Rss

Triple Eyes (Jilid 3)

covertriple3

Judul: Triple Eyes (Jilid 3)

Judul Asli: Mitsume Ga Tooru

Komikus: Tezuka Osamu

Penerbit: Andhika Media Sukses

Jumlah Halaman: 168

Terbit Perdana: 2003

Kepemilikan: Cetakan Pertama, 2003

cooltext-blurb

Waktu Syaraku dan teman-teman sekolahnya pergi kemping, tanpa sengaja mereka telah menerobos masuk ke tempat tinggal mewah sekelompok ular, sepasang saudara kembar yang telah dikendalikan oleh ular-ular itu dengan kekuatan hipnotisnya mau menelan mereka.

cooltext-review

Osamu Tezuka bukanlah orang baru yang saya ketahui dalam dunia perkomikan Jepang. Komikus yang disebut-sebut sebagai Bapak Manga ini memang telah menciptakan sebuah hal baru dalam dunia komik Jepang atau manga sehingga populer di seluruh dunia. Salah satu hal terobosan yang beliau ciptakan (yang satu-satunya saya ingat) adalah mata belo karakter komik.

Saya awalnya hanya tahu karakter sang komikus ini adalah Astro Boy. Ternyata selain itu ada cukup banyak seri lain hasil karya Osamu Tezuka, salah satunya adalah Triple Eyes ini. komik ini mengisahkan seorang anak SMP yang memiliki mata ketiga di bagian keningnya. Mata ini tidak seperti mata biasa, melainkan memiliki kemampuan supranatural.

Ada enam bab dalam komik jilid ketiga Triple Eyes ini. yang pertama adalah Batu Kapal Arak. Sang tokoh utama kita, Hosuke Syaraku, sedang mengikuti studi outdoor sekolah di Guanxi. Di sana ia menemukan berbagai benda purbakala, salah satunya Batu Kapal Arak. Mata ketiganya yang tak sengaja terbuka membuatnya “berubah” dan memakai batu itu untuk berbuat jahat.

Sangat berkemungkinan menyangkut nyawa seluruh umat manusia… Ini saya bukan menakut-nakuti. (Halaman 15)

Lanjut ke bab kedua adalah Bor Segitiga, kali ini Syaraku dijadikan bahan pembicaraan kepala sekolah dengan walinya, Professor Kenji. Kepala sekolah merasa kelakuan Syaraku yang “tidak biasa” membuatnya tidak pantas bersekolah di sana. Sayangnya, jalan keluar yang beliau usulkan ditentang mentah-mentah oleh Professor Kenji yang sangat mengetahui bahayanya.

Jujur saja ini semua bermula dari dia ditempel plester. Plester membuat dia merosot. Bagaimana kalau dibuka saja? (Halaman 40)

Batu Karang Suami Istri adalah bab ketiga. Kali ini Syaraku dan teman perempuannya, Wato Chiyoko mengunjungi kota lain karena sepasang batu bersejarah yang awalnya berdampingan harus terpisah karena gempa bumi. Tidak tanggung-tanggung, mereka berdua sampai bermalam di dekat batu itu. tepat pada tengah malam, Chiyoko melihat hal yang janggal.

…Benar, siluman batu tadi menangis dan bilang kalau dia dan batu di gunung itu saling mencintai… dan sekarang harus berpisah. (Halaman 77)

Bab keempat berkisah tentang Syaraku dan ketiga temah sekolahnya yang kemping di sebuah gunung dekat hutan. Kepolosan (atau kebodohan?) Syaraku membuat mereka berempat kehabisan bahan makanan. Oleh karena itu pada bab berjudul Ada Ular! ini mereka berempat berjumpa dengan keluarga aneh yang “dikendalikan” oleh ratusan ular sendok yang ganas.

Bodoh. Di atas meja dan di seluruh lantai ada ular. Mana mungkin itu tempat penelitian? (Halaman 96)

Pedang Raja merupakan bab kelima. Kali ini Syaraku dan Chiyoko harus berurusan dengan Professor Bangda dari Bangladesh yang membawa sebuah pedang pusaka. Mitosnya pedang itu hanya bisa dibuka oleh generasi manusia bermata tiga. Oleh karena itu Wenfu, orang yang tidak disukai Chiyoko, meminta Syaraku melihat-lihat pedang pusaka itu.

Tak usah kuatir. Ruangan ini dibuat dari semen. Biarkan Syaraku masuk sendirian ke dalam dan mengamati pedang itu. tak kan ada masalah. (Halaman 140)

Bab terakhir adalah Makanan untuk Para Dewa. Kali ini lagilagi Syaraku harus terlibat petualangan dengan Chiyoko yang mengunjungi sahabat penanya di daerah lain. Sang sahabat pena yang tak diketahui namanya ini bercerita tentang sekolah tua yang angker dan memakan banyak orang hilang. Samai akhirnya Chiyoko harus mengalami sendiri “hilang” di sekolah itu.

Semoga sahabat penaku dan juga Chiyoko sempat membaca pesan ini. karena yang tahu saya kesini, hanya dia seorang. (Halaman 156)

Sejarah, mitologi, dan misteri bercamur jadi satu di komik Triple Eyes ini. meskipun saya tidak membaca jilid pertama dan kedua, saya tidak terlalu kesulitan memahami jilid etiga ini. hal ini dikarenakan setiap bab komik ini adalah cerita lepas yang tidak berhubungan satu sama lain. Satu bab adalah satu peristiwa. Hanya beberapa tokoh utama saja yang tetap sama.

Beruntung pula jilid ketiga ini masih terkesan sebagai jilid awal sehingga masih diulang-ulang mengenai asal-usul Syaraku. Anak yang bersekolah di SMP namun memiliki tubuh seperti anak TK ini memang tampak misterius. Professor Kenji yang menjadi walinya juga beberapa kali menjelaskan sisi misterius anak tersebut pada guru dan kepala sekolah.

Chiyoko? Ah iya, anak perempuan yang sangat dekat dengan Syaraku ini memang tidak bisa saya ketahui latar belakang yang membuatnya menjadi teman dekat Syaraku dikala anak-anak lelaki lain sering menggoda dan mengerjai Syaraku. Meskipun tampilannya cantik, Chiyoko termasuk gadis yang mandiri dan bicara ceplas ceplos. I love her!

Sayangnya, saya harus menghadapi cukup banyak kejanggalan pada balon kata. Ada cukup banyak balon kata yang kosongan alias tidak ada tulisannya. Kalau tidak begitu, balon katanya jadi aneh tidak beraturan karena bertuliskan kalimat yang sama dengan balon kata yang lain. Saya tidak tahu ini kesalahan editor ataukah penerjemahnya.

Disisi lain, saya tidak bisa apakah komik ini ilegal ataukah legal, ketika mengetahui data-data buku komik ini tidak jelas sama sekali kecuali nama penerbit dan tahun terbitnya. Nama penerjemah, nama editor, serta ISBN tidak ada sama sekali. Saya cukup menyayangkan sih padahal ini komik hasil karya sang maestro manga, Osamu Tezuka.

Penilaian Akhir:


goodreads badge add plus