip dengan Greg dalam menghabiskan liburan dengan cara bersantai alias tidur dan doing nothing huahahahhaa. Yah meskipun orang tua saya juga sama dengan Dad-nya Greg yang mewajibkan saya melakukan sesuatu yang lebih berguna. Oh iya, ada lagi kisah lucu saat Greg sedang potong rambut di salon langganan Mom.

Ketika rambutku sedang dipotong, aku menyadari hal terhebat mengenai salon kecantikan, dan hal itu adalah GOSIP. (hal. 21)

Agak bener juga sih menurut saya. Maklum salon kan khas sebagai tempat tongkrongan para kaum hawa. Apalagi salon yang pelanggannya ibu-ibu. Aduuh pasti ada aja yang diobrolin. Termasuk gosip para tetangga-tetangga sekitar *ups sorry for the ladies*

Hari sial berikutnya adalah ketika Greg ingin memiliki akuarium. Jadi ceritanya Greg ini sudah punya ikan di sebuah toples. Namun ia ingin akuarium dengan satu ton ikan untuk menemani ikan mungil miliknya. Saat meminta pada Dad, tentu saja ia mendapat penolakan keras.

Nah, inilah jeleknya menjadi seorang anak. Kamu cuma mendapat dua kesempatan untuk mendapatkan barang yang kamu inginkan, yaitu pada saat Natal dan pada saat kamu berulang tahun. (hal. 94)

Berbagai kejadian mengerikan lain selama musim panas juga membuat hubungan Greg dengan Dad sedikit merenggang. Maklum sepertinya Dad sangat tidak menyukai perilaku Gre yang selalu merepotkannya karena kenakalan-kenakalan yang selalu Greg lakukan. Namun lambat laun, hal itu bisa segera terselesaikan. Bukan keluarga Heffley namanya kalau tidak bisa menyelesaikan masalah tersebut.

Aku dan Dad mungkin tidak akur dalam segala hal, tapi setidaknya kami sepaham dalam urusan yang penting. (hal 213)

Saya tidak berbicara lebih banyak ah tentang sekuel Diary si Bocah Tengil ini. Karena sangat menghibur gitu lho. Eh bukannya saya menyukai kesialan Greg yang dipaparkan hampir seluruh halaman di buku ini. Tapi apa ya, Jeff Kinney sukses membuat tokoh Greg sebagai anak pra-remaja yang pantas mendapat simpati dan sekaligus nyebelin setengah mati.

Dari segi penerjemahan, asik-asik aja. Maksudnya mengalir aja gitu dan tidak kaku. Oh iya, saya suka sekali dengan karikatur yang bertebaran di setiap halaman. Dan lebih lucu lagi saat dialog berteriak, penerjemah mencantumkan “Jeriiiiiit!” pada balon dialog, alih-alih menuliskan “Aduuuh!” atau “Aaaargh!” atau “Aaaaww!” ataupun yang lainnya. Agak aneh-tapi-lucu sih ngebayangin saya sendiri teriak kaget dengan kata-kata “Jeriiiit!”

Kalau dari kekurangan, hmm saya rasa lambat laun kehidupan si Greg ini kok terasa sangat kekanakan sekali ya. Padahal kan dia udah SMP. Tapi kok masih suka main game, permen, coklat, dan ding-dong. Eh tapis aya juga suka sih. Tapi entahlah, saya rasa penjabaran latar belakang Greg membuat saya mengira ia masih kelas 3 SD daripada anak SMP.

Secara umum buku ini lebih baik daripada buku sebelumnya. Namun tetap saja tidak bisa mengalahkan buku pertama. Entahlah, mungkin sesuatu yang pertama kali itu terasa sangat mengesankan. Buku ini saya rekomendasikan untuk semua ramaja tanggung yang udah bisa baca. Yah, daripada alay-alay gak jelas dan tidak bermanfaat, mending baca buku ini deh hehehehe.

Penilaian Akhir:

★★★★

goodreads-badge-add-plus

Usaha Terakhir

covertengil3

Judul: Usaha Terakhir

Judul Asli: Diary of a Wimpy Kid: The Last Straw: Book Three

Seri: Diary Si Bocah Tengil #3

Penulis: Jeff Kinney

Penerjemah: Ferry Halim

Penerbit: Atria

Jumlah Halaman: vi + 218

Terbit Perdana: Mei 2010

Kepemilikan: Cetakan Pertama, Mei 2010

ISBN: 9789791411240

cooltext1660180343

Ayo akui saja: Greg Heffley tidak akan pernah mengubah sikapnya yang tengil dan gampang menyerah. Harus ada seseorang yang menjelaskan hal ini pada ayah Greg.

Tahu tidak, Frank Heffley benar-benar merasa dirinya mampu membuat putranya menjadi lebih tegar, dan dia pun mendaftarkan Greg dalam berbagai olahraga yang terorganisasi dan kegiatan “cowok” lainnya.

Tentu saja, Greg dengan mudah mampu mengelak dari segala usaha sang ayah yang ingin mengubah dirinya. Namun, ketika ayahnya mengancam akan mengirimnya ke akademi militer, Greg sadar dia harus membenahi diri … atau kalau tidak, dia pasti akan dikirim pergi.

“Minggir, Harry Potter … Ada satu buku berseri bari yang mendominasi pasaran buku anak-anak dan buku-buku ini sama sekali bukan buku ‘fantasi’.” – Andrea Yeats, NPR’s All Things Considered

“Gebrakan besar untuk mereka yang malas membaca dan bagi setiap orang yang mendambakan buku jenaka.” – School Library Journal

“Cara penyajiannya tepat dan tokoh utamanya yang egois sangat meyakinkan …” – The New York Times

cooltext1660176395

Lanjutan dari si bocah tengil horee *joget-joget*. Buku ini menceritakan kelanjutan hal-hal konyol yang dialami si Greg di kesehariannya. Saya heran kok sang penulis bisa memahami dunia remajanya Greg. Padahal ia sudah tidak muda lagi. Buku ini diawali dengan kisah mengenai resolusi awal tahun. Ironis sekali ketika tiap anggota keluarga Heffley membuat resolusi namun tidak pernah terlaksana hingga akhir tahun, bahkan bulan depan. Malah Manny si anak bungsu, tidak bertahan selama satu menit. Hal itu sedikit banyak nyambung pada hari Natal yang penuh hadiah bagi anak-anak, namun tidak untuk Greg.

Kurasa, begitu kau sudah SMP, orang dewasa langsung menganggap kau terlalu tua untuk mendapatkan hadiah mainan atau apa saja yang benar-benar menyenangkan. (hal. 8)

Suatu hari, Greg terkejut ketika bus jemputan sekolah merubah rute dan mengakibatkannya harus berjaan kaki ke sekolah. Ia berpikir hal itu sungguh buruk bagi anak sekolah. Sepertinya saya agak setuju dengan pendapat Greg yang satu ini. Maklum saya ketika sekolah dulu benar-benar tidak bergairan dengan namanya PR.

Zaman sekarang, para guru memberikan terlalu banyak PR sehingga dengan semua buku serta kertas yang kau bawa pulang, berat ranselmu akhirnya mencapai bobot empat kilogram. (hal. 14)

Ada lagi cerita tentang si Greg menyalahkan pencuri jatah camilan makan siang sehingga menyebabkan hidupnya sungguh memuakkan. Untuk menyelamatkan hidupnya dari kenestapaan dunia *apasih* dia berusaha mencari tahu dan menangkap basah si pencuri camilan. Ya benar, menangkap di dalam rumahnya sendiri alias salah satu keluarganya yang jadi tersangka. Tidak tanggung-tanggung, ia sampai sembunyi di dalam tumpukan pakaian kotor disamping mesin cuci. Konyol namun sukses menemukan pencuri camilan itu di malam hari yang gelap gulita.

Ternyata si maling adalah Dad. Aku seharusnya sudah menduga dari awal. Dia benar-benar KETAGIHAN makanan tidak sehat. (hal.82)

Kisah yang menjadi headline blurb buku ini adalah kisah mengenai rencana Greg dikirim ke sekolah militer oleh Dad. Hal ini bukan tanpa alasan, karena Dad beranggapan anak-anaknya tidak terlalu kuat sebagai seorang lelaki sejati.

Kalau Dad melihat bagaimana sekolah bisa mengubah seorang bandit remaja seperti Lenwood Heath menjadi seorang pria dewasa, maka dia pasti beranggapan sekolah itu pun juga bisa mengubah anak selembek AKU menjadi pria dewasa. (hal. 158)

Apakah rencana Dad benar-benar terlaksana? Silakan baca buku ini. Namun saya sangat iri dengan kemujuran yang diperoleh Greg. Meskipun dia bukanlah anak yang baik, namun kreatif dan kelicikannya terkadang membawa dampak baik dan menyenangkan baginya.

Karena seperti yang sudah kubilang sebelumnya, aku adalah salah satu orang terbaik yang kukenal. (hal. 216)

Cerita ini tentang resolusi sebagai pembuka sedikit nyindir saya sih. Awal tahun, bahkan tiap pagi hari saya pasti ada niat melakukan sesuatu. Namun realisasinya benar-benar nihil alias hanya wacana semata. Huahahahahaha *ketawa miris*. Overall, saya rasa buku ini masih khas lelucon yang disajikan Jeff Kinney. Tapi tetap masih belum bisa mengalahkan buku pertamanya. Di buku ketiga ini juga tidak terlalu banyak yang membuat terpingkal-pingkal.

Kekurangan buku ini masih sama dengan pendahulunya, yaitu terlalu banyak tokoh yang slonong-boy alias numpang lewat saja. Sehingga latar belakang tokoh lain hanya dijelaskan sekilas, yang penting mendukung kisah yang sedang diceritakan. Saya rasa terkadang Greg benar-benar orang paling melas dan menderita di buku ini. Alih-alih sebagai anak tengil (dalam kamus saya tengil itu nyebelin). Yang ada malah orang-orang di sekitar Greg lah yang nyebelin. Saya jadi agak bingung sih dengan judul buku dan isinya. Atau jangan-jangan efek sudut pandang si Greg yang jadi fokus cerita? Who knows.

Penilaian Akhir:

★★★★

goodreads-badge-add-plus

Rodrick yang Semena-Mena

covertengil2

Judul: Rodrick yang Semena-Mena

Judul Asli: Diary of a Wimpy Kid: Rodrick Rules: Book Two

Seri: Diary Si Bocah Tengil #2

Penulis: Jeff Kinney

Penerjemah: Ferry Halim

Penerbit: Atria

Jumlah Halaman: vi + 216

Terbit Perdana: November 2009

Kepemilikan: Cetakan Keempat, Februari 2010

ISBN: 9789791411226

cooltext1660180343

Apa pun alasannya, jangan tanya Greg Heffley tentang liburan musim panasnya, kerena dia pasti tidak mau cerita.

Saat Greg memulai tahun ajaran baru di sekolah, dia bertekad melupakan semua peristiwa yang terjadi dalam tiga bulan terakhir…khususnya sebuah peristiwa yang ingin ia rahasiakan.

Malang bagi Greg, kakaknya, Rodrick, tahu semua peristiwa yang ingin Greg simpan rapat-rapat. Namun, serapat apapun dia menyembunyikannya, rahasia itu terbongkar juga…terutama jika sebuah diary ikut terlibat.

“Novel kartun yang bikin pembaca ‘ngakak guling-guling’ … dengan perut terkocok.” – Publishers Weekly

“Novel kartun yang sangat menarik.” – Majalah People

“Humor yang sangat lepas.” – Kirkus Review

“Pilihan cemerlang bagi yang malas membaca.” – School Library Journal

cooltext1660176395

Serial si bocah tengil berlanjut lagi hehehe. Setelah sukses dengan pendahuluunya, Jeff Kinney menghadirkan buku kedua. Kali ini berkisah tentang kehidupan Greg yang mendapatkan hal-hal buruk dari sang kakak, Rodrick. Tapi ternyata di buku ini tidak khusus mengenai Rodrick saja. Selayaknya buku harian, ada pula berbagai kejadian yang dialami Greg diluar masalahnya dengan Rodrick.

Beberapa minggu lalu, Rodrick mendapatkan buku jurnal LAMA milikku, dan itu benar-benar bencana. (hal. 1)

Tentu saja disebut bencana karena itulah awal mula Rodrick bisa mengancam Greg untuk menuruti segala macam perintahnya. Greg juga tak bisa apa-apa selain menurut dan berharap Rodrick tak menyebarkan rahasianya ke seluruh pelosok dunia *lebay*.

Di hari yang lain, ketika Greg telah kembali bersekolah (kisah sebelumnya adalah saat liburan), Mom meminta Rodrick menjemput adiknya dengan mobil van miliknya. Greg sangat tidak yakin bahwa Rodrick menjemputnya adalah gagasan yang baik. Namun karena Mom yang menyuruh, mau tidak mau Greg hanya bisa menerima.

Jadi, saat Rodrick menjemputku hari ini, aku akan memintanya untuk berhati-hati saat mengerem. (hal. 20)

Lain Rodrick, lain pula Manny, sang bungsu keluarga Heffley. Pada berbagai kisah, Greg menceritakan bagaimana buruknya kelakuan Manny (sesungguhnya Greg sih yang bermasalah) ketika berada dalam situasi yang tidak menguntungkan Greg. Namun ia tak bisa apa-apa ketika ada Mom. Ya benar, Mom adalah pengawas kejahatan di dalam rumah bagi Greg. Ketika ia menyakiti Manny, maka Mom tak segan-segan memberikan hukuman.

Aku benar-benar ingin menghajar Manny, tapi aku tidak mampu berbuat apa-apa karena Mom berdiri di dekat kami. (hal. 42)

Ada lagi kisah bersama Rowley. Jadi ceritanya Rowley ini membeli sebuah buku diary. Karena suatu hal (baca di buku ini ya) Rowley menjadi populer di kalangan para gadis. Greg penasaran dengan topik yang mereka bicarakan. Salah satunya, dengan membaca diary Rowley. Tapi ternyata isi diary Rowley membuat Greg tertegun.

Setelah melihat isi pikiran Rowley, aku mulai bertanya-tanya mengapa aku dulu mau berteman dengannya. (hal. 93)

Secara umum, buku ini bisa saya nikmati dengan lancar tanpa berhenti hingga halaman terakhir. Berbeda dengan buku pertamanya yang mengulas tindak-tanduk Greg, di buku ini justru diceritakan bagaimana kelakuan orang-orang terdekat Greg sehingga membawa pengaruh buruk bagi hidupnya. Karena ini adalah buku harian Greg, maka ia selalu membenarkan apa yang dia lakukan. Padahal sesungguhnya jika diperhatikan, Greg bukanlah seorang anak yang baik.

Lelucon yang disajikan pada buku ini sebenarnya ada banyak. Sayangnya, tidak semua bisa membuat saya tertawa seperti buku pertama. Oh iya, saya agak-agak gimana gitu ketika membaca berbagai cerita yang mengangkat tema tugas sekolah. Percaya deh, tugas Greg dan Rodrick bagaikan tugas kelas 2 SD di Indonesia. Saya tidak tahu itu hanya bualan atau kenyataan. Tapi tugas seperti itu untuk sekolah menengah di Amerika? Well, betapa pintarnya orang Indonesia.

Penilaian Akhir:

★★★★

goodreads-badge-add-plus

Diary Si Bocah Tengil

covertengil1

Judul: Diary Si Bocah Tengil

Judul Asli: Diary of a Wimpy Kid

Seri: Diary Si Bocah Tengil #1

Penulis: Jeff Kinney

Penerjemah: Ferry Halim

Penerbit: Atria

Jumlah Halaman: viii + 216

Terbit Perdana: Mei 2009

Kepemilikan: Cetakan Keenam, Februari 2010

ISBN: 9789791411202

cooltext1660180343

Bosan dengan buku cerita penuh tulisan tanpa gambar? Atau bosan dengan kisah fantasi penuh hal-hal gaib? Atau ingin mencoba sesuatu yang lebih menantang daripada komik tetapi tidak seberat novel? Nah, inilah jawabannya. Baca, deh diary milik Greg Heffley. Selain banyak kejadian lucu, di dalamnya juga bertaburan gambar-gambar kartun jenaka.

Kisah hidup Greg Heffley selama satu tahun ajaran sekolah ini dijamin bisa membuat pipi pegal, perut terkocok, bahkan mata berair. Kekonyolan dan kemalangan Greg akan membuat kalian mengingat kembali kejadian serupa yang mungkin pernah kalian alami.

Di dalamnya ada Sentuhan Keju yang menyeramkan, “Zoo-Wee Mama” yang menyebalkan, seorang anak yang mabuk gula, dan masih banyak lagi. Ingin tahu lebih lanjut? Cepat buka halaman pertama …

cooltext1660176395

Buku ini saya beli sudah lama, sudah saya baca, tapi belum saya review. Yasudah saya re-read aja sekalian nostalgia hehe. Awalnya saya beli buku ini juga pakai sistem random-pick. Maklum, saya ini kalo liat buku terjemahan rasanya udah skepstis duluan dan tidak berharap banyak. Apapun genre-nya, siapapun penerjemahnya, siapapun penulisnya.

Karena apa? Ya, benar sekali. Karena bahasanya. Bukannya saya tidak menghargai sang penerjemah ya, tapi saya pribadi beranggapan karya terjemahan itu pasti feel-nya beda dibandingkan buku yang asli bahasanya. Entah karena beda budaya, beda sense of humor (kalo buku komedi) ataupun identitas tulisan. Para penerjemah yang seringnya menggunakan bahasa yang baku, jadi agak kaku gitu pasti, terlebih untuk novel humor seperti ini.

Tapi kemudian semua berubah saat negara api menyerang ketika saya baca buku ini. Well, saya tidak tau apakah om Jeff Kinney ini sudah tau sense of humor negara Indonesia atau penerjemahnya yang udah kenal banget ama om Jeff. Tapi saya rasa meskipun menggunakan bahasa baku, buku ini tetap menarik minat saya untuk menyelesaikannya.

Dalam novel ini, kita berkenalan dengan seorang remaja tanggung bernama Gregory Heffley. Diceritakan ia baru saja masuk sekolah menengah pertama dan mulai menulis jurnal (bukan diary, menurut Greg) tentang kesehariannya baik di sekolah ataupun lingkungan rumahnya.

Di sekolah menengah pertama ada anak-anak seperti aku yang belum mencapai masa akil balig, tetapi sudah dicampur bersama para gorila yang harus bercukur sebanyak dua kali sehari. (hal. 3)

Di sekolah ini, ada sebuah situasi yang cukup aneh namun menggelitik. Di lapangan basket sekolah, ada sebuah keju yang telah menempel sejak musim semi yang lalu. Keju tersebut mulai ditumbuhi jamur dan terlihat menjijikkan. Anehnya, tak seorangpun berani menyingkirkan keju tersebut.

Kalau kalian mendapat Sentuhan Keju, kalian akan memilikinya sampai mengoperkannya pada orang lain. (hal. 9)

Suatu hari, tepatnya hari Halloween, Greg dan kawan karibnya, Rowley hendak berkelana meminta permen dari rumah ke rumah. Greg iri pada kostum Rowley yang keren berbentuk kesatria lengkap dengan helm, perisai, dan pedang. Tapi ternyata, Mom memberikan Greg kostum bajak laut yang sangat bagus…dengan syarat turut serta mengajak Manny, sang adik.

Aku bilang pada Mom kami TIDAK MUNGKIN mengajak Manny karena kami akan menyantroni 152 rumah dalam waktu tiga jam. (hal. 66)

Ada lagi cerita tentang kewajiban siswa laki-laki di sekolah untuk mengikuti tim gulat selama enam minggu. Ternyata, kostum yang harus digunakan saat gulau adalah sebuah “singlet” yang tampak mirip pakaian renang tahun 1800-an. Akibatnya, ketika bertarung Greg merasa terlalu “dekat” dengan sang lawan.

Selama jam pelajaran ketujuh, aku terpaksa mengenal Fregley JAUH lebih intim dibandingkan dengan yang aku inginkan. (hal. 83)

Yang paling menarik adalah cerita tentang sekolah Greg yang mencari seorang kartunis untuk mengisi kolom komik strip pada koran sekolah. Ia berencana mengisi lowongan tersebut dan menjalin kerjasama dengan Rowley. Kartun lucu yang ia ciptakan adalah sebuah kartun dengan kalimat andalan “Zoo-Wee-Mama!” di setiap stripnya. Namun akhirnya, rencana itu tidak berjalan mulus.

Masalah “Zoo-Wee-Mama” ini benar-benar membuatku sewot. Rowley mendapatkan semua pujian atas komik yang kami ciptakan bersama. (hal. 205)  

Yah, meskipun saya tidak tertawa terpingkal-pingkal bagaikan nonton Srimulat *apasih* tapi setidaknya saya masih senyum-senyum baca buku ini. Itu sebuah prestasi karena saya biasanya sangat jarang bisa menikmati tulisan terjemahan. Apalagi ditambah dengan karikatur khas yang sangat menunjang ceritanya. Kalau kekurangannya sih mungkin saya pribadi agak sulit memahami adat budaya yang disajikan dan tidak ada di Indonesia. Oh iya, terlalu banyak tokoh yang numpang lewat (baik beneran muncul atau cuma namanya saja) di buku ini.

Format cerita di buku ini tidak menggunakan model bab, namun menggunakan seperti buku harian *yaiyalah* dengan font yang sangat menarik. Jadi yang dilihat adalah hari ini, kejadian ini. Plus karikatur juga ada di SETIAP halamannya. Ini sebuah buku novel yang sayang kalau sampai dilewatkan. Karena ceritanya benar-benar jempolan.

Penilaian Akhir:

★★★★★

goodreads-badge-add-plus