Babi Ngesot

coverbabi

Judul: Babi Ngesot

Sub Judul: Datang Tak Diundang, Pulang Tak Berkutang

Penulis: Raditya Dika

Penerbit: Bukuné

Jumlah Halaman: viii + 240

Terbit Perdana: April 2008

Kepemilikan: Cetakan Pertama, April 2008

ISBN: 9786028066105

cooltext1660180343

Kesurupan Mbak Minah semakin menjadi-jadi. Tubuhnya semakin susah dikendalikan oleh kita bertiga. Lalu tiba-tiba, Ingga berkata, ‘Pencet idungnya, Bang.’

‘Apa?’

‘Idungnya,’ Ingga meyakinkan. ‘Aku pernah baca di mana gitu, pencet aja idungnya.’

‘Tapi, Ngga?’

‘ABANG! PENCET IDUNGNYA SEKARANG!’ Edgar memerintahkan gue.

Daripada kehilangan nyawa, gue ikutin saran mereka. HAP! Gue pencet idungnya Mbak Minah. Kita semua terdiam untuk beberapa saat. Semua menunggu efek yang datang dari mencet idung orang kesurupan. Apakah setannya akan keluar? Apa yang akan terjadi setelah ini?

Ternyata,

gak ngefek.

‘Kok nggak ngaruh?’ tanya gue.

Ami, yang emang expert soal kesurupan, langsung teriak, ‘YA IYALAH!!!! JEMPOL KAKINYA TAU YANG DIPENCET, BUKAN IDUNG!’

Babi Ngesot: Datang Tak Diundang, Pulang Tak Berkutang adalah kumpulan cerita pendek pengalaman pribadi Raditya Dika, penulis Indonesia terbodoh saat ini. Simak tujuh belas cerita aneh-tapi-nyata Raditya di buku ini, termasuk kalang kabut digencet kakak kelas, dihantuin setan rambut poni, sampai perjuangan menyelamatkan keteknya yang sedang ‘sakit’

cooltext1660176395

Ini merupakan buku keempat Raditya Dika setelah Kambing Jantan, Cinta Brontosaurus, dan Radikus Makankakus. Saya sedikit heran juga saat membaca judul novel ini. Apakah suster ngesot telah melakukan hubungan terlarang dengan babi ngepet? Ataukah kedua bayi babi ngepet yang baru lahir telah dipotong demi memenuhi kebutuhan masyarakat Indonesia? Saya tidak tahu.

Anyway, novel ini memuat 17 cerita gokil dan konyol khas Raditya Dika. Karena tidak mungkin saya menceritakan kesan-kesan saya membaca semua ceritanya, jadi saya ambil acak saja ya. Soalnya di buku ini tidak ada yang tidak saya sukai. Semua sukses menorehkan kesan mendalam di sanubari hati saya *apasih*

Sebuah cerita berjudul “Ketekku, Bertahanlah!” adalah salah satu kisah yang menggelikan sekaligus menjijikkan. Jadi saya ketawa sambil agak-agak jijik gitu. Jadi disini diceritakan bahwa Dika mulai (atau telah lama) terserang hypochondria, yaitu ketakutan abnormal seseorang atas kesehatan diri sendiri. Terutama kekhawatiran dirinya terkena penyakit serius.

Di bawah ketek gue ada tonjolan kecil. ‘Tonjolan apa ini? Perasaan kemarin kok gak ada,’ pikir gue. (hal. 109)

Parno yang semakin menjadi membuatnya mencari tahu secara absurd di internet. Merasa tak mendapat jawaban pasti, akhirnya Dika meluncur ke dokter. Setelah sesi interview *dikira wawancara kerja* dengan dokter, akhirnya Dika menceritakan kronologis masalah keteknya. Ternyata dokter memberikan jawaban yang membuat Dika ternganga lebar.

Ada lagi cerita yang mengusung judul cover yaitu “Babi Ngesot” sebagai kisah dua terakhir. Jadi Dika rencananya mau pelihara tuyul sebagai jalan pintas mendapatkan uang berlimpah. Ternyata tuyul itu ada berbagai jenis spesies, yaitu tuyul profesional, tuyul enterprise, dan tuyul maestro. Dari berbagai deskripsinya sih, sepertinya tuyul merupakan pekerjaan menjanjikan di masa depan *setelah mati*

Gue selalu seneng sama anak kecil. Tuyul, dalam beberapa hal, seperti anak kecil, kan? (hal. 224)

Sepertinya mengasosiasikan tuyul dengan anak kecil adalah hal yang salah. Yaiyalah, wong kemudian Dika melaporkan dengan gembira rencananya memelihara tuyul kepada sang kekasih. Bagaimana reaksi pacarnya ketika mendengar rencana tersebut? Hmm asik deh pokoknya.

Raditya Dika kayaknya udah gak perlu diragukan lagi gaya nulisnya. Selalu gokil dan kocak parah. Sebenarnya sih kejadian yang diceritakan adalah hal yang biasa dan lumrah dialami setiap orang. Namun kalau umumnya orang lain menceritakan dengan “biasa” hanya sekitar 2-3 halaman, Raditya Dika bisa memanjangkan hingga 15 halaman lebih dengan dominasi humor. Inilah yang membuat Dika berbeda dengan penulis yang lain.

Di buku ini juga diselingi dengan komik mini 1 halaman untuk tiap cerita. Well, ini sangat membantu saya membayangkan keadaan yang diceritakan. Berkali-kali saya ketawa ngakak pas baca. Karena tak jarang komik ini lebih lucu daripada tulisan narasi yang ada. Sehingga seolah-olah narasi dan komik ini saling melengkapi satu sama lain bagai sejoli.

Perihal judul Babi Ngesot, seperti yang saya sebutkan diawal, saya awalnya ngira ada kawin silang antara babi ngepet dengan suster ngesot akibat perselingkuhan terlarang di dunia supranatural. Tapi ternyata kok gak ada ya. Bahkan di kisah yang berjudul sama dengan cover, sang babi ngesot tidak dijelaskan dengan banyak. Ujung-ujungnya jadi tuyul. Jadi agak gak sinkron gitu.

Overall, novel ini bisa sangat menghibur ketika kesedihan melanda hati. Apalagi humor yang disajikan sangat Indonesia banget celetukan dan pilihan katanya. Tetapi bisa juga setelah membaca novel ini menjadi makin stress karena tulisan Dika yang super gokil. Setiap lapisan masyarakat bisa membaca buku ini kok.

Penilaian Akhir:

★★★★★

goodreads-badge-add-plus

1 comment for “Babi Ngesot

  1. August 11, 2014 at 8:56 PM

    Aku juga suka buku ini. Kangen juga sama tulisan2 Radith. Kenapa dia nggak bikin buku lagi ya?

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

CAPTCHA Image

*