Sekayu

coversekayu

Judul: Sekayu

Seri: Cerita Kenangan Nh. Dini #4

Penulis: Nh. Dini

Penerbit: Gramedia Pustaka Utama

Jumlah Halaman: 184

Terbit Perdana: Januari 1988

ISBN: 9789794034118

cooltext1660180343

“Alangkah sukar serta tidak enak menjadi anak-anak, karena semua dilarang, segala sesuatu tidak bisa diperbuat,” demikian Dini remaja mengeluh. Dini tidak mau lagi disebut anak-anak. Ia sudah berada di ambang kedewasaan. Ia mau agar orang memperlakukan dirinya seperti orang dewasa: orang yang berhak dan bisa berbuat sekehendak hati.

Dalam Sekayu dikisahkan bagaimana Dini (yang telah memasuki dunia remaja) melihat segala persoalan di sekitar rumah tangga, teman, dan kotanya. Juga dikisahkan rasa kesepian Dini setelah ditinggal oleh ayah tercinta, disusul dengan cinta remajanya yang sepihak, dan perkawinan kakaknya. Semua dikisahkannya dengan manis dan tidak membosankan. Buku ini adalah buku keempat dari seri “cerita kenangan” Nh. Dini.

cooltext1660176395

Nh. Dini bukanlah orang baru dalam dunia tulis-menulis di Indonesia. Berbagai karya telah ia hasilkan. Novel ini mengajak pembaca apabila ingin melihat seseorang yang masih beranjak dewasa menyikapi hal-hal di sekitarnya dengan positif. Karena meskipun terdapat berbagai masalah, bukan alasan untuk larut dalam kesedihan. Dengan penulisan yang teliti, jujur dan halus, pengalaman pribadi pengarang ini merupakan salah satu sumber daya ciptanya yang subur di kemudian hari.

Cerita dibuka dengan kematian ayah dari tokoh utama bernama Sri Hardini. Kematian kepala keluarga yang dikasihinya membuat ia bagai kehilangan kehidupannya. Namun nasi telah menjadi bubur. Tak mungkin ia bisa menghidupkan ayahnya kembali, meskipun segala kenangan tentang ayahnya, dari menonton wayang, bermain, sampai melihat perayaan di alun-alun kota sering menghuni pikirannya.

“Alangkah sukar serta tidak enak menjadi anak-anak, karena semua dilarang, segala sesuatu tidak bisa diperbuat. (hal. 14)

Sebagai anak bungsu, Hardini hanya bisa diam mendapati kakak-kakaknya akan meneruskan sekolah dan meninggalkannya dengan sang ibu dan seorang kakaknya. Dini tidak mau lagi disebut anak-anak. Ia sudah berada di ambang kedewasaan. Ia mau agar orang memperlakukan dirinya seperti orang dewasa: orang yang berhak dan bisa berbuat sekehendak hati. Heratih sebagai anak sulung telah berkeluarga dan menetap di kota lain dengan suaminya Utono. Hanya sesekali saja ia menengok ibu dan Hardini.

Anak kedua, Maryam, yang masih mengecap bangku kuliah, sering pulang pergi dari kota tempat tinggalnya ke Gadjah Mada Jogjakarta. Lain halnya dengan si tengah, Nugroho, ia masih duduk di bangku SMU yang masih awam dengan kehidupan berumahtangga. Kemudian ada Teguh, adik Heratih, Maryam, dan Nugroho sekaligus kakah Hardini. Entah kenapa, ia selalu terlibat cekcok dengan Nugroho. Meskipun itu adalah hal yang sepele.

Dalam bidang karang-mengarang, pintu keluar pertama bagiku ialah siaran-siaran di RRI. (hal. 15)

Hardini yang hobi membaca dan menulis, akhirnya memberanikan diri untuk mengirimkan tulisannya ke radio RRI Yogjakarta. Pucuk dicinta ulam tiba, tulisannya yang berupa cerpen dan sajak, sering mengisi saluran sandiwara di radio tersebut. Namun permasalahan datang saat ia mengenal yang namanya cinta. Saat di Sekolah Rakyat (kini disebut Sekolah Dasar), ia mendengar kabar bahwa ada seorang anak laki-laki yang menaruh perhatian padanya. Tapi, ia tak ingin konsentrasinya bersekolah terganggu dengan gosip itu.

Setelah lulus dan meneruskan di SMP, ia mulai merasakan getaran cinta pada seseorang bernama Digar. Namun, apa daya, ternyata cinta itu bertepuk sebelah tangan. Meskipun Digar sangat perhatian padanya, Digar telah memilih orang lain yang hinggap di hatinya. Adik Digar, Marso, yang notabene adalah cowok idola di sekolahnya, mulai mendekati Hardini. Namun Hardini (yang lambat laun dipanggil Dini), tak menghiraukan perhatian Marso kepadanya.

Di SMA, ia kembali mengalami cinta sepihak dengan guru pemberantas buta huruf di desanya. Meskipun sang guru yang masih muda ini, Pak Yanto sangat menaruh perhatian terhadapnya, Dini hanya bisa menghindarinya kapanpun ia sempat. Lantas, ia jatuh hati kepada salah seorang pemain drama pada perkumpulan karawitan yang diikutinya. Namun apa daya, Dini hanya dianggap adik semata oleh Mas Nur, sang pujaan hati Dini.

Persoalan di rumahnya tidak begitu berat. Karena uang honorarium dari radio itu telah mampu mencukupi sebagian kebutuhannya. Sehingga ia tak perlu meminta tambahan uang pada ibunya yang telah ditinggal sang ayah. Perlakuan sang ibu pada awalnya adalah menganggap Dini sebagai anak kecil yang lugu dan tak tahu apa-apa. Namu lambat laun, sang ibu mulai terbuka pada Dini yang akhirnya membuat Dini bahagia. Ia pun mulai berkomentar terhadap orang-orang di sekelilingnya. Mulai dari sanak saudaranya, tetangganya, sampai bakal calon pengantin Nugroho dan Maryam. Kesuksesan kedua kakaknya dalam percintaan sampai ke pelaminan tidak menurun pada Dini. Ia seringkali mengalami cinta bertepuk sebelah tangan. Namun ia hanya bisa diam dan merenungi segala hal yang mengisi hari-harinya.

Bahasa yang digunakan penulis dalam novel ini adalah bahasa yang singkat dan mudah dimengerti. Selain itu, penulis mampu menghadirkan suasana tradisional namun peduli dengan perkembangan jaman dengan bahasanya. Bahasa yang seolah menasehati namun tidak menggurui membuat kita dapat menangkap pesan moral yang tersirat di dalamnya. Permasalahan Dini di sekolah, rumah, tempat karawitan, hingga masalah percintaannya cukup menarik untuk diikuti.

Namun sayangnya, meskipun bahasa di novel ini tidak terlalu kaku, banyak terdapat istilah-istilah kedaerahan yang kurang dimengerti. Selain itu, banyak pula istilah-istilah yang artinya terdapat pada novel yang lebih dahulu terbit. Hal ini akhirnya membuat pembaca yang belum pernah membaca karya Nh. Dini yang lain menjadi bingung. Alur yang maju membuat kita nyaman membacanya. Tetapi seringkali terdapat cerita yang menceritakan masa lalu (flashback), yang mungkin membuat sebagian pembaca agak kesulitan saat kembali ke cerita utama. Namun secara keseluruhan, novel ini sanggup membuat pembaca ingin mengetahui akhir ceritanya. Novel ini tentu sangat berharga bagi peminat sastra.  Novel ini teramat sayang apabila dilewatkan begitu saja.

Penilaian Akhir:

★★★

goodreads-badge-add-plus

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

CAPTCHA Image

*