Maju Iyus Pantang Mundur!

coveriyus

Judul: Maju Iyus Pantang Mundur!

Penulis: Boim Lebon

Penerbit: Lingkar Pena Kreativa

Jumlah Halaman: xxv + 134 halaman

Terbit Perdana: Agustus 2004

Kepemilikan: Cetakan Pertama, Agustus 2004

ISBN: 9799793651162

cooltext1660180343

Masa SMA? Saya terpaksa harus jujur, bahwa saya tidak pernah sampai duduk di bangku SMA apalagi punya ijazah SMA. Dan saya merasa lebih sedih lagi tidak pernah punya kenangan manis dengan teman sekelas, apalagi jatuh cinta pada teman sekelas! … karena saya sekolah di STM, muridnya cowok semua! – Dedi “Mi’ing” Gumelar, pelawak dan presenter

Waktu SMA saya rajin belajar. Tapi jarang masuk sekolah, karena saya belajarnya di luar sekolah, yaitu belajar bilyard. Menurut saya itu positif karena selain bisa bilyard juga bisa bercanda. Sampai sekarang candaannya jadi duit. – Komenk, pelawak

Dulu saya aktif di organisasi. Pernah ditampar guru pake kamus bahasa Inggris yang tebeeel, setebel muka saya sekarang kalau tampil di publik. – Mucle Bendio, pelawak

Bosen sama bacaan biasa? Pengen yang istimewa dan bikin ketawa? Udah, gebet aja buku baru Boim Lebon ini. Cerita dunia SMA-nya seru dan lucu abiz. Kamu juga bisa nostalgia lho!

cooltext1660176395

Selain serial Lupus, ternyata saya baru tahu Boim Lebon juga aktif menulis hingga menghasilkan berbagai buku. Salah satunya adalah buku berjudul “Maju Iyus Pantang Mundur!” ini. Meskipun tetap mengusung tema komedi, di buku ini Boim Lebon memberi sentuhan islami dan remaja (khususnya usia SMA) pada semua kisahnya. Terdapat sembilan cerita yang terdapat di buku ini. Semuanya bagus kok. Tapi saya akan membeberkan dua favorit saja ya.

Kisah berjudul “Trio Bebek” sebagai pembuka sungguh mengesankan bagi saya. Alkisah terdapat tiga orang pengurus mading sekolah di SMA Mandiri bernama Andra, Gugun, dan Boy. Dikatakan “bebek” dikarenakan mereka cenderung “cerewet” lewat tulisan yang mereka buat dalam menyikapi sebuah situasi dan kondusif yang tidak kondusif.

Di lapangan Senayan sejak pagi sampai sore tadi tidak ada pertandingan bola sama sekali. Hingga tak ada satu gol pun tercipta. Di sana juga tak terlihat wasit yang sibuk dengan peluitnya. Pedagang asongan jugatak ada. Penonton sepi. Mobil-mobil sepi. (hal. 3)

Sungguh kurang kerjaan bener trio bebek ini bikin berita tidak penting kayak gitu. Tetapi justru itulah yang membuat mading mereka laris manis dibaca seantero sekolah. Namun semua berubah ketika negara api menyerang secara tidak langsung mereka berkenalan dengan Nurhaliza, sang wakil ketua rohis sekolah. Yah layaknya anak muda, mereka terpikat dan saling berkompetisi dengan mengirim tulisan ke media cetak yang berbeda. Hasilnya sungguh mengejutkan yang bikin saya jadi ketawa.

Ada lagi kisah berjudul “Menuju Puncak Banget” yang memiliki tokoh utama bernama Komala. Sekilas judul cerita ini seperti judul jingle sebuah ajang pencarian bakat di televisi sepuluh tahun silam. Diceritakan Komala (yang kemudian dipanggil Mala) sedang mengikuti sebuah ajang pencarian bakat bernama Multi Talent Cup (entah ini kontes atau lomba sepak bola).

“Para anak muda itu sudah melupakan akar budayanya sendiri,” kata Mala setelah berhasil mendapatkan jalan keluar untuk penampilannya. (hal 38)

Benar saja, Mala menghadiri kontes tersebut dengan mengenakan pakaian yang sangat berbeda dengan seluruh peserta yang lain. Hal ini membuat juri menjadi terpukau dan memberi nilai tambah. Lantas apakah Mala lolos sebagai kontestan di ajang tersebut? Ternyata sungguh diluar dugaan Mala tentang hasil yang ia dapatkan.

Secara umum setiap kisah di buku ini memiliki keunikan masing-masing. Tetapi setiap cerita ada benang merah yaitu remaja dan islami. Selayaknya kisah islami pada umumnya, semua kisah di buku ini berujung *SPOILER* happy ending atau paling tidak ada akhir yang masuk akal. Tema islami yang disuguhkan juga membuat saya menemukan kesamaan pada mayoritas tokoh wanita di buku ini, yaitu berjilbab, santun, lemah lembut, namun tegas dan mandiri. Sungguh kombinasi ideal calon istri saya perempuan yang sesungguhnya.

Kekurangan yang saya rasakan ketika membaca buku ini adalah beberapa cerita ada yang ending-nya gantung. Jadi kesel gara-gara penasaran bagaimana akhirnya. Menurut saya itu cukup fatal untuk ukuran sebuah kumpulan cerpen. Seharusnya hakikat sebuah cerpen itu harus memiliki akhir atau end of story yang jelas, entah itu happy atau unhappy ending. Kalau akhirnya gantung sih, mending jadi cerbung di majalah aja. Oh iya cerita “Maju Iyus Pantang Mundur!” malah kurang begitu melekat dalam pikiran saya. Padahal judul itu tersaji dalam cover. Entah kenapa. Buku ini cocok dibaca mulai remaja hingga dewasa. Karena tema yang diangkat adalah problema remaja, terlebih dengan nuansa islami yang kental, bisa membuat para remaja pembaca menjadi pribadi yang jauh lebih baik lagi.

Penilaian Akhir:

★★★

goodreads-badge-add-plus

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

CAPTCHA Image

*