Kedai 1002 Mimpi

cover1002

Judul: Kedai 1002 Mimpi

Penulis: Valiant Budi @vabyo

Penerbit: GagasMedia

Jumlah halaman: 384 halaman

Terbit Perdana: Mei 2014

Kepemilikan: Cetakan Pertama, Mei 2014

ISBN: 9789797807115

cooltext1660180343

Konon, kalau tidak mengerti, harus bertanya.

Giliran banyak bertanya, diancam mati.

Bisa jadi, kalau mengerti harus mati.

Pernahkah kau terluka dan meminta pertolongan, tapi mereka malah mengira kau mengada-ada?

Terkadang memang lebih baik bungkam, tapi izinkan jemari ini yang memberi tahumu.

Karena ternyata, tidak ada akhir yang bahagia, selama memang belum selesai dan selayaknya tenteram.

Kedai 1002 Mimpi.

Berdasarkan kisah nyata seorang mantan TKI yang berharap hidup lega tanpa drama.

Tak perlu dipercaya karena semua berhak mencari fakta.

Salam damai,

Valiant Budi Vabyo

cooltext1660176395

VABYO IS BACK!!! Setelah sukses dengan kisah pengalaman pahit nan nyelekit ketika menjadi TKI Arab Saudi di buku Kedai 1001 Mimpi, kini ia kembali dengan novel yang sedikit nyerempet judulnya dengan pendahulunya. Jadi konsepnya, novel ini berisi kisah-kisah yang ia alami selepas pulang dari negara tempat ia bekerja dahulu. Ia berkisah mengenai kehidupan yang ia jalani setelah pengalaman “mengesankan” sempat menghampiri kesehariannya.

Novel ini dibuka dengan kisah detik-detik Vabyo menuju tanah air Indonesia dalam rangka kebebasannya. Tetapi tak semudah yang dibayangkan. Ada saja beberapa keparnoan yang dirasakan. Mulai dari takutnya paspor dicuri kondektur bus demi kepentingan pengecekan identitas, petugas imigrasi yang terlihat galak dan mengintimidasi, teror bom dalam bus yang ditumpanginya menuju bandara, hingga kesewotan perlakuan “khusus” TKI di bandara Indonesia.

Mati adalah satu-satunya jalan menuju kebebasan. (hal. 2)

Kehidupan di Bandung, kampung halaman Vabyo berawal biasa-biasa saja. Setelah menyandang pensiunan barista Sky Rabbit, ia berencana mencari penghasilan tambahan (selain royalti buku sebelumnya). Pucuk dicinta ulam tiba. Vabyo sukses dengan sebuah boyband. Bukan, bukan menjadi anggota yang jejogetan berkaos V-neck. Tetapi menjadi penulis lirik lagu yang dibawakan boyband itu.

Selain berkecimpung dengan lagu-lagu boyband, Vabyo juga memanfaatkan keahliannya dalam racik meracik aneka kopi dengan membuka cafe baru di Bandung. Cafe ini dinamakan Warung Ngebul yang minim filosofi hahaha. Pendirian cafe ini bersama kakak Vabyo, Vanvan. Ternyata, animo masyarakat sungguh tinggi. Entah karena terpikat Vabyo di novel 1001, atau murni karena rasa dan suasana warung hehheehe.

Berburuk sangka adalah kegiatan pengganggu hidup nomor dua setelah diare tapi nggak ada air di kamar mandi. (hal. 32)

Kehidupan yang happy ternyata tidak sampai di ending. Selain mendapat kecaman, teror lewat dunia maya, hingga dianiaya orang tak dikenal mengendarai motor menjadi makanan sehari-hari. Oh iya kebiasaan ganti ban mobil gara-gara dirusak oknum tak bertanggungjawab juga masuk dalam kesehariannya.

Dunia maya memungkinkan kita jadi siapa saja, berkata apa saja, mencintai dan menyakiti tanpa henti. Ada yang membuat rindu, ada yang tak henti mengganggu. (hal. 42)

Sekali dua kali tak masalah, namun akhirnya Vabyo gerah dan melaporkan kepada pihak berwajib. Meskipun akhirnya Vabyo & Vanvan mengetahui salah satu pelakunya, di novel ini tidak disebutkan. Sepertinya nama baik sang pelaku masih bisa terjaga.

Mungkin ada pemahaman baru ‘teman dekat’ di era digital ini. Begitupun dengan ‘berantem’ atau ‘dibully’. Seperti layaknya tidak sempat membalas mention atau email sudah tercap ‘sombong’ tanpa maaf. (hal. 101)

Di lain hari, demi menyegarkan pikiran, Vabyo pergi ke Eropa untuk berlibur sekaligus ketemuan dengan Teh Yuti. Tempat ketemuannya di depan Menara Eiffel lagi. Gimana gak romantis coba (meski dijelaskan ternyata di Eiffel banyak sampah *ew). Selain itu ia juga menjalani sesi meditasi yang entah kenapa jadi mengharu biru akhir-akhirnya.

Orang sering menyangka bermeditasi adalah mengosongkan pikiran. Padahal yang benar adalah biarkan pikiranmu menjelajah. Amati apa yang kita lihat dalam benak. (hal. 180)

Seperempat terakhir buku, penulis bercerita tentang mimpinya yang lain di negara yang berbeda; Italia dan Inggris. Oh iya, ada juga bonus blog yang judulnya Durian dan Mangga. Disini penulis mengibaratkan dua pihak yang saling mempertahankan prinsip masing-masing namun cenderung menyalahkan pihak lainnya. Yang menjadi favorit saya adalah surat cinta untuk Vabyo dan resep-resep ciamik sentuhan Arab yang bisa langsung dicoba.

Pertama kali saya mengetahui Vabyo adalah melalui buku Kedai 1001 Mimpi. Penulis dan bukunya yang fenomenal ini membeberkan fakta-fakta yang mengejutkan perihal pengalamannya menjadi TKI di negara Timur Tengah itu. Secara umum novel ini berisi bagaimana teror-teror kerap menghantuinya baik di dunia maya maupun dunia nyata dengan bumbu kenangan masa-masa selama menjadi TKI di Bahrain yang belum diceritakan di buku pertamanya. Di buku ini, penulisnya lebih dewasa dan legowo dalam memandang situasi, terlebih ketika sang Ayah sakit.

Ayah bukan bapak terbaik di dunia. Tapi aku juga bukan anak tersoleh yang bisa Ayah banggakan. Dan bisa jadi, justru karena itu kami dipasangkan. (hal. 270)

Oh iya tulisan mengenai penilaian plus-minus yang saya beberkan selanjutnya ini sangat subjektif ya. Dan saya mau tidak mau jadi membandingkan dengan buku pendahulunya. Jadi maafkan dengan beberapa poin yang agak gimana-gimana hehehe. Covernya menarik dengan sentuhan tulisan kapur di papan tulis yang berwarna-warni. Tetapi jika dibandingkan dengan 1001, saya lebih suka yang lama. Sepertinya roh Arab bisa saya rasakan di buku 1001.

Mengenai isi, saya sangat sangat lebih suka buku pendahulunya. Bukan berarti saya bahagia meembaca kisah memilukan penulis yang sepatutnya tidak pernah terjadi. Tapi gimana ya, ketika baca buku 1002 ini saya rasa semuanya serba nangung. Misalnya tentang flashback-nya, tentang terornya, tentang liburannya, seolah hanya disajikan sepenggal dengan penggalan yang lain tercecer entah dimana. Setiap bab terasa terlalu cepat untuk berakhir. Berbeda dengan buku 1001 yang saya rasa sangat pas dalam mengakhiri cerita.

Saya agak risih dengan tulisan yang dalam satu paragraf membentuk rima. Bukannya apa-apa, tapi saya jadi serasa membaca puisi/pantun dan hilang “rasa” novelnya. Selain itu, karikatur yang menghiasi buku ini membuat saya jengah. Kalau tidak boleh dikatakan jelek, saya katakan agak “sederhana”. Saya jauh lebih menikmati apabila tidak ada karikatur. Ataupun jika memang terpaksa ada, seharusnya mengadopsi gambar manga Jepang saja. Saya lebih bisa merasakan sosok “manusia” dalam goresan manga daripada karikatur di buku ini.

Tetapi, bukan berarti buku yang kedua kurang nendang, saya ikut emosi juga kok pas baca teror-teror yang dialami sang penulis. Tak jarang saya tersenyum ketika membaca potongan kata mutiara di buku ini. Secara umum novel ini bisa dinikmati siapa saja. Namun akan lebih cocok dibaca usia remaja hingga dewasa agar bisa lebih memahami kejamnya dunia yang penulis hadirkan di buku ini.

Penilaian Akhir:

★★★

goodreads-badge-add-plus

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

CAPTCHA Image

*